Halo Halo Bandung

Semua orang berubah? Iya. Pasti. Semua orang berdinamika? Tentunya. Tidak ada yang tidak mengalami dinamika dalam hidupnya. Semua orang tidak mungkin menjalani hidup mereka dengan sama. Bahkan banyak dari kita yang berpindah kemana mana dan menjalani hidup yang berbeda setelah tinggal di tempat yang tak lagi sama. Lingkungan baru, norma baru, orang orang baru, butuh penyesuaian.

Bulan ini enam bulan saya tinggal di Bandung. Setengah tahun sejak saya meninggalkan Jogja, kota yang sudah lima tahun saya ditempa dan layaknya sebuah pohon yang menuju dewasa saya berkembang disana. Lima setengah tahun sejak saya meninggalkan Salatiga, kota dimana layaknya benih saya tumbuh hingga jadi tanaman muda yang siap untuk menerima cahaya mentari dan hujan.

Di awal awal saya tinggal di Bandung, dimana penuh dengan drama, saya belum bisa menerima sepenuh hati kenapa saya ada di Bandung. Dan ada kecenderungan “Tuhan.. kok Bandung sih.”, “kenapa disini?”. Dan saya merutuki diri saya sendiri, mencari banyak hal dari Bandung yang bisa dicacat kareana saya merasa nggak attach dengan Bandung. Nggak familiar dan nggak begitu suka. Akhirnya saya merasa kurang betah. Saya pun jadi lebih sering pulang ke rumah (jika dibandingkan dengan dulu ketika saya masih di Jogja) bahkan lebih menyukai jika saya dapat dinas luar Bandung selama beberapa hari. Dengan begitu, saya bisa keluar dari Bandung.

Tapi rasa rasanya saya merasa tertampar karena sebuah kota lain bernama: Jakarta. Jarak Bandung dan Jakarta hanya tiga jam dengan kereta. Selain untuk urusan pekerjaan, saya mengunjungi ibukota karena banyak kolega yang tinggal di Jakarta. Sebagian besar mereka adalah perantau dari daerah seperti saya. Mereka adalah anak anak rantau yang sekarang jadi anak ibukota. Mengunjungi ibukota pun bukan kali pertama buat saya. Di tahun tahun belakang, saya pernah kesana. Impresi saya pun ternyata tetap sama dari awal pertama: saya tak suka. Bahkan saya mulai berbalik mencintai Bandung dan semakin tak menyukai ibukota.

Ibukota negeri kita memang menawarkan banyak akses dan kemudahan. Mau cari ini itu ada. Semua barang hampir selalu berawal di Jakarta (selain Batam). Jadi, trend kekinian hampir selalu identik dengan kota metropolitan Jakarta. Jakarta juga yang menjanjikan nasib manis untuk para perantau yang mencari rupiah untuk keluarga (tidak munafik, kita bekerja juga karena kelangsungan keluarga). Maka, jutaa orang mengadu nasib di petak kecil Jakarta seolah uang dari ibukota adalah satu satunya solusi. Mereka rela tinggal di gubuk gubuk kecil berseng yang berkarat dengan sanitasi yang naudzublillah joroknya dan makan yang penting kenyang tanpa berpikir bahwa yang mereka makan adalah makanan yang tidak sehat. Yang terpikir oleh mereka hanyalah bagaimana bisa berjuang untuk hidup hari ini dan besok hari. Syukur syukur bisa mengirimi uang untuk keluarga di kampung. Sungguh penderitaan perjuangan untuk keluarga yang patut diapresiasi.

Tapi.. Jakarta jahat. Ia menikam dengan airnya yang tak manusiawi. Dengan udaranya yang bercampur dengan ujian Tuhan akibat ulah manusia bernama: polusi. Bagaimana bisa Tuhan menciptakan kekuatan untuk mahluk mahluknya untuk dapat betah tinggal disini. Udara panas karena dua hal; cuaca pesisir dan panas karena persaingan, dengan orang orang yang tak peduli dengan sampah yang berceceran, tak peduli dengan najis dan kotoran di dekatnya padahal ia harus bersujud menghadap Tuhannya dalam keadaan suci. Semua menghalalkan segala cara yang penting bisa hidup.

