Pas Jaman Sekolah: Dilema Jurusan

Di sebuah sore, salah satu keponakan saya menanyakan tentang cerita saya dulu sekolah. Dia yang sudah duduk di bangku SMA galau memilih jurusan di sekolahnya. Duh.. jadi nostalgia nih. Well.. buat kamu kamu yang galau jurusan. Ini cerita Cicik dulu ketika masih sekolah.

Baiklah. Akan saya ceritakan. Untuk menjadi dokter, teknisi, guru, tentara atau cita cita normatif lainnya, maka kamu harus punya nilai bagus (ini adalah kebenaran pahit yang benar benar shit selain: kamu harus siap dengan biaya besar dan mungkin koneksi besar). Ya emang sih harus bagus. Karena sainganmu sebajeg kere (naudzubillah banyaknya) maka ya harus bagus nilainya. Apalagi saingan saingan orang orang yang masuk ke jurusan kedokteran adalah mereka anak anak dokter yang parlente, anak anak orang orang kaya yang buang buang uang dengan mudahnya. Maka, apalah saya yang dari keluarga yang biasa aja, harus berbagi uang juga buat sekolah sekolah adik adik saya. Jalan satu satunya hanyalah: punya otak brilan dengan nilai akademik kece badai. Apakah terjadi? Tentu tidak. Haha. Saya cerdas, tapi nilai pas pasan.

Tentang sekolah saya. Apakah sekolah saya elit? Bisa dibilang begitu. Isinya anak anak brilian dan tajir. Keluarga saya hanya mampu menyekolahkan saya di sekolah negeri yang setidaknya kalau nggak bisa bayar sekolah, bisa lah nunggak utangan dulu. Maka, saya pun hingga saya lulus kuliah saya selalu sekolah di negeri. Perkara kenapa saya bisa keterima di sekolah elit ya hanya satu: takdir. Bukan karena saya pintar bukan karena saya tajir. Tapi nampaknya Tuhan menggariskan saya lolos tes dan masuk ke sekolah elit. Simpel. Bukan untuk merendah. Banyak yang lebih pinter dari saya. Beneran. Ini soal garis takdir.

Part I Masa Basic School

Sekolah Dasar saya adalah sekolah dasar tua yang didirikan beberapa tahun setelah Indonesia Merdeka. Bahkan jika ibu saya pernah bercerita bahwa kakek saya pihak ibu dulu pernah bersekolah disana, ada kemungkinan sekolah dasar saya dulunya merupakan SR alias Sekolah Rakyat. Weeeww.. jadul euyyy.. apalagi daerah rumah kami memang dekat dengan perkebunan karet yang didirikan oleh Belanda. Dan keluarga saya adalah salah satu yang di jamannya dulu sudah merasakan mewahnya sekolah.

Sampai lulus dari SD, saya sampai bosan mengenyam singgasana peringkat dua abadi, dimana saingan saya hanya satu orang. Arif namanya (bahkan kami sampai lulus SMA, satu sekolah terus). Peringkat peringkat di bawah saya, tiga, empat dan seterusnya akan selalu berganti orang. Tapi saya dan Arif adalah peringkat satu dan dua abadi. Haha.

Lulus dari SD, saya dipaksa untuk masuk sekolah elit terfavorit di kota saya. Alasannya: pertama karena SMP tersebut adalah sekolah negeri. Kedua, orang tua saya menganut mahzab bahwa semakin tua dan elit (tingkatan prestasi) sekolahnya maka kualitas pendidikannya semakin baik. Dan sialnya saya lolos. Nah lho.. saya bilang sial? Karena sebenarnya saya tidak menikmati.

Sekolah menengah pertama saya berjalan tidak baik baik saja. Dengan nilai yang amburadul, saya bertahan. Sudah bisa bertahan di rimba yang isinya anak anak cemerlang buat saya sudah bagus. Saya tidak pernah mau mengejar peringkat. Lelah. Enam tahun di sekolah dasar, saya dipaksa untuk bisa dasar dasar mata pelajaran yang membuat saya sekecil itu sudah berpikir bahwa saya lelah. Untuk apa akademis dikejar? Biar jadi peringkat kelas? Dan saya sudah di peringkat dua abadi. Bosen dapat peringkat terus. Seolah sebenarnya yang bersaing hanya saya dan Arif, si peringkat satu. Dan kemudian saya mengalami sebuah jetlag dan cultural shock karena keanekaragaman pertemanan di SMP yang bikin saya kaget dan saya masih dipaksa untuk berprestasi.

