Dilema Karir atau Di Rumah Aja

Tidak dapat dipungkiri, pembicaraan soal pernikahan pasti jadi salah satu topik hot di semua lingkaran. Mau ngobrol sama geng disini, obrolannya satu dua pasti mengarah ke nikah. Pindah ke komunitas lain, eh,  nikah juga yang dibahas, pindah ke lainnya lagi, eh.. nggak berubah juga. Haha. Ya mau gimana lagi. Nampaknya semua orang ingin segera ke pelaminan. Duh deek.. Sore ini saya mengobrol dengan salah satu teman yang baper banget sama mantannya. Orang tuanya ingin dia nikah sama mantannya, sedangkan dianya masih belum bisa berdamai dengan perasaan dan masih ingin mengejar sekolah. Mana yang baik? Semuanya baik. Tidak bisa disamaratakan. Bergantung dari sudut pandang.

Di jaman kekinian ini, pesan pesan keagamaan bisa dengan mudahnya didapat dan disebarkan ke semua lini. Ya memang sih, mengingatkan lebih baik daripada tidak mengingatkan. Wakakak.. nah lho.. gimana maksudnya tuh. Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang membahas tentang bagaimana sebaiknya sikap perempuan apakah fokus pada keluarga atau fokus pada karir. Setelah saya baca, artikel itu memuat sudut pandang bahwa wanita sebaiknya di rumah saja. Yang bertanggung jawab untuk bekerja adalah laki laki. True. Saya pun juga mendukung isu tersebut. Nabi Muhammad SAW pun saya pikir sangat memuliakan wanita maka beliau menganjurkan wania untuk jaga rumah saja. Untuk menjaga harkat dan martabat si wanita. Untuk menjaga wanita dari marabahaya. Ya, tentu saya amat sangat setuju.

Artikel tersebut cukup jadi perbincangan antara saya dan beberapa teman. Saya pun yakin haqqul yakin seyakin yakinnya bahwa perempuan memang ditakdirkan mengurus rumah seisinya, bagai ibu peri yang menciptakan atmosfer nyaman untuk keluarganya sekaligus manager segala urusan sebagai pelaksana dari tuan pemimpin alias suaminya. Meskipun artikel tersebut saya anggap berat sebelah, saya tetap gamang. Saya galau tentang posisi saya sebagai seorang perempuan yang nantinya akan ada masa dimana seorang laki laki (semoga dia adalah sosok yang soleh dan bertanggungjawab pada keluarga) meminang dan melingkarkan cincin di jari manis saya. Apakah saya harus di rumah saja atau saya boleh bekerja. Apakah jika saya cukup di rumah dan semuanya terbebankan pada pundak laki laki saya saja. Apakah jika saya bekerja, itu artinya saya menyalahi kodrat. Dan ratusan pertanyaan lain yang berkecamuk. Pada artikel tersebut menekankan bahwa tugas wanita adalah di rumah. Nggak perlu ngapa ngapain karena semua haruslah laki laki yang menanggung. Ini persoalan harga diri dan tanggungjawab yang memang sudah dibebankan Tuhan pada seorang laki laki: menjaga keluarganya dan memberikan nafkah lahir batin. Seolah olah wanita wanita yang sudah bekerja telah melakukan sebuah kenistaan (sekarang lagi hits pake kata penistaan). Seolah olah nanti jika menikah dan saya bekerja, maka saya melakukan pembangkangan. Dan solusinya adalah keluar dari pekerjaan kemudian total berkeluarga. Saya menghela nafas. Jadi.. apakah bekerja itu sebuah dosa?. Bagaimana dengan kenyataan di lapangan bahwa ada ribuan bahkan jutaan kepala keluarga perempuan karena berbagai macam alasan yang bukan lagi sekedar perbedaan tugas gender. Tapi sebuah keharusan pemenuhan kebutuhan hidup demi taraf kemaslahatan keluarga karena sebuah alasan picisan namun relistis: karena anak kita nggak bisa makan cinta. Bisanya makan nasi. Alasan lain: karena ttidak semua laki laki sebaik pangeran dari negeri dongeng yang bisa membahagiakan putri pilihannya hidup bahagia selama lamanya.

