Serangkaian Jantung kota Bandung

Setelah lama berdiam di Paris van Central Java, saya move on ke Paris van Java. Saya sudah agak familiar dengan kota kembang ini karena sudah beberapa kali menginjakkan kaki ke Bandung. Dahulu sih saya cuma paham sama daerah DU doang. Tapi sekarang, saya tidak hanya mengenal daerah dimana Universitas Padjajaran berdiam dengan gagahnya.
Masa awal awal saya mulai tinggal di Bandung, saya habiskan dengan orientasi daerah Bandung. Googling sana sini dan menemukan beberapa tempat ngehits di seputaran Bandung. Alun alun bandung dan masjid agung bandung menjadi tolakan awal saya menjelajah kota kembang.

Hampir setiap sore saya mengunjungi Masjid Raya Bandung, dimana di hari hari tertentu saya beruntung karena bertepatan dengan pengajian rutin. Yah, meskipun suasana tidak terlalu kondusif, pak yayinya menjelaskan materi dengan bahasa yang mudah dipahami. Adem atinya euy.
Sorean dikit, saya keluar dari area masjid, mengambil spot di alun alun Bandung yang ngehits itu. rame banget. Udah gitu, banyak keluarga piknik bareng. *bikin baper para warga muda yang masih jomblo. Haha. Tiduran, baca buku, ngemil jajanan ala ala Bandung *yang ngabisin persedian uang saya gara gara dikit dikit jajan. Hiks. Dengan temaram cahaya mentari yang mulai mengendap perlahan, saya menikmati sore sepoi saya. Bikin saya tambah baper kangen rumah.
Esoknya saya bergerak menuju ke Timur, melewati lorong yang berhias kata mutiara dari Pidi Baiq, lurus terus hingga menuju sebuah gedung bertuliskan Gedung Merdeka. Gedung inilah gedung bersejarah yang digunakan Pak Karno untuk menegakkan nama Indonesia yang baru lahir berpuluh puluh tahun lalu dalam sebuah ajang internasional bernama Konferensi Asia Afrika.

Pintu masuk ke Museum Konferensi Asia Afrika ternyata bukan lewat depan Gedung Merdeka. Melainkan, maju dikit lima puluh meter, tengok kiri maka kita akan menemukan interior muka rumah ala ala barat sana. Maka, masuklah kita ke area Museum KAA yang bisa dibilang sangat ciamik dan nyaman. Lighting yang pas ditambah artefak yang masih terawat dan poto poto dokumentasi semakin menunjukkan bahwa museum tidak identik dengan kuno temaram, dan tak terawat. Ternyata ada juga museum yang kece badai. AC juga dipasang dengan tujuan menyamankan pengunjung dan menjaga suhu ruangan agar artefak tetap awet.
Saya ditemani seorang gadis magang dari Sastra Inggris UPI bernama Baiti. Penjelasannya cukup jelas dan mencerahkan. Dengan fasih ia memberikan tur selama kurang lebih satu jam mengelilingi area Museum KAA. Saya tertarik dengan pengalaman yang ia dapat selama magang di museum. Ia merasa bahwa nasionalismenya semakin besar setelah mengetahui seluk beluk sejarah Indonesia di masa lalu. Buat yang ingin tahu detil bagaimana KAA diprakarsai, silakan googling. Saya tidak akan mendongeng tentang sejarah KAA.
Puluhan tahun ke belakang, Indonesia ternyata adalah pemrakarsa bagi perdamaian dunia. Nggak usah jauh jauh mengidolakan Hilary Clinton, Angela Merkel, Lee Kuan Yew atau entah siapa tokoh dunia yang sering disorot karena diplomasi mereka, negeri kita punya orang orang hebat. Gimana nggak luar biasa, waktu itu leluhur kita berhasil memaksa petinggi petinggi negara lain buat melaksanakan kegiatan yang tadinya diremehkan. Nyatanya, tak banyak bicara namun cukup segera kerja, jadilah kita sebagai salah satu negara penting yang mampu membuktikan eksistensinya sebagai negara muda yang berdaulat. Diplomasi yang sangat luar biasa. Bayangin, waktu itu Belanda masih belum ikhlas melihat kita berdiri tegak sebagai negara merdeka lho. Masih ada serangan ini itu dari Belanda. Dan kita berhasil menggerakan bangsa bangsa Asia dan Afrika yang waktu itu sama nasibnya kayak kita: bingung gara gara blok barat dan blok timur yang perang mulu. Belum lagi, banyak negara di kedua benua ini adalah negara negara yang menderita akibat penjajahan dan perang. Rasa senasib sepenanggungan itulah yang menggerakkan kita untuk menggalang persatuan dua benua yang ternyata juga ‘menakuti’ dua blok tersebut sehingga tidak serta merta menyebarkan pengaruhnya lagi ke kita.
Tidak hanya ruangan depan yang penuh dengan artefak seperti meja dan kursi, telepon, kamera peninggalan dan sebagainya, saya diajak menyusuri bagian bagian dari gedung. Ada perpustakaan tempat menyimpan berbagai dokumen dan yang paling emejing adalah ruangan tempat berlangsungnya KAA lima puluh tahun lalu yang masih terawat dengan baik. Kursi kursinya, tempat berundingnya, dan segala atributnya. Ada penambahan gong juga sih, assesori yang digunakan sebagai pembuka Konferensi KAA yang dilaksanakan tahun 2015 lalu. Saya bisa membayangkan sebegitu megahnya perhelatan KAA di jaman mbah saya itu berlangsung. Ruangan segede ruangan yang cukup untuk menampung pesta Romeo Juliet, ditambah riuhnya delegasi yang datang, menghasilkan poin poin yang penting bagi perdamaian dunia dimana semuanya itu Indonesia turut serta menjadi pemrakarsa. Gimana saya nggak terharu.
Untuk merayakan Konferensi KAA tahun 2015, Pak Ridwan Kamil menata kota Bandung sebagai persiapan merayakan lagi konferensi legendaris tersebut. Jalanan sepanjang gedung ditata, ditaruh batu bulet bulet gede ada nama negaranya, baliho pak karno dan tulisan tulisan motivasi berderet deret sepanjang jalan, dan tak lupa kursi kursi taman yang nyebahinya didesain buat orang berduaan menikmati senja. *duh deeek kenapa macam di Malang ajaa. Hiks.
Saya menutup tur saya hari itu dengan menonton sekelompok orang berdemo –entah demo untuk keperluan syuting atau benar benar demo. Nampaknya tujuan yang terakhir deh. Entah apa yang mereka suarakan. Tapi saya yakin betul mereka adalah mahasiswa. Haha. Hidup mahasiswa Indonesia. * tapi kayaknya kalian harus benar benar belajar kemudian jadi orang di birokrasi sana kalau mau mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Kadang demo malah nggak didengerin dek. Jadi, bungkamlah penguasa dengan kerja kalian yang luar biasa. Buktikan pada negeri kalian bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik, tak hanya dengan cakap saja namun dengan kerja nyata.
Saya keluar dari museum menuju taman sebelah museum. Hujan gerimis yang baru reda, bangku taman dan sungai dan.. senja. Ah.. Bandung.

Advertisements

Basic Development Program Batch VI PT. Kereta Api Indonesia (Persero)

Basic Development Program adalah sebuah kegiatan orientasi bagi karyawan baru PT. KAI. Semacam MOS atau Ospek gitu lah kalau di sekolah. Bedanya, kalau MOS atau Ospek diselenggarakan oleh sekolah, di dalam sekolah dan diurus oleh warga sekolah. Kalau BDP, dilaksanakan oleh Pusdiklat KAI bekerja sama dengan TNI. Tempat pelaksanaannya bukan di wilayah kantor KAI. Tapi di Pusdiklat TNI di Cimahi sana. Jadi ya, bisa dikira kira sendiri bagaimana kece badainya pelatihan selama hampir setengah bulan ini. Denger denger dari senior sih kalau dulu ada diklat, bisa sampai tiga-enam bulan. Berbulan bulan?? Huaaaa.. makasih.

Pra BDP

Sebelum melaksanakan BDP, kami harus meminta telex, surat kesehatan dan surat jalan dulu dari kantor dimana kami ditempatkan. Setelah ketiganya lengkap, kami berkumpul di Pusdiklat Laswi sebelum pukul 11.00 siang, waktu itu hari selasa. Pukul 11.00 siang kami melaksanakan Pre test. Soalnya ya tentang dasar dasar perkereta apian. Tes ini ditujukan untuk mengukur tingkat pemahaman karyawan baru terhadap perusahaan dan bidang mereka. Btw, nanti juga ada post testnya juga kok kalau udah hampir selesai BDP.

Belum juga BDP dimulai, kami sudah diperlakukan ala ala militer. Ketika makan siang, kami harus berjajar dan merapatkan box makan siang kami. Baru saja snack habis, sepuluh menit kemudian datang nasi box. Wah.. masih juga kenyang udah disuruh makan lagi. Dan.. makanan tidak boleh tersisa. Waktu makan hanya diberikan kurang lebih tujuh menit. Super singkat dan saya kaget. Hiks. Biasanya waktu makan saya nyante. Berkisar antara sepuluh sampai dua puluh menit. Menyingkat makan saya dengan porsi standar selama kurang dari sepuluh menit cukup membuat saya harus beradaptasi lebih.

Keberangkatan dari Laswi menuju Cimahi kurang lebih satu jam. Sebelum keberangkatan, kami diberikan waktu untuk menghubungi keluarga sebelum hape disita.

Mulai BDP
Tiba di Cimahi kurang lebih siang agak sorean. Setelah dibagi per peleton, hape dan seluruh gadget dan uang disita. Tak ada lagi yang tersisa. Kami harus jujur bahkan sampai se sen pun uang yang kami miliki. Kemudian kami menerima pembagian pakaian dinas lapangan, ember, gayung, sepatu lapangan dan topi. Sepuluh menit kemudian kami sudah harus siap di lapangan menurut kompi dan peleton masing masing. Waktu itu saya dapat di peleton 3A.

Hari pertama sih diisi dengan kedisiplinan. PBB gitu lah. Sampe magrib, kemudian makan malam yang ala ala militer lagi. Kemudian baris berbaris, apel dan kemudian tidur. Kami harus bangun pukul 4 dan sudah harus siap senam di lapangan. Barak putri sih bangunnya jam 3 soalnya antri mandi. Hehe.

Ada cerita tentang kegiatan makan yang tidak akan pernah kami lupa. Makan ala tentara berarti harus tertib, tenang dan disiplin. Tidak ada yang bersuara selama kegiatan. Tidak boleh ada sendok yang berdenting, tidak boleh ada suara kursi yang diseret, tidak boleh ada suara ngobrol dan tidak boleh ada lauk yang disisakan. Sering kami diomeli karena sendok yang berdenting. *ya mau gimana lagi orang sendok dan omprengan ya pastinya berdenting kalau lagi makan. Mau pelan sekalipun juga tetap saja berdenting. Kecuali kalau piringnya plastik (sayang sekali semua piring modelnya omprengan. haha). Kalau kami melakukan kesalahan walau sekecil apapun, pelatih akan menyuruh kami merangkak hingga ke pintu, mengangkat kursi di atas kepala selama lima menit (sambil diomeli), atau memperpendek waktu makan. Hukuman yang terakhir ini yang sial banget. Nasi masih banyak tapi waktunya tambah dikit. Banyak diantara kami yang juga kaget dengan sistem makan yang sangat cepat. Tipsnya: jangan makan satu meja sama cewek cewek. Ngalamat nggak akan habis, apalagi kalau cewek ceweknya manja (untungnya banyak cewek BDP yang makannya oke). Makan dikit, disisain dan masih ngeluh. Wah.. selamat deh. Cari meja cowok karena mereka nggak begitu bawel dan porsi cowok tau sendiri kan ya banyaknya kayak gimana. Haha.

O, ya jadi teringat ada beberapa teman yang mengeluhkan makanan di Pusdiklat. Makanannya enak kok. Bahkan menurut saya makanannya itu porsi buat diet sehat. Saya pernah melihat saudara saya yang sakit dan makanannya harus diatur kalorinya. Ya begitu itu makanan di Pusdiklat kemarin. Seriusan nggak bakal mati kelaparan disana. Bahkan percaya deh, bobot kalian bakalan naik. Tambah endut. Snack kenyang satu kali sehari dan makan teratur tiga kali sehari, makanan rumahan dan tidak banyak pengawet. Bahkan empat sehat lima sempurna minus susu. Seriusan makanan sehat banget. Nggak usah dikeluhin. Bersyukur aja ada yang masakin buat kita, nyiapin dan kita tinggal datang, makan dan pergi. Enak pula. Bayangin deh gimana kalau kita suruh ngurus sendiri makanan kita. Apa nggak pada tipes semua gara gara kecapekan. Makanan yang udah ada di atas piring juga usahakan habis. Kalau bisa jangan sisakan walau sebiji nasi pun karena kita tidak tahu di butir ke berapa berkah dari Yang Kuasa turun. Toh itu juga sebagai rasa syukur kita karena bisa makan dengan baik. Coba lihat banyak orang di luar sana yang hanya untuk urusan makan aja harus usaha sampai berdarah darah. Syukuri dan nikmati. Itu saja.

Tentang jam tidur, bahkan BDP sudah selesai beberapa minggu yang lalu, saya masih merasakan ritme tidur saya berubah. Tadinya saya yang tidur nggak tentu jam sekarang tidur lebih teratur dan bangun lebih pagi. Makan yang tadinya asal asalan baik menu maupun jam makan, sekarang kerasa di jam tertentu tubuh merespon rasa lapar dengan lebih teratur. Pokoknya hidup serba lebih teratur. Tidak hanya mengajarkan kedisiplinan fisik dan mental, BDP mengajarkan saya untuk belajar mendalami psikologi seseorang. Bagaimana kondisi teman teman ketika tertekan, kondisi mereka ketika mendapatkan kesenangan, ketika dalam kekalutan dan lain sebagainya. Contoh yang tersimpel saja. Ketika jam tidur. Saat itu, karena keterbatasan tempat tidur, saya meminta ijin pelatih untuk tidur di ruangan sebelah yang masih berhubungan dengan ruangan dimana teman teman saya tidur. Believe or not, hanya saya yang tidur di ruangan itu sendirian dan ke dua puluh teman perempuan saya tidur di ruangan satunya. Meskipun hanya dibatasi oleh gorden, tetap saja saya tidur sendirian di ruangan itu. Bagaimana perasaan saya? Tentu campur aduk. Walaupun saya tidak terlalu jirih (penakut), tetap saja saya seorang yang memiliki ketakutan. Apalagi bangunan yang kami tempati usianya sudah ratusan tahun. Pelatih dari awal sudah mewanti wanti kami untuk tidak melamun dan melakukan hal yang aneh aneh. BDP angkatan sebelumnya saja ada yang kesurupan lebih dari empat orang. Kan fatal tuh. Ya wajar saja kalau kami terkadang merasa takut. Saat itu harusnya ada teman yang menemani saya tidur di ruangan tersebut. Namun nyatanya hingga hari terakhir kami disana, saya tidur sendirian. Nah, lagi lagi kesetiakawanan akan diuji. Yakin po kamu akan membiarkan temanmu berjuang sendirian (mengatasi rasa takut). Yakin po kamu akan membiarkan temanmu tidur sendirian sementara kamu sadar tempat yang kalian tempati itu bukan tempat yang sepenuhnya aman sebenarnya. Untung saya bukan orang yang terlalu penakut. Setidaknya saya sedikit cuek (walaupun kadang sering takut juga karena walau bagaimanapun dunia lain itu ada). Sering ketika kegiatan berakhir dan kami kembali ke barak untuk istirahat, saya segera menarik selimut, berdoa dan tertidur pulas hingga giliran jaga saya atau hingga pukul tiga dimana secara otomatis saya akan bangun dan segera mengambil ember untuk mandi untuk menghindari antrian kamar mandi. Haha. Lupakan soal pengalaman bobok sendirian saya. Yang penting, selalu ingatlah Tuhan karena Ia yang punya kuasa atas segala mahlukNya. Bismillah dan jangan lupa kulonuwun.

Kegiatan BDP

Oke, lanjut ke kegiatan BDP. Standar sih, tiga hari pertama penuh dengan PBB. Jadi mengulang masa masa SMP lagi. Haha. Sejak hari pertama kami dilatih yel yel agar nanti di hari penutupan kami sudah biasa perform. Tau sendiri kan didikan TNI itu kayak apa disiplinnya. Hukuman udah biasa. Tipsnya: suaranya yang kenceng dan patuhi peraturan. Itu aja. Bangun pagi, senam, bersih bersih, makan pagi, kegiatan sampe makan siang, kegiatan lagi sampe makan malam, kegiatan lagi sampe mau tidur – tidur bentar – jaga malam – tidur lagi – bangun begitu seterusnya.

Di BDP ini saya mengenal istilah “jangan makan tulang kawan” artinya kita seenaknya sendiri tanpa mempedulikan kawan yang sengsara. Enak enakan tidur di ruang kesehatan hanya karena pusing sedikit atau pura pura sakit sedangkan teman teman kita di lapangan dijerang panas, berlatih hingga kaki melepuh. Benar juga kata pelatih. Teman sedang berjuang kita malah enak enakan. Kalimat pelatih benar benar membuat semangat senasib sepenanggungan semakin berkobar. Tapi kalau memang mengalami sakit, jangan memaksakan diri. Jangan bikin susah pelatih juga karena kita terlalu semangat malah pura pura kuat dan kemudian ambruk. Kan kita juga yang rugi. Fyi, kalau sakit lebih dari tiga hari, ucapkan selamat tinggal pada BDP. Dijamin bakal ngulang diklat karena salah satu syarat wajib pengangkatan pegawai KAI adalah lulus dari BDP. Jadi, siapkan stamina sebelum pergi BDP.

Kegiatannya tidak melulu di dalam area Pusdikhub TNI AD. Ada juga namanya sesi orientasi, dimana kami dilatih untuk merangkak, skotjam, guling guling, dan aneka kegiatan fisik lainnya. Kami jalan sejauh radius dua kilometer menuju lapangan. Disana kami berguling guling dari satu sisi lapangan ke sisi yang lain. Banyak yang muntah? Jangan tanya lagi. Pandangan berputar putar, pening kepala euy. Kemudian kami bergerak menuju sungai, kurang lebih satu kilometer. Sungai yang saya pikir bening itu berarus kecil dengan warna kecoklatan ditambah sampah disana sini. Kami meniti tali turun ke sungai dan disuruh berendam di dalam air sungai. Baju PDL yang berbahan kaku itu semakin terasa berat kena air apalagi cuaca menjelang mendung. Buat yang lagi menstruasi nggak usah turun. Ntar berubah warna sungainya kan bahaya. Hehe.

Gimana tuh kalau hujan?. Tenang.. acara nggak akan mandeg begitu aja terus kita suruh tidur di barak. No no no. Kalau hujan, acara tetep jalan. Cuma, dipindah di ruangan yang teduh. Kegiatan pun juga tidak seluruhnya kegiatan fisik di lapangan. Ada beberapa hari dimana kita harus ikut kuliah dari gumil (guru militer) dan dosen trainer KAI. Materinya nggak tanggung tanggung, itu semua keluar dalam post test. Jadi, dengarkan saja mereka berpetuah. Tips lulus ujian post test (believe it or not, ada sekian belas orang tidak lulus post test): dengerin ceramah dengan seksama dan sebaik baiknya. Buku fotokopian materi yang tebel itu nggak akan banyak membantu kalian. Nggak usah repot repot belajar khusyuk karena kalian udah capek seharian kegiatan. Yakin sebelum tidur mau tetep belajar? Haha. Tidur aja mending. Refresh tubuh dan pikiran.

Ngecamp di Hutan Karet

Dari seluruh kegiatan BDP, menurut saya yang paling seru itu ya ketika ngecamp di hutan. Saya nggak akan bilang ini kegiatan survival, mengapa? Karena nggak beneran survival. Yang namanya survival ya semacam camping di gunung atau beneran ngecamp di hutan. Kalau BDP? Yakin warga sipil kayak kita mau survival beneran? Impossibel dengan persiapan yang sangat singkat. Haha. Bikin tenda diajarin. Bahan makanan macam singkong, ikan disediain (ya, walaupun kita harus nyari bahan makanan tersebut dengan menentukan titik azimut dengan kompas. Pokoknya usaha banget deh). Nggak bisa bayangin jika kita dilepas begitu aja, terus nyari makanan dan liat pohon singkong terus asal cabut. Padahal pohon itu ada yang punya, nah nyuri itu namanya. Padahal sebagai manusia yang hidup dalam kondisi normal bahkan berlebih, mencuri adalah perbuatan yang diharamkan.

Maka, kami pun dikondisikan untuk survival di hutan karet terdekat dari Pusdikhub Cimahi yakni di daerah Cikalong. Ngapain aja?. Pertama siap siap dan nyampe di checkpoin sekitar jam delapan pagi. Kemudian bikin yel yel dan persiapan pemberangkatan. Selama perjalanan kita akan berhenti di pos pos permainan (waktu itu sih permainan memindahkan bola dengan menggunakan kedua kaki, masukin orang lewat jaring laba laba, mindahin tali tapi tangan nggak boleh lepas dan mendirikan menara gelas akua). Lanjut menuju ke tempat ngecamp, kami bagi tugas untuk mendirikan tenda dan mencari logistik serta masak makan siang. Saya jadi pengen ketawa ketika ada salah satu teman saya ditanyai “lebih senang dimana, di barak apa di hutan”. Temen satu peleton saya itu jawab “disinilah. Makan terasa nikmat”. Haha. Ada ada aja. Ya gimana nggak nikmat, makan singkong rebus buat makan siang aja usahanya segitu mati matiannya. –dan makan nggak diburu buru-. Haha. Ikan harus ditangkap di kolam sampe pakaian yang harus dipakai malamnya basah semua –dimana kami tidak boleh ganti pakaian lain-. Bikin bara api tapi kayu yang disediakan masih agak basah, maka jadilah kami harus mengumpulkan ranting dari patahan patahan pohon karet yang meranggas. Baru aja singkong naik, hujan turun. Kami harus bikin bara baru di dekat tenda dengan kekhawatiran tenda bolong karena api. Maka kami menjaga agar tenda tetap aman.

Caraka malam

Caraka malam adalah bahasa halus dari jerit malam –salah satu kegiatan kepramukaan yang saya nggak suka-. Caraka malam artinya kegiatan penyampaian berita dari satu tempat ke tempat lain dengan tetap menjaga kerahasiaan dan amanah hingga ke tempat tujuan. Caraka malam kami berlangsung di sekitar tenda –ya, meskipun harus berjalan muter kesana kemari-. Kami hampir saja kehilangan arah karena tali kuning yang seharusnya kami ikuti terputus di tengah jalan. Untung teman teman saya satu tim kece badai. Mereka segera menyadari bahwa kami harus kembali ke track yang benar. Baru saja berjalan kurang lebih seratus meter, saya secara tidak sengaja menjatuhkan wadah deresan karet. Saya jadi teringat para penderes karet yang harus bangun pagi buta untuk mengambil karet dalam kegelapan dan dinginnya subuh. Jika satu saja pohon yang tidak tertampung karetnya, maka entah mereka bisa dapat berapa kilo deresan. Satu pohon memang sepele tapi pada satu pohon juga mereka gantungkan kehidupan anak istrinya. Baru saja meletakkan wadah, sesosok mahluk bertopeng hitam dan berbaju hitam hitam menyeruak dari semak pohon bambu mengageti kami. Kami menjerit dan setengah berlari. Untung saya nggak lempar botol Aqua, kalau nggak pelatih Dudi yang waktu itu menyamar pasti akan mencak mencak ke kami. Haha. Tapi betulan, saya nggak habis pikir. Waktu itu pelatih sendirian apa berdua ya? Soalnya tempat itu juga sangat rawan binatang (atau mahluk lain). Kalau benar ia hanya sendirian dan hanya ditemani HT sebagai alat komunikasi dengan pos lain, ha kok selo tenan.. haha

Lima puluh meter kemudian sesosok mahluk dijatuhkan dari ketinggian pohon. Biasa.. mau nakut nakutin dalam bentuk pocong pocongan. Lalu kami meneruskan perjalanan. Sering kami terantuk lubang tempat bibit karet ditanam sedalam satu kaki. Maka kami harus berhati hati dalam perjalanan. Ada juga pocong yang diikat di pohon, kemudian dupa yang diletakkan di sepanjang perjalanan, beberapa sosok hitam hitam di sudut sudut, orang berpakaian hitam hitam yang berlari di sepanjang jalan seolah mengikuti kami. Cukup banyak deh gangguan gangguannya. Terus berdoa, percaya sama temen, saling menjaga dan tetap jaga rahasia caraka (soalnya ada juga yang keceplosan bocorin isi berita yang harus ia sampaikan. Haha. Walaupun bocorinnya juga sama pelatih sendiri, tetep nggak boleh kalau bukan di tempat yang dituju). Ada yang kesurupan? Alhamdulilah nggak. Cuma ada satu anak cewek yang hampir pingsan karena ngeliat penampakan. Positive thinking-nya sih mungkin karena dia kecapekan. Spesial thanks untuk temen satu tim caraka saya. Kami saling menjaga satu sama lain. Caraka Malam berakhir pukul 11.00 an lalu kami kembali ke tenda dan tidur. Meskipun tidur di hutan, tetap saja jam jaga malam tetap berlaku.

Saya punya cerita tentang jaga malam di tenda putri. Saat itu saya seharusnya berpasangan dengan satu orang lain yang juga memiliki tanggung jawab untuk berjaga malam selama satu jam saja (cuma satu jam lho.. satu jam doang). Ketika jam kami berjaga, kami memang terbangun. Tapi apa kemudian yang terjadi? Dia berbaring dan (entah apakah ia) tidur lagi sedangkan saya berjaga sendirian dalam keadaan duduk sambil tetap melihat teman teman saya barangkali ada yang bangun dan butuh ditemani ke kamar mandi darurat yang gelap nun seratus meter di bawah tenda kami. Dia sudah diingatkan tapi tetap berbaring. Plis coy.. saya juga kedinginan, ngantuk nggak tertahankan, nggak nyaman. Nggak cuma kamu doang. Tapi cuma karena ngerasa semangat kebersamaan saya dan teman teman yang sebelumnya berjaga pun ngebela belain satu jam kedinginan dan ngantuk cuma buat jagain temen lainnya. Bahkan salah seorang kawan (dia sudah berjaga sebelum saya) sempat menawarkan jika ada apa apa saya bisa mengajaknya untuk berjaga, tapi saya tak tega untuk membangunkannya. Maka, jadilah saya berjaga sendirian di dalam tenda. Ya, anggap saja sendirian meskipun sebenarnya ada tentara yang berjaga juga di luar tenda kami. Memang, kegiatan seperti ini akan menunjukkan karakter masing masing. Mana yang setia, mana yang bertanggung jawab, mana yang makan tulang kawan, mana yang tak setia kawan, mana yang egois mana yang baik hati. Jadi, kalau mau lihat karakter teman temanmu ikutlah BDP.

Paginya, kami membongkar tenda dan siap siap untuk melakukan longmarch sejauh sepuluh kilometer lebih menuju truk yang akan mengangkut kami kembali ke Pusdikhub. Jalan jalan liat pemandangan dan lingkungan warga sekitar Cikalong deh intinya. Sangat menyenangkan. haha.

Mountaineering

Sesi menyenangkan lainnya: mountaineering. Ya, apalagi kalau bukan outbond dengan memakai peralatan high risk. Ada titian satu tali tambang (menyeret tubuh di atas tali tambang. Hanya cowok yang bisa mencoba), titian dua tali tambang (berjalan di atas tali tambang), jaring laba laba (meniti jaring jaring setinggi kurang lebih lima meter) dan rapling. Saya hanya bersorak sorai bahagia.

Banyak yang saya pelajari dari BDP ini. Kesemuanya terangkum dalam tiga hal: kesungguhan dalam beradaptasi dan belajar, kesetiakawanan dan cinta pada instansi. Yang namanya perubahan dalam hidup adalah sesuatu yang mutlak. Jadi, siaplah untuk beradaptasi dan belajar untuk kuat menghadapi rintangan. Yang namanya manusia nggak akan bisa hidup sendiri. Seringkali kita membutuhkan dukungan dari manusia lainnya. Maka, kesetiakawanan adalah tali yang mempersatukan kita. Kalau masuk surga, bareng bareng lah. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan berbuat baiklah pada sesama dan jangan pilih kasih. Yang namanya hidup itu tidak butuh hanya dengan cinta. Jadi, berpikirlah realistis. Jangan pikir hanya dengan modal cinta kita bisa menghidupi keluarga. Maka, mencari nafkah adalah salah satu kewajiban kita yang sudah harus berkeluarga sebagai salah satu tanda mencari ridhoNya. Mencari nafkah dimulai dengan rasa suka dan syukur. Dan.. bersyukurlah dan wujudkan itu dengan cinta dengan instansi agar kita bisa bekerja dengan ikhlas. Niatkan saja untuk akhirat. Jangan niatkan untuk uang. Kalau untuk akhirat, dua dua nya dapat. Tapi kalo niat kerja cuma buat uang, uang aja yang dapat akhiratnya wallahualam.

So, selamat berBDP untuk kalian yang sedang akan menjalani masa BDP. Dibawa sante aja, dinikmati dan niati untuk ibadah. Good Luck.

Seleksi PT.KAI

1. Seleksi Administrasi

Sebenarnya cukup mudah sih persyaratannya. Asal mengisi data diri, scan ijasah, scan akreditasi kampus, pas foto. Rentang waktu seleksi administrasi hingga lolos tes kesehatan awal.

2. Seleksi Kesehatan Awal

Seleksi kesehatan awal dilaksanakan di Daop 2 Bandung, Jalan Stasiun Timur kira kira di Klinik Kesehatan Daop 2 Bandung. Itu tuh, yang deketan sama Pasar Baru. Kurang lebih ada lima tahapan tes kesehatan awal yakni pengukuran tinggi dan berat badan, tes buta warna, tes minus mata, tes kesehatan gigi dan tes varises. Tinggi dan berat badan harus seimbang. Minimal tinggi untuk perempuan kurang lebih 155 cm dan untuk laki laki kurang lebih 160 an. Kalau berat masa tubuh melebih atau kurang dari ambang batas, maka jelas saat itu juga akan langsung dinyatakan gugur. Tes minus sih ya standar gitu, suruh baca huruf melalui jarak tertentu. Tenang, KAI masih toleran dengan minus kok. Masih boleh minus selama bukan melamar untuk masinis maupun kondektur. Masinis kesehatannya wajib mendekati sempurna, artinya tidak boleh cacat sedikitpun termasuk mata. Terus tes buta warna. Bagaimana dengan buta warna parsial? Nah, ini kemungkinan akan sulit juga untuk lolos. Tes nya sih suruh membaca angka yang terselubung di lembaran yang warna warni untuk standar tes buta warna. Kemudian kalau sudah, kita bergeser ke tes kesehatan gigi. Kalau bolong, pastikan sudah ditambal sebelum ujian kesehatan. Terakhir, tes varises untuk mengecek apakah kita menderita varises. Orang yang menderita varises biasanya tidak tahan berdiri lama lama. Intinya ketahanannya untuk berdiri lebih rendah daripada orang normal.

Satu hari tes kesehatan, mampu mereduksi jumlah peserta. Bayangkan, kurang lebih seribu empat ratus orang yang lolos tahap administrasi, hanya tersisa kurang dari seperempatnya saja lolos hingga psikotes

2. Seleksi Psikotes

Pada tahap tes psikotes, dimulai dari pukul tujuh pagi hingga tengah hari. Tesnya yang pertama, tentang data diri. Kemudian tes menggambar dan kemudian tes paulli. Tes paulli ini yang cukup melelahkan. Itu tuh, tes menghitung angka dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas yang segede koran. Tes ini digunakan untuk menguji ketahanan kerja seseorang. Di tahap ini, hasil seleksi diumumkan sore itu juga jadi di hari yang sama kita akan tahu apakah kita lolos atau tidak.

3. Seleksi Wawancara

Lima menit wawancara saja menentukan apakah kita lolos ke tahap selanjutnya. Saya masih ingat pewawancara saya waktu itu adalah salah satu manajer di PT KAI. Sejak awal, saya diuji dengan bahasa Inggris. Sejujurnya bahasa Inggris saya waktu itu tidak terlalu fasih karena gugup. Haha. Belepotan deh jadinya. Pertanyaannya seperti apa? Tentunya tiap orang berbeda beda. Ada yang diuji materi kuliahan, ada yang ditanyakan skripsinya, ada yang ditanyakan pengetahuannya mengenai perkeretaapian dan berbagai macam pertanyaan lainnya. Hasil seleksi juga diumumkan sore itu juga.

4. Seleksi Kesehatan Akhir.
Seleksi ini yang paling horor dari semua ujian karena menentukan hasil akhir. Meski udah keren keren lolos empat tahap sebelumnya, hanya karena ada ganjalan di kesehatan akhir, maka pupus juga banyak orang. Tes ini terdiri dari tes lab ditambah tes kesehatan awal dan tes fisik. Tes lab antara lain pengambilan sampel darah, urin, rekam jantung dan thorax serta paru paru di sebuah lab di Bandung. Selanjutnya peserta kembali ke Klinik Kesehatan Daop 2 untuk diuji lagi sama seperti lima langkah tes kesehatan awal. Setelah selesai, peserta akan diuji fisiknya. Bukan dengan lari lari atau sekojam atau tes olahraga. Namun, pengecekan panca indera, nafas detak jantung, tensi, ambeien, kanker payudara dan myom. Benar benar ujian kesehatan yang sangat lengkap. Kunci: sebelum ujian kesehatan, ada baiknya mempersiapkan diri dengan olahraga setidaknya seminggu sebelumnya. Keinginan untuk makan makanan berlemak atau makanan berkolesterol tinggi ada baiknya ditahan dulu. Makan banyak sayur dan buah. Jangan lupa air putih minimal seliter tiap hari. Rokoknya dikurangin. Kesehatannya dibagus bagusin. Jarak seleksi kesehatan akhir hingga pengumuman kelulusan berjarak kurang lebih sepuluh hari hingga dua minggu an lebih. Jadi, total sejak pengumuman seleksi administrasi hingga kelulusan tes kesehatan akhir memakan waktu kurang lebih satu bulan.