Saya belajar untuk satu motivasi: biar nggak dimarahi. Itu saja. Dan. sejak kecil saya di’paksa’ untuk berprestasi. Dan saya pun jenuh? Buoseeenn. Saya lelah dimaki maki dengan dalih biar disiplin. Biar saya pinter. Ah.. alasan paling bego yang pernah saya dengar karena sebenarnya pribadi saya lembut dan resisten pada bentakan teriakan meskipun saya ribuan kali tak terhitung menghadapi saat saat keras. Maka itulah yang membuat saya pada akhirnya menjadi keras kepala. Saya mungkin kehilangan masa kecil saya untuk bermain dengan bebasnya. Dan balas dendamnya saya kehilangan waktu bermain saya ketika saya kecil, maka saya hobi plesiran sama teman teman. Tidak plesiran bepergian kemana. Tapi saya hampir selalu main ke rumah teman saya dengan dalih ngerjain tugas. Kadang beneran ngerjain tugas, kadang ya cuma main main.

Dan saya akan bilang iya. Apa yang ingin dikejar? Peringkat? Pride? Di satu titik saya bilang semua itu damn shit so shit. Saya lelah. Saya ingin mengalir saja. SMP saya waktu itu ada di jalan Kartini. Dan ada sebuah sekolah menengah atas yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari SMP saya. Dalam hati saya berjanji pada diri saya: saya nggak mau sekolah di jalan Kartini lagi. Sekolah ini membuat saya jenuh, apalagi tiga tahun disana adalah transformasi saya dari anak desa menjadi abege kosmopolitan yang gaholnya sama anak anak yang dari kecil bergaya hidup perkotaan. Saya nggak suka. Lelah. Ada banyak cerita disana yang buat saya nggak akan pernah mau saya ulangin lagi. Maka saya usaha mati matian biar diterima di sekolah di Kalan Kemiri. Bukan karena sekolah itu sekolah favorit. Tapi karena saya merasa di Kartini saya merasa tersakiti. *hedeh.. drama bener yak. Tapi itulah jalan hidup, haha.

Sekolah menengah atas saya berjalan lebih tidak baik. Uancurnya minta ampun. Haha. Rangking saya sempat ambruk ke 30 dari 36 siswa. Saya: bodo amat. Saya lelah dimarah marahi dimana ada saat saat saya merasa down dan hanya saya sendiri yang menyemangati diri saya bahwa “saya nggak tolol. Saya bisa. Saya nggak seburuk itu. Kalian yang tolol karena tidak pernah mau mendengarkan saya. Kalian yang sok tahu karena merasa paling benar.” Saya tidak hidup untuk diforsir masalah nilai. Saya tidak pernah menangis karena nilai nilai saya buruk. Tapi saya menangis karena saya dituntut untuk sesuatu yang mungkin saya tak ada hati. Tapi di SMA ini saya merasa lebih bahagia. Jetlag dan cultural shock saya sudah reda dan saya bisa beradaptasi di lingkungan orang orang elit yang buat saya membosankan.

Semester pertama dan kedua di tahun pertama adalah penentuan untuk penjurusan di kelas II. Nilai saya amburadul. Maka nilai saya, hanya kurang dari no koma sekian sekian dari  standar masuk IPA. Jaman jaman feodal dulu sih masih menganggap IPA sebagai pilihan terbaik. Dalam hati saya marah. marah karena saya diharuskan wajib ain masuk IPA karena orang tua saya masih mendewakan jurusan IPA. Sejujurnya saya pernah mengumpat dalam hati “Ya kalik IPA yang terbaik. Kalau IPA adalah yang terbaik, kenapa orang tua saya masih gini gini aja. Plis, ini bukan tahun tujuh puluhan dimana sekali masuk IPA bisa jadi direktur perusahaan”.

Sejujurnya saya suka semua mata pelajaran. Tapi kemudian saya berubah membenci beberapa mata pelajaran bukan karena susahnya. Tapi karena saya akan selalu dimarahi jika saya tidak bisa mengerjakan. Bukannya saya tidak mau berusaha. Tapi tekanan itu yang membuat saya semakin membenci dan akhirnya semakin cuek. Believe or not, Ujian Nasional yang dianggap momok itu, saya pun benar benar ngitung benik. Haha. Literally menghitung kancing baju seragam saya. Sumpah.  Saking jeleknya angka angka soal di kertas ujian, saya ogah mau ngitung. Kalau saya lagi mood sama huruf B ya saya pilih B. Kalau ternyata Al Ikhlas saya berhenti di huruf C ya saya pilih C. Seriously.