Saya renungi cukup lama artikel tersebut. Kemudian membayangkan ibu dan kembali melihat seperti apa keluarga saya. Saya berasal dari keluarga yang tidak mempermasalahkan gender untuk melakukan hal yang sama kecuali dalam keburukan. Laki laki tentu bekerja. Pasti. Perempuan? Apakah dibolehkan bekerja? Kenapa tidak. Kami menganut paham bahwa sekecil apapun yang kia lakukan tak peduli apakah kita laki laki atau perempuan selama membawa kebaikan dan sesuai pada temptanya dan diniatkan untuk ibadah maka akan bernilai pahala untuk akhirat. Begitulah konsensus dalam keluarga saya.

Di jaman -kakek saya pihak ibu- masih muda, dimana teman teman sebayanya menikah di usia belasan ahun, kakek saya menikah di usia dua puluh lima. Kaa ibu saya, nenek berselisih hanya dua tahun dari kakek. Di jaman segitu lho.. dimana perempuan yang baru punya pikiran dan kesempatan nikah di usia dua puluhan ke atas bisa dianggap perawan tua. Bahkan konon, kakek saya yang akhirnya dicarikan istri oleh mendiang buyut saking ‘tua’nya. Mendiang buyut merasa prihatin terhadap kakek yang di usia seperempat abad –sementara teman teman sebayanya sudah punya satu dua lima anak- ia masih juga jomblo (kakek saya orang yang idealis dan cukup keras kepala). Kakek nenek saya punya anak delapan, dimana empa diantaranya saja yang masih hidup. Empat lainnya meninggal ketika masih kecil.

Ibu saya menikah di kisaran dua tiga-dua empatan. Bapak dan ibu juga sebaya umurnya. Hanya selisih setahun. Mereka memiliki tiga orang anak, termasuk saya. Keluarga saya bukanlah tipikal keluarga yang senang dengan perjodohan. Masing masing dari anggoa keluarga memilih sendiri siapa pendamping hidup mereka. Termasuk ibu saya yang pada akhirnya berjodoh dengan bapak. Selama cocok dengan agama, pribadi dan keluarga, why not. Hanya satu dua orang saja yang mengalami perjodohan. Itupun setelah keluarga lainnya prihatin karena kekeraskepalaan mereka yang senang menjomblo.

Nenek saya bahkan membanting ulang ke pasar setiap hari sejak ia masih sangat belia. Ketika sudah menikah, bahkan ia melebarkan bisnisnya meski hanya kecil kecilan. Tapi apa yang beliau lakukan sangat membantu keluarga tetap hidup di masa sulit. Di tengah tengah pernikahan mereka, kakek saya jauh stroke dan berbagai masalah penyakit mendera. Otomatis keuangan keluarga memburuk karena kakek harus dirawat. Dan itu tidak hanya butuh cinta. Butuh uang juga. Tidak menafikkan cinta, tidak. Api untuk beli obat , kan tidak mungkin cuma pakai cinta. Paling cuma disenyum sinisin sama dokernya dan dipersilakan keluar. Di masa sulit itu juga, ibu dan saudara saudaranya bisa bersekolah. Ya, karena kerjasama kakek dan nenek. Nenek tahu kewajiban menafkahi adalah laki laki. Tapi, ia pun tak hanya tinggal diam ketika suaminya sakit keras dan putra putrinya jusru tidak bisa makan. Sungguh juara. See.. toh pada akhirnya perempuan pun juga membantu menyeimbangkan keluarga. Ibarat kapal, jika ada masalah pada nahkoda dan kapal, asistennya harus siap untuk membackingi.