PT. KAI termasuk ke dalam perusahaan yang seleksinya ketatnya naudzubillah. Dari seribu empat ratus pelamar yang lolos tahap administrasi, hanya tiga puluh delapan orang yang dinyatakan layak menjadi karyawan perusahaan perkeretaapian ini. Sistem gugur diterapkan pada setiap ujian sehingga terjadi pemangkasan yang signifikan di setiap tes. Hasil akhirnya jauh dari yang dibayangkan orang.  Well, cukup sadis. Tapi hal ini kembali lagi apakah para pelamar mampu melewati seleksi yang telah ditentukan. Dan yang melegakan adalah, KAI seleksinya cukup bersih dan perusahaan ini menerapkan standar ketat penerimaan pegawai. Pelamar tidak lolos bukan karena ada pelamar lain yang berani bayar. Tapi memang karena mereka tidak lolos ujiannya yang bertahap dan ketatnya luar biasa. Untuk para pelamar yang lolos, selamat bekerja dan jangan lupa bersyukur. Bagi yang belum, teruslah berusaha dan berdoa. Kita tak akan pernah tau lewat jalan apa Tuhan mengirimkan rejeki untuk hidup kita. Rejeki sudah ada yang mengatur. Keep fighting!

Seleksi Indonesia Mengajar

Sungguh sangat bahagia tak terkira ketika nama saya tercantum dalam dua ratus besar kandidat CPM (Calon Pengajar Muda) yang nantinya akan diambil seperempatnya mengabdi di pedalaman Indonesia. Lebih dari sepuluh ribu orang yang mengirimkan aplikasi pendaftaran mereka dan hanya dua ratus yang lolos ke tahap II seleksi CPM. Saya tak berhenti mengucap hamdalah karena tak pernah terpikir saya bisa lolos dari sepuluh ribuan orang.

1. Seleksi Administrasi

Ditahap ini, peserta login ke website Indonesia Mengajar, mendaftar, mengisi data diri dan mengisi berbagai esay yang ada. Biasanya rentang waktu pendaftaran kurang lebih tiga minggu hingga satu bulan. Ketika saya mendaftar waktu itu, pendaftaran IM dimulai 1-31 Mei 2016. Asal tahu, tim selektor Indonesia Mengajar betul betul menyeleksi setiap kandidat awal CPM. Jadi, esay yang sampai sepuluh ribu itu benar benar dibaca satu persatu dan hanya yang outstanding saja yang bisa lolos hingga tahap selanjutnya. Hmm.. selo bener kan. Haha. Kuncinya: hindari jawaban normatif macam begini nih: karena sudah bercita cita mengabdikan diri untuk bangsa dan negara. Seriusan deh, ada ribuan orang yang jawabannya macam seperti itu. lalu apa yang membedakan kalian dari ribuan orang itu?. Maka, jawablah pertanyaan yang ada sesuai dengan keadaan diri dan pengalaman kalian.

2. Seleksi Pra Direct Assesment

Berbeda dari tahun tahun sebelumnya, kali ini seleksi IM tidak langsung menuju Direct Assesment. Evaluasi dan inovasi selalu dilakukan setiap tahunnya agar kualitas PM yang lolos selalu terjaga. Kandidat CPM di tahun saya diwajibkan untuk mengikuti ujian online berupa tes psikotes dan studi kasus. Tes psikotesnya cukup mudah kok. Kuncinya: jadi dirimu sendiri dan jujur. Tes studi kasusnya hampir hampir mirip seperti tes Forum Group Discussion. Ada kasus kekerasan orang tua pada anak dan CPM diminta untuk memberikan solusi yang dirasa tepat untuk mempercepat penyelesaian kasus tersebut (ini soal yang saya dapat waktu itu). Kunci: cermati perintah soal dan berikan analisa yang tepat. Lama pengerjaan kurang lebih dua hingga tiga hari. Ingat batas waktu mengerjakan soal. Kalau dikumpulkan maksimal hari kamis jam 12.00 siang ya jangan dikumpulin jam 23.58. Kedisiplinan cuy.. Intinya jangan telat. Nah, rentang dari pengumuman lolos administrasi ke Pra Direct Assesment cuma berjarak kurang lebih dua minggu. Kalau rentang lolos administrasi ke Direct Assesment, kira kira yang dua sampai tiga mingguan juga.

3. Seleksi Direct Assesment

Saya kebagian seleksi di Jakarta. Ada cerita lucu tentang pemilihan lokasi ujian saya. Pada bulan Mei 2016 saat itu saya sebenarnya masih berdomisili di Yogyakarta. Namun karena saya salah membaca peertanyaan ketika seleksi administrasi, maka jadilah ujian DA saya dilaksanakan di Jakarta. Waktu itu pertanyaannya: Di kota manakah yang akan anda pilih apabila lolos seleksi selanjutnya?. Intinya pertanyaannya gitu deh. Tapi saya bacanya: di kota manakah yang anda pilih apabila tidak bisa mengikuti ujian di kota pertama. Nah lho.. geblek kan.. haha. Tapi ternyata memang Tuhan tidak tidur. Ada alasan yang Ia simpan mengapa saya secara tidak sengaja tidak teliti membaca perintah. Nanti akan saya ceritakan di postingan yang lain. Intinya, cermatilah setiap pertanyaan yang ada agar tidak buang waktu, tenaga bahkan biaya. Kan kasihan juga jauh jauh ke kota lain padahal ujian di kota terdekat saja bisa. Lokasi ujian DA ada di kota besar di Indonesia, antara lain: Jakarta, Yogyakarta, Medan, Surabaya dan Makasar.

Seleksi DA terdiri dari lima jenis ujian. Yang pertama CPM diberikan soal ujian macam Ujian Akhir Nasional ala ala Sekolah Dasar. Soalnya sih matematika dasar dan bahasa Indonesia dasar. Selama kurang lebih enam puluh menit, CPM harus menyelesaikan soal sebanyak (kalau tidak salah) lima puluh butir. Saya agak agak bego gimana gitu pas ngerjain. Maklum pelajaran SD saya yang sudah puluhan tahun berlalu sudah agak luntur. Makanya pas ngerjain mata sambil kerjap kerjap sambil mikir *ya ampun, ternyata soalnya sesusah ini. Kok dulu saya bisa ngerjain ya?. haha.

Ujian kedua, saya kebagian Forum Group Discussion bersama lima anak lain. Mereka ini keren keren. Ada Hilmi, yang lulusan S1 Mesir yang kini sedang menempuh S2 nya di negeri Piramid itu. Sarita, anak Insitut Teknologi Bandung yang masih kerja di bidang perteknikan. Geovanni, anak Universitas Indonesia yang jadi bu guru di sekolah swasta di Jakarta. Anna, lulusan Universitas Sriwijaya dan seorang anak *maap bro, saya lupa namamu. Hiks* Institut Teknologi Bandung yang baru saja lulus kemarin.

Soal Leaderless Group Discussion nya sih tentunya tidak jauh jauh dari permasalah pendidikan di daerah. Saya masih ingat soalnya yang mengulas tentang bagaimana sebaiknya solusi bagi anak anak sekolah dasar -di sebuah pulau yang jauh aksesnya dari daratan- untuk melanjutkan ke jenjang SMP dan lebih tinggi. Kami diberi beberapa pilihan opsi antara lain: mencari CSR, membangun SMP dan SMA baru di daerah tersebut, menyediakan kejar paket, memberikan penyuluhan pada masyarakat dan membuat sistem orang tua asuh di pulau terdekat dimana si anak bisa melanjutkan ke jenjang SMP. Kuncinya: objektif dan jawablah dengan argumen yang kuat. Ingat, Leaderless dengan Forum Group Discussion, adalah dua hal yang berbeda. Dalam LGD, tidak ada pemimpin seperti pada forum FGD. Harus ada yang berinisiatif menjadi pemimpin dalam LGD. Namun tidak harus semua menjadi pemimpin. Pemimpin yang baik tidak harus selalu tampil di depan. Ia juga harus bisa menjadi anggota yang baik yang bisa mendukung dan mengikuti pemimpin yang ada.

Sesungguhnya tidak ada jawaban yang mutlak benar dalam diskusi LGD. LGD didesain untuk forum sharing dan diskusi sehingga akan ada jawaban berbeda untuk setiap permasalahan yang ada. Forum ini juga berfungsi untuk memantik setap orang untuk aktif berpendapat dan menuntut pemikiran mendalam untuk setiap argumen yang dikeluarkan. Jadilah dirimu sendiri dan tidak perlu malu untuk mengungkapkan pendapat meski berbeda, asalkan pendapat kita logis dan solutif.

Ujian ketiga, simulasi mengajar. Ujian ini yang paling kacau. Ujian ini adalah ujian dimana kita harus siap untuk dikerjai habis habisan sama senior dan teman teman kita. Ujian ini dikondisikan seolah olah kita sudah mengajar di pedalaman dan menghadapi masalah masalah yang tidak terduga. Ada yang kemarin dapat kendala bahasa, penjual makanan yang masuk ke dalam kelas, kelas yang tidak kondusif, anak yang pipis dan buang air besar di kelas, pembedaan agama, dibanding bandingkan dengan Pengajar Muda tahun tahun sebelumnya dan banyak lainnya. Satu anak yang bertugas mengajar akan diminta keluar ruangan kemudian kakak kakak senior akan berkoordinasi dengan teman teman kita satu ruangan. Maka, ketika giliran si anak masuk ruangan dan mengajar, lima menit kemudian suasana menjadi gaduh tak terkira. Saya harus menenangkan kelas dan anak anak yang tidak bisa duduk diam. Haha. Sumpah, ini kelas kacau ngets. Tapi, ini adalah sesi paling seru di antara semua ujian. Isinya ketawa tawa mulu. Haha.

Oleh karena terpotong waktu jumatan, kami baru memulai sesi ujian keempat setelah dhuhur. Ujian keempat adalah ujian paling menegangkan. Apa itu? jeng jeng jeng.. ujian wawancara. Ujian ini dibagi dua sesi. Sesi pertama ujian berlangsung tiga puluh menit dan ujian kedua selama kurang lebih satu jam. Dua ujian ini dilaksanakan oleh penguji yang berbeda. Penguji saya yang pertama saya masih ingat namanya, Kak Satria. Nah penguji yang kedua yang juga cowok, saya lupa namanya –tapi saya ingat kalau masnya ini lulusan psikologi UI. Pertanyaannya nggak sulit kok. Sebenarnya hanya untuk menggali motivasi kita menjadi pengajar muda yang siap dikirim mengabdi di tempat yang sulit. Jangan terpaku pada jawaban jawaban yang normatif seperti: ingin mengabdikan diri untuk memperbaiki kualitas pendidikan di pedalaman. Itu jawaban yang klise dan terlalu berbunga bunga. Nak, ingat, mengajar di pedalaman sangat sangat berbeda dari mengajar di kota besar. Kuncinya: jawablah pertanyaan dengan jujur dan lagi lagi: jadilah dirimu sendiri. Ceritakan pengalaman pengalaman yang pernah kamu rasakan dan alami mungkin ketika masih sekolah atau bekerja. Tidak perlu bersikap normatif karena pengalaman pribadi akan terasa lebih nyata manfaatnya bagi pengabdianmu. Contoh: ceritakan pengalamanmu menghandel kegiatan Pramuka ketika semester 1 di kuliah dimana waktu itu ada masalah dengan keluargamu. Pengalaman pengalaman di masa lalu akan sangat membantu menjawab pertanyaan pertanyaan dari penguji yang nantinya akan berguna juga jika kalian benar benar mengajar di pedalaman. Jadi, beruntunglah kalian yang semasa sekolah tidak hanya aktif kuliah semata namun juga berkegiatan dan berorganisasi.

Ujian terakhir, ujian psikotes. Psikotes macam apakah? Itu tuh yang gambar gambar. Gambar orang, pohon dan orang- rumah- pohon. Kuncinya: lagi lagi, be yourself. Gambar kita adalah cerminan kita. Tidak perlu meniru orang lain. Gambar saja sesuai perintah dan lakukan yang terbaik. Paling paling lima belas menit selesai kok. Haha.

4. Seleksi kesehatan

Seleksi ini adalah seleksi terakhir Indonesia Mengajar. Dari dua ratus anak yang lolos hingga tahap DA, hanya akan diambil separuh atau kurang untuk mengikuti seleksi kesehatan akhir, dimana dari separuh itu hanya akan diambil 40-70 orang untuk bisa lolos menjadi pengajar muda XIII di tahun ini. Jarak DA hingga pengumuman seleksi kesehatan berjarak kurang lebih dua hingga tiga minggu. Sangat disayangkan saya tidak lolos tahap DA. Email yang masuk ke inbox saya menginformasikan bahwa saya dinyatakan tidak lolos tahap DA sehingga saya harus say goodbye pada impian saya mengajar di pedalaman selama satu tahun. Hiks. *lap air mata, ucapkan selamat tingga IM.

Begitulah jatuh bangun saya selama ujian Indonesia Mengajar XIII 2016. Sungguh pengalaman berharga, meskipun tidak lolos hingga akhir. Tidak ada penyesalan sama sekali karena walau bukan rejeki saya, setidaknya ada cerita yang bisa saya bagi. Semoga pengalaman saya kemarin bisa membantu memberikan gambaran untuk kalian kalian yang ingin mengikuti seleksi IM di tahun tahun berikutnya. Good luck.

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Malang, Kota Tak Ramah Jomblo

Selain Bandung, Malang adalah kota tak ramah bagi jomblo. Bagaimana tidak, taman taman cantik dimana mana, burung burung berkeliaran, bebungaan terhampar rapi menghiasi hijaunya rerumputan yang ditata sedemikian ciamiknya. Jalan jalan berpaving manis dengan pohon palem menjaga di kanan kirinya. Duh dek.. kasihan yang masih jomblo. Begitu teori saya, Santika dan Indri ketika melewati indahnya pertamanan Malang.

Hal lain yang bikin jomblo nggak asik di Malang adalah cuaca Malang yang adem adem sejuk. Entah gara gara global warming yang bikin Malang nggak panas panas amat atau emang lagi anget angetnya, Malang tak terlalu dingin seperti yang saya pikirkan. Taman taman yang caem, dengan rerumputan tertata apik, suasana tenang tidak begitu macet, ditambah cuaca yang sejuk sejuk bikin baper akan mengakibatkan jomblo terlena untuk seharian mager di taman tamannya –ntah buat merenungi nasib atau baca buku. Jangankan jomblo, muda mudi yang bergandengan tangan, pacaran disana sini. Tiap sudut taman pasti ada. Kalau kata Santika sih, bikin baper nikah cepet. Haha.

Kalau di Solo dan Jogja, setiap jalan akan ditulis juga dalam aksara Jawa, maka di Malang, ditulis dengan bahasa setempat dan bahasa Belanda. Sebagai contoh Jalan Kawi, maka akan ditulis juga Kawistraat.

Tidak seperti di Jogja yang angkutan umumnya naudzubillah susah dan rempongnya, Malang cukup bersahabat. Transportasi di kota Malang tergolong masih mudah. Motor, mobil baik pribadi maupun angkutan umum tersebar pating tlecek hingga malam. Mirip mirip Bandung. Kami bebas kemanapun dengan angkot berbagai trayek –yang sialnya selalu lewat taman taman Malang yang bikin baper itu- tanpa takut tak sampai tujuan. Cukup dengan empat ribu rupiah maka anda sudah termasuk membantu para bapak bapak sopir itu menafkahi keluarganya. Teringat dulu ketika di Bandung, dimana ada banyak pengamen yang juga mengamen di angkot, Malang pun juga sesekali ada pengamen. Mereka anak anak grunge atau punk yang tetiba datang ke angkot untuk mengamen. Ya.. ya..

Ini pertama kalinya saya dan teman teman mengunjungi Malang, kota apel yang terkenal itu. Hanya tiga hari, backpackingan nggembel nggembel dikit karena budget yang minim. Untungnya Asti Alfasani, salah satu adik angkatan saya mau direpoti kami kami yang datang dari jauh untuk mengantar Indri ujian di salah satu universitas di Malang. Bahkan ia dan room-matenya harus mengungsi ke kamar lain akibat kamar mereka kami akuisisi selama dua malam. Duh.. maap yak dek.. semoga dilancarkan segala urusan kalian. Amin.

Hari pertama? Tidak ada hal spesifik yang kami lakukan selain berlagak seperti Dora the Explorer untuk menemukan kosan Asti. Turun dari kereta, kami sempat ditodong angkot “ketengan mbak, lima puluh ribu aja buat tiga orang”. Saya langsung melambaikan tangan tanda tak mau. Terlalu mahal Pak. Kami tidak sedang untuk berplesiran. Setelah menemukan angkot dengan tarif normal, hanya empat ribu rupiah saja, kami turun di depan Universitas Malang. Terpesonalah kami dengan mas mas setempat (yang ternyata ia adalah perantau dari Medan) yang baru saja menggelar lapak dagangannya di jalan depan rektorat. Jajanan yang ia jual semacam otak otak yang ditusuk lidi panjang kemudian diberi saos. Bagaimana tidak mempesona kami yang kelaparan seharian di kereta akibat lupa bawa jajan. Haha. Asti bahkan tertawa karena tau kami sedikit tergila gila –fine.. saya mengakuinya- dengan sempol. Haha.

Ehm.. sekarang tentang makanan. Malang punya makanan khas apa ya? Saya tak begitu ingin makan banyak. Tapi kemudian menemukan soto lamongan meskipun bukan di kotanya langsung, membuat saya berbunga bunga. Bagaimana tidak, soto dalam semangkok dihidangkan panas panas lengkap dengan rasa koyanya yang tak terlupakan. Selain soto, kami mencoba pecel. Enak tenan. Nggak begitu manis dan cukup pas pedesnya. Ketiga, kami mencoba tahu telur. Awalnya kami pikir tahu telur itu semacam campur atau gado gado. Ternyata dadar telur yang berisi tahu, dihias dengan tauge rebus kemudian disiram kuah kacang yang ndilalah rasanya manis. Saya curiga yang bikin orang Jogja. Wahaha. *baru dua hari disini Jogja udah bikin baper aja. Wkwkwk.

Tak afdhol rasanya kalau pergi ke suatu kota tanpa mengunjungi museum di dalamnya. Museum adalah bagian dari sejarah peradaban suatu kota. Tanpanya, hilang sudah kepingan sejarah itu ditelan masa. Di hari kedua di kota Malang, kami mengunjungi Museum Brawijaya, sebuah museum nun di tengah kota di Jalan Ijen.

Museum Brawijaya menyuguhkan pemandangan tentang bikin masa lalu ketika Indonesia masih mengalami masa agresi militer sana sini. Koleksi berbagai macam senjata rampasan, mobil kodok antik yang masih gagah, berbagai panji perang, meriam dan berbagai peralatan perang lainnya. Tapi jangan salah, di museum ini ada koleksi komputer jadul keluaran IBM tahun baheulak. Keren juga peralatan perang militer Indonesia. Di halaman tengah museum terdapat gerbong kereta dan perahu kecil. Gerbong tersebut adalah satu dari tiga gerbong maut yang pernah digunakan untuk mengangkut ratusan pejuang Indonesia. Gerbong ditarik lori dan dikunci rapat rapat. Dari seratus orang dalam gerbong, kurang lebih tujuh puluh lima persen mati sekarat di dalamnya akibat kekurangan oksigen dan terinjak injak. Sadis. Perahu kecil yang ada di sebelah gerbong adalah perahu yang digunakan salah seorang pejuang mengarungi lautan dari sebuah pulau ke Surabaya. Kondisinya masih sangat terawat baik. Museum ini juga memiliki perpustakaan yang sewaktu waktu bisa digunakan untuk studi pustaka kesejarahan Indonesia. Isinya buku buku tua peninggalan jaman jalan lalu.

Museum emang nggak ada matinya. Museum selalu bisa memberikan saya perspektif lain mengenai bangsa saya. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya bila saya lahir di jaman kakek saya masih mengangkat senjata mengusir wong londo-londo itu. Kalau hidup sederhana sih bisa. Saya terbiasa dengan hidup apa adanya. Tapi, bisakah saya dan teman teman saya yang tergolong anak moderen ini lepas dari gadget? Apa jadinya bila kami mau menggempur musuh, masih sempat sempatnya update status dulu di facebook “Merdeka atau harus banget merdeka mbuh pie carane”, posting foto di facebook dengan caption “selfie dulu mumpung lagi di  depan markas musuh” atau buat anak anak ingusan yang baru seneng senengnya sama cewek kecengannya malah update foto “Mau nembak musuh. Jadian nggak ya ntar?. Deg degan nih”. Nah lho.. malah anak anak mudanya pada baper kan.

Yang paling menarik untuk saya adalah tentang Jenderal Soedirman dan alat alat kesehatan di jaman itu. Kursi, meja dan berbagai peralatan peninggalan Jenderal Soedirman masih sangat baik kondisinya. Nggak kebayang gimana rasanya mimpin pasukan yang menyabung nyawa nggak memperdulikan kondisinya yang sakit sakitan hanya untuk negara. Naik turun bukit gunung hutan jalan yang boro boro masih aspal, setapak aja udah bagus karena kontur negara waktu itu masih berbatu batu dan berbukit bukit. Rutenya yang beratus kilometer sampe Jatim njuk balik ke Jogja lagi. Sangat panjang. Saya suka ngecamp. Tapi kalau ngecamp sistem perang gitu kan juga pasti nggak asik. Suasana melihat bintang bukan dalam kedamaian tapi was was kalau kalau musuh mengintip lewat senjatanya dari balik dedaunan. Nakutin euy.. Belum lagi kalau pas kita sakit. Kalau demam biasa yang sembuh lewat sugesti dan sedikit terapi diri bernama tiduran, bagaimana dengan sakit berat?. Jenderal Soedirman kalau tidak salah jantungnya juga bocor sehingga harus ditandu di perjalanannya. Bagaimana hebatnya dokter saat itu berjuang. Pendidikan dokter dengan ilmu seadanya, peralatan seadanya, masih dihimpit perang pula. Saya tidak bisa membayangkan ketika dokter harus mengobati pasien yang terluka dalam perang bahkan membedah lukanya atau mengamputasi salah satu kaki pejuang tanpa anestesi yang mumpuni. Botol botol kaca berisi entah penisilin entah apa di museum seolah bercerita beratnya kesehatan ketika perang. Banyak anak berlomba masuk kedokteran dengan pride yang selangit, kemudahan mengakses dipan rumah sakit, kemudahan nyari obat di apotek apotek yang tersebar bak jamur di seluruh kota rasa rasanya adalah hasil perjuangan para pejuang yang membuat negeri ini bisa berdiri tanpa tedeng negara adidaya membackingi dek jaman iseh rekasa (ketika jaman masih susah). Indonesia adalah sebuah negara seutuhnya tanpa disuapi oleh negara penjajah. Kita jatuh bangun dengan nama kita sendiri bukan dengan embel embel persemakmuran yang memang terlihat makmur tapi tidak merdeka seutuhnya. Ah, saya bangga menjadi putri Indonesia. Sangat. Terimakasih pejuang. Saya janji untuk mengisi kemerdekaan yang sudah beliau beliau perjuangkan dengan mencintai negeri saya dengan cara saya. Sekecil apapun hal untuk negeri ini karena rasa cinta saya pada Nusantara. Ya, karena saya masih suka makan nasi, bukan roti.

Saya mengangkat senjata yang ada di museum itu. Duh, beratnya setengah mati. Kok ya selo tenan orang perang. Pada bawa senjata berat berat gini, lari lari di medan pertempuran hanya untuk menghilangkan nyawa orang. Belum ibu ibu dan anak anak yang menjadi korban akibat peperangan. Kalau langsung mati sih mending, nggak ada bekas kesedihannya. Bagaimana jika anggota keluarga itu masih hidup dan melihat dengan mata kepala sendiri ada keluarganya yang mereka sayangi terbunuh?. Pastinya akan jadi beban psikologis seumur hidup yang tak akan pernah terlupakan. Hiks. Seketika saya teringat dengan para pejuang Palestina yang hingga saat ini hidup dalam mencekamnya suasana perang. Sedangkan saya di Indonesia, masih sempet sempetnya nonton sunset dari ketinggian bukit sambil memejamkan mata dalam kedamaian. Di saat yang sama, ratusan anak kecil seusia saya bahkan lebih muda, mereka menyabung nyawa berlindung dari bongkahan dinding yang rusak sambil sesekali menembakkan peluru ke arah lawan untuk mempertahankan bangsanya dari kebiadaban penjajah. Lagi, saya berjanji dalam hati. Saya dikaruniai Tuhan untuk hidup di zamrud khatulistiwa yang damai, indah nan permai. Bagaimana saya harus mensyukurinya, itulah yang saya anggap sebagai jihad juga. Ya, karena jihad tak melulu harus dengan perang. Cinta tanah air dan berjuang untuk tanah tumpah darah saya adalah jihad juga.

Tiga hari, cukup untuk perkenalan dengan kota Apel ini. Sayangnya kami tidak sempat mampir ke Batu karena keterbatasan waktu. Semoga lain kali di waktu dan kesempatan selanjutnya. PS: Kalau kata Asti sih: Apalah Jogja yang berhati mantan dan Malang yang berhati masa depan. Aiiisssh..*apalah saya yang masih menganggap Jogja berhati mantan dan masa depan. Duh.. dekkkk..

Pasukan Bodrex

Apa yang tersisa di masa sekarang dari kepingan masa yang telah berlalu? Kenangan. Hanya itu. Momen lebaran adalah salah satu yang mengingatkan kembali kepingan kenangan itu.

Tersebutlah empat anak gadis yang duduk di baris pojok terkanan paling belakang kelas yang saat itu seatnya dua dua dalam empat baris. Mereka selalu duduk takdzim mendengarkan guru berceramah sambil mengangguk angguk tanda tak paham. Bolos sesekali, boleh lah. Meskipun hanya ke kantin atau kemana. Candaan, tawa, bully, kesembronoan mengisi hari hari. Hidup tidak perlu begitu spanneng. Bagi mereka, bisa naik kelas dengan predikat tuntas saja sudah melegakan. Remidi, jangan tanyakan berapa kali. Sampai kenyang. Sementara anak anak satu kelas berusaha mati matian les sana sini, berusaha sedemikian keras agar nilai mereka mencukupi masuk ke IPA. Si empat anak ini, mau masuk IPA atau IPS, urusan belakangan. Semua jurusan adalah baik. (Hanya orang tuanya saja yang memaksa anak anaknya menuruti keinginan mereka masuk jurusan mana, meskipun pada akhirnya si anak mengatakan tidak).

Satu anak hobi sekali merawat kukunya. Ia pandangi dan bersihkan kukunya di sela sela mendengarkan pelajaran. Anak gadis di sebelahnya sibuk membuat kue berupa sebuah lingkaran dengan arsiran perempat jam yang ingin sekali ia habiskan setiap kali Bu Wahyu, guru matematika kelas satu itu mengajar. Ketika kue sudah terarsir seluruhnya, ia sangat bahagia. Ia malas dengan hitung hitungan dan tidak suka dengan cara mengajar si ibu ini. Siswi di belakangnya, sibuk menjahili si anak perempuan di sebelahnya. Ia gojekan dengan teman sebangkunya sampai sampai Pak Candra, guru Fisika menyuruhnya maju ke depan mengerjakan soal. Padahal si Bapak ini tidak biasanya menyuruh nyuruh siswa maju. Kemudian ketiga anak lainnya hanya cekikikan jahat melihat kawannya maju. Si anak perempuan, Puspasari, hanya menyumpah nyumpah dendam pada ketiga teman lainnya, dimana mungkin terbalas di kemudian hari. Satu persatu dari si anak itu maju pada kesempatan yang berbeda. Desy Novita ketika pelajaran matematika, saat ia sibuk mengamati kuku kukunya tetiba Bu Wahyu menyuruhnya maju. Pak Chandra menyuruh saya maju saat saya sedang sibuk melamun. Aih Ervanti maju ketika.. ah.. entahlah. Saya lupa. Haha.

Oleh karena keseloan empat orang itu, mereka diabadikan dalam stiker kelas bersama sama dengan ketiga puluh dua orang lainnya, yang besarnya A5. Empat orang berseragam abu abu putih berbaris, dinamakan Pasukan Bodrex. Bu Wahyu, menamakan mereka pasukan Bodrex karena jaman itu ada iklan Bodrex yang dibintangi Wagub Jawa Barat yang juga seorang artis, Dede Yusuf. Mas Dede Yusuf itu ceritanya sedang memimpin sebuah pasukan, yang namanya adalah pasukan Bodrex. Melihat kami yang selalu berempat duduk di pojokan sana, sok sokan jadi anak manis yang pendiam dan berbudi pekerti baik dalam pelajaran, jelas sudah Bu Wahyu teringat dengan iklan itu. Kemudian.. satu kelas juga menganggap kami seperti itu.

Delapan tahun kemudian berlalu. Kembali dari perantauan dalam suasana lebaran adalah sebuah momen yang menyatukan pasukan nggak jelas itu. kecanggihan teknologi membuat mereka bisa kembali menjalin silaturahmi. Di sebuah siang yang cerah, dengan jam karet ala orang Indonesia, mereka berkumpul di rumah salah satunya. Berkelakar tentang hidup yang semakin menua, bagaimana tentang cara pandang hidup dan saling bully karena kami tak peka dan belum move on juga.

Pertemuan sejak perpisahan bertahun tahun, tidak juga melunturkan persahabatan, tidak juga melunturkan kegilaan masing masing dari mereka. Satu orang di Salatiga, Aih yang sedang mengambil master IT di UKSW. Satu orang baru saja menetap di Salatiga setelah beberapa tahun di Jawa Timur. Puspa sudah jadi cewek tulen sekarang (dulu sekali, ia sangat tomboy). Dengan balutan gamis dan kerudung, ia menolak pekerjaan di kapal pesiar karena alasan agama. “Harus lepas kerudung Put. Jangan lah”. Ia akan pergi merantau lagi beberapa bulan mendatang, entah ke kota lain, entah ke negara lain. Satunya baru saja pulang mengunjungi orang tuanya setelah lama menetap di Jogjakarta dan hanya pulang sesekali–dan sebentar lagi akan merantau lagi. Satunya tidak pulang ke Salatiga karena sudah menikah dan menetap di Kalimantan Tengah. Ya, Desy Novita sudah menikah dua tahun yang lalu. Semoga ia segera dikarunia momongan.

Pembicaraan paling kampret adalah tentang kepastian masa depan. Tentang salah satu dari kami yang harus move on karena ditinggal nikah mantan yang kembali ke mantannya. Ia masih belum bisa melupakan. Bahkan salah seorang kawan dari IPS 1 dulu mencoba untuk mendekatinya dan sahabat saya ini tidak ada perasaan sama sekali. Tentang saya yang dibuli habis habisan oleh cinta monyet yang tak pernah tersampaikan. Tentang cinta lama beda agama Puspa yang masih saja ia bahagia ketika bertemu, bahkan dalam reuni kelas kemarin. Tentang berdua dari kami yang nggak peka. “Ada yang suka tapi kalian nggak peka”. Haha. Duh.. maapin kita kak.

Ah.. sungguh masa sekolah yang menyenangkan. Yang tidak akan mungkin akan bisa diulang, dan saya pun tidak ingin mengulangi. Move on cah.. haha. Pahit manisnya masa sekolah, akan jadi kenangan bahkan hingga nanti kami senja. Hidup Pasukan Bodrex!.

Muara Tenang #4: Makan

Apa yang paling menarik ketika mengunjungi suatu daerah di luar tempat kita biasa tinggal? Satu adat istiadat, dua alam, ketiga makanan. Satu minggu di Semendo adalah kali pertama saya mencicipi makanan khas setempat.

Pempek? Sudah seperti makanan sehari hari disana. Tiap rumah bisa bikin, tiap rumah bisa nyediain. Pempek di pagi hari dengan segelas kopi aroma gunung. Beuh.. enak bener. Tapi ya cukonya itu lho.. kalau perut nggak kuat ya wasalam. Say hi sama kamar mandi. Hehe.

Apalagi kerupuk kemplangnya. Dipajang dimana mana, berderet deret bagai tirai. Mau yang goreng atau panggang? Tinggal pilih.

Tiap kali makan, entah itu makan pagi siang atau malam, hampir selalu dilakukan secara kekeluargaan. Tau apa yang saya maksud? Makan bersama. Cara cara desa gitu lah. Sehelai taplak atau kain digelar di lantai kemudian disajikan berbagai macam hidangan di atasnya. Mulai dari nasi, sayur, lauk, kerupuk, sambal, kobokan, semua lengkap disana. Persis kayak rumah makan padang. Hehe. Piringnya banyak bener. Cara makannya pun pulukan. Ambil makanan ke dalam piring masing masing, diawali dengan prosesi doa, kemudian ambil dengan jari dan makanlah dengan lahapnya.

Tipikal makanan disini, makanan dengan rempah rempah. Bumbu ini itu dimasukin. Yang cukup ngehits adalah bawak ikan. Semacam gulai ikan dengan kuah kekuningan dan aneka bumbu di dalamnya. Tumis tumisan juga menjadi hidangan yang sepertinya wajib ain ada. Entah tumis apa itu. mau tumis tempeh, tahu atau ikan lagi (lagi, ya lagi). O, ya, jangan dilupakan sayur sayurannya. Tak hanya sayur yang dimasak tumis atau sayur bumbu, lalapan juga tersedia di atasnya. Daun katuh (katuk) atau daun apapun yang diambil dari pematang sawah atau kebun sendiri menjadi santapan pelengkap makan siang nikmat. Kenyang pokoknya.

Ikan bisa didapat di pasar atau memancing di kolam dekat desa. Sayuran? Carilah di pinggiran kebun atau hutan. Kalau mau praktis ya beli di warung terdekat. Atau.. menunggu pasar tiban datang.

Pasar

Di Tanjung Tiga, pasar hanya ada di hari hari tertentu. Tidak setiap hari. Modelnya seperti hari pasaran seperti di Jawa. Jadi, tidak setiap hari ada. Para pedagang dari desa desa sebelah datang untuk berdagang aneka macam dari sayuran hingga onderdil hape. Semua ada. Tentu tidak terlalu lengkap. Tapi pasar akan sangat riuh ramai ketika waktunya gelaran dibuka. Mau tua, dewasa, muda, anak anak tumpah ruah memadati pasar. Masih pukul tujuh tiga puluh waktu itu ketika saya menemukan sekelompok anak gadis berseragam SMP berseliweran membeli aneka macam barang di sana. Hmm..

Yang paling menarik di pasar itu adalah saya menemukan hok lo pan. Hanya dengan lima ribu rupiah, saya bisa membawa pulang separuh kue bulan tersebut. Kenyang. Kue martabak bulan –seperti yang diceritakan Andrea Hirata dalam bukunya. Ah, entah apakah benar kue itu atau tidak, tapi rasa rasanya saya jadi mabuk tetralogi Andrea. Melihat proses pembuatannya pun sudah membuat saya senang. *semoga akan ada kesempatan untuk pergi ke Bangka Belitung.

