Perkara Jodoh #3: Ketika Negara Baper Menyerang

Bengong dan mau ketawa. Itu ekspresi saya di malam saya mendengarkan seksama dan dengan sebaik baiknya curhatan dari seorang sahabat. Anak gadis ini sedang baper berat pada perasaannya. Lagi terulang, saya hampir dibunuh prasangka.

“Aku selama hampir sebulan ini kepikiran kamu. Duh, jangan jangan aku udah menyakiti perasaan Putri. Aku jadi nggak enak kalau teman teman nggosipinnya malah aku sama dia”. Dimana secara kampretnya teman teman saya lainnya bilang saya naksir anak laki laki itu. Nah lho.. ini dia masalah lagi. Berprasangka. Padahal mereka cuma ngira ira tanpa tanya saya seutuhnya. Ada salah satu yang bilang –dan itu menguatkan si anak gadis ini bahwa saya benar benar suka, padahal teman saya ini nggak konfirmasi ke saya langsung. Duh dek.. kok do mutusi dewe dewe je.. sedih hati adek kak..

Kalau dianalisa pada saat itu, si anak gadis ini lagi baper berat soal perasaan. Sepertinya perasaan si anak ini sedang rapuh rapuhnya. Iya, apalagi kalau nggak perkara jodoh. Wkwkwkw. Gimana saya nggak ketawa. Orang tuanya udah nyuruh dia buat segera nikah dan dia baper mau kerja dimana sedangkan lapangan pekerjaan yang dia inginkan sangat kecil kemungkinan untuk bisa dikerjakan di Pulau Jawa yang udah makin kering ini. Ayahnya baru akan membolehkan dia keluar Jawa kalau saja ia punya pendamping. Dan yang bikin makin greget adalah ibuknya sebenarnya masih belum rela kalau anak gadisnya pergi dari kota kelahirannya. Dia bingung harus bagaimana dan bertindak seperti apa untuk mencari masa depannya. Ia masih ingin bekerja tapi udah disuruh suruh nikah. Tapi disisi lain dia punya trauma pada laki laki. Ia masih belum bisa membuka diri. Dan baru kali ini ia mulai perlahan belajar membuka hati. Dan baru pada sahabat saya yang lain, ia belajar untuk merasakan bagaimana harusnya perempuan mencoba untuk sedikit mengalah soal perasaan. Belajar untuk menerima seorang laki laki masuk dalam kehidupannya. Belajar olah rasa. Ya begitulah. Dan.. rupanya proses ini bikin si anak gadis baper. Haha.

Lagu Raisa “Usai Disini” yang akhir akhir ini memang sering saya nyanyikan hampir saja dianggap sebagai kode oleh sahabat saya. Saya menepuk jidat sambil memejamkan mata. Matih.. Padahal sayanya emang seneng sama lagu itu. Sayanya emang ngefans sama mbak Raisa yang dan suaranya lebih mempesona daripada rupanya yang memang sudah cantik jelita dari sononya. *mau banget dininabobokin sama suaranya Mbak Raisa.

Sahabat saya ini hampir saja mengira bahwa lagu itu adalah lagu pasrah kalau saya mengikhlaskan seseorang lepas dari saya untuk dirinya. Dan sahabat saya ini mengira ia telah merebut seseorang. Nah lho.. siapa tuh? Sahabat saya yang lain. Hmm.. baiklah. Di titik itu saya sudah bisa mengantisipasi apa yang terjadi kemudian kalau masalah ini tidak segera diluruskan. Saya menjelaskan bahwa saya memang seneng sama lagunya, bukan untuk curhat. Apalagi mengikhlaskan seseorang yang notabene memang sering sekali digosipkan. Weew.. harusnya malah lagu itu bukan untuk yang sering digosipin sama saya. Malah pasnya buat masnya yang aneh, ajaib, tur nggak cetha nun di selatan (karena saya dari suku air utara. lho? haha.) sana yang pernah bikin saya baper. *lhoh.. kok malah njuk aku sing curhat neg wes tau baper karo wong? Wkwkwk. (Mungkin suatu saat akan ada cerita tentang siapa dia).

Si anak cowok yang bikin baper mbaknya ini, memang sudah sangat lama digosipkan dengan saya. Tapi saya (atau kami ya?) dengan lenggang kangkung berusaha cuek dengan omongan orang orang. Ncen lambene cah cah ki ra temata tenan (dasar teman teman saya memang tidak bisa menata bicara). Padahal siapa yang tahu soal jodoh. Nggak ada kan? Jadi, saya pun selo aja. Sudah terlalu sering saya diejekin sama orang. Dari TK sampe sekarang. Orang nggak bosen nyariin saya kecengan buat diejekin. Hobi banget yak. Haha.

Dari pengalaman ece mengece itulah membuat saya tegar *halah.. lebai. Haha. Saya jadi bisa cuek bebek kalau diejekin. Malah saya ingin membuat suasana ejekan itu tidak bikin baper siapapun yang digosipin dengan saya. Saya hanya ingin punya hubungan yang baik saja. pertemanan yang baik.

