Muara Tenang #4: Makan

Apa yang paling menarik ketika mengunjungi suatu daerah di luar tempat kita biasa tinggal? Satu adat istiadat, dua alam, ketiga makanan. Satu minggu di Semendo adalah kali pertama saya mencicipi makanan khas setempat.

Pempek? Sudah seperti makanan sehari hari disana. Tiap rumah bisa bikin, tiap rumah bisa nyediain. Pempek di pagi hari dengan segelas kopi aroma gunung. Beuh.. enak bener. Tapi ya cukonya itu lho.. kalau perut nggak kuat ya wasalam. Say hi sama kamar mandi. Hehe.

Apalagi kerupuk kemplangnya. Dipajang dimana mana, berderet deret bagai tirai. Mau yang goreng atau panggang? Tinggal pilih.

Tiap kali makan, entah itu makan pagi siang atau malam, hampir selalu dilakukan secara kekeluargaan. Tau apa yang saya maksud? Makan bersama. Cara cara desa gitu lah. Sehelai taplak atau kain digelar di lantai kemudian disajikan berbagai macam hidangan di atasnya. Mulai dari nasi, sayur, lauk, kerupuk, sambal, kobokan, semua lengkap disana. Persis kayak rumah makan padang. Hehe. Piringnya banyak bener. Cara makannya pun pulukan. Ambil makanan ke dalam piring masing masing, diawali dengan prosesi doa, kemudian ambil dengan jari dan makanlah dengan lahapnya.

Tipikal makanan disini, makanan dengan rempah rempah. Bumbu ini itu dimasukin. Yang cukup ngehits adalah bawak ikan. Semacam gulai ikan dengan kuah kekuningan dan aneka bumbu di dalamnya. Tumis tumisan juga menjadi hidangan yang sepertinya wajib ain ada. Entah tumis apa itu. mau tumis tempeh, tahu atau ikan lagi (lagi, ya lagi). O, ya, jangan dilupakan sayur sayurannya. Tak hanya sayur yang dimasak tumis atau sayur bumbu, lalapan juga tersedia di atasnya. Daun katuh (katuk) atau daun apapun yang diambil dari pematang sawah atau kebun sendiri menjadi santapan pelengkap makan siang nikmat. Kenyang pokoknya.

Ikan bisa didapat di pasar atau memancing di kolam dekat desa. Sayuran? Carilah di pinggiran kebun atau hutan. Kalau mau praktis ya beli di warung terdekat. Atau.. menunggu pasar tiban datang.

Pasar

Di Tanjung Tiga, pasar hanya ada di hari hari tertentu. Tidak setiap hari. Modelnya seperti hari pasaran seperti di Jawa. Jadi, tidak setiap hari ada. Para pedagang dari desa desa sebelah datang untuk berdagang aneka macam dari sayuran hingga onderdil hape. Semua ada. Tentu tidak terlalu lengkap. Tapi pasar akan sangat riuh ramai ketika waktunya gelaran dibuka. Mau tua, dewasa, muda, anak anak tumpah ruah memadati pasar. Masih pukul tujuh tiga puluh waktu itu ketika saya menemukan sekelompok anak gadis berseragam SMP berseliweran membeli aneka macam barang di sana. Hmm..

Yang paling menarik di pasar itu adalah saya menemukan hok lo pan. Hanya dengan lima ribu rupiah, saya bisa membawa pulang separuh kue bulan tersebut. Kenyang. Kue martabak bulan –seperti yang diceritakan Andrea Hirata dalam bukunya. Ah, entah apakah benar kue itu atau tidak, tapi rasa rasanya saya jadi mabuk tetralogi Andrea. Melihat proses pembuatannya pun sudah membuat saya senang. *semoga akan ada kesempatan untuk pergi ke Bangka Belitung.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s