 

Ramadhan di Jogja

Krapyak, Lost in the Santri City

Lost in the Santry City adalah sebuah hal yang menyenangkan. Bagaimana tidak. Semua orang bersarung, kemeja dan koko. Stock cowok ganteng yang berasa bisa banget diculik ke KUA ada disini. Ceweknya pun cantik cantik. Baju warna warni kerudung loss dan bawahan sarung atau rok yang membumi. Dengan Al Quran di tangan kanan dan sajadah yang tersampir di pundak kiri. Sangat sederhana, jauh dari kesan glamor, jauh dari kesan terlalu kearab araban atau kebarat baratan, jauh dari kesan hedon. Adem gitu.

Ngapain di Krapyak? belajar lah. Belajar agama. Ramadhan ramadhan gini ada alternatif kece untuk siapa yang mau menyisihkan waktunya belajar agama. Pondok emang nggak ada matinya kalau urusan belajar. Bangun tidur, belajar, sampe mau tidurpun juga diisi dengan belajar. Di sepanjang sudut rumah, para gadis gadis bil ghoib rajin menderas ayat demi ayat Al Quran untuk menguatkan hapalan. Belum kalau di kelas. Satu dua cowok minimal akan nongkrong sambil menekuri Quran di atas meja belajar mereka sebelum menunggu ustadz datang. Ketika Pak atau Bu ustad datang, kelas pun dimulai dengan sangat tenang. Tidak ada gaduh karena semua orang sibuk mendengarkan ustadz membacakan dan memaknai ayat demi ayat. Sialnya saya buta aksara. Duh. Gini nih akibatnya dulu nggak mondok. Banyak sekali kitab kita yang ingin saya baca dan ngaji sama ustadz. Tapi apa daya waktu saya tak banyak dan saya hanya bisa mendengarkan tanpa bisa membaca kitab itu. Kalau ada pegonnya, masih enak. Saya masih bisa sedikit dikit baca walaupun nggak fasih banget. Tapi kalau Arab gundul. Duh.. selamat bobok. Saya nggak bisa. Hiks. Kondisi ini akan jadi pelajaran saya kelak. Saya ingin nanti putra putri saya mondok biar bisa belajar langsung pada ahlinya. Hingga saat ini, tempat pelajaran agama terbaik adalah pondok.  #ayomondok.

Kalau sudah masuk waktu berbuka, semua orang akan turun dan mengambil makanan yang telah disiapkan. Entah kenapa makanan di piring yang porsinya tidak terlalu banyak terasa sangat kenyang di perut. Berkah ramadhan. Alhamdulilah. Nanti kalau jam sahur, kami akan bangun dan ambil makanan juga. Kemudian kalau sudah selesai, ke masjid untuk menghabiskan waktu bersembahyang subuh dan kultum hingga pagi menjelang. Kalau udah pagi? Ya lanjut ngaji. Nderes maksudnya. Nyemak. Masih nggak paham? Baiklah saya jelaskan lewat bahasa yang lebih sederhana. Nderes itu mengaji Quran. Kalau nyemak adalah mendengarkan lantunan Quran oleh yang membaca Quran. Setelah itu free time. Kita diberi waktu untuk mencuci pakaian, bersih bersih, kemudian lanjut ke kelas kelas yang membahas kitab kitab. Kelas baru akan berakhir pukul 12 malam. Tak jarang saya menulis sambil terkantuk kantuk pegal. Haha. Mulai jam 12, tidur malam pun dimulai. Begitulah siklus dua puluh hari berlangsung.

Sembahyang selalu dijalankan secara berjamaah. Sembayang apapun. Magrib isya sbuh dhuhur ashar. Usai sembahyang, lantunan doa terucap membahana. Sungguh khusyuk dan menenangkan. Salat traweh juga berlangsung secara khataman. Maksudnya dalam dua puluh hari merupakan shalat yang bacaannya adalah seluruh surat dalam Al Quran. Nyari berkahnya.

Saya punya pengalaman yang membuat saya kagum pada satu cowok yang entah siapa dia saya tidak tahu mukanya, namanya atau asalnya. Adakah yang lebih ganteng daripada cowok yang lari lari ke masjid sehingga peci dan kemeja marunnya basah oleh hujan namun tetap laju menjalankan subuh dalam suara rintik hujan yang tak mau berhenti sejak semalam lalu. (Jawabannya: ada. Siapa? ayah saya dan adik laki laki saya. Haha.) Ketika lihat laki laki itu di subuh yang dingin pada pertengahan bulan puasa, saya hanya bengong. Berasa kayak pengen banget nyamperin dan “Kak, culik saya ke rumah lalu ukir nama adek di hati abang lewat pena pak penghulu kak. *aaaakkkk gimana saya nggak meleleh liat itu cowok.

Masalah makan, kami katering pada ndalem. Jadi ada anak anak ndalem yang membuatkan kami makan. Kalau saya sendiri sayang kalau makannya nggak dihabisin. “Maaf ya mbak, kalau makannya tidak enak” kata salah seorang santri berusaha untuk merendah. “Halah nyante mba. Saya aja udah makasih banyak dimasakin. Kalau tengah malam harus bangun buat masak pun saya juga males mba” jawab saya untuk membesarkan hatinya. Wajar jika ia berkecil hati. Ada satu dua anak yang tidak menghabiskan makannya karena masalah selera. Piring piring nasi sisa masih tertumpuk dan mereka anak anak malas membersihkan.

Kalau sore, jam habis kelas berakhir. Sekitar pukul lima sore, kami akan menghambur ke jalan D.I Panjaitan untuk hanging out dan mencari jajanan teman berbuka puasa. Cimol, cilok, kolak buah, sirup buah, sate, jus atau apapun tersedia disana. Sangat sangat Jogja kala puasa. Haha.

Suasana di kota santri.. duh.. kok inget lagu jaman kuno ini ya. Haha. Kemudian saya terbayang wajah ibu ketika dulu ibu masih sangat muda, menyantri. Pasti sangat menyenangkan. Seneng rasanya jadi santri. Yah, walaupun abal abal. Ya, karena saya lebih suka dipanggil santri daripada ukhti.

Ramadhan di Jogja

Sudah beberapa tahun saya tinggal di kota cantik ini. Merasakan ramadhan di sini, sebuah yang hanya bisa saya nikmati lewat layar kaca ketika saya kecil. Masjid masjid membuka pintu mereka lebar lebar. Tak hanya kajian, makanan berbuka puasa pun sudah disiapkan dengan ciamiknya oleh takmir masjid. Donasi donasi menumpuki kotak kotak amal yang dilungsurkan setiap harinya. Tua muda pria wanita mau dari kelas sosial apapun tumpah ruah di masjid masijd. Mau itu buber atau takjil hunter. haha

Jogja.. Jogja.. dengan nuansa ramadhannya. Di pinggir pinggir jalan tertata dagangan sumber rejeki bagi pemiliknya. Ngabuburit? selalu ada tempat bagi siapapun yang mencari tempat hang out sore hari. Semua toko dan kedai makanan memberi bonus besar besaran. Perputaran uang terasa membludag di bulan ini. Ah, entah apakah ini euforia keduniawian atau benar benar untuk akhirat. Wallahualam.

Semua orang berlomba lomba silaturahmi berbungkus label buber. Hari ini jadwal buber dengan ini besok hari dengan itu, lusa dengan teman komunitas ini besoknya lagi dengan mantan dan seterusnya. Tempat berbeda beda, dengan nuansa berbeda dan tak jarang traweh di masjid terlewat begitu saja.

Malam menjelang, semua orang tidur hingga sebelum sahur. Untuk orang orang rumahan, tentunya sangat menyenangkan sahur dengan keluarga. Sahur nggak sendirian, ada yang masakin ada yang nemenin. Gimana dengan anak kosan? Jelas sendirian. Haha. Syukur kalau teman teman belum pada pulang. Gimana kalau udah pada minggat ke kotanya masing masing? Ya nasib. haha. Solusinya: menginaplah di kosan teman kalian biar ada yang mengingatkan dan mbangunin. Syukur bisa masak bareng dan makan bareng. Feels like home. Nggak mirip mirip banget tapi setidaknya bisa membantu meredakan kekangenan pada suasana rumah di bulan ramadhan. Solutif nggak tuh. Haha.

Iktikaf, juga bukan hal yang dipandang sebelah mata disini. Bahkan masjid masjid memfasilitasi orang orang pria wanita tua muda anak anak yang ingin iktikaf. Saya sendiri sih belum pernah ikut iktikaf. Tapi melihat pengumuman keagamaan dimana mana rasa rasanya Jogja sangat sangat ramah.

Ah, Jogja.. semoga suatu saat bisa berramadhan lagi disini.

Perkara Jodoh #3: Ketika Negara Baper Menyerang

Bengong dan mau ketawa. Itu ekspresi saya di malam saya mendengarkan seksama dan dengan sebaik baiknya curhatan dari seorang sahabat. Anak gadis ini sedang baper berat pada perasaannya. Lagi terulang, saya hampir dibunuh prasangka.

“Aku selama hampir sebulan ini kepikiran kamu. Duh, jangan jangan aku udah menyakiti perasaan Putri. Aku jadi nggak enak kalau teman teman nggosipinnya malah aku sama dia”. Dimana secara kampretnya teman teman saya lainnya bilang saya naksir anak laki laki itu. Nah lho.. ini dia masalah lagi. Berprasangka. Padahal mereka cuma ngira ira tanpa tanya saya seutuhnya. Ada salah satu yang bilang –dan itu menguatkan si anak gadis ini bahwa saya benar benar suka, padahal teman saya ini nggak konfirmasi ke saya langsung. Duh dek.. kok do mutusi dewe dewe je.. sedih hati adek kak..

Kalau dianalisa pada saat itu, si anak gadis ini lagi baper berat soal perasaan. Sepertinya perasaan si anak ini sedang rapuh rapuhnya. Iya, apalagi kalau nggak perkara jodoh. Wkwkwkw. Gimana saya nggak ketawa. Orang tuanya udah nyuruh dia buat segera nikah dan dia baper mau kerja dimana sedangkan lapangan pekerjaan yang dia inginkan sangat kecil kemungkinan untuk bisa dikerjakan di Pulau Jawa yang udah makin kering ini. Ayahnya baru akan membolehkan dia keluar Jawa kalau saja ia punya pendamping. Dan yang bikin makin greget adalah ibuknya sebenarnya masih belum rela kalau anak gadisnya pergi dari kota kelahirannya. Dia bingung harus bagaimana dan bertindak seperti apa untuk mencari masa depannya. Ia masih ingin bekerja tapi udah disuruh suruh nikah. Tapi disisi lain dia punya trauma pada laki laki. Ia masih belum bisa membuka diri. Dan baru kali ini ia mulai perlahan belajar membuka hati. Dan baru pada sahabat saya yang lain, ia belajar untuk merasakan bagaimana harusnya perempuan mencoba untuk sedikit mengalah soal perasaan. Belajar untuk menerima seorang laki laki masuk dalam kehidupannya. Belajar olah rasa. Ya begitulah. Dan.. rupanya proses ini bikin si anak gadis baper. Haha.

Lagu Raisa “Usai Disini” yang akhir akhir ini memang sering saya nyanyikan hampir saja dianggap sebagai kode oleh sahabat saya. Saya menepuk jidat sambil memejamkan mata. Matih.. Padahal sayanya emang seneng sama lagu itu. Sayanya emang ngefans sama mbak Raisa yang dan suaranya lebih mempesona daripada rupanya yang memang sudah cantik jelita dari sononya. *mau banget dininabobokin sama suaranya Mbak Raisa.

Sahabat saya ini hampir saja mengira bahwa lagu itu adalah lagu pasrah kalau saya mengikhlaskan seseorang lepas dari saya untuk dirinya. Dan sahabat saya ini mengira ia telah merebut seseorang. Nah lho.. siapa tuh? Sahabat saya yang lain. Hmm.. baiklah. Di titik itu saya sudah bisa mengantisipasi apa yang terjadi kemudian kalau masalah ini tidak segera diluruskan. Saya menjelaskan bahwa saya memang seneng sama lagunya, bukan untuk curhat. Apalagi mengikhlaskan seseorang yang notabene memang sering sekali digosipkan. Weew.. harusnya malah lagu itu bukan untuk yang sering digosipin sama saya. Malah pasnya buat masnya yang aneh, ajaib, tur nggak cetha nun di selatan (karena saya dari suku air utara. lho? haha.) sana yang pernah bikin saya baper. *lhoh.. kok malah njuk aku sing curhat neg wes tau baper karo wong? Wkwkwk. (Mungkin suatu saat akan ada cerita tentang siapa dia).

Si anak cowok yang bikin baper mbaknya ini, memang sudah sangat lama digosipkan dengan saya. Tapi saya (atau kami ya?) dengan lenggang kangkung berusaha cuek dengan omongan orang orang. Ncen lambene cah cah ki ra temata tenan (dasar teman teman saya memang tidak bisa menata bicara). Padahal siapa yang tahu soal jodoh. Nggak ada kan? Jadi, saya pun selo aja. Sudah terlalu sering saya diejekin sama orang. Dari TK sampe sekarang. Orang nggak bosen nyariin saya kecengan buat diejekin. Hobi banget yak. Haha.

Dari pengalaman ece mengece itulah membuat saya tegar *halah.. lebai. Haha. Saya jadi bisa cuek bebek kalau diejekin. Malah saya ingin membuat suasana ejekan itu tidak bikin baper siapapun yang digosipin dengan saya. Saya hanya ingin punya hubungan yang baik saja. pertemanan yang baik.

Beberapa orang yang diejekin sama saya justru menjauh dan menganggap saya merusak segalanya. Padahal apa salah saya?. Kan bukan saya yang minta diejekin. Saya nggak pernah request untuk dipacok pacokke. Saya nggak pernah minta orang orang buat ngejekin. Cuma orang-orang sekitar kami yang kemudian dengan kurang ajarnya membuat gosip yang semakin membesar bak bola salju. Mereka yang merasa terpojokkan tersebut kemudian menjauh dan hubungan kami buruk. Padahal ada perasaan saja tidak. Terbukti emang nggak kuat uji dalam pertemanan. Dolanmu kurang adoh mas.. Pertemanan hancur. Wasalam.

Tapi sebagian yang lain malah justru berakhir dengan pertemanan yang baik. Mereka adalah orang orang asik yang nggak main perasaan. Pertemanan yang dibawa ringan aja, nggak perlu masuk terlalu dalam pada perasaan. Seneng punya kanca gojek kayak gini. Nggak gampang baper dan malah bisa jadi kawan diskusi yang gila. Makasih ya sudah begitu baiknya memahami bahwa pertemanan itu adalah hal yang esensial.

Tapi nggak tau juga dengan orang orang yang mungkin pernah menyimpan perasaan ke saya. Beberapa orang bilang “dasar kamu ini emang nggak peka”. Duh.. apa salah saya kak.. saya emang nggak bisa dikode. Ya maap kalau saya nggak ngeh sama perasaan anda. Nggak bilang-bilang sih. Kan saya nggak ngeh sama kode. Bisanya dibilangin, ngobrol dan bicara apa adanya. Selama ini mata saya tertutup karena dua hal: keluarga dan profesionalitas. Cuma itu dalam kamus adek. *mohon dimaapin adek yang nggak peka ini, kak.

Buat saya kalau jodoh kita ketemu kok nantinya. Ketemu di rumah saya maksudnya. Minta ke ayah saya dan kalau beneran diistikharahi jodoh, orang tua saya setuju, saya klop sama orang tua calon suami saya nantinya dan mas calon cocok sama orang tua saya, maka akan ada nama saya dalam hidupmu hingga ke akhirat sana selamanya. Jadi, biarkan saya bebas dan kamu pun juga silakan mencari hidupmu sendiri. Biarkan kita menikmati anugerah Tuhan yang diwujudkan dalam “tholabul ilmi”. Biarkan kita menikmati anugerah Tuhan yakni kesendirian. Karena dalam kesendirian (atau kejombloan ya? haha) itu kita bisa lebih mengenal diri sendiri dan Tuhan kita, sebelum aku mengenalmu lebih jauh dan sebaliknya. Karena dalam kesendirian itu tercipta banyak rencana, wacana yang akan terlaksana dan nantinya akan jadi cerita ketika dua orang disatukan dalam lingkaran separuh agama. Manis nggak tuh kalau nanti banyak yang bisa diceritain. Wkwkw. Kalau belum sah aja udah terikat, yaudah apa nanti yang mau diceritain. Nggak seru. Intinya jangan menjanjikan sesuatu pada saya. Saya tidak ingin ada janji janji manis karena ayah saya bilang “Laki laki itu banyak yang bajingan. Maka jika laki laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, maka kamu harus belajar jadi orang yang baik juga. Karena usaha bukan hanya dari satu sisi tapi seluruhnya”. maka saya belajar sungguh sungguh dalam segala hal. Nothing to loose. Itulah prinsip keseloan dalam hidup saya. Kalau jodoh nggak akan kemana kok (mengutip dari kata kata ibuk saya). Feel free to live for your next world destiny. Jadi, selo aja dan nggak usah terlalu ngoyo. Kalau udah waktunya pasti datang sendiri.

“Malah tak pikir kamu yang nantinya sama dia, kok malah kamu yang ngejekin dia ke aku”. Haha. Saya ketawa lagi ketika dia tanya hal ini. Simpelnya begini. Jangan dengarkan apa omongan orang. Nggak akan ada yang tahu soal jodoh. Saya masih fokus sama masa depan karena saya masih punya tanggung jawab untuk jadi contoh buat saudara saudara saya. Laki laki yang paling saya cintai masih menginginkan saya untuk mengejar masa depan. Maka saya akan dengan sepenuh hati memenuhi keinginannya. Ayah saya bilang apa ya akan saya lakukan. Jadi, untuk masalah jodoh sepertinya saya tidak siap untuk bersegera. Lagipula saya belum memenuhi syarat. Syaratnya kalih. Kalih sinten. (sama siapa). Haha. Iya kalau yang digosipin sama kita adalah jodoh kita. Kalau bukan?. Emang siapa sih yang bisa menentukan jodoh dengan pasti?. Tuhanku aja belum mutusi aku sama siapa, jadi mari jangan berprasangka. Haha.

“Kamu bukannya ada perasaan ya sama dia”. Nah lho.. ini pasti kemakan omongan orang lagi. Saya adalah orang yang menahan perasaan pada siapapun. Menjaga perasaan saya dan hati karena saya paham konsekuensi jatuh cinta itu berat. *jadi ingat taruhan saya sama Nilam di hari wasanawarsa SMA yang membuat saya kapok untuk berperasaan pada laki laki. Haha. Saya tidak ingin mengulang lagi perasaan jatuh cinta saya yang nggak jelas. Jadi, pada siapapun saya masih belum ingin merasakan perasaan itu. Kami hanya berteman. Perkara apakah dia punya perasaan ke saya, saya tidak tahu menahu. Selama tidak pernah ada omongan, saya nyantai aja. Dan untungnya anak ini adalah anak yang juga tipe santai. Kita diejekin tapi kita bisa jadi teman yang baik. Perkara jika suatu saat nanti dia adalah jodoh saya, yasudah berarti memang sudah digariskan Tuhan. Saya pun juga tidak akan menampik jika memang dia berjodoh dengan saya. Atau bisa saja saya malah berjodoh dengan mantan teman sebangku ketika SD, bisa saja calon saya malah tetangga saya sendiri, atau seseorang nun jauh yang lagi nggembel mencari makna hidup, seseorang yang anak mami yang sedang keluar untuk merasakan kerasnya hidup, atau seorang leader yang sedang berusaha keras menyelamatkan usaha yang dirintis, seorang santri yang mencintai Tuhannya, seorang anak kampung yang harusnya bisa idealis tapi memilih realistis, seorang anak kota yang berpola hidup sederhana nan membumi. Atau jangan jangan seseorang dari masa lalu saya. Semua masih rahasiaNya dan bisa saja terjadi. Tapi untuk saat ini, saya merasa tidak perlu menyimpan rasa pada orang yang dipacok pacokke pada saya, siapapun itu. Kalau saja lauhil mahfuds membolehkan mahlukNya untuk melihat buku di dalamnya, maka saya akan membuka lembaran saya dan mencari siapa jodoh saya. Akan saya datangi dan diskusi panjang lebar soal kesepakatan tentang banyak hal di masa depan sebelum berpisah kembali sampai tiba masa waktunya ia melingkarkan cincin di jari manis saya di depan orang tua kami. Haha. *imajinasimu lho Put. Jan jane, satu yang jadi pikiran saya: pie carane dadi conto nggenah nggo adi adiku. Simpel saja. Bahkan bisa saja si anak gadis ini justru yang jadi jodohnya sahabat cowok saya itu. Well, jodoh siapa yang tau kan? Kalau ternyata kalian berjodoh ya saya akan turut sangat bahagia. Tinggal tentuin tanggal, saya akan atur ulang jadwal hidup saya biar bisa dateng ke resepsi kalian. *eh, inget makan makannya yang enak dan bersegeralah ngasih keponakan buat cicik kalian ini. Wakakaka.

Tapi insiden kayak gini lagi lagi bikin saya mikir. Emang se-blur apa sih saya. Kayaknya saya juga baiknya ke semua orang, nggak pilih pilih. Nggak ada yang spesial spesifik. Atau memang orang dengan mudahnya salah tangkap dan salah mengartikan sikap saya -nggak cewek nggak cowok-. Padahal juga saya kayaknya nggak pernah ngode siapapun dalam bentuk apapun. Selama ini saya hanya mikir kalau hidup itu ngalir dan selo aja tanpa harus ada kode kode. Saya tidak pernah juga menyengaja untuk mendekati siapapun. Nggak ada. Tidak pernah kepikiran menyengaja main main dengan perasaan. Lebih tepatnya belum ada yang harus saya perjuangkan untuk hidup saya karena belum ada kesepakatan dengan ayah saya. Sementara banyak orang tua teman teman saya sudah menyuruh nyuruh anaknya untuk segera menikah, saya masih yang paling selo. Mikir jangka panjang sih udah, tapi realisasinya belum waktunya. Balik ke masalah ini, saya hanya menghela nafas panjang. Duh.. kok terjadi lagi yak.. sekali lagi kena masalah kayak gini, harusnya saya dapat piring cantik. haha.

Kembali ke cerita saya tentang bapernya sahabat saya, saya menutup malam dengan senyum dan syukur. Terimakasih. Betapa Tuhan itu manis. Ia tidak membiarkan saya dibunuh (lagi) oleh prasangka. Tuhan mengirim malaikat yang dengan terbukanya menjelaskan perasaannya dan kami berusaha untuk meluruskan prasangka. Jika saja dia tidak bercerita, maka ia hanya akan ditikam perasaan ragunya. Dan saya akan jadi korban yang tidak tahu menahu duduk perkara –yang mungkin jika suatu saat nanti ada masalah, saya adalah yang paling tertikam karena ketidaktahuan ini-. Yang besok bakal emosi mingseg mingseg lagi karena emosi ditusuk perasaan dan menangisi hancurnya hubungan persahabatan dan kekeluargaan yang sudah dibangun begitu lamanya. Kalau ketemu langsung dan bercerita seperti ini kan lega. Tidak akan ada prasangka yang akan membunuh orang orang di dalam lingkaran ini. Peluk dan terimakasih.

Muara Tenang #3: Ziarah

Saya sempat kebingungan ketika mendengar term ziarah. Saya terbiasa menggunakan kata itu secara semantik untuk menyebut kunjungan ke makam. Tapi, ternyata dalam kamus Bahasa Indonesia, ziarah bisa berarti mengunjungi. Mengunjungi siapa? baik mahluk hidup maupun yang sudah tidak hidup. Jadi, kalau di lingkungan saya di rumah, kata ziarah mengalami penyempitan makna sedangkan di semendo, mengalami perluasan makna. Wahaha. Ini emang kayaknya sayanya aja yang kurang gahol sampe nggak ngerti gitu. Haha.

Selain berkunjung ke makam makam setempat (ada beberapa kerabat yang dimakamkan disana), saya juga berziarah ke rumah rumah saudara. Mari berziarah dahulu ke tempat Bi Kartubi “mari berkunjung ke tempat Bibi Kartubi”. Berziarah ke yang masih hidup punya tujuan menyambung silaturahmi sedangkan berziarah yang sudah meninggal berarti mengirim doa untuk mendiang yang sudah duluan berpulang.

Oleh karena kunjungan saya ke Semendo hampir bertepatan dengan bulan puasa, maka saya sempat merasakan prosesi ruwahan. Ternyata namanya pun sama seperti di Jawa. Ruwahan, arwahan. Bersih desa kemudian melakukan doa doa untuk nenek moyang. Tidak harus dilakukan di makam. Di rumah pun juga bisa.

Di rumah kakek saya waktu itu sempat dilakukan prosesi ruwahan. Kami mengundang tetangga tetangga untuk datang selepas maghrib. Setelah mereka berdatangan, prosesi doa dimulailah oleh tetua. Usai doa, orang yang lebih muda mengambil makanan yang telah disiapkan ke ruang doa tadi. Berpiring piring makanan tersaji di atas taplak dan orang mulai makan bersama. Berbeda seperti monga ruwa di Gorontalo, tidak ada uang sedekah yang diberikan oleh rumah yang menyelenggarakan ruwahan. Prosesi ditutup dengan bersalaman seluruh tamu yang hadir dan semuanya pulang ke rumah masing masing. Tersisa keluarga utama yang memulai makan malam mereka.

Woaaah.. sungguh beruntung karena pengalaman menyaksikan upacara adat adalah pengalaman yang mengesankan. Thanks Allah.

Perkara Jodoh #2 : Poligami

Matahari belum juga menunjukkan lambaiannya yang biasanya panas. Perjalanan pulang dari jalan jalan ringan juga belum juga sampai ke rumah. Kami ngobrol ngalor ngidul dan entah bagaimana sampailah kami pada topik bahasan poligami.

“Mbak siap nggak? Gimana menurut mbak?”. Saya memberikan beberapa opsi yang menurut saya akan saya lakukan jika menemukan hal tersebut dalam kehidupan saya.

Matanya memerah dan air bening mengalir pelan di pelupuk anak gadis ini. Sangat terlihat bahwa ia mencoba untuk melepaskan emosi yang sebenarnya sudah sering ia rasakan. “Saya nggak mau mengulangi mbak. Sudah cukup saya dan kakak saja yang jadi korban”. Trenyuh rasanya.

Bicara soal poligami, jadi ingat gojekan dari teman teman. Ada yang sempat menggoda teman teman perempuannya dengan bilang “kamu mau nggak jadi yang ketiga. Yang paling disayang kok”. Kalau digituin jelas saja saya mencak-mencak. “lading, mas” (mau tak lempar pisau, Mas?)

Ingatkah dengan riwayat bahwa Aisyah mencemburui Siti Khadijah?. Ya. Khadijah adalah long lasting love Muhammad. Cinta pertama Nabi yang tak pernah lekang sedikitpun. Beliau ada pada masa berat beratnya Nabi menjalani tahun tahun awal kenabian. Seseorang yang selalu ada dalam masa apapun, sedih senang Nabi. Wajar apabila bekasnya amat dalam. Buat sebagian orang kekinian, mantan pacar aja bisa bikin baper apalagi istri sesempurna Khadijah. Padahal apa sih yang kurang dari Aisyah? Muda, solehah, cantik, pintar. Sempurna juga. Nabi juga sangat mencintai Aisyah. Sangat. Tapi.. ingatan soal Khadijah tentunya masih bikin baper Nabi.

Jadi ingat pembicaraan saya, Suko, Nower dan Hulul empat tahun lalu. Mau milih Khadijah yang tua tapi keibuan atau Aisyah yang muda, cantik luar biasa, pintar?. Nah lho.. buat bapak bapak, apa nggak bingung dikasih pilihan kayak gitu. Kembali ke cemburunya Aisyah ke Khadijah, saya rasa begitulah hukum perempuan dalam satu lingkaran pernikahan. Nggak ada yang nggak merasa cemburu. Apa iya sih perempuan rela rela aja dimadu. Hanya kasus tertentu saja. Hanya orang orang khusus saja yang rela dimadu. Pasti sekali dua kali pernah merasa baper, iri dan dengki melihat perempuan lain. Alamiah lah. Perempuan ingin jadi satu satunya dalam hidup suaminya. Kalau liat perempuan lain, komennya mungkin cuma satu: lading mas..

Di sebuah mobil yang melaju ke tempat saya volunteering mengajar di Desa Sebatang, semua orang membicarakan tentang salah satu kawan mereka yang akan menikah pertengahan tahun ini. “Kok bisa ya ceweknya bersedia dipoligami”. “Lhoh..iya ta? Masak sih?”. “Iya, kan sama mantan calonnya yang dulu batal nikah kan dia. Soalnya mantannya itu nggak mau dipoligami”. Bersahut sahutan obrolan kami ini membicarakan tentang topik poligami. Bagaimana tidak, mas mas calon mempelai ini akhirnya menemukan perempuan yang bersedia dipoligami. Duh.. mari kita garis bawahi kata bersedia. Sungguh perempuan yang waw emejing banget yang jaman sekarang mau dimadu, dan mbak calon mempelai ini bersedia. Wanita bermental baja. Applaus meriah deh buat mbaknya. Semoga pernikahan kalian sakinah mawaddah warrohmah.

Seorang ibu mencari yang mencari kebenaran bak detektif terkejut ketika mendapati suaminya telah memiliki seorang putri kecil. Ya, putri kecil hasil pernikahan kedua yang tanpa ia tahu sudah terjadi bertahun tahun lalu. Dan suaminya itu minta kedua istrinya berdamai dan hidup dengan baik baik tanpa permusuhan. Hidup damai, sudah. Tanpa permusuhan, sudah. Tapi lukanya tentu tak akan baik baik saja. Luka karena kejujuran sudah tercoreng, luka karena berbagi cinta, luka karena ia dan anak anaknya tersakiti. “Ketika tahu berita itu mbak, saya masih kelas empat dan kakak sudah agak besar. Saya menangis.waktu itu”. “Ketika ada acara penting waktu itu, ayah ingin membawa kedua istri beserta anak anaknya. Jelas ibu saya mencak mencak. Bagaimana bisa kami disandingkan bersama, mau ditaruh mana muka ibu saya. Bagaimana nanti komentar orang, apa tidak menyakiti perasaan ibu saya kalau begitu”. Si anak gadis ini jelas terluka dengan sangat. Bahkan hingga saat ini. “Saya tidak ingin hal itu menimpa anak anak saya kelak.”.

Efek pernikahan kedua ayahnya, membuat anak ini dan saudaranya melihat dunia dengan sudut pandang berbeda. Saya mengenal anak pertama sebagai anak yang tough. Sangat sangat tough sehingga ada potensi dominansi. Kemandiriannya jangan ditanya, sangat perfect. Tidak ada yang dia tidak bisa lakukan karena dia banyak memilih untuk melakukan semuanya sendirian. Ia juga sosok yang dihormati karena ia adalah seorang leader yang bisa menempatkan diri dimanapun ia berada. Tapi tidak banyak yang paham bahwa ia dibentuk dari rasa sakit hati dan luka. Banyak hal ia lakukan untuk membunuh waktu, agar ia tak memikirkan luka yang ia derita. Maka, ia jadi orang sibuk yang serba bisa. Kesabaran, waktu dan luka adalah tempaan untuk hidupnya hingga ia bisa jadi orang yang tegar seperti sekarang. Ia melihat laki laki sebagai partner kerja, bukan partner yang bisa diajak berbagi. Ia menahan diri untuk tidak jatuh cinta karena masih ada trauma pada laki laki. Sebagian hatinya sepertinya masih memusuhi mahluk bernama laki laki, walaupun kesehariannya ia baik pada siapapun termasuk laki laki. Sebuah hal yang bisa dimaklumi jika paham bahwa background keluarganya membuatnya belum bisa membuka hati. Hanya ada satu dua orang yang bisa dekat dengannya secara emosional. Nampaknya hanya waktu yang bisa menyembuhkan segalanya dan meluluhkan hatinya. Saya penasaran siapa yang kelak menjadi pendamping untuk selamanya di pelaminan. Haha. *inget.. kateringnya yang enak lho.. saya tamu nggak tau diri. Makannya banyak. Wkwkwkw.

Berbeda dengan adiknya. Adiknya tipikalnya sedikit lebih manja. Apalagi kondisi tubuhnya memang tidak fit karena sakit pada organ dalamnya. Ia tidak sesibuk kakaknya karena ia sakit. Lagipula si adik ini punya perasaan yang lebih halus –rapuh. Kalau kakaknya hampir tidak main perasaan, adiknya masih memakai perasaan. Bahkan ia hampir jadi tetangga saya karena pernah jadian dengan adik angkatan saya SMA dulu. Haha. *ya ampun.. ternyata dunia sesempit itu, kita hampir tetanggaan. Wkwkw-. Intinya lebih kalem lah anaknya.

Gimana dengan kasus poligami karena masalah kebutuhan?. Saya rasa tidak ada satupun perempuan dalam kondisi normal yang bersedia ikhlas dimadu. Salah satu kakek dari keluarga besar saya melakukan poligami karena istri pertamanya mengalami sakit parah. Hebatnya lagi hingga masa tua mereka, nenek kandung dan nenek tiri saya bisa bekerja sama dengan sangat baik. Dan untuk nenek kandung, entah bagaimana beliau bisa dengan besar hati merelakan suaminya berbagi hati. Ia terima semua dengan lapang dada. Di usianya yang sudah hampir sembilan puluhan, ia masih sering berjalan jalan keliling desa dan menengok nenek tiri. Dahulu ketika nenek kandung sakit, nenek tiri lah yang mengusahakan makan dan kebutuhan semua anak anaknya termasuk anak kandung. Hingga mereka semua bisa jadi orang. “Umak, tidakkah Umak dahulu merasa letih karena mengurus kami juga?” tanya salah satu anak dari nenek kandung kepada nenek tiri. “Tidak sama sekali. Ikhlas, itulah” begitu jawaban dari nenek tiri. Dan kerjakeras nenek tiri memang berbayar dengan cinta dari semua anak anak baik dari nenek kandung maupun nenek tiri. Masya Allah. Seluas samudra nenek tiri ini. Memang luar biasa pengorbanan nenek tiri. Saya menaruh hormat pada beliau.

Kasus kedua, nenek keluarga besar saya yang lain. Di masa mudanya, kakek keluarga besar saya memiliki istri lagi. Walaupun dimaki maki oleh buyut karena tidak setuju dengan calon dan cara nenek saya, tetap ia tak bergeming, yang ia inginkan hanya menikah lagi. Ah, entah apa yang dipikirkan oleh wanita yang berhasil menggoda salah satu kakek saya itu. Beliau berpaling dari nenek. Entah bagaimana perasaan nenek buyut saya yang dimadu suaminya. Hingga masa tuanya beliau tidak melakukan balas dendam atau makian atau apa pada suaminya yang telah dengan kurang ajarnya melangkahi keadilan tanpa ijin. Padahal setahu saya nenek adalah seorang mualaf. Bisa saja ia kecewa dengan hidup, tapi ia tak juga balas dendam dengan kembali ke agama lamanya. Ia malah tetap ke masjid, mengaji dan menjadi seorang muslim yang teguh pada agama dan keluarganya. Di masa senjanya saya sering melihatnya duduk tepekur di masjid, melantunkan banyak doa. Pulang, ia tidak enak tidur begitu saja. Beliau menyiapkan adonan gorengan yang sudah harus dititipkan pada tetangga tetangga satu desa. Ia dan anak perempuan ketiganya yang waktu itu masih gadis harus bangun pukul dua pagi dan mengolah dapur hingga mentari telah tinggi. Tugas tak berhenti. Dua anak beranak harus bersiap mengajar ke sekolah yang berjarak kurang lebih dua kilometer. Sungguh hidup adalah perjuangan.

