Halo Halo Bandung

Semua orang berubah? Iya. Pasti. Semua orang berdinamika? Tentunya. Tidak ada yang tidak mengalami dinamika dalam hidupnya. Semua orang tidak mungkin menjalani hidup mereka dengan sama. Bahkan banyak dari kita yang berpindah kemana mana dan menjalani hidup yang berbeda setelah tinggal di tempat yang tak lagi sama. Lingkungan baru, norma baru, orang orang baru, butuh penyesuaian.

Bulan ini enam bulan saya tinggal di Bandung. Setengah tahun sejak saya meninggalkan Jogja, kota yang sudah lima tahun saya ditempa dan layaknya sebuah pohon yang menuju dewasa saya berkembang disana. Lima setengah tahun sejak saya meninggalkan Salatiga, kota dimana layaknya benih saya tumbuh hingga jadi tanaman muda yang siap untuk menerima cahaya mentari dan hujan.

Di awal awal saya tinggal di Bandung, dimana penuh dengan drama, saya belum bisa menerima sepenuh hati kenapa saya ada di Bandung. Dan ada kecenderungan “Tuhan.. kok Bandung sih.”, “kenapa disini?”. Dan saya merutuki diri saya sendiri, mencari banyak hal dari Bandung yang bisa dicacat kareana saya merasa nggak attach dengan Bandung. Nggak familiar dan nggak begitu suka. Akhirnya saya merasa kurang betah. Saya pun jadi lebih sering pulang ke rumah (jika dibandingkan dengan dulu ketika saya masih di Jogja) bahkan lebih menyukai jika saya dapat dinas luar Bandung selama beberapa hari. Dengan begitu, saya bisa keluar dari Bandung.

Tapi rasa rasanya saya merasa tertampar karena sebuah kota lain bernama: Jakarta. Jarak Bandung dan Jakarta hanya tiga jam dengan kereta. Selain untuk urusan pekerjaan, saya mengunjungi ibukota karena banyak kolega yang tinggal di Jakarta. Sebagian besar mereka adalah perantau dari daerah seperti saya. Mereka adalah anak anak rantau yang sekarang jadi anak ibukota. Mengunjungi ibukota pun bukan kali pertama buat saya. Di tahun tahun belakang, saya pernah kesana. Impresi saya pun ternyata tetap sama dari awal pertama: saya tak suka. Bahkan saya mulai berbalik mencintai Bandung dan semakin tak menyukai ibukota.

Ibukota negeri kita memang menawarkan banyak akses dan kemudahan. Mau cari ini itu ada. Semua barang hampir selalu berawal di Jakarta (selain Batam). Jadi, trend kekinian hampir selalu identik dengan kota metropolitan Jakarta. Jakarta juga yang menjanjikan nasib manis untuk para perantau yang mencari rupiah untuk keluarga (tidak munafik, kita bekerja juga karena kelangsungan keluarga). Maka, jutaa orang mengadu nasib di petak kecil Jakarta seolah uang dari ibukota adalah satu satunya solusi. Mereka rela tinggal di gubuk gubuk kecil berseng yang berkarat dengan sanitasi yang naudzublillah joroknya dan makan yang penting kenyang tanpa berpikir bahwa yang mereka makan adalah makanan yang tidak sehat. Yang terpikir oleh mereka hanyalah bagaimana bisa berjuang untuk hidup hari ini dan besok hari. Syukur syukur bisa mengirimi uang untuk keluarga di kampung. Sungguh penderitaan perjuangan untuk keluarga yang patut diapresiasi.

Tapi.. Jakarta jahat. Ia menikam dengan airnya yang tak manusiawi. Dengan udaranya yang bercampur dengan ujian Tuhan akibat ulah manusia bernama: polusi. Bagaimana bisa Tuhan menciptakan kekuatan untuk mahluk mahluknya untuk dapat betah tinggal disini. Udara panas karena dua hal; cuaca pesisir dan panas karena persaingan, dengan orang orang yang tak peduli dengan sampah yang berceceran, tak peduli dengan najis dan kotoran di dekatnya padahal ia harus bersujud menghadap Tuhannya dalam keadaan suci. Semua menghalalkan segala cara yang penting bisa hidup.

Dengan tuntutan hedonistik akibat hukum penawaran permintaan mahluk mahluknya. Ia menendang siapapun yang tak punya prinsip: ora obah ora mamah (Tidak berusaha maka tak bisa makan) tanpa ampun. Belum tentu juga orang lain akan membantu memberi makan. Mereka yang hidup di sekitarnya saja belum tentu punya makan. Maka, ia tak punya empati. Menjadi individual. Ia menghajar siapapun yang dianggap tak punya keahlian lebih dari lainnya. Leleh luweh liyane ora oleh, sing penting awak dewe kudu oleh (Tidak peduli jika orang lain tidak mendapatkan asalkan kita bisa dapat kesenangan). Ia memaksa untuk membeli dan terus membeli dengan alasan agar tak ketinggalan jaman. Dan kemudian yang tersisa adalah: kehampaan karena melupakan Tuhan. Kealpaan karena terlalu sibuk mengejar dunia.

Dan saya selalu termenung sedih. Duh Gusti.. Mengapa saya tak bersyukur. Mengapa saya masih mengeluhkan tentang saya yang sudah dapat tempat yang nyaman dan menyenangkan. Bandung sudah ditakdirkan untuk saya mulai belajar kerasnya pekerjaan. Jika saya dulu ternyata ditempatkan di Jakarta, mungkin sekarang setiap hari bahkan setiap menitnya bibir saya membuat dosa karena mengumpati nasib saya. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya tidak akan punya kesempatan untuk belajar bahasa dan budaya Sunda. Semakin saya belajar bahasa daerah, semakin saya merasa kecil karena ternyata Indonesia amat sangat kaya budaya. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya tidak akan mengalami plesiran plesiran saya ke tempat tempat catchy dengan makanannya yang beraneka rupa kekinian dimana semakin menguatkan saya suatu saat untuk belajar masak –semakin memberi semangat agar suatu saat saya bisa membuka usaha kuliner yang juga bisa menjadi ladang rezeki bagi orang yang membutuhkan lapangan pekerjaan-.

Mungkin saya tidak akan belajar bagaimana mengembangkan ide ide segar layaknya anak anak Bandung yang penuh dengan inovasi. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya yang tipikal emosional ini akan lebih uring uringan karena harus berangkat subuh pulang malam karena rutinitas yang membunuh. Ternyata tekanan kerja di tempat saya belum ada apa apanya daripada tekanan kerja yang pastinya lebih tinggi di ibukota. Rutinitas Bandung yang lebih selow membuat saya ternyata lebih nyaman dan tidak menjadikan uang sebagai Tuhan. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin fisik saya sudah drop karena makanannya tidak sesehat di Bandung. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya tidak akan belajar fashion (karena Bandung kota fashion). Jika saya tinggal di Jakarta, mungkin saya hanya akan tahu satu tempat gahol saja: mall, mall dan mall. Dan saya akan dibunuh bosan karena hedonistik yang ditawarkan oleh mall. Samasekali tidak ramah wong cilik dan membosankan. Padahal di Bandung saya bisa dapatkan banyak hal seperti di Salatiga dan Jogja. Kalau mau ke mall, ada banyak tempat, tapi kalau ingin merasakan indahnya pemandangan, Bandung masih menawarkan keasrian. Bandung masih berbaik hati dengan kederhanaan sunda rasa kosmopolitannya. Saya masih bisa nongkrong di mall tapi juga bisa menemukan interaksi tulus dari alam dan manusianya. Jika saya tinggal di Jakarta, mungkin saya akan merasa sepi dan berlagak ke-Jekarda Jekardaan seperti yang saya temui pada beberapa kolega saya yang dulu saya kenal sebagai bocah ndeso sama seperti saya juga. Mungkin saya akan kehilangan kesederhanaan ala ndeso yang saya punyai (karena saya anak desa. Saya tinggal di desa dan saya bangga jadi anak desa meskipun saya besar di perkotaan). Mungkin beberapa kolega saya yang datang dari luar kota akan bermuka sedih karena melihat saya yang kehilangan apa adanya saya. Dan banyak perbedaan lainnya.

Dan saya pun menerawang di bulan Agustus tahun lalu, saya termenung kepanasan di sela menanti bis transjakarta di sudut Harmoni yang selalu penuh pekerja. Muka muka masam, letih, sangat terlihat bahwa mereka ingin segera pulang dan setidaknya merasakan tamparan angin AC buat yang mampu beli AC, atau kipas angin buat masyarakat kelas menengah atau hanya angin cendela untuk mereka yang tak bisa membeli keduanya. Kemudian rutinitas mereka adalah istirahat di akhir pekan atau nongkrong seharian di weekend selepas bekerja. Balas dendam untuk kerja rodi selama hari kerja.

Rasa rasanya semua orang ingin bekerja kantoran. Lalu siapa yang menanam padi. Jika semua orang kerja di kantoran, siapa yang mengolah beras jadi nasi?. Orang bisa makan nasi, tapi tak akan mungkin akan kertas kantor. Mungkin tak ada yang peduli dengan musnahnya tangkiang tangkiang di pulau Jawa dimana tanahnya telah tumbuh beton, bukan lagi bulir bulir padi yang siap memenuhi bakul di meja makan. Dan rasa rasanya saya lebih rela untuk pulang ke desa, bertanam padi daripada harus mati mengais sebutir nasi di ibukota yang kejam. Serupiah dua rupiah yang didapatkan di ibukota belum tentu bisa membuat hati manusia bahagia. Dan saya lebih bahagia duduk di tangkiang sambil melihat tanaman padi menari nari ditiup angin sepoi sambil menikmati rantang rantang nasi yang dibawa dari rumah. Dan kenyataannya.. lahan di rumah pun hilang berganti dengan beton beton. Maka, sirna mimpi saya. Saya harus kembali pada kenyataan bahwa takdir saya adalah menjadi seorang pekerja yang bercita cita banyak. Dan mungkin Bandung bisa memberikan saya tempat untuk belajar menanam sayuran. Ya.. meski saya tidak bisa bertani sekarang, setidaknya saya menanam benih cita cita dan rajin memupuknya dengan semangan dan doa. Mungkin suatu saat akan ada sebuah ladang dimana tumbuh tanaman yang memberikan manfaat bagi orang yang memetiknya.

Saya bangun dari tidur saya yang tak nyenyak dan mulai menerima diri saya tinggal di Kota Kembang. Pada akhirnya saya menantang diri saya sendiri untuk bisa menerima dan berdamai dengan takdir serta Bandung. Fabayiiaaala irobbikuma tukadziban-maka, nikmat Tuhan manakah yang saya dustakan. Dan saya masihlah hamba yang tidak bersyukur. Yang hanya bisa merutuki diri saya sendiri atas takdir yang telah digariskan. Duh Gusti.. nyuwun pangapura.

Hai Bandung.. ini Cicik. Dan terimakasih sudah menerima saya. Saya sudah bisa berdamai dengan dirimu dan segala permasalahan dan kebaikanmu. Dan saya mulai menyamankan diri di tengah dingin dan asrimu yang mirip dengan Salatiga dan metropolismu yang masih mengingatkan saya pada Jogja. Tetaplah berdamai dan mari belajar serta bertumbuh bersama. Entah kapan saya akan berpisah denganmu, maka saya tak akan berhenti belajar dan belajar untuk tetap sederhana. : )

Advertisements

Blog Istiqomah

WordPress mengirimkan notifikasi ke laman saya “Selamat Ulang Tahun yang Ke Tiga Tahun”. Tidak terasa sudah Februari yang ketiga, saya ngeblog secara istiqomah. Haha.

Kenapa saya ngeblog?

Ada beberapa alasan kenapa saya hobi banget nyampah di blog saya sendiri. Pertama, tentang petualangan. Pada awalnya saya mendedikasikan blog ini untuk tempat nyampah saya kalo bepergian. Saya suka sekali menulis. Well.. menulis untuk diri saya. Menulis sampah maksudnya. Hehe. Saya terbiasa punya diary sejak kecil. Blog pun saya punya banyak, tapi semuanya wasalam. Tutup lapak semua. Haha. Dan baru tiga tahun lalu saya konsisten menggunakan laman ini untuk curhat menye menye soal hidup saya. Haha. Berawal dari petualangan saya selama setengah bulan tinggal di Desa Batursari, desa terakhir sebelum hutan taman nasional Gunung Slamet. Benar benar petualangan karena jauh dari rumah, berbaur dengan warga, merasakan bagaimana rasanya menjadi antropolog. Emejing menurut saya. Saya cuma ingin menceritakan pengalaman tersebut secara publik. Tidak seperti diary yang dibuat untuk dijadikan rahasia, maka blog adalah tempat untuk nyampah dan semua orang bebas melihat (kecuali kalau diprivat. hehe). Maka saya ingin petualangan saya ada yang membaca. Sekaligus ingin memberitahukan pada dunia bahwa ada satu desa di lereng gunung sana. Sebuah desa biasa yang belum tentu di google pun ada yang nulis. Saya ingin jika ada seorang anak desa itu yang suatu saat pergi ke kota dan browsing nama desanya, ada yang mengulas meskipun hanya sedikit. Mungkin ia berbahagia karena ada orang lain yang menceritakan tentang desanya. *terharu.

