Balada Ospek

Hampir semua orang yang akan memasuki jenjang menjadi anak baru di sebuah sekolah entah itu SMP atau SMA pasti pernah mengalami masa perpeloncoan. Masa dimana katanya sih dibentuk mentalnya (errr what they say.. melalui bentakan, hardikan, cibiran dan kekuasaan senior ke junior).

Di masa SMP, namanya bukan MPO tapi MOS (Masa Orientasi Sekolah) dimana anak anak masih belum mengalami masa menegangkan. Baru ketika di SMA, saya mengalami yang namanya kegiatan tersebut. Marsinal Pra OsmA namanya. Entah siapa yang mencetuskan kegiatan bodoh tapi menarik ini di sekolah saya dulu. Jika Masa Orientasi Sekolah hanya sekedar perkenalan pada kegiatan sekolah dan seluk beluknya yang dibawakan dengan membosankan.. ups.. surhat hehe. Kalau Marsinal Pra Osma dibawakan dengan panas dingin. Dimana anak anak akan merasakan detak jantungnya berubah naik turun selama kurang lebih setengah bulan. Satu kelas dituntut untuk bisa bekerja sama mebangun chemistry mereka masing masing dan menyelesaikan semua tugas yang diberikan senior. Saya masih SMP ketika saya terkikik kikik melihat So Jek (sepupu saya) memakai topi soblog (kerucut pembentuk nasi tumpeng) dan memakai tas karung kecampang yang disablon bersimbol kelasnya. Tapi satu tahun kemudian saatnya saya yang diketawakan karena saatnya saya yang merasakan kegiatan tersebut.

Satu kelas berunding untuk mendapatkan topi kerucut tumpeng dan menghiasnya sesuai dengan filosofi wayang. Belum lagi dengan mencari kandi (karung gandum) yang akan digunakan untuk membuat tas bersablon logo kelas kami. Sungguh suasana waktu itu bisa menyatukan kami. Tiap anak  jadi mengenal satu sama lain, saya bahkan menemukan teman yang cair banget. Kegiatan ini sekaligus juga membuat kami jadi deket dengan beberapa kakak angkatan seperti Mas Taqun, Mbak Nitra, Mas Syifa dan Mbak Fitra.

Satu momen yang paling saya benci adalah ketika sekelompok anak masuk ke dalam ruangan dan membentak satu kelas. Saya nggak takut dimarahi. Udah biasa banget saya kena omel di rumah. Yang saya benci adalah ketika seseorang tanpa sebab masuk dengan suara tinggi dan tiba tiba membentak. Saya mudah kaget dan sangat tidak suka ketika ada kekagetan menggebrak suasana yang sebenarnya masih anteng dan manis. Saya sebenarnya tidak tahu mengapa sesi ini dibuat dan dengan tujuan apa. Buat mendidik orang buat gila hormat, perhaps?. Emosi juga kan ketika saya masih tenang terus ada orang yang bentak bentak. Heeeee… emang saya salah apa. Plis, emang kalian mau tanggung jawab kalau ada yang sakit jantung habis itu?.

Tiap siang, sehabis kelas kami bersiap siap untuk MPO. Kami makan siang, ibadah dan menggunakan atribut MPO. O, ya jangan sampai terlupa tugas yang harus dikumpulkan ke kakak pendamping. Sesudah materi, pukul 3 sore kami dikumpulkan di lapangan dan harus berbaris menyembah sambil ngempong (menggigit dot bayi) dan mendapat tugas dari para senior yang sudah leyeh leyeh di singgasananya masing masing. Kalau udah gede kayak gini, setelah saya pikir pikir ternyata cara feodal masih sangat digunakan. Penggunaan kampong seolah olah menyimbolkan bahwa anak anak junior adalah bayi bayi yang harusnya menghormati senior senior yang seolah olah udah paling hebat aja ngasih tugasnya. Itu masih SMA lho, masih precil precil yang labil. Mereka taunya cuma berangkat sekolah, belajar, bolos kadang kadang, minta uang saku orang tua, main kesana kemari dan menikmati masa bermainnya. Mereka belum ngerti gimana beratnya hidup sebenarnya. Dimana mereka suatu saat akan dituntut buat menghidupi orang lain.