Beberapa orang yang diejekin sama saya justru menjauh dan menganggap saya merusak segalanya. Padahal apa salah saya?. Kan bukan saya yang minta diejekin. Saya nggak pernah request untuk dipacok pacokke. Saya nggak pernah minta orang orang buat ngejekin. Cuma orang-orang sekitar kami yang kemudian dengan kurang ajarnya membuat gosip yang semakin membesar bak bola salju. Mereka yang merasa terpojokkan tersebut kemudian menjauh dan hubungan kami buruk. Padahal ada perasaan saja tidak. Terbukti emang nggak kuat uji dalam pertemanan. Dolanmu kurang adoh mas.. Pertemanan hancur. Wasalam.

Tapi sebagian yang lain malah justru berakhir dengan pertemanan yang baik. Mereka adalah orang orang asik yang nggak main perasaan. Pertemanan yang dibawa ringan aja, nggak perlu masuk terlalu dalam pada perasaan. Seneng punya kanca gojek kayak gini. Nggak gampang baper dan malah bisa jadi kawan diskusi yang gila. Makasih ya sudah begitu baiknya memahami bahwa pertemanan itu adalah hal yang esensial.

Tapi nggak tau juga dengan orang orang yang mungkin pernah menyimpan perasaan ke saya. Beberapa orang bilang “dasar kamu ini emang nggak peka”. Duh.. apa salah saya kak.. saya emang nggak bisa dikode. Ya maap kalau saya nggak ngeh sama perasaan anda. Nggak bilang-bilang sih. Kan saya nggak ngeh sama kode. Bisanya dibilangin, ngobrol dan bicara apa adanya. Selama ini mata saya tertutup karena dua hal: keluarga dan profesionalitas. Cuma itu dalam kamus adek. *mohon dimaapin adek yang nggak peka ini, kak.

Buat saya kalau jodoh kita ketemu kok nantinya. Ketemu di rumah saya maksudnya. Minta ke ayah saya dan kalau beneran diistikharahi jodoh, orang tua saya setuju, saya klop sama orang tua calon suami saya nantinya dan mas calon cocok sama orang tua saya, maka akan ada nama saya dalam hidupmu hingga ke akhirat sana selamanya. Jadi, biarkan saya bebas dan kamu pun juga silakan mencari hidupmu sendiri. Biarkan kita menikmati anugerah Tuhan yang diwujudkan dalam “tholabul ilmi”. Biarkan kita menikmati anugerah Tuhan yakni kesendirian. Karena dalam kesendirian (atau kejombloan ya? haha) itu kita bisa lebih mengenal diri sendiri dan Tuhan kita, sebelum aku mengenalmu lebih jauh dan sebaliknya. Karena dalam kesendirian itu tercipta banyak rencana, wacana yang akan terlaksana dan nantinya akan jadi cerita ketika dua orang disatukan dalam lingkaran separuh agama. Manis nggak tuh kalau nanti banyak yang bisa diceritain. Wkwkw. Kalau belum sah aja udah terikat, yaudah apa nanti yang mau diceritain. Nggak seru. Intinya jangan menjanjikan sesuatu pada saya. Saya tidak ingin ada janji janji manis karena ayah saya bilang “Laki laki itu banyak yang bajingan. Maka jika laki laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, maka kamu harus belajar jadi orang yang baik juga. Karena usaha bukan hanya dari satu sisi tapi seluruhnya”. maka saya belajar sungguh sungguh dalam segala hal. Nothing to loose. Itulah prinsip keseloan dalam hidup saya. Kalau jodoh nggak akan kemana kok (mengutip dari kata kata ibuk saya). Feel free to live for your next world destiny. Jadi, selo aja dan nggak usah terlalu ngoyo. Kalau udah waktunya pasti datang sendiri.

“Malah tak pikir kamu yang nantinya sama dia, kok malah kamu yang ngejekin dia ke aku”. Haha. Saya ketawa lagi ketika dia tanya hal ini. Simpelnya begini. Jangan dengarkan apa omongan orang. Nggak akan ada yang tahu soal jodoh. Saya masih fokus sama masa depan karena saya masih punya tanggung jawab untuk jadi contoh buat saudara saudara saya. Laki laki yang paling saya cintai masih menginginkan saya untuk mengejar masa depan. Maka saya akan dengan sepenuh hati memenuhi keinginannya. Ayah saya bilang apa ya akan saya lakukan. Jadi, untuk masalah jodoh sepertinya saya tidak siap untuk bersegera. Lagipula saya belum memenuhi syarat. Syaratnya kalih. Kalih sinten. (sama siapa). Haha. Iya kalau yang digosipin sama kita adalah jodoh kita. Kalau bukan?. Emang siapa sih yang bisa menentukan jodoh dengan pasti?. Tuhanku aja belum mutusi aku sama siapa, jadi mari jangan berprasangka. Haha.