Kurang kasih sayang ayah dan terkena dampak buruk bahtera pernikahan yang timpang. Mungkin itulah yang dirasakan oleh putra putri nenek saya itu dan berimbas pada kehidupan mereka. Anak pertama rumah tangganya juga sedikit berantakan. Anak kedua hidupnya terlunta lunta. Beliau pernah menangis karena ketika mengadu pada ayahnya tentang kuliah Widio, sepupu saya, beliau mendapatkan jawaban kurang mengenakkan “kalau nggak sanggup berhenti saja”. Padahal ia mengharapkan dikuatkan oleh seorang ayah. Ia pulang dengan hati tersayat. Anak ketiga baru benar benar menikah dengan orang yang baik di usia yang cukup matang –dimana resiko untuk memiliki anak sangat riskan-. Itupun setelah si anak ketiga harus merasakan pedihnya dikhianati laki laki bajingan mantan suami pertamanya. Anak ke empat, laki laki, tak bisa diharapkan untuk mandiri. Kerjanya hanya lontang lantung tak karuan dan sangat bergantung pada ibunya. Ia kecewa berat pada ayah yang tak pernah bisa jadi contoh. Hingga saat ini, om saya itu tak juga mau menikah. Takut pada pahitnya pernikahan.

Hubungan dengan keluarga istri kedua suaminya pun tidak akrab. Berjarak malah. Ya, tentu saja. Pahitnya sikap ayah membuat mereka menemukan bahwa jarak adalah penawar perih yang tak kunjung sembuh. Memaafkan yang barangkali bisa terucap tentu tak akan dengan mudahnya diamalkan. Ngomong emang gampang. Tapi menjalani, itulah yang tidak semudah kita mengucapkan.

Ayah saya punya banyak gebetan di masa mudanya. “Pacarnya bapakmu cantik cantik” begitu ibu bilang. Tapi ketika menjatuhkan pilihan untuk ibu saya, beliau sudah bersumpah pada Tuhan bahwa ibu saya adalah wanita kedua di dunia yang paling ia cintai setelah ibunya (nenek saya). Maka, ia  juga mengikat sumpah pada Tuhan untuk tidak menyakiti perasaan ibu saya dengan memiliki istri dua walapun bisa saja dengan mudahnya ia menerima mantannya yang masih mengejar ngejar dia waktu itu. (Saya malah berteman dengan putra putri mantan fans ayah saya ketika saya SMP. Haha. Epik yak..)

Saya pun juga belajar dari pengalaman itu. Cinta ayah saya yang besar untuk ibuk dan anak anaknya membuat saya berjanji dalam hati bahwa saya pun akan seperti beliau: saya adalah satu satunya untuk imam saya dan anak saya nantinya. Itu adalah kondisi normal dimana semua orang bisa dengan idealisnya bilang bahwa kita akan jadi satu satunya yang paling setia sehidup semati. Tapi bagaimana jika kita dihadapkan pada kondisi yang cukup melenceng?. Bagaimana jika imam saya nantinya melakukan perselingkuhan dan tanpa ba bi bu menikah tanpa saya tahu. Menikah tanpa saya pahami bahwa ia bertemu seorang perempuan lain (yang mungkin lebih menarik) dan hubungan mereka sudah berlanjut hingga perempuan merawat si anak yang sudah cukup besar. Bagaimana jika imam saya nanti meminta ijin ke saya untuk menikah lagi dengan seorang yang sudah janda dan butuh bantuan?. Bagaimana jika imam saya nanti justru menceraikan saya dan lebih memilih perempuan lain? Semua hal berkecamuk dan benar benar harus dipikirkan karena menikah bukan hanya soal dengan siapa tapi juga kesiapan mental yang menguras hati. Hmm.. po ra modyaaar aku mas.. (duh.. apa aku nggak mati mas..)

Kasus dimana teman saya ini orang tuanya masih tetap mempertahankan hubungannya karena anak. Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika posisi saya menjadi teman saya. Apakah saya sanggup bertahan dengan pernikahan yang katakanlah berbagi hati. Apakah saya sanggup membagi separuh hidup saya dengan perempuan lain (yang besar kemungkinan akan saya cemburui karena akan membuat saya menangisi sepanjang hidup atas kehilangan saya atas sosok imam yang saya harapkan akan jadi satu satunya leader untuk saya dan anak anak). Apakah saya sanggup menerima kenyataan bahwa laki laki tidak bisa menjaga mata dan hatinya untuk satu orang perempuan saja. Apakah saya sanggup mempertahankan hubungan saya dengan suami saya demi anak anak? Namun jika saya memutuskan untuk berpisah, apakah saya sanggup untuk melihat anak anak saya tersakiti karena kehilangan sosok ayah di rumah? Walau bagaimanapun juga perceraian adalah satu sosok yang paling menyakitkan untuk dikenang. Ah, sungguh saya tidak sanggup. Sungguh sungguh berat dan tidak sanggup. Dan semoga saya adalah satu satunya pendamping (dan bukan satu dari yang lainnya) dalam hidup imam  (saya menjadi yang nomer dua, setelah ibunya. Ya, karena ibu adalah sosok perempuan pertama dan selamanya yang harus dihormati suami) keluarga saya nanti. Mudah mudahan Tuhan mengijabah permintaan sederhana ini.

Muara Tenang #2: Tangkiang dan Perut Kita

Indonesia itu negara agraris dimana lahanya merupakan sumber pangan bagi orang orang yang hidup di dalamnya. Jangankan tanahnya, lautnya pun juga lahan pangan. Sungguh negeri kaya raya. Makanya lagunya Koes Plus “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Ngomong omong soal agraria di Indonesia, tentunya tidak akan lepas dari padi padian sebagai sumber bahan pokok orang orang kita. Padi, makanan yang tak akan jemu dimakan oleh orang Indonesia. Bukan makan namanya kalau nggak pakai nasi. Mau sarapan seberat apapun kalau bukan nasi ya bukan. Haha. *curhat.

Perjalanan saya ke Muara Enim memberikan pengetahuan baru tentang kearifan lokal suku Semendo. Padi lokal disana tumbuh setinggi anak kecil. Ya, benar benar setinggi anak kecil usia lima enam tahunan, bahkan bisa lebih tinggi lagi. Sesuatu yang tidak saya lihat di Jawa. (norak? Ya. Anggap saja begitu). Kata orang setempat, padi yang saya lihat itu bernama padi Batang Gadis. Musim persemaiannya mencapai tiga setengah bulan. Belum lagi hingga menunggu masa panen selesai, butuh waktu kurang lebih enam bulan. Maka orang disini hanya panen sekali dua kali dalam setahun. Berbeda dengan di Jawa yang panennya bisa mencapai tiga kali masa panen maksimal. Karakter tanaman padi di Jawa pun bukan padi tinggi melainkan padi rendah yang paling maksimal tingginya hanya setengah betis.

Pada tahun 2013, Kadin Pertanian, Bapak Said Ali pernah mengujicoba padi pendek yang mampu menghasilkan jumlah panen yang lebih banyak dibandingkan dengan padi lokal. Panen raya dihelat dengan semarak bahkan mengundang Menteri Pertanian pada jamannya, Anton Apriyantono. Akan tetapi selepasnya warga kembali ke padi lokal. Alasannya mereka tidak sanggup untuk terus menerus melakukan penanaman. Kurang sumber daya. Begitulah.

Prosesi pemanenan dilakukan dengan memotong batang padi dan kemudian mengikatnya pada seutas tali talian dan menyimpannya di tangkiang (lumbung). Lumbung-lumbung itu adalah bangunan kecil yang berdiri di ladang mereka. Ada puluhan tangkiang tersebar di sawah sawah Muara Enim. Sangat banyak. Seusai panen pun tidak bisa langsung menggunakan padi yang sudah disimpan di tangkiang. Butuh waktu sekian lamanya sebelum bisa mengambil padi padian. Tujuannya agar padi bisa lebih berkah. Rejeki bisa mengendap. Begitulah.

IMG_9115

Tangkiang di Desa Tanjung Tiga, Semendo

Usai prosesi panen, diadakan selamatan yang mengundang seluruh warga desa. Doa doa dari pemuka adat setempat kemudian ditutup dengan makan makan bersama. Bukan hanya rasa syukur atas rejeki namun rasa syukur atas kebersamaan karena kekeluargaan bisa membuat mereka bertahan hidup selama ratusan tahun di tanah itu. Ya, karena mengerjakan sawah tidak bisa hanya sendirian. Butuh gotong royong.

Saya jadi ingat tentang seminar yang pernah saya ikuti di tahun 2015 lalu. Seorang CEO dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian, Javara, menginspirasi saya. Beliau bercerita tentang sebuah daerah di Jawa Barat yang masih memiliki lumbung padi yang bertahan kurang lebih enam ratus lima puluh tahun. Dan selama itu mereka tidak pernah mengalami kelaparan. Ada benih padi yang berusia tiga ratusan tahun masih tersimpan di salah satu lumbung desa. Sistem pertanian disana hanya panen maksimal dua kali dalam satu tahun. Panen tersebut disimpan di lumbung dan hanya diambil secukupnya saja. Satu rumah setidaknya memiliki empat atau lima lumbung padi, hingga saat ini.

Duh.. sayang sekali saya tidak ingat apa nama desa itu. Tapi mendengar ada sekumpulan orang yang nggak pernah merasakan kelaparan hingga ratusan tahun karena mereka menjaga adatnya, itu something emejing. Very very emejing. Bagaimana tidak. Jaman sekarang siapa sih yang masih peduli sama pertanian? Nggak banyak. Orang cuma kepikiran gimana caranya dapat duit dari apapun yang menghasilkan. Kalau bisa sebanyak banyaknya. Itu mindset jaman sekarang. Jadi ingat pembicaraan saya, Imron dan mendiang Gembel di bulan November 2015 ketika kami nonton konser di GSP. Kami malah menyepi di lapangan belakang sambil menontoni cahaya lampu konser dan mengobrol ngalor ngidul pertanian di negeri ini. Ah.. kami prihatin. Sangat.

Kembali ke cerita sebuah desa itu tadi, saya juga baru dengar cerita bahwa tumbuhan itu juga punya perasaan. Kok bisa?. Nah, ceritanya si Ibu CEO ini tadi diajak ke sawah. Tapi si pemilik sawah tanya duluan “Neng moodnya sedang bagus apa lagi buruk”. Nah lho.. ditanyain mood segala. Saya pun juga akan tertegun kalau ditanya seperti itu. Apa hubungannya mood sama sawah. Peduli apa. Gitu kan.. Lalu si bapak menjawab “kalau perasaan neng lagi buruk, nggak usah ikut. Kasihan tanaman tanaman saya. Mereka juga mahluk hidup. Mood itu menjalar”. Wiii… saya takjub. Teori mengenai perasaan yang menjalar memang saya tahu betul. Tapi bukankah itu antara kita dengan teman teman di lingkungan kita sendiri?. Dan cerita dari CEO Javara itu membuat saya berpikir lebih jauh. Iya ya, tanaman kan juga mahluk hidup. Satu dengan lainnya mempengaruhi. Apabila kita si manusia pun bisa mempengaruhi mood manusia lain, maka tanaman pun juga bisa karena mereka juga mahluk hidup. Subhanallah. Jadi, ini bukan hanya tentang bagaimana bisa menghasilkan. Tapi ini bagaimana hubungan kita dengan alam semesta. Bukan cuma soal muamalah kita dengan Tuhan dan manusia, namun juga dengan mahluk hidup di sekitar kita.

Cerita lainnya, tentang hubungan desa itu dengan alamnya. Panen yang hanya dua kali dalam satu tahun itu disyukuri penuh oleh warga di dalamnya. Tidak hanya lewat doa saja namun juga sikap. Kenapa kok hanya dua kali? Padahal kalau mau tiga kali sebenarnya bisa bisa saja. Mereka merasa tanah dan alam sekitar itu adalah mahluk hidup yang juga butuh hidup. Adanya panen dua kali memberikan kesempatan untuk alam bernafas. Semacam mengistirahatkan mereka karena memang setiap mahluk sudah diberi jatah masing masing. Tidak ada serangan tikus, hama apapun selama ratusan tahun. Tidak ada gagal panen. Ketika ditanyakan mengapa bisa tidak ada tikus?. Si pemilik sawah menjawab “hasil panen bulan Mei ke atas bukan milik manusia”. Jadi.. pelajarannya adalah, manusia bukan penguasa alam absolut. Manusia harusnya bisa menjadi rahmatan lil alamin. Penyeimbang alam karena diantara semua mahluk yang disinggahkan ke bumi, manusialah yang dianugerahi akal. Sangat masuk diakal apabila orang disana mengistirahatkan tanah dan tidak memaksakan alam untuk bekerja terus menerus untuk kebutuhan manusia semata. Ada hak hak mahluk lain yang harus dipenuhi. Dan.. wajar ketika den bagus tikus menyerang. Ya, karena bukan hak kita.

Melihat potensi pesawahan di Semendo membuat saya mulai mencermati kembali kearifan lokal tiap daerah. Kemudian cerita tentang CEO Javara yang mengunjungi sebuah lumbung desa di Jawa Barat dan sekali lagi, desa kakek saya Semendo. Ini tentang makanan. Kebutuhan pokok mahluk hidup.

Jawa dengan kearifannya sendiri –yang sudah sangat amat teramat sangat luntur sekali- sungguh memprihatinkan. Sekarang saya sudah tidak pernah menemukan tradisi baritan (wiwitan) –prosesi ritual doa sebelum musim tanam- dijalankan. Desa saya di Karang Tengah yang luas dengan sawah tidak lagi ada syukuran awal mula panen. Tidak seperti yang diceritakan ibu ketika beliau masih belia. Tidak ada lagi prosesi syukuran pasca panen. Tidak ada lagi lumbung lumbung desa. Itu kenapa saya berteriak norak ketika saya menemukan sebuah foto di laman Wikipedia milik Museum Tropen Belanda yang memperlihatkan foto lawas lumbung padi di desa saya. Ya, desa saya. Karangtengah, Tuntang, Kabupaten Semarang. Sekelompok orang jaman kuno –yang saya yakin salah satunya mungkin saja nenek moyang ibu saya- berfoto di depan lumbung padi yang saya yakin ada di desa nenek saya pihak ibu tersebut. Sumpah, gimana nggak norak. Itu adalah sejarah yang hilang. Sekarang? Jangan harap bisa menemukan lagi lumbung desa. Yang tersisa adalah gubuk gubuk pelepas lelah di tengah sawah. Semua serba cepat dan komersial. Padi hibrida ditanam, ditunggu masa panen, dipanen, dijual, dapat uang, tanam lagi, kena tikus-wereng, rusak, tanam lagi. Begitu sudah. Jangan harap menemukan gabah tua berumur puluhan bahkan ratusan tahun di desa saya.

macanan

 Prosesi syukuran panenan di Desa Karangtengah, Tuntang, Kab Semarang pada tahun 1910 (foto dimuat di Wikipedia Indonesia, Museum Tropen Belanda)

Ah.. janganlah tangkiang tangkiang itu hilang. Ia adalah penyambung hidup manusia. Sampai kapanpun kita tidak akan sanggup berpuasa makan nasi selamanya. Makan adalah kebutuhan yang tidak akan pernah jemu. Ya.. selamanya.

Ibu Hilang!

Mbak.. ibuk hilang.. ibuk turun barusan.. saya yang melamun terhentak karena adik saya berteriak. Kami sedikit bertengkar karena kecerobohan kami –dan ibu saya- di dalam bis TransJogja waktu itu -sembilan belas Mei lalu-.

Kami tidak bisa menghentikan bis karena SOP bis transjogja tidak memperbolehkan bis berhenti sembarangan. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk berhenti di halte depan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Jogja kemudian kembali berjalan ke halte tempat ibu saya tadi turun. Halte ketiga tidak ketemu, halte dua nihil dan halte pertama tak ada hasil. Kami memutuskan untuk membeli tiket dan lanjut naik bis. Dalam doa, kami berharap semoga kami bisa bertemu beliau di stasiun Jombor.

Perasaan kalut menguasai pikiran kami. Apakah ibu kami bawa uang (salah satu tas yang harusnya ibu bawa pulang malah terbawa kami), apakah ibu tahu jalur mana yang harus diambil untuk sampai ke Jombor, apakah ibu baik baik saja dan seabrek pikiran was was lainnya. Mana ibu saya tidak bawa ponsel. Duh.

Jadi.. ceritanya adalah.. saya, ibu dan adik saya pergi ke Pasar Beringharjo untuk berjalan jalan sebelum mengantar ibu saya stasiun. Pada awalnya kami ingin mengantarnya menuju stasiun Tugu, yang terdekat dengan Malioboro. Kemudian rencana tersebut berubah karena ibu saya ngotot ingin diantarkan ke terminal Jombor untuk menemani kami mencari tiket ke Muara Enim. Yasudah, sabda pandhita ratu. Apa yang ibu bilang bagaikan sabda ratu. Mau tidak mau harus dituruti. Usai keluar masuk Bering, kami bertiga menuju ke masjid dan halte transjogja. Ketika sudah mendapatkan bis yang akan mengantarkan kami ke Jombor terjadilah peristiwa kecer-nya ibu saya.

Di stasiun Jombor, kami sempat menunggu sebentar untuk mencari ibu kami barangkali beliau ada di bis belakang kami. Tapi hasilnya tidak ada satupun orang yang berciri ciri seperti ibu kami. Bahkan kami memutuskan untuk berkeliling Jombor, sudah seperti tawaf barangkali. Berharap ibu kami menunggu di salah satu sudut Jombor untuk menemani kami mencari tiket ke Muara Enim. Tapi.. tak ada. Hanya doa lagi dan lagi. Berharap semoga ia sudah naik bis yang mengantarkannya ke rumah. Positif thinkingnya, beliau dulu adalah anak main yang tahu betul jalan. Jadi.. tak akan tersesat.

Saya tidak berani menghubungi ayah saya atau adik laki laki saya di rumah. Bagaimana saya bisa membayangkan mereka juga akan kebingungan. Jadi, saya memutuskan untuk menunggu barang tiga atau empat jam sebelum benar benar menekan nomer ponsel ayah saya. Jika pukul setengah tiga sore ibu sudah sampai Jombor, maka estimasinya pada pukul setengah enam beliau sudah harus sampai di Salatiga. Dan saya baru akan menelepon rumah pada ba’da magrib untuk menanyakan apakah ibu sudah pulang.

Pukul enam, waktu maghrib saya masih bertemu Santika, Helmi, Niam di perpustakaan. Tetiba ponsel berdering, ternyata bapak saya menelepon. Namun rupanya bukan suara bapak. Suara perempuan yang saya kenal baik sebagai ibu!. Waaaaaaaa… rasaaaanyaaaaaaaa…. Tuhan.. beri hambamu ampunanmu.

Akhirnya kami lega ibu sudah kembali ke rumah dengan selamat. Sungguh hari yang luar biasa.

Rasa rasanya ketawa waktu ingat kejadian itu. Gimana nggak kalut setengah mati. Orang yang harusnya dijaga malah ilang. Saat itu ingatan saya menerawang ke masa ketika saya masih kecil. Adik perempuan saya masih berusia tiga tahun ketika ibu membawa kami ke pasar Blauran, di Salatiga. Saya digandeng dan adik digendong waktu itu. Hingga sampai ke los ikan, beliau menurunkan adik saya dan kami berjalan-jalan seenak udel sementara ibu menawar ikan. Saya terbengong bengong melihat ikan dan suasana pasar yang ramai. Sementara adik saya sudah dengan lincahnya berpindah pindah ke satu penjual ke penjual lain. Ngapain dia? Ya namanya anak kecil, mungkin ia penasaran dengan barang barang yang dijual disana. Adik saya itu tidak lepas dari pandangan saya. Dan.. lima menit kemudian ibu saya kebingungan mencari adik saya. Ia berlari diantara riuhnya pasar dan bertanya kesana kemari mencari seorang anak kecil mini berambut pendek berombak yang sedikit kekuningan. Situasi sangat kalut waktu itu. Hanya saya yang masih bengong karena bingung ngapain ibuk lari lari kesana kemari sedangkan saya masih melihat adik perempuan saya mainan bawang merah di ujung sana. Hingga kemudian ibu saya menemukan adik perempuan saya tersebut, beliau menangis dan mencium adik. Ibu benar benar kalut dan sangat khawatir adik perempuan saya kecer. Apalagi banyak berita mengenai penculikan dan pembunuhan. Jangan sampai anak anaknya mati nggak jelas. Itu berarti ia tidak bisa menjaga titipan Tuhan. Begitu.

Ketika ibu saya hilang di Malioboro, saya merasakan apa yang ibu saya rasakan berpuluh tahun lalu. Kalut. Sangat. Kehilangan orang yang disayangi akan menghancurkan perasaan kita sangat dalam. Saya tidak bisa membayangkan jika kejadian buruk menimpa adik saya ketika ia dulu di pasar. Saya mungkin akan menemukan ibu saya sudah jadi gila sekarang. Dan.. pelajarannya adalah.. jaga dan sayangi orang yang kita cintai.

Muara Tenang #1

Tahun ini saya berkesempatan untuk nggembel lagi ke pulau seberang, Sumatera. Bersama adik perempuan saya, kami melintasi jarak ratusan kilometer ke arah barat –bukan untuk mencari kitab suci- tapi untuk nggembel. Haha. Swarnadwipa, sambutlah kami.

Dengan uang tipis pemberian ayah, kami berangkat dengan menggunakan bis Rosalia kearah Muara Enim. Pelayanannya  cukup baik. Bahkan ketika kami pulang dan tidak sengaja tertidur, kondekturnya diam diam menyelimuti kami. Co cwiiit.

Saya tidak tahu bagaimana bosannya jika adik saya tak turut serta dalam perjalanan ini. Ya, katakanlah sister traveler. Hehe. Sungguh menyenangkan perjalanan bersama saudara saya ini. Perjalanan dimulai sejak jumat sore pukul 4 sore. Tiga jam kemudian kami sampai di Kebumen dimana kami akan transit ke bis Rosalia lain sekaligus makan malam. Kami menukar kupon makan dengan sepiring nasi dan lauk pauk yang setidaknya cukup untuk mengganjal perut keroncongan. Dua jam di pondok makan itu, kami segera berangkat.

Pukul delapan pagi, kami sampai di Rangkasbitung untuk sarapan dan berganti bis lagi. Tidak sampai satu jam, kami bertolak menuju dermaga Merak. Saya terbangun dan tiba tiba disuruh naik ke kapal. Ini pertama kalinya kami melakukan perjalanan dengan kapal menembus Selat Sunda menuju Pulau Sumatera. Kapal yang cukup menyenangkan dan bagus. Dua jam kemudian, kami sampai di Lampung.

Pertama kali inilah kami menginjakkan kaki di Pulau Sumatera. Mulai dari Lampung, perjalanan teramat membosankan. Seolah olah jalannya teramat sangat panjang hingga terasa tak sampai sampai di tujuan. Kanan hutan sawit, kiri hutan lain. Kanan rumah warga, kiri hutan lagi. Begitu terus sepanjang perjalanan. Kota Bumi, Baturaja dan hingga tengah malam kami sampai di Muara Enim -kota tambang Batubara.

Oleh kerabat, kami dijemput di pool (orang setempat menyebutnya loket) Rosalia. Ada beberapa orang yang juga turun disini termasuk dua nenek gahol berusia tujuh puluhan yang melakukan perjalanan ke Kebumen untuk menghadiri pernikahan cucunya. War biasaa. Beliau berdua mengaku sudah sangat sering bepergian jauh kemanapun dengan moda transportasi apapun. Bahkan salah satu dari nenek itu biasa bepergian sendirian. Di usia senja mereka, keduanya masih menikmati hidup. Ah, jadi pengen nggembel sampai tua. Nanti kalau udah tua pengen jadi nenek gahol yang suka traveling juga. *ups.

Tinggal selama kurang lebih setengah hari di rumah kerabat kami, kami berangkat ke tujuan dengan menggunakan angkot (saya lebih familiar menyebutnya otto). Mobil bak terbuka yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang. Perjalanan yang saya pikir memakan waktu hanya tiga jam ternyata molor jadi lima jam. Saking jauhnya tempatnya, dengan hentakan hentakan mobil yang terkadang oleng ke kanan kiri, beberapa penumpang mabok darat. Muntahan disertai muka pucat bukan hal yang aneh. Bahkan adik saya mukanya juga sudah kepayahan. Heatstruck membuatnya juga hampir muntah.

Pukul sepuluh pagi kami berangkat dan baru pada pukul tiga sore lebih kami sampai di desa Muara Tenang –yang bahkan itu belumlah sampai ke desa tujuan kami, Tanjung Tiga. Kanan hutan kiri hutan. Berkelak kelok dan ada sinyal!. Haha. Telkom*sel kuat. Indo**sat sinyalnya habis sudah.

Saya terkagum kagum norak pada rumah rumah di daerah ini yang satu kampungnya mungkin hanya dihuni tidak sampai dua ratus KK. Cukup kecil untuk daerah nun jauh di pedalaman Sumatera Selatan yang masih terjaga adat istiadatnya. Rumah panggung ala ala Sumatera yang berbahan baku dari kayu hutan belantara Bukit Barisan berderet deret rapi. Sebuah rumah berbentuk persegi, dengan tangga untuk menuju bagian rumah utama yang berada di atas. Rumah disini berkisar tingginya sepuluh meter an. Rumah bagian atas digunakan untuk tempat tinggal utama –ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur dan dapur. Sedangkan ruang bagian bawah untuk toko atau kandang ternak atau kamar mandi atau ruang gudang atau disewakan untuk orang lain. Kearifan lokal ini masih benar benar dijaga hingga sekarang sehingga kalaupun ada gempa, rumah tidak akan ambruk karena strukturnya yang tahan goncangan.

Tidak semua orang memiliki anjing. Tapi anjing bukan hewan yang asing disini. Anjing tidak dibiarkan masuk rumah –mereka menunggu tuannya di lantai bawah. Fungsinya adalah untuk menjaga rumah dan ikut ke kebun. Kakek saya pun juga memiliki dua anjing berwarna krem dan coklat –yang sayangnya tidak ada namanya-. Kalau itu anjing saya pasti sudah saya namain kayak kucing saya di rumah. Haha.

Makan disini mengingatkan saya pada Gorontalo. Ketika waktu makan tiba, sebuah taplak akan digelar dan semua makanan diletakkan di atasnya. Nasi, sayur berpiring piring lauk pauk, kobokan dan piring. Semua orang makan di bawah, bukan di meja makan. Bedanya, kalau di Gorontalo itu merupakan prosesi Monga Rua, kalau di sini setiap harinya emang adatnya begitu. *dan orang disini apa emang seneng banget sama ikan yak? Kok rasa rasanya menunya ikan mulu. Haha. Anyway tinggal disini sebentar memberikan saya kesempatan untuk tahu cara masak makanan tersebut.

Yang lucu adalah belum dikatakan makan apabila belum makan nasi. Ya emang tipikal Indonesia gitu sih. Dimanapun. Hehe. Tapi bertahun tahun hidup sebagai anak rantau –anak kosan lebih tepatnya-. *tau sendiri lah gimana hidup anak kosan yang harus ekstra ngirit- membuat saya terbiasa makan secukupnya saja. Suatu ketika saya ikut makan juadah pulut, nasi ketan yang dimasak gurih dengan taburan teri di dalamnya. Saya yang sebenarnya kurang menyukai nasi ketan menjadi suka. Ya, walaupun nggak terlalu banyak mengambil juadah tersebut. Sedikit porsi saja kenyangnya luar biasa. Hingga menjelang pukul sepuluh saya tidak merasa perlu makan nasi lauk yang sebenarnya sudah disiapkan. Tiba tiba salah satu Pakcik bertanya “sudah sarapan. Pakai apa tadi?”. Saya menjawab “sudah. Juadah”. “Aaiihh.. mana makan itu. belumlah itu sarapan. Ayo sarapan dahulu.”. Saya terbengong bengong. Perut saya masih luar biasa kenyang dan makanan tadi pagi hanya dianggap snack saja. Saya tertawa. Ternyata memang ‘seberat’ apapun snacknya, kalau itu bukan nasi ya tidak akan dianggap makan. Hmm.. baiklah.

Hal yang menyenangkan dari tempat ini adalah saya selalu bisa minum kopi gunung terbaik khas Semendo yang cukup tersohor. Dalam gelas kaca, saya menghirup aroma kopi yang menyeruak sambil menanti mentari naik meyinari Bukit Barisan. Terkadang menunggu kabut turun menghadiahkan hujan pada hijaunya ladang di tepi hutan. Ah, sungguh hidup adalah anugerah.

Menjelang malam, kami bersembahyang berjamaah, mengaji sebentar kemudian berkumpul di ruang tamu yang difungsikan sekaligus sebagai ruang keluarga. Seluruh anak cucu tumpah ruah mengobrol bertukar cerita satu sama lain. Sungguh kehangatan pedesaan yang menyenangkan.

Tidak ada tempat tidur layaknya tempat tidur di rumah rumah biasa. Semua orang menggelar tikar dengan kasur di atasnya dan tidur seperti ikan pindang. Berjejer jejer dalam selimut tebal untuk menghalau dinginnya pegunungan.

Dan aktifitas pagi dimulai kembali ketika fajar hampir merekah. Menangkupkan berbaris doa dalam sunyinya subuh dan kemudian.. kopi lagi. Ah.. bagaimana saya tidak jatuh cinta.

Batas Antara Hidup dan Mati

Berapa jarak hidup dan mati?. Dengan apa ia diukur? Satuan panjang, satuan berat? Satuan waktu?. Dengan apa ia bisa ditentukan?. Tidak ada. Tidak ada satupun mahluk yang tahu. Ia adalah sebuah relativitas yang datang tak diundang pulang tak dijemput. Sungguh misterius dan hanya Sang Pemilik Hidup yang tahu. Yang masih muda belum tentu akan berpulang belakangan. Yang senja pun juga tak juga bisa pergi kalau belum waktunya. Dan yang tersisa adalah harapan semata. Sampai dimana kita bisa memanfaatkan masa tinggal di bumi yang sungguh misterius lamanya.

Momen emosional terjadi beberapa kali. Pertama, lima belas tahun lalu. Saya masih sangat belia, masih SD kelas tiga ketika salah satu laki laki kesayangan ibu saya meninggal dunia. Kakek saya –yang sangat mirip dengan puyang pihak bapak- meninggal di usia enam puluh tiga tahun karena sakit prostat dan stroke yang telah menghantuinya selama puluhan tahun. Dengan masalah yang menghantam di tahun tahun akhir hayatnya, ibu saya mencoba untuk tegar mengikhlaskan. Hampir setiap jumat kami berkunjung ke rumah peristirahatan Akong –begitu saya dan adik adik saya memanggilnya- untuk mengirimkan salam. Dalam alunan tahlil dan yasin, saya melihat linangan air mata ibu selalu tak terbendung kala mengingat ayahandanya yang telah berpulang. Sedih melihat ibu saya menangis. Kenangan di makam setiap kamis sore itu membuat saya sadar bahwa jarak antara hidup dan mati dan berbanding dengan orang orang yang kita cintai. Makam, tempat terakhir untuk setiap penduduk bumi sebelum tiba masa ke akhirat. Dan disanalah saya merasa takut karena kita tidak samasekali mengetahui seberapa banyak amal yang sudah kita bawa. Yang kita tahu adalah kita samasekali buta tentang timbangan amal baik dan buruk kita. Semuanya rahasia ilahi.

Kedua, salah satu kerabat yang sangat dekat hampir meregang nyawa karena sakit parah. Sakit yang entah tidak diketahui apa yang menyerangnya selama beberapa bulan. Jauh dari rumah dan tidak tahu harus melakukan apa. Hanya doa yang bisa dilakukan. Hanya doa. Di setiap malam mengontak keluarganya, saya merasa miris karena saya begitu jauh dan tidak bisa memberikan bantuan apapun. Ada saat bertemu dengannya, seperti boneka hidup dengan gumaman dan kesakitan yang tak terlukiskan. Air mata mengalir sesenggukan karena ia ada diantara batas hidup dan mati. Butuh ketegaran untuk membuat semuanya tetap kuat. Saya menangis membayangkan ibu dan ayahnya sayu setiap waktu, badan kurus, memikirkan kesembuhan si adik ini. Tidak ada waktu tanpa memikirkan bagaimana kesembuhannya. Tidak ada cara yang tidak ditempuh untuk membuat semuanya kembali sehat sedia kala. Perekonomian sempat hampir runtuh. Putrinya yang tinggal dari jauh hanya bisa bersabar kala kiriman datang terlambat atau dalam jumlah yang sangat kecil. Yang keren adalah si putri ini bisa melakukan defense mechanismnya sendiri. Ia tahu bahwa rumahnya sedang bermasalah berat. Ia tidak mengeluhkan bahkan ia dengan tegaknya menghapus linangan air mata dan tersenyum kembali. “Bu, Pak, urus adik saja. Dia yang lebih butuh perhatian. Jangan pedulikan saya. Saya masih bisa bertahan dan berusaha.”. Si gadis ini berusaha melukis kembali senyuman orang tuanya dengan fokus mempertahankan hidupnya agar tidak ikut berantakan karena masalah ini. Ia masih tetap semangat belajar dan berusaha bertahan di tengah getir kota rantau. Kecenya, dia bertahan dengan caranya.

Saya belajar tentang kuatnya sebuah keluarga. Saya belajar bahwa dukungan keluarga sangat membantu dalam penyembuhan. Ada banyak orang yang gila atau mati di luar sana akibat sebuah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan. Mereka tak begitu beruntung karena lambatnya penanganan dan kurangnya dukungan (mental, fisik, finansial). Pelukan dari keluarga, terutama ayah ibu dan doa yang dipanjatkan ke Yang Kuasa mampu membawa kesembuhan. Satu satunya yang dipedulikan adalah kesembuhan, keselamatan si adik kecil. Saya membayangkan saya ada di posisi orang tuanya. Bagaimana saya harus berjuang sekian bulan –bahkan tahun- untuk bertahan dari segala mara bahaya. Kehilangan apapun untuk menyelamatkan nyawa putrinya. “anak adalah harta terbesar yang tidak akan pernah akan saya lepaskan”. Mengalirlah air mata di pipi. Jarak antara gila-mati saat itu pastilah sangat sangat dekat. Dan saya menangis terharu karena pada akhirnya bisa melewati segalanya.

