Malang, Kota Tak Ramah Jomblo

Selain Bandung, Malang adalah kota tak ramah bagi jomblo. Bagaimana tidak, taman taman cantik dimana mana, burung burung berkeliaran, bebungaan terhampar rapi menghiasi hijaunya rerumputan yang ditata sedemikian ciamiknya. Jalan jalan berpaving manis dengan pohon palem menjaga di kanan kirinya. Duh dek.. kasihan yang masih jomblo. Begitu teori saya, Santika dan Indri ketika melewati indahnya pertamanan Malang.

Hal lain yang bikin jomblo nggak asik di Malang adalah cuaca Malang yang adem adem sejuk. Entah gara gara global warming yang bikin Malang nggak panas panas amat atau emang lagi anget angetnya, Malang tak terlalu dingin seperti yang saya pikirkan. Taman taman yang caem, dengan rerumputan tertata apik, suasana tenang tidak begitu macet, ditambah cuaca yang sejuk sejuk bikin baper akan mengakibatkan jomblo terlena untuk seharian mager di taman tamannya –ntah buat merenungi nasib atau baca buku. Jangankan jomblo, muda mudi yang bergandengan tangan, pacaran disana sini. Tiap sudut taman pasti ada. Kalau kata Santika sih, bikin baper nikah cepet. Haha.

Kalau di Solo dan Jogja, setiap jalan akan ditulis juga dalam aksara Jawa, maka di Malang, ditulis dengan bahasa setempat dan bahasa Belanda. Sebagai contoh Jalan Kawi, maka akan ditulis juga Kawistraat.

Tidak seperti di Jogja yang angkutan umumnya naudzubillah susah dan rempongnya, Malang cukup bersahabat. Transportasi di kota Malang tergolong masih mudah. Motor, mobil baik pribadi maupun angkutan umum tersebar pating tlecek hingga malam. Mirip mirip Bandung. Kami bebas kemanapun dengan angkot berbagai trayek –yang sialnya selalu lewat taman taman Malang yang bikin baper itu- tanpa takut tak sampai tujuan. Cukup dengan empat ribu rupiah maka anda sudah termasuk membantu para bapak bapak sopir itu menafkahi keluarganya. Teringat dulu ketika di Bandung, dimana ada banyak pengamen yang juga mengamen di angkot, Malang pun juga sesekali ada pengamen. Mereka anak anak grunge atau punk yang tetiba datang ke angkot untuk mengamen. Ya.. ya..

Ini pertama kalinya saya dan teman teman mengunjungi Malang, kota apel yang terkenal itu. Hanya tiga hari, backpackingan nggembel nggembel dikit karena budget yang minim. Untungnya Asti Alfasani, salah satu adik angkatan saya mau direpoti kami kami yang datang dari jauh untuk mengantar Indri ujian di salah satu universitas di Malang. Bahkan ia dan room-matenya harus mengungsi ke kamar lain akibat kamar mereka kami akuisisi selama dua malam. Duh.. maap yak dek.. semoga dilancarkan segala urusan kalian. Amin.

Hari pertama? Tidak ada hal spesifik yang kami lakukan selain berlagak seperti Dora the Explorer untuk menemukan kosan Asti. Turun dari kereta, kami sempat ditodong angkot “ketengan mbak, lima puluh ribu aja buat tiga orang”. Saya langsung melambaikan tangan tanda tak mau. Terlalu mahal Pak. Kami tidak sedang untuk berplesiran. Setelah menemukan angkot dengan tarif normal, hanya empat ribu rupiah saja, kami turun di depan Universitas Malang. Terpesonalah kami dengan mas mas setempat (yang ternyata ia adalah perantau dari Medan) yang baru saja menggelar lapak dagangannya di jalan depan rektorat. Jajanan yang ia jual semacam otak otak yang ditusuk lidi panjang kemudian diberi saos. Bagaimana tidak mempesona kami yang kelaparan seharian di kereta akibat lupa bawa jajan. Haha. Asti bahkan tertawa karena tau kami sedikit tergila gila –fine.. saya mengakuinya- dengan sempol. Haha.

