Ulang Tahun

Jika ada beberapa hari yang tidak saya sukai, salah satunya adalah hari ulang tahun. Ada beberapa teman yang berulang tahun beberapa hari lagi di awal bulan November yang akan menjelang. Rasa rasanya berat untuk hanya sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Bukan karena tidak ingin, tapi karena ulang tahun seharusnya adalah momen pengingat umur yang menyedihkan.

Banyak orang merayakan ulang tahun, dengan bahagia. Iya dengan bahagia, seolah olah kita akan hidup selamanya. Bahagia. Ucapan, mungkin kue dengan lilin dan terkadang kado. Tapi mereka lupa. Di hari itu juga ketetapan bahwa umur telah satu tahun berkurang mungkin tak mereka sadari. Larut dalam bahagianya bertambah umur. Ya, bertambah umur. Sesuatu yang naif sedangkan hal yang sebenarnya terjadi adalah urusan kita di dunia ini tidak pernah tahu sampai kapan berakhir. Di sisi lain, entah berapa amal yang kita kumpulkan. Apakah diterima atau justru gugur karena satu saja maksiat yang kita lakukan sehingga sia sia segunung amal yang sudah dikumpulkan.

Saya tidak pernah merayakan ulang tahun sejak saya masih kecil. Tidak pernah ada kata perayaan ulang tahun dalam agenda keluarga besar kami. Bahkan kami lebih sering merayakan kematian dan kelahiran daripada mengulang tahun. Tiap kali ada anggota keluarga baru yang lahir ke dunia ataupun ritual mitung dina, matangpuluh, nyatus atau nyewu kematian salah seorang keluarga besar, kami mengadakan pengajian dan syukuran yang dihadiri tetua dan keluarga besar atau yang berkepentingan. Tapi mengulang tahun? Tidak ada dalam kamus kami. Yang tua tidak pernah memberi hadiah ke yang muda dan sebaliknya. Suatu ketika ibu saya pernah bilang bahwa ulang tahun bukan sebuah hal yang pantas untuk dirayakan. Waktu itu saya hanya merajuk karena layaknya anak anak kecil, kami suka dengan kue, lilin, balon dan suasana meriah teman teman yang datang menikmati suasana kebahagiaan anak anak yang berulang tahun. Jadilah saya hanya mojok gigit jari ketika merengek ingin ulang tahun saya dirayakan usai saya menghadiri pesta ulang tahun teman satu kelas di kelas TK. Iri rasanya melihat ada satu hari spesial dalam hidup dimana banyak orang datang bersukacita.

Ketika saya masih kecil, saya merayakan sendiri ulang tahun saya dan adik adik saya secara pribadi. Kami membuat agar agar dan terkadang kue sederhana dari telur tepung dan susu yang ditim sedemikian rupa (waktu itu kami sudah begitu kreatifnya ternyata, haha). Menyalakan lilin kemudian berdoa dan mengucapkan selamat. Perayaan yang hanya dihadiri kami bertiga. Sederhana dan penuh kenangan. Setiap tahun saya masih memberi mereka kado kecil hingga saat ini.

Lambat laun, saya merasa bahwa ulang tahun hanyalah seremonial urakan. Gadis gadis kota yang juga masih satu angkatan dengan saya merayakan ulang tahunnya secara sedikit waw. Sweet seventeen mereka bilang. Sebuah budaya ala barat sana yang diadopsi untuk meninggalkan kesan masa remajanya yang akan segera berakhir. Pesta, makan besar, kemudian pulang dengan sukacita. Tapi hambar. Karena isinya hanya pertaruhan gengsi semata. Umur kita tak akan terhenti hanya pada tujuh belas tahun, nak. Atau justru tujuh belas tahun lagi sisanya, tak ada yang tahu. Tak ada siapapun di dunia ini yang tahu.

Setiap tahunnya tiap kali ulang tahun, teman teman saya masih mengucapkan dan terkadang kado. Entah itu lewat cara yang biasa sampai dikerjain habis habisan saya pernah mengalami. Dari cuma disalamin sampai pada akting berhari hari sebelumnya dan menutup dengan manisnya. Dari yang cuma dikirimin pesan sampai dikonfrontir habis habisan dua orang lainnya dimana dengan kurang ajarnya teman teman saya mengkonfrontir tanpa paham bagaimana tersinggungnya saya waktu itu (Waktu itu memang sempat menimbulkan masalah. Plis, hati hati dalam bercanda. Jangan mengkonfrontir orang orang yang harusnya tidak berkepentingan. Ketika sudah melewati batas teritori orang lain dan membuat saya tidak enak hati pada mereka, saya sungguh merasa bersalah padahal itu bukan salah saya samasekali). Beberapa lainnya memberikan saya surprise yang sangat manis. Tetiba seorang gadis datang dari tangga dan memberi saya kue. Lengkap dengan lilin yang menyala dengan indahnya. Nah lho.. bahkan saya aja sampai lupa kalau ulang tahun itu hari penting. Ada juga yang tetiba memberikan bungkusan manis isinya doa dan selembar kain (doa biar saya segera pakai kerudung. Dek jaman semono. haha). Dan berbagai macam perlakuan lainnya. Tidak hanya saya yang mengalami perlakuan aneh aneh menjelang hari ulang tahun. Saya pun juga berkomplot dengan teman teman lainnya mengadakan aneh-aneh ketika ada salah satu dari kami  berulang tahun. Untuk dikenang nanti kelak kita tua, begitu mereka bilang.

Tapi saya tidak bahagia. Lambat laun saya merasa bahwa ulang tahun bukan lagi soal menunggu ucapan atau kado. Ulang tahun itu momen menunggu mati. Ya. Mati. Dimana satu satunya hal yang pasti di dunia ini adalah kematian. Flashback ke jaman jaman terdahulu, saya membenarkan perkataan ibu. “Tidak perlu merayakan. Doamulah yang lebih penting dari segalanya. Cukup dengan panjang umur barokah”. Perkataan ibu saya ternyata betul seratus persen. Tidak penting seberapa perlakuan,  kado, kue yang didapat. Tapi, ini tentang permintaanmu kepada Penciptamu. Kado terbesar yang harusnya diminta justru panjang umur bermanfaat dan dimatikan dalam keadaan khusnul khotimah. Itulah kado terbesar yang harusnya diminta karena kita tidak akan pernah tahu sebanyak apa amal yang bisa menemani kita hidup di alam selanjutnya.

Maka, setiap kali ada teman yang berulang tahun (bahkan ketika saya sendiri berulang tahun), rasa rasanya enggan untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Rasa sedih menyergap. Tidak pernah tahu sampai umur berapa saya masih bisa dipertemukan orang orang hebat seperti mereka. Apakah saya dahulu yang mendahului atau mereka dulu atau justru bisa reuni sampai nanti menua. Rasa rasanya ingin sekali mengucapkan dalam diam tanpa harus mengucapkan selamat seperti biasanya. Tapi ternyata sangat sulit. Saya sudah terlalu terbiasa untuk mengucapkan. Maka, sampai sekarang saya masih mengucapkan. Ya, disertai dengan kado doa dalam hati saya untuk mereka. Kado yang mungkin tak berwujud tapi semoga benar benar akan dihadiahkan dari Sang Pencipta untuk mereka. Ah.. saya tidak suka dengan ulang tahun. Sama seperti wisuda, ulang tahun adalah hari sedih. Hate that. Much.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s