Kini si gadis kecil itu telah sembuh total. Tentu ada banyak kenangan yang tersirat semasa sakitnya dulu. Ia tidak dendam. Tidak juga ingin menghancurkan orang yang telah menyakitinya. Hanya saja, semuanya berbekas dan ia sedang dalam tahap mengembalikan kesehatan psikologisnya.

Ketiga, ayah dari sahabat saya masa SD. Beliau meninggal dalam diam satu hari sebelum puasa, tak ada yang tahu ketika jantungnya berhenti berdetak. Di akhir hidupnya, tanpa ditemani istri dan anak, ia berpulang. Meninggalkan kesedihan pada anak terakhirnya yang masih begitu merindukan kasih sayang orang yang sudah dianggap ayah dan ibunya ini. Ya, ayah yang menjadi ayah dan ibu. Seorang ayah yang akan selalu jadi kenangan untuk saya karena beliau yang tak pernah terlihat sedih. Seorang yang selalu merasa bahagia walaupun sejujurnya ia amat kekurangan. Kekurangan cinta, kekurangan kasih sayang, kekurangan perhatian, kekurangan lainnya. Miris. Salah satu yang selalu menyemangati saya untuk terus menggapai cita cita tanpa kenal lelah. “bahagiakan orang tuamu, dek”.

Mata sembab sahabat saya membuat saya tidak berani bertanya. Di depannya saya hanya melempar senyum dan sedikit kelakar untuk menghindari ia terlalu bersedih. Dan pada akhirnya ia sendiri yang bercerita. Panjang dan sangat terasa bahwa bebannya semakin besar. Masalah yang menghantam keluarga kecil utuhnya waktu itu ikut juga terwariskan. Maka, jadilah ia sendirian menghadapi getir kerasnya hidup. Pahit karena ia sekarang sendirian tanpa backing dari orang tua. Ia sendiri. Ibunya telah lama, bertahun tahun bahkan berpuluh tahun betah tinggal di negeri asing tanpa mau peduli bahwa putrinya butuh cinta kasihnya. Dan ketika pada akhirnya ayahnya meninggal, tanpa ada perasaan empati ibunya tak juga sudi untuk merangkul putrinya. Meski kandung, putrinya itu bukan bagian hidupnya. Ia telah hidup dengan orang lain dan membangun mahligainya di negeri orang. Ia merasa bahagia disana.

Saya belajar lewat mata kepala bahwa tidak semua ibu kandung adalah ibu peri baik hati. Saya belajar arti sebuah keluarga. Bahwa ada keluarga adalah tempat berpulang yang paling indah sekaligus bisa jadi tempat yang paling membunuh.  Sebersit harap muncul dalam doa agar ia segera menemukan pendamping hidup dimana ia akan belajar untuk memulai hidup baru dengan menggunakan pembelajaran yang pernah ia dapatkan. Dan semoga keluarga barunya sakinah mawaddah warrohmah. Amin.

Keempat, sahabat yang tiba tiba pergi. Masih sangat teringat jelas tawa candanya ketika satu malam sebelum saya pergi ke tempat mbah, dia datang dan menyapa sambil mempersilakan saya dan Niam makan berkat yang ia bawa dari rumah. “Aku disuruh bapak pergi ke acara nyewu tetangga. Tadi dapat berkat dua.”. Dia tidak mau makan. Akhirnya dalam hitungan menit, satu berkat lahap oleh saya dan Niam.

Kami masih bertemu di pagi hari untuk berfoto bersama. Foto ala ala resmi yang membuat kami terlihat sangat formal seperti CEO yang mau rapat. Masih sangat jelas teringat ia sedikit marah dan kecewa karena harus menunggui selama satu jam sahabatnya yang akhir akhir ini sering kecu. Masih sangat teringat, ia mengupload sebuah video pendek berdurasi beberapa detik yang captionnya sungguh mengharukan. Sesi foto diakhiri pada pukul 11 siang. Kami berpisah. Namun, saya masih sempat melihatnya mengayuh sepeda ibunya melewati rindangnya pepohonan sawo kecik di jalan ‘luar negeri’ di samping perpustakaan tempat kami biasa berjuang untuk TA yang menjemukan namun harus diselesaikan. Ia menuju ke utara, entah kemana. Ternyata perpisahan kami pada pukul 11 itulah menjadi perpisahan terakhir. Terakhir. Untuk selamanya. Ya, selamanya.

Pukul dua siang, saya bertolak dari Jogja menuju ke Muara Enim untuk menengok mbah dan puyang puyang disana. Dan satu minggu kemudian.. Santika menangis memanggil namanya. Saya yang bingung mencoba mengontaknya langsung lewat wasap. Tidak ada jawaban. Ah, mungkin dia sedang sibuk. Memang kebiasaannya tidak segera membalas. Dan baru paginya, Ratna panik mengontak saya untuk mengirimi salah satu kontak yang bisa dihubungi untuk bisa bersama ke Delanggu. Ada apa? Saya masih bingung. Nafas saya tercekat ketika saya membaca berita bahwa ia sudah tiada. Pergi. Untuk selamanya. Air mata tak terbendung, turun melewati pelupuk mata yang kelelahan karena perjalanan panjang. Siapapun.. tolong katakan bahwa saya sedang bermimpi. Bahwa semuanya bohong.

Saya mencoba mengontak beberapa orang. Beberapa tak bisa dihubungi, dan pada siapa yang bisa saya hubungi saya tidak bisa menahan air mata yang terlanjur mengalir. Mereka menguatkan saya bahwa memang sudah saatnya ia pergi. Dalam tiga hari perjalanan pulang, saya terus terbayang dan dalam kesedihan, saya tidak mampu menghilangkan kenangan kenangan yang terus membanjir. Ketika kenangan itu muncul, air mata saya sudah mengumpul di pelupuk bersiap untuk membanjiri kulit yang sudah terasa perih akibat perbedaan cuaca di Muara Enim dan di Muara Tenang.

Saya terpukul. Iya, saya akui itu. Saya tumbuh selama beberapa tahun bersamanya. Mengerjakan proyek bersama, bertukar ide pikiran, saling ejek, saling back up, saling bertaruh untuk sebuah hal yang tidak penting dan saling belajar satu sama lain. Sudah merasa seperti keluarga sendiri. Dia adalah salah satu yang tahu betul apik bosok saya. Kami pernah mengalami banyak masa. Sangat banyak. Dan ia pergi dengan tiba tiba. Saya dan beberapa teman masih menemuinya hari jumat dua minggu lalu. Ya, ketika ia bisa dengan santainya mengejek ini itu. Tertawa dengan lepasnya dan bercanda tentang sidang skripsinya yang dengan santainya ia berkelakar “aku pengennya nggak ada yang datang. Kamu nggak datang juga nggak masalah kok. Ujian tetep jalan”. Dasar.. sakpenake dewe. Sangat tiba tiba, di malam ia pulang ke rumah untuk mengabarkan bahwa ia telah dengan sukses menyelesaikan masa hampir lima tahun tugas belajar di sebuah perguruan tinggi paling hebat di negerinya dengan labu, lobak, balon dan peralatan aneh aneh sebagai bentuk cinta dari sahabat sahabatnya. Ia pulang untuk menceritakan kabar bahagia itu pada dua orang yang paling ia hormati; ayah ibunya. Harusnya itu adalah momen bahagianya, dimana euforia kelulusan –ya, tentunya revisi skripsi masih menunggu-. Ia sudah menanyakan mau magang di sektor pertanian. Ia sudah bercerita tentang mimpi mimpinya. Tapi rupanya, Tuhan ingin ia lebih bahagia apabila ia hidup lama di alam sana. Di tengah malam naas, ia terbaring di Rumah Sakit dengan kondisi yang tidak cukup baik untuk diceritakan. Dua jam kemudian polisi datang mengabari pada orang tuanya tentang kondisi putranya yang mengalami kecelakaan di jalan Yogya-Solo, hampir dekat dengan rumahnya. Pada hari jumat sore, satu hari pasca kecelakaan, ia dipanggil pulang. Iya, pulang ke rahmatullah. Air mata saya masih mengalir hingga beberapa hari setelah kematiannya. Saya bersedih. Ya, berkabung. Merasa kehilangan.

Saya bahagia. Banyak orang mengabarkan bahwa pemakamannya dihadiri sangat banyak koleganya. Bahkan semua timeline media sosial saya dipenuhi oleh pesan belasungkawa. Belum lagi banyak pesan masuk ke wasap memberikan saya penguatan atas kehilangan seorang sahabat. Dasar.. kau mati terkenal, mbel. Hmm.. mati dikenang. Saya berbahagia. Sangat bahagia. Ia pergi di hari jumat dengan tujuan yang baik –tujuan menegakkan agama- dan ia dilepas dengan cinta oleh teman teman dan keluarganya. Sungguh momen mengharukan. Apalagi hingga akhir hayatnya, mendiang tidak lepas dari dzikir dan sembahyang meskipun kondisinya sangat jauh dari memungkinkan. Ia hebat. Saya akui. Sial kau. Sangat sangat hebat. Hei kau.. pasti kau tersenyum dengan riangnya di alam sana.

Hingga berhari-hari, kenangan kenangan itu masih berseliweran dalam perasaan saya. Air mata mengalir merasa kesedihan mendalam. Ya, kesedihan tentang batas hidup dan mati yang amat tipis. Saya kehilangan salah satu teman yang religius tapi kayak gembel. Kayak gembel tapi rasa cinta pada Tuhannya amat besar. Religiusitasnya yang tidak diragukan tidak juga menjadikan dia sebagai seorang akhi di mata saya. Seorang gembel malah. Seorang yang upside down. Damn. Jadi ingat ketika ia mengenalkan teman mainnya sebagai gembel-gembel di depan orang tuanya. Kamu emang kurang ajar. Salah satu yang selalu membackup saya dalam waktu waktu berat. Selalu menitipkan wejangan dalam ejekannya yang super menyebalkan. Selalu tidak suka ketika saya murung. Selalu mau menunggui saya kembali ketika saya sedang bepergian. Dalam banyak diskusi yang tidak selalu berjalan dengan lancar, saya banyak belajar mengenai sudut pandang. Sangat banyak.

Saya masih menangis. Iya, menangis. Cengeng. Iya, sangat cengeng. Sangat sangat cengeng. Selain kesedihan karena ia pergi –tapi bukan itu yang membuat saya sedih luar biasa-. Ini tentang batas antara hidup dan mati yang lebih tipis daripada lembaran buku yang paling tipis sekalipun. Sungguh waktu adalah rahasia. Saya mengingat sebuah surat yang menyatakan “Demi Masa”. Ada banyak hal disana yang berhubungan dengan waktu. Ya, waktu. Dimana tidak ada yang absolut. Demi Masa, sesungguhnya manusia ada dalam kerugian. Gembel mah enak. Dia mungkin sedang santai santai di alam sana. Nerusin jadi atlet dolan mungkin disana, ditungguin oleh bidadari bidadari. Sedangkan saya disini ngeri sendiri dengan amal amal yang saya lakukan. Sudah cukupkah? Gilak.. saya hidup selama ini ngapain aja ya? Sudahkah saya serius memikirkan akhirat? Gimana kalau ternyata timbangan amal saya berat ke kiri? Gimana kalau amal saya nanti abis karena ada orang orang yang nggak rela dengan salah yang saya prbuat ke mereka. Bagaimana nanti saya di kubur? Siapa yang mau nengokin? Apakah akan ada yang masih mengingat saya dengan lantunan tahlil dan yasin nantinya? Bagaimana dengan siksa kubur atau saya akan ditidurkan pada permadani cantik selembut sutra hingga menanti hari pembalasan? Apakah saya akan berkumpul dengan orang orang yang saya sayang di surga nanti? Atau saya akan pergi ke neraka karena saya berdosa bergunung gunung yang butuh ratusan tahun di akhirat sana untuk menebusnya?. Ratusan pertanyaan berseliweran. Pahit. Air mata tak terbendung.

Kedua, saya masih cengeng. Iya, cengeng. Saya mengingat orang tua gembel. Dua orang yang sangat kocak dan baik hati. Dan mereka pernah dengan baik hatinya memback up saya ketika saya pernah bermasalah. Kehilangan putra satu satunya pasti akan membuat hidup mereka serasa dipukul dengan hebatnya. Atiku ndledek. Saya tidak tega melihat mereka. Saya tidak sanggup merasakan pahitnya perasaan mereka. Gembel sangat sangat patuh pada orang tuanya, dan gembel juga seluruh hidup kedua orang tuanya. Ketika Tuhan mengambil putranya, apakah mereka siap. Air mata saya mau tumpah ketika ibunya bercerita pada saat masih SMP, ia mengayuh sepedanya sampai ngos ngosan dan pulang telat karena hanya ingin membelikan ibunya blus dan kerudung sebagai hadiah ulang tahun. Anak sekecil itu. Ah, kamu menyebalkan. Iya, perempuan satu satunya dalam hidupnya masih ibunya, hingga saat ini. Walaupun kami sempat berspekulasi bahwa ia mulai jatuh hati pada seseorang. Ah, mbel.. kangen ejek ejekan sama kamu.

Tapi lepas dari air mata yang masih sesekali menetes, saya melukis senyum dengan matahari dan langit cerah. Setiap orang punya keberuntungannya masing masing. Gembel mungkin beruntung karena Tuhan mengambilnya lebih cepat dan menghentikannya dari dosa dan maksiat dunia serta menggantikannya di tempat tunggu terbaik sebelum ke akhirat. Dia membuat orang orang iri. Tapi saya juga merasa diberi Tuhan sebuah kenikmatan yang tidak boleh dilalaikan. Nikmat umur panjang yang lebih lama daripada masa hidup gembel di dunia ini. Ia bisa saja berbahagia disana, tapi jangan lupa bahwa saya juga masih diberi kesempatan yang sangat besar untuk beramal soleh sebelum menyusulnya ke alam sana. Kesempatan yang sangat tidak boleh disia siakan. Kesempatan untuk berbuat baik, mengerjakan amal soleh dan menebar kasih sayang kepada orang lain. Bisa jadi amal amal itu juga akan mengantarkan saya ke surga. Maka, saya berdoa semoga saya masih bisa mengasuh anak cucu. Saya masih ingin lihat anak cucu tumbuh. Masih ingin merasakan bagaimana perjuangan ibu dan bapak saya dulu mengasuh saya dan adik adik saya yang tentunya menguras tenaga mereka berdua. Saya ingin ibu dan bapak memberikan pelukan dan ciuman pada anak cucu saya.  Saya masih ingin merasakan dinamika keluarga dan dinamika hidup yang akan bisa dilalui dengan kekuatan yang saling melengkapi dalam sebuah keluarga. Pasti sangat indah. Saya masih ingin anak cucu saya mengunjungi tempat peristirahatan terakhir saya kelak dengan lantunan tahlil yasin dan tidak akan membiarkan makam bagai tak terurus. Ya, karena urusan manusia tidak hanya terhenti ketika nafasnya terakhirnya berhembus. Urusannya adalah selamanya.

Well, mbel, terimakasih atas pelajaran pelajarannya selama ini. Maaf saya cengeng, tapi percayalah cicikmu akan segera riang kembali. Salahmu udah dimaafin semua kok. hehe. *kurang ajar banget yak saya. wkwk. Berbahagialah disana ya.. :).

Beratnya Memimpin

Pesta demokrasi, pesta pendidikan dua mei lalu. Saya masih tertegun dengan kerumunan banyak orang yang sedang berteriak teriak di terik siang panas yang membakar. Saya berjalan pelan diantara kumpulan adik adik angkatan yang sedang memperjuangkan haknya. Kami bertemu dengan teman teman lain, menyapa dan duduk kembali larut dalam euforia siang hari pendidikan.

Lima jam yang lalu saya penasaran karena mars suporteran layaknya pertandingan olahraga di gelanggang. Saya mengikuti kemana arah angin membawa suara suara itu. Hingga ke sebuah hall terbuka besar di kampus politik, suara suara itu semakin membahana meneriakkan tuntutan tuntutan yang diperjuangkan mereka yang ingin meraihnya. Saya berdiri tepekur sebentar kemudian berlalu karena saya punya kepentingan lain yang juga harus saya selesaikan.

“Ayo nonton cik”. Arma, Helmi dan Safura menghentikan lamunan siang saya dan mengajak untuk sejenak pergi ke bundaran besar di gedung pusat sana untuk melihat keramaian yang tak hanya ramai di kenyataan namun juga di kemayaan. Dengan malas, saya beranjak dan menemukan manusia manusia berjas yang hampir sewarna dengan karung goni berjalan berseliweran kesana kemari. Berita mengenai turunnya mereka yang menuntut sudah menjadi viral di dunia maya. Sangat sangat membahana mungkin hingga ke seluruh Indonesia.

Lalu lalang anak anak berjas krem menuju hijau kekuningan membanjir seperti koloni semut. Sekelompok anak duduk di bawah pohon dan sisanya mencari cari tempat yang tak membuat mereka harus menjerang diri di bawah terik dua Mei.

Satu menit dua menit, jam berganti, kerumunan bertambah riuhnya. Satu dua orang dengan pengeras suara mencoba utuk meniupkan bahan bakar semangatnya pada massa yang semakin panas. Kami semua menunggu hasil negosiasi sekelompok anak dengan ibu yang masih juga belum mau turun menemui kami.

Menit berganti, masa tak sabar lagi tapi masih mau menunggui ibu untuk mau bersedia menyapa anak anaknya. Pukul tiga mentari masih bersemangat untuk membakar kota ini. Begitu juga dengan si anak anak ini, masih juga bersemangat untuk menunggu datangnya ibu. Momen yang ditunggu datang juga. Ibu didampingi beberapa orang di belakangnya membelah kerumunan menuju tiang bendera yang berkibar hanya separuhnya. Diiringi teriakan masa, ibu tetap tegar mengurai tali, menarik bendera hingga sampai ke ujungnya, membuat bendera pusaka tegak lagi berdiri menjadi saksi riuhnya suasana siang itu.

Ibu berjalan membelah kerumunan menuju pilar pilar besar gedung kokoh saksi sejarah yang berdiri sejak kampus ini masih sangat balita. Dengan sabarnya beliau mencoba peruntungannya untuk mengambil hati masa yang sedari tadi menahan amarah. Anak anak terduduk ingin mendengarkan kepastian tuntutan mereka pada ibundanya. Satu kalimat dua kalimat meluncur hingga berkalimat kalimat selanjutnya. Diiringi sedikit riuh masa mengomentari paragraf yang ia dendangkan di sore terik itu. Belum ia menyelesaikan kalimatnya hingga ke titik terakhir, sekelompok anak laki laki dan perempuan berdiri memaki dan menunjuk muka tanda tak setuju dengan kata ibunda mereka. Si anak yang marah karena orang tuanya. Si anak yang marah karena menganggap ibundanya otoriter. Si anak yang kecewa karena si orang tua dianggap tak mendengarkan mereka.

Ibu mulai panas. Dalam gusarnya, ia masih mencoba menenangkan anak anaknya. Ia masih mencoba mengambil hati anak anaknya dengan mengajak bicara baik baik. Tapi ia juga manusia. Di satu titik, kemarahannya memuncak. Ia memperingatkan anak anaknya untuk berusaha sopan dan berbicara dengan cara yang sopan pula. Satu dua anak yang tidak terima berusaha meneriakkan provokasi bernama keotoriteran. Ia merasa si ibu terlalu otoriter. “otoriter.. otoriter..”. suara semakin membahana, hingga ke ujung jalan disana. Pengendara yang melintas mungkin akan berhenti sejenak untuk melihat apa yang terjadi di balik pagar sana.

Ibu marah, penat dan mungkin lelah. Ia berbalik badan dan menghilang dibalik kerumunan diiringi penjaganya. Masa masih marah. Mereka mengejarnya bak mengejar anak ayam yang lari ke pelataran. Ricuh, tak teratur dan penuh kemarahan. Di tangga, menanti para penjaga yang berjaga jaga tidak membolehkan masa naik. Masa yang marah tertahan di bawah. Sementara sebagian di antaranya telah sampai di atas mengejarnya bak semut yang berlari menuju sumber gula. Yang tak bisa naik, menunggu di bawah sambil menggumamkan mars sekolah mereka dan beberapa lagu pengibar semangat.

Saya berbalik dan pulang. Saya lelah dan haus. Satu detik lalu, saya ada disana. Ya, disana. Melihat sendiri bagaimana marahnya mereka, bagaimana mereka juga memikirkan nasib teman temannya, memikirkan nasib pendidikan ini. Memikirkan jalan keluarnya. Memikirkan segalanya. Ya, segalanya. Tapi mereka lupa, ada sopan santun yang harus dijaga. Bukan begitu caranya untuk bicara pada orang tua. Walau bagaimanapun mereka adalah orang tua yang harus didengarkan tutur katanya. Ya, ibu memang pada awalnya menolak dengan sangat untuk bertemu. Tapi pasti bukan hal yang mudah untuk menurunkan egonya untuk turun sebentar menghadapi anak anaknya yang marah, kepanasan, lapar dan haus (dan mungkin disetir emosinya). Lima menit saja, tentu bukan hal mudah. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengabaikan egonya, mengorbankan dirinya untuk siap dengan cacian dari masa. Mungkin ia juga sepertinya sadar bahwa mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan. Ia tetap melaju.

Ketika satu kalimat didengarkan dan kemudian ia belum selesai dan si anak memotong. Saya bisa merasakan betapa marahnya beliau. Menunjuk nunjuk dengan marah, seperti halnya mereka yang paling benar saja. Berkata kata kasar dengan nada tinggi. Bukankah Nabi melarang kita untuk berkata kasar dan bernada tinggi? Bukankah kita harusnya berkata lembut kepada mereka, tidak menyakiti perasaan mereka dan takdzim?. Ya, memang ada kesalahan yang ibu dan teman temannya lakukan. Tentu mereka bukan Muhammad yang tanpa cacat. Mereka manusia biasa dengan sekian kebaikan dan kebobrokan bersanding jadi satu. Memang statement dan kebijakan mereka terkadang bertolak belakang dengan apa yang kita harapkan. Tapi, mari kita lihat diri kita. Bukankah kita sebagai anak juga banyak salah? Apalah kita yang belum lama hidup di dunia dibandingkan mereka yang sudah mengenyam separuh hidup di dunia. Apalah kita yang belum merasakan pula pusingnya jadi mereka mengurus –jangankan tiga hal- pasti berhal hal yang mereka harus urus. Apakah mereka hanya diam saja? Tentu tidak. Mereka pasti juga melakukan hal hal untuk membereskan urusan urusan itu. yah, walaupun mungkin caranya berbeda dari apa yang kita harapkan. Toh, ini adalah masalah perbedaan sudut pandang. Tak akan bisa menemui jalan terang jika tidak duduk bersama dan ngobrol dengan baiknya. Ya, bukan ngobrol di bawah panas mentari yang bikin laper dan haus –dan bikin capek pengen bobok siang sehat. Tentunya bukan hanya ngobrol satu dua kali. Harus berkali kali agar kita sepaham dan menemukan sandaran untuk sudut pandang kita. Dan.. harus semua pihak mau duduk bersama. Percuma jika hanya satu yang mau duduk saja. Harus keduanya. Bukankah harus ada yang menjadi pendengar dan yang berbicara? Harus ada yang berbicara dan yang lain mendengarkan bukan?.

Tuhan, betapa berat jadi pemimpin. Mengayomi tentu bukan hal yang mudah. Saya tidak bisa membayangkan ibu menangis dalam malamnya, menangisi betapa beratnya memimpin lima puluh ribu lebih manusia yang mencoba mengais ilmu disini. Saya tidak bisa membayangkan apakah jika nanti saya diberi kesempatan untuk memimpin, apakah saya akan bisa ikhlas dan tegar. Jika saya harus berkonflik dengan anak anak saya, apakah saya bisa mengambil hati mereka dengan cara yang lembut? Apakah mereka akan juga mau menurut untuk duduk bersama tanpa anarki? Apakah mereka mau belajar jadi pendengar yang baik (ya, karena seorang pemimpin yang baik harus juga jadi pendengar yang baik)? Apakah kami akan bisa menemukan satu titik dimana kami bisa win-win solution? Apakah kebijakan yang saya buat akan menjadi tepat? Akankah saya menangis setiap malam karena beratnya beban saya? Akankah saya bisa mempertanggungjawabkan segalanya?. Saya takut peradilan di akhirat nanti membelenggu dan menghambat saya merasakan wangi surga. Damn.. begitu berat jadi seorang pemimpin. Dan pemimpin adalah yang akan ditanyai pertanggungjawabannya, kelak disana.

Blus untuk Hidup

Saya tidak langsung pulang ketika teman teman saya usai makan malam sore ini. “Saya mau jalan jalan sebentar, nggak lama kok”. Kelip pemandangan kota membuat saya ingin menghabiskan waktu barang sejenak. Terlintas lirik Dear God milik Avenged Sevenfold di pikiran saya.

Sebenarnya bisingnya kendaraan tidak serta merta membantu saya rileks. Tapi mau bagaimana lagi, adanya cuma ini. Simpel saja. Tidak terasa saya sudah berjalan sepuluh menit –setelah berhenti beberapa kali meresapi cahaya kota yang tak kunjung pudar. Seorang ibu muda menghentikan saya. “Mbak, dibeli bajunya”. Saya berjongkok dan mengambil sebuah gamis bunga bunga merah muda yang sudah tidak terlalu bagus tapi masih layak pakai. “Maaf mengganggu mbak, mohon dibeli. Saya belum makan sama sekali.”. Putri kecilnya masih bermain main dengan tanah di dekatnya. Ia mengulurkan selembar kartu KTP –yang saya tau KTP itu adalah KTP keluaran lama, bukan e-KTP seperti dilegalkan oleh pemerintah. Saya menarik napas. Haruskah saya curiga? Jangan jangan ibu ini sebenarnya bukan orang yang tidak mampu yang ingin menipu. Pemerintah sendiri akan mendenda orang orang yang memberi uang pada peminta minta. Sempat terlintas pikiran seperti itu namun saya abaikan. Ibu itu adalah seorang penjual, bukan peminta minta. Dia tidak begitu saja meminta uang, tapi ia berusaha menjual apa yang ia punya. Well, kita akan lihat permainannya terlebih dahulu. Barangkali ibu muda ini memang benar benar membutuhkan.

Saya menemukan sepenggal kisah lagi malam itu. Tentang background ibu ini dan keluarganya yang terjerat pada sulitnya mencari makan. Klise memang membicarakan soal kemiskinan di sekitar kita. Jadi ingat teman teman yang hobi sekali ngobrolin kemiskinan dan menunjuk nunjuk orang korupsi dan menuntut mereka segera dilengserkan –dimana terkadang mereka suaranya tenggelam dalam bisingnya kendaraan di terik siang kota-disertai dengan bakar bakar ban, bikin macet jalan dan tidak ada yang mendengarkan selain beritanya dimuat di koran lokal. Pertanyaannya, apakah aksi sosial nyata mereka dalam menanggulangi kemiskinan sekonstan cara mereka berdemonstrasi memaksa wakil rakyat untuk turun?. Ah, sudahlah. Malas bicara soal itu. Kembali pada kenyataan yang saya hadapi di lapangan.

“Tetangga tetangga saya tidak ada yang peduli mbak. Saya mau pinjam sepuluh ribu untuk makan anak saya saja tidak boleh. Padahal malamnya dia beli motor baru”. Si ibu terlihat hampir menangis. Tetiba saya teringat perkataan guru SD saya bahwa Nabi melarang mengabaikan tetangga tetangga kita. Jika ada tetangga kelaparan dan kita tidak tahu karena tidak peduli, maka kita juga yang kena cipratan dosanya. Tapi ya memang tidak semua tetangga mau bantuin tetangga lain yang kesusahan. Ya memang kenyataan seperti itu. Manusia ada yang baik dan ada yang buruk.

Ia dan suaminya adalah pemulung yang memiliki tiga anak. Anak pertama sudah berusia tujuh belas tahun dimana pada kelas lima SD yang lalu, ia memutuskan keluar dari sekolah. Ia sakit hati dengan perlakukan temannya yang mengatakan bahwa ia sebaiknya pakai rok mini dan menjajakan diri seperti pelacur. Si gadis ini marah dan memukul temannya yang kurang ajar itu. Orang tua si anak tidak terima dan akhirnya urusan itu berbuntut panjang. Imbasnya si gadis tidak mau bersekolah lagi karena teman temannya menjauhinya. Lingkungan sosialnya seperti sudah memusuhinya dan ia pun sama sakit hatinya. Malas mau berinteraksi lagi dengan dunia sekolah. Takut terluka lagi.. dan lagi.

Si anak kedua masih kelas tiga mau naik ke kelas empat. Sayangnya si anak kecanduan game online dan ia akan merengek minta uang jajan lebih agar bisa memenuhi keinginannya tersebut. Jika tidak diberi? Ia akan menangis dengan kerasnya. Si ibu kebingungan karena ia tidak punya uang. Setiap hari, ia dan suaminya hanya mendapatkan kurang lebih tiga puluh ribu hingga lima puluh ribu rupiah yang tentunya habis hanya untuk kebutuhan makan lima orang dalam sehari.

Si anak kecil terakhirini bernama Nabila, kelas TK Besar. Ia berceloteh riang bahwa suatu saat ia akan menjadi dokter. Saya tersenyum mengamini. Semoga orang tuanya peduli bahwa Nabila tidak boleh putus sekolah seperti kakaknya. “Jaman sekarang sekolah bisa gratis bu. Tidak seperti saya dulu. Kalau Nabila rajin ke sekolah dan ibu mendukung penuh ia melanjutkan pendidikannya, saya pikir masalah biaya bukan masalah”. “Iya, mbak. Saya ingin lihat dia berkuliah”.

Tentang si anak tertua. Si anak tertua merasa tidak mau sekolah karena merasa kecewa dengan perlakuan teman temannya. Ya, dukungan sosial sangat penting untuk mempertahankan kita dalam sebuah lingkungan. Kalau tidak mendukung, memang akan jadi beban berat untuk kita melangkah. Tapi sayang sekali orang tuanya tidak berpikir luas soal pendidikannya. Jadi teringat ketika adik saya malas masuk sekolah. “Kalau kakakmu nanti jadi duta besar, adikmu jadi dokter, kamu jangan iri ya”. Dan adik saya pun jadi semangat lagi karena ayah saya sedikit ‘memotivasi dalam pemaksaan’. Kembali ke masalah si ibu muda ini, harusnya orang tuanya memotivasi si anak tertua ini untuk tetap bertahan dalam sekolahnya dan berusaha sekuat tenaga beradaptasi dengan lingkungannya. Nggak dapat temen? masih banyak temen lain yang sama baiknya kok. Koreksi diri, pikirkan solusi dan serahkan padaNya. Simpel. Toh, bukankah orang orang dikumpulkan berdasarkan niat?. Pertemanan itu hanya masalah bagaimana kita bisa membawa diri dan beradaptasi. Dua kemampuan itu yang akan butuh EQ yang tinggi yang akan menentukan berhasil tidaknya kita bertahan pada suatu lingkungan. Dukungan sosial akan membuat kita nyaman untuk beraktifitas –yah setidaknya untuk selesai menempuh pendidikan. Jika hanya bicara soal pragmatisnya, setidaknya si anak ini harusnya memiliki ijasah untuk menegaskan status sosialnya bahwa ia setidaknya pernah menempuh pendidikan. Ijasah memang hanya simbol. Tapi setidaknya akan bisa digunakan sebagai alat untuk menolongnya jika suatu saat ia ingin bekerja- menolongnya memutus tali kemiskinan yang menjerat keluarganya. Lebih dari itu, lewat pendidikan akan didapat banyak sekali peluang untuk belajar banyak hal. Bukankah Tuhan pernah berjanji akan meninggikan derajat orang orang yang belajar?.

Tentang si anak nomer dua. Harusnya orang tuanya bisa sedikit lebih keras pada si anak nomer dua –apalagi ia adalah laki laki. Game online itu menghabiskan uang dan lingkungan juga berpengaruh. Orang tua harus tahu dengan siapa si anak berteman dan menghabiskan waktu di luar rumah dimana saja. Jadi kontrol orang tua akan membuatnya paham bahwa hidup cukup mubadzir nak jika kamu hanya berdiam diri di depan layar game padahal kamu masih punya hidup panjang untuk belajar. Ya, kamu adalah laki laki yang suatu saat dituntut pertanggungjawabannya sebagai individu, anak, suami, pemimpin. Jika kamu saja tidak bisa patuh dan tidak bisa belajar memahami tanggungjawabmu, maka bagaimana kamu akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan?. Akhirat tidak semudah itu nak.

Tentang si anak nomer tiga. Ia masih sangat hijau dan sepertinya akan jadi permata keluarga jika bisa diarahkan. Lagi lagi kembali pada si orang tua. Apakah orang tuanya cukup kuat mental untuk mengarahkan, maka akan terlihat hasilnya setidaknya dua puluh tahun ke depan. Mungkin, tantangannya adalah how to keep this girl’s flame. Bagaimana menjaga semangat si anak perempuan kecil ini agar mau konstan belajar dan menjadi pribadi yang tangguh. Saya jadi ingat cerita sepupu saya yang harus memadamkan mimpinya karena orang tuanya selalu merendahkan kemampuannya. Well, mungkin kemampuan IQ nya dianggap kurang. Nggak pinter pinter banget gitulah ditambah lagi dengan kurangnya kemampuan ekonomi orang tuanya. Sungguh saya sangat kecewa terhadap orang tuanya karena hanya soal biaya yang kurang, mereka tidak mau meninggikan hati anaknya soal sekolah. Saya kecewa karena orang tuanya tidak kreatif. Tidak kreatif karena hanya berpangku tangan saja seolah menyerahkan semua pada nasib. Padahal mereka pernah belajar bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib dan nasib itu adalah lembaran coretan pada kertas putih yang masih bisa dikoreksi kembali. Mereka tidak mendengar saran kanan kiri bahwa si anak bisa saja melanjutkan pendidikannya dengan banyak cara. Banyak sekali jalan menuju Roma. Tinggal mau berusaha atau tidak. Toh, tidak semua dengan mudahnya jatuh dari langit. Nah, sialnya, si anak juga termakan pandangan orang tuanya. Buat apa mbak, udah capek. *duh dek.. sedih saya. Kembali lagi ke topik si anak perempuan kecil ini. Semoga ia jadi anak kreatif yang tidak mudah berpangku tangan melihat nasibnya yang sedang di bawah. Kelak jika ia ingin melanjutkan pendidikannya tapi masih tak punya biaya, semoga ia tahu bahwa banyak jalan untuk mewujudkan keinginannya. Semoga ia akan jadi seorang yang mau bersusah payah untuk itu tanpa mau menyerah.

