Menua

Berapa usiamu? 15? 18? Menjelang dua lima? Empat puluh delapan? Tujuh puluh dua?. Tiap orang akan memberikan jawaban yang berbeda. Ini tentang mesin waktu. Mungkin kita sekarang sedang menatap ponsel masing masing dan bertukar kabar dan nostalgia tentang masa sekolah menengah dulu yang tak ada habisnya. Atau sedang membicarakan anak anak kita yang sebentar lagi mau masuk sekolah dasar. Atau tentang dimarahi bos karena ada pekerjaan yang terlewatkan. Atau rencana jalan jalan bersama teman teman di akhir pekan. Ya.. di masa masa muda kita.

Tapi merenunglah. Waktu akan segera berlalu. Kita akan semakin menua. Diiringi waktu, kita akan segera mencapai masanya. Ada sebagian dari kita yang mungkin akan ikut anak cucu, hidup bersama salah satu anak anak kita dan menua di ranjang. Atau di rumah sakit. Tapi sebagian, akan tinggal di rumah jompo bersama dengan teman teman sebaya selama bertahun tahun sebelum ajal memanggil.

Pertama kalinya pergi ke panti jompo membuat saya merasa sangat senang. Dan bayangan saya tentang panti jompo ternyata tidak jauh berbeda dari kenyataannya. Selama ini saya hanya sering mengunjungi panti asuhan. Tempat dimana masa awal manusia tumbuh. Tapi tidak pernah sekalipun mengunjungi tempat dimana masa senja manusia tinggal.

Sama halnya dengan panti asuhan yang penuh dengan anak anak kecil yang beranjak tumbuh, panti jompo juga riuh. Riuh dengan para manusia yang beranjak senja. Banyak dari mereka yang sudah rapuh karena dimakan usia. Sebagian bejalan tertatih tatih, sebagian bahkan tidak bisa duduh selonjor karena asam urat yang mereka derita. Perasaan mereka pun juga sudah rapuh. maka, jika anak muda yang masih gampang diprovokasi emosinya, mereka pun juga rapuh. Ada anak kuliahan yang kemarin sedang mengadakan praktik kerja lapangan di panti jompo tersebut. Sayangnya si gadis ini kurang bisa memiih kata yang pas untuk diucapkan pada nenek nenek yang mereka urusi di hari itu. Salah satu nenek tersinggung dan si anak gadis itu pun dibentaknya. Kemarahannya pun belum juga mereda. Bahkan bermenit menit kemudian ia pun masih menceritakan pada sekitarnya sebagai bentuk luapan emosi.

Nenek nenek ini tinggal di kamar masing masing. Kamar kecil namun nyaman. Sahabat saya menceritakan mengapa neneknya mau tinggal di panti jompo padahal keluarganya masih lengkap. Neneknya benci bosan. Itu saja.

Hidup di usia senja, dengan harapan hidup yang entah sampai kapan lagi. Tinggal di rumah dikelilingi keluarga, anak dan cucu tentu sangat menyenangkan. Tapi hari berubah kelabu ketika anak anaknya keluar rumah untuk bekerja dan bersekolah. Hari mendadak sepi dan tak indah lagi. Maka, ia pun dengan keinginananya sendiri, memilih bertemu dengan teman teman sebayanya dan tidak ingin merepotkan anak cucunya. Jadilah ia tinggal di panti jompo bertahun tahun. Tentu pada awalnya keluarganya tidak mau melepas si nenek yang tinggal di panti jompo. Tapi, kebahagiaan neneknya lebih penting. Maka ia direlakan untuk lepas dari rumah.

Dikunjungi sanak keluarga adalah kebahagiaan kedua setelah hilangnya rasa sepi. Untuk mereka yang keluarganya masih peduli, tentunya hari sangat membahagiaan ketika ada waktu barang sejam dua jam dikunjungi ke panti. Nenek dari teman saya tersebut tersenyum bahagia sambil mengumumkan pada teman temannya bahwa cucunya datang menjenguknya. “Ini cucu saya”.

Seorang nenek mengajak saya mengobrol. Panjang lebar dia bercerita tentang masa mudanya, tentang penjajah Belanda, kemerdekaan Indonesia, tentang keadaan kota Bandung, tentang daerah daerah yang pernah ia kunjungi. Dulu ketika jaman Belanda, ia masih tinggal di Magelang. Bersama keluarganya ia hidup dan di masa tua tinggalah ia seorang karena ia tak menikah selama hidupnya entah karena apa. Anak cucu dari keluarganya juga sudah terpencar kemana mana. Tak lagi ada yang peduli tentang dirinya. Lama sudah ia menanti seseorang mengunjunginya. Dengan excitednya, ia bercerita. Sumringah karena merasa ikut dikunjungi. Bahkan ia menggenggam tangan saya dan mewanti wanti agar saya sering sering menjenguk.

Perasaan sepi masih terasa menggelayut. Mungkin itu yang dirasakan mereka yang menanti penghabisan. Mereka yang menanti satu dua orang keluarga atau teman mengunjungi, mengusir rasa sepi. Mengusir perasaan tak dipedulikan yang tak berkesudahan.

Sambil berjalan, saya merenungi apa yang saya lakukan hari ini. Tak pernah kita tahu sampai di usia berapa kita akan hidup. Maka jika kita sampai pada usia menua kita masih diberi usia, syukuri dan tetaplah menebar kebaikan pada orang lain. Sayangi orang lain. Tetaplah jaga silaturahmi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s