Stigma Fashion dan Religi

Ajining raga ing busana. Begitu sih kata pepatah nenek moyang saya yang orang Jawa. Harga diri terletak dari apa yang kita kenakan. Kalau kamu berpakaian layaknya raja, orang akan berpikir bahwa kamu raja walaupun mungkin hanya sandiwara di aas panggung. ”Sing dadi raja ne kui tanggaku”. Yang berperan jadi raja, adalah tetangga saya. Ada seorang wania berpakaian kakhi, mungkin orang akan memanggilnya bu guru karena stigma guru adalah ibu ibu atau bapak bapak yang memakai pakaian resmi terkadang baik, khaki atau biru tua. Jika ada seseorang memakai jas, mungkin orang pikir dia adalah seorang pebisnis (atau mempelai lelaki? wakakak). Jika ada seorang memakai pakaian abu abu dengan emblem disana sini dan memakai semprita,  tangannya melambai kesana sini di jalan, bisa saja dia adalah seorang polisi. Jika ada seseorang dengan caping di atasnya, mungkin dia seorang petani atau pendekar yang sedang mengembara? Haha. *Efek nonton film persilatan indonesia jaman dulu. wkwkwk). Jika ada seorang berkebaya dan jarit serta menggendong botol botol jamu, orang akan berpikir bahwa dia adalah tukang jamu.

Mengapa orang sedemikian mudahnya menebak kepribadian seseorang dari cara berpakaian? Ya simpel saja. Jelas karena pakaian menunjukkan identitas kita dan cara kita ‘menunjukkan’ kepada khalayak tentang siapa kita. Bukankah manusia selalu haus akan pengakuan?. Orang berpakaian karena ingin menunjukkan status mereka sebagai mahluk Tuhan yang berakal. Menunjukkan bahwa mereka sudah beralih dari jaman nggak pake baju alias manusia purba ke jaman peradaban alias jaman udah kenal baju. Intinya yang mendasar adalah biar nggak dibandingin sama hewan. Hewan aja pakai kostum. Masa manusia nggak? Haha.

Ah, jangan melulu menuduh orang lain lewat penampilan deh. Yakinkah kita sebagai manusia awam bakal nggak mikir aneh aneh kalau ada orang yang pakai pakaian tidak sewajarnya? Lalu, kenapa dong ada istilah cabe-cabean yang orang selalu bilang bahwa mereka identik dengan dandanan norak warna warni ngejreng, pakaian minim, hape di tangan dan motor?. (bahkan sampai ada lagunya juga lho. Alaay.. anak layangaaan.. nongkrong pinggir jalan sama teman teman.. ). Kenapa ada stigma bahwa perempuan berjilbab itu dianggap solihah? Kenapa ada stigma orang bertato dianggap sebagai berandalan atau penjara? Ya karena kita manusia yang penuh prasangka. Bukankah kita diciptakan dengan penuh prasangka?. Yakin deh nggak ada satu orang pun di dunia ini yang nggak berprasangka.

Oke, agak melenceng dikit dari bahasan fashion tapi tetap ada benang merahnya. Mari kita berbicara tentang negeri ini dahulu. Tiga bulan ini dunia Indonesia, baik dunia perbahasaan, pervideoan, agama maupun poliik sedang guncang guncangnya. Terorisme yang nampaknya sedang mencoba tren baru: menjadikan wanita sebagai pengantin. Bukan pengantin manten lho, tapi pengantin yang dikorbankan demi surga. *saya kok jadi keinget upacara pengorbanan gadis sebagai persembahan kepada dewa di suku Astec atau Maya. Waaaa.. surga darimana nih? Banyak orang masih bertanya tanya darimana surga yang mereka pikirkan berasal.

Balik ke stigma fashion, tentang bagaimana orang berprasangka pada orang lain lewat apa yang bisa dipandang mata. Pengantin itu tadi adalah seorang ukhti-ukhti yang bergamis warna gelap monotone, berkerudung gelap, lebar. Tiga hal ini sering dikait kaitkan orang bahwa siapapun perempuan yang memakai pakaian dengan tiga ciri khas tadi dianggap sebagai penganut Islam fanatik bahkan seorang teroris. Padahal belum tentu. Nggak juga tuh. Kan fashion sekarang juga lama lama bergerak menuju syar i.

