Perkara Jodoh #2 : Poligami

Matahari belum juga menunjukkan lambaiannya yang biasanya panas. Perjalanan pulang dari jalan jalan ringan juga belum juga sampai ke rumah. Kami ngobrol ngalor ngidul dan entah bagaimana sampailah kami pada topik bahasan poligami.

“Mbak siap nggak? Gimana menurut mbak?”. Saya memberikan beberapa opsi yang menurut saya akan saya lakukan jika menemukan hal tersebut dalam kehidupan saya.

Matanya memerah dan air bening mengalir pelan di pelupuk anak gadis ini. Sangat terlihat bahwa ia mencoba untuk melepaskan emosi yang sebenarnya sudah sering ia rasakan. “Saya nggak mau mengulangi mbak. Sudah cukup saya dan kakak saja yang jadi korban”. Trenyuh rasanya.

Bicara soal poligami, jadi ingat gojekan dari teman teman. Ada yang sempat menggoda teman teman perempuannya dengan bilang “kamu mau nggak jadi yang ketiga. Yang paling disayang kok”. Kalau digituin jelas saja saya mencak-mencak. “lading, mas” (mau tak lempar pisau, Mas?)

Ingatkah dengan riwayat bahwa Aisyah mencemburui Siti Khadijah?. Ya. Khadijah adalah long lasting love Muhammad. Cinta pertama Nabi yang tak pernah lekang sedikitpun. Beliau ada pada masa berat beratnya Nabi menjalani tahun tahun awal kenabian. Seseorang yang selalu ada dalam masa apapun, sedih senang Nabi. Wajar apabila bekasnya amat dalam. Buat sebagian orang kekinian, mantan pacar aja bisa bikin baper apalagi istri sesempurna Khadijah. Padahal apa sih yang kurang dari Aisyah? Muda, solehah, cantik, pintar. Sempurna juga. Nabi juga sangat mencintai Aisyah. Sangat. Tapi.. ingatan soal Khadijah tentunya masih bikin baper Nabi.

Jadi ingat pembicaraan saya, Suko, Nower dan Hulul empat tahun lalu. Mau milih Khadijah yang tua tapi keibuan atau Aisyah yang muda, cantik luar biasa, pintar?. Nah lho.. buat bapak bapak, apa nggak bingung dikasih pilihan kayak gitu. Kembali ke cemburunya Aisyah ke Khadijah, saya rasa begitulah hukum perempuan dalam satu lingkaran pernikahan. Nggak ada yang nggak merasa cemburu. Apa iya sih perempuan rela rela aja dimadu. Hanya kasus tertentu saja. Hanya orang orang khusus saja yang rela dimadu. Pasti sekali dua kali pernah merasa baper, iri dan dengki melihat perempuan lain. Alamiah lah. Perempuan ingin jadi satu satunya dalam hidup suaminya. Kalau liat perempuan lain, komennya mungkin cuma satu: lading mas..

Di sebuah mobil yang melaju ke tempat saya volunteering mengajar di Desa Sebatang, semua orang membicarakan tentang salah satu kawan mereka yang akan menikah pertengahan tahun ini. “Kok bisa ya ceweknya bersedia dipoligami”. “Lhoh..iya ta? Masak sih?”. “Iya, kan sama mantan calonnya yang dulu batal nikah kan dia. Soalnya mantannya itu nggak mau dipoligami”. Bersahut sahutan obrolan kami ini membicarakan tentang topik poligami. Bagaimana tidak, mas mas calon mempelai ini akhirnya menemukan perempuan yang bersedia dipoligami. Duh.. mari kita garis bawahi kata bersedia. Sungguh perempuan yang waw emejing banget yang jaman sekarang mau dimadu, dan mbak calon mempelai ini bersedia. Wanita bermental baja. Applaus meriah deh buat mbaknya. Semoga pernikahan kalian sakinah mawaddah warrohmah.

