Floating Market dan Farmhouse

Apa yang terbaik dari sebuah weekend di perantauan? Kunjungan dari kawan kawan. Yeah.. thats it. Teman teman saya mengunjungi saya di Bandung. Ada yang jauh jauh dari Kediri dan Jakarta. Saya menjemput Santika di depan Stasiun Bandung tengah malam dan kemudian hari dimulai dengan bertemu Helmi, Mba Tari dan Ghozi di depan tiang bendera ITB.

Tujuan pertama kali ini adalah mengunjungi lembang yang ngehits dengan Floating Marketnya dan Farmhouse. Ghozi yang emang udah dari sononya akamsi Bandung menjadi guide kami hingga ke Floating Market. Kecenya, perjalanan lewat jalur alternatif bisa memotong setengah dari standar biasa masuk ke Lembang (Seminggu sebelumnya saya mengunjungi Lembang dan makan waktu satu hingga dua jam sampai ke lembangnya. Itu pun baru sampai Pasar Lembangnya doang. Macetnya Bandung ketika weekend nggak banget deh. Haha).

Tiket Floating Market Bandung kurang lebih Rp 20.000, yang bisa ditukarkan dengan segelas kecil kopi, milo atau sejenisnya di depan pintu masuk atau di bagian dalam area Floating Market. Itu belum sama parkir kendaraan lho. (Parkir mobil Rp. 10.000). Maka masuklah kami ke area Floating Market. Saya awalnya menyangka Floating Market adalah danau atau sungai yang dibendung untuk dijadikan pasar terapung mirip mirip di Kalimantan. Eh.. ekspektasi saya terlalu liar. Ternyata area ini adalah danau yang tidak seberapa luas yang disulap sedemikian rupa sehingga mirip taman bermain dengan aneka rupa wahana. Emang ada wahana apa aja? Sebenarnya intinya adalah tempat nongkrong dan makan juga foto (tempatnya instagramable gitu sih).

Kami menyusuri danau dan menemukan guesthouse kecil yang sudah dipesan beberapa korporasi yang nampaknya akan menyelenggarakan gathering di lokasi ini. Maju lagi, ada jalan setapak dari beton juga dari bambu bambu yang menghubungkan pengunjung dengan rumah rumah apung (jadi inget program salah satu cagub jekarda 2017 ini haha) berarsitektur jejepangan lengkap dengan studio foto dan rumah kostum yang menyewakan hanbok serta kimono. Maka, meluncurlah kami di antara gadis gadis muda yang ingin bergaya ala ala negeri sakura sana. Bambunya sendiri cukup stabil. Jadi jangan khawatir jika ingin lewat. Nggak begitu goyang kok. Cuma ya tetap hati hati jangan sampai pecicilan. Kita jatuh ke air sih nggak papa. Nggak bakal mati. Tapi kalau jatuh ke air se-hape dan kamera kita ya wasalam. Hehe. Selamat tinggal foto foto instagramable kalian.

 

Maju terus, kami menemukan angsa angsa yang sedang berenang dengan anggunnya di air kolam yang tenang. Danau ini juga menyajikan pemandangan ikan ikan mas yang segede lengan bikin ngiler para pemancing. Sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan untuk memancing di kolam ini. Haha. Ngasih makan ikan oke aja, mancing ikannya tuh yang dilarang.

Apa yang menarik dari Floating Market? Tempat makannya. Ada yang terapung apung di atas air lho. Makan sambil sedikit goyang goyang macam di kapal. Terus bayarnya juga bukan pakai uang, tapi pakai koin Floating Market. Jadi berasa kayak di negeri antah berantah. Haha. Ada banyak pilihan makanan dijajakan di Floating Market. Ada yang berjajar makan pedagang kaki lima tapi jualannya di perahu kecil, atau kalau mau yang suasana kafe, kita bisa berjalan di seberang danau. Kenyang deh.

Tak cuma wahana piknik, Floating Market memiliki taman yang berisi tumbuhan dan hewan. Kelinci dengan kandang dan rong rongannya mereka. Ada juga aneka tanaman yang ditata dengan ciamik. Ini sih maklum aja. Lembang soalnya. Hehe. Ada juga replika kereta api. Jalan dikit, nemu pinggiran danau lagi. Saya sebenarnya ingin mendayung perahu sampai ke ujung danau. Tapi karena teman teman saya ingin segera pindah maka saya harus melupakan keinginan tersebut, hehe.

