Sekelumit tentang Operasi Gigi Geraham Saya Kemarin

  1. Nun jauh sebelumnya (dua tahun lalu)

Ini adalah pengalaman pertama saya bedah. Yes.. operasi. Bukan jenis operasi besar sih, tapi cukup bikin deg degan karena saya takut dengan jarum suntik. Haha.

Well.. cerita dimulai sejak dua tahun lalu ketika saya mulai dengan rajin mendatangi dokter gigi akibat gigi saya bolong. Alasan awal kenapa saya tetiba rajin ke dokter gigi yakni, di suatu siang yang syahdu ada dua mbak mbak dari FKG (Fakultas Kedokteran Gigi) sebuah universitas tua mendatangi saya yang sedang leyeh leyeh menikmati sepoi angin siang siang di bangku hitam. Dia melihat gigi saya dan menawari untuk menambal gigi geraham saya yang terlihat oke padahal berpotensi bolong. Maka, saya pun mengiyakan tawaran mbak itu dan datang keesokan harinya ke FKG. Kedatangan saya ke FKG ternyata membuka permasalahan baru yakni: gigi saya impaksi!. Impaksi adalah gigi geraham belakang yang tumbuh tidak normal (dan sebagian besar akan menimbulkan masalah di kemudian hari). Geraham belakang miring dan harus dioperasi. Udah berasa ada petir nyamber nyamber di kepala saya, gaes. Haha.

Tapi karena dasarnya saya takut dengan prosedur operasi, saya tidak juga segera melakukan operasi. Sampai akhirnya beberapa minggu kemudian, tambalan mbaknya ini nggak beres dan saya harus ke sebuah klinik untuk mengurus gigi saya. Dan yu know.. yang saya nggak suka adalah si mbak koas yang dulu menawarkan prakteknya pada saya tidak mengecek mengontrol ataupun memberikan pertanggungjawaban soal bagaimana bagaimananya gigi saya waktu itu. Terima bongkar pasang tapi nggak terima kontrol. Duh.. sedih bangeeet kan. Doa saya semoga mbak yang menjadikan saya percobaan waktu itu bisa menjadi dokter gigi yang handal. Lhah.. temen saya, si Nower lebih parah lagi mbak koassnya. Belum juga dioperasi, mbaknya terlalu jujur “Mas, biasanya habis operasi nyeri hebat”. Wakakakak. Dokter macam apa itu, bukannya nenangin malah bikin nambah panik. Si Nower cuma bisa deg degan keringat dingin waktu itu dan kami yang mendengar ceritanya ngakak nggak berhenti henti. Yah.. semoga mbaknya FKG ini nggak ada bakat bikin orang mati berdiri sebelum dioperasi.

Dengan dokter yang merawat saya di klinik beliau menyarankan saya untuk melakukan pengangkatan gigi geraham belakang saya yang impaksi. Maka saya datang beberapa hari kemudian dengan membawa sebuah rontgen gigi geraham belakang saya yang miringnya emang parah banget. Setelah dengar penjelasan dari gambarnya, saya tambah parno waktu denger second opinion kalau gigi saya emang wajib ain tak bisa ditawar harus banget dibedah dan nggak ada cara lain untuk menyembuhkan selain operasi. Resiko jika gigi belakang saya tidak diambil, di usia tiga puluhan ke atas, saya akan mengalami migrain parah. Belum lagi ada masalah pada syaraf di kepala dan tengkuk serta leher. Dan masalah tidak berhenti disana saja. kalau ada bakteri jahat, salah salah dia akan nemplok ke saluran gigi dan turun.. turun.. turun terus menuju jantung. Taraaa.. saya bisa mati akibat bakteri yang nyasar ke jantung atau paru-paru. Hiiiii.. horrroorrr.

Apakah setelah mendengar cerita horror tapi nyata dari dokter gigi betulan di klinik tersebut saya jadi memiliki keberanian untuk operasi? Tidak sodara sodara. Tidak samasekali. Bahkan saya menyepelekan. Hehe. Ah.. masalahnya cuma urusan sisa makanan nyelip doang kan ya. Ah pake sikat gigi yang lembut juga pasti ilang. Kumur kumur juga selesai. Nggak bakal sakit deh. Dan bla bla bla

Sampai suatu ketika, saya merasakan nyeri yang teramat sangat di bagian geraham belakang. Satu hari sebelum saya dan Hida melakukan perjalanan ke Purwokerto untuk menengok Kasubret Stasiun Pekalongan, Arif Firmansyah, saya mulai sakit gigi. Dan siksaan terberat adalah ketika saya bangun pagi, nggak mandi dan langsung mengejar kereta Ciremai dari Stasiun Bandung menuju Pekalongan. Meskipun saya sudah minum obat pereda nyeri, syaraf gigi saya tetap tak mau diam. Satu satunya pereda nyeri justru ketika saya ngemut air putih (minum air putih dan menahan selama beberapa detik di mulut), baru syarafnya mau tenang. Tapi habis itu, saya tetap harus menelan air putih. Dan seketika air masuk ke kerongkongan, si saraf gigi mulai bergoyang lagi. Duhhhh sakitnya..

