Ramadhan di Jogja

Krapyak, Lost in the Santri City

Lost in the Santry City adalah sebuah hal yang menyenangkan. Bagaimana tidak. Semua orang bersarung, kemeja dan koko. Stock cowok ganteng yang berasa bisa banget diculik ke KUA ada disini. Ceweknya pun cantik cantik. Baju warna warni kerudung loss dan bawahan sarung atau rok yang membumi. Dengan Al Quran di tangan kanan dan sajadah yang tersampir di pundak kiri. Sangat sederhana, jauh dari kesan glamor, jauh dari kesan terlalu kearab araban atau kebarat baratan, jauh dari kesan hedon. Adem gitu.

Ngapain di Krapyak? belajar lah. Belajar agama. Ramadhan ramadhan gini ada alternatif kece untuk siapa yang mau menyisihkan waktunya belajar agama. Pondok emang nggak ada matinya kalau urusan belajar. Bangun tidur, belajar, sampe mau tidurpun juga diisi dengan belajar. Di sepanjang sudut rumah, para gadis gadis bil ghoib rajin menderas ayat demi ayat Al Quran untuk menguatkan hapalan. Belum kalau di kelas. Satu dua cowok minimal akan nongkrong sambil menekuri Quran di atas meja belajar mereka sebelum menunggu ustadz datang. Ketika Pak atau Bu ustad datang, kelas pun dimulai dengan sangat tenang. Tidak ada gaduh karena semua orang sibuk mendengarkan ustadz membacakan dan memaknai ayat demi ayat. Sialnya saya buta aksara. Duh. Gini nih akibatnya dulu nggak mondok. Banyak sekali kitab kita yang ingin saya baca dan ngaji sama ustadz. Tapi apa daya waktu saya tak banyak dan saya hanya bisa mendengarkan tanpa bisa membaca kitab itu. Kalau ada pegonnya, masih enak. Saya masih bisa sedikit dikit baca walaupun nggak fasih banget. Tapi kalau Arab gundul. Duh.. selamat bobok. Saya nggak bisa. Hiks. Kondisi ini akan jadi pelajaran saya kelak. Saya ingin nanti putra putri saya mondok biar bisa belajar langsung pada ahlinya. Hingga saat ini, tempat pelajaran agama terbaik adalah pondok.  #ayomondok.

Kalau sudah masuk waktu berbuka, semua orang akan turun dan mengambil makanan yang telah disiapkan. Entah kenapa makanan di piring yang porsinya tidak terlalu banyak terasa sangat kenyang di perut. Berkah ramadhan. Alhamdulilah. Nanti kalau jam sahur, kami akan bangun dan ambil makanan juga. Kemudian kalau sudah selesai, ke masjid untuk menghabiskan waktu bersembahyang subuh dan kultum hingga pagi menjelang. Kalau udah pagi? Ya lanjut ngaji. Nderes maksudnya. Nyemak. Masih nggak paham? Baiklah saya jelaskan lewat bahasa yang lebih sederhana. Nderes itu mengaji Quran. Kalau nyemak adalah mendengarkan lantunan Quran oleh yang membaca Quran. Setelah itu free time. Kita diberi waktu untuk mencuci pakaian, bersih bersih, kemudian lanjut ke kelas kelas yang membahas kitab kitab. Kelas baru akan berakhir pukul 12 malam. Tak jarang saya menulis sambil terkantuk kantuk pegal. Haha. Mulai jam 12, tidur malam pun dimulai. Begitulah siklus dua puluh hari berlangsung.

Sembahyang selalu dijalankan secara berjamaah. Sembayang apapun. Magrib isya sbuh dhuhur ashar. Usai sembahyang, lantunan doa terucap membahana. Sungguh khusyuk dan menenangkan. Salat traweh juga berlangsung secara khataman. Maksudnya dalam dua puluh hari merupakan shalat yang bacaannya adalah seluruh surat dalam Al Quran. Nyari berkahnya.

Saya punya pengalaman yang membuat saya kagum pada satu cowok yang entah siapa dia saya tidak tahu mukanya, namanya atau asalnya. Adakah yang lebih ganteng daripada cowok yang lari lari ke masjid sehingga peci dan kemeja marunnya basah oleh hujan namun tetap laju menjalankan subuh dalam suara rintik hujan yang tak mau berhenti sejak semalam lalu. (Jawabannya: ada. Siapa? ayah saya dan adik laki laki saya. Haha.) Ketika lihat laki laki itu di subuh yang dingin pada pertengahan bulan puasa, saya hanya bengong. Berasa kayak pengen banget nyamperin dan “Kak, culik saya ke rumah lalu ukir nama adek di hati abang lewat pena pak penghulu kak. *aaaakkkk gimana saya nggak meleleh liat itu cowok.

