Kasak Kusuk Kakus

Salah satu hal naluriah manusia adalah ekskresi. Buang air. Dan hal yang membedakan kita dari hewan adalah kita tidak akan seenak jidat buang air di sembarang tempat. Maka dibuatlah sebuah tempat bernama kakus alias kamar mandi alias jeding alias wc alias toilet alias jumbleng dan alias alias lain dengan nama yang berbeda di berbagai tempat. Desainnya pun macam macam. Ada yang hanya sebuah lubang yang digali dalam tanah di belakang rumah, ada yang menjadikan sungai sekitar rumahnya sebagai kakus abadi terpanjang di dunia,  ada yang bersekat bambu di atas kolam lele, ada yang bersekat papan, ada yang bertembok batu bata sampai yang bertatahkan pualam. Semua model, lengkap!. Dan sebagai orang Indonesia saya pernah merasakan semua. *kebanggaan sebagai orang Indonesia. Haha. Well.. oke. Saya bercanda.

Oleh saya yang ndeso ini, saya merasakan bahwa sebagai bangsa yang memegang teguh budaya yang masih tradisional, saya merasa buang hajat juga merupakan suatu hal yang berdasar pada budaya. Nggak percaya? Tuh.. googling di internet. Cari informasi mengenai culture shock yang dialami sebagian warga yang belum mengenal wc. Wc yang sebenarnya difungsikan sebagai tempat kakus menjadi kandang ayam. Haha. Unyuuu. Tapi jangan salahkan warga tersebut. Ya jelas jelas mereka nggak salah karena memang budaya mereka (mungkin) saja tidak mengenal adanya wc yang sudah susah susah dibuat oleh pemerintah pakai dana bantuan. Khuznudzon lah bahwa warga tersebut sebenarnya sudah mangkel tingkat dewa karena pemerintah cuma mbikinin tanpa ngasih tau cara makainya. Mungkin airnya nggak ngalir padahal dinding kamar mandinya udah dikeramik. Mungkin wc nya udah bisa dipakai tapi mampet dan yang punya ide bikin wc nggak ngasih tahu cara menanggulangi mampet sehingga meluber dan isinya kampul kampul sampe keluar bikin selera makan sirna seketika padahal perut juga lagi nggak bersahabat. Mungkin pipa airnya bocor dan airnya habis dan berbagai mungkin mungkin yang khuznudzon lainnya. Uhuk. Dan.. pada akhirnya warga kembali ke buang hajat sembarangan (terbukti dari plang plang jangan buang hajat sembarangan yang pernah saya temukan di desa yang memang susah air). Sebenarnya mereka buang hajat nggak bisa disebut sembarangan. Tapi karena tidak terpusat ya jadinya di kebon atau di tempat tempat lain yang bisa membaui orang lewat. Orang males lewat bukan karena hantu. Tapi karena bau. Tapi semenjak ada program kebersihan dicanangkan, nampaknya persoalan toilet di desa sudah dapat dipecahkan. Horeeeeeee.

Indonesia baru mengenal adanya toilet emang baru baru aja. Mungkin dalam dua ratus tahun terakhir ini. Biasanya? Ya ke toilet terbesar di dunia yang multifungsi juga selain kakus juga sebagai tempat cuci, mandi dan kadang diambil airnya untuk minum (bahkan sampai sekarang dimana nonton tipi bisa lewat hape). Nah lho.. haha. Mungkin baru jaman jaman Pak Harto (piye? Penak jamanku tha?) orang Indonesia diinvasi dengan toilet secara besar besaran. Tentu untuk menyukseskan Indonesia bersih dan sehat.

Dan nun di kota sana, saya hanya mengernyitkan dahi ketika melihat toilet (yang rata rata didesain ala ala Londo) basah oleh air dan jejak jejak sepatu menghiasi sana sini bagaikan lukisan cap tangan manusia purba di goa goa tua. Okelah saya nggak ikut mbersihin, harusnya sih nggak usah komen gini yak. weeiittzzz.. tapi saya yang (nampaknya) agak peduli ini kadang harus nyiram sisa sisa warga lho mbakyu.. kan jijay ugakkk *emot zebelll.

