Blog Istiqomah

WordPress mengirimkan notifikasi ke laman saya “Selamat Ulang Tahun yang Ke Tiga Tahun”. Tidak terasa sudah Februari yang ketiga, saya ngeblog secara istiqomah. Haha.

Kenapa saya ngeblog?

Ada beberapa alasan kenapa saya hobi banget nyampah di blog saya sendiri. Pertama, tentang petualangan. Pada awalnya saya mendedikasikan blog ini untuk tempat nyampah saya kalo bepergian. Saya suka sekali menulis. Well.. menulis untuk diri saya. Menulis sampah maksudnya. Hehe. Saya terbiasa punya diary sejak kecil. Blog pun saya punya banyak, tapi semuanya wasalam. Tutup lapak semua. Haha. Dan baru tiga tahun lalu saya konsisten menggunakan laman ini untuk curhat menye menye soal hidup saya. Haha. Berawal dari petualangan saya selama setengah bulan tinggal di Desa Batursari, desa terakhir sebelum hutan taman nasional Gunung Slamet. Benar benar petualangan karena jauh dari rumah, berbaur dengan warga, merasakan bagaimana rasanya menjadi antropolog. Emejing menurut saya. Saya cuma ingin menceritakan pengalaman tersebut secara publik. Tidak seperti diary yang dibuat untuk dijadikan rahasia, maka blog adalah tempat untuk nyampah dan semua orang bebas melihat (kecuali kalau diprivat. hehe). Maka saya ingin petualangan saya ada yang membaca. Sekaligus ingin memberitahukan pada dunia bahwa ada satu desa di lereng gunung sana. Sebuah desa biasa yang belum tentu di google pun ada yang nulis. Saya ingin jika ada seorang anak desa itu yang suatu saat pergi ke kota dan browsing nama desanya, ada yang mengulas meskipun hanya sedikit. Mungkin ia berbahagia karena ada orang lain yang menceritakan tentang desanya. *terharu.

Kemudian karena inspirasi. Bu Muji, guru geografi saya waktu SMP “coba kalau nenek moyang kita mendokumentasikan perjalanan mereka ke Madagaskar. Mungkin kita sudah dianggap sebagai penemu Afrika.”. Pak Budi, guru geografi di SMA pun bilang hal dengan makna yang sama “seandainya kita adalah bangsa yang mengikat ilmu dengan menulis. Semua hal yang terdokumentasikan akan jadi saksi sejarah”. Maka, saya pun ingin menorehkan sejarah hidup saya sendiri. Menceritakan petualangan petualangan yang saya alami selama mengarungi dahsyatnya ombak kehidupan *duh deeekkk.

Orang ketiga adalah ayah dan ibu saya. Mereka adalah petualang muda ketika masih muda. Pergi kemana mana, banyak teman dan penjelajah. Saya pun ingin juga main kemanapun saya suka. Haha. Intinya seperti itu.

Lalu, para traveler yang membangkitkan semangat saya untuk bercita cita keliling nusantara dan dunia. Andrea Hirata ada di list pertama traveler favorit saya. Saya tidak pernah tahu sudah sampai mana dia berjalan jalan di muka bumi. Tapi buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi mengobarkan semangat saya sampai seribu persen. Perjalanan Andrea dan Arai di Eropa, dengan segala pahit manisnya merantau di negeri jauh dan perjalanan backpacker mereka yang juga ditempuh dengan susah payah hingga ke Afrika hanya untuk dua hal: makna hidup dan pencarian cinta. Ditulis dengan gaya sastra yang melayu banget lah, tapi menggetarkan semua pemimpi. Aku ingin bercita cita menjadi seorang petualang!. Saya mau jadi turis.

Juga Agustinus Wibowo.  Baik Andrea Hirata ataupun Agustinus Wibowo, keduanya saya pernah berjumpa. Bahkan dengan Agustinus Wibowo saya pernah berbincang (Kalau sama Andrea cuma liat doang karena semua warga merangsek nggak tertib. Hiks). Dan.. sumpah saya kehilangan kata kata. Nggak bisa ngomong apa apa. Ya ampun.. ini beneran aku ngobrol sama Gus Wen? Ya ampun.. mimpi apa aku.. Duh.. pengen banget tanya tanya tapi kenapa nggak bisa ngomong gini. Dan saya hanya bisa merutuki diri saya sendiri karena ketololan saya. Dan.. ah.. sudahlah.. demam. Hiks.