Kemudian karena inspirasi. Bu Muji, guru geografi saya waktu SMP “coba kalau nenek moyang kita mendokumentasikan perjalanan mereka ke Madagaskar. Mungkin kita sudah dianggap sebagai penemu Afrika.”. Pak Budi, guru geografi di SMA pun bilang hal dengan makna yang sama “seandainya kita adalah bangsa yang mengikat ilmu dengan menulis. Semua hal yang terdokumentasikan akan jadi saksi sejarah”. Maka, saya pun ingin menorehkan sejarah hidup saya sendiri. Menceritakan petualangan petualangan yang saya alami selama mengarungi dahsyatnya ombak kehidupan *duh deeekkk.

Orang ketiga adalah ayah dan ibu saya. Mereka adalah petualang muda ketika masih muda. Pergi kemana mana, banyak teman dan penjelajah. Saya pun ingin juga main kemanapun saya suka. Haha. Intinya seperti itu.

Lalu, para traveler yang membangkitkan semangat saya untuk bercita cita keliling nusantara dan dunia. Andrea Hirata ada di list pertama traveler favorit saya. Saya tidak pernah tahu sudah sampai mana dia berjalan jalan di muka bumi. Tapi buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi mengobarkan semangat saya sampai seribu persen. Perjalanan Andrea dan Arai di Eropa, dengan segala pahit manisnya merantau di negeri jauh dan perjalanan backpacker mereka yang juga ditempuh dengan susah payah hingga ke Afrika hanya untuk dua hal: makna hidup dan pencarian cinta. Ditulis dengan gaya sastra yang melayu banget lah, tapi menggetarkan semua pemimpi. Aku ingin bercita cita menjadi seorang petualang!. Saya mau jadi turis.

Juga Agustinus Wibowo.  Baik Andrea Hirata ataupun Agustinus Wibowo, keduanya saya pernah berjumpa. Bahkan dengan Agustinus Wibowo saya pernah berbincang (Kalau sama Andrea cuma liat doang karena semua warga merangsek nggak tertib. Hiks). Dan.. sumpah saya kehilangan kata kata. Nggak bisa ngomong apa apa. Ya ampun.. ini beneran aku ngobrol sama Gus Wen? Ya ampun.. mimpi apa aku.. Duh.. pengen banget tanya tanya tapi kenapa nggak bisa ngomong gini. Dan saya hanya bisa merutuki diri saya sendiri karena ketololan saya. Dan.. ah.. sudahlah.. demam. Hiks.

Baik Andrea maupun Gus Weng memiliki karakteristik tulisan yang berbeda. Kalau Andrea sastra dengan bahasa yang meliuk liuk dengan simbol tokoh dalam novel, Gus Weng bercerita seperti diary dalam kehidupan nyata. Lugas, tegas dan tokoh yang ada dalam bukunya adalah sudut pandang dia sendiri sebagai penulis. Dua duanya menceritakan Indonesia dengan caranya masing masing. Nasionalisme dan patriotisme dari perjalanan hidup yang mencerahkan bagi siapa yang membacanya. Bikin saya semakin cinta sama negeri saya.

Sebenarnya selain dua itu masih banyak penulis dan blogger lain yang menginspirasi saya. Entah itu blognya temen kayak punya Shabrina Hazimi, Mas Afrizal Lisdianta, Mas Anggara, Mas Sweta Kartika (dia bukan blogger sih. Tapi ilustrator), Mutiara, Fitria Aulia atau nemu blog profesional kayak punya mbak Grace, Mbak Windi, dan banyak yang lainnya.

Dan.. saya pun ketularan pengen jadi penulis. Haha. Sayangnya, lima tahun jadi anak sastra ternyata membuat saya semakin menyadari bahwa saya suka sastra tapi tidak mencintainya. Saya suka membaca buku tapi tidak benar benar ingin mendedikasikan hidup saya untuk itu. Puyang saya mendirikan sekolah dan ayah saya melahap habis semua buku buku di rumahnya. I did what my father did. Tapi cinta saya pada alam dan petualangan. Maka sama sepertinya, saya mencintai petualangan petualangan dalam hidup dan alam. Jadi anggaplah saya membuat blog karena saya ingin mengabadikan pelajaran yang saya dapatkan selama saya bepergian atau katakan mengkristalkan pemikiran pemikiran sampah saya sekaligus melestarikan ilmu sastra (walaupun jelas jelas tulisan saya nggak nyastra samasekali. Lebih ke tulisan awut awutan yang ala ala saya. Dan kalau ditanya style apa saya menulis, saya tidak bisa menjelaskan. Haha. Jangan tanya soal kaidah kaidah penulisan. Tulisan saya jelas masih banyak cacatnya dan saya masih berusaha selalu memperbaiki. Tapi diluar konteks gramatika, dan segala tetek bengek teknis, saya hanya menulis apa yang saya ingin tulis dan saya ingin cerita cerita saya jadi muhasabah untuk orang orang yang mampir untuk membaca.

Saya sudah bukan anak alay yang hobi nyampah di media sosial. Semua orang yang sudah berkepala dua pasti pernah mengalami masa alay di jamannya. Maka, saya pun mengakui kalau saya mantan anak alay. Salah satu ciri anak alay adalah hobi posting banyak hal nggak penting. Entah itu sekedar nyampah atau cari perhatian. Nah.. karena sudah bukan masanya lagi, maka saya mendedikasikan gemulai jari saya pada media sosial bernama blog, dimana blog itu adalah rumah bagi para pemiliknya. Mau nyampah kayak apapun, suka suka yang nulis dong. Mau sedefensif atau seinformatif apapun, setidaknya dia nyampah dengan bebasnya. Beda dengan facebook, twitter atau lainnya. Kita bikin status apa, yang kesindir siapa. Kita nulis buat siapa, yang ge-er siapa. Emang blog nggak ada potensi buat ngajakin berantem gitu kayak di fesbuk atau twitter?. Tentu saja ada. Tapi di blog, kita bisa lebih bebas buat mengungkapkan banyak hal. Salah satu faktor yang bikin orang merasa tersindir di fesbuk adalah kenyataan bahwa terkadang orang menulis dengan singkat. Sekalimat dua kalimat yang tidak dijabarkan, dengan konteks yang bikin blur. Maka, wasalam. Kita bikin status buat siapa yang kena siapa. Bikin tulisan untuk apa, yang berbunga bunga siapa. Cape deh. Toh, blog juga tidak seupdate media sosial. Jadi, orang tetap butuh waktu untuk membuka, mencari dan membaca hingga tuntas. Tidak seperti media sosial lain yang asal scrol, ribuan orang di jagad muncul semua beritanya.

Alasan yang agak ”berat”, saya masuk pada fase muhasabah. Ketika ketertutupan menjadi sebuah identitas, nampaknya hal itu tidak serta merta bikin keren. Terlalu tertutup pun tidak baik. Terlalu terbuka apalagi, tambah tidak baik. Haha. Maka, saya pun mencoba sedikit terbuka dengan menuangkan pemikiran pemikiran (apalagi ini tergolong kategori blog curhat. Haha). Membuka aib? Tidak juga. Kan tergantung sudut pandang orang yang membaca. Apalagi semua yang saya ceritakan disini kebanyakan adalah sudut pandang saya. Ini blog saya, ya suka suka saya mau diisi apa. Haha. Tapi bukan itu poinnya. Saya hanya ingin mendokumentasikan cerita dan pemikiran. Barangkali bisa menjadi muhasabah buat yang baca (kalau ada yang baca. Haha). Jika ada orang yang mungkin terinspirasi dan bisa mengambil pelajaran hidup saya, nampaknya saya pun sudah melakukan amalan baik. InsyaAllah berpahala.

Dokumentasi buat anak cucu. Ketika nanti anak anak saya sudah besar, dan jika mereka menemukan blog saya, akan jadi pelajaran juga buat mereka. Ibunya punya sebuah diary di dunia maya yang banyak memberi cerita. Oh, gini toh masa muda ibuk saya. Bla bla bla. Seneng aja jika mereka suatu saat menemukan. Juga, dokumentasi untuk siapapun yang pernah mampir di kehidupan saya. Jika mereka sudah beranjak menua, dan ingin bernostalgia pada masa lampau dan tetiba menemukan tulisan atau foto di blog saya. “Eh, ternyata aku pernah main kesana ya.”, “Ini kan temenku waktu jaman susah dulu”, “ya ampun, dulu ternyata kita segila itu ya. haha”, “ada fotokuuuu.. eh aku dulu culun beuuddd”, “apa kabar ya temen temenku dulu” dan banyak hal lain yang bisa diingat.

O, ya nemuin bahwa tulisan atau foto dalam blog kita digunakan oleh orang lain sebagai referensi itu sesuatu yang bikin terharu. *mewek bombay. Saya pernah memberikan referensi blog saya pada beberapa teman yang memang membutuhkan data saya sebagai salah satu bahan penelitian. Sungguh sebuah hal yang remeh. Dan belum tentu juga dia pakai data saya. Tapi tahu kalau mungkin data saya dibaca dan mungkin berguna dan bisa membantu, rasanya bahagia sekali bisa membantu walaupun cuma hal remeh. Saya pun pernah menemukan bahwa beberapa foto di blog saya dipakai orang lain sebagai sumber (dan dia menyertakan sumber pengambilan gambar). Dan.. senangnya. Ada orang yang menjadikan rumah kita sebagai referensi tapi tetap mematuhi kode etik jurnalisme. Bahwa kalau memang mensitasi harus menyebutkan sumber agar tidak dianggap plagiarisme.

Selama ini saya belum pernah memonetize blog saya. Dulu pernah pakai platform blog*spot yang sebenarnya lebih mudah dimonetize. Tapi saya menyerah karena belum istiqomah. Kemudian saya berpindah ke wordprezz yang menurut saya lebih simpel untuk saya yang gaptek. Dan.. kabar buruknya (atau saya yang emang belum tahu ilmunya) susah untuk dimonetize. Saya pun memang tidak mendedikasikan blog saya untuk dimonetize. Wong niatan awalnya adalah untuk nyampah. Haha. Jika syukur syukur suatu saat saya bisa dapat uang dari ngeblog, ya rejeki. Haha.

Dari semua blog yang saya punya, ini yang paling catchy namanya. Yang lain jangan tanya. Alay semua. haha. Perseagreen. Green artinya hijau. Dan hijau adalah warna surga (mengutip dari kata ibu saya). Sementara Persea adalah nama latin dari satu satunya pohon alpukat yang ditanam bapak dulu kala ketika saya masih sangat kecil. Ayah saya mengharamkan pohon itu untuk ditebang. Ya karena menyimpan kenangan (dan masih produktif berbuah juga). Makanya saya sayang sama pohon alpukat itu. Apalagi buahnya ranum kuning dibungkus kulit yang hijau segar. Tapi saya nggak suka ulat ulatnya yang suka hinggap dimana mana. Selain bikin gatel, bikin saya gampang kagetan. Eh, tahu tahu nongol di dekat sandal, di atas panci, di gagang pintu, bahkan di baju. Pernah juga di bantal dan akhirnya saya berteriak saking shocknya. Mungkin bagi sebagian orang lebai. Tapi saya beneran saya jadi gampang kaget gara gara ulat yang sering bikin saya kaget ketika saya kecil. Makanya saya nggak suka dengan ulat. Apalagi ulat alpukat. Dan inilah alasan kenapa sampai sekarang saya akan berteriak jika saya kaget. Haha. Tapi habis musim ulat kelar, kupu kupu gajah (attacus atlas) bermunculan dengan cantiknya. Sedikit selingan. Baiklah, kita kembali ke topik.

Pohon alpukat itu tidak hanya berbuah. Tapi juga sebagai penaung dan penjaga air. Daun daun dan rantingnya memberi keteduhan pada sebagian area rumah kami. Sekaligus ia menjadi penahan erosi dan menahan air di sumur samping rumah yang meskipun airnya keruh kalau musim hujan, setidaknya ia bisa memberi minum ternak ternak kami yang kehausan. Jadi.. buat saya alpukat itu adalah sesuatu yang bersejarah. Ditanam ketika saya masih kecil dan kehadirannya memberikan manfaat. Dan.. perseagreen ini saya harapkan untuk menjadi media bercerita dan memberi manfaat. Dan dari sanalah saya mencoba untuk istiqomah.

Menulis itu membuang emosi dan media memetakan masalah. Memang tidak serta merta menyelesaikan masalah. Tapi bisa menjelaskan kepada diri kita sendiri secara gamblang dimana posisi kita, apa detail masalahnya, kita harus apa, resiko dan keuntungan jika melakukan suatu alternatif penyelesaian, tentang apa yang bisa kita lakukan dan tidak bisa dilakukan dan banyak hal lainnya.

O, ya bonusnya dari menulis adalah bisa ngetik dengan sepuluh jari. Haha. Nggak penting banget. Tapi itulah kenyataannya. Jangan tanya darimana saya bisa ngetik dengan menggunakan hampir sepuluh jari, tanpa melihat keyboard pula. Ya, walaupun tetap sesekali bisa melihat keyboard, tapi kecepatan pengetikan saya diatas rata rata. Teringat dulu saya dipaksa ibu saya untuk menggunakan mesin tik yang buat ngetik aja ngabisin energi dua piring nasi. Belum lagi salah salah. Duh deeekkk.. nggak praktis. Dan.. kemudian saya ogah lagi belajar ngetik sepuluh jari. Orang jaman udah komputer, ya belaajr aja ngetik di komputer. Haha.

