Menyerang Ibu

Mumpung bentar lagi mau Kartinian, saya pengen nulis tentang sosok wanita. Sosok Ibu. Tulisan saya kali ini memang tidak secara khusus mengulas tentang sosok seseorang atau tokoh. Tapi tentang perspektif dalam dunia wanita: Ibu.

Seperti yang kita lihat di berita berita akhir akhir ini, dimana banyak sekali anak menggugat ibunya hanya karena uang. Dengan dalih memperebutkan warisan, mereka tega menyeret ibu mereka ke meja hijau. Nggak tanggung tanggung lho nilai yang mereka tuduhkan pada ibunya. Milyaran coyyyy.. Dunia memang sudah kebalik.

Seorang ibu di Bandung digugat anak dan menantunya sebesar 1,8 milyar dimana nilai tersebut didapat dari fluktuasi invlasi dan lasi lasi lainnya atas pinjaman yang diajukan saudara lain si anak yang dipinjam lebih dari sepuluh tahun lalu. Puluhan tahun lalu sih emang cuma pinjam 20 juta. Tapi di tahun 2017 ini nilainya membengkak menjadi 1, 8 milyar. What so emejing. Bisa dinalar nggak? Enggak lah. Hya keleeeus sampe satu koma delapan milyar. Ulangi. Satu koma delapan milyar coyyy. Saya nggak bisa bayangin si Ibu yang udah tua renta ini bahkan sakit sakitan sampai membayar satu koma delapan milyar. Plis cuy.. itu uang hasil ngepet darimana cobak buat bayarin si anak (yang menurut pandangan saya udah tega menyakiri hati ibunya)? :’(.

Publik sebagian besar memang menyalahkan si anak dan menantu atas gugatan mereka yang.. emang kurang ajar beutsss (kalau menurut pikiran orang waras). Sebagai pemirsah telepisi dan netizen budiman, kita memang tidak tahu pasti duduk perkara dan cerita cerita yang terjadi sebenarnya kenapa bisa berujung hingga pengadilan. Tapi kalau melihat gimana sekilas ceritanya, bisa dibilang sebuah perbuatan durhaka bila kita bikin orang tua sedih apalagi sampe nyeret orang tua sampai pengadilan. Menusuk hati beudd. Semua agama mengajarkan kepatuhan kita pada mahluk bernama Ibu. Di agama saya, islam, Nabi Muhammad bahkan sangat menjunjung tinggi harkat wanita. Dibuktikan dengan sabdanya: hormatilah ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu. Ibu disebut tiga kali lho. Spesial. Artinya ibulah yang wajib ain harus pake banget dihormati entah bagaimana caranya.

Akar masalahnya dimana? Uang. Materialisme. Hedonisme. Rasa tidak puas. Rasa ketidakadilan. Rasa ingin memiliki berlebih. Kalau bukan uang apalagi. Satu koma delapan lho. Entah masalahnya apa, apa kita rela mengorbankan pertalian darah dengan ibu dan saudara saudaranya hanya untuk uang segitu doang?. Mikir nggak tuh si anak dan mantu dengan apa si ibu bisa bayar tuntutan mereka. Jaman sekarang siapa sih yang punya duit cash satu koma delapan milyar kecuali kalau dia komisaris perusahaan. Sedangkan si Ibu ini adalah wong cilik yang udah bukan saatnya mikir duit tapi udah mikir mati atas usianya yang beranjak senja. Jika si anak anak ibu lainnya bantuin dengan cara nyari utangan, mereka mau nggadein apa? Tegakah jual semua aset sampai buat makan anak keponakannya susah? Mikir nggak sih kalau uang nggak bakal dibawa mati. Mikir nggak sih kalau uang itu cuma sebuah kertas yang nilainya cuma bisa buat beli sandang pangan papan sesaat tapi sampai kapanpun nggak akan bisa beli yang namanya keluarga.

Warisan satu sisi memang membantu anak cucu untuk hidup sekaligus something shit di sisi lain. Kok bisa jadi something shit? Ya karena jadi ajang perebutan bahkan pertumpahan darah jika semua pihak yang tidak bijak berserakah dengan harta warisan itu. Di titik terendah saya menyaksikan sendiri bagaimana warisan mengubah sistem dalam keluarga besar saya. Memporakporandakan segalanya hingga ke titik sehancur hancurnya. Membuat saya berpikir dua kali untuk mencintai hal material bernama uang. Masihkah kita bisa merasa uang adalah di atas segalanya ketika keluarga hancur? I swear it more than shittt. Puahittttnya kayak minum satu galon brotowali. Kayak orang yang udah nggak punya harga diri. Ketika semua diukur dengan uang, yang tertinggal hanya kebodohan. Ketika yang dipikir adalah kekenyangan perut sendiri, yang terjadi kemudian hanyalah dungu dan kemudian mati sia sia.

