Jihad Pakai Cara Goblok

Ketika kedamaian disalahartikan sebagai menjadikan dunia ini milik satu umat saja, tidakkah mereka paham bahwa bukan mereka saja yang hidup di bumi. Tidakkah mereka membaca sejarah bahwa ada banyak umat yang mendiami dunia ini. Islam, Kristian, Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu, Kaharingan dan berbagai agama lainnya. Jika berbeda, apakah mereka ciptaan Tuhan yang berbeda? Jika mereka dirasa ciptaan Tuhan yang berbeda, maka memangnya sudah sejauh mana kamu mengenal Tuhanmu dan Tuhan mereka?. Ah, sungguh 2016 membuat saya berpikir berulang ulang tentang jihad.

Konsep jihad, suriah, bom bunuh diri, pengantin (orang yang rela bunuh diri mengatasnamakan agama) seolah olah menjadi legitimasi bahwa kita sudah menyerahkan hidup kita pada akhirat. Jihad pasti masuk surga, dan banyak yang berpikir bahwa jihad hampir selalu membunuh orang kafir. Lalu, siapakah orang kafir? Maka orang berpikir bahwa agama yang paling benar adalah agama Islam dimana para ekstrimis menganggap orang yang bukan Islam pastilah selalu kafir. Maka menurut mereka, hukum membunuh orang kafir adalah halal. Oh, plis. Apakah guru agama mereka nggak pernah mendongengi bahwa Nabi pun pernah berhutang pada seorang yahudi? Apa guru ngaji mereka nggak pernah kasih tahu bahwa Nabi Muhammad tidak membunuh non Islam dengan pengecualian?. Bukankah ada orang orang non yang dilindungi? Kalau semua orang non islam dibunuh di masa Nabi Muhammad SAW, yakin deh nggak ada satu orang pun yang beragama non islam hari ini. Emang udah seislam apa sih mereka yang seenaknya bilang jihad adalah membunuh kafir? Sudah seislam apa diri kita mengkafir kafirkan orang lain?.

Oh plis, tidakkah mereka berpikir panjang bahwa ketika mereka meledakkan diri, ada anak cucu yang berhenti untuk mereka beri makan. Kalau bapak atau ibunya jadi pengantin, siapa yang kasih nafkah buat anaknya dirumah?. Emangnya anaknya nggak butuh makan nggak butuh sekolah nggak butuh apa apa buat nyambung hidup?. Emang bisa anaknya bertahan hidup hanya dari cinta bapak atau ibunya yang udah mati yang belum tentu juga rohnya tenang di alam baka? Plis.. apa nggak nyusahin yang masih hidup sih. Gimana beratnya keluarga yang hidup dengan stigma teroris, stigma pemecah belah umat, stigma orang yang maunya masuk surga sendirian seolah olah apa yang udah dilakukan itu heroik.

Suatu ketika, saya bertandang ke rumah sahabat yang terletak di kaki bukit. Seperti biasa, kami masak untuk makan siang. Kebetulan minyak goreng habis dan satu satunya warung yang buka hanya dibelakang rumah kami. Saya cukup terkejut ketika teman saya ini bercerita bahwa suami si ibu yang berjualan kelontong di rumahnya diangkap densus 88 minggu lalu karena dugaan terorisme. Si ibu ini memiliki anak anak yang masih kecil, bahkan ada satu yang masih bayi. Seketika saya merenung. Pasti sangat berat untuk jadi seorang ibu yang ditinggal suaminya. Meskipun alasannya membawa bawa urusan agama, tapi tetap saja, dari sisi kemanusiaan tidak membanggakan sama sekali. Haruskah untuk urusan jihad, anak istri jadi korban? Bagaimana perasaan anak anaknya ketika bermain dan ada anak lain menanyakan atau bahkan mengolok olok dirinya sebagai putra seorang teroris. Pasti pukulan yang sangat berat untuk psikologi si anak. Dicurigai sana sini, dianggap bisa merakit senjata bahkan bom. Endingnya? Mungkin saja bisa krisis identitas.

O, ya saya membaca berita di koran online bahwa ada satu pengantin perempuan yang ditangkap dan syukurnya sebelum meledakkan diri di objek vital negara. Syukurlah dia ditangkap. Kalau mau berpikir panjang, apa yang ia lakukan sudah dianggap sebagai perbuatan makar. Melawan negara. Padahal bukannya membela tanah air adalah kewajiban seorang muslim?. Tidak ingatkah sejarah Islam bisa masuk ke Indonesia dengan damai dan islam juga yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia?. Lalu dimana rasa menghargai terhadap para pahlawan kita?. Memangnya kalau udah ngebom, jadi pengantin, kamu mati syahid? Udah pernah ketemu malaikat apa kok bisa bisanya menghukumi mati syahid.