Tentang jurusan mana yang terbaik

Jika suatu saat anak anak saya menanyakan pada saya, ibunya, jurusan mana yang sebaiknya mereka pilih. Maka saya akan menyarankan mereka untuk juga mempertimbangkan semua hal termasuk hati mereka. Biar suara hati mereka juga ikut didengar. Tentang urusan rejeki, percayalah Tuhan tidak tidur. Kalau takut nggak bisa masuk IPA karena takut nggak dapat kerja, maka you cursed yourself. Kalau mikir jurusan IPS isinya anak anak nggak punya otak yang kerjaannya bikin onar, maka nampaknya kamu perlu piknik biar uteknya sehat. Kalau mikir jurusan bahasa cuma bisa jadi admin jaga konter hape yang dianggap pekerjaan nggak berkelas, kamu harus tau bahwa para diplomat di luar sana bertaruh untuk menyelamatkan negeri kita dari ancaman dengan cangkeman. Seriously, skill mahal yang nggak dimiliki semua orang.  Maka jika masih terbungkus stereotipe jurusan ini bagus, jurusan ini jelek, maka kamu tolol karena terlalu bergantung dengan hal yang materialistis. Kayak nggak percaya Tuhan aja. Bukan masalah jurusan apa yang kamu dapatkan. Tapi, tentang bisakah kamu bertahan di masyarakat PASCA NANTI KAMU LULUS. Intinya cuma itu.

Percayalah, saya ketemu dengan banyak orang yang latar belakang IPA toh mereka juga sama aja dengan jurusan lain jadi waitress di warung makan bahkan tukang batu karena susahnya nyari kerja di jaman sekarang. Saya ketemu lulusan IPA dengan nilai nilai briliant, dan “cuma” jadi penjaga loket. Dan jurusan manajemen akuntansi yang notabene dikuasai oleh anak IPS pun juga jadi sasaran anak anak IPA. Coba tanya, ada berapa persen anak anak IPA ambil jurusan manajeman atau akuntansi di kuliahan?. Sakbajeg kere. Dan berapa anak Bahasa yang sukses? Sebelas dua belas sama anak IPA kok. Anak IPS yang pengangguran? Anak IPS yang kerjanya malakin orang? Ada. Sakbajeg kere juga. Lulusan IPA yang jadi bajingan? Banyak. Simpel. Dunia nggak bisa dipukul rata hanya karena stigma jurusan.

Believe me, jurusan apapun bukan penentu seratus persen keberhasilan hidupmu. Jurusanmu hanya salah satu faktor saja. Sisanya, mampu kah kamu bertahan dengan hal hal lain di kehidupanmu dan lain lain. Dan balik ke makna sebuah kata “sukses”. What is success? Emang sukses itu artinya apa? Emang kalau udah masuk jurusan yang dianggap berkelas, hidup kita sukses? Itu pertanyaan retorik, bung. Terlalu filsafatis.

Maka, bijaklah. Tanyakan dirimu apa yang kamu sukai. Hitung hitungan atau hapalan. Logika itu yang pertama karena tidak ada salah dan benar dalam memilih sebuah keputusan jurusan di SMA/SMK. Yang jelas bersikap bijaklah juga untuk menentukan arah setelah kamu sekolah. Apakah mau lanjut sekolah di perguruan tinggi, bekerja atau bahkan menikah. Tujuannya cuma tiga itu. oh, tambah satu lagi: pengangguran fulltime.