Fiuuuhh.. ternyata panjang juga saya cerita ya. semoga menginspirasi!. Keep write, keep inspire.

Mabok Darat

Ternyata sudah hampir enam tahun saya merasakan menyebalkannya mabok darat. Ya.. apalagi kalau bukan serangan mual dan terkadang pusing gara gara perjalanan menggunakan transportasi darat khususnya bis dan mobil. Sedih yak.. haha. Padahal dulu sampai saya SMA saya selalu baik baik saja kalau masuk mobil atau transportasi umum lainnya.

Hey.. kenapa enam tahun? Well.. ini dimulai ketika saya mulai pindah ke Jogja. Transportasi umum di Jogja sungguh parah. Angkot nggak ada, isuzu jarangnya minta ampun dan hanya ada bis transjogja yang luamanya minta ampun dan kondisi bis yang jauh dari oke (belum lagi sopirnya sering ugal ugalan). Yang parah adalah bau AC (atau apa ya istilahnya. Kondisi udara dalam mobil yang tercampur dengan dinginnya AC? Hah.. sudahlah. Intinya begitu) membuat saya harus menutup hidung saking tak tahannya. Pengen muntah. Itu aja.

Kalau dulu pas awal awal masih oke. Tidak terlalu bermasalah. Saya hanya mengalami mual satu dua kali. Selebihnya tubuh masih bisa menjaga kodisi dirinya. Dan.. mual saya berlanjut juga ketika saya naik mobil. Entah kenapa terkadang, bau ruangan dalam mobil juga mempengaruhi stabilitas dalam diri. Halah.. opotoh. Haha. Yang jelas, saya kadang tidak tahan juga dengan bau AC dalam mobil. AC, tambah pengharum ruangan yang memicu mual. Udah.. wasalam. Sepanjang jalan saya cuma bisa ‘bercadar’ dengan selendang kerudung saya. Terkadang saya bisa sedikit tahan, tapi lebih sering tidak. Hiks.

Well.. menurut pengalaman saya ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menanggulangi mabok darat.

Menutup hidung

Jangan cuma pakai tangan. Pegel cyin.. Setidaknya pakailah kain baik itu slayer, selendang atau apapun yang bisa menutup hidungmu. Kalau saya sih kadang juga menetesi slayer saya dengan baby perfume. Better cuy rasanya.. saya sering berkelakar dengan diri saya sendiri: rasanya seperti mencium bau surga *karena nama parfum bayi yang saya gunakan waktu itu Jo*hnson heaven. Haha

Matikan AC dan buka jendela mobil

Ini cara paling efektif. Namun, siap siap kalau temen temen semobil pada komplain. Haha. Maka, lebih baik jika kompromi dulu sama temen temen sebelum kita memutuskan untuk buka jendela dan mematikan AC. Tapi kalau di bis, dimana kacanya tidak bisa dibuka, setidaknya kita bisa mematikan AC yang ada di atas tempat duduk kita.

Mencium sari jeruk

Jangan heran jika saya bepergian, akan ada satu buah jeruk atau sekedar kulit jeruknya saja. saya suka aroma sitrus (jejerukan) kecuali parfum ruangan rasa jeruk. Weww.. I hate it much karena Trans Jogja banyak menggunakan aroma parfum jeruk yang kemudian bercampur dengan aroma AC dan aroma warga. Membuat saya tidak tahan berlama lama di dalam bus.

Aroma jeruk akan menguar dari kulitnya jika kita melukai kulit jeruk kemudian mengoleskannya di kulit. Walaupun tak begitu lama, tapi cara ini sedikit ampuh mengurangi rasa mual.

Minum tolak angin

Cara ini lumayan ampuh untuk mengusir mual sekaligus meredakan masuk angin. Bisa diminum langsung sesachet, bisa juga perlahan lahan. Saya sih lebih suka untuk menikmati perlahan lahan biar hangatnya tahan lebih lama di mulut.

Tidur

Tidur sedikit banyak membantu tubuh untuk melupakan hasrat ingin muntah. Tapi yang sedih adalah kalau pas kita kebangun dan perut ternyata nggak bisa diajak kompromi. Duh deeekk.. haha.

Ngobrol

Percayalah ngobrol tidak serta merta membuatmu melupakan keinginan muntah. Tapi ngobrol bisa sedikit melupakan keinginan tubuh buat memuntahkan isinya. Tapi ya kalau pas jeda ngobrol masih membaui AC dan ingin muntah, lebih baik bukalah sedikit jendela mobil atau bercadar lagi.

Muntahkan

Cara ini adalah cara terbaik dari semua saran yang ada. Haha. Nah lho.. punya beban di perut, terus dimuntahin. Gimana nggak lega dong perutnya. Kalau malu untuk muntah di bis (dan rasa mualnya bisa ditahan) maka muntahkan di luar ketika turun dari bis. Dulu nggak begitu sering muntah sih karena mualnya bisa ditanggulangi. Bahkan saya tidak muntah sama sekali kecuali jika memang cuaca tubuh saya memang sedang drop.

Tapi semenjak saya tinggal di Bandung dan pulang berkerta semalaman kemudian lanjut ngebis ke kota saya, ritual yang hampir sering saya lakukan setiap kali turun bis menuju Salatiga adalah: muntah. Terkadang saking parahnya, saya hanya memuntahkan cairan berwarna kuning yang rasanya pahit dari lambung. Saking kosongnya perut karena nggak makan. Ya gimana mau makan, di perut aja rasanya udah berjuta rasanya. Mana bisa kita ngasih makan perut waktu ada pergolakan kayak gitu. Haha. Bahkan pasca muntah pun saya tidak serta mau langsung menerima makanan. Tubuh butuh toleransi sebelum ada asupan makan lagi. Ini sih kalau saya. Hehe. Tapi biasanya saya akan segera minum air yang ada rasa rasanya. Ya mau gimana lagi, cairan lambungnya pahit. Air putih aja rasanya masih kurang. Setidaknya untuk membuat netral mulut sekaligus memberikan gula sementara pada tubuh. Biar jadi energi sebelum bisa dimasuki makanan. Baru setelah dijeda beberapa waktu, tubuh bisa kembali makan. Dan.. rasanya far better. Lega luar biasa.

Sampai sekarang saya belum menemukan cara terampuh untuk mengatasi rasa mual mabok darat secara tuntas. Ya paling paling cuma bisa menahan mabok darat dengan cara preventif di atas. Selebihnya, ah entah sampai kapan saya mau mabok darat. Haha. Positif thinking-nya sih, itung itung latihan sebelum saya mengalami morning sickness di awal kehamilan. Nanti.. kalau udah nikah. Haha.

Senangnya Didongengin

Jeng jeng jeng.. Part II. Kali ini saya mau mendongengkan kembali dongeng dongeng yang saya dapatkan selama jadi akamsi (anak kampung sini) Planjan. Dongeng tak cuma asal usul terjadinya sesuatu. Tapi dongeng mengajarkan kearifan lokal, penglipur lara, bahkan sejarah. Dan.. rasanya senang sekali mendengarkan para tetua desa ini bercerita. Bak kakek yang mendongengi cucu cucunya untuk pengantar tidur..  Ah.. senangnya..

Bapak Soegiyono, bapak kepala desa kami tersayang, menceritakan mengenai asal usul Desa Sumber dan berbagai dongeng lainnya. Dari bapak ini, kami mendapatkan banyak sekali berita mengenai cerita cerita di daerah pesisir selatan Yogyakarta.

Legenda Desa Planjan

Legenda Desa Planjan. Dahulu ada dua orang kakak beradil yang tinggal di dekat hutan Gebang di daerah ngresik. Adiknya meminta untuk pulang akan tetapi kakaknya masih ingin untuk memetik cabai yang dikiranya masih merah padahal cabai yang ia kira adalah badan macan yang loreng loreng. Kemudian si kakak dibawa lari oleh harimau tersebut. Adiknya pulang ke desa dan melapor pada warga setempat. si gadis bercerita bahwa ia tidak dimangsa akan tetapi ia hanya dituntun oleh seorang laki laki yang mengajak untuk bertandang ke rumahnya. Disana ia disuguhi makanan akan tetapi gadis itu tidak memakannya. Warga melakukan pengejaran hingga ke sebuah bekas pohon besar dan akhirnya menemukan gadis tersebut. Macan dikepung dan lari kencang hingga ke sebuah batu bernama batu lawang. Disana harimau terkepung. Cerita selanjutnya tidak dilanjutkan. Akan tetapi daerah dimana harimau lari dan akhirnya terkepung dinamakan playune macan yang kemudian disebut Plancan dan lama kelamaan menjadi Planjan.

Pantai Baron dan Brawijaya

Dahulu kala, ada seseorang mengukup (mengambil dengan menggunakan kedua tangan yang ditangkupkan) dan jadilah seorang bayi. Maka dari itu pantai dimana seseorang mengambil air dinamakan Pantai Kukup. Bayi tersebut bermain main di daerah Baron, maka namanya disebut dengan Baron Sekeder. Suatu hari, bayi menanyakan siapa ayah, ibu dan saudara saudaranya. Dalam bahasa Jawa, saudara berarti kadang. Dalam terminologi bahasa Jawa, kadang diberikan imbuhan -em sehingga menjadi Kemadang. Nama tersebut menjadi nama Desa terdekat dengan wilayah Pantai Baron.

Daerah pesisir selatan Jawa dipercaya menjadi salah satu tempat bersejarah bagi tokoh tokoh legenda pulau Jawa. Di zaman keruntuhan Majapahit, Brawijaya dan putranya berseteru terkait persoalan kepercayaan. Brawijaya tidak mau menjadi seorang Muslim sedangkan anaknya ingin mengislamkan ayahnya tersebut. Brawijaya berlari menghindari putranya sampai ke pegunungan di Klaten dan sampai ke pesisir selatan pulau Jawa. Ia sampai di daerah Desa Gebang, daerah Baron. Pada jaman itu sudah ada perayaan rakyat yang dinamakan Rasulan. Warga menanggap wayang yang dilakukan semalam suntuk. Ketika penonton sudah berkumpul banyak, sayang sekali dhalang yang seharusnya memimpin pertunjukan tidak muncul. Brawijaya akhirnya mau menggantikan dhalang yang tidak datang tersebut. Di tengah tengah pertunjukan, ia merasakan bahwa kendhangan dari gamelan terasa berbeda dari yang telah ia rasakan setengah pertunjukan sebelumnya. Brawijaya menengok ke belakang dan kagetlah ia mendapati putranya telah ada di belakangnya menjadi pengendhag. Kemudian Brawijaya menghilang tiba tiba. Ia pergi ke Mojojerit kemudian ke Pantai Ngobaran. Di pantai tersebut ia bertapa di sebuah petilasan dan melakukan Pati Obong. Permaisurinya juga melakukan pati obong. Sedangkan seroang selirnya yang bernama Dewi Puyangan berjalan menyusuri pantai. Bekas tapak kakinya menjadi kayu Lohdrini. Sampai sekarang warga masih percaya bahwa wanita tidak boleh melangkahi kayu Lohdrini.

Cuma sampai disitu saja cerita tentang Brawijaya. No. Bapak yang kira kira usianya mencapai delapan puluh tahun itu melanjutkan ceritanya.

Ratu Brawijaya menyamar menjadi lurah di Sawojajar. Ia sengaja melakukan kesalahan sehingga dihukum gantung. Akan tetapi hanya tertinggal iket kepalanya saja. Ia menghilang dan menjadi seorang kaya raya di Semarang. Ia dikenal sangat kaya namun pelit. Raden Patah menyamar menjadi seorang pengemis yang mencari rumput di sekitar tanah milik Ki Gede Semarang. Cerita ini lebih mirip dengan Ki Ageng Pandanaran yang pada akhirnya pergi mengembara bersama istrinya karena sadar dengan kesalahannya. Di tengah jalan, Ki Gede Semarang dirampok oleh bandit yang sebenarnya adalah Raden Patah. Ia mengatakan bahwa hartanya dibawa oleh istrinya yang ada di belakangnya. Akan tetapi bandit tersebut tetap bersikeras meminta harta dari Ki Gede Semarang. Karena kesal, Ki Gede Semarang mengutuk bandit tersebut menjadi kambing. *ceritanya emang nggak konsisten di satu alur. Tapi tetap menyenangkan kok.

Legenda Desa sumber

Tersebutlah suami istri yang ingin memberikan warisan untuk anak cucu mereka. Si laki laki bernama Kyai Dono dan yang perempuan bernama Nyai Dono. Kyai Dono berniat membuat sumur sedangkan Nyai Dono membuat Telaga Ngomang. Sumur dan Telaga Ngomang tersebut merupakan mata air yang tidak pernah kering. Akan tetapi pada jaman penjajahan Jepang, seseorang yang ingin memperbaiki sumur tersebut tidak sengaja memutus sebuah akar yang sebenarnya merupakan jalan air dari sumur tersebut. Tidak disangka, orang itu meninggal dan air tidak lagi mengalir di sumur. Kondisi sumur tersebut sekarang tidak lagi bisa digunakan karena sudah tertimbun oleh tanah akibat erosi di area sumur.