Tapi yang membuat saya kadang tertawa sinis adalah toilet model duduk bukanlah sesuatu yang Endonesa banget. Saya pikir dulunya orang membuat tolet duduk adalah karena kekinian. Model model baru gitu lah. Ternyata saya salah. Menurut penuturan salah satu profesor, toilet duduk adalah toilet yang memang didesain untuk bangsa barat sono karena mereka nggak bisa jongkok. Nah lho.. haha. Apa hanya karena si bule bule itu susah buat jongkok terus dipaksain juga buat warga endonesah yang sebenarnya budayanya lebih sering jongkok ya?. Padahal toilet jongkok lebih sehat daripada duduk. Itu kata para praktisi kesehatan sih *dan dalam salah satu riwatyat, Nabi pun mengajarkan demikian (ingat salah satu sabda Nabi untuk hidup sehat: jangan kencing sambil berdiri. Selain air kencing nyiprat kemana mana, nggak sehat juga buat organ tubuh).

Yang lucu lagi adalah, lantai kamar mandi yang terbiasa untuk dibasahi. Budaya kita adalah menyiram kaki setelah masuk kakus. Membersihkan kaki gitu lah. Kalau nggak siram kaki rasanya nggak afdhol. Dan saya menemukan entah itu di stasiun, di tempat umum, bahkan pernah di tempat yang dianggap elit macam di mall atau hotel warga endonesah masih membasahi lantai kamar mandi padahal jelas jelas ada pengumuman larangan membasahi air di lantai. Haha. Ya walaupun ada petugas kebersihan kamar mandi yang senantiasa menjaga kebersihan toilet di tempat umum macam stasiun atau mall. Tapi ini soal mindset warga endonesah yang memang belum siap diajak kebarat baratan. Kalau begini siapa yang salah dong? Arsitek yang bikin desain awal kamar mandi? Pak tukang yang beli bahan? Kontraktor yang ngerjain? Yang bayarin proyek? Apa orang endonesia yang emang punya kebiasaan cuci kaki dan cebok pakai air yang disiram dari depan? Gimance cyinnnn..

Saya sering sebel kalau pergi ke mall yang kamar mandinya sok kebarat baratan (sama mangkelnya dengan pergi ke toilet terminal yang juorokkkknya naudzubillah dan baunya pesingnya bikin muntah). Elegan memang dengan glasses door yang berat beud mau buka pintu aja, kaca super besar dengan wastafel yang keliatan belinya nggak cukup pakai receh limaratusan setoples. Terlihat cukup meyakinkan bahwa menit menit yang kita habiskan di dalam adalah bagai surga dunia di tengah serangan hedonisme mall yang menyerbu ibukota. Eh, pas mau bersih bersih, semprotan airnya ternyata yang di belakang. Itu tuh yang berada di sebelah dalam lubang toilet bukan semprotan yang berselang. Kan kampret yak. Banyak orang Indonesia yang masih merasa ‘jijik’ jika pembersihan tidak sempurna (pipis di toilet terminal yang stigmanya jorok aja masih mending karena biasanya disana airnya melimpah ruah dengan gayung dan ember yang menampung air dari pancuran).

Believe it or not, bukan saya doang yang ngerasa masih kotor kalau membersihkan nggak beres kayak gitu. *akuu kotoooooorr. Buat orang yang ngerti adab thaharah, kebayang gimana rempongnya kita membersihkan sisa kotoran tapi ngerasa masih kotor. Gimance ibadahnya cyinn? Rasa was was sangat besar. Dan.. ngeselinnya adalah karena tidak terbiasa dengan bersih bersih yang seperti itu, prosesnya jadi lama dan bikin kesel yang ngantri. Yang di dalam kamar mandi kesel betz, yang nungguin sampe harus gedor gedor pintu karena kebelet pipis juga. *mba.. jangan digedor pintunya. Pecah, ganti lho. Mahal. Haha. Mungkin akan ada satu dua orang yang nyinyir “ih, toilet flashbutton yang dibelakang tinggal muter pancur aja nggak bisa gunain”. Ya maap mba.. apalah uwe yang orang desa. Taunya jumbleng (wc) dan kalen (sungai). Dua duanya nggak butuh flashbutton dan nyiram airnya lebih bersih, sisanya buat pakan ikan yang hidup di dalamnya dan insyaAllah buat solat masih sah karena air najis nggak nyiprat kemana mana. Haha. Dulu sih saya diajarkan sama bu nyai kalau membersihkan itu dari depan ke belakang. Biar thaharahnya sempurna. Soalnya thaharah (bebersih) adalah kunci penting sahnya ibadah. Udah sekompleks itu aja. Wkwkwk.