Baik Andrea maupun Gus Weng memiliki karakteristik tulisan yang berbeda. Kalau Andrea sastra dengan bahasa yang meliuk liuk dengan simbol tokoh dalam novel, Gus Weng bercerita seperti diary dalam kehidupan nyata. Lugas, tegas dan tokoh yang ada dalam bukunya adalah sudut pandang dia sendiri sebagai penulis. Dua duanya menceritakan Indonesia dengan caranya masing masing. Nasionalisme dan patriotisme dari perjalanan hidup yang mencerahkan bagi siapa yang membacanya. Bikin saya semakin cinta sama negeri saya.

Sebenarnya selain dua itu masih banyak penulis dan blogger lain yang menginspirasi saya. Entah itu blognya temen kayak punya Shabrina Hazimi, Mas Afrizal Lisdianta, Mas Anggara, Mas Sweta Kartika (dia bukan blogger sih. Tapi ilustrator), Mutiara, Fitria Aulia atau nemu blog profesional kayak punya mbak Grace, Mbak Windi, dan banyak yang lainnya.

Dan.. saya pun ketularan pengen jadi penulis. Haha. Sayangnya, lima tahun jadi anak sastra ternyata membuat saya semakin menyadari bahwa saya suka sastra tapi tidak mencintainya. Saya suka membaca buku tapi tidak benar benar ingin mendedikasikan hidup saya untuk itu. Puyang saya mendirikan sekolah dan ayah saya melahap habis semua buku buku di rumahnya. I did what my father did. Tapi cinta saya pada alam dan petualangan. Maka sama sepertinya, saya mencintai petualangan petualangan dalam hidup dan alam. Jadi anggaplah saya membuat blog karena saya ingin mengabadikan pelajaran yang saya dapatkan selama saya bepergian atau katakan mengkristalkan pemikiran pemikiran sampah saya sekaligus melestarikan ilmu sastra (walaupun jelas jelas tulisan saya nggak nyastra samasekali. Lebih ke tulisan awut awutan yang ala ala saya. Dan kalau ditanya style apa saya menulis, saya tidak bisa menjelaskan. Haha. Jangan tanya soal kaidah kaidah penulisan. Tulisan saya jelas masih banyak cacatnya dan saya masih berusaha selalu memperbaiki. Tapi diluar konteks gramatika, dan segala tetek bengek teknis, saya hanya menulis apa yang saya ingin tulis dan saya ingin cerita cerita saya jadi muhasabah untuk orang orang yang mampir untuk membaca.

Saya sudah bukan anak alay yang hobi nyampah di media sosial. Semua orang yang sudah berkepala dua pasti pernah mengalami masa alay di jamannya. Maka, saya pun mengakui kalau saya mantan anak alay. Salah satu ciri anak alay adalah hobi posting banyak hal nggak penting. Entah itu sekedar nyampah atau cari perhatian. Nah.. karena sudah bukan masanya lagi, maka saya mendedikasikan gemulai jari saya pada media sosial bernama blog, dimana blog itu adalah rumah bagi para pemiliknya. Mau nyampah kayak apapun, suka suka yang nulis dong. Mau sedefensif atau seinformatif apapun, setidaknya dia nyampah dengan bebasnya. Beda dengan facebook, twitter atau lainnya. Kita bikin status apa, yang kesindir siapa. Kita nulis buat siapa, yang ge-er siapa. Emang blog nggak ada potensi buat ngajakin berantem gitu kayak di fesbuk atau twitter?. Tentu saja ada. Tapi di blog, kita bisa lebih bebas buat mengungkapkan banyak hal. Salah satu faktor yang bikin orang merasa tersindir di fesbuk adalah kenyataan bahwa terkadang orang menulis dengan singkat. Sekalimat dua kalimat yang tidak dijabarkan, dengan konteks yang bikin blur. Maka, wasalam. Kita bikin status buat siapa yang kena siapa. Bikin tulisan untuk apa, yang berbunga bunga siapa. Cape deh. Toh, blog juga tidak seupdate media sosial. Jadi, orang tetap butuh waktu untuk membuka, mencari dan membaca hingga tuntas. Tidak seperti media sosial lain yang asal scrol, ribuan orang di jagad muncul semua beritanya.