Telaga Ngomang yang ada sampai sekarang masih menampung cukup banyak air dan masih bisa dimanfaatkan oleh banyak warga untuk berbagai kepentingan seperti memancing, mengairi pertanian, mencuci dan sebagainya. Warga juga sudah membuat area Telaga Ngomang bebas dari erosi dengan cara membuat tembok untuk menahan agar tanah di sekeliling Telaga Ngomang tidak mudah erosi. Nampaknya keberadaan Telaga Ngomang ini selain memnuhi kebutuhan air bagi pertanian dan urusan rumah tangga, juga menjadikan lapangan pekerjaan bagi warga setempat. Beberapa warga membuka jasa warung makan yang melayani kebutuhan makan siang bagi warga yang memancing di Telaga Ngomang

Dukun beranak

Hari ini kami mengunjungi seorang dukun bayi bernama mbah noto yang tinggal di RT 3 Dusun Sumber. Beliau sudah menjadi dukun desa selama puluhan tahun. Akan tetapi semenjak tahun 2012, Pemerintah melarang adanya proses kelahiran oleh dukun beranak namun harus dirujuk langsung ke bidan atau puskesmas. Dukun beranak hanya akan membantu proses pasca persalinan seperti memandikan, memijat atau mengubur ari ari. Hal ini masih dilakukan oleh banyak warga desa Planjan. Mbah noto masih sering dimintai tolong untuk mengurus bayi.

Oleh karena perkembangan jaman, warga sudah tidak lagi menggunakan ritual ritual khusus seperti yang dilakukan orang pada jaman dahulu seperti mitoni, dan lain lain. Akan tetapi masih ada satu dua orang yang melakukan ritus tertentu seperti penguburan ari ari setelah bayi lahir. Pada prosesi penguburan ari ari, ari ari yang sudah dicuci bersih dimasukkan ke dalam belanga kecil yang disertai dengan berbagai benda. Di desa ini, biasanya warga meletakkan uang recehan sebagai symbol kemakmuran si anak kelak dan buku serta pensil agar si anak bisa menjadi anak yang cerdas.

Penggunaan dina bengle juga sudah jarang dilaksanakan. Saya membandingkan penggunaan dina bengle disini dan di daerah rumah saya. Jika di daerah rumah saya, orang tua biasanya menggunakan kunyit, temu putih yang dirangkai dengan benang kemudian digelangkan pada bayi, orang tua di daerah ini menggunakan tulang ikan laut yang disebut balung butanaga. Kepercayaan dengan penggunaan benda yang berbeda ini dilakukan untuk melindungi bayi dari hal hal yang tidak diinginkan serta penangkal kekuatan jahat.

Karawitan

Kami bertiga berjalan jalan ke Desa Planjan. Disana kami bertemu dengan Mbah Harso yang merupakan dhalang di daerah Planjan. Beliau adalah salah satu punggawa dalam pelestarian kebudayaan jawa. Bersama sama warga desa lainnya, beliau masih sering melakukan latihan karawitan di Desa Planjan. Rata rata pemain gamelan berusia lanjut. Tidak banyak warga yang masih muda mau merawat kebudayaan ini karena mereka lebih menyukai kebudayaan modern. Latihan gamelan dibagi menjadi dua, untuk wanita dan laki laki. Latihan untuk wanita dilaksanakan pada hari kamis sore sedangkan untuk laki laki setiap malam Minggu atau malam Senin setiap minggunya dimulai pada pukul 9 malam.

Mbah Harso bercerita bahwa setiap melakukan pertunjukan wayang, selalu diadakan pemberian sesajian di area pertunjukan. Sesajian itu antara lain nasi uduk, ingkung, jajanan pasar, buah dan kancing (uang receh), sisir serta cermin. Berbagai sesajian itu diberikan untuk penghormatan pada mahluk mahluk yang tak kasat mata yang diyakini sama sama hidup di sekitar kita. Dalam pewayangan ada tokoh yang selalu ditutup dengan kain mori dan biasanya tokoh tersebut adalah Arjuna. Tujuan dari penutupan dengan menggunakan kain mori adalah untuk menghormati tokoh tersebut karena dalam proses pembuatan wayang adakalanya menggunakan ritual tertentu yang mengundang mahluk halus untuk mengisi wayang tersebut.

Sebagai rumah tempat tinggal wayang, pemilik wayang untuk memberi makan dan meruwat di hari hari tertentu. Untuk merawat gamelan juga diberikan sesajikan. Sesajian tersebut diberikan setiap selapanan menurut waktu pertama kali membeli. Terdapat hari hari tertentu yang dimaksudkan untuk memberi sesaji yaitu hari Jumat legi dan Jumat kliwon yakni dengan memberikan kemenyan di dekat gong. Akan tetapi tidak semua jenis gamelan diberikan perlakuan yang spesial. Ada gamelan jenis tertentu, biasanya dibuat dari perunggu murni dan yang usianya sudah tua akan diberikan sesajian khusus di hari hari tertentu. Masih menurut penuturan Mbah Harso, pada jaman dahulu dalam pembuatan gamelan, wayang ataupun gending, si pembuat akan melakukan pati geni dan melakukan ritual untuk membuat apa yang mereka buat memiliki kualitas tinggi.

Labuhan

Di daerah Baron terdapat tradisi labuhan, yaitu ritual memberikan sesaji pada penguasa Laut Selatan sebagai simbol menghargai dunia lain yang hidup sejajar dengan hidup manusia.

Labuhan terdiri dari dua jenis. Ada labuhan satu sura dan labuhan umum. Labuhan satu sura dilaksanakan pada awal bulan Muharam, sehingga mengikuti sistem penanggalan Jawa dan bukan penanggalan Gregorian (masehi). Biasanya untuk melaksanakan labuhan, warga akan mempersiapkan berbagai macam sesajen berupa ingkung, nasi uduk, jajan pasar, sisir, cermin, kancing dan satu ekor kerbau yang pada akhirnya akan disembelih dan kepalanya akan dilarung dengan menggunakan perahu di tengah laut selatan. Sedangkan labuhan umum adalah labuhan yang bisa dilaksanakan sewaktu waktu oleh warga, disebut juga Nyadran. Biasanya sebelum diadakan Rasulan/Sangan (bersih desa), warga akan melakukan labuhan. Meskipun mereka biasanya sudah memiliki waktu biasa untuk melakukan labuhan yakni untuk Desa Minggu Pahing  dan Senen Pon.

Dalam melaksanakan labuhan, tetua desa akan memilih waktu jauh jauh hari sebelum bulan Muharam datang. Mereka akan menggunakan penanggalan jawa yang dipadukan dengan wuku. Jika tidak dipilih wuku yang baik wuku dan gumreg agar kegiatan berjalan lancar. Hal itu dilakukan untuk memenghindari hal hal yang tidak baik jika tidak memilih hari baik tersebut. Rasulan hanya dilaksanakan satu kali selama satu tahun dan biasanya harinya berbeda beda untuk setiap desa. Planjan menggunakan hari Minggu Pahing. Alangsari juga Minggu Pahing. Sumber, Tritis, Ngepoh, Jambu, Karang dan Sengerang melakukan bersih desa pada senin kliwon.

Selama melakukan ritual, mereka akan menggunakan pakaian mataraman. Upacara yang dilaksanakan adalah mempersiapkan nasi uduk dan ingkung ayam dan sesaji antara lain tumpeng dirangkai dengan pisang raja, jajanan pasar didoakan oleh tetua desa dan dimakan bersama sama. Ada sebuah pohon besar di sudut desa dan diberikan sesajian oleh para warga. Orang yang memiliki keinginan yang terkabul biasanya akan memberikan sesajinya di tempat tersebut.

Pohon besar itu diberikan sekotak kayu yang terdapat bokor yang terbuat dari daun pohon kelapa dan diisi dengan segala sesuatu yang telah dipersiapkan pada saat upacara rasulan. Tak hanya pohon besar dan sudut desa. Sumur dan telaga pun tak luput dari sesajen. Tujuan dari ritual ini adalah untuk memanjatkan rasa syukur terhadap Pencipta atas kehidupan yang telah dilalui selama satu tahun.

Selain adanya sesajian dan makan bersama, warga juga membuat gunungan yang berbentuk rumah, hewan, dan bermacam macam bentuk lainnya terserah oleh warga yang membuat. Hiburan yang diberikan antara lain kesenian jathilan, doger (warok ponorogo), reog klasik, drumband, karawitan, campursari, wayangan yang dilaksanakan pada malam selasa.

Oh ya, selain labuhan, ada juga gumregan dan sedekah sasi. Gumregan adalah kegiatan untuk mensyukuri karena sudah memiliki ternak. Sesajen yang diberikan adalah jadah, dengan kacang panjang, bumbu dapur, gembili, uwi, ketela, kimpul, pulo dengan gula jawa dan ketupat. Ternak ternak itu diberi sesajen. Yah, walaupun pada akhirnya yang makan sajennya itu ya masyarakat sendiri. Sedekah Sasi dilakukan untuk menghormati ‘bulan’ yang dilakukan dengan sesajian berbeda di setiap bulannya. Setiap bulan sura diberikan sesajian seperti jenang grawul, rempah, nasi dengan lauk diatasnya. Kalau Ruwahan, masyarakat memberikan ambengan. Nasi dimasukan piring, diatasnya ada lauknya. Kalau Besaran, semua orang membuat tumpengan. Beraneka ragam.

Dongeng lainnya

Pucung berasal dari kata pepucuking peperangan karena pada jaman dahulu daerah tersebut dijadikan arena perang. Sedangkan Kemadang berarti ujung pangkal peperangan. Kanigoro berasal dari legenda bahwa Makam Kedungmiri adalah makam dari Brawijaya atau Eyang Ontrokusuma yang sebenarnya tidak mati akan tetapi hanya meninggalkan iket dan tongkatnya saja di tempat tersebut. *walaupun saya agak gagal paham dengan makna kata Kanigoro, cerita ini buat saya menarik. Warga setempat masih menghormati leluhur leluhur mereka yang menjadi pendiri desa atau yang menjadikan asal usul desa tersebut. Ternyata hormat pada orang tua adalah ajaran yang long lasting.

Dahulu kala ada anak bernama Jaka Umbaran yang akhirnya dari namanya tersebut nama Baron bermula (sudah saya paparkan di awal postingan ini). Ketika ia besar, ia pergi gua Tritis kemudian menuju daerah Bamban dan Singkil yang berarti hatinya sedang sedih. Maka, kedua desa itu dinamakan Desa Bamban dan Desa Singkil. Kemudian ia berjalan ke Pule Bener yang berarti sudah simpul pikirannya bahwa ia kana mencari Dewi Lembayung. Ia pergi ke daerah Giring untuk bertemu dengan sang dewi akan tapi ia keduluan oleh adiknya, Ki Pemanahan. Kisah ini sedikit dibelokkan untuk faktor kesopanan. Jaka Umbaran mencari krambil gagak untuk meminum airnya akan tetapi air kelapa sudah terlebih dahulu diminum oleh Pemanahan. Oleh karena ia kesal, ia pergi ke Kali Gowang untuk mendinginkan hati. Gowang sendiri bermakna pikiran yang kecewa. Sebenarnya yang terjadi adalah Ki Pemanahan sudah terlanjur bersetubuh dengan Dewi Lembayung. Degan bermakna adeg adegan, berhubungan seksual dengan cara berdiri. Hal ini sebenarnya menyiratkan adanya perebutan kekuasaan untuk menurunkan keturunan raja raja Jawa yang diakhiri dengan Ki Pemanahan yang akan menurunkan raja raja Jawa. Agar tidak terlalu vulgar, orang Jawa membelokkan cerita tersebut menjadi sebuah kisah lain yang jauh kesan saru.

Kali gowang sendiri ada di daerah Alas Sumurup yang berarti air yang menghilang ke bumi. Akan tetapi Kali Gowang akan muncul kembali di Pantai Baron. Di Pantai Baron terdapat dua buah sungai, di sisi timur terdapat hilir sungai Oyo sedangkan di sebelah barat terdapat Sungai Giring atau biasa disebut Sungai Gowang. Diceritakan bahwa ada dua nabi yakni Nabi Nuh dan Nabi Siti Jenar (mungkin diksi yang tepat adalah wali. Tapi Mbah Sugiyono menyebutnya nabi. Ya, namanya orang jaman dulu) yang berdebat mengenai hilir dari Kali Oyo. Salah satu orang merasa sungai Oyo harusnya berakhir di daerah  Mancingan. Salah satu orang mengambil merang (batang padi yang menguning) dan kemudian merang tersebut diterbangkan oleh angin. Mereka pun berjalan sampai di pantai selatan dan menemukan bahwa merang tersebut ada di Pantai Baron padahal tadinya mereka mengira di daerah Mancingan.