“Kamu bukannya ada perasaan ya sama dia”. Nah lho.. ini pasti kemakan omongan orang lagi. Saya adalah orang yang menahan perasaan pada siapapun. Menjaga perasaan saya dan hati karena saya paham konsekuensi jatuh cinta itu berat. *jadi ingat taruhan saya sama Nilam di hari wasanawarsa SMA yang membuat saya kapok untuk berperasaan pada laki laki. Haha. Saya tidak ingin mengulang lagi perasaan jatuh cinta saya yang nggak jelas. Jadi, pada siapapun saya masih belum ingin merasakan perasaan itu. Kami hanya berteman. Perkara apakah dia punya perasaan ke saya, saya tidak tahu menahu. Selama tidak pernah ada omongan, saya nyantai aja. Dan untungnya anak ini adalah anak yang juga tipe santai. Kita diejekin tapi kita bisa jadi teman yang baik. Perkara jika suatu saat nanti dia adalah jodoh saya, yasudah berarti memang sudah digariskan Tuhan. Saya pun juga tidak akan menampik jika memang dia berjodoh dengan saya. Atau bisa saja saya malah berjodoh dengan mantan teman sebangku ketika SD, bisa saja calon saya malah tetangga saya sendiri, atau seseorang nun jauh yang lagi nggembel mencari makna hidup, seseorang yang anak mami yang sedang keluar untuk merasakan kerasnya hidup, atau seorang leader yang sedang berusaha keras menyelamatkan usaha yang dirintis, seorang santri yang mencintai Tuhannya, seorang anak kampung yang harusnya bisa idealis tapi memilih realistis, seorang anak kota yang berpola hidup sederhana nan membumi. Atau jangan jangan seseorang dari masa lalu saya. Semua masih rahasiaNya dan bisa saja terjadi. Tapi untuk saat ini, saya merasa tidak perlu menyimpan rasa pada orang yang dipacok pacokke pada saya, siapapun itu. Kalau saja lauhil mahfuds membolehkan mahlukNya untuk melihat buku di dalamnya, maka saya akan membuka lembaran saya dan mencari siapa jodoh saya. Akan saya datangi dan diskusi panjang lebar soal kesepakatan tentang banyak hal di masa depan sebelum berpisah kembali sampai tiba masa waktunya ia melingkarkan cincin di jari manis saya di depan orang tua kami. Haha. *imajinasimu lho Put. Jan jane, satu yang jadi pikiran saya: pie carane dadi conto nggenah nggo adi adiku. Simpel saja. Bahkan bisa saja si anak gadis ini justru yang jadi jodohnya sahabat cowok saya itu. Well, jodoh siapa yang tau kan? Kalau ternyata kalian berjodoh ya saya akan turut sangat bahagia. Tinggal tentuin tanggal, saya akan atur ulang jadwal hidup saya biar bisa dateng ke resepsi kalian. *eh, inget makan makannya yang enak dan bersegeralah ngasih keponakan buat cicik kalian ini. Wakakaka.

Tapi insiden kayak gini lagi lagi bikin saya mikir. Emang se-blur apa sih saya. Kayaknya saya juga baiknya ke semua orang, nggak pilih pilih. Nggak ada yang spesial spesifik. Atau memang orang dengan mudahnya salah tangkap dan salah mengartikan sikap saya -nggak cewek nggak cowok-. Padahal juga saya kayaknya nggak pernah ngode siapapun dalam bentuk apapun. Selama ini saya hanya mikir kalau hidup itu ngalir dan selo aja tanpa harus ada kode kode. Saya tidak pernah juga menyengaja untuk mendekati siapapun. Nggak ada. Tidak pernah kepikiran menyengaja main main dengan perasaan. Lebih tepatnya belum ada yang harus saya perjuangkan untuk hidup saya karena belum ada kesepakatan dengan ayah saya. Sementara banyak orang tua teman teman saya sudah menyuruh nyuruh anaknya untuk segera menikah, saya masih yang paling selo. Mikir jangka panjang sih udah, tapi realisasinya belum waktunya. Balik ke masalah ini, saya hanya menghela nafas panjang. Duh.. kok terjadi lagi yak.. sekali lagi kena masalah kayak gini, harusnya saya dapat piring cantik. haha.

Kembali ke cerita saya tentang bapernya sahabat saya, saya menutup malam dengan senyum dan syukur. Terimakasih. Betapa Tuhan itu manis. Ia tidak membiarkan saya dibunuh (lagi) oleh prasangka. Tuhan mengirim malaikat yang dengan terbukanya menjelaskan perasaannya dan kami berusaha untuk meluruskan prasangka. Jika saja dia tidak bercerita, maka ia hanya akan ditikam perasaan ragunya. Dan saya akan jadi korban yang tidak tahu menahu duduk perkara –yang mungkin jika suatu saat nanti ada masalah, saya adalah yang paling tertikam karena ketidaktahuan ini-. Yang besok bakal emosi mingseg mingseg lagi karena emosi ditusuk perasaan dan menangisi hancurnya hubungan persahabatan dan kekeluargaan yang sudah dibangun begitu lamanya. Kalau ketemu langsung dan bercerita seperti ini kan lega. Tidak akan ada prasangka yang akan membunuh orang orang di dalam lingkaran ini. Peluk dan terimakasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s