Plis mas.. mbak.. jika ada yang terbunuh dalam ledakan yang kalian sebabkan, bukannya kalian ya yang jadi pembunuh. Nggak jadi mati syahid maah jadi pembunuh. Malu atuh.. Belum lagi, dari sisi sejarah, jika dia merusak sebuah bangunan monumental satu saja, maka mungkin tidak ada lagi cerita untuk anak cucu kita. Nggak ada lagi cerita di RPUL atau kamus kamus backpacker bahwa Indonesia pernah punya satu tempat bersejarah dimana Pak Karno dan Presiden Presiden Indonesia lainnya tinggal selama mereka memimpin. Jadi teringat dengan ISIS di Timur Tengah sana yang menghancurkan berbagai macam bangunan sampai ke manusia manusia yang tinggal di dalamnya. Bukankah mereka adalah orang (yang mengaku Islam) tapi tak berilmu. Mereka mengulang sejarah bangsa bar bar yang memundurkan peradaban seribu tahun lebih lambat karena membakar perpustakaan besar di Irak sana ribuan tahun lalu. Satu saja sejarah kecil, mengapa disepelekan. Satu sejarah kecil berisi ilmu pengetahuan. Jangan sampai anak cucu kritis identitas karena goblok. Jangan sampai anak cucu goblok karena kesalahan kita yang ikut ikutan goblok nggak berpikir panjang atas sebuah keputusan.

Kalau ada doktrin yang menyebukan bahwa “Jika belum bisa ke Suriah, maka lakukan amaliyah di negerimu”. Sik sik.. yang perang kan Suriah. Terus kenapa yang diajak amaliyah (bom) yang kena orang negeri sendiri. Kan nggak banget. Salah sasaran broh. Haha. Yaudah.. kalau mau ke Suriah ya ke Suriah aja. Jangan ajak ajak orang buat ngebom hotel, istana negara, gereja, wihara dan lain sebagainya. Yang ada di tempat tempat itu kan juga belum tentu pernah menyakiti yang ngebom kan. Gimana dong kalau ada seorang ayah yang ada di tempat kejadian, dia nggak salah apa apa, dia lagi mencari uang buat pengobatan anaknya yang sakit lalu terbunuh hanya karena perbuatan sok heroik orang yang mengatasnamakan agama. Gimana kalau terorisnya yang ada di posisi bapak itu? apa nggak kemepyar atinya mikirin anaknya yang sakit keras. Duh deeeek.. Atau emang para pengantin itu yang baca doktrinnya nggak tuntas. Mungkin yang dimaksud dengan amaliyah di negeri kita sendiri itu adalah mengaji, berbakti pada orang tua, cinta tanah air, memajukan pariwisata kecamatan yang kita tinggali, rukun dengan penganut agama lain. Gitu kali ya.. saya sih nangkepnya gitu.

Mari kita pakai cara goblok untuk jihad, bahkan lebih goblok dari bikin bom ricecooker atau bom buku. Kenapa kok bisa goblok? Ya karena bisa dilakukan setiap waktu dan nggak pakai biaya dan nggak perlu pemikiran panjang. Maka cara goblok apakah itu: berbuat baiklah pada sesama. Cukup itu.

Bukankah Islam itu rahmatan lil alamin? Bukan agama penebar kebencian kan? Maka jagalah dengan elegan. Kalau kita masih kecil, ya cukup patuhi orang tua. Besar dikit, udah baligh ya jaga diri. Jaga malu dan kemaluan. Tholabul ilmi, kerja nyari nafkah buat keluarga. Biar keluarganya nggak ada yang jadi peminta minta. Udah nikah, ya sayangi istri dan anak. Pelihara mereka dari berbuat menyimpang dari ajaran agama (termasuk membunuh orang lain). Ngajak orang beribadah ke masjid, baca Quran tiap hari, ngasih sedekah makan minimal sebungkus sama orang yang membutuhkan. Orang tua, memberi nasihat yang baik ke yang muda, memelihara amalan yang baik menunggu mati. Simpel broh.. udah gitu doang. Bukannya intinya jihad itu adalah berjuang di jalan Allah? yaudah.. berbuat baik pada orang tua, sedekah, ngaji, menebar senyum dan ketenteraman pada sekitar juga termasuk jihad bukan? Sesimpel itu ternyata. Subhanallah..  amaliyah jihad segampang itu. Nggak usah pakai mikir. Kalau ibu saya bilang ”Jangan nyubit orang kalau nggak mau dicubit. Semua aka nada balasannya”. Maka, sejahat apa kita sama orang (mau itu dialibikan pada jihad sekalipun), yakinlah akan ada balasannya. Hmm.mau jihad aja kan nggak perlu jadi jahad.

Jihad cara goblok aja deh. Hidup terlalu indah untuk disia siakan. Mari memperbaiki umat, bukan malah menghancurkannya. Kita hidup berdampingan dengan umat lain. Apa yang menjadi keyakinan kita atas Tuhan kita biarlah hidup di hati kita dan diamalkan untuk akhirat yang kita yakini. Tak perlu memaksakan apa yang jadi kepercayaan kita.

*Sudah seislam apa kita mengkafir kafirkan orang lain?. Sudah seislam apa kita menyakiti orang lain? Sudah seislam apa kita menghukumi diri sebagai penentu hidup mati seseorang di dunia ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s