Jadi, lagu Megy Z yang sakit gigi lebih baik daripada sakit hati itu benar benar dusta sodara sodara!. Mana ada sakit gigi nggak sakit. Duhhhh sumpah siksaan. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, bawaannya senggol bacok. Seringkali saya terbangun di tengah malam karena kesakitan. Iyuhhhhhh mendingan sakit hati akibat omongan orang (bukan sakit liver lho), cuma di perasaan tapi makan masih enak tidur masih nyenyak. Dan seketika saya mengatakan pada diri saya untuk say yes ke dokter bedah mulut. Pertahanan saya runtuh seketika. Tapi yang ajaib justru ketika selama perjalanan ke Pekalongan, saya buka buka pengalaman odontektomi, sakit di gigi saya ilang. Nah lho.. syaraf saya mulai anteng. Lega kalik ada kepastian mau dicabut. 😀

  1. Pra Odontektomi

Sepulangnya dari Pekalongan, saya mendatangi klinik Mediska yang di depan Mayasari dekat Stasiun Bandung. Saya memang sudah menegakkan niat untuk menandatangani surat tindakan odontektomi. Bagi yang belum tahu apa itu odontektomi, odontektomi ialah prosedur pengambilan gigi geraham belakang yang bermasalah. Well.. fyi, sampai saya masuk ke ruangan drg. Maya, saya masih berharap ada cara lain untuk menghilangkan rasa nyeri di gigi saya tanpa harus melakukan tindakan operasi. Oleh drg. Maya, ujung ujungnya yang dibahas adalah operasi gigi belakang lagi, gigi belakang lagi. Dan tidak ada cara lain agar saya bisa sembuh kecuali lewat operasi, sodara sodara. Haha. *dalam hati nyeseg banget sebenarnya. Kemudian seperti yang sudah diskenariokan oleh Sang Pencipta, saya mengiyakan untuk dirujuk ke RS. Pindad.

Well.. kenapa harus RS. Pindad Bandung? Saya tidak punya alasan lain. Haha. Satu satunya alasan adalah drg. Maya yang merujukkan saya kesana dan disanalah tempat yang menerima BPJS. Jadi, saya tidak akan berlagak sok sokan punya uang banyak hanya untuk memaksa pergi ke rumah sakit atau klinik mahal. Saya mah sadar diri nggak punya duit dan emang membutuhkan BPJS untuk mengkover pengeluaran operasi odontektomi saya yang disinyalir bisa habis lebih dari 4 juta untuk operasi bius total. Buat saya hayuk we mah, mau dimanapun asal ditangani oleh ahlinya biar saya cepet sembuh.

Sebelum saya bertemu dengan dokter bedah gigi saya di Pindad, saya melakukan rontgen panoramic, itutuh ngambil foto x-ray gigi. Berapa pengeluaran saya? entah. Saya tidak tahu karena sudah ditanggung oleh Perusahaan. *asiiiiiq.

Di hari selanjutnya, saya cek jadwal praktek dokter bedah mulut dan menemukan bahwa ada dokter gigi yang buka praktik pada hari rabu sore jam 4 (karena saya harus kerja dulu paginya) Maka dengan berbekal kopian KK, KTP, BPJS, foto rontgen gigi dan surat rujukan dokter Maya untuk pendaftaran operasi, saya siap menghadapi tantangan di depan *halah. Yu know.. udah datang jam 2 siang, ternyata saya urutan nomer 16 sodara sodara.

Setelah menunggu agak lama, karena antrinya juga lama, saya pun masuk ke ruang pemeriksaan. Oleh dr. Sulaeman saya diedukasi secara singkat padat dan jelas mengenai keadaan gigi saya yang wajib ain untuk diambil empat empatnya. *ingat put, wajib ain tanpa pengecualian. Dengan kondisi dua geraham molar miring dan dua normal. Dua atas harus tetap diambil karena ruang gerak untuk geraham atas sangat sempit. Toh lagipula kalau molar bawah diambil, kasihan banget pasangannya. Dia tidak lagi bisa menumpu karena geraham molar bawah dicabut mengakibatkan dia akan turun. Nah lho.. operasi lagi.. tadinya saya ditawarkan untuk operasi satu persatu (dua tahun lalu ketika masih di Yogya), tapi kali ini saya dengan amat sangat membesarkan hati, saya memilih untuk operasi bius total. Huwaaaaaa… betapa deg degannya saya bahkan sebelum saya operasi. Saya pun pulang dengan tidak percaya bahwa saya barusan menandatangani dokumen persetujuan operasi. *duh.. mabok apa sih saya.