Ehm.. sekarang tentang makanan. Malang punya makanan khas apa ya? Saya tak begitu ingin makan banyak. Tapi kemudian menemukan soto lamongan meskipun bukan di kotanya langsung, membuat saya berbunga bunga. Bagaimana tidak, soto dalam semangkok dihidangkan panas panas lengkap dengan rasa koyanya yang tak terlupakan. Selain soto, kami mencoba pecel. Enak tenan. Nggak begitu manis dan cukup pas pedesnya. Ketiga, kami mencoba tahu telur. Awalnya kami pikir tahu telur itu semacam campur atau gado gado. Ternyata dadar telur yang berisi tahu, dihias dengan tauge rebus kemudian disiram kuah kacang yang ndilalah rasanya manis. Saya curiga yang bikin orang Jogja. Wahaha. *baru dua hari disini Jogja udah bikin baper aja. Wkwkwk.

Tak afdhol rasanya kalau pergi ke suatu kota tanpa mengunjungi museum di dalamnya. Museum adalah bagian dari sejarah peradaban suatu kota. Tanpanya, hilang sudah kepingan sejarah itu ditelan masa. Di hari kedua di kota Malang, kami mengunjungi Museum Brawijaya, sebuah museum nun di tengah kota di Jalan Ijen.

Museum Brawijaya menyuguhkan pemandangan tentang bikin masa lalu ketika Indonesia masih mengalami masa agresi militer sana sini. Koleksi berbagai macam senjata rampasan, mobil kodok antik yang masih gagah, berbagai panji perang, meriam dan berbagai peralatan perang lainnya. Tapi jangan salah, di museum ini ada koleksi komputer jadul keluaran IBM tahun baheulak. Keren juga peralatan perang militer Indonesia. Di halaman tengah museum terdapat gerbong kereta dan perahu kecil. Gerbong tersebut adalah satu dari tiga gerbong maut yang pernah digunakan untuk mengangkut ratusan pejuang Indonesia. Gerbong ditarik lori dan dikunci rapat rapat. Dari seratus orang dalam gerbong, kurang lebih tujuh puluh lima persen mati sekarat di dalamnya akibat kekurangan oksigen dan terinjak injak. Sadis. Perahu kecil yang ada di sebelah gerbong adalah perahu yang digunakan salah seorang pejuang mengarungi lautan dari sebuah pulau ke Surabaya. Kondisinya masih sangat terawat baik. Museum ini juga memiliki perpustakaan yang sewaktu waktu bisa digunakan untuk studi pustaka kesejarahan Indonesia. Isinya buku buku tua peninggalan jaman jalan lalu.

Museum emang nggak ada matinya. Museum selalu bisa memberikan saya perspektif lain mengenai bangsa saya. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya bila saya lahir di jaman kakek saya masih mengangkat senjata mengusir wong londo-londo itu. Kalau hidup sederhana sih bisa. Saya terbiasa dengan hidup apa adanya. Tapi, bisakah saya dan teman teman saya yang tergolong anak moderen ini lepas dari gadget? Apa jadinya bila kami mau menggempur musuh, masih sempat sempatnya update status dulu di facebook “Merdeka atau harus banget merdeka mbuh pie carane”, posting foto di facebook dengan caption “selfie dulu mumpung lagi di  depan markas musuh” atau buat anak anak ingusan yang baru seneng senengnya sama cewek kecengannya malah update foto “Mau nembak musuh. Jadian nggak ya ntar?. Deg degan nih”. Nah lho.. malah anak anak mudanya pada baper kan.

