Serangkaian Jantung kota Bandung

Setelah lama berdiam di Paris van Central Java, saya move on ke Paris van Java. Saya sudah agak familiar dengan kota kembang ini karena sudah beberapa kali menginjakkan kaki ke Bandung. Dahulu sih saya cuma paham sama daerah DU doang. Tapi sekarang, saya tidak hanya mengenal daerah dimana Universitas Padjajaran berdiam dengan gagahnya.
Masa awal awal saya mulai tinggal di Bandung, saya habiskan dengan orientasi daerah Bandung. Googling sana sini dan menemukan beberapa tempat ngehits di seputaran Bandung. Alun alun bandung dan masjid agung bandung menjadi tolakan awal saya menjelajah kota kembang.

Hampir setiap sore saya mengunjungi Masjid Raya Bandung, dimana di hari hari tertentu saya beruntung karena bertepatan dengan pengajian rutin. Yah, meskipun suasana tidak terlalu kondusif, pak yayinya menjelaskan materi dengan bahasa yang mudah dipahami. Adem atinya euy.
Sorean dikit, saya keluar dari area masjid, mengambil spot di alun alun Bandung yang ngehits itu. rame banget. Udah gitu, banyak keluarga piknik bareng. *bikin baper para warga muda yang masih jomblo. Haha. Tiduran, baca buku, ngemil jajanan ala ala Bandung *yang ngabisin persedian uang saya gara gara dikit dikit jajan. Hiks. Dengan temaram cahaya mentari yang mulai mengendap perlahan, saya menikmati sore sepoi saya. Bikin saya tambah baper kangen rumah.
Esoknya saya bergerak menuju ke Timur, melewati lorong yang berhias kata mutiara dari Pidi Baiq, lurus terus hingga menuju sebuah gedung bertuliskan Gedung Merdeka. Gedung inilah gedung bersejarah yang digunakan Pak Karno untuk menegakkan nama Indonesia yang baru lahir berpuluh puluh tahun lalu dalam sebuah ajang internasional bernama Konferensi Asia Afrika.

Pintu masuk ke Museum Konferensi Asia Afrika ternyata bukan lewat depan Gedung Merdeka. Melainkan, maju dikit lima puluh meter, tengok kiri maka kita akan menemukan interior muka rumah ala ala barat sana. Maka, masuklah kita ke area Museum KAA yang bisa dibilang sangat ciamik dan nyaman. Lighting yang pas ditambah artefak yang masih terawat dan poto poto dokumentasi semakin menunjukkan bahwa museum tidak identik dengan kuno temaram, dan tak terawat. Ternyata ada juga museum yang kece badai. AC juga dipasang dengan tujuan menyamankan pengunjung dan menjaga suhu ruangan agar artefak tetap awet.
Saya ditemani seorang gadis magang dari Sastra Inggris UPI bernama Baiti. Penjelasannya cukup jelas dan mencerahkan. Dengan fasih ia memberikan tur selama kurang lebih satu jam mengelilingi area Museum KAA. Saya tertarik dengan pengalaman yang ia dapat selama magang di museum. Ia merasa bahwa nasionalismenya semakin besar setelah mengetahui seluk beluk sejarah Indonesia di masa lalu. Buat yang ingin tahu detil bagaimana KAA diprakarsai, silakan googling. Saya tidak akan mendongeng tentang sejarah KAA.
Puluhan tahun ke belakang, Indonesia ternyata adalah pemrakarsa bagi perdamaian dunia. Nggak usah jauh jauh mengidolakan Hilary Clinton, Angela Merkel, Lee Kuan Yew atau entah siapa tokoh dunia yang sering disorot karena diplomasi mereka, negeri kita punya orang orang hebat. Gimana nggak luar biasa, waktu itu leluhur kita berhasil memaksa petinggi petinggi negara lain buat melaksanakan kegiatan yang tadinya diremehkan. Nyatanya, tak banyak bicara namun cukup segera kerja, jadilah kita sebagai salah satu negara penting yang mampu membuktikan eksistensinya sebagai negara muda yang berdaulat. Diplomasi yang sangat luar biasa. Bayangin, waktu itu Belanda masih belum ikhlas melihat kita berdiri tegak sebagai negara merdeka lho. Masih ada serangan ini itu dari Belanda. Dan kita berhasil menggerakan bangsa bangsa Asia dan Afrika yang waktu itu sama nasibnya kayak kita: bingung gara gara blok barat dan blok timur yang perang mulu. Belum lagi, banyak negara di kedua benua ini adalah negara negara yang menderita akibat penjajahan dan perang. Rasa senasib sepenanggungan itulah yang menggerakkan kita untuk menggalang persatuan dua benua yang ternyata juga ‘menakuti’ dua blok tersebut sehingga tidak serta merta menyebarkan pengaruhnya lagi ke kita.
Tidak hanya ruangan depan yang penuh dengan artefak seperti meja dan kursi, telepon, kamera peninggalan dan sebagainya, saya diajak menyusuri bagian bagian dari gedung. Ada perpustakaan tempat menyimpan berbagai dokumen dan yang paling emejing adalah ruangan tempat berlangsungnya KAA lima puluh tahun lalu yang masih terawat dengan baik. Kursi kursinya, tempat berundingnya, dan segala atributnya. Ada penambahan gong juga sih, assesori yang digunakan sebagai pembuka Konferensi KAA yang dilaksanakan tahun 2015 lalu. Saya bisa membayangkan sebegitu megahnya perhelatan KAA di jaman mbah saya itu berlangsung. Ruangan segede ruangan yang cukup untuk menampung pesta Romeo Juliet, ditambah riuhnya delegasi yang datang, menghasilkan poin poin yang penting bagi perdamaian dunia dimana semuanya itu Indonesia turut serta menjadi pemrakarsa. Gimana saya nggak terharu.
Untuk merayakan Konferensi KAA tahun 2015, Pak Ridwan Kamil menata kota Bandung sebagai persiapan merayakan lagi konferensi legendaris tersebut. Jalanan sepanjang gedung ditata, ditaruh batu bulet bulet gede ada nama negaranya, baliho pak karno dan tulisan tulisan motivasi berderet deret sepanjang jalan, dan tak lupa kursi kursi taman yang nyebahinya didesain buat orang berduaan menikmati senja. *duh deeek kenapa macam di Malang ajaa. Hiks.
Saya menutup tur saya hari itu dengan menonton sekelompok orang berdemo –entah demo untuk keperluan syuting atau benar benar demo. Nampaknya tujuan yang terakhir deh. Entah apa yang mereka suarakan. Tapi saya yakin betul mereka adalah mahasiswa. Haha. Hidup mahasiswa Indonesia. * tapi kayaknya kalian harus benar benar belajar kemudian jadi orang di birokrasi sana kalau mau mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Kadang demo malah nggak didengerin dek. Jadi, bungkamlah penguasa dengan kerja kalian yang luar biasa. Buktikan pada negeri kalian bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik, tak hanya dengan cakap saja namun dengan kerja nyata.
Saya keluar dari museum menuju taman sebelah museum. Hujan gerimis yang baru reda, bangku taman dan sungai dan.. senja. Ah.. Bandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s