Dan.. persiapan saya sebelum operasi yang dijalankan selasa depan antara lain: minum air putih yang banyak, kurangi stress dan main kesana kemari. Tawaran dolan kesana kemari, nongkrong sana sini saya iyakan karena saya tahu seminggu ke depan saya nggak akan bisa seenaknya santai santai ria macam sebelum saya operasi. Haha.

Satu hari sebelum operasi, saya mengambil foto rontgen paru paru yang akan digunakan sebagai referensi dokter sebelum menganestesi saya. Sakit? enggak tuh. Orang cuma buka baju, badan tegak nempel ke alat foto, tarik nafas, hembuskan terus udah deh. Foto jadi kurang lebih 30 menit kemudian.

Delapan jam sebelum saya operasi, saya melakukan pengambilan darah di lab. Darah saya di siku kiri kira kira satu ampul kecil suntikan. Kemudian saya disuruh membuka kerudung karena akan diambil sample darah di telinga bagian kiri. Saya sih nggak begitu paham kenapa darah di telinga kiri juga diambil. Mungkin karena dekat dengan geraham saya kalik ya.

  • Odontektomi

Fyi, bahkan sebelum saya odontektomi yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada malam rabu, 18 Juli 2017, saya masih kerja sepagian lho. Nggak papa kok masih beraktifitas. Tapi saran saya, kurangi porsi aktifitasnya. Boleh, tapi jangan terlalu keras untuk persiapan fisik dan mental pra operasi.

Pukul 5 sore saya sampai di RS Pindad dan melakukan pendaftaran ulang pra operasi. Dan saya pun diantar ke ruang pra medikasi. Dan tara… sudah banyak orang berbaju hijau hijau bertudung biru muda mengobrol di ruang tersebut. Mereka adalah pasien yang juga dalam proses odontektomi. Saya memilih untuk menunggu di luar saja sembari menunggu solat magrib dan isya yang saya jama’.

Pukul 18.30 saya masuk ruangan dan tinggal beberapa orang lagi selain saya yang belum masuk ke ruang bedah. Setiap setengah jam, pak dokter datang dan memilih pasiennya (ternyata ada audisinya. Haha. Audisi ini dimaksudkan untuk memilih pasien dengan tingkat kesulitan terendah yang akan didahulukan. Untuk menghemat waktu dan tenaga ya.). Saya yang saya pikir akan dapat giliran terakhir karena saya masuk paling terakhir, ternyata saya dapat nomer tiga dari terakhir. Haha. Alhamdulilah.

Deg degan masih menghantui setiap langkah saya masuk ke ruangan yang agak luas dengan peralatan di sana sini dan sebuah dipan sempit bermandikan cahaya dari lampu bundar di atasnya. Monitor jantung terletak tegak di sebelah dipan tersebut. Dan.. tensi saya tetiba naik di angka 167 persis sebelum saya terlelap akibat perawat menyuntikkan obat bius di jarum infus tangan kiri saya. saya yang sempat lihat tensi saya segera menarik nafas dan alhamdulilah tensi saya turun ke 140 dan mungkin terus turun.. dan saya pun.. tepar.

  1. Pasca odontektomi

Saya bangun pada pukul 20.09, kurang lebih setengah jam setelah saya masuk ruang bedah pada pukul 19.32. Saya seketika shock dan kebingungan karena lampu operasi yang benderang itu telah sirna. Saya terbangun karena mulut saya penuh dengan tampon kapas dan air liur bercampur darah yang mengumpul di kerongkongan bikin saya tersedak. Terbatuk batuk sampe perawatnya ngeliatin saya. Sakit? Enggak sih. Kayaknya karena masih ada pengaruh obat bius. Sakit sih enggak. Tapi sewot karena dingin. Haha. Saya kezel karena saya nggak diselimutin. Itu ruang pasca medikasi dinginnya naudzubillah (atau saya yang emang lagi kedinginan?) haha. Fyi, pasca operasi saya bisa ngomong dengan lancar kok. Bahkan saya panggil perawat dan minta diselimutin. dr. Sulaeman yang kebetulan mampir ke ruangan itu dan menanyakan pasiennya satu persatu bertanya kepada saya: gimana, udah baikan?. Ya saya jawab lah: udah dok. Saya kedinginan. Haha.