Misteri Gunung Merapi

Pada jaman dahulu terdapat delapan mpu yang mampu menghasilkan keris keris terbaik pada jamannya. Mereka tinggal di tengah tengah Pulau Jawa. Suatu hari diadalan gotong royong gugur gunung (istilah setempat untuk gotong royong). Akan tetapi ada satu Mpu yang tidak mau melakukan gugur gunung bersama sama lainnya. Gunung api Jamur Dipa kemudian ditumbukkan ke rumah perapian mpu mpu tersebut. Itulah legenda mengapa gunung merapi selalu menghembuskan asap, karena dulunya, gunung tersebut berada di atas rumah perapian pembuat senjata. Gunung yang ada di belakang Merapi, Merbabu juga memiliki legendanya sendiri. Merbabu merupakan anak dari gunung Merapi dimana Punakawan tinggal. *tapi di legenda di daerah Merbabu (saya tinggal di daerah Merbabu), Gunung Merbabu itu Kakaknya si Merapi. Nah, di tengah tengah Merbabu dan Merapi terdapat Gunung Bibi. Gunung Merapi tidak akan pernah ‘melangkahi’ bibinya untuk menyakiti kakaknya. Itulah mengapa asap, abu atau awan vulkanik Merapi tidak akan pernah ‘menyakiti’ Merbabu. Apakah karena legenda itu? Uhm.. who knows. Wallahualam. Yang jelas Tuhan sudah menciptakan mekanisme alam jauh sebelum bumi ini tercipta bukan?

Legenda Baruklinting

Selain cerita terbaru mengenai legenda Gunung Merapi, saya pun menemukan ada cerita lain tentang Baruklinting (legenda ular naga pembuat danau di daerah saya di Tuntang). Pada suatu hari, Syekh Mangkuribi (kalau di tempat saya namanya Baruklinting) mencari ayahnya. Akan tetapi ketika sudah bertemu, ayahnya mengajukan sebuah syarat. Ia hanya akan mengakui bahwa Mangkuribi adalah putranya jika anak tersebut berhasil melingkari gunung merapi tanpa terputus. Hanya kurang satu jengkal lagi ketika ia mampu menutup seluruh gunung dengan tubuhnya, ia tidak kekurangan akal. Ia julurkan lidahnya hingga menyentuk ekor. Ketika hal itu terjadi, lidahnya dipotong oleh ayahnya. Kepala naga tersebut menjadi hulu sungai Bengawan Solo, badan naga menjadi kali Opak dan ekornya menjadi sungai sungai kecil yang mengalir di bawah gunung tersebut.

Kalau di cerita daerah saya sih, lidah yang dipotong sama ayahnya jadi tombak naga yang sakti dan tubuh si naga membatu dan ditumbuhi pepohonan. Sampai suatu ketika warga desa yang paceklik tidak sengaja melukai ‘tubuh’ si naga dan mereka pun memotong motong daging yang awalnya mereka pikir hanya kayu biasa. Sampai akhirnya mereka berpesta dan tidak memedulikan satu anak kudisan yang minta makan. Akhirnya si anak mengadakan sayembara mencabut lidi yang ditancapkan di alun alun desa. Tak ada satupun orang di desa yang bisa mencabut lidi itu. Dan si anak mencabut lidi, munculah mata air dan hujan deras yang kemudian membanjiri seluruh desa yang kemudian dinamakan Rawa Pening (Danau Pening). (kemungkinan desa yang tenggelam itu dulunya dinamakan Desa Pening). Hanya satu orang yang selamat pada peristiwa tersebut. Orang itu adalah seorang nenek tua yang berbaik hati memberi makan si anak. Nenek itu diperingatkan untuk menaiki alu penumbuk padinya dan menggunakan centong nasi sebagai dayung jika hujan lebat turun.

waaaaa… panjang juga ternyata dongengnya. Haha. Mungkin kalau didongengkan sebelum tidur, bisa sampai pagi saya dengernya. Tapi dongeng dongeng yang nampaknya nggak masuk akal yang bikin “apa iya sih kayak gitu? itu nyata? ah nggak mungkin”, adalah hal yang menyenangkan untuk didengar dan direnungkan. Renungkan bahwa nenek moyang kita adalah pencerita yang luar biasa. Kalau kita cuma mikirin hal hal real di depan mata, dengan kesibukan duniawi yang bikin pikiran remuk, tanpa ada hiburan kayak dongeng, nggak kebayang gimana ancurnya. Hal pantasi (istilah nenek saya. Haha) seperti itu adalah penyegar jiwa, penghilang kepenatan. Dan.. saya bahagia jadi anak Indonesia. 😀

Planjan, Desa dekat Pantai Baron

Yogyakarta emang nggak ada matinya. Saya yang ‘cuma’ lima tahun tinggal disana berasa nggak bisa move on dari tempat itu. Well.. selama kurun waktu itu sih saya lebih banyak tinggal di tengah kota Yogyakarta. Akan tetapi bukan berarti saya nggak pernah main main ke daerah Yogya lainnya. Ke Sleman? Sering. Kulonprogo, dua tahun terakhir saya sering banget kesana. Gunung Kidul? Jangan Tanya berapa kali banyaknya. Bahkan saya pernah juga jadi akamsi Gunung Kidul walaupun sebentar.

Well.. inilah cerita saya tentang Gunung Kidul di bulan Januari dua tahun lalu ketika saya tinggal di Gunung Kidul.

Hari pertama : 12 januari 2015

Hari saya diawali dengan bangun dan persiapan packing pada pukul 04.00 pagi. Pukul 07.00 kami harus segera berangkat ke Bulaksumur untuk mendapatkan pengarahan terkait dengan penelitian tahun ini. Sayang sekali pengarahan baru dimulai pukul 07.30. Saya yang belum mengumpulkan abstrak tidak mendapatkan desa yang akan dijadikan objek penelitian.

Tepat pukul 09.00 kami berangkat menuju Gunung Kidul. Kami menuju balai Desa Saptosari untuk bertemu dengan perangkat kecamatan setempat. Hujan turun dengan sangat deras. Kami harus menunggu hingga bakda dhuhur sebelum kami berpisah menuju desa masing masing. Saya akhirnya mendapat tempat di Desa Planjan, sama seperti yang Mamad bilang beberapa hari yang lalu. Saya mendapatkan roommate: Lakhsmi dan Devi. Mereka berdua adalah mahasiswa Antropologi UGM angkatan tahun 2013 dan 2014.

Agenda pertama kami adalah ramah tamah dengan bapak Soegiyono, kepala dukuh Sumbersari, Planjan. Rupanya beliau sudah sering menerima anak anak penelitian yang melakukan Kuliah Kerja Nyata di desa ini. Pak Soegiyono dan istrinya hanya tinggal berdua. Mereka memiliki seorang putri yang telah memberikan mereka dua orang cucu yang sekarang tinggal bersebelahan dengan rumah mereka.

Malam harinya kami dikenalkan dengan ibu ibu perwakilan enam RT di Desa sumbersari yang akan melaksanakan posyandu di desa pada tanggal 15 Januari 2015. Kami mengenalkan diri sebagai anak anak yang akan melaksanakan penelitian dan bukan akan melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) seperti yang sebelum sebelumnya. Penelitian dan KKN jelaslah berbeda.

Potensi mebel Kanigoro

Bicara soal kondisi desa, Desa Planjan tergolong desa asri yang penuh dengan potensi pertanian serta perkayuan. Dimana mana kebun dan pohon jati. Gimana nggak ijo semua di mata. Haha. Benar benar pelarian yang oke dari penatnya ibukota Yogyakarta. *duh deeekkk.

Pertanian warga berupa jagung dan palawija lain menambah penghasilan warga yang emang nggak seberapa tapi bisa menghidupi. Nah lho.. *maka nikmat Tuhan manakah yang kamiu dustakan (QS. Arrahman). Tak hanya ladang palawija, sebagian warga menanami ladang mereka dengan kayu keras untuk bahan mebel. Pohon yang ngehits antara lain pohon akasia dan pohon jati. Kayu pohon akasia dan kayu pohon jati merupakan kayu dari jenis tanaman keras yang dengan mudah ditemui di pesisir selatan Gunung Kidul ini. Kedua tamanan tersebut adalah tanaman yang diusahakan oleh warga. Mereka rata rata akan menjual tanaman tersebut setelah berusia diatas lima tahun. Para pekerja mebel tersebut tidak hanya mendapatkan bahan baku dari desa setempat. Akan tetapi juga mendapatkan bahan baku dari desa desa di sekitar mereka seperti Desa Kemadang dan desa di seputaran Gunung Kidul.

Menurut penuturan warga setempat, kayu akasia disukai warga karena tahan dengan rayap dan kualitasnya hampir setara dengan kayu jati. Kayu jati masih dipilih warga sebagai komoditas utama permebelan akan tetapi bagi warga yang hanya memiliki sejumlah uang dibawah kemampuannya untuk membeli mebel jati, mereka akan memilih mebel kayu akasia.

Pencatatan kependudukan di desa ini pun sudah oke. Kantor Balai Desa Planjan, Saptosari Yogyakarta memiliki data kependudukan disana cukup lengkap. Bahkan pemerintah desa memiliki dokumen yang berbentuk softfile. Hal ini membuktikan bahwa struktur data di tingkat pedesaan bahkan sudah lebih baik tahap demi tahap.

Walaupun udah jadi akamsi Planjan, jangan lupa jalan jalan ke desa sebelah ya. Kami menjelajahi desa tetangga menuju Desa Ngresik. Setelah Desa Sumber, terdapat Desa Ngresik dan berbatasan dengan Desa Klepu yang merupakan bagian dari Kecamatan Kanigoro. Selain itu,  ternyata jalan di depan rumah yang kami tempati adalah jalan menuju pantai Ngobaran, Ngrenehan dan Nguyahan. *waaaa… pantai pantai pantai. Haha.

Pantai Baron yang jauhnya ‘cuma’ 2,4 km

Rutinitas saya tiap pagi tentu bangun pagi, mandi kemudian beribadah. Setelah makan pagi dan membuat kopi, saya mengobrol dengan ibu pemilik rumah. Rupanya ada tamu yang datang. Mereka adalah TIfa, firda dan Diah yang tinggal di desa Planjan. Mereka mampir dan ingin mengajak kami pergi ke pantai.

Pukul 10.30 kami baru beranjak dari rumah dan menempuh perjalanan dengan jalan kaki. Sampai di pertigaan desa, ada plang yang menunjukkan bahwa Pantai Baron tinggal 2,4 km lagi. Kami bersorak girang, 2,4 km tidaklah mungkin terlalu jauh. Kami menyusuri jalan sambil sesekali selfie.

Di tiga perempat perjalanan, kami akhirnya menemukan bis mini yang akan membawa kami sampai ke Baron. Dengan ongkos 2000 rupiah, kami sampai tidak sampai 7 menit. Dalam hati, saya bahagia. Untung nggak jadi jalan. Jauh juga ternyata. 2,4 kilometer dalam plang ternyata dusta. Hiks.

Oleh karena waktu sudah menunjukkan waktu untuk beribadah, kami melakukan sholat berjamaah terlebih dahulu sebelum main ke pantai. Tidak berapa lama, kami melanjutkan perjalanan untuk menikmati pasir Baron yang berwarna coklat, berbeda dari pantai yang biasanya saya temui yang berwarna putih atau hitam. Kondisi Pantai Baron cukup memprihatinkan. Sampahnya berserakan dimana mana dan tidak ada seseorang pun yang peduli untuk mengurus. Jaring jaring nelayan betebaran dimana dan bau amis hasil laut menyengat menusuk hidung. Akan tetapi, pengunjung tetap bisa berjalan menikmati pantai yang sepoi dengan angin berhembus lembut.

Pantai Baron merupakan wilayah pantai di Yogyakarta yang terdapat pertemuan antara muara sungai dengan laut lepas atau lazim disebut tempuran. Ombak setinggi 4 meter bergolak dengan kencang. Arus air dari sungai juga cukup kuat sehingga tidak banyak nelayan yang berani melaut di hari itu. hanya ada satu dua nelayan yang pulang dari mencari ikan di Samudra Hindia.

Kami juga mampir ke rumah Ibu Suginem, seorang ibu tua yang pendengarannya sudah tidak lagi sesehat dulu. Kegiatan beliau sepanjang hari hanya duduk di bale bale depan rumahnya. Beliau sebenarnya memiliki banyak sekali dongeng yang berkaitan dengan Desa Planjan dan sekitarnya akan tetapi sudah tidak lagi bisa bercerita karena pendengarannya lemah.

Menurut penuturan putrinya Bu Suginem, ibunya pernah menceritakan mengenai ramalan bahwa Pantai Baron akan menjadi sebuah pantai yang ramai. Jika Pantai Baron sudah ramai maka sudah tidak akan bisa ditemui orang lagi di jalan. Beliau memahami maksudnya sebagai sudah tidak ada orang yang berjalan kaki menempuh perjalanan untuk sampai ke Pantai Baron. Tentunya kecuali orang orang yang mencari pethetan (rerumputan) untuk ternaknya. And well.. its true. Mobil dan motor bersliweran di aspal yang sudah mulus. Tak ada lagi warga atau akamsi yang selo banget mau jalan kaki sampai pantai. *jauhnya boookk..

Kesulitan transportasi yang memadai merupakan salah satu masalah utama di desa ini. Bayangkan, kami harus menunggu lama untuk mendapatkan angkutan. Bis mini yang parkir di bawah pohon kami pikir bisa membawa kami sampai ke Desa Sumber dan Planjan. Sopir bis mengatakan bahwa mereka adalah bis charteran dari rombongan ibu ibu PKK yang melakukan piknik ke baron. Tidak putus asa, kamipun bertanya pada warga yang nongkrong di depan pos retribusi, akan tetapi mereka tidak menawarkan solusi yang baik untuk kami. Kami sepakat untuk menunggu di bawah pohon sambil berusaha cermat menyetop pick up yang tadi sempat kami lihat. Ada pick up yang datang akan tetapi mereka tidak bisa mengangkut kami. Baru 15 menit kemudian, ada satu buah pick up berwarna putih yang datang dan kami meminta kepada bapak pemiliknya untuk mengantar kami hingga ke rumah. Jadilah kami perempuan berenam menempuh perjalanan dengan menggunakan pick up untuk sampai ke rumah. Rasanya? Seru!.