Lanjut part II.

Famhouse

Yang terbang dari farmhouse adalah sebuah peternakan kekinian. Nyatanya? Ya emang benar kekinian. Intinya adalah tempat makan dengan aksesori hewan dan kebun bunga. Udah gitu. Yang paling asik adalah susu yang kita dapat setelah menukarkan kupon masuk. Suer, susunya banyak banget. Seneng deh. Haha

Udah dapat susu, maka masuklah kita ke interior dalam si Farmhouse ini. Air terjun kecil mengalir bergemericik seolah olah kita ada di hutan. Nah lho.. haha. Kalau ambil jalan ke kanan maka kita akan bertemu dengan taman bunga yang tertata rapi dengan bagian bagian kebun binatangnya masing masing. Yang paling unyu adalah segerombol biri biri asli impor mungkin dari Aussie atau Selandia baru, dimana mereka akan jadi sedikit beringas kalau liat pengunjung ngasih makanan. Si biri biri ini diberikan semacam popok khusus biar kotorannya nggak kemana mana. Sungguh manajemen kebersihan yang oke punya. Lucunya, ada domba yang keluar area dan mengejar anak kecil. Si anak ini sampai ketakutan. Hehe. Tak hanya biri biri, ada berbagai macam hewan piaraan lainnya. Kelinci kelinci berbulu unyu unyu, ada iguana, sugar glider (pose tidur mereka sungguh menggelikan) dan masih banyak lainnya.

 

Di area peternakan hewan ini, ada juga penyewaan kostum indian. Maka jika kami tadi serasa plesiran ke Jepang dan Korea ketika berkunjung ke Floating Market, sekarang kami bepergian ke Amerika. Ngeliatin ciwi ciwi dan cowok pakai kostum indian dengan tongkat mereka.

Dekat dengan area peternakan, ada sebuah kafe yang menyajikan makanan untuk pengunjung yang mungkin ingin merasakan suasana makan di Farmhouse. Belakang kafe ada taman bunga, dimana lagi lagi kami menemukan segerombolan ibu ibu berbusana ala ala noni belanda yang mau memerah susu. Haha. Kalau tadi ke Amrik, sekarang berasa kayak di Belanda.

Maka, dimanakah kita bisa menemukan penyewaan kostum tadi? Cukup kembali ke air terjun di awal tadi dan ambillah jalan ke kiri. Kita akan menemukan rumah rumah ala ala Eropa yang menjual berbagai keperluan mulai dari asesoris, jus, kopi, toko roti dan juga termasuk tempat penyewaan kostum. Kostumnya nampaknya sih banyak. Tapi, yang ngantri juga seabrek cuy. Jadi siap siap aja buat nunggu sekian menit. Syukur syukur sih nggak perlu nunggu sampe ber-jam jam. Haha.

Oke, selain kompleks pertokoan tadi, area ini tak hanya menyajikan tempat jualan. Berjalan sedikit ke arah kiri, maka ita akan menemukan kompleks the hobbit. Itu tuh rumahnya si hobbit kalau di film Lord of the Ring.

Puas menjelajahi Farmhouse, kami kembali ke jantung kota Bandung. Jalan macet tiap weekend adalah momok bagi seluruh warga. Maka, kami pun baru sampai di Bandung ketika magrib. Dan semua orang menahan buang air. Duh.. sungguh kemacetan yang menyiksa.

Setelah kami selesai solat magrib, kami pun bepergian menuju Braga Culinary Night. Stall stall kuliner berjajar di sisi sungai Cikapundung berjubel manusia manusia yang bermalam mingguan sambil nyari makan. Braga juga dipenuhi dengan para anak muda kreatif yang mencari uang dengan bermain peran sebagai nenek lampir, putri kerajaan, robot robotan dan aneka macam lainnya. Mereka menarik bayaran kira kira lima ribuan tiap kali diajak berfoto.

Ada hal lucu ketika kami makan malam di Braga. Ghozi mengira Mba Tari sakit magh padahal lagi hari pertama menstruasi. Ghozi mampir di warung kecil untuk membeli obat magh dan air putih. Maka jadilah semua orang meledak ketawa. Ghozi cuma bisa bengang bengong bingung. Huahahahaha. Maka kami menutup hari dengan tidur nyenyak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s