Alun Alun Tour di Madiun

Ini pertama kalinya saya menjelajah Surabaya. Hal paling gobis –ini bahasanya Daisy, yang artinya guoblikkk ra uwis uwis, bodoh tak berkesudahan. Bagaimana tidak. Saya yang pulang dari Bandung dengan kereta Kahuripan tidak menyangka akan kelewatan arah. Sampai di Klaten, saya sempat terbangun namun tertidur kembali karena saya baru akan turun di stasiun berikutnya, Purwosari. “ah, baru sampai Klaten. Tidur lagi ah, bentar lagi bangun nyampe Purwosari”. Dan seketika saya bangun njenggirat sambil melongo ketika saya dengan kedua mata menyaksikan plang Solo Balapan terlewat di depan mata.

Oh shiiiiiitttttt. Saya menepuk jidat dengan sungguh sungguh. Menarik nafas panjang dan seketika menjatuhkan diri ke bangku yang saya duduki. Buoooodoooohhhhhhnya setengah mati. Kahuripan tidak akan berhenti sampai perhentian berikutnya yang masih jauh Setelah termenung meratapi kebodohan saya dan mulai bisa berpikir jernih, saya buka google map dan mulai mengecek rute perhentian kereta. Setelah menimbang nimbang di perhentian mana saya akan berhenti, saya memutuskan untuk lanjut ke Madiun. Kenapa Madiun? Padahal Kahuripan berhenti di beberapa stasiun setelah Solo Balapan. Saya bisa saja berhenti di Sragen, Walikukun atau Paron. Tapi masalahnya berhenti di pagi buta di stasiun kecil. Plis. What to do. Hiks. Mending langsung sekalian ke stasiun besar di Madiun sana.

Dan.. taraaaa.. sampailah saya di Madiun di hampir setengah enam pagi. Setelah sembahyang subuh, gosok gigi serta cuci muka saya yang kucel akibat tidur tidur ayam kaki pegel semalaman di kereta, saya keluar dan menunggu di lobi masuk kereta. Stasiun Madiun masih sepi orang waktu itu. Hanya ada satu dua warga yang menunggu kereta mereka. Saya pun membuka referensi tempat yang bisa dikunjungi di Madiun kemudian menghela nafas lega. Setidaknya Madiun punya alun-alun. Haha. Setahu saya Madiun emang nggak ada apa apa. Bukannya nggak ada apa apa. Tapi dengan kondisi musafir kesasar kayak saya, susah juga mau merencanakan perjalanan ke Trinil, air terjun atau monumen Kresek. Selalu ada hal indah saat susah. Bayangin. Jaman sekarang, saya nyasar tapi masih pegang hape. Masih bisa buka google, gmaps, bahkan chatting sama keluarga buat tanya referensi sana sini atau sharing betapa guobliknya saya pagi ini. Coba jaman dulu. Nyasar ya nyasar aja, nggak ada ampun. Pulang nggak akan tahu jam berapa tanpa bisa kontak ke keluarga.

Saya pun segera me list daftar kunjungan: Alun-Alun, masjid agung dan pasar. Haha. Sangat sangat normal.

Kenapa alun alun, masjid agung dan pasar?. Simpel. Tempat tempat itu masih bisa saya jangkau dengan berjalan kaki dan pusatnya masih di tengah kota. Jadi, tidak akan mengganggu mobilitas saya sekiranya saya akan bepergian menggunakan moda transportasi pulangnya. Saya tinggal memantau jalan lewat gmaps, belok sana belok sini dan.. taraaaa. Sampailah saya di Alun-Alun dengan jalanan yang seolah milik saya sendiri saking sepinya. Wakakak. Yaaa.. itung itung olahraga jiwa dan raga. Tamba mutung dan tamba kesel. Obat kezel dan obat capek.

Alun-Alun adalah simbol sejarah untuk sebuah kota, terutama kota dengan hegemoni kerajaan di Jawa ini. Madiun adalah salah satunya. Peletakan alun alun akan juga menyeret tempat tempat penting lainnya. Bahkan kalau tidak salah, di sebelah mana ada pusat pemerintahan, sebelah mana tempat ibadah, sebelah mana pasar, sebelah mana pusat keamanan. Dan alun alun di jaman dulu bisa disebut sebagai check poin bagi  sejuta umat penduduk wilayah tersebut. Orang jualan, di pinggir alun alun, raja mau ngasih pengumuman biasanya di alun alun, ada pertunjukan rakyat di alun alun, bahkan mau pacaran aja janjiannya di alun alun. *ning alun alun tak enteni. Sepira puteran tak ubengi- lagu Alun alun Nganjuk. Haha.

Alun Alun Madiun di hari Sabtu pagi menjadi titik ramai para warga yang ingin menikmati pagi segar bersama burung burung Merpati yang terbang ke tanah mematuki biji biji jagung sebaran anak anak yang ingin melihat kawanan mereka lebih dekat. Para tua dan muda asik bercengkerama setelah ngos ngosan jogging di lapangan Alun-Alun yang berpendopo kembar tersebut. Ada juga yang asik tetiduran di bangku taman dan sisanya berjualan aneka jenis makanan sarapan.

