Kekancan

Adalah sebuah hal yang alamiah terjadi dalam hidup kita jika ada yang senang dengan kita ataupun ada yang benci dengan kita. Bahkan itu adalah anugerah. Lho? Kok bisa?. Tentu saja. Mampu berperasaan adalah ciri ciri bahwa kita manusia normal yang memiliki emosi. Emosi dalam diri manusia adalah anugerah. Coba kalau kita suka pada semua hal, berarti kita nggak normal. Kalau kita benci pada semua hal, itu juga nggak normal. Kok lebay banget yak semua muanya dibenci. Haha. Kalau cuma ada satu hal di dunia ini, nggak akan seru hidup ini. Berarti semua telah mati. Manusia mati berarti otaknya udah nggak jalan, perasaannya apalagi. Maka bersyukurlah bahwa kita masih merasakan keseimbangan.

Gimana pandangan saya soal saya disukai atau tidak disukai? saya yang emang tipikal bodo amatan ini, tidak begitu peduli apakah saya disukai atau dibenci. Saya hidup dengan lenggang kangkung. Wajar wajar saja dalam hidup sehingga tidak begitu merasa harus ambil pusing jika ada yang membenci saya. Saya teringat dengan wejangan Pak Eddy dulu “Mbak, kamu tidak bisa menyenangkan semua orang. Maka, bersiaplah untuk belajar”. Dan saya pun bersiap siap untuk belajar bahwa hidup tidak bisa dipaksakan. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang dan kita tidak bisa memenuhi keinginan tiap orang untuk memenuhi standar mereka. Setiap orang adalah unik. Dan kita memang tidak harus menyukai atau membenci orang lain. Yang wajar saja.

Pertemanan terkadang entah kenapa memang melibatkan perasaan. Percaya atau tidak, itu berlaku juga pada saya. First impression terkadang saya bisa merasakan tipikal orang yang saya temui. Gini gini saya punya bakat juga jadi asesor. Haha. Cuma kurang belajarnya aja. First impression kadang membawa kita untuk merasakan apakah kita nyaman dengan orang yang kita temui atau tidak. Apakah kita akan yakin untuk berteman terus dengan mereka. Secara alamiah semua orang bisa mengenali siapa yang bisa jadi kawan atau lawan. Ya, walaupun tentu tidak seratus persen benar. Terkadang fakta bisa mengubah first impression tersebut. Sebagai contoh. Ada orang kalem yang kita temui di awal ternyata cuwawakan luar biasa ketika sudah lama mengenal. Ada orang yang nampak menyebalkan di awal tapi ternyata dia sangat baik hati. Maka solusinya, tetaplah berteman dengan wajar. Jangan terlalu bawa bawa perasaan alias suudhon berlebihan. Dan berilah jarak pada pertemanan agar kita tidak saling terluka. Mobil yang terlalu dekat bisa jadi akan bersenggolan. Tapi mobil yang terlalu jauh pun tidak baik. Seiring berjalannya waktu, maka kita bisa menentukan mana yang bisa jadi kawan mana yang bisa jadi lawan.

Tingkatan tertinggi dalam sebuah pertemanan adalah ketika kita bisa saling memberi manfaat dalam kebaikan dengan hati tulus. Semakin banyak dan semakin luas kita berteman maka kita akan sampai pada fase tak harus memiliki. Ingat ketika kita masih SD dan kita tidak suka ketika sahabat sebangku main dengan teman lain? Ya itulah pertemanan ala SD. Rasa memiliki yang masih besar dan ada kalanya kita tidak bisa berbagi. Pertemanan di SMP, kita mulai mengenal lingkaran yang lebih besar dengan permasalahan yang mulai kompleks. Pertemanan di SMA, kita diuji dengan banyak nilai dan norma yang apakah kita akan pertahankan atas nama persahabatan atau dilanggar atas nama persahabatan juga. Pertemanan ala kuliah, sudah tidak bisa mengenal lingkaran tetap karena dinamisnya kehidupan perkuliahan. Persahabatan tingkatan dewasa adalah ketika kita bisa memandang semua masalah dalam bingkai keseloan dan tahu mana menyelesaikan masalah dengan elegan. Dan siap untuk tersakiti. Jika dulu marah karena teman ‘direbut’ orang lain, maka sekarang tidak lagi karena sejatinya aku senang jika temanku lainnya mengenal temanku lainnya dan aku pun mengenal teman teman mereka juga. Karena disanalah aku bisa merasakan bagaimana bahagianya jika semua bisa berteman dengan baik. Silatuhami bro. Tapi, jika kamu masih bawa bawa perasaan, berarti dolanmu kurang adoh, jiwamu butuh asupan makanan jiwa yang bergizi.