Menyelami sedikit background keluarganya membuat saya berpikir bahwa kebutuhan menjadi akar ia menebalkan muka menjadi peminta minta. Well.. bukan peminta minta juga. Ia menjual baju bajunya untuk sedikit makan. Lima potong baju yang entah dihargai berapa oleh yang merasa kasihan olehnya. Iya kalau ada orang yang mau beli bajunya, iya kalau bajunya ada yang laku, kalau semua laku maka barang apa yang besok akan ia jual lagi. Ia dan suaminya mungkin tahan tahan saja kalau tidak makan. Tapi bagaimana dengan anak anaknya? Tentu perut mereka tidak akan sanggup menahan perih gerusan dinding lambung.

Saya kembali menatap blus blus itu. Menarik napas dan melempar senyum pada si anak kecil itu. Bajunya yang kumal seharusnya bisa diganti dengan blus blus dalam kantong kresek hitam yang dibawa ibunya. Tapi mereka lebih butuh pangan daripada sandang. Terlepas dari tipu tipu yang menjadi modus kejahatan pengemis yang lagi ngehits, malam itu saya berpikir. Jika sekecil biji sawi pun ada balasanNya, maka semoga Tuhan memberikan keadilannya.

Ketika Masalah Perasaan Dibawa-Bawa ke Orang Sakit

Salah satu sepupu sahabat saya sakit pada amandelnya. Setelah menunggu kurang lebih dua minggu, barulah ia dioperasi. Ada cerita lucu soal rumah sakit dimana sepupu ini dirawat.

Permainan perasaan menjadi titik tolak mengapa si adik kecil yang masih SMP ini tidak segera dirawat ke kelas yang sudah dipesan. Ha? Maksudnya? Kok bisa permainan perasaan?. Baiklah akan saya jelaskan. Sahabat saya ini dulunya punya mantan yang bekerja di rumah sakit swasta tersebut. Si mas mantan punya banyak fans yang berusaha untuk menarik perhatian si mas ini. Ada seorang teman si mas yang pernah tahu masa lalu masnya ini dan berusaha membuat kisruh keadaan dengana menyebarkan berita pribadi tersebut. Dari mulut ke mulut, cerita berkembang bak bola salju. Para staf yang tahu berusaha untuk memperlakukan sahabat saya dan sepupunya yang sakit. Ruangan kelas 1 yang sudah dipesan tidak juga segera disiapkan untuk sepupu ini, ada saja alasan yang membuat sepupu harus tinggal di bangsal tunggu. Padahal tetangga bangsal tunggunya sudah dipindah ke kelas 1 sejak satu malam sebelumnya.

Hmm.. gini nih kalau kerja nggak profesional. Main perasaan dan nggak ngerti proporsi mana urusan pribadi mana urusan kerjaan. Dari pribadi ngerembet ke profesi. Jadi bingung juga sih mau ngadu kemana. Kalau ada yang bilang ‘nggak usah baper’, ‘nggak usah suudzon, emang iya po mereka mempersulit mbak nya dan sepupunya’. Terkadang mereka adalah orang yang nggak ngerti gimana situasi di lapangan. Manusia toh dikasih perasaan. Kita tahu kapan kita ada dalam keadaan sulit, kapan longgar. Bapernya mbak mbak fans merembet hingga ke sepupu sahabat saya dipersulit. Tatapan sinis sana sini kalimat kalimat ngomongin di belakang tentunya juga menjadi serangan psikologis bagi sahabat saya ini dan keluarganya. Serba salah juga sih. Pelajaran yang bisa didapat adalah emang jangan baper kalau lagi nggak profesional. Kan kasihan juga dengan orang yang membutuhkan kita. That’s why dalam berteman pun jangan main perasaan. Be a neutral.

Ujian

Segelas kopi menemani pagi saya yang sejujurnya nervous. Saya nggak akan bilang saya baik baik saja. Iya saya baik baik saja tapi tetap ada perasaan grogi yang menjalar. Saya tidak tahu pertanyaan macam apa yang akan ditanyakan oleh penguji nantinya. Saya sendiri berusaha keras untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya bisa melewati ujian di hari itu. Tuhan, beri aku keberuntungan. Rasanya deg degan kah? Hmm.. nggak terlalu sih tapi kayak bingung aja ntar bisa ngadepin gak ya.. Intensitas saya minum kopi menunjukkan seberapa tinggi tingkat emosional saya. Sebenarnya saya sudah bisa meredam hal ini sejak lama. Tapi sudah sejak agak lama saya minum kopi, lebih sering dari biasanya –yang akibatnya saya minum air putih dalam jumlah sedikit. Oke, mari lupakan sejenak dan kembali ke masalah ujian-yang tidak saya pikir dalam dalam.

Latihan presentasi menghasilkan lama waktu presentasi yang fluktuatif. Rasa rasanya apakah saya sanggup menembus sepuluh menit atau lebih dari itu, saya tidak tahu. Yang bikin sebel adalah seratus lima halaman (skrip saya termasuk tebal. Teman teman saya yang sudah lulus duluan tebalnya hanya sekitar 40-70 an) dalam tujuh slide dalam tujuh menit sama dengan kamu harus memotong banyak hal krusial yang sudah kamu siapkan. Belajar dari pengalaman teman teman saya yang sudah sudah –ada yang distop di tengah jalan, ada yang pengujinya ngantuk dan nggak memperhatikan, ada yang pengujinya bosen dan ditinggal tidur- berarti saya sudah harus presentasi dengan sangat gamblang, singkat padat dan jelas. Saya sih nggak gitu peduli dengan nilai, tapi kalau saya lagi bicara tapi nggak didengerin kan saya juga nggak mau lah. Pokoknya tujuh menit itu adalah show off karier terakhir saya sebagai mahasiswa dan saya nggak mau mereka tidak mendengarkan saya. Titik. Fine. Semoga saya beruntung dengan teknik pecha-kucha (katanya sih presentasi singkat macam gini namanya pecha-kucha) ini.

Saya masuk ruang ujian kurang lebih dua puluh menit sebelum penguji datang. Saya pikir sesi ujian saya hanya akan makan waktu satu atau satu setengah jam. Ekspektasi saya ketinggian. Dua jam kemudian baru diakhiri. Padahal teman teman saya lainnya paling lama hanya satu setengah jam atau bahkan ada yang cuma satu jam. Lhah.. kenapa ini saya lama banget yak.. haha. Anggap saja keberuntungan. Pertanyaannya? Sangat banyak dengan revisian yang banyak pula. Dua jam di dalam ruangan malah banyak sesi cengengesan dan suasananya sebenarnya sih santai. Sampai sampai waktu tetiba udah sampai dua jam aja. DPS saya bahkan harus distop karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul tiga sore. Pasti kalau diterusin bisa sampe ba’da ashar nih selesainya. Haha.  Saya sendiri malah bisa ketawa tawa karena Pak Aris yang lucu. Pak Miko juga baik banget. Masukan masukan beliau mengenai hal hal linguistik dari beliau berdua sangat mempengaruhi saya untuk segera membenahi apa yang sudah saya tulis. Yang paling membunuh justru dari DPS saya sendiri. Beliau bertanya tentang hal hal simple namun cukup mematikan karena saya semacam perlu mencari jawaban yang lebih tepat. Cara pandang, itulah yang saya tangkap. Dosen saya ini menginginkan saya untuk berpikir simple tapi dalam. Dan sayangnya saya masih harus sangat belajar lebih dalam. “Putri sudah bukan lagi bayi. Ayo sudah harus belajar lari dek.. sudah harus belajar makan nasi”. Seperti itulah mungkin kalau saya bisa terjemahkan. *hormat saya buat Ayah terfavorit saya kedua di jurusan setelah Pak DPA tersayang.

Buat saya hari ini memang perang, tapi bukan untuk perang sebenarnya. Jika hitam dan putih adalah simbol ujian seperti kebanyakan teman teman yang maju ujian, saya mau ada sedikit warna di hari besar saya ini. Hitam dan putih di hari yang seharusnya saya bisa perang tapi santai adalah warna yang terlalu kaku. Harus warna lah sesuai kepribadian saya yang playful dan cheerful. Outfit biru saya pilih karena biru adalah salah satu warna favorit. Rok hitam, kemeja tanpa lengan berwarna biru lorek, blazer abu abu garis lurus, kerudung biru tua dipermanis bros mawar biru buatan tangan menjadi saksi saya. Ya ampun.. manis banget. Ternyata ada gunanya juga bongkar lemari dan ngeliat baju saya satu persatu. Haha. Saya macak mbak mbak CEO yang mau rapat pimpinan. Haha. (Cik, mana baju colorful yang katanya kamu mau pakai. Tuh outfitmu item juga. Dan saya menjawab dengan santai: tapi nggak item putih kan? weeeekkk). Jelas bukanlah warna yang colorful, tapi yang penting nggak item putih kayak biasanya orang ujian. Mood saya lagi pengen adem, kak.

Yang menyebalkan, sangat adalah tetiba ada seseorang (nggak mungkin seseorang. Saya tahu ini konspirasi) yang datang dan “nih Put, dipake pokoknya”. Sebuah kotak berbungkus merah merona dengan sepasang flat shoes berwarna senada dengan outfit saya hari itu. Saya sebel bangetttttt. Dih.. belanja nggak ngajak saya, warnanya pas pula. Kok jahat e.. mutusi dewe tanpa saya ._. . kenapa hobi banget ngasih kejutan. Kalian tega po kalau aku nggak bisa move on? Tau nggak satu kalimat yang selalu terpikirkan sekarang adalah “Put, yakin po kamu bisa move on?”.

Di akhir, saya dipersilakan keluar kemudian lima menit kemudian masuk ke dalam lagi untuk menandatangani berkas yang saya dinyatakan lulus dalam ujian ini. Kesan: woh.. iya ta saya dinyatakan lulus? Hehe. Masa sih sudah sampe disini? Tuhan.. sejujurnya saya terlunta lunta. Semua bahan yang saya baca, keseloan saya ngambil dua teori (dimana yang satunya adalah teori yang tidak lazim diambil teman teman saya) dengan revisi berkali kali, jatuh bangun ratusan kali, harus nebelin hati setiap kali ketemu DPS karena merasa kecil atas apa yang udah dibikin kok kayaknya nggak beres dan ribuan frame nostalgia masa masa yang lalu yang tidak akan pernah terulang kembali. Saya tidak merasa ingin menangis di momen ini. Sungguh. Masa itu sudah lewat, sudah ketika Pak DPS menyuruh saya untuk pergi mengurus berkas. Disitulah titik saya terharu. Jika dalam teori plot, sekarang saya sudah pada falling action. Udah jauh dari titik klimaks. Dulu saya pernah bahagia -itu ketika Pak DPS bilang ‘yaudah, ini sekali dua kali bisa ujian’. Saya menutup pintu dan tersenyum. Tapi.. sekali dua kali itu membelah diri menjadi berkali kali. Saya drop lagi karena harus ketemu dengan native, membetulkan ini itu, dikecu lagi sama nativenya, ketemu lagi tapi setengah diusir, ketemu DPS lagi masih disuruh benerin ini itu, mood turun, tetep berusaha, ketemu lagi disuruh benerin lagi, tetep ketemu dengan hati riang, suruh balik lagi buat benerin lagi, ketemu lagi lagi dan lagi dan siklus itu berulang lagi padahal saya sudah agak lega sudah bisa disuruh ujian. Ya, baru setelah pertemuan yang berkali kali itu saya bisa benar benar ujian. Dan saya tidak segitu bersemangatnya kayak teman teman saya yangu dah ujian duluan (berwaktu waktu yang lalu). Nggak ada kesan yang exciting yang terlintas. Oh, besok ujian ya. Fine, datang, hadapi, lupakan. Saya punya hal lain yang lebih krusial.

Apakah saya merasa puas dengan Tugas Akhir saya? Pasti sangat tidak (tapi kalau harus suruh ngulang lagi, saya nggak mau. Ogah. Move on lah.. masak berkutat sama itu itu lagi. Nggak ada tantangannya. Haha. ). Hasilnya tentu saja tidak memuaskan samasekali. Saya merasa apa yang saya garap selama ini masih kuacauu setengah mati. Mbaca aja nggak becus, nggak paham paham, tanya sana sini tapi tetep nggak ngedong, liat kakak angkatan tapi datanya mereka juga sama kacaunya, data kakak angkatan yang nggak beres, tulisan yang ancur berantakan, tulisannya nggak ngeflow dan seabrek dosa lainnya yang menggunung. Tapi setidaknya saya sudah berusaha. Saya tidak diam. Saya tetap berusaha keras untuk menyelesaikan tanggung jawab saya sebagai mahasiswa –terutama tanggung jawab saya sebagai anak kepada kedua orang tua saya yakni: menyelesaikan TA saya. Saya bukan tipe yang idealis banget, saya adalah tipe fleksibel. Berkaca dari salah satu senior saya yang idealis, saya belajar untuk tetap menaruh impian orang tua saya di atas talam tertinggi. Saya tidak akan menghancurkan keinginan mereka hanya karena idealisme saya sendiri. Mereka ingin saya lulus, ya saya akan turuti. Pak, Buk, anakmu lulus juga akhirnya. *mewek *peyuuukk.

Tentang nothing to loose. Kamu kapan target? Nyante sih. Nothing to loose aja. Selalu jawaban itu yang selalu saya berikan ketika ada yang bertanya sudah sampai apa dan apa target saya. Siapapun. Sebagian menjawab dengan terdiam karena apa yang saya bilang tidak perlu lagi dipertanyakan. Sebagian lain masih penasaran “udah sampai analisis po?”. Sebagian lainnya malah marahin “motivasimu lho, lemah”. Haha. Berbagai macam komentar bikin saya senyum sendiri. Nothing to loose, bukan berarti saya pasrah lemah begitu aja. Nothing to loose itu adalah ketika kamu udah usaha, ngusahain apapun yang kamu bisa, juga dengan doa, juga dengan pengendalian diri dan kamu tidak terlalu berambisi. Tawakal. Ya, semacam itu. Saya sudah usaha, tapi ada aja ganjalannya. Usaha lahir? Usaha batin? Nah, sekarang usaha dalam diri yang juga perlu dibenahi. Ada saat dimana saya merasa apa yang saya ambil terlalu susah dan ingin segera menyudahi tapi gagal karena ternyata masih salah sana sini. Saya suka belajar dan ketika saya sudah mengusahakan tugas akhir saya –dan sangat berharap bisa segera mengakhiri kewajiban saya sebagai mahasiswa dan mengganti status saya sebagai alumni- dan ternyata tidak semudah itu menyelesaikan segalanya.

Jika ada yang mengusulkan bahwa skripsi dihapus, saya sangat amat tidak setuju. Skripsi itu pembelajaran, pendewasaan dan tempatmu tumbuh. Hanya satu tema, satu masalah tapi bisa mengubah. Saya merasakan sendiri bagaimana saya harus rempong baca ini itu dan berusaha sekuat tenaga dan sebaik baiknya melewati setiap tantangan skripsi. Teori saya tentang psikologi –tentang pertahanan terhadap stres- malah saya terapkan sendiri dalam diri. Saya menganalisis bagaimana karakter anak anak Baudelaire bisa mengantisipasi kekerasan dari pamannya dengan menggunakan teori tersebut. Ternyata pertahanan stres yang saya pelajari membuat saya sadar bahwa setiap manusia akan menggunakan defense mechanism untuk menghadapi tekanan dan menyelesaikan masalah. Ngerjain skripsi itu emang pahit. Udah temen pada ilang, data kadang kepecah pecah, dosen juga tidak cuma fokus ke kita, belum masalah pada hardware dan software dan yang paling penting: rasa malas. Saya malah belajar banyak dari proses menyelesaikan skripsi ini. Belajar bahwa ternyata saya mampu memegang tanggungjawab dan ternyata banyak faktor mengapa sesuatu harus terjadi. Belajar buat mendekati lagi Tuhan –pedekate sebaik baiknya padaNya-. Belajar buat sabar dan tetap semangat walau badai ada aja. Belajar buat tetap riang dalam tekanan, belajar buat memanagemen emosi yang berkecamuk. And the damn thing is.. saya nemuin keluarga baru. Saya belajar bahwa keluarga itu adalah orang yang selalu ada dan jadi pelindung yang meneduhkan buat kita. Damn buat kalian yang ada di saat terakhir kita. Iya, saat terakhir kita dimana semua orang udah minggat keman amana dan tersisa kita yang saling menguatkan satu sama lain. *apakah kalian mau tanggung jawab kalau saya move on aja sulit?. hiks. Mereka nggak akan pergi dengan mudahnya walau kita ada dalam kubangan lumpur. dan.. setiap orang yang belajar di perguruan tinggi emang harus ngerasain dinamika skripsi. Tantangan dimana kita harus menaklukan ego kita demi banyak hal. Menantang kita sampai dimana kekuatan kita bisa bersabar pada suatu hal yang menjemukan dan sulit. Sekaligus memberikan kita banyak hal indah yang terselip di setiap waktu. Seperti Al Insyirah. Ada dua kemudahan di setiap kesulitan. Kamu punya Tuhan, jadi mengapa harus khawatir.

Ya Tuhan.. saya udah benar benar selesai ujian ya? Kayak nggak kerasa. Haha. Tinggal bagaimana saya dapat menyerap pelajaran yang telah saya dapatkan di tahun tahun saya belajar di perguruan tinggi ini. Seperti piramida, semakin kita menempuh ke sekolah yang lebih atas, semakin sedikit orang yang ada dalam lapisan piramida itu. Tentunya saya adalah satu dari sekian orang yang beruntung bisa menikmati lapisan tersebut. Jadi.. pelajaran selama bertahun tahun melesat lesat dalam gerbong keberuntungan semoga bisa memberi saya semangat lebih. Semoga saya diberiNya kekuatan untuk membagi ilmu yang telah saya dapatkan. Lulus dari tempat ini berarti tanggung jawab saya bertambah. Saya sudah sedemikian beruntungnya, jadi saya harus membagi keberuntungan yang saya dapatkan selama ini. Tuhan.. makasih..

Dikunjungi teman teman baik adalah hal yang paling menyenangkan dari perjalanan ini. Yang paling ngeselin sekaligus nggak berhenti tertegun adalah sekeranjang bingkisan ikan peda yang saya tahu pasti baru saja dibeli dari pasar pagi ini juga. Ikan peda itu simbol rumah. *hiks kangen rumah. Ada sayur sayuran *mereka tahu saya nggak ingin dikasih bunga, dimana itu sekaligus kode minta dimasakin dan kemudian makan bareng. Coklat dan kue kuean menjadi simbol setidaknya dalam kepahitan ada rasa manis yang indah di akhirnya. Foto saya yang rempong dengan barang belanjaan cukup ngehits di beberapa grup yang disebar oleh beberapa picttaker. Haha. *iya nih.. Cicik mau jualan sayur habis ini.

Jpeg

Kado kurang ajar

santika, helmi, niam, nur, arma, ratna, endah, husein, safura, mba tari, lala, imron, stela, frida, mei, shanti, hulul, prima, daya, fitri, nourma  terimakasih untuk sudah datang. Sangat sangat momen yang mengharukan. Saya tidak bisa lepas tersenyum, karena ternyata Tuhan sudah begitu baiknya mengirimkan kalian kebahagiaan untuk saya hari ini. Peluk satu satu.

Yang bikin ketawa adalah adik perempuan saya mengirimkan foto semua orang di rumah memegang kertas yang bertuliskan “semangat kak”. Saya ketawa liat ekspresi mereka satu persatu. Adik saya perempuan yang cheerful dengan bahagianya –saya tahu ini idenya. Dasar.. hmm.. adik laki laki saya yang cool dan pendiam, tersenyum dengan bahagianya. Ibu saya yang terlihat bingung tapi bahagia –bingung karena ide adik saya yang aneh aneh. Haha. Dan yang paling bikin ketawa adalah ekspresi ayah saya yang sedikit cemberut. Ekspresinya berarti “aiisshh.. ngapain aneh aneh”. Haha. Ayah saya kurang suka ide adik saya tapi pada akhirnya beliau juga tetap membiarkan adik saya berekspresi. Haha. Pokoknya peluuukkkkkkk. Terimakasih atas kesabarannya membimbing saya. Mohon doa dari rumah agar putrimu, kakakmu ini lancar segala urusannya.

Sesi ditutup dengan masak masak di kontrakan mba tari. Hari ini saya tidak banyak memasak. Saya membiarkan beberapa orang untuk berkreasi terserah mereka –sebahagianya mereka- dan kali ini saya manut aja. Sebagian mengerjakan tugas akhir mereka. Mereka nampak sangat terintimidasi sekaligus bersemangat. Semoga dilancarkan teman teman.. Tapi sayang banyak anak tidak bisa join karena mereka punya urusan masing masing. Sesi malam hanya tersisa beberapa saja. Tapi saya tetap bahagia.

Pesan sayang buat diri sendiri: Put, intensitas kopinya turunin. Iya kopi itu emang menggoda. Tapi kamu nggak ingin membunuh dirimu dengan tidak minum air putih kan?. Be healthy dear.

Tentang kita, Iya Kita

Besok udah ujian. Rasa rasanya sangat sangat nervous. Tapi bukan nervous excited. Tapi nervous seolah ini project terakhir, terbesarmu yang kemudian harus selesai dan kamu akan bingung menghadapi masa depanmu. Rasa rasanya ada seribu pertanyaan muncul: Put, bisa move on nggak?. Saya hampir hampir nggak peduli dengan isinya saking hapalnya dengan apa yang sudah saya tulis –yang memakan waktu panjang-. Saya cuma peduli dengan perasaan saya sekarang. Ya, setidaknya saat ini.

Saya dimarahi oleh teman teman saya –mengapa baru sekarang cerita-. Bahkan ada yang bilang “kalau kamu bilang dari kemarin, pasti aku bakal lebih rajin lagi karena termotivasi”, “kok kamu gitu e.. kita kamu anggep apa? Kita keluarga lhoh.. ”, “Lhoh kok kamu udah ujian aja?”. Yaaah.. keder deh saya.  Ada beberapa orang –no mention- yang moodnya langsung anjlok-seneng-sebel-termotivasi-terintimidasi-ikutan bahagia di hari saya mengumumkan bahwa besok saya sudah akan maju ujian jam satu siang. Kecewa-mangkel dan seabreg perasaan campur aduk yang dirasakan teman teman saya, bisa saya tangkap dari ekspresi mereka sekalipun mereka menutupinya dengan tersenyum. *duh jadi pengen mewek aja. Hiks. Saya jadi merasa sangat bersalah.

Sumpah saya nggak ada intensi apapun, beneran. Alasan kenapa nggak ngasih tau dari awal ya nggak ada intensi apa apa. Ya cuma kepikiran kalau ngasih taunya kalau udah mau maju aja. Itupun yang saya kasih tau hanya orang orang tertentu. Sebagian lainnya benar benar H min satu jam baru saya wara wara.Tapi saya cukup menyesal. Andaikan saya bilang dari awal, mereka pasti akan lebih ‘terintimidasi’ dan mengusahakan lebih dari apa yang mereka lakukan sekarang. *maaf, saya nakal. Kalian boleh kok marahin saya. Hiks. Tapi aku tetep sayang kalian. Hiks.

Tapi seriously, saya bukan tidak mengenal mereka. Tuhan itu Maha Baik. Ketika saya kesepian karena satu persatu dari teman teman saya pergi, ketika semua orang naik kapal Nabi Nuh, saya sendirian. Tetiba Tuhan mengirimkan sekumpulan bocah alay yang nggak jelas, sok sokan kebal dibuli, menyebalkan, ngambegan, but lovely dan ngangeni. Kayak kamu tersesat, sendirian tapi kamu menemukan rumah dengan pawon (dapur) yang hangat. Seperti itulah kesannya. Kami hampir selalu ngerjain TA bareng bareng –tidak selalu sih, tapi ada momennya kita pernah bareng bareng ngerjain tanggung jawab kita masing masing. Kami merasa beban yang ada emang tetap berat sih, tapi ketika melihat satu sama lain kayak kami tuh nggak sendirian. Ibarat anak kecil yang habis nangis, anak kecil itu senyum dengan tawanya yang bahagia karena diberi mainan dan teman yang bisa mainin mainan itu bareng bareng.

Beberapa bulan terakhir di akhir karier kami di kampus ini menjadi saksi bahwa kami saling menguatkan satu sama lain. “udah pada maem kah, maem yuk”, “ayo ta temenin mantai”, “ada yang di perpus?”, “maem bareng yuk, aku bawa maeman”, “heh.. ra tura turu wae.. garaplah”, “pie? Isa diewangi apa?”, “udah sampe mana progresmu”, “udah ketemu dosen”, “nyunset di atas yuk”, “segitu aja motivasimu?”, “dasar nggak jhelazzz”, “wani wesss”, “Cik, dimana?”, “Put, kancani ning kosanmu yuk”, “bobok ngendi?”, “pie pie.. pengen banget dikancani”, “ra perlu makasih”, “butuh piknik patah hati po?”, “heh, ayo tak culik ke atas, kunci motornya Mba Arum ketinggalan”, “duh.. ini lagi ning ndalan kebanan je”, “wes tekan kosan rung?”, “posisi?”, “motivasimu lho..”. “udah, diem disana. Aku punya rencana”. “balik karo sapa?”. “Blake ki mbok diinstal ta Cik..*sambil cemberut”, “build your ladder house”, “wakakak”, “dasar ikan”, “nothin to loose wae”, Dan ratusan kata kata kenangan lainnya.

Ada momen dimana kita saling memperhatikan kayak keluarga sendiri. Kita tahu kapan satu ngambeg, satunya lagi rewel, satunya butuh sendiri, satunya lagi mau curhat. Satunya lagi nggak bisa diganggu, satunya butuh sandaran. Satunya keras kepala, satunya berusaha buat pelan pelan belajar mengeluarkan ekspresinya, satunya kayak anak kecil, satunya kedewasaannya melebihi umurnya, satunya ngemong tapi bisa kayak anak kecil, satunya kekanakan tapi bisa jadi sandaran, satunya baperan banget masalah jodoh, satunya cuek setengah mati bahkan disangkakan nggak bisa suka orang. Damn. Haha.

Ada momen dimana kita jatuh banget dan melakukan hal hal nggak jelas bersama sama. Inget nggak waktu kita pergi bareng pas salah satu dari kita patah hati. Pergi ke barat, nonton pertunjukkan rakyat, sok sokan nuris sama turis dari Cina dan dengan kurang ajarnya kalian bilang –bahkan kamu sama Nairuo aja lebih cinaan kamu Put-. Haha. Salah satu putus setelah ditikung mantannya dan kita berenang bareng sama ikan ikan dan yang satu –yang habis kecelakaan dan nggak bilang bilang, dengan luka yang belum sembuh- malah ikutan nyemplung ke air dan dengan seenaknya sendiri bilang –jangan bilang bilang ke orang rumah lho-. Ketika ada yang harusnya pulang karena ada urusan asrama tapi ketahan dan bobok kemudian besoknya malah ke Jembatan. Ketika sandboardingan dengan bahagianya tanpa menyadari roknya sobek dan kita makan mi lethek di alun alun Bantul. Ketika ada yang rela jauh jauh sampe desa pelosok hanya untuk durian tanpa biji yang lagi musim dimana kita semua ngiler pengen makan durian dan kita membius ruangan perpus dengan bau durian yang bikin pusing dan kita makan di atas. Ketika kita nakal banget manjat manjat tower terus liat pemandangan akhir tahun di atap sambil poto poto nggak jelas yang jelas jelas meninggalkan kenangan yang tidak akan bisa dihapus di salah satu sudut kampus yang epik itu. Ketika harus pergi ke Bantul baliki spion milik mbak-lupa namanya- sampai ke pelosok Parangtritis setelah sehari sebelumnya ngerasain makan malam dengan gempa skala ringan. Ketika semuanya bantuin karena masalah di lapangan di Kotagede dimana yang jadi sandaran justru adalah kalian bukan mereka yang seharusnya in-charge. Ketika ada masalah dengan itirenary dan piknik kita yang ancur ke museum waktu itu, kalian juga yang berusaha menata segalanya menjadi tenang terkendali. Ketika kalian rela tak culik malam malam, capek banget, pikiran butek karena siangnya ada tabrakan dan diricuhi dengan urusan beberapa orang yang kampret banget ngomong seenak udel –pengeluaran tak terduga dan masalah menyebalkan lainnya – kita pergi ke atas, uji nyali dan kemudian kembali dengan tangan hampa dan esoknya kita balik kesana tapi mbaknya udah turun. Kita pergi ke Telaga Putri Cuma ngeliatin air terjun kering dan monyet yang juga sama stresnya ngeliat kalian nontonin mereka makan. Ketika aku mengacaukan rencana makan makan dengan bilang –aku mau ke KP besok nganterin survey ke Kalibiru- dan ada dari kalian yang kecewa- tapi rencana itu tetap jalan juga dan makannya tetap berakhir bahagia. “heh.. ayo badmintonan. Kita pengen tahu progresmu main sampe mana. Ya ampun.. kalian kok jahat e..”. ketika dengan sabarnya ngajarin ‘Liliana Natsir’ main badminton beneran padahal jelas jelas bakal kalah dan agak lama belajarnya. Ketika satu sama lain bantuin ngecek konten skrip dan bantuin sebisanya. Ketika dengan tidak sopannya naik ke atap Tamansari padahal ada ukhti ukhti lagi liqoan di bawah. Ketika kita naik kora kora, ada yang saking sir sirannya sampe diem aja karena capek sir siran dan mau ketawa karena penumpang belakang ketawanya nggak kontrol. Ketika donor pertama kali dan kita sok sokan berani padahal (aku) nervousnya setengah mati. Ketika kita konspirasi untuk menyiapkan outfit beberapa lainnya –macaki lebih tepatnya-. Ketika satu dan yang lainnya saling berefek tarik menarik nyenengin seorang anak kecil yang pengen banget mantai –dan kemudian ada yang ngambeg. Ketika kita piknik ke Solo bareng untuk nyenengin yang habis patah hati berat yang pengen banget naik kereta –nggembel nggak jelas ke keraton –yang sayangnya tutup. Ketika saya merengek pengen banget nonton Game of Throne tapi ditahan tahan biar saya nggak nonton dan ketemu dosen dulu. Ketika bantuin verbatim –hanya karena greget pengen liat progresnya cepet kelar- yang kayaknya ‘cuma’ lima belas menit dan ternyata butuh agak lama tapi akhirnya jadi juga. Ketika sesi makan makan harus didahului dengan jepretan ala ala paparazi dadakan dan kemudian dipamerin dalam album kenangan insta –padahal udah laper banget tapi rela nahan demi poto. Ralat. Demi kenangannya maksudnya-. Ketika menemukan benda keramat yang tergeletak dan akhirnya hingga tercuci dengan sendirinya. Ketika saya nyampah kisah nggak jelas yang kemudian saya akhiri bahkan sebelum saya sempat memulainya. Ketika kita saling ejek satu sama lain persis kayak anak SD kalo jam kosong. Ketika saya dimarahi dan memarahi karena banyak hal. Dan ada terlalu banyak kenangan yang saya simpan yang tidak sanggup saya tulis.

Shit.. how can I move on when I still love with you guys.. ibarat anak kecil, dia bakal nangis kalau mainannya hilang. Saya belum siap buat liat kalian hilang satu persatu. Hiks. Sedangkan saya paham kalau waktu itu semakin dekat. Hey.. kalian.. tau nggak saya sedih hari ini. Tau nggak saya baper sampe saya harus nulis diary.

Salah satu di antaranya adalah yang sudah pasti akan ujian di bulan April –seminggu sesudah saya- karena tanggal 1 bendel sudah harus masuk ke jurusan. Satu lainnya besar kemungkinan April juga ujian karena dia tinggal membenahi bendel seminarnya saja –sepertinya seminggu setelah saya-. Satu lainnya lagi emang kayak keong, tapi bukan berarti dia diam saja. Saya juga paham dia berusaha, ya dengan caranya pasti. Jika terlalu ditekan, dia bukan tipe seperti itu. Sama seperti saya, dia adalah orang yang keras kepala dan seenaknya sendiri. Jadi jangan diberi tahu dengan penekanan terlalu. Satu lainnya sedikit lagi sudah hampir selesai tapi yang jadi masalah adalah dia belum selesai analisis. Kurang dikit lagi lah. Tapi belum bisa mengejar Mei karena verifikasi jurusannya memakan waktu sepuluh hari. Satu lainnya terlalu santai, dia yang dimotivasi berkali kali tapi memang anaknya tipe santai pake banget. Tapi saya tahu dia pun juga berusaha sepenuh hati menyelesaikan tanggung jawabnya. Setiap orang tahu batas masing masing. Saya tidak ingin memburu-buru dengan tekanan-tekanan yang terlalu. Saya mengenal setiap pribadi dari mereka. Dikasih tau dikit udah tau mau ngapain kok. Tinggal bagaimana saja kan. Saya juga merasakan sendiri faktor X dimana kadang ada aja kesulitannya entah itu dikecu dosen, dosennya ke luar kota, suruh nambahin data dan seabreg kesialan yang akan menjadi pelajaran kesabaran. Itu kenapa sampai sekarang saya sangat selo. Saya nggak berambisi dan membiarkan semuanya mengalir, dimana saya tetap tidak tinggal diam dan mengusahakan segalanya. Itu yang dinamakan nothing to loose, cah. Tawakal.

Saya tahu saya harus siap dengan revisi dan segala macam. Bukan cuma revisi skripsi, tapi revisi buat hidup saya secara keseluruhan termasuk titik move one. Titik saya broken heart dan excited dengan skrip sudah lewat karena saya sudah terlalu lama menunggu. April ini saya siap mengakhiri semuanya. Siap dengan segala kemungkinan dimana saya lulus sebagai salah satu wisudawan periode entah mei entah agustus. Tapi titik move on dari tempat ini. Dari semua hal yang membentuk saya disini, dari semua kenangan yang ada. Dari kalian semua. Itulah yang tidak saya tahu. Saya tidak suka dengan wisuda karena wisuda identik dengan hari sedih. Saya tidak begitu mengejar. Selo saja dan tetap berusaha. Toh itu juga selebrasi doang. Satu yang menjadi keinginan saya: saya bisa wisuda bersama teman teman saya. Nanti pada akhirnya. Semoga. Ya Allah, semoga kami semua bisa wisuda bersama sama.

*ditulis di hati, di malam sebelum saya ujian, dengan The Overtunes mengalun di kepala. Hiks.. saya galau.

Bullying

“Put, ngeteh yuk”. Ajakan ini membuat saya merasa bersalah karena saya baru bisa menepati janji beberapa minggu kemudian. Di sebuah sore di awal bulan Maret lalu. saya bertemu dengannya di kedai tempat saya biasa nongkrong dengan kawan kawan saya di Unit Seni Rupa. Wajahnya kuyu, lelah sehabis bekerja. Tapi ada yang lebih membuatnya lebih lelah. Ia bercerita tentang adiknya yang menjadi korban bullying.