Kenapa orang terutama Indonesia suka bergunjing (selain nggunjingin mbak mbak rok mini) ketika ada orang pakai pakaian hitam hitam dan bercadar. Ya karena kita lihat dan dengar berita. Ketika media media memperlihakan sosok tersangka yang ternyata memakai koko, berpeci, dikabarkan taat pada agama, sholat lima waktu nggak putus dan berbagai atribut serta ritual keagamaan lainnya. Kemudian kalau perempuan selalu pakaian hitam, berkerudung lebar, kadang bercadar. Sebagian orang Indonesia yang ke-Islamannya -masih dianggap taraf biasa bagi sebagian lainnya- kemudian patah hati. Mereka pun melongo. Ooooh.. ternyata citra Islam itu digambarkan sebegitunya yah. Kerudung gede, item, bercadar, seringkali mereka teroris. Dan begitulah pemikiran bergulir. Maka tetangga kanan kiri sudah mulai lirak lirik curiga pada kita kita yang memakai fashion seperti itu. Anggapan fanatis mulai diarahkan pada kita kita yang memilih model fashion syari macam itu.

Kemudian fashion berubah. Seperi roda, fashion berputar dengan cepatnya. Kemarin seleranya pakaian ketat menutup badan, besoknya lagi baju anak SMA yang dikeluarkan, besoknya lagi jeans gombrong. Ganti musim, ganti lagi stylenya. Liat Jokowi pakai jaket bomber, semua orang nyari jaket bomber. Besoknya, liat instagramnya Dian Pelangi, eh pengen jadi hijaber dan seabrek style lainnya. adalah kerudung bergo polosan yang cuma menutup leher. Kemudian paris yang semakin hari semakin tipis saja kualiasnya, kemudian kerudung panjang panjang mirip selendang, kemudian muncul wanita wanita melek fashion yang mulai mengampanyekan pakaian syar’i yang seperti tuntunan Nabi. Fine.. benar atau salah, kembali pada diri masing masing.

Ada banyak pendapat tentang bagaimana seharusnya wanita berpakaian. Menurut pandangan agama Islam, yang dianjurkan adalah pakaian yang menutup aurat. Aurat itu dari mana? Kalau menurut pandangan agama Islam sih, seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan serta tidak menyerupai laki laki. Tapi yang namanya manusia, Tuhan sudah memberi anugerah bahwa kita diciptakan dengan akal dan perasaan masing masing. Ada manusia yang menafsirkan harus menutup rapat rapat sampai mata kaki. Ada yang menutup semuanya meski kain terlihat berlenggak lenggok dengan manisnya di atas kulit dengan dalil: yang penting ketutup. Ada yang memaknai bahwa menutup diri bukan berarti harus ketinggalan fashion.  Ada yang merasa bahwa pakai celana masih dibolehkan yang penting nutupin aurat. Asal nutup doang. Ada yang merasa dia adalah tipe girly yang suka dengan warna warni, maka dari atas sampe bawah ngejreng sana sini. Ada yang merasa karena kelas sosialnya tinggi maka selera fashionnya haruslah mencitrakan pakaian yang menutup ubuh dengan aksesori disana sini. Ada yang karakternya polos, maka ia memakai yang itu itu saja. Ada yang dari atas sampai bawah memakai serampangan. Ada yang memaknai bahwa syar’i adalah menutup seluruh tubuh sampe yang terlihat cuma segaris mata. Buanyakkk buanget versinya di masyarakat.

Mana yang benar? Nggak usah nyari salah dan benar. Kembalilah bertanya pada diri kita masing masing, apakah dengan yang kita kenakan, Tuhan sudah ridha? Karena Tuhan nanti nggak akan cuma nanyain tentang mana yang ditutup mana yang enggak. Tapi juga tentang dari mana kita mengusahakan pakaian kia. Apakah dari nyolong, hasil kerja keras tiga bulan bahkan dibela belain puasa, hasil ngutil di pasar, pemberian kolega lama atau darimana, pakaian yang dibeli biar dibilang trendi, biar bisa nyombong sana sini, biar bisa dianggap naik kelas nan kekinian, biar jadi pembuktian ke orang orang yang dulu pernah menghina kita, blus jutaan biar bisa dipamerin di medsos dan sejuta hal di baliknya. Jadi.. berhenti berdebat dan jadi fashion police orang lain. Jangan merasa paling benar. Mulailah menanyakan pada diri masing masing. Seorang pelacur berpakaian mini belum tentu lebih hina daripada kita yang pakaiannya biasa saja. Introspeksi diri sendiri aja.

Baiklah, fashion dan religi. Tidak ada ukuran yang mutlak dalam berfashion berkorelasi dengan kepercayaan kita. Udah sejauh apa kita menerima agama (apakah diajarkan oleh orang tua, terpaksa, ikut ikutan, agama katepe, agnostik, atheis, ataukah memang sudah terpatri dalam hati) tidak ada sangkut pautnya dengan mode baju apa yang kita kenakan. Toh yang paling paham bagaimana kita hanya kita sendiri dan Tuhan. Seperti kata Agustinus Wibowo dalam bukunya yang berjudul Selimut Debu ”Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti agama adalah kemanusiaan.”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s