Jika memang masalah si anak dan mantu dengan saudara saudaranya yang melibatkan hutang piutang terjadi puluhan tahun lalu, apakah sekarang tidak bisa diselesaikan baik baik dengan tidak melukai perasaan ibundanya? Ini yang membuat saya tidak habis pikir. Memangnya dari lahir mana si anaknya ini turun ke dunia? Lahir dari batu macam Sun Go Kong? Tetiba lahir cenger ke dunia? Tidak ingatkah ia bahwa ibunya yang udah renta itu dulu yang mati matian ngasih makan dari belum bisa apa apa sampai dia jadi seorang wanita yang kuat. Tidak ingatkan ibunya juga yang banting tulang mengurusi segalanya agar ia tetap hidup.

Dan yang lucu adalah si anak berdalih ingin melindungi si ibu. Melindungi ya nggak gitu juga kalik.. Ya masak melindungi kok tega bener nyeret ke pengadilan. Melindungi kok tega bener memeras ibunya sampe sebesar itu nominal tuntutannya. Melindungi kok tega bener sampai menomorduakan tali persaudaraan dengan saudara saudara kandungnya. Melindungi kok tega bener ngasih solusi rumahnya dijual terus keuntungannya dibagi. Separoh dikasih ke ibunya, separoh dibagi buat ngelunasin hutang sejak dahulu kala itu. Nah lho.. dimana logikanya ketika ngasih separoh untuk ibunya. Orang itu masih rumah punya ibu dan ibunya aja belum mati lho. Kok bisa mutusi dewe kalau si ibu dapat bagian separoh. Dan kalau dirunut ke depan, sangat nggak bijak kalau dibagi macam itu. Uang separoh yang dikasih ke ibunya itu nggak akan bertahan selamanya. Percayalah uang itu nggak akan bertahan. Yang namanya uang di tangan, kebutuhan dan keinginan itu ada terus. Baru akan berhenti kalau uangnya habis. Entah itu nanti dirongrong orang, atau habis karena kebutuhan yang nggak ada habisnya. Kalau udah gitu ya tunggu aja kehancuran. Atau ketika uang si ibu ternyata masih hingga akhir hayatnya, uang ini tetap akan jatuh ke tangan anak anaknya. Endingnya? Bunuh bunuhan antar saudara buat memperebutkan uang yang nggak seberapa banyak.

Andai si anak dan mantunya ini merasakan pahitnya kehilangan “home”. Iya. Itu adalah rumah. Namun rumah bukan hanya sebuah tempat singgah. Ada banyak kenangan yang selamanya tidak bisa dihilangkan karena disanalah kita mengenal cinta dan kasih sayang keluarga. Disanalah kita pertama kali belajar mengenal lingkungan dan berusaha belajar kuat menghadapi hidup. Ketika ia hilang maka rasanya tercerabutlah segalanya. Ketika suatu saat saya melihat ibu saya bersengketa dengan saudaranya perihal warisan dan itu menyangkut rumah maka dunia saya ikut terguncang walaupun saat itu saya masih belum ngerti apa apa. Dan sekarang ketika saya sudah besar dan paham, dan ada berita seperti itu lagi, meskipun bukan saya yang mengalami. Tapi.. saya ikut bersedih. Melu perih.

Ibu dan Bapak saya tidak samasekali mau mempermasalahkan warisan. Bahkan mereka berdua bilang bahwa mereka tidak mewariskan pada kami harta karena mereka tidak punya harta samasekali. Mereka hanya bisa mewariskan doa dan ilmu. Dua hal tak kasat mata tapi bekal untuk selamanya. Saya tidak hidup dalam gelimang harta dan hanya mengandalkan ridha orang tua dan guru untuk hidup agar berkah.

Hal yang bisa dipetik dari masalah gugatan anak pada orang tua adalah entah apa masalah di belakangnya sebaiknya selesaikan secara kekeluargaan karena pada dasarnya ada ridha ibu dalam segala urusan kita. Jika ia tidak ridha maka sial menaungi sepanjang hayat. Ingatlah bahwa ridha Tuhanmu bergantung pada ridha orang tuamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s