Alasan yang agak ”berat”, saya masuk pada fase muhasabah. Ketika ketertutupan menjadi sebuah identitas, nampaknya hal itu tidak serta merta bikin keren. Terlalu tertutup pun tidak baik. Terlalu terbuka apalagi, tambah tidak baik. Haha. Maka, saya pun mencoba sedikit terbuka dengan menuangkan pemikiran pemikiran (apalagi ini tergolong kategori blog curhat. Haha). Membuka aib? Tidak juga. Kan tergantung sudut pandang orang yang membaca. Apalagi semua yang saya ceritakan disini kebanyakan adalah sudut pandang saya. Ini blog saya, ya suka suka saya mau diisi apa. Haha. Tapi bukan itu poinnya. Saya hanya ingin mendokumentasikan cerita dan pemikiran. Barangkali bisa menjadi muhasabah buat yang baca (kalau ada yang baca. Haha). Jika ada orang yang mungkin terinspirasi dan bisa mengambil pelajaran hidup saya, nampaknya saya pun sudah melakukan amalan baik. InsyaAllah berpahala.

Dokumentasi buat anak cucu. Ketika nanti anak anak saya sudah besar, dan jika mereka menemukan blog saya, akan jadi pelajaran juga buat mereka. Ibunya punya sebuah diary di dunia maya yang banyak memberi cerita. Oh, gini toh masa muda ibuk saya. Bla bla bla. Seneng aja jika mereka suatu saat menemukan. Juga, dokumentasi untuk siapapun yang pernah mampir di kehidupan saya. Jika mereka sudah beranjak menua, dan ingin bernostalgia pada masa lampau dan tetiba menemukan tulisan atau foto di blog saya. “Eh, ternyata aku pernah main kesana ya.”, “Ini kan temenku waktu jaman susah dulu”, “ya ampun, dulu ternyata kita segila itu ya. haha”, “ada fotokuuuu.. eh aku dulu culun beuuddd”, “apa kabar ya temen temenku dulu” dan banyak hal lain yang bisa diingat.

O, ya nemuin bahwa tulisan atau foto dalam blog kita digunakan oleh orang lain sebagai referensi itu sesuatu yang bikin terharu. *mewek bombay. Saya pernah memberikan referensi blog saya pada beberapa teman yang memang membutuhkan data saya sebagai salah satu bahan penelitian. Sungguh sebuah hal yang remeh. Dan belum tentu juga dia pakai data saya. Tapi tahu kalau mungkin data saya dibaca dan mungkin berguna dan bisa membantu, rasanya bahagia sekali bisa membantu walaupun cuma hal remeh. Saya pun pernah menemukan bahwa beberapa foto di blog saya dipakai orang lain sebagai sumber (dan dia menyertakan sumber pengambilan gambar). Dan.. senangnya. Ada orang yang menjadikan rumah kita sebagai referensi tapi tetap mematuhi kode etik jurnalisme. Bahwa kalau memang mensitasi harus menyebutkan sumber agar tidak dianggap plagiarisme.

Selama ini saya belum pernah memonetize blog saya. Dulu pernah pakai platform blog*spot yang sebenarnya lebih mudah dimonetize. Tapi saya menyerah karena belum istiqomah. Kemudian saya berpindah ke wordprezz yang menurut saya lebih simpel untuk saya yang gaptek. Dan.. kabar buruknya (atau saya yang emang belum tahu ilmunya) susah untuk dimonetize. Saya pun memang tidak mendedikasikan blog saya untuk dimonetize. Wong niatan awalnya adalah untuk nyampah. Haha. Jika syukur syukur suatu saat saya bisa dapat uang dari ngeblog, ya rejeki. Haha.

Dari semua blog yang saya punya, ini yang paling catchy namanya. Yang lain jangan tanya. Alay semua. haha. Perseagreen. Green artinya hijau. Dan hijau adalah warna surga (mengutip dari kata ibu saya). Sementara Persea adalah nama latin dari satu satunya pohon alpukat yang ditanam bapak dulu kala ketika saya masih sangat kecil. Ayah saya mengharamkan pohon itu untuk ditebang. Ya karena menyimpan kenangan (dan masih produktif berbuah juga). Makanya saya sayang sama pohon alpukat itu. Apalagi buahnya ranum kuning dibungkus kulit yang hijau segar. Tapi saya nggak suka ulat ulatnya yang suka hinggap dimana mana. Selain bikin gatel, bikin saya gampang kagetan. Eh, tahu tahu nongol di dekat sandal, di atas panci, di gagang pintu, bahkan di baju. Pernah juga di bantal dan akhirnya saya berteriak saking shocknya. Mungkin bagi sebagian orang lebai. Tapi saya beneran saya jadi gampang kaget gara gara ulat yang sering bikin saya kaget ketika saya kecil. Makanya saya nggak suka dengan ulat. Apalagi ulat alpukat. Dan inilah alasan kenapa sampai sekarang saya akan berteriak jika saya kaget. Haha. Tapi habis musim ulat kelar, kupu kupu gajah (attacus atlas) bermunculan dengan cantiknya. Sedikit selingan. Baiklah, kita kembali ke topik.