Masalah makan, kami katering pada ndalem. Jadi ada anak anak ndalem yang membuatkan kami makan. Kalau saya sendiri sayang kalau makannya nggak dihabisin. “Maaf ya mbak, kalau makannya tidak enak” kata salah seorang santri berusaha untuk merendah. “Halah nyante mba. Saya aja udah makasih banyak dimasakin. Kalau tengah malam harus bangun buat masak pun saya juga males mba” jawab saya untuk membesarkan hatinya. Wajar jika ia berkecil hati. Ada satu dua anak yang tidak menghabiskan makannya karena masalah selera. Piring piring nasi sisa masih tertumpuk dan mereka anak anak malas membersihkan.

Kalau sore, jam habis kelas berakhir. Sekitar pukul lima sore, kami akan menghambur ke jalan D.I Panjaitan untuk hanging out dan mencari jajanan teman berbuka puasa. Cimol, cilok, kolak buah, sirup buah, sate, jus atau apapun tersedia disana. Sangat sangat Jogja kala puasa. Haha.

Suasana di kota santri.. duh.. kok inget lagu jaman kuno ini ya. Haha. Kemudian saya terbayang wajah ibu ketika dulu ibu masih sangat muda, menyantri. Pasti sangat menyenangkan. Seneng rasanya jadi santri. Yah, walaupun abal abal. Ya, karena saya lebih suka dipanggil santri daripada ukhti.

Ramadhan di Jogja

Sudah beberapa tahun saya tinggal di kota cantik ini. Merasakan ramadhan di sini, sebuah yang hanya bisa saya nikmati lewat layar kaca ketika saya kecil. Masjid masjid membuka pintu mereka lebar lebar. Tak hanya kajian, makanan berbuka puasa pun sudah disiapkan dengan ciamiknya oleh takmir masjid. Donasi donasi menumpuki kotak kotak amal yang dilungsurkan setiap harinya. Tua muda pria wanita mau dari kelas sosial apapun tumpah ruah di masjid masijd. Mau itu buber atau takjil hunter. haha

Jogja.. Jogja.. dengan nuansa ramadhannya. Di pinggir pinggir jalan tertata dagangan sumber rejeki bagi pemiliknya. Ngabuburit? selalu ada tempat bagi siapapun yang mencari tempat hang out sore hari. Semua toko dan kedai makanan memberi bonus besar besaran. Perputaran uang terasa membludag di bulan ini. Ah, entah apakah ini euforia keduniawian atau benar benar untuk akhirat. Wallahualam.

Semua orang berlomba lomba silaturahmi berbungkus label buber. Hari ini jadwal buber dengan ini besok hari dengan itu, lusa dengan teman komunitas ini besoknya lagi dengan mantan dan seterusnya. Tempat berbeda beda, dengan nuansa berbeda dan tak jarang traweh di masjid terlewat begitu saja.

Malam menjelang, semua orang tidur hingga sebelum sahur. Untuk orang orang rumahan, tentunya sangat menyenangkan sahur dengan keluarga. Sahur nggak sendirian, ada yang masakin ada yang nemenin. Gimana dengan anak kosan? Jelas sendirian. Haha. Syukur kalau teman teman belum pada pulang. Gimana kalau udah pada minggat ke kotanya masing masing? Ya nasib. haha. Solusinya: menginaplah di kosan teman kalian biar ada yang mengingatkan dan mbangunin. Syukur bisa masak bareng dan makan bareng. Feels like home. Nggak mirip mirip banget tapi setidaknya bisa membantu meredakan kekangenan pada suasana rumah di bulan ramadhan. Solutif nggak tuh. Haha.

Iktikaf, juga bukan hal yang dipandang sebelah mata disini. Bahkan masjid masjid memfasilitasi orang orang pria wanita tua muda anak anak yang ingin iktikaf. Saya sendiri sih belum pernah ikut iktikaf. Tapi melihat pengumuman keagamaan dimana mana rasa rasanya Jogja sangat sangat ramah.

Ah, Jogja.. semoga suatu saat bisa berramadhan lagi disini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s