Saya dapat tugas banyak banget waktu itu. Tugasnya katanya sih buat lucu lucuan dan biar menunjukkan usaha serta kerja keras anak baru. Oh plis, saya dikirim ke sekolah biar dididik jadi orang yang bener. Ini malah tugasnya nggak mendidik dan sedeng (gila) bener. Beberapa saja yang saya masih inget. “Dek, kamu cari semut seksi, sekarang!” damn. Semut seksi itu apa coba? Semut semok? Semut seksi kebersihan? Semut yang suka nongkrong di seksi ruang piket guru? Aaaaa.. saya pusing. Akhirnya dengan bego, saya ngambil satu semut dan menghadap senior saya lagi. Saya jelaskan bahwa semut yang saya temukan adalah semut seksi dengan berbagai alasan. Akhirnya setelah debat yang menjemukan dia menyerah juga dan memberi saya tanda tangan.

Lagi, saya disuruh berlagak kayak reality show Termehek-Mehek dimana saya harus nyari satu orang lewat sebuah kode. Sok main detektif-detektifan gitu. Saya nyari kemana mana disasarin orang mulu. Mulai dari ngomongnya nggak tahu, pura pura nggak tahu dan kitanya cuma disemangatin doang, sampe suruh ngerjain tugas dulu sebelum dikasih tahu siapa orang dengan kode tersebut. iyuh.. sial banget yak hidup saya. Akhirnya berkat bantuan salah satu kakak senior yang caem dan baik hati, saya berhasil menemukan orang dengan kode sialan yang dikasih ke saya tadi. Ternyata orang itu adalah orang yang berdiri di sebelah kakak yang ngasih saya tugas. Iiiiiihhhhhhh. Esmosi. Jadi.. kenapa birokrasi di Indonesia begitu ribet dan muter muter adalah berawal dari kayak gini. Semua orang merasa harus dipentingkan dan lebih suka liat orang nyasar daripada liat mereka segera menemukan apa yang harus dikerjakan. Ya.. ya.. ya.. potret bangsa ini mulai dari hal hal kecil kecil.

Kemudian, hari terakhir MPO, saya adalah salah salah satu anak yang tidak bisa mendapatkan tanda tangan yang cukup. Salah satu senior menyuruh saya bergaya layaknya Dian Sastro di video klipnya Melangkah punya Peterpan. Waaaaa… mana saya nggak apal lagunya. Saya dan beberapa anak lainnya ngawur aja sok sokan melangkah lompat sana sini berasa Dian Sastro sambil nggumam nggak jelas disertai dengan bentakan senior yang memekakkan telinga diiringi dari tatapan iba sebagian teman teman dan cekikikan dari sebagian lainnya. Tapi tidak berapa lama kemudian kami terhenti karena panitia mengumumkan kami harus beribadah magrib. Ciyeeeee rundownnya kacau. Saya waktu itu sih cuma cengengesan aja.

Malam puncaknya nih yang antiklimaks banget. Sialan. Videonya manis. Dengan semua teriakan dan bentakan, mereka membalik keadaan. Mereka minta maaf pada semua kesalahan. Nyebahi memang. Tapi endingnya.. awwwwww manis.

Kadang saya berpikir bahwa di masa sekolah, anak anak sudah diajarkan untuk ndangak (menengadah). Yang senior (merasa harus) dihormati dan yang junior (merasa terpaksa) harus nunduk nunduk di hadapan kakak angkatan mereka. Yang tua masih berasa sok sokan bossy, yang muda diajarkan untuk ngekor aja sama seniornya. Ya pantesan aja masih ada kasus mati pas ospek, tawuran, kekerasan terhadap junior dan serangkaian urusan urusan nggak karuan lainnya. Dan imbasnya ketika kita semua sudah dewasa dan mulai untuk ‘jadi orang’ yang memegang urusan hidup negara ini, kita akan melakukan semuanya seolah olah kita orang penting yang harus dihormati. Semua orang yang kita rasa dibawah kita, harus menghormat dan mengikuti kita tanpa ba bi bu. Birokrasi yang panjang, ruwet dan menjemukan.

