Day: June 17, 2017

Get Lost in Surabaya

Saya sudah janji untuk menceritakan pengalaman saya nggembel di Surabaya. And.. this is it.

Di hari saya dengan bodohnya kelewatan stasiun pemberhentian saya yang seharusnya di Puwosari menjadi bablas sampai Madiun, saya mengontak salah satu sahabat saya, Santikul. Dia berencana untuk mengunjungi Surabaya, rumah Mba Tari, sahabat kami yang berasal dari kota berikon hiu dan buaya berkelahi. Maka, saya dengan sedikit pikir panjang, memutuskan untuk mengiyakan tawaran tersebut. Saya kontak mba tari dan taraaa.. akhirnya saya tergopoh gopoh dikerjar waktu untuk segera sampai ke stasiun madiun.

Di kereta pasundan yang berhenti di Stasiun Madiun, saya bertemu dengan sahabat saya Santikul dan Mba Tari serta ibunya. Perjalanan tiga jam terasa begitu panjang. Pukul 21.30 kami meninggalkan Stasiun Gubeng, menumpang taksi sampai ke rumah Mba Tari yang berjarak kurang lebih 30 menit di dekat Jembatan Suramadu. Sebelum kami sampai, kami sengaja untuk mampir ke samping Jembatan Suramadu. Jembatan yang mirip mirip sama jembatan Kalifornia di Amrik sono. Sayangnya penerangan yang warna warni sedang tidak dinyalakan. Tapi kami cukup puas setidaknya sempat melihat suramadu. Haha.

Maka, kami pun pulang karena capek luar biasa dan ngantuk yang tiada terkira. Tapi alih alih bisa tidur, saya sulit memejamkan mata. Bagaimana bisa saya tidur di tempat yang panasnya luar biasa, di Jogja saya bisa saja tidur tak berselimut bahkan pakai kaos tipis atau kaos dalam lah. Tapi di Surabaya.. waaaaaaaa…. keringat saya bercucuran banyaknya. Puanasss. Bukan cuma urusan letak kotanya yang di pesisir. Tapi tentang Surabaya yang sudah dipenuhi dengan tembok tembok tinggi industri yang juga ikut menyumbangkan suhu udara satu hingga dua derajat banyaknya. Cuaca terbaik di Surabaya saya rasa hanya ketika pagi hari. Haha. Cuaca hangat dan segar.

Hari kedua saya tiba di Surabaya diisi dengan rencana berputar putar keliling kota. Setelah galau mau kemana saking banyaknya destinasi kece yang bisa didatangi, kami memutuskan untuk menuju jembatan merah sebagai destinasi pertama. Dengan menggunakan becak (ini pertama kalinya saya pakai becak setelah saya mutung gara gara ditipu sama tukang becak stasiun purwosari). Bentor, becak yang tak lagi sederhana, membawa kami menyusuri arus ramai kendaraan jalanan Surabaya. Melewati pertokoan, makam Wage Rudolf, Kampung Pecinan dan kurang lebih 15 menit kemudian sampailah kami di Jembatan Merah. Sensasinya? Luarrr biasaaa. Becak yang sekecil itu ditumpangi oleh tiga orang yang badannya nggak lagi mini mini. Dan.. sumpah deg degan buk.. berasa kayak mau jatuh jatuh apalagi dengan kendaraan yang jauh dari standar aman serta nyaman. Jelas senam jantung sepanjang jalan. Tapi saya senang. Betul betul sebuah pengalaman luar biasa menyusuri Surabaya dengan becak yang waw emejing bikin panik. Becak memang raja jalanan di Surabaya.

Jembatan Merah, seperti namanya yang diabadikan dalam sebuah lagu perjuangan berjudul sama, masih berdiri kokoh diantara arus muara sungai Bengawan Solo yang serupa susu coklat tenang tapi menghanyutkan. Kami pun menyusuri gedung gedung peninggalan kolonial di kanan kiri daerah Jembatan Merah. Yang paling menarik untuk saya adalah bangunan di sebuah jalan, yang kondisinya sudah tidak terurus dengan tembok boncel sana sini, kaca pecah, kayu lapuk, sulur sulur tanaman terjuntai kemana mana. Benar benar mengingatkan saya pada pilem pilem Tim Burton yang bernuansa gothik. Ini adalah penjara yang sering saya baca pada artikel artikel sejarah perjuangan Indonesia pada jaman Belanda dan Jepang. Penjara ini adalah saksi bisu pada masa jaman penjajahan. Yang unik adalah di samping penjara ada bangunan yang difungsikan sebagai gudang retail barang kebutuhan sehari hari seperti sabun, pasta gigi dan sikat gigi. Nggak kebayang jika saya adalah pemilik atau pegawai yang harus mengontrol kondisi gudang. Saya pasti nggak berani sendirian dan nggak akan berani kerja selepas ashar. Horror.

Lepas Penjara Kalisosok, kami pun mengunjungi House of Sampoerna. Bangunan ini adalah bagian dari CSR perusahaan rokok yang pernah jaya dan pernah menjadi milik putra Indonesia sebelum sahamnya dilepas untuk Philip Morris yang orang bule itu. Guide dari House Sampoerna menjelaskan sejarah awal pendirian pabrik rokok yang pernah jaya di masanya. Berawal dari suami istri keturunan tionghoa, beliau yang pada awalnya berjualan barang sehari hari seperti beras, gula, dan aneka kebutuhan dapur di warung kecil di jaman kolonial. Pada akhirnya banting setir pada bisnis tembakau dan rokok kretek. Dengan perjuangan jatuh bangunnya, ia bisa mewariskan keahliannya pada anak cucu dan jadilah perusahaan sebesar itu masih jaya bahkan hingga sekarang. Ya, meskipun sudah bukan lagi kepemilikan orang Indonesia. Hal yang bisa dijadikan pelajaran adalah ketekunan memang segalanya. Bakat tidak akan menentukan apa apa kecuali benar benar dikelola dengan ketekunan dan kerja keras. Kita bisa saja tidak cerdas. Tapi kalau tekun, lain soal.

Sayang seribu sayang, kami bertiga tidak bisa naik ke bis tur Surabaya akibat kehabisan tiket. *sedih*.

Usai sembahyang dhuhur, kami melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Merah (lagi). Yang asik adalah, lagi lagi kami berwisata arsitektural. Bangunan bangunan yang usianya ratusan tahun *yang horrornya banget*, berdiri di sepanjang bantaran kali Bengawan Solo. Meskipun hanya bisa dinikmati dengan visual, tapi benar benar sebuah perjalanan yang luar biasa yang mengingatkan kita bahwa nenek moyang pernah berjuang untuk kemerdekaan ini. Bangunan bangunan ini jadi saksi ada ribuan orang mati meninggalkan sejarah bahwa negeri ini pernah dikoyak dengan darah dan air mata. Maka, jangan sok pintar dengan mengatakan mengebom Indonesia adalah sebuah jihad. Kita punya seperempat kepala dengan isi yang berbeda beda. Keragaman di tengah pulau pulau yang berserakan yang ternyata bisa dijaga dengan indahnya. Ingatlah bahwa kita tidak ingin memulai perang saudara seperti halnya yang terjadi di Timur Tengah sana. Jika sebuah negara sudah berkonflik maka hancur sudah peradabannya.

 

Advertisements