Kalau saya ditantang untuk mendesain kamar mandi yang indonesia banget? Boleeeehhh. Saya akan membuat kamar mandi itu ramah warga yang tidak familiar dengan modernitas toilet. Jangan sampai susah susah bikin toilet eh malah jadi sarang ayam bertelur kayak yang terjadi di beberapa daerah. Kan ngakak. Jangan sampai udah ditulisin pake spidol segede gaban tentang larangan mencuci kaki tapi diabaikan setiap waktu cuma gara gara tidak memahami etnografi kebudayaan masyarakat setempat, kitanya jadi cultural lag. Haha.

Pertama, lihat dulu tradisi dan budaya dari daerah setempat. How did they manage their toilets in the past? Lihat dulu gimana adab mereka kalau “ke belakang”. Baru dipikirkan bisa nggak memasukkan nilai modernisme ke dalam budaya. Mungkin saja bisa, malah harus karena mengikuti perubahan jaman juga. Tapi tentu tidak bisa sepenuhnya dan tidak bisa dalam waktu tiba tiba. Harus berproses, Mengadopsi budaya luar bukan berarti mencomot seluruh aspek kebarat baratannya. Contoh kecil, orang barat emang suka kamar mandi kering. Sedangkan kebalikannya kita yang punya budaya untuk cuci kaki (berdoalah sebelum kita tidur. Jangan lupa cuci kaki tanganmu.. itu tuh lagunya Tasya yang judulnya jangan takut gelap). Ya udah, bikinlah kamar mandi yang mengakomodasi pembersihan kaki dengan cara menyediakan ember dan gayung serta pancuran. Dasar lantainya juga jangan tegel yang granit cakep cakep itu soalnya lama keringnya dan kalau letheh (menggenang air) jorok beudd (yu know.. saya pernah hampir kepleset di lantai kamar mandi granit mewah hanya gegara warga nyiram pipis anaknya di lantai granit padahal toilet duduknya di atas. Hiks.). Harusnya batu batu kecil yang bisa jadi jalan serapan air biar ainya juga langsung menyerap tanah. Atau katakan lantai yang mudah dibersihkan deh. Kalau mau pakai granit, pastikan setelah dipel basah juga sekalian dipel kering . Tapi toilet duduk pada akhirnya juga harus disediakan untuk memudahkan para difable untuk ke belakang. O, ya ventilasi. Jangan sampai megap megap di dalam karena nggak bisa nafas karena nggak ada ventilasi. Saya pernah kayak gitu di salah satu rumah warga. Wadaaawww panas beudd. Toilet duduk selain buat warga difable juga untuk mengakomodasi warga yang udah bisa dan terbiasa menggunakan toilet kebarat baratan. Biasanya orang orang kota yang terpelajar juga akan menggunakan toilet tersebut secara terpelajar. Lain soal kalau orang terpelajar itu ternyata juga cuci kaki di toilet kebarat baratan. *ngakak banget tapi ini fenomena. Wakakaka.

Oke. Sekarang cerita lain soal kamar mandi di kosan saya. Yu know.. saya pernah sampe cerewet banget nulisin kamar mandi kosan saya hanya karena jijik liat gayung diletakin di lantai kamar mandi yang kecipratan air pipis. Bunyinya begini “Mohon untuk meletakkan gayung di ember. Teh, kalau gayung diletakkan di lantai padahal lantainya kena najis maka solatnya bisa nggak sah” dan ternyata nggak mempan. *tepok jidat. Saya sampai harus pergi ke kamar ciwi ciwi tetangga saya untuk bilang bahwa jangan meletakkan gayung di lantai. Selain karena airnya bisa berhukum musta’mal alias meragukan, sayanya juga jijaaaaaayyyy. Jorok bolehlah tapi jangan dipiara juga keleuuus. Soalnya kamar mandi bukan cuma kita yang menggunakan tapi juga orang lain. Maka pastikan jangan meninggalkan sisa seperti bungkus sampo, sabun yang diletakkan di lantai bahkan sisa sisa perut kita yang nggak disiram. hooooeeeekkkk..

Well.. persoalan thaharah janganlah dianggap remeh. Ini urusannya dengan ibadah. Tapi urusan ke belakang memang juga bersangkut paut dengan urusan budaya. Udah sekolah tinggi tinggi tapi acuh soal kebersihan yang urusannya sampai akhirat sana. Kan kasihan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s