Adik teman saya ini mendadak menjadi sangat terkenal karena profil BBMnya menyebar kemana mana. Tapi yang menjadi sangat berkasus adalah si anak masih bersekolah kelas satu SMA dan foto yang tersebar adalah foto telanjang. Shock!

Kalau dirunut, si anak ini tidak dekat dengan anggota keluarganya. Tidak dengan ayahnya, tidak dengan ibunya, tidak dengan kedua kakaknya. “Sama pacarnya kakakku sebenarnya agak dekat, tapi kurasa tidak dekat juga sih”. Nah.. lho.. gimana tuh..

Teman saya ini merasa bersalah karena sakit yang ia derita dulu. Ketika masih kecil, waktu orang tuanya dihabiskan hanya untuknya sehingga tidak sempat untuk memberikan perhatian pada adik perempuannya. Adik perempuannya sering sekali pulang malam. Tanpa disadari, ia berhubungan dengan seorang lelaki –yang entah itu siapa-, dimana si laki laki ini menyuruh adiknya bugil. Sialnya lagi, ketika ditrack pertemanannya, tidak ada satu orang teman pun yang dekat dengan adiknya. Adiknya tidak memiliki teman dekat. Semua orang menjauhi dia karena dianggap lamban dalam berpikir. Well.. dunia sungguh tidak adil. Begitu curhatan teman saya. Dengan sedih ia bilang bahwa seandainya ia memiliki kakak perempuan tentunya ia tidak akan seperti itu. “Kalau ada saudara perempuan, pasti ada yang bisa memahaminya karena perempuan bisa mendekati dari hati ke hati”.

Kadang ada hal yang membuat kita tidak bisa menerka nerka apa yang terjadi pada anak pendiam. Itulah mengapa saya mengajak adik adik saya untuk lebih aktif bicara. Tidak perlu terlalu cerewet, tapi jangan terlalu pendiam. Yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut hanyalah keluarga. Walau bagaimanapun, keluarganya adalah orang yang paling dekat dengan gadis itu. Jika selama ini ia adalah gadis pendiam yang tidak memiliki teman, maka saudara saudaranyalah yang harus menjadi teman yang baik untuknya. Gadis itu mungkin kesepian.

Saya jadi teringat ketika masih bersekolah SMP, ada satu anak yang menjadi public enemy. Sekolah saya waktu itu adalah sekolah elit, dimana pertemanan menjadi sangat terkotak kotak. Si anak ini sebenarnya biasa aja, anak baik baik tapi dari kalangan menengah bawah. Sebenarnya bukan masalah miskin atau kaya. Lebih bagaimana kita bisa menempatkan diri. Si anak ini dianggap tidak bisa menempatkan diri sehingga teman teman saya menjauhi. Suatu ketika, anak anak perempuan di kelas saya –karena kebetulan kami satu kelas- berbisik bisik cekikikan sambil menyindir nyindir karena melihat si anak memakai tanktop warna hijau tosca di balik baju putih OSIS. Penampilannya dianggap minus. Rambut panjangnya yang tergerai berwarna orange rusak di ujung. Semua yang ia kenakan sungguh kurang pantas untuk pergaulan. Begitu pendapat teman teman saya. Pada awalnya ia kepedean, tapi kemudian ia menunduk malu dan segera mengganti tanktopnya. Ia hampir tidak memiliki teman. Bahkan ketika harus berkelompok, ia sudah pasti hampir tidak diajak masuk kelompok karena dianggap tidak memiliki kecerdasan yang mumpuni. Sampai sampai waktu itu saya karena tidak masuk sekolah, tidak tahu kalau ada tugas. Saya celingukan kesana kemari mencari informasi dari teman teman saya siapa kira kira yang belum mendapatkan kelompok. Tidak terlalu kaget juga jika si anak ini yang tersisa selain saya. Saya hanya geleng geleng kepala mengapa bisa dia tidak mendapatkan kelompok. Alangkah kasihan. Berkaca dari pengalaman saya di SMP, saya pikir untuk kasus ini, si adik teman saya harus beradaptasi. Be an adaptive, not a pasive.

Saya bukanlah anak populer ketika saya sekolah dulu, tapi saya selalu punya banyak teman. Saya merasakan euphoria keramaian dan saya juga bisa merasakan bagaimana rasanya terasing kesepian. Gadis itu hanya butuh teman yang bisa menjadi pelarian beban hidupnya. Berteman itu simple kok, jadilah dirimu, maka kamu akan menemukan orang orang sepertimu. Jika si anak ini sampai dijauhi teman temannya, maka yang ia harus lakukan adalah menemukan teman baru atau beradaptasi. Orang tuanya harus menemui guru di sekolahan agar si anak mendapat pencerahan dari berbagai pihak. Semua berawal dari keluarga. Teman saya harus membuat adiknya nyaman untuk ngobrol bersama dirinya. Tidak bisa orang lain, karena merekalah yang terdekat. Pihak sekolah alangkah baiknya mencari solusi untuk memberikan pemahaman terhadap siswanya terutama yang satu kelas agar tidak menjauhi si anak ini.

Makan

Pernah denger ada anak meninggal karena tidak makan? Ya.. banyak berita seperti itu. baru baru ini malah saya sempat mendengar bahwa salah satu anak fakultas psikologi dari sebuah universitas ternama di Solo meninggal dunia karena tidak makan. Kata pengirim berita, bobotnya kurang lebih empat puluh kilogram dan ia meninggal karena pendarahan di lambung. Lhah.. ini gimana ceritanya? Berita yang ada masih simpang siur. Tapi terlepas dari pemberitaan apapun, saya menduga ada beberapa masalah. Yang pertama, faktor emang anaknya sulit makan. Kedua, masalah financial. Ketiga kesibukan. Mari kita analisis.

Faktor pertama, masalah sulit makan. Biasanya sih apalagi anak anak perempuan gampang gampang sulit makan. Pemilih lebih tepatnya. Ada yang nggak mau makan ini, maunya yang itu. Ada yang maunya makan ini kalau temennya itu. Ada yang maunya lauknya kalau nggak itu ya harus itu. Nah lho.. puyeng nggak tuh yang jadi ibu penjual nasinya. Haha. mumet we.. . emang rempong ngurusin anak tipe macam ini. Ini nggak mau, itu nggak mau. Apalagi anak anak yang sirik sama sayur. Duh.. tahu nggak sih dek tubuhmu merengek butuh asupan vitamin dari sayur. Kamunya sih nggak mau, tapi tubuhmu sebenernya butuh. Solusi ngadepin anak macam kayak gini: sik sik.. mau cara halus apa cara kurang halus?. Pilihannya ada dua. Hehe. Kalau cara halus, kita harus sabar. Entah gimana caranya makanan yang empat sehat itu dikamuflasekan menjadi suatu formula yang bisa bikin anak ini mau makan. Disini skill memasak atau food decoratingnya harus maju. Tapi kalau nggak mau rempong kayak gitu gimana dong?. Maka pakailah cara kurang halus. Kita harus ‘maksa’ dia buat mengonsumsi bahan bahan penting tersebut. Kasih pengertian bahwa dia ada dalam kondisi egois dengan tubuhnya sendiri. Siapa juga yang dia rempongin kalau sakit? Emangnya dia doing? Iya kalau orang tuanya ada disini. Kalau ternyata dia adalah anak kosan sama seperti kita? kan temen temennya juga yang rempong. Maka, pendekatan yang baik adalah solusi yang harus dijalankan.

Kedua masalah financial. Pernah kere? Pernah kan, pernah? Pasti semua orang pernah mengalami jaman susah. Pas nggak ada duit, ngutang ke orang orang, utang numpuk, belum ada kiriman, duit bayaran belum turun dan nggak ada makanan. syukur syukur nemu remahan tapi kalau beneran nggak ada makanan?. Maka inilah yang agak melas. Duh.. apa teman temannya nggak pada care ya?. Sebenarnya ada solusi paling praktis untuk mengatasi masalah ini. apa itu? silaturahmi. Pernah denger kan kalau Nabi SAW menyuruh kita bersilaturahmi karena silaturahmi memperpanjang umur dan memperbanyak rejeki. Manusia mahluk sosial kan? pasti nggak bisa hidup sendirian dan membutuhkan orang lain. Maka manusia butuh bersilaturahmi. Ambil contoh ketika kita main sama temen. Paling nggak pasti ada temen bawa makanan walaupun itu cuma sekedar cemilan nggak jelas atau air putih. Atau tiba tiba temen nawari “Put, mau ikut seminar nggak besok? Ada tiket nih buat kamu”. Dan karena keseloan, kita datang ke seminar kemudian tanpa dinyana ada makan siang mengenyangkan seharga restoran yang kita sendiri aja nggak mungkin makan di resto itu. Duh Gusti.. Engkau memang Maha Memberi. Pangerten bener. Alhamdulilah. Jangan pernah risau masalah rejeki. Tinggal minta sama Yang Punya Hidup, pasti kamu nggak akan kelaparan. Uang? Ah.. itu Cuma masalah jalan. Rejeki nggak akan ketuker kok. Sedikit apa banyak selalu syukuri dan selalu memberi meskipun kita dalam keadaan sempit. Toh Tuhan nggak tidur kok. Kita minta apa pasti dikasih apalagi kalau cuma urusan kenyang.

Ketiga masalah kesibukan. Jujur, saya sendiri pernah nggak makan nasi selama dua hari. Dua kali dua puluh empat jam. Iya, selama itu. Alhamdulilahnya saya nggak sakit, tapi habis itu saya merutuki diri sendiri. “Ih Put.. apa sampai segitunya kamu nggak inget kalau tubuhmu ini butuh gizi. Ini nggak dalam waktu bencana. Masa ngasih makan tubuh kamu aja nggak bisa. Sedih banget sih”. Saya marah pada diri sendiri karena tidak mengatur waktu dengan baik. Saat itu saya sibuk karena harus mengurusi acara belum lagi dihantam masalah yang bikin shock. Sumpah, nggak kepikiran buat nelen makanan berat kayak nasi. Dalam waktu dua hari itu saya hanya ingat bahwa saya hanya minum beberapa gelas air dan satu potong kecil roti saja. Nggak ada mood buat makan. Bawaanya kerja mulu, terlalu fokus sama kerjaan dan masalah sampe lupa nggak makan. Setelah keinget anak kebidanan yang punya penyakit magh kronis yang waktu itu harusnya diopname tapi nggak jadi bikin saya bergidik ngeri. Kalau diterus terusin, kesibukan bakal membantai kita. Kita akan membiarkan lambung ‘memakan’ dirinya sendiri karena nggak ada satupun yang bisa digerus disana. Kasihan cuy.. Pernah juga lupa nggak minum sehari semalaman dan baru inget ketika saya ke kamar mandi. Melihat urin yang kuningnya nggak kayak normal membuat saya merasa bahwa gaya hidup saya nggak beres dan saya harus mengubah kebiasaan kayak gitu. Jadilah saya mulai memaksa diri untuk minum lebih banyak dan lebih sering agar tidak kena penyakit ginjal seperti kerabat saya. Rumah Sakit? Oh please.. big no no.

Kembali ke masalah mbaknya yang meninggal karena kurang makan, entah yang mana yang jadi alasan, sebenarnya ada solusi jika memang dia mengalami ketiga hal itu. Solusi itu bernama puasa. Puasa itu punya fungsi mengcover ketiga hal tersebut. Puasa itu mengatur pola makan. Makan dua kali dalam satu hari dimana waktunya hampir selalu teratur. Puasa bisa mengurangi beban keuangan. Terus apa hubungannya sama sulit makan?. Ah, ini masalah ke diri kita aja. Mau mati cepet? Ya nggak usah makan. Mau ngerepotin orang lain? Ya nggak usah makan aja sekalian. Emang enak hidup ngerepotin orang mulu. Malu tauk.. jadi.. makan apapun yang bisa dimakan sekaligus menyehatkan.

Ada beberapa puasa yang bisa dilakukan. Lazimnya sih kalau hari non ramadhan gini ya antara puasa senin kamis atau puasa daud. Puasa senin kamis berarti puasa yang dilakukan tiap minggu di hari senin dan kamis. Kalau bisa konstan lebih baik. sedangkan puasa daud adalah puasa selang seling, sehari puasa sehari libur. Kalau bisa konstan keren banget nih. Puasa daud itu godaannya cuy.. banyak bener. Kekonstanan jadi tantangan disini. Kalau puasa senin kamis kan masih banyak liburnya. Katakanlah kalau seminggu puasa dua hari, liburnya lima hari. Tapi kalau daud? Empat hari puasa tiga hari libur. Katakanlah seperti itu. ujian iman, tapi kalau lolos.. hmmm.. masyaallah bener. Menurut pengalaman saya, saya sendiri sulit menjaga konstannya puasa. Puasa konstan bukan hal mudah. Dulu pernah nyoba semua tapi tidak semudah yang dibayangkan. Sulit bener. Duh.. godaannya ada aja. Tapi yang paling kerasa adalah ketika kita kedatangan tamu bulanan. Ketika haid akan datang, emosi jadi cepat berubah. Bawaannya pengen makan apa aja, puasanya jadi nggak konstan sekalipun itu puasa senin kamis. Habis haid sama, emosi juga masih agak males malesan gimana gitu. Nggak jadi lagi deh.. itu dia godaannya. Tinggal bisa menghadapi apa nggak. Haha. sulit. Sumpah. Tapi buat yang niat kayaknya sih oke oke aja.

Lucu lagi temen saya. “aku sekarang mau puasa jomblo”. Saya ketawa terpingkal pingkal. Dasar nggak jelas nih Si Arma . Ya kali. Apa itu puasa jomblo. Coba jelasin dek.. jelasin.. haha. Dia kemudian bilang bahwa Nabi pernah bersabda bahwa jika sanggup maka menikahlah, jika belum berpusalah. Itu mengapa kemudian teman saya ini mencanangkan bahwa ia bertekad berpuasa yang ia sebut puasanya sebagai puasa jomblo. Haha. dasar nggak jelas. Iya iya yang jomblo. Tapi niat teman saya ini patut diacungi jempol. Sungguh niat yang kuat jika dibarengi dengan realisasi. Hehe.

P.S: Saya juga jomblo. Apakah saya harus mencoba puasa juga?. Hmm..

Marah

Jika ada tiga kata sakti yang harus dipelihara betul: maaf, terimakasih dan tolong. Saya diajarkan untuk bilang tiga hal itu jika saya salah, jika saya sudah dibantu dan jika saya ingin meminta sesuatu. Di sebuah sore nun jauh di pedalaman Sulawesi, saya mengucapkan kata terimakasih karena salah seorang teman saya sudah membantu mengambilkan barang di meja. Ia bilang “nggak perlu bilang makasih.”. Saya bengong dan menimpali “lhoh.. ya harus dong..“. Di lain kesempatan, karena saya sudah ditolong, maka saya mengucapkan terimakasih. Dia kembali berkata “Kalau temen baik, nggak perlu dibilang makasih juga ia pasti ngerti. Ia nggak butuh makasih”. Saya tidak sependapat. Mau teman baik atau musuh, kalau saya merasa sudah bikin salah, saya akan meminta maaf. Jika ada yang bisa saya lakukan untuk menghapus dosa saya, semampu saya bisa, maka saya akan melakukan apapun untuk menghapusnya. Jika saya sudah ditolong, maka seringan ringannya saya akan bilang terimakasih dan jika ada yang bisa saya lakukan, maka saya akan berusaha untuk membalas terimakasih tersebut dengan perbuatan dan doa. Jika saya ingin meminta sesuatu maka saya akan mengawali kalimat saya dengan tolong. Bukan apa apa memang. Tapi saya menghargai sekecil apapun yang datang kepada saya. Bantuan sekecil apapun, mungkin remeh. Tapi jika diberikan dengan kalimat yang baik, akan lebih menghargai perasaan orang-orang tersebut. Mulailah untuk menghargai orang jika kamu ingin dihargai orang lain, begitu wejangan ibu saya.

Kali ini saya ingin membicarakan tentang marah. Marah berkorelasi dengan ketiga hal tersebut. Jika seseorang marah, bisa jadi ada kesalahan yang sedang kita buat. Maka kita harus mencari apa kesalahan kita dan berusaha meminta maaf dan memperbaikinya. Ketika orang marah, kita harus berterimakasih karena ia peduli pada kita. Mungkin marahnya mereka adalah salah satu cara mereka menyayangi kita. Cara mereka menjaga kita dari hal hal yang membahayakan. Saya sendiri lebih suka dimarahi daripada dinengke (didiamkan, dicuekkin). Jika kita membuat salah dan didiamkan, bisa jadi kita akan terus menerus membuat kesalahan. Tapi dimarahi? mungkin kita sedang berusaha untuk dihentikan dari kesalahan bodoh kita. Tolong? Mungkin ada yang bingung apa hubungannya marah dengan kata tolong. Untuk sebagian orang tertentu, mereka malah mencari-cari alasan untuk dimarahi. Oleh karena mereka merasa bahwa marah adalah salah satu bahasa sayang, mereka bersedia untuk dimarahi. “Besok lagi saya tolong diingatkan ya. Kamu marah nggak papa kok. Saya ngerti kamu sayang sama saya”. Ini temen saya pernah bilang kayak gitu.

Justru orang yang memarahi kita, mereka sedang butuh teman bicara. Apa yang harus dilakukan? Jadilah pendengar yang baik. Kadang bikin panas ati sih, tapi percayalah, mereka butuh seseorang untuk diajak bicara –dimarahi- lebih tepatnya. Dulu, saya tidak bisa menerima hal ini. Ketika Ibu saya marah, saya juga ikut marah –kadang membantah, tapi lebih sering dalam diam-. Kesal, mengapa saya harus kena getahnya. Tapi lama kelamaan, ketika saya sudah bisa memilah dan berpikir lebih jernih, saya tahu kadang saya harus mengalah. Orang yang marah sedang memendam bara. Bara akan mati jika disiram dengan air. Maka siramlah marah mereka dengan menjadi obat untuk hati mereka. Jadilah air yang merendam kemarahan mereka. Jadi seorang pendengar yang baik sudah cukup untuk meredakan panasanya hati. Disinilah mental diuji, bisakah kita menjadi peredam bara atau justru kita terkena bara itu dan ikut ikutan panas? Hmm.. sungguh butuh skill kesabaran tingkat dewa. Apalagi untuk saya. Saya masih belajar untuk menata emosi, belajar untuk menata hati dan menempatkan diri. Sulit. Sangat sulit. Tapi saya mau berusaha.

Tiga hari yang lalu saya dimarahi oleh ibu saya. Mengapa? Karena saya bersekongkol dengan adik perempuan saya. Ibu saya melarang adik saya untuk pergi keluar kota sedangkan saya dan ayah setuju ia pergi. Mengapa harus dilarang jika ia pergi untuk sebuah tujuan yang jelas? Saya kesal karena tidak sependapat. (Di sisi lain, saya marah marah pada adik perempuan saya karena ia tidak mengatur jadwalnya dengan baik sehingga semuanya terkesan tergesa gesa). Tapi, saya paham bahwa ibu tetaplah seorang ibu yang khawatir terhadap putra putrinya walaupun mereka sudah besar. Dalam runtunan ‘wejangan’ ibu saya tersayang, saya mendengarkan dengan baik walau kemudian telepon diputus dan saya bengong sendirian di depan ponsel. Saya menarik napas panjang, bersenandung lagunya Sheila .. Kau harus bisa, bisa, berlapang dada.. Kau tahu semua, ada hikmahnya”. Besoknya kami berbaikan kembali. Saya tahu, ibu saya paham bahwa saya sama kerasnya dengan beliau. Jadi tetap saja ia seperti berkaca pada dirinya sendiri. Akhirnya ibuk luluh, bahwa sudah saatnya beliau mempercayai bahwa putra putrinya harus belajar menghadapi hidup, entah bagaimana caranya. Sama seperti ketika beliau masih muda.

Pada suatu malam, salah seorang sahabat saya menginap di petakan kamar saya. Kami pulang agak larut dan ia terpaksa tidak bisa pulang. Kami merebah di atas lantai, melepas penat setelah seharian bepergian. Saya memulai diskusi penting yang ingin saya tanyakan sejak tempo hari. Mengapa ia tidak mengejar apa yang harusnya ia kejar. Saya hanya merasa dia tidak teteg (kurang teguh) untuk mengejar impiannya. Hal itu akan melemahkan semangat yang lainnya jika terus begitu. Saya sendiri tidak ingin terus galau dengan masa depan saya. Jika ada sebuah teori tentang bagaimana seseorang menghadapi sebuah masalah: loncat, hadapi dan hajar. Maka saya ada di tengah. Saya menghadapi masalahnya dan terus berusaha menghajar masalah walaupun rintangannya luar biasa besar. Tapi teman saya ini, ia loncat. Saya tidak melihat usaha maksimalnya padahal jika ia serius, akan lebih mudah untuk selesai daripada saya. Dia selesai duluan? Tidak masalah. Saya akan jadi salah satu yang berbahagia daripada terus menerus jengah mendengarnya mengeluhkan tugas akhirnya tak kunjung kelar. Well, apa yang bisa diharapkan dari terus menerus mengeluh tanpa menghajar diri kita dan mengurai masalah satu persatu. Kamu lebih beruntung dibandingkan saya. Jadi tunggu apa lagi, kamu cukup bodoh untuk membuang buang waktu padahal kamu bisa lebih baik. Sesi panjang itu, saya pikir dia akan tersinggung. Tapi nyatanya tidak. Ia justru tersenyum bahagia. “Aku tahu kamu marahin saya, tapi saya ngerasa nggak dimarahin. Saya kok malah seneng ya ada yang marahin saya. Kamu sudah seperti ibuk.”. Duh dek.. plis.. saya belum menikah. haha. Hmm.. baiklah.. semoga apa yang kita bicarakan membuatmu semangat.

Dalam sebuah perjalanan menuju kota lain, saya dimarahi oleh salah seorang teman. Dia bilang saya terlalu ‘rikuh’. Ia tidak suka karena saya tidak enak hati untuk merepotkan teman teman lainnya di acara yang telah berlalu. lhah.. mau gimana, daripada semua repot. Saya terdiam. Setidaknya dengarkan apa yang ingin ia ungkapkan. Toh, saya juga tetap punya porsi salah. Pulangnya “Makasih, sudah perhatian. Kamu sudah seperti kakak saya sendiri. saya janji tidak akan lagi seperti itu besok”. Pada kesempatan lain, giliran saya mencak mencak karena ia sendiri yang tidak enak hati. “Issshh.. kamu sendiri lho yang bilang nggak boleh pakewuh, kok sekarang malah kamunya yang nggak enak hati. Kayak sama siapa aja” saya melengos. Dia kemudian minta maaf.

Perbedaan antara laki laki dan perempuan ketika memarahi. Ada salah satu teman laki laki saya, dia kesal dengan saya. marah. Tapi ia tidak memaki maki, hanya menunjukkan kekesalan (yang saya tahu itu ditahan). Tentunya karena yang ia hadapi adalah perempuan, lawan jenisnya, mahluk yang lebih perasa dibandingkan dirinya. tapi mungkin jika ia menghadapi laki laki, makian akan terucap lebih banyak. Jika ia perempuan, maka bisa saja ia lebih lancar.

Hari saya dimulai ketika saya harus menghadapi lembaran lembaran Microsoft word sebanyak ratusan halaman di depan mata. Tiba tiba seseorang datang. Dengan gayanya seperti biasa, dia duduk dan menyapa saya. lima menit tanpa kata, saya menengok dan mulailah rentetan cerita keluar dari bibirnya. Dia sedang kesal, saya salah satu penyebab kekesalannya. Tidak ingin memperkeruh suasana, saya minta maaf. Baiklah.. walaupun kepala batu, saya masih punya hati. Saya tahu, di hari hari kemarin seringkali ia kesal ketika kami mendiskusikan sesuatu dan kami tidak sampai pada pemahaman yang sama. Biasanya ia akan memotong secara tajam atau terdiam karena omongan saya tidak bisa dibelokkan. Begitu katanya. Haha. sumpah, saya mau ketawa. Tapi ya memang begitu kenyataannya. Saya sedikit keras kepala tapi bukan berarti saya tidak bisa menerima pendapat orang lain. Terkadang, kita harus berpegang pada apa yang kita yakini. Kita berbeda karena sudut pandang kita dalam melihat masalah berbeda. Saya hanya tidak ingin ikut ikutan terombang ambing padahal saya punya apa yang bisa dijadikan pendapat. Perbedaan pendapat adalah warna warna indah pemanis hidup. Tidak salah kan berbeda pendapat?.. Ketika saya merasa ada yang salah, bukan berarti saya tidak bisa minta maaf. Jika ada yang bisa saya lakukan untuk membuat hati orang yang saya lukai bisa memaafkan saya, apapun itu selama saya mampu, akan saya lakukan. Sebelum pulang saya bilang “Makasih ya”. Dia berpura pura merajuk. Saya bilang “Tahu nggak makasih buat apa?. Dia penasaran. “Makasih udah marahin saya. Berarti kamu masih peduli” . saya berbalik dan pergi. Tapi saya tahu dia tersenyum.

Manusia nggak pernah marah? Nggak mungkin. Marah adalah salah satu bagian dari emosi. Jika ia memang manusia, ia akan dianugerahi dengan setumpuk aneka warna emosi dalam hidupnya. Marah adalah bagian dari berkahNya Marah tidak selalu berkorelasi dengan hal negatif. Kadang, memaknai sebuah kemarahan akan membawa kita pada poin poin penting pembelajaran dari kesalahan yang kita lakukan. Jadilah pengingat yang baik bagi orang lain. Menyampaikan kemarahan kita dengan bahasa yang baik, lebih baik daripada mencak mencak -didenger lebih enak-. Hehe.

Keseimbangan

Jpeg

Yin-Yang. AD Putri (Pen on paper. 2016)

 

Bentara Budaya Yogyakarta!. Ya ampun.. tempat impian buat majang karya. Taraaa.. di tahun ini impian itu setidaknya sedikit demi sedikit terbayar. Di suatu petang, Fitri, CEO Dreamdelion Jogja menghubungi saya untuk ngobrol sedikit tentang pameran yang akan dilakukan di BBY. Kami, Unit Seni Rupa diajak untuk berpartisipasi di acara tersebut. Duh.. nggak nyangka banget bisa majang karya disana *ngiler*. Tentu saja kami tidak akan pernah mengatakan tidak untuk pameran di BBY. BBY yang berupa sebuah galeri dengan nama besarnya pasti sudah menerima ratusan proposal pameran dari seniman seniman besar. Kami masih keder dengan kondisi kami sendiri yang belum stabil. Maka pameran BBY masih jadi planning setidaknya untuk jangka panjang. Hmm.. mungkin 5-10 tahun ke depan, sekaligus reuni angkatan USER UGM biar ngumpul banyak dulu. Hehe.

Dalam waktu satu bulan, kami diberikan kesempatan untk mengonsep karya dan menuangkannya dalam media apapun yang menurut kami cocok untuk dijadikan lahan berkarya. Saya sebenarnya memasukkan tiga karya dalam pameran ini akan tetapi hanya satu yang bisa masuk ke venue karena keterbatasan tempat. Alhasil, saya harus merelakan dua karya lainnya harus duduk manis di kosan saya.

Karya pertama saya berjudul ‘si penenun’, dibuat dikertas dengan tinta kopi karena pada saat itu saya ngopi. Karya ini merupakan karya yang bercerita tentang penenun Moyudan yang multitasking. Ibu ibu penenun tersebut adalah superwoman yang menenun tanpa meninggalkan pekerjaan rumah tangganya. Tanggungjawab terbesar mereka adalah mengurus anak. Hebatnya, tanggungjawab ini tidak samasekali ditinggalkan, bahkan bisa bergerak bersamaan dengan rampungnya sehelai kendhit dari tangan lentur mereka. Menenun sambil momong anak. Begitu hebat.

Karya kedua berjudul Yin Yang. Saya terinsiprasi dengan konsep keseimbangan Tionghoa. Hitam-putih, terang-gelap, pria-wanita. Segala sesuatunya merupakan sistem keseimbangan untuk keberlangsungan kehidupan umat manusia di bumi ini. Jika hanya ada satu sistem, maka tidak akan seimbang. Konsep kedua ini merupakan gambaran dari keseimbangan dimana Tuhan menciptakan laki laki. Suatu hari laki laki merasa kesepian dan kemudian Tuhan menciptakan wanita dari tulang rusuknya. Begitu juga dengan perannya, Tuhan memberikan keadilan dengan memberikan pembagian peran yang berbeda antara laki laki dan perempuan. Meskipun berbeda, keduanya saling melengkapi. Dalam kehidupan rumah tangga, laki laki diberikan tanggungjawab sebagai kepala keluarga yang bertugas mencukupi kebutuhan rumah tangga. Perempuan bertanggungjawab untuk mengelola rumah tangga itu sendiri. Laki laki memang bekerja keras di luar rumah dengan berbagai macam profesi (rata rata penduduk Sejatidesa bermatapencaharian sebagai petani, buruh dan penambang pasir di sungai). Akan tetapi perempuan tidak tinggal diam. Meskipun di rumah dan mengasuh anak sebagai pekerjaan utama, mereka tidak lantas ongkang ongkang kaki. Mereka menggerakkan tangan dan kaki mereka untuk menghasilkan sehelai stagen demi berhelai uang yang mampu membantu keseimbangan perekonomian keluarga. Kehidupan yang keras membuat mereka bekerjasama saling menguatkan keluarga. Teknik pengerjaan karya kedua ini dengan membuat pointilis di setiap lekukannya. Komentar dari pengunjung “mbak.. selo bener bikin titik titiknya”. Saya cuma ketawa.”hyoii.. semacam itulah”. Wkwk.

Karya ketiga yang sayangnya gagal dimuat karena kurang tempat ini dibuat di sebuah linen yang berukuran satu meter. Saya tertarik dengan bentuk pintalan yang menghasilkan bermeter meter benang untuk membuat stagen. Bentuknya sangat sederhana, terbuat dari kayu. Bahkan, banyak warga yang memanfaatkan roda sepeda yang sudah tidak terpakai untuk menjadi alat pemintal. Kreatif. Pemanisnya, saya menuliskan sedikit sejarah tentang tenun stagen Sejatidesa ini di belakang alat pintal. Udah dipigura gede tapi sayang banget nggak bisa masuk pameran. Hiks.

Overall, saya cukup bersyukur bisa diberikan kesempatan berpameran di BBY. Sumpah, kesempatan pembelajaran luar biasa yang sangat sayang untuk dilewatkan. Apalagi saya adalah anak gahol pameran BBY. Wkwkw. Hmm.. BBY.. tunggu kami lima tahun lagi.

Kode

Puuuuttt..putt…. itu kode kerassssssssss buat kamu.. iya..kamu.. Kamu tuh kok ya nggak paham paham sih. Begitu kata teman teman saya geregetan. Perlu tak bilangin ke dia po? Sini sini tak ketikin satu kalimat, kamu tinggal send. Hmmmh.. jadi deh. Lhah mana saya tau juga entah jika seseorang atau beberapa di sana ada perasaan kepada saya. Sumpah.. saya nggak nge-dong samasekali apa itu kode. Saya nggak pernah main main dengan perasaan sebelumnya. Bahkan jeleknya, semua saya anggap biasa biasa saja. Bahkan yang membaca dan menangkap kode kode itu malah sahabat-sahabat saya sendiri. Apa sebego itukah saya sampai sampai tidak mengenali bahwa seseorang atau beberapa disana ingin menyampaikan perasaan tersebut kepada saya. Duh kak.. maapin adek..

Apa itu kode? Bagaimana bentuknya? Seberapa kuat sih arti sebuah kode? Seberapa signifikankah kekuatan sebuah kode? Di jaman yang serba kekinian ini saya semakin tidak mengerti. Apa apa dianggap kode dan segala sesuatunya bisa dimungkinkan menjadi sebuah kode. Saya semakin gagal paham. Atau saya yang emang bego. Hmm.. baiklah.. gagal paham dan bego emang beda tipis. Ehehe.

Kode. Entah bagaimana atau dengan cara apa, saya tetap tidak paham bagaimana mekanismenya. Saya pernah punya pengalaman buruk mengenai kode mengkode. Jadi flashback beberapa tahun lalu dimana salah satu teman saya menganggap bahwa semua yang saya lakukan adalah kode dari saya untuknya. Isssh… apa memang segampang itu untuk menjudge bahwa seseorang mengkode satu dengan lainnya? apalagi di saat yang sama, statusnya adalah pacar sahabat saya sendiri. Waktu itu dia bilang bahwa beberapa lagu yang saya senandungkan adalah kode perasaan cinta saya padanya. Lalu, perasaan sedih saya juga dianggap sebagai kode dan hampir semua kebaikan saya dianggapnya curahan perasaan sayang saya. Lhaaaaaaaaah.. kalau gitu maenmu kurang jauh mas.. temenanmu kurang banyak.. saya mah dari dulu juga senang bersenandung. Murni karena seneng lagunya, bukan buat sok sokan curhat. Saya juga baik ke semua orang, nggak cuma ke kamu doing. duh.. saya makin gagal paham. Dan kisah persahabatan kami bertiga yang tadinya hangat dan ceria berakhir cukup sampai disana. Buat saya pelajarannya adalah ternyata kedua sahabat itu tidak mau mengenal saya dengan baik. Tidak mau mengenal saya luar dalam. Apa apa dianggap sebagai cinta. Fine. Saat itu memang keduanya baru dimabuk asmara, sedangkan saya dianggap sebagai orang ketiga. Padahal naksir aja nggak. Kabar baiknya, hubungan kami hingga saat ini masih terjaga dengan baik. Tapi saya tidak lagi berani untuk melangkah seperti dulu. Biarlah ada batasan yang jelas agar untuk kesekiankalinya saya tidak lagi menangisi persahabatan yang dirusak oleh perasaan.

Selepas itu, saya tidak mau lagi berhubungan dengan segala sesuatu yang disebut dengan kode. Trauma dengan persahabatan yang menghancurkan. Ya.. yang namanya temenan kamu memang harus siap bahagia dan siap terluka. Tapi saat itu adalah saat paling down saya. Sebuah hal yang menghancurkan (karena di sisi lain juga ada masalah yang sama beratnya). Plis. Kamu punya suara, mbok ya digunakan untuk berkomunikasi. Toh saya juga nggak tuli dan kamu nggak bisu. Saya bisa mendengarkan, dan saya bisa menjadi pendengar. Duduk bareng, ngobrol masalahnya apa, kita cari solusinya. Jika toh ternyata saya terlalu berlebihan, harusnya kamu sebagai teman bisa mengingatkan. Simple. Bukannya bingung dengan hal hal yang dianggap sebagai kode kemudian ternyata bukan.