Pohon alpukat itu tidak hanya berbuah. Tapi juga sebagai penaung dan penjaga air. Daun daun dan rantingnya memberi keteduhan pada sebagian area rumah kami. Sekaligus ia menjadi penahan erosi dan menahan air di sumur samping rumah yang meskipun airnya keruh kalau musim hujan, setidaknya ia bisa memberi minum ternak ternak kami yang kehausan. Jadi.. buat saya alpukat itu adalah sesuatu yang bersejarah. Ditanam ketika saya masih kecil dan kehadirannya memberikan manfaat. Dan.. perseagreen ini saya harapkan untuk menjadi media bercerita dan memberi manfaat. Dan dari sanalah saya mencoba untuk istiqomah.

Menulis itu membuang emosi dan media memetakan masalah. Memang tidak serta merta menyelesaikan masalah. Tapi bisa menjelaskan kepada diri kita sendiri secara gamblang dimana posisi kita, apa detail masalahnya, kita harus apa, resiko dan keuntungan jika melakukan suatu alternatif penyelesaian, tentang apa yang bisa kita lakukan dan tidak bisa dilakukan dan banyak hal lainnya.

O, ya bonusnya dari menulis adalah bisa ngetik dengan sepuluh jari. Haha. Nggak penting banget. Tapi itulah kenyataannya. Jangan tanya darimana saya bisa ngetik dengan menggunakan hampir sepuluh jari, tanpa melihat keyboard pula. Ya, walaupun tetap sesekali bisa melihat keyboard, tapi kecepatan pengetikan saya diatas rata rata. Teringat dulu saya dipaksa ibu saya untuk menggunakan mesin tik yang buat ngetik aja ngabisin energi dua piring nasi. Belum lagi salah salah. Duh deeekkk.. nggak praktis. Dan.. kemudian saya ogah lagi belajar ngetik sepuluh jari. Orang jaman udah komputer, ya belaajr aja ngetik di komputer. Haha.

Fiuuuhh.. ternyata panjang juga saya cerita ya. semoga menginspirasi!. Keep write, keep inspire.

Advertisements

2 comments

  1. Tulisannya kreatif banget mbak, saya merasa terinspirasi untuk menulis…
    Tapi saat saya ingin menulis entah kenapa saya sulit untuk mencari kata-kata… Saat saya membaca tulisan orang saya merasa tulisan itu menjadi sangat berharga… Namun ketika saya ingin menulis, seluruh kata yang muncul dipikiran saya terasa seperti dibuat-buat…
    Jujur saja saya saat ini sedang mengambil bimbingan skripsi. Awalnya saya bertekat untuk menyelesaikan ini secepat mungkin. Namun pada akhirnya saya tidak bisa menulis apa-apa…

    1. Halo Mba El, terimakasih sudah mampir ke page saya :). Menulis itu butuh proses (mood dan inspirasi) mba. Saya pun merasa tulisan saya masih awut awutan. Tidak ada tulisan yang mengalir alami mba. Saya rasa seorang penulis profesional pun juga ‘membuat buat’ kata kata agar jadi sehalaman tulisan :D.
      Semangat ya skripsinya. Skripsi itu datang kerjakan selesaikan. Akhiri apa yang sudah dimulai. Kalau dulu berani mengambil keputusan untuk masuk kuliah, ya harus berani mengakhirinya. Skripsi itu mau tidak mau, suka tidak suka, anda harus menjalani. Jadi, jangan buang waktu bertahun tahun yang sudah kamu habiskan di kuliah. Bukan perkara ijasah. Tapi waktu yang tidak bisa kembali. Jangan sia siakan yang sudah dilewati. Waktu tidak akan terulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s