Well.. segini dulu ya cerita soal Planjan.. sambung pagi part II

Menua

Berapa usiamu? 15? 18? Menjelang dua lima? Empat puluh delapan? Tujuh puluh dua?. Tiap orang akan memberikan jawaban yang berbeda. Ini tentang mesin waktu. Mungkin kita sekarang sedang menatap ponsel masing masing dan bertukar kabar dan nostalgia tentang masa sekolah menengah dulu yang tak ada habisnya. Atau sedang membicarakan anak anak kita yang sebentar lagi mau masuk sekolah dasar. Atau tentang dimarahi bos karena ada pekerjaan yang terlewatkan. Atau rencana jalan jalan bersama teman teman di akhir pekan. Ya.. di masa masa muda kita.

Tapi merenunglah. Waktu akan segera berlalu. Kita akan semakin menua. Diiringi waktu, kita akan segera mencapai masanya. Ada sebagian dari kita yang mungkin akan ikut anak cucu, hidup bersama salah satu anak anak kita dan menua di ranjang. Atau di rumah sakit. Tapi sebagian, akan tinggal di rumah jompo bersama dengan teman teman sebaya selama bertahun tahun sebelum ajal memanggil.

Pertama kalinya pergi ke panti jompo membuat saya merasa sangat senang. Dan bayangan saya tentang panti jompo ternyata tidak jauh berbeda dari kenyataannya. Selama ini saya hanya sering mengunjungi panti asuhan. Tempat dimana masa awal manusia tumbuh. Tapi tidak pernah sekalipun mengunjungi tempat dimana masa senja manusia tinggal.

Sama halnya dengan panti asuhan yang penuh dengan anak anak kecil yang beranjak tumbuh, panti jompo juga riuh. Riuh dengan para manusia yang beranjak senja. Banyak dari mereka yang sudah rapuh karena dimakan usia. Sebagian bejalan tertatih tatih, sebagian bahkan tidak bisa duduh selonjor karena asam urat yang mereka derita. Perasaan mereka pun juga sudah rapuh. maka, jika anak muda yang masih gampang diprovokasi emosinya, mereka pun juga rapuh. Ada anak kuliahan yang kemarin sedang mengadakan praktik kerja lapangan di panti jompo tersebut. Sayangnya si gadis ini kurang bisa memiih kata yang pas untuk diucapkan pada nenek nenek yang mereka urusi di hari itu. Salah satu nenek tersinggung dan si anak gadis itu pun dibentaknya. Kemarahannya pun belum juga mereda. Bahkan bermenit menit kemudian ia pun masih menceritakan pada sekitarnya sebagai bentuk luapan emosi.

Nenek nenek ini tinggal di kamar masing masing. Kamar kecil namun nyaman. Sahabat saya menceritakan mengapa neneknya mau tinggal di panti jompo padahal keluarganya masih lengkap. Neneknya benci bosan. Itu saja.

Hidup di usia senja, dengan harapan hidup yang entah sampai kapan lagi. Tinggal di rumah dikelilingi keluarga, anak dan cucu tentu sangat menyenangkan. Tapi hari berubah kelabu ketika anak anaknya keluar rumah untuk bekerja dan bersekolah. Hari mendadak sepi dan tak indah lagi. Maka, ia pun dengan keinginananya sendiri, memilih bertemu dengan teman teman sebayanya dan tidak ingin merepotkan anak cucunya. Jadilah ia tinggal di panti jompo bertahun tahun. Tentu pada awalnya keluarganya tidak mau melepas si nenek yang tinggal di panti jompo. Tapi, kebahagiaan neneknya lebih penting. Maka ia direlakan untuk lepas dari rumah.

Dikunjungi sanak keluarga adalah kebahagiaan kedua setelah hilangnya rasa sepi. Untuk mereka yang keluarganya masih peduli, tentunya hari sangat membahagiaan ketika ada waktu barang sejam dua jam dikunjungi ke panti. Nenek dari teman saya tersebut tersenyum bahagia sambil mengumumkan pada teman temannya bahwa cucunya datang menjenguknya. “Ini cucu saya”.

Seorang nenek mengajak saya mengobrol. Panjang lebar dia bercerita tentang masa mudanya, tentang penjajah Belanda, kemerdekaan Indonesia, tentang keadaan kota Bandung, tentang daerah daerah yang pernah ia kunjungi. Dulu ketika jaman Belanda, ia masih tinggal di Magelang. Bersama keluarganya ia hidup dan di masa tua tinggalah ia seorang karena ia tak menikah selama hidupnya entah karena apa. Anak cucu dari keluarganya juga sudah terpencar kemana mana. Tak lagi ada yang peduli tentang dirinya. Lama sudah ia menanti seseorang mengunjunginya. Dengan excitednya, ia bercerita. Sumringah karena merasa ikut dikunjungi. Bahkan ia menggenggam tangan saya dan mewanti wanti agar saya sering sering menjenguk.

Perasaan sepi masih terasa menggelayut. Mungkin itu yang dirasakan mereka yang menanti penghabisan. Mereka yang menanti satu dua orang keluarga atau teman mengunjungi, mengusir rasa sepi. Mengusir perasaan tak dipedulikan yang tak berkesudahan.

Sambil berjalan, saya merenungi apa yang saya lakukan hari ini. Tak pernah kita tahu sampai di usia berapa kita akan hidup. Maka jika kita sampai pada usia menua kita masih diberi usia, syukuri dan tetaplah menebar kebaikan pada orang lain. Sayangi orang lain. Tetaplah jaga silaturahmi.

Ciwidey

And.. here we go for our second day. Saya baru tidur habis subuh dan bangun ketika Santika membangunkan saya karena harus mandi. Hari ini agenda kami adalah jeng jeng menuju Ciwidey, sebuah danau kawah nun di selatan kota bandung.

Kami berangkat dari stasiun bandung pukul 09.30, setelah sebelumnya bertemu dengan Stella yang menunggu kami di stasiun bandung. Butuh waktu kurang lebih dua jam setengah untuk mencapai daerah pegunungan ciwidey. Berawal dari saya yang nggak bisa baca peta, kami akhirnya sampai juga di ciwidey.

Kebun sayur, strawberry dan rumah rumah warga berjajar di sepanjang jalan. Ya, macam di Dieng atau Kopeng gitu sih. Cuma satu: macetnyaaaa. Hiks.

Saya masih tak percaya jika tarif parkir mobil di ciwidey mencapai seratus lima puluh ribu rupiah. Whaattt deee… bahkan saking nggak percayanya saya potret informasinya dansaya cek di internet. Saya pun tidak berhenti tertegun. Ternyata emang beneran seratus lima puluh ribu rupiah. Hiks. Mahal euuyy.. tapi sudahlah. Itung itung membantu pariwisata negeri sendiri. Kapan kita mau majuin pariwisata sendiri kalau apa apa masih gretongan. Toh, kita juga nggak bisa bikin jalan aspal di ciwidey. Anggap aja uang yang kita keluarkan adalah uang patungan bersama warga negara indonesia yang baik lainnya untuk membantu pemerintah memelihara sarana dan prasarana pariwisata. Ikut memajukan negeri sendiri bro.. *belajar jadi warga negara yang baik

Eh, usut punya usut, jalur yang kami lewati menuju parkiran atas kawah ternyata panjang juga. Mungkin ada kurang lebih dua sampai tiga kilometer dengan jalan satu satunya selebar dua mobil dengan aspal kualitas yang sedang kanan kiri hutan. Satu satunya pemandangan yang bikin mata sepet waktu kita naik mobil menuju ke atas adalah: sebuah mobil mewah berwarna hitam buang sampah sembarangan sampai tiga kali. Terlihat dua balita melongok dari jendela kaca sebelah kiri dan ada tangan si ibu war wer war wer asal buang sampah sembarangan baik dari plastik bungkus makanan sampai tisu mungkin bekas pembuangan si bayi. Hiiii.. jijikk. Ternyata status kekayan seseorang tidak menandakan bahwa si orang kaya bisa berlaku berkelas. Ya kalik punya mobil sekelas alphard masih buang sampah sembarangan. Emang situ bayar parkir berapa? Satu juta limaratus sampai berani buang sampah dari mobil. Ternyata orang kaya bisa berlaku kayak orang kere juga.

Disambut dengan angin dan hujan lima menit sekali, sumpah dingin banget. Bahkan saya pun bisa sok sokan bicara dengan mulut beruap macam pilem pilem korea. Haha saking dinginnya. Bagi pengunjung yang tidak membawa payung, bisa menyewa payung dengan harga kurang lebih sepuluh ribu rupiah sekali pinjam. Kami bersembahyang dhuur sebelum turun ke kawah. Dinding dan lantai mushola bahkan sampai dingin seperti es saking ditempa caca hujan dan angin serta suhu gunung yang turun drastis.

Kami pun turun ke kawah. Jalan setapak lengkap dengan tangga tangga yang sudah bagus, menjadi jalan penghubung antara bagian atas dan bibir kawah. Air kawah yang berwarna tosca dengan bibir kawah yang kekuningan menjadi pemandangan yang dominan. Baunya kawah juga menyengat. Jadi, untuk pengunjung jangan lupa untuk membawa slayer atau penutup hidung. Dan.. jangan sekali kali berenang. Dengan warnanya yang cantik itu, kawah putih bukan ditujukan untuk berenang. Anak kecil aja tau kalau itu bukan buat berenang. Bahaya, atuh neng!

Di sekitar ciwidey terdapat pohon pohon cantigi yang berjajar. Saya tidak tahu apakah pohon cantigi ini sengaja ditanam atau memang tumbuhan yang secara alami menghiasai kawah putih. Dan.. daunnya yang masih muda cukup segar untuk dimakan.

Keindahan alam ciwidey pun memberikan rejeki bagi para warga sekitar yang mengadu nasib sebagai penjual belerang, souvenir, jasa peminjaman payung sampai penjual gelembung udara. Kami pun bermain main dengan gelembung udara yang dihasilkan dari alat peniup gelembung udara yang dimasukkan ke dalam cairan sabun. Masa kecil kurang bahagia? Nggak juga.. hanya mengulang saja. haha.

Tak sampai satu jam kami berkunjung ke ciwidey. Kami pun turun ke bandung karena beberapa dari kami harus mengejar waktu mereka pulang ke daerah masing masing. Hanya saya, ghozi dan restu yang berdomisili di bandung. Jadi kami pun tidak punya masalah dengan waktu. Santika harus mengejar kereta pada pukul 20.00. Dengan traffic bandung yang menyebalkan di weekend, maka kami tidak boleh menyepelekan waktu. Helmi serta Mba Tari harus pulang ke Jakarta. Tau sendiri kan traffic jakarta segitu menyebalkannya. Maka mereka pun harus segera pulang.

Dan.. damn so much.. mobil harus berhenti beberapa menit sekali karena antrian yang mengular. Ya ampuuuunn.. sekalian deh wisata kemacetan. Haha. Oleh karena energi sudah habis, maka kami berhenti di sebuah warung makan di kiri jalan entah apa namanya warung makan itu. Dan.. taraaa.. saya beli nasi ati dan sayur nangka seharga tiga puluh lima ribu rupiah. Mahal beud. Haha. Tapi saya tidak terlalu bermasalah karena rasanya pun sepadan dengan harganya. Ya itung itung bantu perekonomian warga setempat. insyaAllah bermanfaat dan barokah. Seperti tipikal makanan sunda, kami disediakan lalapan. Dan.. I swear eat lalapan much. Haha. Saya suka lalapan.

Pulangnya, jangan tanya. Macetnya naudzubillah. Bahkan sampai kota Bandung pun, macet tak juga berhenti karena arus balik. Banyak juga wisatawan lain yang ingin pulang. Maka, kemacetan pun tak tertahankan.

Akhirnya, kami sampai di stasiun bandung pukul 18.00, tepat maghrib. Saya dan santika langsung menuju kosan untuk berganti baju kemudian berpamitan pada teman teman yang masih stay di parkiran stasiun bandung untuk menunaikan ibadah maghrib. Dan.. liburan telah usai. Kami pun kembali ke rutinitas masing masing. Haha.

*Sesungguhnya yang paling mahal itu waktu. Ia dengan mudahnya terbuang dan tak akan kembali.

Farmhouse

Apa yang terbaik dari sebuah weekend di perantauan? Kunjungan dari kawan kawan. Yeah.. thats it. Teman teman saya mengunjungi saya di Bandung. Ada yang jauh jauh dari Kediri dan Jakarta. Saya menjemput Santika di depan Stasiun Bandung tengah malam dan kemudian hari dimulai dengan bertemu Helmi, Mba Tari dan Ghozi di depan tiang bendera ITB.

Tujuan pertama kali ini adalah mengunjungi lembang yang ngehits dengan floating marketnya dan famhouse. Ghozi yang emang udah dari sononya akamsi Bandung menjadi guide kami hingga ke floating market. Kecenya, perjalanan lewat jalur alternatif bisa memotong setengah dari standar biasa masuk ke Lembang (Seminggu sebelumnya saya mengunjungi lembang dan makan waktu satu hingga dua jam sampai ke lembangnya. Itu pun baru sampai Pasar Lembangnya doang. Macetnya Bandung ketika weekend nggak banget deh. haha).