Sekarang, kata ‘kode’ muncul lagi. Ya… saya lagi. Tapi keadaanya beda. Sekarang teman saya yang memberikan saya kode. Tapi sayangnya (kata temen saya yang lainnya) saya nggak peka. Saya juga nggak dong. Mana saya tahu kalau itu sebuah kode. Saya kan bukan tipe orang yang ngeh kalau dikode. Dibilangin langsung baru paham. Kadang saya ngerasa bingung harus bagaimana dalam menanggapi apa yang disebut kode tersebut. Nggak ngeh harus kayak apa atau gimana. Biasanya sih saya cuma lenggang kangkung. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Selama tidak ada yang terucap untuk menegaskan segala sesuatunya, ya berarti tidak perlu dipikirkan. Santai saja. enjoy saja. Toh juga tidak perlu menjauhi orang orang yang dianggap mengode kita. Biasa aja. Belum tentu juga kok dia ada perasaan ke kita. Bukan sebuah masalah besar. Lagi lagi, jangan berprasangka. Udah ge-er duluan, eh ternyata dia emang nggak ada perasaan. Kan kasihan. (kasihan kitanya maksudnya. Udah keburu ge-er duluan). Haha.

Well.. don’t throw a code. It might not work well since I am not S.O.S center. I was a stupid girl scout who never came to the Morse class, semaphore, and all the code class. What you can do is: talk. Simple. Terjemahan bebasnya: (Jangan ngode yak.. Saya dulu pas pramuka nggak pernah masuk kelas Morse, Semaphore dan kelas kode lainnya. Makanya bego. Nggak bisa nangkep arti kode. Haha. Tapi kalau nyimak dan dengerin, saya bisa. Maka, bicaralah. Semudah itu. )

Tugas Akhir Bernama Harus Lulus

Tidak terasa sudah di penghujung waktu. Hampir lima tahun sudah berjalan menuju ke ujungnya. Semua sudut pandang, pahit manis terasa. Bagaimana rasanya patah hati setiap kali menghadap ke pembimbing dan berakhir bahwa beliau tidak pernah sampai bilang “oke, kamu segera ujian ya”. Revisi berkali kali yang menyita waktu, pikiran dan perasaan. Revisi yang selalu membunuh dan tetap menyisakan “Apa sih yang salah dari aku” dan semacam membawa ke perasaan galau yang hampir terus menerus menyiksa karena teman satu persatu menghilang entah kemana. Haha. kok jadi bawa bawa perasaan gini ya. Baiklah kita bahas satu persatu.

Rasanya menyelesaikan skripsi itu memang sebuah perjuangan. Orang mungkin akan bilang “Ih.. Cuma skripsi masa sih nggak selesai”. Ya, kenyataannya memang seperti itu. Sambil bercanda saya selalu bilang “Kalau skripsi itu gampang, udah dari dulu saya lulus”. Kemudian ketawa pahit. Hehe. Skripsi itu pasti selesainya, yang jadi masalah adalah bagaimana kita bertahan dengan kesabaran dan ujian yang ada. Beneran. Skripsi sih pasti jadi. Apalagi kalau diseriusin lahir batin. Yakinlah jadi. Pasti bisa dilalui. Tapi dimanakah kita bisa sabar menghadapi ujiannya seperti ide yang stuck,  dikecu informan, masalah pada hardware dan software pendukung tugas akhir, masalah dengan teman serta keluarga, ketidaksepahaman dengan dosen pembimbing dan semua hal yang membunuh lainnya. Kesemuanya itu makan ati. Sumpah. Ada di satu titik saya benar benar jenuh dengan skripsi saya dan tadinya saya yang semangat banget ngerjain dan berusaha tidak ingin mengeluh malah jadi terus-terusan down. Saya rasa semua orang yang pernah berkecimpung dengan skripsi pernah mengalami hal tersebut. Kebosanan. Solusi terbaiknya? mintalah saran dari orang-orang tentang bagaimana sebaiknya konten skripsi yang baik dan benar, berkonsultasi dengan fakultas lain, mencari referensi dan seabrek hal hal yang membawa kita pada upaya untuk segera selesai. Tapi dosen pembimbing belum sepaham dengan apa yang saya tulis.

Pada perasaan down itulah saya jadi mudah baper. Bawa bawa perasaan. “Apakah sekacau itu yang saya tulis sampai sampai belum juga disetujui.”. Mana orang tua sudah nanyai lagi. Tapi untungnya orang tua saya tidak terlalu mengejar ngejar saya dalam hal skripsi. Satu dua kali ya ditanyain lah. Tapi mereka tidak ingin membebani saya dengan tekanan tekanan orang tua ke anak. Mereka mendukung penuh dan menyemangati agar saya siap dan kuat menghadapi cobaan dalam mengerjakan. Aaaakkk .. terimakasih. Peyuuuukkkk..

Hal yang paling menyedihkan justru ketika kita merasa seperti berhenti di tengah tengah kerumunan orang yang mulai meninggalkan kita. itulah yang saya rasakan. Satu persatu teman teman di angkatan saya perlahan mulai menghilang. Ya.. satu demi satu. bahkan teman teman baik saya semuanya sudah pergi. Mereka telah selesai dan bersorak kemenangan kemudian menjauh untuk mengejar cahaya di depan yang sudah menunggu mereka. Entah mereka telah bekerja, mendapatkan beasiswa ataupun membuka lembaran baru dengan pernikahan. Psikologis saya seperti diserang. Saya merasa seperti semua orang masuk ke bahtera Nuh dan saya tidak diajak. Sedih.

Jadilah saya merasa seperti berkaca pada skripsi saya sendiri yang memang membahas defense mechanism (strategi pertahanan) terhadap stres. Dalam teori Coping Mechanism oleh Lazarus dan Folkman itulah saya belajar untuk memahami bahwa orang orang yang diterpa stres akan membuat pertahanan dalam dirinya baik dalam bentuk emosional maupun bentuk nyata untuk menghadapi stressor (faktor penyebab stres) itu sendiri. Dan rasa rasanya saya sudah menggunakan berbagai bentuk mekanisme pertahanan untuk menanggulangi tekanan yang menghantam selama masa pengerjaan tugas akhir ini.

Saya tidak pernah menyesal telah mengambil topik ini. Saya memahami betul bahwa inillah caraNya untuk mengajari saya bahwa saya harus mempelajari pertahanan diri lebih dalam agar tidak mudah tertekan. Tekanan dari lingkungan yang mengharapkan saya harus baik dalam segala hal temasuk nilai. Apalagi dari awal, saya bukanlah orang yang peduli dengan nilai. “Nilai bukanlah segalanya. Nilai bukan satu satunya faktor kesuksesan seseorang”. Nilai memang penting. Tapi bukanlah segalanya yang harus dikejar. IP cumlaude, IPK sempurna. Untuk apa semua itu harus dicapai mati matian. Analoginya buat saya “Ibarat sebuah pohon besar, mereka yang IPK nya terhitung ‘baik’ entah itu lebih dari tiga, tiga setengah lebih bahkan kalau perlu empat koma lebih itu udah kayak daun yang berguguran. Terlihat sama dan berserakan dimana mana. Lha terus apa yang membedakan kamu dengan yang lainnya.” Oh, come on.. sudah terlalu banyak. Jangan melulu bicara soal IPK dan nilai dan segala sesuatunya yang terlihat hitam di atas putih. Oke, memang penting. Tapi bukan segalanya. Dibawa santai bisa lho seharusnya. Selama ini saya tidak pernah berpikir bagaimana harus mendapatkan IPK lebih. Buat saya, saya harus berpikir keras bagaimana mengatur waktu biar akademis oke, belajar tetap sesuka hati saya tanpa paksaan dan main terus jalan. Kalau gitu kan asik. Hidup nggak ada beban. Apalagi yang harus digaris bawahi: belajar sesuka hati. Belajar santai, lewat cara apapun dan media apapun dan alokasi waktu untuk main tetap terjatah. Wiiih … apa nggak bahagia hidup saya.

Luruskan niat, itu yang lebih penting. Tuhan akan memberikan apa yang manusia niatkan bukan?. Saya tidak ingin hanya mendapatkan nilai bagus agar mendapatkan pekerjaan yang layak. No no.. Tuhan tidak tidur. Ia akan selalu memberi saya makan, memberi saya kesempatan untuk hidup. Jadi, untuk apa saya khawatir dengan pekerjaan. Pasti nanti di waktunya saya juga akan mendapatkan pekerjaan, entah apa itu.

Saya lebih peduli dengan akhirat saya karena saya selalu mempercayai tiga hal yang tidak akan terputus setelah kita mati: ilmu, amal dan doa. Tiga hal sakti yang diajarkan orang tua saya. Saya suka belajar dan saya mempercayai ilmu akan mengantarkan saya pada apapun yang saya inginkan. Saya ingin faedah ilmu dan fadhilahnya akan menerangi jalan saya ketika dunia sudah berakhir. Seperti kasus salah satu sepupu saya yang menghancurkan keinginan ibunya, saya tidak ingin seperti dia. Pada saat itu ia sudah hampir menyelesaikan kuliahnya, asdos di tangan dan kemudian ia berhenti dan bilang pada ibunya “saya ingin berjuang untuk akhiratnya”. Ia pun meninggalkan kuliahnya dan entah apa yang ia lakukan. Sepupu saya berpikir bahwa kuliahnya bukan hal penting dan ia harus mengabdi kepada agamanya. Mungkin ia lupa bahwa menuntut ilmu dan menghormati orang tua adalah sebuah jihad yang paling utama sebagai seorang anak. Ibunya hanya mengelus dada dengan perasaan berkeping keeping karena cita citanya sebagai ibu yang mengharapkan tidak kesampaian. Saya tidak ingin jadi seperti itu. Saya tidak ingin menghancurkan perasaan ibu saya sendiri. No. Rasanya dikecu itu taulah rasanya seperti apa.

Disela kegalauan, saya kadang merasa kesepian. Tapi rasa rasanya Tuhan masih sayang. Ia tidak mau meninggalkan saya sendirian. Datanglah teman teman lain yang juga masih berjuang seperti saya. Tidak banyak memang, tapi cukuplah untuk menjadi penguat dan penambah semangat. Rasa rasanya.. saya tidak sendirian. Kami memang tidak bisa membantu satu sama lain karena kami mengerjakan materi yang bertolak belakang. Tapi dengan kehadiran kami, hal itu memperingan perasaan. Kami berjuang bersama, sekaligus melakukan hal hal bodoh bersama. Saling back-up. Begitulah. Peyuuuuuuuukkkk..

Dan kemudian rasa rasanya masih kemarin saya jadi maba (mahasiswa baru), sekarang saya harus siap meninggalkan status saya. Terlepas dari cinta dan benci, perasaan jadi satu yang mewarnai kehidupan di sini. Sungguh ada rasa sedih dan haru untuk mengakhiri tugas saya sebagai calon wisudawan periode selanjutnya yang mudah mudahan bisa lulus di tahun ini. Semoga saya dan teman teman saya bisa lulus di waktu yang sama. Amin.

*ditulis sehari setelah pak dosen bilang “oke, revisi sekali dua kali, segera ajukan untuk ujian. ”. saya menutup pintu dan.. “Alhamdulilah.. akhirnya terjawab sudah doaku, Tuhan”

Perkara Jodoh

Rezeki, jodoh dan mati adalah rahasiaNya. Kita hanya perlu berusaha dan berserah diri. Itu saja. Saya tidak banyak membicarakan soal jodoh, bukan karena tidak peduli. Tapi karena memang belum terlalu terpikirkan. Tapi gegara teman teman saya sudah membicarakan soal jodoh, mau tidak mau saya pun juga larut dalam pembicaraan tersebut.

Sebagian peduli, sebagian tidak. Perbedaan perspektif antara laki laki dan perempuan menjadi sangat mendasar ketika mendengar dari dua sudut pandang tersebut. Kata beberapa teman laki-laki, biasanya mereka akan memikirkan pekerjaan entah itu dimana, rate gaji berapa, bagaimana sistem di dalamnya. Beda dengan perempuan. Secara psikologis di umur umur seperti ini kami akan memikirkan tentang kapan sebaiknya memulai hidup rumah tangga, dengan siapa, bagaimana orang tua, pengasuhan anak dan pola hidup pasca menikah.

Sungguh berbeda, tapi cobalah perhatikan. Keduanya bersinggungan. Laki laki akan menjadi imam dalam keluarganya. Ia adalah tulang punggung yang harus siap nafkah lahir batin. Maka, ia berpikir bagaimana langkah selanjutnya paska pendidikan. Apakah ia akan bekerja atau S2. Kalau iya dimana, kalau tidak bagaimana. Pada akhirnya keluarganya membutuhkan ini itu untuk melanjutkan hidup. Ya.. karena kita tidak cukup hidup dengan cinta. Kemudian perempuan, haruslah mengurus seisi rumah beserta jiwa yang hadir di dalamnya. Maka, ia sudah harus memikirkan kapan ia harus bersanding dengan laki laki belahan jiwanya, bagaimana pola pengasuhan anaknya sampai bagaimana pandangan ke depan tentang cita cita bersama. Keduanya saling melengkapi satu sama lain untuk membangun sebuah mahligai yang penuh rahmat.

Konsep Yin-Yang, keseimbangan. Dimana ada hitam disana ada putih, gelap dengan terang, kesedihan kebahagiaan, jatuh bangun, dan sebagainya. Begitulah keluarga, selalu ada laki laki dan perempuan yang saling memback-up. Walaupun belum tentu juga mereka cocok secara pemikiran. Tapi, bukankah cinta itu saling menguatkan? Cinta itu bertoleransi, bukan? Cinta itu memaksa mereka berdua yang sebenarnya tidak saling klik menjadi tali yang bersimpul mati, saling bertaut dan tak terpisahkan. Seperti halnya wejangan dari seorang kyai: mencintai itu adalah urusan setelah sah, bukan sebelumnya. Sebelumnya, hanya ada kepalsuan dimana hanya ada rasa manis saja. Sedangkan hidup sehidup semati membutuhkan kesungguhan dan kesabaran karena harus saling memahami sifat sifat berbeda yang mungkin timbul. “Karena pahit dan manis dimulai setelah sah”. Disinilah yin dan yang saling melengkapi. Yin dan yang tidak boleh saling menggantikan. It is not a matter of subtitution but it is a complementary thing. Saling melengkapi dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Ya setiap orang memiliki pemikiran berbeda mengenai jodoh. Saya pernah berdiskusi dengan beberapa orang teman dari Korea mengenai konsep pernikahan mereka. Ada yang bilang bahwa mereka akan menikah di usia tiga puluhan ke atas, yakni ketika mereka sudah siap dan benar benar ingin menikah. Sedangkan orang Indonesia pasti beranggapan orang yang menikah di umur tiga puluhan lebih dianggap sebagai perawan tua (yang pasti kena hujatan adalah perempuan. Laki laki dianggap masih wajar menikah di umur tersebut). Seorang teman dari Malaysia sana malah backpakeran jauh untuk mengobati rasa patah hatinya akibat belum mendapat restu dari orang tuanya. Ada juga teman saya dari Perancis yang ingin menikah tapi tidak ingin memiliki anak karena mengurus anak itu merepotkan. Sebagian lainnya merasa belum perlu menikah jika belum merasa pasangannya cocok, padahal mereka telah tinggal bersama. Baiklah.. ada banyak cerita dari orang orang dari seluruh dunia.

Sebagian sudah memikirkan jodohnya siapa dan metodenya bagaimana. Entah itu dengan pacaran, taarufan hingga perjodohan. Sebagian lainnya masih asik sendiri dan belum memikirkan hal hal seperti itu. Sebagian lainnya menggalau pasca putus dari mantan, bingung memikirkan jodoh hingga tidak mau jatuh cinta lagi karena merasa terkhianati cinta. Seseorang sudah melamar calonnya, walaupun pada akhirnya mereka tak berjodoh karena orang tua si laki laki tak menyetujui. Kemudian ada yang baru lepas dari mantan yang pernah memberikan janji janji manis namun di tengah jalan pria ini tidak tepat janji. Ada juga yang khawatir dengan jodoh karena takut terlalu tua untuk menikah. Ada lagi yang tidak peduli dengan siapa nanti ia berjodoh hingga ia santai saja memikirkan soal pendamping hidup. Tidak terlalu terburu buru katanya. Ketika teman teman saya sibuk berbingung bingung ria dengan urusan jodoh, saya malah bodo amat. Saya malah lagi bingung nih mau main kemana lagi besok. Haha.

Buat saya mengalir saja. Walaupun keponakan keponakan baru bermunculan. Saya sudah jadi budhe atau bulik buat mereka. Walaupun undangan undangan walimahan betebaran. Walaupun foto foto nikahan kawan semakin berseliweran. Saya masih belum mikir jauh, belum tergoda. Saya masih fokus sama masa depan (bukan masa depan pernikahan, hanya masa depan cita cita saja). Toh juga pasti saya menikah pada akhirnya walaupun entah dengan siapa. Yang terpenting adalah apakah saya sudah siap mental untuk tinggal bersama seseorang yang (mungkin) belum pernah kenal sebelumnya untuk menyempurnakan separuh agama. Ini bukan cuma urusan dunia, bahkan benar benar untuk urusan akhirat. Saya tidak menginginkan yang muluk muluk. Hanya butuh seorang lelaki tulen (baca: tulen. Lelaki beneran, 100 % laki laki) yang memiliki kriteria yang diharapkan orang tua saya. Mengapa orang tua? Ya, karena saya sendiri nggak punya kriteria aneh aneh. Saya nggak ngerti apa apa soal dunia laki laki. Jadi, saya hanya ikut apa yang bapak ibuk saya harapkan. Baiklah. Terserah deh. Lagipula, cinta pertama seorang anak perempuan justru pada ayahnya. Sehingga ketika si anak perempuan beranjak dewasa, ia akan mencari yang semirip mungkin dengan ayahnya (bukan secara fisik tapi secara perilaku dan mental). Dan.. saya pun tidak akan menerjang pagar yang telah di bataskan orang tua. Saya mungkin terkadang bandel, tapi tetaplah mereka dua orang yang tidak akan pernah saya sepelekan. Jadi, ada pagar pagar yang tidak mungkin saya terjang. Jika ayah dan ibu saya bilang tidak, maka saya pun tidak akan mengiyakan untuk calon saya. Kalau semisal sudah sampai waktunya tapi belum ada calon? Yaudah terserah maunya orang tua aja. Toh mereka tidak akan tinggal diam. Dijodohin? Yaudah.. manut aja.. entar tergantung pembicaraannya bagaimana. Yah.. walaupun hingga saat ini saya masih disuruh untuk menemukan pasangan saya sendiri. haha. “Udah gede, dek. Sana cari sendiri”. Wakakak.

Ada cerita lucu tentang pernikahan. Waktu itu saya dan ibu saya sedang berdiskusi tentang seperti apa saya paska kuliah. Setelah pembicaraan ngalor ngidul mengenai masa depan, beliau mengingatkan “Walaupun kamu nanti akan bekerja atau lanjut sekolah lagi, kamu juga harus ingat batasan umur untuk perempuan”. Hmm.. baiklah. Saya mengerti arah pembicaraan ibu Kemudian saya dengan sengaja menantang “Ibu ingin saya menikah di umur berapa, memangnya?”. Ibu saya menjawab “Dua tiga dua empat lah”. Saya bengong sejenak dan ketawa mati matian. “Buuuuukkkk…Sekarang umur saya juga udah segitu. Haha. Cuma calonnya aja belum ada”. Wakakak. *ketawa kecut masalah umur*. Lucu sumpah. Ibu saya ternyata masih menganggap saya berusia dua puluhan. Saya dianggap masih anak anak. Teman teman saya tertawa jahat ketika saya menceritakannya kepada mereka. Isssh….

Orang tua saya tidak memberi warning umur muda kepada saya untuk menikah. mereka bahkan tidak menyarankan saya untuk menikah cepat cepat. “Belajar dulu, main dulu yang jauh, kamu masih kecil masih muda. Nikmati kehidupanmu. Nikah itu perlu persiapan mental yang besar”. Jadilah saya pun seperti disetujui keinginannya. Apalagi saya termasuk yang cukup skeptis dengan pernikahan. “Nikah itu bukan sekedar hompimpa alaihum gambreng kemudian main, bisa nas, tit ataupun bar njuk besok main lagi”. No no.. bukan itu. Seperti yang saya sudah bilang kemarin, pernikahan adalah masalah agama. Dimana persiapan fisik dan mental akan menentukan segala sesuatunya ke depannya.

Saya menghargai teman teman yang menikah muda. Mungkin memang jodoh datang ketika mereka masih belia dan di saat yang sama mereka siap membangun mahligainya. Saya? Ngikut kata orang tua udah cukup lah. Orang tua bilang saya suruh main dulu ya saya gimana nggak bahagia. “tenang.. jodoh nggak kemana kok”. Begitu wejangan mereka. siappp pak.. buk..

Hmm.. jodoh ya.. ikhtiar saja dulu. Toh saya juga tidak menutup diri apalagi hati. Cuma emang belum waktunya aja sih menurut saya. Selo lah.. nggak perlu terburu buru. Doakan saja yang terbaik. Simple.

Perlindungan

Seorang perempuan muda menggendong seorang putra kecil berusia delapan belas bulan mampir ke rumah kami. Wajahnya sayu dengan beban hidup yang harus ditanggung seorang single parent yang tidak menikah. Belum menikah paling tidak. Usianya baru dua puluh tahun. Putra kecilnya itu didapat dari kecelakaan karena terjerumus ke dalam pergaulan yang seharusnya ia jauhi. Salah langkah.

Saya mengenalnya sebagai teman satu kelas adik perempuan saya ketika masih di sekolah dasar. Ia dijauhi teman temannya karena dianggap jorok dan ‘kurang gaul’ menurut pandangan anak anak SD pada jaman itu. setiap hari ia kenyang bully-an. Bahkan almarhumah wali kelasnya pada saat itu juga sering membentak bentak dan mengata ngatai si anak bahwa ia bodoh dan seabreg sindiran dan kalimat kalimat merendahkan lainnya. ia tumbuh menjadi seorang anak yang pemalu, rendah diri, mudah menyerah, kurang mau melawan arus dan selalu nrima ing pandum. Ia sudah terlalu sering disakiti oleh dunianya, ia terlalu sering dikhianati orang orang disekitarnya. Di satu titik, bukan lagi perlawanan yang ia lakukan. Tapi penerimaan terhadap kerasnya kehidupan melalui lemahnya mental yang dibentuk oleh lingkungannya. Lingkungannya juga terlalu jahat. Ya tentu saja hidup setiap manusia sudah digariskan. Tapi tidak berarti si manusia itu akan menyerah jika kehidupan keras menghajarnya terlalu sering. Harusnya akan terbentuk sebuah defense mechanism yang mampu menjadi tameng untuk dirinya sendiri. (duh.. jadi kebawa skripsi). Miris memang.

Belum juga ia selesai di bangku kelas empat, ia keluar dari sekolah. Kabar burung mengatakan bahwa ia pindah ke sebuah pondok pesantren untuk belajar agama. Kabar itu bagaikan kabar yang hilang terbawa angin. semua orang tidak sedih ataupun senang. Semua orang kembali ke aktivitas mereka masing masing.

Sepuluh tahun kemudian, ia muncul di pintu rumah kami membawa seorang putra kecil dengan nama Ravi. Nama yang indah. Namun cerita di balik hidup si ibu anak ini yang tidak indah. Pasca beberapa tahun hidup di pondok, entah bagaimana ceritanya, ia keluar. Mungkin saja karena defense mechanism yang tidak membentuknya menjadi pribadi yang liat membuatnya salah jalur. Ia terbawa pergaulan hingga menyalahi aturan agama, suatu hal prinsipil yang harusnya sangat dipegang teguh olehnya hasil dari pendidikan pondok beberapa tahun. Selesai sudah. Ia hamil.

Tidak ada kata pernikahan tercapai hingga detik ini. alasannya, karena perbedaan keyakinan. Ayah si perempuan ini tidak menyetujui si anak menikah dengan laki laki yang berbeda agama. Si perempuan beragama muslim dan si laki laki beragama nasrani. Jadilah mereka hidup di dunia yang bukan satu rumah seperti seharusnya. Padahal hubungan si perempuan dengan keluarga si laki laki cukup baik. Sayang sekali, Ravi harus hidup tanpa ayahnya.

Sambil berlinangan air mata ia bercerita susah payah hidupnya. Ia Tinggal bersama keluarga yang broken, ayah si perempuan menikah lagi dengan wanita lain sedangkan ibu si perempuan telah meninggal sejak si perempuan masih kecil. Si ibu tiri ini berlaku kurang adil terhadap anak-anak tirinya. Rumor mengatakan bahwa si ibu tiri sangat pelit. Bahkan si perempuan berkata bahwa ia sungkan hanya sekedar makan di rumahnya sendiri. Semua karena ibu tirinya begitu menguasai rumah tersebut. Belum lagi adik si perempuan menderita down syndrome. Lengkap sudah.

Ada satu hal yang membuat saya terenyuh dengan cerita kemarin sore di rumah saya. Adik saya bercerita bahwa seorang entah siapa pernah menawar Ravi dengan harga di atas lima puluh juta. Dan si perempuan tidak sama sekali mengizinkan anaknya ditukar dengan lembaran lembaran yang sebenarnya ia sendiri masih membutuhkan uang tersebut untuk melanjutkan hidup. Ia sama sekali tidak memiliki uang pada saat itu. Rasa rasanya jika bisa ia mengambil selembar saja, tentunya bisa digunakan untuk membeli keperluan Ravi. Tapi, dengan sumpah seorang ibu, ia tolak mentah mentah keinginan si orang tersebut. Ia lebih rela hidup melarat daripada harus kehilangan buah hatinya. Ia tidak sama sekali mengizinkan Ravi diadopsi –dibeli- lebih tepatnya. Rasa sayangnya terlalu besar.

Yang saya pelajari dari si perempuan ini adalah pada akhirnya ia mengembangkan defense mechanismnya sendiri. Ia telah tumbuh menjadi sosok yang melindungi. Ia tidak lagi bisa dibully seperti ketika ia masih sekolah dasar. Mungkin pengalaman di masa kecilnya menempanya menjadi pribadi yang lebih berani. Ia merasakan sendiri bagaimana rasanya dicaci-maki bahkan oleh siapapun karena dianggap autis, gila, bodoh, tolol dan tidak menarik. Ia tidak ingin anaknya mengalaminya lagi. Sehingga ia benar benar melindungi Ravi dari kerasnya lingkungan. Bahkan ia pun juga sangat ingin Ravi mendapatkan pendidikan yang layak karena ia menyesal tidak menamatkan sekolah dasarnya. Ketika kecil, ia tidak dilindungi dan ia memberikan perlindungan kepada putranya. Sebuah defense mechanism yang abadi. Seorang ibu.

Rumah Terakhir

Hari Jumat, hari baik untuk mengunjungi ‘kerabat’ yang telah lebih dulu pergi. Ya, bepergian ke alam sana. Di kota ini, ada seseorang yang telah pergi mendahului keluarganya, koleganya dan semuanya. Di hari Jumat yang teduh, saya meluangkan waktu mengunjungi rumah barunya, sebuah petak nun di tengah pemukiman sebelah pasar di ujung jalan sana.

Rerumputan liar tumbuh tak beraturan tanpa ada satupun yang peduli dengan rumah tersebut. Hanya sepetak berukuran dua kali satu meter, tak terawat dan agak terlupakan. Entah sudah berapa lama kerabatnya mengunjunginya. Sayang hanya ada waktu sedikit untuk sekedar mengucap salam pada si pemilik rumah dan tetangga tetangganya serta memanjatkan sedikit kidung kepadaNya. Memohon pengampunan padaNya atas segala kesalahan nenek moyang.

Ada banyak pendapat mengenai rumah terakhir ini. sebagian orang berkata bahwa ziarah sangat dianjurkan. Sebagian lainnya berkata “Didoakan saja dari rumah.”. Mungkin tidak salah pendapat ini. Jika ternyata kerabat tersebut dimakamkan jauh dari rumah kita, di tanah Mekah sana atau di luar kota sana dan kita tak sanggup untuk mengunjunginya sering sering. Tapi, bukan hanya sekedar doa yang bisa dipanjatkan dari rumah. Kalau jarak makam dekat, tentunya poin pentingnya bukan hanya itu. Ini tentang sahabat yang tentu saja sangat senang apabila rumahnya dikunjungi, masih diingat dan masih dirawat. Logikanya kita suka dikunjungi para sahabat bukan. Ketika melihat makam yang tak terawat itu, saya menunduk sedih. Apakah tidak ada yang sudi mengunjungi rumah terakhir tersebut? apakah anak cucunya masih mempedulikannya hanya dengan sekedar mengunjungi walau satu dua jam di hari kamis sore atau jumat pagi. Tentunya si pemilik rumah akan merasa senang sekali apabila dikunjungi anak cucunya. Karena hanya tiga hal yang tak akan pernah terputus ketika anak Adam meninggal. Pertama Ilmu yang bermanfaat dimana ridlo guru mutlak diperlukan. Kedua harta jariyah, ketika orang tua ridlo pada harta kita. Terakhir anak soleh yang masih mendoakan orang tuanya. Poin terakhir ini merupakan kombinasi dua yang pertama. Ada campur tangan orang tua dan guru untuk menjadikan seorang anak soleh. Anak soleh doanya tak akan tertolak apalagi untuk orang tuanya yang sudah meninggal.

Ketika seorang mengemukakan pendapatnya kepada saya tentang hal ini “Ada beberapa orang yang bahkan tidak ingin jika makamnya diketahui. Kalau mau mendoakan, maka cukup didoakan darimana kita berada, tidak perlu mendatangi makamnya.”. Kalau mau sedikit subjektif, saya kurang setuju dengan pendapat tersebut. Secara pribadi, mengunjungi makam adalah sebuah hal yang sangat dibutuhkan. Bukan wajib, tapi dianjurkan. Rasa rasanya setelah mengunjungi makam, ada perasaan bahwa kita harus mengingat bahwa hidup hanyalah mampir sebentar sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke alam yang sesungguhnya. Mengunjungi makam juga merupakan sebuah penghormatan terhadap si pemilik makam. Akan menjadi penanda bahwa kita masih mengingatnya dengan memberi salam pada ahli kubur, membersihkan makamnya dan mendoakan entah dengan hadiah fatihah, tahlil, kulhu dan yasin.

Entah apakah kita adalah si anak dari pemilik atau bukan, kalau bukan karena masih memiliki rasa hormat, tidak mungkin kaki bersedia melangkah hingga ke utara sana. Saya masih menaruh rasa hormat pada beliau yang dulu semasa hidupnya mendiang sudah menganggap saya anak. Saya memang bukan anak kandungnya, orang jauh malah yang tidak ada hubungannya sama sekali. Jika ada yang bilang bahwa bukan anak kandungnya bisa jadi doanya tertolak. Entahlah, saya tidak tahu menahu soal tertolaknya doa atau diterimanya doa saya pada ibu tersebut. Yang saya tahu hanyalah ini bentuk takdzim saya pada orang tua dan semoga Allah menerima doa saya. Continue reading

Santunan Sepuluh Juta Untuk si Fakir Pulsa

Pagi pagi ada nomor asing yang masuk. Saya pikir salah satu sepupu saya menelepon dengan nomor lain. Maka saya angkat telepon tersebut. Dengan suara kemresek, si penelepon menjelaskan bahwa ia adalah salah satu pegawai Indosat. Saya yang tidak percaya hanya berdehem dan pura pura sok paham. Ia mematikan telepon. Tak berapa lama kemudian, si penelepon muncul lagi. Kali ini ia mungkin agak marah gara gara saya menyarankan ia untuk mematikan teleponnya sementara. “Pak, suaranya nggak jelas nih”. Saya berkali kali berkata seperti itu. Padahal memang kenyataanya suaranya kurang jelas. “Mbak, saya jelaskan lagi, Mbak mendapatkan uang santunan sepuluh juta”. Whatttt??? Tekkkeee.. sepuluh juta.. banyak jugak. Tapi kok belakangnya nggak enak yak. Santunan meeen.. emangnya ada yang mati sampe disantunin segala. Dengan nada agak meremehkan saya bilang ” kok cuma sepuluh juta? Emang buat apa?”. Kali ini, ia malah memarahi saya “Yaudah kau tutup aja teleponnya. Tutup saja sana”. Saya yang menahan tawa “Oh, yaiyalah. Pasti”. Dengan satu tap pada tombol merah, saya sudahi pembicaraan bodoh saya pagi ini.

Analisis: ya kalik, Indosat segitu kerenya ngasih hadiah cuma sepuluh juta dengan mengandalkan nomor komersialnya. Indosat pasti punya nomor telepon kantor kan, nah kalau ada undian dan konsumen menang pasti mereka akan menghubungi dengan nomor telepon kantor. Nah, ini menghubunginya pakai nomor 0858xxx. Belum lagi suaranya kemresek –berisik-. Duh.. neleponnya dari atas gunung po? Haha. sampe sinyal aja rebutan. Miskin amat indosat sekarang. Sebagai pelanggan Indosat, saya cukup prihatin kalau Indosat sampai jatuh miskin. ehehehe

Kedua, dengan nada yang terburu, si penipu menjelaskan bahwa saya adalah salah seorang yang perlu disantuni. Nipunya nggak cerdas euy. Pasti sering bolos kelas bahasa Indonesia. Setahu saya kata ‘santunan’ adalah sebuah term yang secara semantik mengarah pada hal hal yang berhubungan dengan kesedihan. Lhah.. saya ngapain cobak? Iya sih emang sejujurnya saya fakir pulsa, tapi nggak perlu disantunin sampe sepuluh juta juga. haha. Saya nahan ketawa.

Ketiga, penipunya mutung karena saya kerjain. Oleh karena tidak tahan dengan suara miskin sinyal dari pembicaraan kami, saya menyarankan kepadanya untuk menjernihkan suara ponselnya. Saya pikir jika dia serius maka dia akan menelepon lai. Eh, beneran saya ditelepon lagi. Lucunya ketika dia menjelaskan lagi dan saya pura pura bego karena kaget akan diberi uang sepuluh juta, ia marah. “Sudah kau tutup telepon kau saja”. Nada marahnya, membuktikan bahwa ia jelas jelas mau menipu. Bukannya seorang Customer Service harus bersikap (sok) semanis mungkin pada pelanggannya bahkan dalam keadaan tertekan. Lhah.. ini mas mas penipu ini malah memarahi saya. Ya saya sebagai pelanggan yang harus diperlakukan (sok) kayak raja, jelas marah lah. Raja kok ditantangin. Siapa kamu? #ehh.

Telepon saya tutup dan saya kembali sibuk dengan dunia saya. Lagi.