Pukul 7.30, saya berkesempatan untuk menonton pertunjukan drumband. Well.. bukan drumband sih. Tapi latihan drumband anak anak TK yang didampingi ibunya dimana para ibu tersebut bertindak sebagai cheerleader. Seru ih. Haha. Saya menonton kurang lebih satu jam. Betewe keren juga performa anak anak TK ini. Kayak nggak ada capeknya memainkan instrumen musik drumband. Apalagi disemangati ibu mereka sendiri yang make rumbai rumbai rafia warna merah putih dan kuning. Unyuuuu. Haha

Matahari semakin tinggi dan saya lapar. Setelah saya berkeliling alun alun, saya memutuskan untuk berhenti pada seorang ibu ibu penjual nasi kuning di trotoar yang sedang sibuk melayani pengunjung. Ibu itu mengatakan pada saya untuk membungkus makanan dalam stereofoam saja. Padahal saya pengen makan lesehan saja di dekat ibu itu berjualan. Alasan ibu itu menawari saya makan bungkus di stereofoam untuk menghindari kejaran satpol PP yang menegakkan aturan untuk tidak berjualan di atas pukul 9 sedangkan waktu itu sebenarnya belum menunjukkan pukul 9 pagi. Kemudian saya mengiyakan karena saya pikir kasihan juga ibunya pasti kedandapan jika Satpol PP datang. Ah.. sudahlah saya mengalah untuk makan di stereofoam dan mencari tempat lain untuk makan. Dan.. hingga pukul sepuluh kurang si ibu masih berjualan di sana. Oh damn. Kok agak kzl ya saya. Haha.

Dan saya mengabaikan kekesalan saya (lagi) dengan membaca buku pinjaman saya dari Santika. Lagi lagi.. alhamdulilah. Selalu ada hal indah di tengah susah. Haha. Setidaknya ada buku yang menyelamatkan saya dari mati gaya akibat hape sekarat tinggal 1 % dan nggak ada laptop yang bisa jadi pemandu gmaps. Haha, Sebuah buku biografi berbentuk novel menceritakan tentang riwayat KH. Hasyim Asyari, pendiri Pesantren Tebu Ireng yang juga seorang pendiri Nahdlatul Ulama, sebuah ormas keagamaan Islam terbesar di negeri ini. Buku itu cukup emejing so wow. Kehidupan seorang ulama yang ditempa ujian hidup namun tetap tawadlu dalam menjalani hidupnya.

Suasana Alun Alun terasa sangat syahdu dengan rindangnya pepohonan yang menaungi dari terik mentari Jumat yang panasnya membuat mahlukNya harus teringat pada neraka. Sungguh semakin syahdu dengan alunan murrotal Quran yang nampaknya dilagukan sendiri oleh warga sana di Masjid Agung Madiun, saya terlena oleh sepoi angin yang membelai dan lantunan ayat suci yang mengingatkan saya pada rumah.

Sudah kesekian kalinya pengamen menyanyi di depan saya dan saya jengah juga dengan pemandangan pengamen yang berkumpul di pojokan tapi tak menghiraukan undangan sembahyang jumuah di masjid yang hanya berjarak 50 m dari tempat mereka asik bercengkerama (mereka adalah orang yang sama yang sedang meminta minta di gerbang masjid persis ketika Jumatan selesai dan saya yang mau sholat dhuhur disana). Maka saya pun pergi dari bangku taman yang telah sepagian saya gunakan untuk kontemplasi. Dan.. kaki saya yang mulai lecet pun tersihir untuk masuk ke toko outdoor favorit saya untuk menemukan pasangan sandalnya. Tak berapa lama, uang yang sejatinya saya hemat hemat ternyata melayang juga untuk membeli sandal gunung. Padahal saya sudah bilang pada diri saya untuk berpuasa beli sandal gunung karena mutung sandal saya hilang di masjid dicuri orang. Eh.. ternyata saya buka puasa juga. Eheheh.

Setelah puas cuci mata di toko outdoor, saya pergi ke masjid untuk menunaikan solat dhuhur dan.. mandi. Hehe. Rasanya badan lengket seharian ingin menyentuh air biar seger. Yah.. meskipun saya pakai baju yang nggak dicuci beberapa hari, rasanya nikmat air siang siang sungguh harus disyukuri. Belum lagi, setelah sembayang saya ketiduran meskipun cuma setengah jam. Nikmatnya luar biasa. 😀

Senangnya setelah asharan, ada tausiyah pendek dari imam masjid dibawakan dalam bahasa setempat, bahasa Jawa. Sungguh dahaga agama sedikit terobati.

Usai saya keluar dari masjid, saya tersepona dengan stand buku yang digelar di depan alun alun. Tidak banyak memang. Hanya ratusan buku saja. Tapi sanggup membuat saya membelalakkan mata pengen bawa pulang buku bukunya. Akhirnya tak hanya sandal namun juga buku sebagai buah tangan. Haha.

Oleh karena saya lapar dan belum makan siang pula, maka saya mampir ke pecelan 88 di dekat alun alun setelah mbak mbak penjaga toko oleh oleh yang saya sambangi memberi tahu saya tentang warung tenar itu. duhhh deekkk.. warung 88 ternyata ada di perempatan selanjutnya. Kirain deket. Ya emang deket sih, tapi kalau jalan lumayan juga. Setelah masuk ke tempatnya emang benar sih ini tempat tenar. Lihat di dinding dindingnya, poto poto orang penting dipigura oleh pemiliknya. Selain untuk pengingat kenangan, tentu saja strategi promosi pada warga jika warung mereka laris sampai sampai orang penting kayak Dahlan Iskan dan aneka artis makan di kedai mereka. Rasanya? Mantap sih. Harganya juga murah. Saya yang hanya makan pecel tanpa isi (jerohan, babat, lidah dll) alias pecel polosan, hanya dikenai Rp. 7000. Paling paling kalau yang dengan isian harganya nggak akan jauh jauh dari 12 ribu-15 ribu an. Madiun emang top banget soal pepecelan.

Akhirnya saya berjalan kembali ke stasiun dan menunggu kereta Pasundan datang mengangkut saya ke Surabaya. Well.. kenapa saya bisa ke Surabaya? Ada di postingan selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s