Tiket floating market bandung kurang lebih Rp 20.000, yang bisa ditukarkan dengan segelas kecil kopi, milo atau sejenisnya di depan pintu masuk atau di bagian dalam area floating market. Itu belum sama parkir kendaraan lho. (Parkir mobil Rp. 10.000). Maka masuklah kami ke area floating market. Saya awalnya menyangka floating market adalah danau atau sungai yang dibendung untuk dijadikan pasar terapung mirip mirip di Kalimantan. Eh.. ekspektasi saya terlalu liar. Ternyata area ini adalah danau yang tidak seberapa luas yang disulap sedemikian rupa sehingga mirip taman bermain dengan aneka rupa wahana. Emang ada wahana apa aja? Sebenarnya intinya adalah tempat nongkrong dan makan juga foto (tempatnya instagramable gitu sih).

Kami menyusuri danau dan menemukan guesthouse kecil yang sudah dipesan beberapa korporasi yang nampaknya akan menyelenggarakan gathering di lokasi ini. Maju lagi, ada jalan setapak dari beton juga dari bambu bambu yang menghubungkan pengunjung dengan rumah rumah apung (jadi inget program salah satu cagub jekarda 2017 ini haha) berarsitektur jejepangan lengkap dengan studio foto dan rumah kostum yang menyewakan hanbok serta kimono. Maka, meluncurlah kami di antara gadis gadis muda yang ingin bergaya ala ala negeri sakura sana. Bambunya sendiri cukup stabil. Jadi jangan khawatir jika ingin lewat. Nggak begitu goyang kok. Cuma ya tetap hati hati jangan sampai pecicilan. Kita jatuh ke air sih nggak papa. Nggak bakal mati. Tapi kalau jatuh ke air se hape dan kamera kita ya wasalam. Hehe. Selamat tinggal foto foto instagramable kalian.

Maju terus, kami menemukan angsa angsa yang sedang berenang dengan anggunnya di air kolam yang tenang. Danau ini juga menyajikan pemandangan ikan ikan mas yang segede lengan bikin ngiler para pemancing. Sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan untuk memancing di kolam ini. Haha. Ngasih makan ikan oke aja, mancing ikannya tuh yang dilarang.

Apa yang menarik dari floating market? Tempat makannya. Ada yang terapung apung di atas air lho. Makan sambil sedikit goyang goyang macam di kapal. Terus bayarnya juga bukan pakai uang, tapi pakai koin floating market. Jadi berasa kayak di negeri antah berantah. Haha. Ada banyak pilihan makanan dijajakan di floating market. Ada yagn berjajar makan pedagang kaki lima tapi jualannya di perahu kecil, atau kalau mau yang suasana kafe, kita bisa berjalan di seberang danau. Kenyang deh.

Tak cuma wahana piknik, floating market memiliki taman yang berisi tumbuhan dan hewan. Kelinci dengan kandang dan rong rongannya mereka. Ada juga aneka tanaman yang ditata dengan ciamik. Ini sih maklum aja. Lembang soalnya. Hehe. Ada juga replika kereta api. Jalan dikit, nemu pinggiran danau lagi. Saya sebenarnya ingin mendayung perahu sampai ke ujung danau. Tapi karena teman teman saya ingin segera pindah maka saya harus melupakan keinginan tersebut, hehe.

Lanjut part II.

Famhouse

Yang terbang dari farmhouse adalah sebuah peternakan kekinian. Nyatanya? Ya emang benar kekinian. Intinya adalah tempat makan dengan aksesori hewan dan kebun bunga. Udah gitu. Yang paling asik adalah susu yang kita dapat setelah menukarkan kupon masuk. Suer, susunya banyak banget. Seneng deh. Haha

Udah dapat susu, maka masuklah kita ke interior dalam si farmhouse ini. Air terjun kecil mengalir bergemericik seolah olah kita ada di hutan. Nah lho.. haha. Kalau ambil jalan ke kanan maka kita akan bertemu dengan taman bunga yang tertata rapi dengan bagian bagian kebun binatangnya masing masing. Yang paling unyu adalah segerombol biri biri asli impor mungkin dari Aussie atau Selandia baru, dimana mereka akan jadi sedikit beringas kalau liat pengunjung ngasih makanan. Si biri biri ini diberikan semacam popok khusus biar kotorannya nggak kemana mana. Sungguh manajemen kebersihan yang oke punya. Lucunya, ada domba yang keluar area dan mengejar anak kecil. Si anak ini sampai ketakutan. Hehe. Tak hanya biri biri, ada berbagai macam hewan piaraan lainnya. Kelinci kelinci berbulu unyu unyu, ada iguana, sugar glider (pose tidur mereka sungguh menggelikan) dan masih banyak lainnya.

Di area peternakan hewan ini, ada juga penyewaan kostum indian. Maka jika kami tadi serasa plesiran ke Jepang dan Korea ketika berkunjung ke floating market, sekarang kami bepergian ke Amerika. Ngeliatin ciwi ciwi dan cowok pakai kostum indian dengan tongkat mereka.

Dekat dengan area peternakan, ada sebuah kafe yang menyajikan makanan untuk pengunjung yang mungkin ingin merasakan suasana makan di farmhouse. Belakang kafe ada taman bunga, dimana lagi lagi kami menemukan segerombolan ibu ibu berbusana ala ala noni belanda yang mau memerah susu. Haha. Kalau tadi ke Amrik, sekarang berasa kayak di Belanda.

Maka, dimanakah kita bisa menemukan penyewaan kostum tadi? Cukup kembali ke air terjun di awal tadi dan ambillah jalan ke kiri. Kita akan menemukan rumah rumah ala ala Eropa yang menjual berbagai keperluan mulai dari asesoris, jus, kopi, toko roti dan juga termasuk tempat penyewaan kostum. Kostumnya nampaknya sih banyak. Tapi, yang ngantri juga seabrek cuy. Jadi siap siap aja buat nunggu sekian menit. Syukur syukur sih nggak perlu nunggu sampe ber-jam jam. Haha.

Oke, selain kompleks pertokoan tadi, area ini tak hanya menyajikan tempat jualan. Berjalan sedikit ke arah kiri, maka ita akan menemukan kompleks the hobbit. Itu tuh rumahnya si hobbit kalau di film Lord of the Ring.

Puas menjelajahi farmhouse, kami kembali ke jantung kota Bandung. Jalan macet tiap weekend adalah momok bagi seluruh warga. Maka, kami pun baru sampai di Bandung ketika magrib. Dan semua orang menahan buang air. Duh.. sungguh kemacetan yang menyiksa.

Setelah kami selesai solat magrib, kami pun bepergian menuju Braga Culinary Night. Stall stall kuliner berjajar di sisi sungai Cikapundung berjubel manusia manusia yang bermalam mingguan sambil nyari makan. Braga juga dipenuhi dengan para anak muda kreatif yang mencari uang dengan bermain peran sebagai nenek lampir, putri kerajaan, robot robotan dan aneka macam lainnya. Mereka menarik bayaran kira kira lima ribuan tiap kali diajak berfoto.

ada hal lucu ketika kami makan malam di Braga. Ghozi mengira Mba Tari sakit magh padahal lagi hari pertama menstruasi. Ghozi mampir di warung kecil untuk membeli obat magh dan air putih. Maka jadilah semua orang meledak ketawa. Ghozi cuma bisa bengang bengong bingung. Huahahahaha. Maka kami menutup hari dengan tidur nyenyak.

Stigma Fashion dan Religi

Ajining raga ing busana. Begitu sih kata pepatah nenek moyang saya yang orang Jawa. Harga diri terletak dari apa yang kita kenakan. Kalau kamu berpakaian layaknya raja, orang akan berpikir bahwa kamu raja walaupun mungkin hanya sandiwara di aas panggung. ”Sing dadi raja ne kui tanggaku”. Yang berperan jadi raja, adalah tetangga saya. Ada seorang wania berpakaian kakhi, mungkin orang akan memanggilnya bu guru karena stigma guru adalah ibu ibu atau bapak bapak yang memakai pakaian resmi terkadang baik, khaki atau biru tua. Jika ada seseorang memakai jas, mungkin orang pikir dia adalah seorang pebisnis (atau mempelai lelaki? wakakak). Jika ada seorang memakai pakaian abu abu dengan emblem disana sini dan memakai semprita,  tangannya melambai kesana sini di jalan, bisa saja dia adalah seorang polisi. Jika ada seseorang dengan caping di atasnya, mungkin dia seorang petani atau pendekar yang sedang mengembara? Haha. *Efek nonton film persilatan indonesia jaman dulu. wkwkwk). Jika ada seorang berkebaya dan jarit serta menggendong botol botol jamu, orang akan berpikir bahwa dia adalah tukang jamu.

Mengapa orang sedemikian mudahnya menebak kepribadian seseorang dari cara berpakaian? Ya simpel saja. Jelas karena pakaian menunjukkan identitas kita dan cara kita ‘menunjukkan’ kepada khalayak tentang siapa kita. Bukankah manusia selalu haus akan pengakuan?. Orang berpakaian karena ingin menunjukkan status mereka sebagai mahluk Tuhan yang berakal. Menunjukkan bahwa mereka sudah beralih dari jaman nggak pake baju alias manusia purba ke jaman peradaban alias jaman udah kenal baju. Intinya yang mendasar adalah biar nggak dibandingin sama hewan. Hewan aja pakai kostum. Masa manusia nggak? Haha.

Ah, jangan melulu menuduh orang lain lewat penampilan deh. Yakinkah kita sebagai manusia awam bakal nggak mikir aneh aneh kalau ada orang yang pakai pakaian tidak sewajarnya? Lalu, kenapa dong ada istilah cabe-cabean yang orang selalu bilang bahwa mereka identik dengan dandanan norak warna warni ngejreng, pakaian minim, hape di tangan dan motor?. (bahkan sampai ada lagunya juga lho. Alaay.. anak layangaaan.. nongkrong pinggir jalan sama teman teman.. ). Kenapa ada stigma bahwa perempuan berjilbab itu dianggap solihah? Kenapa ada stigma orang bertato dianggap sebagai berandalan atau penjara? Ya karena kita manusia yang penuh prasangka. Bukankah kita diciptakan dengan penuh prasangka?. Yakin deh nggak ada satu orang pun di dunia ini yang nggak berprasangka.

Oke, agak melenceng dikit dari bahasan fashion tapi tetap ada benang merahnya. Mari kita berbicara tentang negeri ini dahulu. Tiga bulan ini dunia Indonesia, baik dunia perbahasaan, pervideoan, agama maupun poliik sedang guncang guncangnya. Terorisme yang nampaknya sedang mencoba tren baru: menjadikan wanita sebagai pengantin. Bukan pengantin manten lho, tapi pengantin yang dikorbankan demi surga. *saya kok jadi keinget upacara pengorbanan gadis sebagai persembahan kepada dewa di suku Astec atau Maya. Waaaa.. surga darimana nih? Banyak orang masih bertanya tanya darimana surga yang mereka pikirkan berasal.

Balik ke stigma fashion, tentang bagaimana orang berprasangka pada orang lain lewat apa yang bisa dipandang mata. Pengantin itu tadi adalah seorang ukhti-ukhti yang bergamis warna gelap monotone, berkerudung gelap, lebar. Tiga hal ini sering dikait kaitkan orang bahwa siapapun perempuan yang memakai pakaian dengan tiga ciri khas tadi dianggap sebagai penganut Islam fanatik bahkan seorang teroris. Padahal belum tentu. Nggak juga tuh. Kan fashion sekarang juga lama lama bergerak menuju syar i.

Kenapa orang terutama Indonesia suka bergunjing (selain nggunjingin mbak mbak rok mini) ketika ada orang pakai pakaian hitam hitam dan bercadar. Ya karena kita lihat dan dengar berita. Ketika media media memperlihakan sosok tersangka yang ternyata memakai koko, berpeci, dikabarkan taat pada agama, sholat lima waktu nggak putus dan berbagai atribut serta ritual keagamaan lainnya. Kemudian kalau perempuan selalu pakaian hitam, berkerudung lebar, kadang bercadar. Sebagian orang Indonesia yang ke-Islamannya -masih dianggap taraf biasa bagi sebagian lainnya- kemudian patah hati. Mereka pun melongo. Ooooh.. ternyata citra Islam itu digambarkan sebegitunya yah. Kerudung gede, item, bercadar, seringkali mereka teroris. Dan begitulah pemikiran bergulir. Maka tetangga kanan kiri sudah mulai lirak lirik curiga pada kita kita yang memakai fashion seperti itu. Anggapan fanatis mulai diarahkan pada kita kita yang memilih model fashion syari macam itu.

Kemudian fashion berubah. Seperi roda, fashion berputar dengan cepatnya. Kemarin seleranya pakaian ketat menutup badan, besoknya lagi baju anak SMA yang dikeluarkan, besoknya lagi jeans gombrong. Ganti musim, ganti lagi stylenya. Liat Jokowi pakai jaket bomber, semua orang nyari jaket bomber. Besoknya, liat instagramnya Dian Pelangi, eh pengen jadi hijaber dan seabrek style lainnya. adalah kerudung bergo polosan yang cuma menutup leher. Kemudian paris yang semakin hari semakin tipis saja kualiasnya, kemudian kerudung panjang panjang mirip selendang, kemudian muncul wanita wanita melek fashion yang mulai mengampanyekan pakaian syar’i yang seperti tuntunan Nabi. Fine.. benar atau salah, kembali pada diri masing masing.

