Planjan, Desa dekat Pantai Baron

Yogyakarta emang nggak ada matinya. Saya yang ‘cuma’ lima tahun tinggal disana berasa nggak bisa move on dari tempat itu. Well.. selama kurun waktu itu sih saya lebih banyak tinggal di tengah kota Yogyakarta. Akan tetapi bukan berarti saya nggak pernah main main ke daerah Yogya lainnya. Ke Sleman? Sering. Kulonprogo, dua tahun terakhir saya sering banget kesana. Gunung Kidul? Jangan Tanya berapa kali banyaknya. Bahkan saya pernah juga jadi akamsi Gunung Kidul walaupun sebentar.

Well.. inilah cerita saya tentang Gunung Kidul di bulan Januari dua tahun lalu ketika saya tinggal di Gunung Kidul.

Hari pertama : 12 januari 2015

Hari saya diawali dengan bangun dan persiapan packing pada pukul 04.00 pagi. Pukul 07.00 kami harus segera berangkat ke Bulaksumur untuk mendapatkan pengarahan terkait dengan penelitian tahun ini. Sayang sekali pengarahan baru dimulai pukul 07.30. Saya yang belum mengumpulkan abstrak tidak mendapatkan desa yang akan dijadikan objek penelitian.

Tepat pukul 09.00 kami berangkat menuju Gunung Kidul. Kami menuju balai Desa Saptosari untuk bertemu dengan perangkat kecamatan setempat. Hujan turun dengan sangat deras. Kami harus menunggu hingga bakda dhuhur sebelum kami berpisah menuju desa masing masing. Saya akhirnya mendapat tempat di Desa Planjan, sama seperti yang Mamad bilang beberapa hari yang lalu. Saya mendapatkan roommate: Lakhsmi dan Devi. Mereka berdua adalah mahasiswa Antropologi UGM angkatan tahun 2013 dan 2014.

Agenda pertama kami adalah ramah tamah dengan bapak Soegiyono, kepala dukuh Sumbersari, Planjan. Rupanya beliau sudah sering menerima anak anak penelitian yang melakukan Kuliah Kerja Nyata di desa ini. Pak Soegiyono dan istrinya hanya tinggal berdua. Mereka memiliki seorang putri yang telah memberikan mereka dua orang cucu yang sekarang tinggal bersebelahan dengan rumah mereka.

Malam harinya kami dikenalkan dengan ibu ibu perwakilan enam RT di Desa sumbersari yang akan melaksanakan posyandu di desa pada tanggal 15 Januari 2015. Kami mengenalkan diri sebagai anak anak yang akan melaksanakan penelitian dan bukan akan melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) seperti yang sebelum sebelumnya. Penelitian dan KKN jelaslah berbeda.

Potensi mebel Kanigoro

Bicara soal kondisi desa, Desa Planjan tergolong desa asri yang penuh dengan potensi pertanian serta perkayuan. Dimana mana kebun dan pohon jati. Gimana nggak ijo semua di mata. Haha. Benar benar pelarian yang oke dari penatnya ibukota Yogyakarta. *duh deeekkk.

Pertanian warga berupa jagung dan palawija lain menambah penghasilan warga yang emang nggak seberapa tapi bisa menghidupi. Nah lho.. *maka nikmat Tuhan manakah yang kamiu dustakan (QS. Arrahman). Tak hanya ladang palawija, sebagian warga menanami ladang mereka dengan kayu keras untuk bahan mebel. Pohon yang ngehits antara lain pohon akasia dan pohon jati. Kayu pohon akasia dan kayu pohon jati merupakan kayu dari jenis tanaman keras yang dengan mudah ditemui di pesisir selatan Gunung Kidul ini. Kedua tamanan tersebut adalah tanaman yang diusahakan oleh warga. Mereka rata rata akan menjual tanaman tersebut setelah berusia diatas lima tahun. Para pekerja mebel tersebut tidak hanya mendapatkan bahan baku dari desa setempat. Akan tetapi juga mendapatkan bahan baku dari desa desa di sekitar mereka seperti Desa Kemadang dan desa di seputaran Gunung Kidul.

Menurut penuturan warga setempat, kayu akasia disukai warga karena tahan dengan rayap dan kualitasnya hampir setara dengan kayu jati. Kayu jati masih dipilih warga sebagai komoditas utama permebelan akan tetapi bagi warga yang hanya memiliki sejumlah uang dibawah kemampuannya untuk membeli mebel jati, mereka akan memilih mebel kayu akasia.

Pencatatan kependudukan di desa ini pun sudah oke. Kantor Balai Desa Planjan, Saptosari Yogyakarta memiliki data kependudukan disana cukup lengkap. Bahkan pemerintah desa memiliki dokumen yang berbentuk softfile. Hal ini membuktikan bahwa struktur data di tingkat pedesaan bahkan sudah lebih baik tahap demi tahap.