Yang paling menarik untuk saya adalah tentang Jenderal Soedirman dan alat alat kesehatan di jaman itu. Kursi, meja dan berbagai peralatan peninggalan Jenderal Soedirman masih sangat baik kondisinya. Nggak kebayang gimana rasanya mimpin pasukan yang menyabung nyawa nggak memperdulikan kondisinya yang sakit sakitan hanya untuk negara. Naik turun bukit gunung hutan jalan yang boro boro masih aspal, setapak aja udah bagus karena kontur negara waktu itu masih berbatu batu dan berbukit bukit. Rutenya yang beratus kilometer sampe Jatim njuk balik ke Jogja lagi. Sangat panjang. Saya suka ngecamp. Tapi kalau ngecamp sistem perang gitu kan juga pasti nggak asik. Suasana melihat bintang bukan dalam kedamaian tapi was was kalau kalau musuh mengintip lewat senjatanya dari balik dedaunan. Nakutin euy.. Belum lagi kalau pas kita sakit. Kalau demam biasa yang sembuh lewat sugesti dan sedikit terapi diri bernama tiduran, bagaimana dengan sakit berat?. Jenderal Soedirman kalau tidak salah jantungnya juga bocor sehingga harus ditandu di perjalanannya. Bagaimana hebatnya dokter saat itu berjuang. Pendidikan dokter dengan ilmu seadanya, peralatan seadanya, masih dihimpit perang pula. Saya tidak bisa membayangkan ketika dokter harus mengobati pasien yang terluka dalam perang bahkan membedah lukanya atau mengamputasi salah satu kaki pejuang tanpa anestesi yang mumpuni. Botol botol kaca berisi entah penisilin entah apa di museum seolah bercerita beratnya kesehatan ketika perang. Banyak anak berlomba masuk kedokteran dengan pride yang selangit, kemudahan mengakses dipan rumah sakit, kemudahan nyari obat di apotek apotek yang tersebar bak jamur di seluruh kota rasa rasanya adalah hasil perjuangan para pejuang yang membuat negeri ini bisa berdiri tanpa tedeng negara adidaya membackingi dek jaman iseh rekasa (ketika jaman masih susah). Indonesia adalah sebuah negara seutuhnya tanpa disuapi oleh negara penjajah. Kita jatuh bangun dengan nama kita sendiri bukan dengan embel embel persemakmuran yang memang terlihat makmur tapi tidak merdeka seutuhnya. Ah, saya bangga menjadi putri Indonesia. Sangat. Terimakasih pejuang. Saya janji untuk mengisi kemerdekaan yang sudah beliau beliau perjuangkan dengan mencintai negeri saya dengan cara saya. Sekecil apapun hal untuk negeri ini karena rasa cinta saya pada Nusantara. Ya, karena saya masih suka makan nasi, bukan roti.

Saya mengangkat senjata yang ada di museum itu. Duh, beratnya setengah mati. Kok ya selo tenan orang perang. Pada bawa senjata berat berat gini, lari lari di medan pertempuran hanya untuk menghilangkan nyawa orang. Belum ibu ibu dan anak anak yang menjadi korban akibat peperangan. Kalau langsung mati sih mending, nggak ada bekas kesedihannya. Bagaimana jika anggota keluarga itu masih hidup dan melihat dengan mata kepala sendiri ada keluarganya yang mereka sayangi terbunuh?. Pastinya akan jadi beban psikologis seumur hidup yang tak akan pernah terlupakan. Hiks. Seketika saya teringat dengan para pejuang Palestina yang hingga saat ini hidup dalam mencekamnya suasana perang. Sedangkan saya di Indonesia, masih sempet sempetnya nonton sunset dari ketinggian bukit sambil memejamkan mata dalam kedamaian. Di saat yang sama, ratusan anak kecil seusia saya bahkan lebih muda, mereka menyabung nyawa berlindung dari bongkahan dinding yang rusak sambil sesekali menembakkan peluru ke arah lawan untuk mempertahankan bangsanya dari kebiadaban penjajah. Lagi, saya berjanji dalam hati. Saya dikaruniai Tuhan untuk hidup di zamrud khatulistiwa yang damai, indah nan permai. Bagaimana saya harus mensyukurinya, itulah yang saya anggap sebagai jihad juga. Ya, karena jihad tak melulu harus dengan perang. Cinta tanah air dan berjuang untuk tanah tumpah darah saya adalah jihad juga.

Tiga hari, cukup untuk perkenalan dengan kota Apel ini. Sayangnya kami tidak sempat mampir ke Batu karena keterbatasan waktu. Semoga lain kali di waktu dan kesempatan selanjutnya. PS: Kalau kata Asti sih: Apalah Jogja yang berhati mantan dan Malang yang berhati masa depan. Aiiisssh..*apalah saya yang masih menganggap Jogja berhati mantan dan masa depan. Duh.. dekkkk..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s