Setengah jam di ruang pasca medikasi, saya dipindahkan ke ruang perawatan bersama beberapa pasien lainnya. Saya ambil ponsel dan telepon bulik saya yang sedang koas dan juga beberapa orang lain yang bisa saya ajak kontakan. Saya telepon bisa setengah jam lho. Hehe. Sekitar pukul 9 malam, saya baru bisa minum air dan makan es krim (setelah kentut dan dinyatakan boleh makan oleh perawat). Tak berselang lama, perawat menyuntikkan obat tester alergi ke kulit lengan bawah tangan sya. Wiiii rasanya.. senggol bacok bener sakitnya saking kecilnya jarum suntik. Dan entah karena efek obat apa gimana saya baru tidur pukul 12 malam.

Paginya, saya dikasih minum energen. Satu jam kemudian saya udah dikasih makan nasi dengan lauk daging tim dan sayur buncis. Wah.. perjuangan banget deh waktu makan seporsi nasi itu. huwaaaaa.. makannya harus pelan dan meyakinkan. Meyakinkan diri biar nggak kena luka. Haha. Btw, kenapa bisa lama banget makannya? Kalau saya makan lama karena disambi ngobrol sana sini, ini lama karena susah banget buka mulut. Geraham rasanya berat banget dan nyeri. Hehe. Tapi jangan bayangin sakit banget. Nggak sakit sih karena pengaruh obat masih ada, tapi bengkaknya itu lho yang bikin nggak bisa mangap. Oh ya, jangan lupa obatnya yang seabrek banyaknya itu diminum teratur.

Siang pukul 9, saya udah keluar dari ruang rawat, ngurus administrasi ini itu dan cao pesen grab buat pulang. Dan kemudian saya masih sempet berkereta lokal menuju Stasiun Bandung. Sampe kosan, saya nyuci baju seember, mandi dan kemudian teparr. Seriously nggak akan kenapa napa kok habis di odon.

Pasca Odontektomi

Bagaimana saya makan? Nggak ada perubahan pra maupun pasca odon. Makannya tetep nasi, cuma makannya lebih pelan dan nggak bisa panas, keras maupun pedas. Dan seketika buat saya, itu siksaan. Haha.  Cuma karena termotivasi biar luka saya cepet sembuh, saya banyak banyak makan. Bisa? sangat bisa. Tapi ya banget gitu. Harus hati hati. Dan bobot saya naik bangettttt. Haha. Yaudahlah, gendut biar, yang penting sehat. wkwkwkw.

Obat yang dikasih dokter sangat harus dihabiskan tanpa boleh terlewat sedikitpun. Btw saya pernah sekali kelewatan obat akibat obat saya ketinggalan di kosan Mba Nanda ketika saya berkunjung ke Jogja. Ampun dah. Tepok jidat. Habis itu besoknya ketika obat kiriman saya datang, saya berjanji dalam hati untuk tetap setia meminum obat itu hingga titik darah penghabisan karena saya nggak mau balik lagi ke ruang bedah *lap ingus.

Btw apakah saya lancar lancar saja paska operasi? Tidak sodara sodara. Di Rabu siang satu minggu setelah operasi yang dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2017 lalu, dimana mulut saya udah bisa mangap dengan merdekanya meski masih bengkak, saya panik karena pipi kiri bagian dalam saya terbuka!. Maksud saya jahitan saya yang terbuka. Hehe. Seketika itu saya pulang ke kosan, ambil semua berkas kemudian berlari menuju klinik Mediska Stasiun Timur Bandung. Dan kebetulan ibu dokter giginya sedang diklat, maka saya ditangani oleh perawat gigi. Beliau bilang bahwa jahitan saya kebuka dan kemungkinan besar harus melakukan pendarahan ulang. Apaaaah? Pendarahan ulang??? seketika saya lemes. Ya keles saya harus disuntik lagi terus dijahit lagi. Tidaaaaaaaak. Saya pun datang lagi minggu depan sesuai saran Pak Perawat.

Seninnya saya datang lagi, kali ini lengkap dengan ibu dokter. Saya pun lalu dicek kondisinya dan oleh bu drg. Maya, saya dirujuk ulang ke dokter bedah saya lagi. Dan prosedur bolak balik ke RS Pindad Bandung pun dimulai kembali.

Datang ke Pindad awal waktu sambil menyerahkan fc KK, KTP, surat rujukan dari klinik kemudian menunggu verifikasi data. Setelah itu, saya (lagi lagi) urutan ke enambelas. Setelah menunggu hingga pukul 15.45 (karena praktek dimulai pukul 15.00), akhirnya giliran saya dipanggil juga. Apa kata dokter Sulaeman? “Ah, tunggu aja dua bulan mba, nanti nutup sendiri”. Dan seketika rasanya saya mau teriak horeeeeeee *bahagianya saya nggak jadi operasi ulang. Huaaaa… alhamdulilah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s