Suatu ketika sepupu saya mencerahami saya tentang afdholnya doa. Selain itu juga menekankan bahwa kita perlu berdoa kepada Allah agar semakin dilancarkan rejekinya. Di salah satu kalimatnya, ia berkata bahwa perempuan bukan tempatnya untuk bekerja. Perempuan adalah mengurus keluarga dan yang harus beranggungjawab terhadap nafkah adalah suami. True again. I swear her lines are true. Sedetik kemudian saya menghela nafas. Plis, semua tidak hanya kelar hanya dengan menengadahkan tangan ke langit. Semua butuh ikhiar. Realistis saja. Beras nggak akan sera merta tercurah dari langit sedetik setelah kita berdoa. Buuh ikhtiar dan waktu. Entah itu dari kerja beneran atau justru dimudahkan dapat utangan.  Kondisi dari keluarga itu adalah si suami bukan orang yang bertanggungjawab penuh. Seringkali ia hanya di rumah dan hanya bekerja sekiranya pekerjaan itu cocok untuknya padahal ia adalah orang yang sehat. Ia memiliki beberapa orang anak. Kondisi rumahnya berantakan. Makan tak teratur, uang kurang, padahal anak anak tersebut masih kecil dan butuh sekolah. Ya, walaupun sekolah jaman sekarang gratis, tapi seragam, buku kan juga diurus sendiri. Anak gadisnya pertama bekerja setelah sekolah menengah atasnya usai untuk membantu perekonomian keluarganya yang morat marit. Kalau memang tugas wanita di rumah, ya kenapa harus kerja. Kalau tugas laki laki sebagai kepala rumah tangga adalah mencari nafkah, maka harusnya sepupu saya ini tidak harus memina pada ibunya ketika beras tak lagi ada di rumah. Harusnya sih suaminya yang kerjakeras dong, nggak perlu sampe anak perempuannya ikut turun tangan. Logikanya begitu.

Yang tragis adalah si anak gadisnya menikah terlalu awal sebelum ia sendiri bisa setidaknya membantu mewujudkan cita cita. Ya, menikah adalah anugerah. Tapi kondisinya, si anak ini belum siap untuk mahligainya. Dan sepupu saya ini melepas begitu saja tanpa perundingan dari keluarga besar. Salah satu alasannya juga tentang uang. Ini yang kemudian menyulut kemarahan beberapa orang dari kami. Pernikahan tersebut dianggap sebagai sebuah penghinaan terhadap harga diri keluarga. Ya, memang ada masalah cukup rumit yang melatarbelakangi pernikahan si anak tersebut.

Di kemudian hari, sepupu saya berkomenar tenang sepupu saya lainnya yang menurut dia seharusnya tidak perlu bekerja karena suaminya sudah bekerja. Saya hanya menghela nafas sambil mendengarkan percakapan ibu ibu di ruang dapur itu. Terlalu banyak orang dan saya merasa tidak perlu berkomentar. Padahal kalau dilogika, saya pun mengenal betul sepupu saya yang lain tersebut. Ia bekerja karena ia sadar, ia ingin melakukan kebaikan untuk saudara saudaranya yang lain tanpa ingin membebani suaminya. Suaminya menanggung banyak kepala di rumahnya. Dua orang dua yang sudah udzur dan mulai pikun, sementara karena ia harus bekerja maka adiknya lah yang terpaksa harus berhenti dari pekerjaan mengalah untuk menunggui kedua orang tuanya yang sudah udzur. Oleh karena suami sepupu saya ini orang yang baik, maka ia tidak hanya bekerja untuk dirinya saja. Ia paham bahwa keluarga adiknya butuh makan. Maka ia memberi makan keluarga adiknya pula. Tidak hanya itu, sepupu saya ini juga menyekolahkan putri sepupu saya yang lainnya di pondok. Ia menyekolahkan beberapa bahkan. Betapa mulia. Dan istrinya pun tidak inggal diam. Ia tahu suaminya menanggung banyak orang, maka ia tidak ingin suaminya lebih terbebani. Dan dia bukan orang yang suka tinggal di rumah, menyapu, memasak kemudian melamun seharian menunggu suami pulang. Ia ingin tenaganya berguna setidaknya menghalau galau dan menghasilkan uang agar ia bisa membantu lebih banyak orang lagi. Bahkan, dengan tangan dinginnya pun keponakan keponakannya seperti kami pun bisa ikut merasakan nikmatnya tholabul ilmi.