Kita adalah mahluk hidup. Kita bernapas. kita memiliki otak yang hidup dan aktif. Kita memiliki jantung yang berdenyut. Kita merasakan sakit. Kita merasakan lapar. Kita merasakan sedih. Kita merasakan bahagia. Kita makan. Kita berlari. Kita berpikir. Kita tumbuh. Dan tak ada satupun dari kita yang abadi.

Kita adalah mahluk Tuhan bernama manusia. Tak hanya diberikan panca indera yang terhubung secara fisik untuk berhubungan dengan Sang Pencipta dan alam semesta. Kita juga dianugerahi dengan hati dan pikiran.

Mengapa ada cinta dan benci? Karena itu adalah konsekuensi keseimbangan di muka bumi ini. Manusia tak bisa terus menerus merasakan cinta dan kiita tak bisa selamanya hidup dalam kubangan kebencian. Karena Tuhan sudah mengatur dunia yang sementara kita tempati ini berdasarkan teori keseimbangan. Ada dua hal bertolak belakang yang akan selalu dan terus menyertai hidup manusi dari mereka lahir hingga kembali lagi ke haribaaNya. Lahir-mati. Cinta-benci. Suka-tidak suka. Tidak puas-lila legawa. Sedih-senang. berlari-berjalan. Dan banyak hal lain yang diciptakan Tuhan agar dunia tetap pada porosnya.

Bayangkan jika hidup kita bahagia sepanjang masa tanpa ada jeda kesedihan walau sesaat. Pasti ramai orang akan bunuh diri karena bosan dengan hidupnya. Dan ingatlah bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan sifat pelupa dan cepat bosan. Bayangkan jika hidup kita sedih sepanjang waktu tanpa ada jeda kebahagiaan walau receh macam bahagia melihat orang lain tersenyum atau angin sepoi yang membelai kala panas datang menjerang.  Pasti ramai orang mati bunuh diri karena berputus asa menganggap Tuhan tak adil padanya. Maka kesedihan dan kebahagiaan adalah dua sisi mata uang. Tak akan pernah terpisahkan sampai kapanpun.

Soal pertemanan dan hubungan dengan manusia. Kita adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian lewat hubungan bernama pertemanan/kekeluargaan/urusan bisnis/urusan sosial. Dimana pertemanan adalah sebuah urusan yang membutuhkan skill seni tingkat tinggi untuk bertahan di dalamnya. Ada trik khusus yang secara alamiah dimiliki oleh setiap orang dalam menentukan dengan siapa mereka berteman. Sebagai contoh. Mengapa ada geng? Ya karena anak anak tersebut telah memilih lingkaran yang mereka rasa cocok untuk berteman. Mereka rasa cocok untuk mereka seriusi sebagai lingkaran acuan dalam hidup mereka. Dalam satu kelas, tidak akan pernah mungkin satu kelas itu akan pergi kemana mana bersama bak kumpulan burung merpati yang sedang terbang bersama sama. Dalam beberapa urusan kolektif seperti lomba voli atau tarik tambang atau lomba kebersihan kelas, mereka akan bekerja sama. Tapi dalam urusan sehari hari tidak akan pernah mungkin. Ketika si anak anak ke kantin, nongkrong di belakang sekolah, main ke mall, PS-an di warnet atau futsalan, tentu mereka punya lingkaran tersendiri. Paling tidak si A akan berteman dengan F, G, K. Kemudian si N adalah satu geng dengan T dan P. Si J adalah teman dari V, W, G, L, Z, M, H, dan B. Dimana mereka ini adalah teman satu kelas, terkadang bisa bekerja sama tapi terkadang bisa bentrok juga geng geng tersebut hanya karena hal sepele. Kelas bisa diartikan keluarga besar, satu RT, satu kelas ketika kita sekolah, satu kumpulan arisan dan aneka arti lingkaran pertemanan, Ya begitulah kenyataan dalam pertemanan.

Suka atau tidak suka, kita hidup dengan perasaan. Manusia diberi anugerah oleh Tuhan untuk merasakan hal hal yang bisa dirasakan tidak hanya dengan panca indera namun juga dengan hati. Kita tahu kapan merasakan sedih, senang, marah, kecewa, resah, gundah, berdebar debar, gamang dan aneka perasaan lain. Suka tidak suka juga terjadi dalam hal pertemanan. Ada kalanya kita tidak suka dengan seseorang karena alasan ini itu. Ada kalanya kita senang dengan sebuah hal karena ketidaksukaan ini itu. Jadi hiduplah dengan selaw. Lihatlah sesuatu dengan banyak perspektif, dan tetap kalem karena toh kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Kembali ke hukum keseimbangan, dunia ini butuh rasa suka tidak suka biar hidup tidak oleng.

Salam kekancan.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s