Ada banyak pendapat tentang bagaimana seharusnya wanita berpakaian. Menurut pandangan agama Islam, yang dianjurkan adalah pakaian yang menutup aurat. Aurat itu dari mana? Kalau menurut pandangan agama Islam sih, seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan serta tidak menyerupai laki laki. Tapi yang namanya manusia, Tuhan sudah memberi anugerah bahwa kita diciptakan dengan akal dan perasaan masing masing. Ada manusia yang menafsirkan harus menutup rapat rapat sampai mata kaki. Ada yang menutup semuanya meski kain terlihat berlenggak lenggok dengan manisnya di atas kulit dengan dalil: yang penting ketutup. Ada yang memaknai bahwa menutup diri bukan berarti harus ketinggalan fashion.  Ada yang merasa bahwa pakai celana masih dibolehkan yang penting nutupin aurat. Asal nutup doang. Ada yang merasa dia adalah tipe girly yang suka dengan warna warni, maka dari atas sampe bawah ngejreng sana sini. Ada yang merasa karena kelas sosialnya tinggi maka selera fashionnya haruslah mencitrakan pakaian yang menutup ubuh dengan aksesori disana sini. Ada yang karakternya polos, maka ia memakai yang itu itu saja. Ada yang dari atas sampai bawah memakai serampangan. Ada yang memaknai bahwa syar’i adalah menutup seluruh tubuh sampe yang terlihat cuma segaris mata. Buanyakkk buanget versinya di masyarakat.

Mana yang benar? Nggak usah nyari salah dan benar. Kembalilah bertanya pada diri kita masing masing, apakah dengan yang kita kenakan, Tuhan sudah ridha? Karena Tuhan nanti nggak akan cuma nanyain tentang mana yang ditutup mana yang enggak. Tapi juga tentang dari mana kita mengusahakan pakaian kia. Apakah dari nyolong, hasil kerja keras tiga bulan bahkan dibela belain puasa, hasil ngutil di pasar, pemberian kolega lama atau darimana, pakaian yang dibeli biar dibilang trendi, biar bisa nyombong sana sini, biar bisa dianggap naik kelas nan kekinian, biar jadi pembuktian ke orang orang yang dulu pernah menghina kita, blus jutaan biar bisa dipamerin di medsos dan sejuta hal di baliknya. Jadi.. berhenti berdebat dan jadi fashion police orang lain. Jangan merasa paling benar. Mulailah menanyakan pada diri masing masing. Seorang pelacur berpakaian mini belum tentu lebih hina daripada kita yang pakaiannya biasa saja. Introspeksi diri sendiri aja.

Baiklah, fashion dan religi. Tidak ada ukuran yang mutlak dalam berfashion berkorelasi dengan kepercayaan kita. Udah sejauh apa kita menerima agama (apakah diajarkan oleh orang tua, terpaksa, ikut ikutan, agama katepe, agnostik, atheis, ataukah memang sudah terpatri dalam hati) tidak ada sangkut pautnya dengan mode baju apa yang kita kenakan. Toh yang paling paham bagaimana kita hanya kita sendiri dan Tuhan. Seperti kata Agustinus Wibowo dalam bukunya yang berjudul Selimut Debu ”Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti agama adalah kemanusiaan.”.

Jihad Pakai Cara Goblok

Ketika kedamaian disalahartikan sebagai menjadikan dunia ini milik satu umat saja, tidakkah mereka paham bahwa bukan mereka saja yang hidup di bumi. Tidakkah mereka membaca sejarah bahwa ada banyak umat yang mendiami dunia ini. Islam, Kristian, Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu, Kaharingan dan berbagai agama lainnya. Jika berbeda, apakah mereka ciptaan Tuhan yang berbeda? Jika mereka dirasa ciptaan Tuhan yang berbeda, maka memangnya sudah sejauh mana kamu mengenal Tuhanmu dan Tuhan mereka?. Ah, sungguh 2016 membuat saya berpikir berulang ulang tentang jihad.

Konsep jihad, suriah, bom bunuh diri, pengantin (orang yang rela bunuh diri mengatasnamakan agama) seolah olah menjadi legitimasi bahwa kita sudah menyerahkan hidup kita pada akhirat. Jihad pasti masuk surga, dan banyak yang berpikir bahwa jihad hampir selalu membunuh orang kafir. Lalu, siapakah orang kafir? Maka orang berpikir bahwa agama yang paling benar adalah agama Islam dimana para ekstrimis menganggap orang yang bukan Islam pastilah selalu kafir. Maka menurut mereka, hukum membunuh orang kafir adalah halal. Oh, plis. Apakah guru agama mereka nggak pernah mendongengi bahwa Nabi pun pernah berhutang pada seorang yahudi? Apa guru ngaji mereka nggak pernah kasih tahu bahwa Nabi Muhammad tidak membunuh non Islam dengan pengecualian?. Bukankah ada orang orang non yang dilindungi? Kalau semua orang non islam dibunuh di masa Nabi Muhammad SAW, yakin deh nggak ada satu orang pun yang beragama non islam hari ini. Emang udah seislam apa sih mereka yang seenaknya bilang jihad adalah membunuh kafir? Sudah seislam apa diri kita mengkafir kafirkan orang lain?.

Oh plis, tidakkah mereka berpikir panjang bahwa ketika mereka meledakkan diri, ada anak cucu yang berhenti untuk mereka beri makan. Kalau bapak atau ibunya jadi pengantin, siapa yang kasih nafkah buat anaknya dirumah?. Emangnya anaknya nggak butuh makan nggak butuh sekolah nggak butuh apa apa buat nyambung hidup?. Emang bisa anaknya bertahan hidup hanya dari cinta bapak atau ibunya yang udah mati yang belum tentu juga rohnya tenang di alam baka? Plis.. apa nggak nyusahin yang masih hidup sih. Gimana beratnya keluarga yang hidup dengan stigma teroris, stigma pemecah belah umat, stigma orang yang maunya masuk surga sendirian seolah olah apa yang udah dilakukan itu heroik.

Suatu ketika, saya bertandang ke rumah sahabat yang terletak di kaki bukit. Seperti biasa, kami masak untuk makan siang. Kebetulan minyak goreng habis dan satu satunya warung yang buka hanya dibelakang rumah kami. Saya cukup terkejut ketika teman saya ini bercerita bahwa suami si ibu yang berjualan kelontong di rumahnya diangkap densus 88 minggu lalu karena dugaan terorisme. Si ibu ini memiliki anak anak yang masih kecil, bahkan ada satu yang masih bayi. Seketika saya merenung. Pasti sangat berat untuk jadi seorang ibu yang ditinggal suaminya. Meskipun alasannya membawa bawa urusan agama, tapi tetap saja, dari sisi kemanusiaan tidak membanggakan sama sekali. Haruskah untuk urusan jihad, anak istri jadi korban? Bagaimana perasaan anak anaknya ketika bermain dan ada anak lain menanyakan atau bahkan mengolok olok dirinya sebagai putra seorang teroris. Pasti pukulan yang sangat berat untuk psikologi si anak. Dicurigai sana sini, dianggap bisa merakit senjata bahkan bom. Endingnya? Mungkin saja bisa krisis identitas.

O, ya saya membaca berita di koran online bahwa ada satu pengantin perempuan yang ditangkap dan syukurnya sebelum meledakkan diri di objek vital negara. Syukurlah dia ditangkap. Kalau mau berpikir panjang, apa yang ia lakukan sudah dianggap sebagai perbuatan makar. Melawan negara. Padahal bukannya membela tanah air adalah kewajiban seorang muslim?. Tidak ingatkah sejarah Islam bisa masuk ke Indonesia dengan damai dan islam juga yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia?. Lalu dimana rasa menghargai terhadap para pahlawan kita?. Memangnya kalau udah ngebom, jadi pengantin, kamu mati syahid? Udah pernah ketemu malaikat apa kok bisa bisanya menghukumi mati syahid.

Plis mas.. mbak.. jika ada yang terbunuh dalam ledakan yang kalian sebabkan, bukannya kalian ya yang jadi pembunuh. Nggak jadi mati syahid maah jadi pembunuh. Malu atuh.. Belum lagi, dari sisi sejarah, jika dia merusak sebuah bangunan monumental satu saja, maka mungkin tidak ada lagi cerita untuk anak cucu kita. Nggak ada lagi cerita di RPUL atau kamus kamus backpacker bahwa Indonesia pernah punya satu tempat bersejarah dimana Pak Karno dan Presiden Presiden Indonesia lainnya tinggal selama mereka memimpin. Jadi teringat dengan ISIS di Timur Tengah sana yang menghancurkan berbagai macam bangunan sampai ke manusia manusia yang tinggal di dalamnya. Bukankah mereka adalah orang (yang mengaku Islam) tapi tak berilmu. Mereka mengulang sejarah bangsa bar bar yang memundurkan peradaban seribu tahun lebih lambat karena membakar perpustakaan besar di Irak sana ribuan tahun lalu. Satu saja sejarah kecil, mengapa disepelekan. Satu sejarah kecil berisi ilmu pengetahuan. Jangan sampai anak cucu kritis identitas karena goblok. Jangan sampai anak cucu goblok karena kesalahan kita yang ikut ikutan goblok nggak berpikir panjang atas sebuah keputusan.

Kalau ada doktrin yang menyebukan bahwa “Jika belum bisa ke Suriah, maka lakukan amaliyah di negerimu”. Sik sik.. yang perang kan Suriah. Terus kenapa yang diajak amaliyah (bom) yang kena orang negeri sendiri. Kan nggak banget. Salah sasaran broh. Haha. Yaudah.. kalau mau ke Suriah ya ke Suriah aja. Jangan ajak ajak orang buat ngebom hotel, istana negara, gereja, wihara dan lain sebagainya. Yang ada di tempat tempat itu kan juga belum tentu pernah menyakiti yang ngebom kan. Gimana dong kalau ada seorang ayah yang ada di tempat kejadian, dia nggak salah apa apa, dia lagi mencari uang buat pengobatan anaknya yang sakit lalu terbunuh hanya karena perbuatan sok heroik orang yang mengatasnamakan agama. Gimana kalau terorisnya yang ada di posisi bapak itu? apa nggak kemepyar atinya mikirin anaknya yang sakit keras. Duh deeeek.. Atau emang para pengantin itu yang baca doktrinnya nggak tuntas. Mungkin yang dimaksud dengan amaliyah di negeri kita sendiri itu adalah mengaji, berbakti pada orang tua, cinta tanah air, memajukan pariwisata kecamatan yang kita tinggali, rukun dengan penganut agama lain. Gitu kali ya.. saya sih nangkepnya gitu.

Mari kita pakai cara goblok untuk jihad, bahkan lebih goblok dari bikin bom ricecooker atau bom buku. Kenapa kok bisa goblok? Ya karena bisa dilakukan setiap waktu dan nggak pakai biaya dan nggak perlu pemikiran panjang. Maka cara goblok apakah itu: berbuat baiklah pada sesama. Cukup itu.

Bukankah Islam itu rahmatan lil alamin? Bukan agama penebar kebencian kan? Maka jagalah dengan elegan. Kalau kita masih kecil, ya cukup patuhi orang tua. Besar dikit, udah baligh ya jaga diri. Jaga malu dan kemaluan. Tholabul ilmi, kerja nyari nafkah buat keluarga. Biar keluarganya nggak ada yang jadi peminta minta. Udah nikah, ya sayangi istri dan anak. Pelihara mereka dari berbuat menyimpang dari ajaran agama (termasuk membunuh orang lain). Ngajak orang beribadah ke masjid, baca Quran tiap hari, ngasih sedekah makan minimal sebungkus sama orang yang membutuhkan. Orang tua, memberi nasihat yang baik ke yang muda, memelihara amalan yang baik menunggu mati. Simpel broh.. udah gitu doang. Bukannya intinya jihad itu adalah berjuang di jalan Allah? yaudah.. berbuat baik pada orang tua, sedekah, ngaji, menebar senyum dan ketenteraman pada sekitar juga termasuk jihad bukan? Sesimpel itu ternyata. Subhanallah..  amaliyah jihad segampang itu. Nggak usah pakai mikir. Kalau ibu saya bilang ”Jangan nyubit orang kalau nggak mau dicubit. Semua aka nada balasannya”. Maka, sejahat apa kita sama orang (mau itu dialibikan pada jihad sekalipun), yakinlah akan ada balasannya. Hmm.mau jihad aja kan nggak perlu jadi jahad.

Jihad cara goblok aja deh. Hidup terlalu indah untuk disia siakan. Mari memperbaiki umat, bukan malah menghancurkannya. Kita hidup berdampingan dengan umat lain. Apa yang menjadi keyakinan kita atas Tuhan kita biarlah hidup di hati kita dan diamalkan untuk akhirat yang kita yakini. Tak perlu memaksakan apa yang jadi kepercayaan kita.

*Sudah seislam apa kita mengkafir kafirkan orang lain?. Sudah seislam apa kita menyakiti orang lain? Sudah seislam apa kita menghukumi diri sebagai penentu hidup mati seseorang di dunia ini?