Padahal harusnya yang tua merangkul yang muda biar yang muda pun bisa tumbuh dengan baik. Dan.. yang muda harus bisa menempatkan diri. Hormatilah yang tua sesuai tata krama ketimuran. Toh, sopan santun dan tata krama adalah dua hal yang nggak akan mati walaupun jaman udah semakin modern aja. Kalau gitu kan tanpa harus ada perpeloncoan dan mempermalukan orang lain, yang muda akan dengan sendirinya menghormati yang tua.

Dan sekolah pun menjadi media untuk menyalurkan sikap sok sokan bossy ini melalui ospek. Padahal tanpa kamu menjadi sok bossy pun kamu bisa dihargai orang lain. Ya, anggaplah ospek ini sebagai ajang gila hormat. Menurut saya, kalau memang kita masih menghargai unggah ungguh, bukankah kalau ingin dihargai maka kita harus menghargai orang lain. Bukan begitu? Taruhlah kita lagi ngaca di cermin. Bayangan kita akan mengikuti apapun yang kita lakukan bukan? Kita ketawa bayangan ikut ketawa, kita senyum bayangan pun bakal senyum. Kita cemberut bayangan ikut cemberut. Kita kacak pinggang maka bayangan bakal kacak pinggang. Kita nonjok cermin, tentu bayangan nggak akan balik nonjok kita (horror jugak kalau ada bayangan bisa nonjok orangnya sendiri). Tapi yang kita dapat adalah tangan yang luka akibat pecahan kaca cermin yang kita tonjok. Maka analoginya, kalau kita berbuat baik maka lingkungan juga akan baik pada kita tanpa kita harus ngoyo nyari hormat sana sini. Kalau kita punya niat jahat, yaudah semua juga ada balasannya. Orang sekitar pun nggak akan ada yang baik sama kita. Simpel. Teori cermin.

Perpeloncoan mungkin dianggap sebagian orang tidak fair. Saya pun juga merasa seperti itu. Saya berdiri di pihak yang merasa ospek itu nggak penting. Ha mbok wis.. daripada ospek tapi hasilnya nggak karuan, sekalian aja pelatihan militer kerjasama dengan polisi atau TNI. Kalau pelatihan militer (dan yang nglatih beneran orang militer) itu nggak mungkin ada yang mati. Ya kalik mereka mau menyamakan ritme kerasnya latihan mereka dengan anak anak precil precil yang uang saku aja masih minta orang tua. Lewat pelatihan militer, kita berasa punya “musuh” dari luar maka secara otomatis kita bakal bikin defense mechanism secara kebersamaan. Tapi kalau ospek? Lawannya kan kakak angkatan sendiri. Duh deeeek.. buat alay labil yang masih pakai emosi bakalan jadi ajang balas dendam tuh. Tapi kabar baiknya sih ospek di kebanyakan sekolah makin kesini makin mengurangi intensitas kerasnya. Apalagi ditambah dengan pak menteri yang menganjurkan agar ospek baik dari jenjang SMP sampai kuliah nggak boleh ada perpeloncoan. Good. Memang harus ada generasi yang memutus sistem perpeloncoan ospek. No matter what. Kita sekolah biar bisa bangun bangsa ini lewat kreatifitas dan sinergi antar anak bangsa. Bukan perpecahan lewat dendam yang diturunkan antar generasi.

Tapi jika saya dulu tidak mendapatkan pengalaman ini, saya tentu tidak akan punya cerita. Yah, baik buruknya disikapi saja sebagai bagian dari pengalaman hidup. Selama tidak sampai melakukan kekerasan yang membahayakan atau katakanlah sampai meninggal akibat jantungan atau dianiaya seperti pada salah satu institusi di Jawa Barat yang katanya (sih) bagus dan lulusannya jadi idaman mertua feodal jaman dulu, saya rasa masih nggak papa. Akhir kata, hargai orang lain maka kamu akan dihormati. Bangsa ini butuh sinergi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s