Pasukan Bodrex

Apa yang tersisa di masa sekarang dari kepingan masa yang telah berlalu? Kenangan. Hanya itu. Momen lebaran adalah salah satu yang mengingatkan kembali kepingan kenangan itu.

Tersebutlah empat anak gadis yang duduk di baris pojok terkanan paling belakang kelas yang saat itu seatnya dua dua dalam empat baris. Mereka selalu duduk takdzim mendengarkan guru berceramah sambil mengangguk angguk tanda tak paham. Bolos sesekali, boleh lah. Meskipun hanya ke kantin atau kemana. Candaan, tawa, bully, kesembronoan mengisi hari hari. Hidup tidak perlu begitu spanneng. Bagi mereka, bisa naik kelas dengan predikat tuntas saja sudah melegakan. Remidi, jangan tanyakan berapa kali. Sampai kenyang. Sementara anak anak satu kelas berusaha mati matian les sana sini, berusaha sedemikian keras agar nilai mereka mencukupi masuk ke IPA. Si empat anak ini, mau masuk IPA atau IPS, urusan belakangan. Semua jurusan adalah baik. (Hanya orang tuanya saja yang memaksa anak anaknya menuruti keinginan mereka masuk jurusan mana, meskipun pada akhirnya si anak mengatakan tidak).

Satu anak hobi sekali merawat kukunya. Ia pandangi dan bersihkan kukunya di sela sela mendengarkan pelajaran. Anak gadis di sebelahnya sibuk membuat kue berupa sebuah lingkaran dengan arsiran perempat jam yang ingin sekali ia habiskan setiap kali Bu Wahyu, guru matematika kelas satu itu mengajar. Ketika kue sudah terarsir seluruhnya, ia sangat bahagia. Ia malas dengan hitung hitungan dan tidak suka dengan cara mengajar si ibu ini. Siswi di belakangnya, sibuk menjahili si anak perempuan di sebelahnya. Ia gojekan dengan teman sebangkunya sampai sampai Pak Candra, guru Fisika menyuruhnya maju ke depan mengerjakan soal. Padahal si Bapak ini tidak biasanya menyuruh nyuruh siswa maju. Kemudian ketiga anak lainnya hanya cekikikan jahat melihat kawannya maju. Si anak perempuan, Puspasari, hanya menyumpah nyumpah dendam pada ketiga teman lainnya, dimana mungkin terbalas di kemudian hari. Satu persatu dari si anak itu maju pada kesempatan yang berbeda. Desy Novita ketika pelajaran matematika, saat ia sibuk mengamati kuku kukunya tetiba Bu Wahyu menyuruhnya maju. Pak Chandra menyuruh saya maju saat saya sedang sibuk melamun. Aih Ervanti maju ketika.. ah.. entahlah. Saya lupa. Haha.

Oleh karena keseloan empat orang itu, mereka diabadikan dalam stiker kelas bersama sama dengan ketiga puluh dua orang lainnya, yang besarnya A5. Empat orang berseragam abu abu putih berbaris, dinamakan Pasukan Bodrex. Bu Wahyu, menamakan mereka pasukan Bodrex karena jaman itu ada iklan Bodrex yang dibintangi Wagub Jawa Barat yang juga seorang artis, Dede Yusuf. Mas Dede Yusuf itu ceritanya sedang memimpin sebuah pasukan, yang namanya adalah pasukan Bodrex. Melihat kami yang selalu berempat duduk di pojokan sana, sok sokan jadi anak manis yang pendiam dan berbudi pekerti baik dalam pelajaran, jelas sudah Bu Wahyu teringat dengan iklan itu. Kemudian.. satu kelas juga menganggap kami seperti itu.

Delapan tahun kemudian berlalu. Kembali dari perantauan dalam suasana lebaran adalah sebuah momen yang menyatukan pasukan nggak jelas itu. kecanggihan teknologi membuat mereka bisa kembali menjalin silaturahmi. Di sebuah siang yang cerah, dengan jam karet ala orang Indonesia, mereka berkumpul di rumah salah satunya. Berkelakar tentang hidup yang semakin menua, bagaimana tentang cara pandang hidup dan saling bully karena kami tak peka dan belum move on juga.

Pertemuan sejak perpisahan bertahun tahun, tidak juga melunturkan persahabatan, tidak juga melunturkan kegilaan masing masing dari mereka. Satu orang di Salatiga, Aih yang sedang mengambil master IT di UKSW. Satu orang baru saja menetap di Salatiga setelah beberapa tahun di Jawa Timur. Puspa sudah jadi cewek tulen sekarang (dulu sekali, ia sangat tomboy). Dengan balutan gamis dan kerudung, ia menolak pekerjaan di kapal pesiar karena alasan agama. “Harus lepas kerudung Put. Jangan lah”. Ia akan pergi merantau lagi beberapa bulan mendatang, entah ke kota lain, entah ke negara lain. Satunya baru saja pulang mengunjungi orang tuanya setelah lama menetap di Jogjakarta dan hanya pulang sesekali–dan sebentar lagi akan merantau lagi. Satunya tidak pulang ke Salatiga karena sudah menikah dan menetap di Kalimantan Tengah. Ya, Desy Novita sudah menikah dua tahun yang lalu. Semoga ia segera dikarunia momongan.

Pembicaraan paling kampret adalah tentang kepastian masa depan. Tentang salah satu dari kami yang harus move on karena ditinggal nikah mantan yang kembali ke mantannya. Ia masih belum bisa melupakan. Bahkan salah seorang kawan dari IPS 1 dulu mencoba untuk mendekatinya dan sahabat saya ini tidak ada perasaan sama sekali. Tentang saya yang dibuli habis habisan oleh cinta monyet yang tak pernah tersampaikan. Tentang cinta lama beda agama Puspa yang masih saja ia bahagia ketika bertemu, bahkan dalam reuni kelas kemarin. Tentang berdua dari kami yang nggak peka. “Ada yang suka tapi kalian nggak peka”. Haha. Duh.. maapin kita kak.

Ah.. sungguh masa sekolah yang menyenangkan. Yang tidak akan mungkin akan bisa diulang, dan saya pun tidak ingin mengulangi. Move on cah.. haha. Pahit manisnya masa sekolah, akan jadi kenangan bahkan hingga nanti kami senja. Hidup Pasukan Bodrex!.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s