Ciwidey

And.. here we go for our second day. Saya baru tidur habis subuh dan bangun ketika Santika membangunkan saya karena harus mandi. Hari ini agenda kami adalah jeng jeng menuju Ciwidey, sebuah danau kawah nun di selatan kota bandung.

Kami berangkat dari stasiun bandung pukul 09.30, setelah sebelumnya bertemu dengan Stella yang menunggu kami di stasiun bandung. Butuh waktu kurang lebih dua jam setengah untuk mencapai daerah pegunungan ciwidey. Berawal dari saya yang nggak bisa baca peta, kami akhirnya sampai juga di ciwidey.

Kebun sayur, strawberry dan rumah rumah warga berjajar di sepanjang jalan. Ya, macam di Dieng atau Kopeng gitu sih. Cuma satu: macetnyaaaa. Hiks.

Saya masih tak percaya jika tarif parkir mobil di ciwidey mencapai seratus lima puluh ribu rupiah. Whaattt deee… bahkan saking nggak percayanya saya potret informasinya dansaya cek di internet. Saya pun tidak berhenti tertegun. Ternyata emang beneran seratus lima puluh ribu rupiah. Hiks. Mahal euuyy.. tapi sudahlah. Itung itung membantu pariwisata negeri sendiri. Kapan kita mau majuin pariwisata sendiri kalau apa apa masih gretongan. Toh, kita juga nggak bisa bikin jalan aspal di ciwidey. Anggap aja uang yang kita keluarkan adalah uang patungan bersama warga negara indonesia yang baik lainnya untuk membantu pemerintah memelihara sarana dan prasarana pariwisata. Ikut memajukan negeri sendiri bro.. *belajar jadi warga negara yang baik

Eh, usut punya usut, jalur yang kami lewati menuju parkiran atas kawah ternyata panjang juga. Mungkin ada kurang lebih dua sampai tiga kilometer dengan jalan satu satunya selebar dua mobil dengan aspal kualitas yang sedang kanan kiri hutan. Satu satunya pemandangan yang bikin mata sepet waktu kita naik mobil menuju ke atas adalah: sebuah mobil mewah berwarna hitam buang sampah sembarangan sampai tiga kali. Terlihat dua balita melongok dari jendela kaca sebelah kiri dan ada tangan si ibu war wer war wer asal buang sampah sembarangan baik dari plastik bungkus makanan sampai tisu mungkin bekas pembuangan si bayi. Hiiii.. jijikk. Ternyata status kekayan seseorang tidak menandakan bahwa si orang kaya bisa berlaku berkelas. Ya kalik punya mobil sekelas alphard masih buang sampah sembarangan. Emang situ bayar parkir berapa? Satu juta limaratus sampai berani buang sampah dari mobil. Ternyata orang kaya bisa berlaku kayak orang kere juga.

Disambut dengan angin dan hujan lima menit sekali, sumpah dingin banget. Bahkan saya pun bisa sok sokan bicara dengan mulut beruap macam pilem pilem korea. Haha saking dinginnya. Bagi pengunjung yang tidak membawa payung, bisa menyewa payung dengan harga kurang lebih sepuluh ribu rupiah sekali pinjam. Kami bersembahyang dhuur sebelum turun ke kawah. Dinding dan lantai mushola bahkan sampai dingin seperti es saking ditempa caca hujan dan angin serta suhu gunung yang turun drastis.

Kami pun turun ke kawah. Jalan setapak lengkap dengan tangga tangga yang sudah bagus, menjadi jalan penghubung antara bagian atas dan bibir kawah. Air kawah yang berwarna tosca dengan bibir kawah yang kekuningan menjadi pemandangan yang dominan. Baunya kawah juga menyengat. Jadi, untuk pengunjung jangan lupa untuk membawa slayer atau penutup hidung. Dan.. jangan sekali kali berenang. Dengan warnanya yang cantik itu, kawah putih bukan ditujukan untuk berenang. Anak kecil aja tau kalau itu bukan buat berenang. Bahaya, atuh neng!

Di sekitar ciwidey terdapat pohon pohon cantigi yang berjajar. Saya tidak tahu apakah pohon cantigi ini sengaja ditanam atau memang tumbuhan yang secara alami menghiasai kawah putih. Dan.. daunnya yang masih muda cukup segar untuk dimakan.

Keindahan alam ciwidey pun memberikan rejeki bagi para warga sekitar yang mengadu nasib sebagai penjual belerang, souvenir, jasa peminjaman payung sampai penjual gelembung udara. Kami pun bermain main dengan gelembung udara yang dihasilkan dari alat peniup gelembung udara yang dimasukkan ke dalam cairan sabun. Masa kecil kurang bahagia? Nggak juga.. hanya mengulang saja. haha.

Tak sampai satu jam kami berkunjung ke ciwidey. Kami pun turun ke bandung karena beberapa dari kami harus mengejar waktu mereka pulang ke daerah masing masing. Hanya saya, ghozi dan restu yang berdomisili di bandung. Jadi kami pun tidak punya masalah dengan waktu. Santika harus mengejar kereta pada pukul 20.00. Dengan traffic bandung yang menyebalkan di weekend, maka kami tidak boleh menyepelekan waktu. Helmi serta Mba Tari harus pulang ke Jakarta. Tau sendiri kan traffic jakarta segitu menyebalkannya. Maka mereka pun harus segera pulang.

Dan.. damn so much.. mobil harus berhenti beberapa menit sekali karena antrian yang mengular. Ya ampuuuunn.. sekalian deh wisata kemacetan. Haha. Oleh karena energi sudah habis, maka kami berhenti di sebuah warung makan di kiri jalan entah apa namanya warung makan itu. Dan.. taraaa.. saya beli nasi ati dan sayur nangka seharga tiga puluh lima ribu rupiah. Mahal beud. Haha. Tapi saya tidak terlalu bermasalah karena rasanya pun sepadan dengan harganya. Ya itung itung bantu perekonomian warga setempat. insyaAllah bermanfaat dan barokah. Seperti tipikal makanan sunda, kami disediakan lalapan. Dan.. I swear eat lalapan much. Haha. Saya suka lalapan.

Pulangnya, jangan tanya. Macetnya naudzubillah. Bahkan sampai kota Bandung pun, macet tak juga berhenti karena arus balik. Banyak juga wisatawan lain yang ingin pulang. Maka, kemacetan pun tak tertahankan.

Akhirnya, kami sampai di stasiun bandung pukul 18.00, tepat maghrib. Saya dan santika langsung menuju kosan untuk berganti baju kemudian berpamitan pada teman teman yang masih stay di parkiran stasiun bandung untuk menunaikan ibadah maghrib. Dan.. liburan telah usai. Kami pun kembali ke rutinitas masing masing. Haha.

*Sesungguhnya yang paling mahal itu waktu. Ia dengan mudahnya terbuang dan tak akan kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s