Walaupun udah jadi akamsi Planjan, jangan lupa jalan jalan ke desa sebelah ya. Kami menjelajahi desa tetangga menuju Desa Ngresik. Setelah Desa Sumber, terdapat Desa Ngresik dan berbatasan dengan Desa Klepu yang merupakan bagian dari Kecamatan Kanigoro. Selain itu,  ternyata jalan di depan rumah yang kami tempati adalah jalan menuju pantai Ngobaran, Ngrenehan dan Nguyahan. *waaaa… pantai pantai pantai. Haha.

Pantai Baron yang jauhnya ‘cuma’ 2,4 km

Rutinitas saya tiap pagi tentu bangun pagi, mandi kemudian beribadah. Setelah makan pagi dan membuat kopi, saya mengobrol dengan ibu pemilik rumah. Rupanya ada tamu yang datang. Mereka adalah TIfa, firda dan Diah yang tinggal di desa Planjan. Mereka mampir dan ingin mengajak kami pergi ke pantai.

Pukul 10.30 kami baru beranjak dari rumah dan menempuh perjalanan dengan jalan kaki. Sampai di pertigaan desa, ada plang yang menunjukkan bahwa Pantai Baron tinggal 2,4 km lagi. Kami bersorak girang, 2,4 km tidaklah mungkin terlalu jauh. Kami menyusuri jalan sambil sesekali selfie.

Di tiga perempat perjalanan, kami akhirnya menemukan bis mini yang akan membawa kami sampai ke Baron. Dengan ongkos 2000 rupiah, kami sampai tidak sampai 7 menit. Dalam hati, saya bahagia. Untung nggak jadi jalan. Jauh juga ternyata. 2,4 kilometer dalam plang ternyata dusta. Hiks.

Oleh karena waktu sudah menunjukkan waktu untuk beribadah, kami melakukan sholat berjamaah terlebih dahulu sebelum main ke pantai. Tidak berapa lama, kami melanjutkan perjalanan untuk menikmati pasir Baron yang berwarna coklat, berbeda dari pantai yang biasanya saya temui yang berwarna putih atau hitam. Kondisi Pantai Baron cukup memprihatinkan. Sampahnya berserakan dimana mana dan tidak ada seseorang pun yang peduli untuk mengurus. Jaring jaring nelayan betebaran dimana dan bau amis hasil laut menyengat menusuk hidung. Akan tetapi, pengunjung tetap bisa berjalan menikmati pantai yang sepoi dengan angin berhembus lembut.

Pantai Baron merupakan wilayah pantai di Yogyakarta yang terdapat pertemuan antara muara sungai dengan laut lepas atau lazim disebut tempuran. Ombak setinggi 4 meter bergolak dengan kencang. Arus air dari sungai juga cukup kuat sehingga tidak banyak nelayan yang berani melaut di hari itu. hanya ada satu dua nelayan yang pulang dari mencari ikan di Samudra Hindia.

Kami juga mampir ke rumah Ibu Suginem, seorang ibu tua yang pendengarannya sudah tidak lagi sesehat dulu. Kegiatan beliau sepanjang hari hanya duduk di bale bale depan rumahnya. Beliau sebenarnya memiliki banyak sekali dongeng yang berkaitan dengan Desa Planjan dan sekitarnya akan tetapi sudah tidak lagi bisa bercerita karena pendengarannya lemah.

Menurut penuturan putrinya Bu Suginem, ibunya pernah menceritakan mengenai ramalan bahwa Pantai Baron akan menjadi sebuah pantai yang ramai. Jika Pantai Baron sudah ramai maka sudah tidak akan bisa ditemui orang lagi di jalan. Beliau memahami maksudnya sebagai sudah tidak ada orang yang berjalan kaki menempuh perjalanan untuk sampai ke Pantai Baron. Tentunya kecuali orang orang yang mencari pethetan (rerumputan) untuk ternaknya. And well.. its true. Mobil dan motor bersliweran di aspal yang sudah mulus. Tak ada lagi warga atau akamsi yang selo banget mau jalan kaki sampai pantai. *jauhnya boookk..

Kesulitan transportasi yang memadai merupakan salah satu masalah utama di desa ini. Bayangkan, kami harus menunggu lama untuk mendapatkan angkutan. Bis mini yang parkir di bawah pohon kami pikir bisa membawa kami sampai ke Desa Sumber dan Planjan. Sopir bis mengatakan bahwa mereka adalah bis charteran dari rombongan ibu ibu PKK yang melakukan piknik ke baron. Tidak putus asa, kamipun bertanya pada warga yang nongkrong di depan pos retribusi, akan tetapi mereka tidak menawarkan solusi yang baik untuk kami. Kami sepakat untuk menunggu di bawah pohon sambil berusaha cermat menyetop pick up yang tadi sempat kami lihat. Ada pick up yang datang akan tetapi mereka tidak bisa mengangkut kami. Baru 15 menit kemudian, ada satu buah pick up berwarna putih yang datang dan kami meminta kepada bapak pemiliknya untuk mengantar kami hingga ke rumah. Jadilah kami perempuan berenam menempuh perjalanan dengan menggunakan pick up untuk sampai ke rumah. Rasanya? Seru!.

Well.. segini dulu ya cerita soal Planjan.. sambung pagi part II

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s