Jangan dijadikan beban soal jurusan apa yang kamu pilih. Jika kamu suka dan jurusan itu bisa membantu mewujudkan impianmu setelah kuliah (misal, masuk teknik otomotif di SMK biar bisa kerja di bidang permesinan dan transportasi, masuk IPA biar nanti kuliahnya bisa ambil teknik kimia atau kedokteran gigi, masuk IPS karena mau mendalami antropologi, atau masuk bahasa karena ingin lanjut kuliah bahasa prancis, atau bisa jadi masuk IPS biar pinter hitung hitungan kalau belanja rumah tangga, masuk bahasa biar bisa jadi pujangga, masuk IPA biar kalau pas PKK bisa menjelaskan fungsi tanaman obat keluarga buat ibu ibu yang datang arisan dan lain sebagainya). Yang jelas, pastikan alasanmu masuk ke jurusan itu. Kalau cuma urusan gengsi, mending kamu pulang tidur, Nak. Naik kelasnya setahun lagi aja. Tapi kalau kamu masuk jurusan karena kebutuhan (penjurusan studi lanjutan), maka pilihlah sesuai logika dan dukungan di masa depan. Tanyakan second, third, fourth bahkan lebih banyak lagi pendapat dari orang orang yang bisa dipercaya. Jika jawaban mereka bisa mengarahkan dirimu merancang masa depanmu, maka pakailah. Tapi jika balik lagi ke urusan gengsi, mending tinggalin darn carilah pendapat ahli lainnya. Jangan korbankan masa depan hanya untuk urusan gengsi semata. Udah bukan jamannya. Kita generasi milenial dan kerja kerasnya lebih ngeri.

Intisari kehidupan

Believe or not, saya sering merasa tolol karena dihantui pemikiran pemikiran di masa depan karena dari kecil orang tua saya selalu menekankan jika kamu tidak berlaku seperti ini maka yang terjadi seperti ini. Jika kamu tidak melakukan ini, maka kamu akan begini. Endingnya.. saya sering menangisi diri saya sendiri. Sendirian. Orang tua saya mana tau kalau saya stress. Taunya saya haha hihi baik baik saja. Padahal rasanya benar benar saya ingin merobek semua raport saya dan mungkin membakarnya. Ibu dan ayah saya hidup dengan keras. Bahkan mereka mengorbankan apapun asal kami anak anaknya bisa sekolah. Dan rasanya itu tidak sebanding dengan rasa marah saya. Lelah mereka lebih berdarah darah saya. Dan ada rasa sedih terbersit ketika saya tidak bisa mewujudkan apa yang mereka harapkan: masuk IPA.

Sampai saat ini kalau melihat rumah sakit, saya merasa sedih. Sedih karena saya tidak bisa mewujudkan impian ayah saya untuk jadi seorang dokter. Ya, dokter perempuan. Tidak ada yang salah dengan gender di keluarga kami. Tidak peduli laki laki atau perempuan, selama apa yang kamu lakukan bisa memberi manfaat bagi orang di sekitar dan lingkunganmu, maka jangan pikirkan tentang apa yang orang lain katakan. Rahmat Tuhan besar untuk orang yang berjuang di jalanNya. Maka meskipun perempuan tak berarti perempuan tak bisa apa apa. Cerita dimulai ketika saya masih belum kenal sekolah…

Sejak saya kecil, ayah mengumpulkan sedikit demi sedikit alat alat kedokteran. Bahkan buku buku kedokteran yang tebelnya kayak bantal memang dipersiapkan untuk putra putrinya. Barangkali ada satu dari anak anaknya mewujudkan impiannya menjadi dokter. Tapi ayah saya tidak pernah sekalipun mendoktrin kami untuk jadi dokter. Terserah cita cita kalian. Tapi saya tahu, harapannya adalah ada anaknya yang menjadi dokter. Harapan pertama adalah saya. Tapi kemudian kandas. *backsound suara angin bertiup di gurun.

Tapi ada banyak hal yang bisa saya sarikan dari perjalanan hidup saya. Saya seorang leader dan terlahir memang jadi leader. Setidaknya ada satu masa di masa depan saya, saya adalah seorang pengambil keputusan. Maka saya memang harus ditempa sejak kecil untuk urusan tekanan. Ayah dan Ibu saya adalah orang yang sangat peduli dengan pendidikan. Pendidikan emang nggak akan menjamin kita sukses di masa depan. Seriously. *pertanyaan gobloknya adalah ngapain sekolah tinggi tinggi kalau jadi pengangguran. Nah, titik poinnya bukan karena sekolah tinggi sama aja nganggur. Bukan itu. titiknya adalah pendidikan adalah titik dimana kita belajar untuk berlatih menggunakan nalar dan kemampuan. Pendidikan itu bukan buat nyari kerja. Tapi sangu mati. Itulah yang didengung dengungkan ibu saya. Tiga hal yang dibawa mati salah satunya adalah ilmu. Maka ilmu bisa berasal darimana saja. Tak melulu dari pesantren, juga tak melulu dari sekolah yang merupakan hasil adaptasi kita dari bangsa barat. Dari banyak hal kita bisa belajar, bahkan pada rumput yang bergoyang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s