Pada galaunya saya, saya pun butuh second third bahkan banyak pendapat dari lingkungan saya. Saya bertanya kepada beberapa orang laki laki tentang pandangan mereka terhadap perempuan yang bekerja. Sebagian menganggap positif, sebagian menganggap negatif. Sebagian merasa perempuan memang lebih baik di rumah. Sebagian ingin wanita bekerja di rumah entah sambilan apapun itu. Sebagian tidak ingin harga dirinya dilampaui perempuan entah itu dalam masalah karir, gaji maupun waktu. Sebagian merasa tidak masalah jika perempuan bisa membanu perekonomian keluarga. Sebagian senang jika perempuan bisa mengoptimalkan waku mereka secara produktif tanpa meninggalkan kewajiban mereka sebagai ibu rumah tangga. Beragam pendapat yang ternyata berkorelasi pada pembicaraan saya dengan orang tua. Benar apa ibu saya bilang. Pernikahan itu tentang komunikasi. Bekerja atau di rumah saja, dua duanya tak perlu bawa bawa mahzab dosa dosaan. Realistis saja dan kebijaksanaan kedua belah pihak jadi kunci langgengnya hubungan rumah tangga.

Kembali ke posingan yang jadi perbincangan cukup hangat di salah sau grup wasap. Ada satu dua orang yang begitu membanggakan dirinya bisa di rumah saja. beberapa berkomentar cukup miring terhadap komenta tersebut. Di kegalauan saya, saya merasa tidak cukup untuk berdebat dengan para ibu ibu rempong tersebut. Bukan level saya karena saya masih anak anak. Saya hanya melihat masalah ini sebagai perbedaan sudut pandang dimana tidak ada yang benar dan tidak ada satu pun yang salah.

Saya menelepon rumah. Dan entah kenapa bahasa ibu saya tiba-tiba mengarah pada perekonomian dan pandangan terhadap keluarga. Kalau dijadikan skripsi, mungkin bunyinya: Pandangan Subjekifias Poliik Perekonomian Keluarga Dalam Era Globalisasi. Sudi Wania Karir-Rumahan dalam Berbagai Aspek). Wahaha. Judul yang nggak kongkrit tapi bisa lah sediki nyerempet nyerempet. Ibu saya sudah memikirkan saya dan jodoh duh.. betewe apakah yang jadi jodoh saya di masa depan udah pernah mampir ke blog saya ini belum ya? wkwkwkwk. Ibu saya berwejang. “Perekonomian memegang delapan puluh persen kehidupan rumah tangga, Nak.”. Ibu saya benar. Hidup bukan cuma soal cinta. Emang kamu bisa ngasih makan anak kamu yang ngerengek rengek minta susu cuma dengan cinta?. Bisa suami kamu ngasih makan kamu pake cinta seiap harinya? Kenyang apa makan pakai cinta?. Tholabul ilmi itu sampai mai. Bisa apa kamu belajar cuma pakai cinta? Ke sekolah seragaman pakai cinta? Of course no honey.. hidup bukan melulu tentang cinta. Cinta itu pening. Tapi kiaa juga butuh sarana buat ibadah. Kamu nggak bisa beli beras pakai cinta. Kamu nggak bisa beli rukuh pakai cinta. Gimana kalau bikin sendiri? Bisa aja sih. Tapi kainnya kan juga beli. Beli pake apa? Cinta? Haha. Ngaco.

Tak selamanya sebuah pernikahan ada pada jalan datar. Semakin anak tumbuh, maka ia butuh materi sangat banyak. Mondokin anak sebagai contoh. Kan dia juga butuh sarung, butuh beli ember, gayung, butuh uang jajan juga. Ada kalanya suami sakit, nggak kerja. Setidaknya ada perempuan yang menyokong kehidupannya. Keuntungan dari perempuan yang bekerja adalah, ia bisa menabung dan membantu suaminya memperbesar bisnisnya. Tapi, harus didasari dengan agama yang kokoh. Ketika si perempuan paham posisinya sebagai istri, maka ia tidak akan sewenang wenang dengan suaminya. Kasusnya adalah salah satu sepupu saya yang lain. Oleh karena ekonomi keluarga mereka memburuk, si istri memutuskan untuk bekerja di Korea. Gajinya menggiurkan tentu saja. Tapi kemudian prahara datang. Oleh karena salah gahol dan si istri yang tak menyadari posisinya sebagai ibu dan istri yang harusnya taat. Ia berlaku dholim. Ia kirimkan uang hanya untuk sekolah si anak tertua. Sedangkan dua anaknya yang lain ia bebankan penuh pada suaminya. Pilih kasih dan tidak menghormati suaminya. Kemudian ia mengeluh bahwa ia telah bekerja keras sedangkan suaminya hanya ongkang ongkang saja di rumah. Dan sialnya, ia curhat pada teman laki lakinya di Korea sana. Padahal, kenyataanya, suaminya di rumah kebingungan setengah mati bagaimana mengaur waktunya untuk bekerja dan mengurus ketiga buah hatinya. Ketika lebaran, ia pulang, ia bertingkah seolah-olah berkat usahanya sajalah ia bisa menghidupi suami dan anak anaknya. Suaminya berbesar hati untuk tidak menampakkan kesedihannya di muka umum. Sungguh isri tidak tahu ditunung. Besar adzab untuk perempuan seperi itu.