Dengan tuntutan hedonistik akibat hukum penawaran permintaan mahluk mahluknya. Ia menendang siapapun yang tak punya prinsip: ora obah ora mamah (Tidak berusaha maka tak bisa makan) tanpa ampun. Belum tentu juga orang lain akan membantu memberi makan. Mereka yang hidup di sekitarnya saja belum tentu punya makan. Maka, ia tak punya empati. Menjadi individual. Ia menghajar siapapun yang dianggap tak punya keahlian lebih dari lainnya. Leleh luweh liyane ora oleh, sing penting awak dewe kudu oleh (Tidak peduli jika orang lain tidak mendapatkan asalkan kita bisa dapat kesenangan). Ia memaksa untuk membeli dan terus membeli dengan alasan agar tak ketinggalan jaman. Dan kemudian yang tersisa adalah: kehampaan karena melupakan Tuhan. Kealpaan karena terlalu sibuk mengejar dunia.

Dan saya selalu termenung sedih. Duh Gusti.. Mengapa saya tak bersyukur. Mengapa saya masih mengeluhkan tentang saya yang sudah dapat tempat yang nyaman dan menyenangkan. Bandung sudah ditakdirkan untuk saya mulai belajar kerasnya pekerjaan. Jika saya dulu ternyata ditempatkan di Jakarta, mungkin sekarang setiap hari bahkan setiap menitnya bibir saya membuat dosa karena mengumpati nasib saya. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya tidak akan punya kesempatan untuk belajar bahasa dan budaya Sunda. Semakin saya belajar bahasa daerah, semakin saya merasa kecil karena ternyata Indonesia amat sangat kaya budaya. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya tidak akan mengalami plesiran plesiran saya ke tempat tempat catchy dengan makanannya yang beraneka rupa kekinian dimana semakin menguatkan saya suatu saat untuk belajar masak –semakin memberi semangat agar suatu saat saya bisa membuka usaha kuliner yang juga bisa menjadi ladang rezeki bagi orang yang membutuhkan lapangan pekerjaan-.

Mungkin saya tidak akan belajar bagaimana mengembangkan ide ide segar layaknya anak anak Bandung yang penuh dengan inovasi. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya yang tipikal emosional ini akan lebih uring uringan karena harus berangkat subuh pulang malam karena rutinitas yang membunuh. Ternyata tekanan kerja di tempat saya belum ada apa apanya daripada tekanan kerja yang pastinya lebih tinggi di ibukota. Rutinitas Bandung yang lebih selow membuat saya ternyata lebih nyaman dan tidak menjadikan uang sebagai Tuhan. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin fisik saya sudah drop karena makanannya tidak sesehat di Bandung. Jika saya ditempatkan di Jakarta, mungkin saya tidak akan belajar fashion (karena Bandung kota fashion). Jika saya tinggal di Jakarta, mungkin saya hanya akan tahu satu tempat gahol saja: mall, mall dan mall. Dan saya akan dibunuh bosan karena hedonistik yang ditawarkan oleh mall. Samasekali tidak ramah wong cilik dan membosankan. Padahal di Bandung saya bisa dapatkan banyak hal seperti di Salatiga dan Jogja. Kalau mau ke mall, ada banyak tempat, tapi kalau ingin merasakan indahnya pemandangan, Bandung masih menawarkan keasrian. Bandung masih berbaik hati dengan kederhanaan sunda rasa kosmopolitannya. Saya masih bisa nongkrong di mall tapi juga bisa menemukan interaksi tulus dari alam dan manusianya. Jika saya tinggal di Jakarta, mungkin saya akan merasa sepi dan berlagak ke-Jekarda Jekardaan seperti yang saya temui pada beberapa kolega saya yang dulu saya kenal sebagai bocah ndeso sama seperti saya juga. Mungkin saya akan kehilangan kesederhanaan ala ndeso yang saya punyai (karena saya anak desa. Saya tinggal di desa dan saya bangga jadi anak desa meskipun saya besar di perkotaan). Mungkin beberapa kolega saya yang datang dari luar kota akan bermuka sedih karena melihat saya yang kehilangan apa adanya saya. Dan banyak perbedaan lainnya.

