Mabok Darat

Ternyata sudah hampir enam tahun saya merasakan menyebalkannya mabok darat. Ya.. apalagi kalau bukan serangan mual dan terkadang pusing gara gara perjalanan menggunakan transportasi darat khususnya bis dan mobil. Sedih yak.. haha. Padahal dulu sampai saya SMA saya selalu baik baik saja kalau masuk mobil atau transportasi umum lainnya.

Hey.. kenapa enam tahun? Well.. ini dimulai ketika saya mulai pindah ke Jogja. Transportasi umum di Jogja sungguh parah. Angkot nggak ada, isuzu jarangnya minta ampun dan hanya ada bis transjogja yang luamanya minta ampun dan kondisi bis yang jauh dari oke (belum lagi sopirnya sering ugal ugalan). Yang parah adalah bau AC (atau apa ya istilahnya. Kondisi udara dalam mobil yang tercampur dengan dinginnya AC? Hah.. sudahlah. Intinya begitu) membuat saya harus menutup hidung saking tak tahannya. Pengen muntah. Itu aja.

Kalau dulu pas awal awal masih oke. Tidak terlalu bermasalah. Saya hanya mengalami mual satu dua kali. Selebihnya tubuh masih bisa menjaga kodisi dirinya. Dan.. mual saya berlanjut juga ketika saya naik mobil. Entah kenapa terkadang, bau ruangan dalam mobil juga mempengaruhi stabilitas dalam diri. Halah.. opotoh. Haha. Yang jelas, saya kadang tidak tahan juga dengan bau AC dalam mobil. AC, tambah pengharum ruangan yang memicu mual. Udah.. wasalam. Sepanjang jalan saya cuma bisa ‘bercadar’ dengan selendang kerudung saya. Terkadang saya bisa sedikit tahan, tapi lebih sering tidak. Hiks.

Well.. menurut pengalaman saya ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menanggulangi mabok darat.

Menutup hidung

Jangan cuma pakai tangan. Pegel cyin.. Setidaknya pakailah kain baik itu slayer, selendang atau apapun yang bisa menutup hidungmu. Kalau saya sih kadang juga menetesi slayer saya dengan baby perfume. Better cuy rasanya.. saya sering berkelakar dengan diri saya sendiri: rasanya seperti mencium bau surga *karena nama parfum bayi yang saya gunakan waktu itu Jo*hnson heaven. Haha

Matikan AC dan buka jendela mobil

Ini cara paling efektif. Namun, siap siap kalau temen temen semobil pada komplain. Haha. Maka, lebih baik jika kompromi dulu sama temen temen sebelum kita memutuskan untuk buka jendela dan mematikan AC. Tapi kalau di bis, dimana kacanya tidak bisa dibuka, setidaknya kita bisa mematikan AC yang ada di atas tempat duduk kita.

Mencium sari jeruk

Jangan heran jika saya bepergian, akan ada satu buah jeruk atau sekedar kulit jeruknya saja. saya suka aroma sitrus (jejerukan) kecuali parfum ruangan rasa jeruk. Weww.. I hate it much karena Trans Jogja banyak menggunakan aroma parfum jeruk yang kemudian bercampur dengan aroma AC dan aroma warga. Membuat saya tidak tahan berlama lama di dalam bus.

Aroma jeruk akan menguar dari kulitnya jika kita melukai kulit jeruk kemudian mengoleskannya di kulit. Walaupun tak begitu lama, tapi cara ini sedikit ampuh mengurangi rasa mual.

Minum tolak angin

Cara ini lumayan ampuh untuk mengusir mual sekaligus meredakan masuk angin. Bisa diminum langsung sesachet, bisa juga perlahan lahan. Saya sih lebih suka untuk menikmati perlahan lahan biar hangatnya tahan lebih lama di mulut.

Tidur

Tidur sedikit banyak membantu tubuh untuk melupakan hasrat ingin muntah. Tapi yang sedih adalah kalau pas kita kebangun dan perut ternyata nggak bisa diajak kompromi. Duh deeekk.. haha.

Ngobrol

Percayalah ngobrol tidak serta merta membuatmu melupakan keinginan muntah. Tapi ngobrol bisa sedikit melupakan keinginan tubuh buat memuntahkan isinya. Tapi ya kalau pas jeda ngobrol masih membaui AC dan ingin muntah, lebih baik bukalah sedikit jendela mobil atau bercadar lagi.

Muntahkan

Cara ini adalah cara terbaik dari semua saran yang ada. Haha. Nah lho.. punya beban di perut, terus dimuntahin. Gimana nggak lega dong perutnya. Kalau malu untuk muntah di bis (dan rasa mualnya bisa ditahan) maka muntahkan di luar ketika turun dari bis. Dulu nggak begitu sering muntah sih karena mualnya bisa ditanggulangi. Bahkan saya tidak muntah sama sekali kecuali jika memang cuaca tubuh saya memang sedang drop.

Tapi semenjak saya tinggal di Bandung dan pulang berkerta semalaman kemudian lanjut ngebis ke kota saya, ritual yang hampir sering saya lakukan setiap kali turun bis menuju Salatiga adalah: muntah. Terkadang saking parahnya, saya hanya memuntahkan cairan berwarna kuning yang rasanya pahit dari lambung. Saking kosongnya perut karena nggak makan. Ya gimana mau makan, di perut aja rasanya udah berjuta rasanya. Mana bisa kita ngasih makan perut waktu ada pergolakan kayak gitu. Haha. Bahkan pasca muntah pun saya tidak serta mau langsung menerima makanan. Tubuh butuh toleransi sebelum ada asupan makan lagi. Ini sih kalau saya. Hehe. Tapi biasanya saya akan segera minum air yang ada rasa rasanya. Ya mau gimana lagi, cairan lambungnya pahit. Air putih aja rasanya masih kurang. Setidaknya untuk membuat netral mulut sekaligus memberikan gula sementara pada tubuh. Biar jadi energi sebelum bisa dimasuki makanan. Baru setelah dijeda beberapa waktu, tubuh bisa kembali makan. Dan.. rasanya far better. Lega luar biasa.

Sampai sekarang saya belum menemukan cara terampuh untuk mengatasi rasa mual mabok darat secara tuntas. Ya paling paling cuma bisa menahan mabok darat dengan cara preventif di atas. Selebihnya, ah entah sampai kapan saya mau mabok darat. Haha. Positif thinking-nya sih, itung itung latihan sebelum saya mengalami morning sickness di awal kehamilan. Nanti.. kalau udah nikah. Haha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s