Lima tahun awal bisa jadi sata termanis dalam kehidupan rumah tangga. Tapi pahami, kamu akan punya anak anak yang tumbuh bear. Untuk melihat mereka tumbuh, butuh kasih sayang diantara suami istri. Jangan sampai hanya karena mtaeri, ekonomi, ada pertengkaran yang berujung perceraian. Jangan sampai kamu merasa superior diatas suami. Jangan sampai suamimu merasa terhina karena kamu lebih daripada dia. Sebenarnya bukan masalah jika penghasilan perempuan lebih banyak daripada laki laki, selama ada komunikasi dan pengertian diantara keduanya. Dan.. bentengnya adalah agama. Iya, agama. Didesain untuk membentengi manusia dari hal hal merusak. Sangat lebih baik jika istri bisa membantu suaminya untuk membangun bisnisnya. Kalau kata Pak Kyai dalam suatu pengajian, perjuangan Nabi Muhammad dulu di awal awal masa berat juga karena ada sosok hebat di belakang Nabi. Ya, Khadijah. Beliau yang menyokong lahir batin. Pengusaha wanita yang rela mengusahakan dan menyerahkan segalanya untuk suaminya tercinta berjuang di jalanNya.   Jadi.. sama sama membangun dapur dari sangat enol. Usaha bareng bareng. Apa nggak manis uh. Makanya walaupun Nabi punya delapan istri lain, Khadijah adalah yang paling nggak bisa bikin Nabi move on. Co cwiiit.

Kembali ke kegalauan saya: mana yang lebih baik antara di rumah saja mengabdi pada keluarga atau bekerja. Ternyata tidak ada jawaban mutlak. Dua duanya sama sama benar. Tidak ada yang salah. Yang salah adalah ketika masing masing pihak berpikir sempit nan picik serta menyalahgunakan wewenang yang sudah dipercayakan. Kebenarannya juga bersifa relatif. Setiap orang dilahirkan dan berasal dari keluarga yang memiliki tata krama yang berbeda pula. Maka, dimanapun, tetap beradaptasi, hargai siapapun dan bersikaplah realistis. Saya putuskan tak lagi galau dan kembali ke mahzab : semua hal sekecil apapun yang dilakukan di dunia ini, entah laki laki atau perempuan, selama memberi manfaat dan dilakukan dengan niat ibadah maka akan bernilai pahala di akhirat. Maka, tak peduli kamu laki laki atau perempuan, tak ada yang salah dengan bekerja karena bekerja itu juga memberi nafkah pada keluarga. Tak ada yang salah dengan perempuan yang bekerja. Yang salah adalah ketika tidak dikomunikasikan dan tidak diusahakan untuk saling pengertian antara keduanya. Intinya: komunikasi.

*Catatan: Di tahun tahun krusial dimana banyak pertanyaan tentang : kapan nikah? Kapan sah?, saya masih lenggang kangkung. Selo aja mah. * Hi, Mas Jodoh.. kapan kamu dateng #ehh.. wkwkwk. Hal ini disebabkan oleh background keluarga saya yang tidak begitu mempermasalahkan apalagi mengejar anak anaknya agar cepat segera menikah. “Selo saja. Jodoh sudah diatur. Tinggal ikhtiarnya saja. ” Haha. Peluk erat buat bapak ibuk saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s