Dan saya pun menerawang di bulan Agustus tahun lalu, saya termenung kepanasan di sela menanti bis transjakarta di sudut Harmoni yang selalu penuh pekerja. Muka muka masam, letih, sangat terlihat bahwa mereka ingin segera pulang dan setidaknya merasakan tamparan angin AC buat yang mampu beli AC, atau kipas angin buat masyarakat kelas menengah atau hanya angin cendela untuk mereka yang tak bisa membeli keduanya. Kemudian rutinitas mereka adalah istirahat di akhir pekan atau nongkrong seharian di weekend selepas bekerja. Balas dendam untuk kerja rodi selama hari kerja.

Rasa rasanya semua orang ingin bekerja kantoran. Lalu siapa yang menanam padi. Jika semua orang kerja di kantoran, siapa yang mengolah beras jadi nasi?. Orang bisa makan nasi, tapi tak akan mungkin akan kertas kantor. Mungkin tak ada yang peduli dengan musnahnya tangkiang tangkiang di pulau Jawa dimana tanahnya telah tumbuh beton, bukan lagi bulir bulir padi yang siap memenuhi bakul di meja makan. Dan rasa rasanya saya lebih rela untuk pulang ke desa, bertanam padi daripada harus mati mengais sebutir nasi di ibukota yang kejam. Serupiah dua rupiah yang didapatkan di ibukota belum tentu bisa membuat hati manusia bahagia. Dan saya lebih bahagia duduk di tangkiang sambil melihat tanaman padi menari nari ditiup angin sepoi sambil menikmati rantang rantang nasi yang dibawa dari rumah. Dan kenyataannya.. lahan di rumah pun hilang berganti dengan beton beton. Maka, sirna mimpi saya. Saya harus kembali pada kenyataan bahwa takdir saya adalah menjadi seorang pekerja yang bercita cita banyak. Dan mungkin Bandung bisa memberikan saya tempat untuk belajar menanam sayuran. Ya.. meski saya tidak bisa bertani sekarang, setidaknya saya menanam benih cita cita dan rajin memupuknya dengan semangan dan doa. Mungkin suatu saat akan ada sebuah ladang dimana tumbuh tanaman yang memberikan manfaat bagi orang yang memetiknya.

Saya bangun dari tidur saya yang tak nyenyak dan mulai menerima diri saya tinggal di Kota Kembang. Pada akhirnya saya menantang diri saya sendiri untuk bisa menerima dan berdamai dengan takdir serta Bandung. Fabayiiaaala irobbikuma tukadziban-maka, nikmat Tuhan manakah yang saya dustakan. Dan saya masihlah hamba yang tidak bersyukur. Yang hanya bisa merutuki diri saya sendiri atas takdir yang telah digariskan. Duh Gusti.. nyuwun pangapura.

Hai Bandung.. ini Cicik. Dan terimakasih sudah menerima saya. Saya sudah bisa berdamai dengan dirimu dan segala permasalahan dan kebaikanmu. Dan saya mulai menyamankan diri di tengah dingin dan asrimu yang mirip dengan Salatiga dan metropolismu yang masih mengingatkan saya pada Jogja. Tetaplah berdamai dan mari belajar serta bertumbuh bersama. Entah kapan saya akan berpisah denganmu, maka saya tak akan berhenti belajar dan belajar untuk tetap sederhana. : )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s