Seorang ibu mencari yang mencari kebenaran bak detektif terkejut ketika mendapati suaminya telah memiliki seorang putri kecil. Ya, putri kecil hasil pernikahan kedua yang tanpa ia tahu sudah terjadi bertahun tahun lalu. Dan suaminya itu minta kedua istrinya berdamai dan hidup dengan baik baik tanpa permusuhan. Hidup damai, sudah. Tanpa permusuhan, sudah. Tapi lukanya tentu tak akan baik baik saja. Luka karena kejujuran sudah tercoreng, luka karena berbagi cinta, luka karena ia dan anak anaknya tersakiti. “Ketika tahu berita itu mbak, saya masih kelas empat dan kakak sudah agak besar. Saya menangis.waktu itu”. “Ketika ada acara penting waktu itu, ayah ingin membawa kedua istri beserta anak anaknya. Jelas ibu saya mencak mencak. Bagaimana bisa kami disandingkan bersama, mau ditaruh mana muka ibu saya. Bagaimana nanti komentar orang, apa tidak menyakiti perasaan ibu saya kalau begitu”. Si anak gadis ini jelas terluka dengan sangat. Bahkan hingga saat ini. “Saya tidak ingin hal itu menimpa anak anak saya kelak.”.

Efek pernikahan kedua ayahnya, membuat anak ini dan saudaranya melihat dunia dengan sudut pandang berbeda. Saya mengenal anak pertama sebagai anak yang tough. Sangat sangat tough sehingga ada potensi dominansi. Kemandiriannya jangan ditanya, sangat perfect. Tidak ada yang dia tidak bisa lakukan karena dia banyak memilih untuk melakukan semuanya sendirian. Ia juga sosok yang dihormati karena ia adalah seorang leader yang bisa menempatkan diri dimanapun ia berada. Tapi tidak banyak yang paham bahwa ia dibentuk dari rasa sakit hati dan luka. Banyak hal ia lakukan untuk membunuh waktu, agar ia tak memikirkan luka yang ia derita. Maka, ia jadi orang sibuk yang serba bisa. Kesabaran, waktu dan luka adalah tempaan untuk hidupnya hingga ia bisa jadi orang yang tegar seperti sekarang. Ia melihat laki laki sebagai partner kerja, bukan partner yang bisa diajak berbagi. Ia menahan diri untuk tidak jatuh cinta karena masih ada trauma pada laki laki. Sebagian hatinya sepertinya masih memusuhi mahluk bernama laki laki, walaupun kesehariannya ia baik pada siapapun termasuk laki laki. Sebuah hal yang bisa dimaklumi jika paham bahwa background keluarganya membuatnya belum bisa membuka hati. Hanya ada satu dua orang yang bisa dekat dengannya secara emosional. Nampaknya hanya waktu yang bisa menyembuhkan segalanya dan meluluhkan hatinya. Saya penasaran siapa yang kelak menjadi pendamping untuk selamanya di pelaminan. Haha. *inget.. kateringnya yang enak lho.. saya tamu nggak tau diri. Makannya banyak. Wkwkwkw.

Berbeda dengan adiknya. Adiknya tipikalnya sedikit lebih manja. Apalagi kondisi tubuhnya memang tidak fit karena sakit pada organ dalamnya. Ia tidak sesibuk kakaknya karena ia sakit. Lagipula si adik ini punya perasaan yang lebih halus –rapuh. Kalau kakaknya hampir tidak main perasaan, adiknya masih memakai perasaan. Bahkan ia hampir jadi tetangga saya karena pernah jadian dengan adik angkatan saya SMA dulu. Haha. *ya ampun.. ternyata dunia sesempit itu, kita hampir tetanggaan. Wkwkw-. Intinya lebih kalem lah anaknya.

Gimana dengan kasus poligami karena masalah kebutuhan?. Saya rasa tidak ada satupun perempuan dalam kondisi normal yang bersedia ikhlas dimadu. Salah satu kakek dari keluarga besar saya melakukan poligami karena istri pertamanya mengalami sakit parah. Hebatnya lagi hingga masa tua mereka, nenek kandung dan nenek tiri saya bisa bekerja sama dengan sangat baik. Dan untuk nenek kandung, entah bagaimana beliau bisa dengan besar hati merelakan suaminya berbagi hati. Ia terima semua dengan lapang dada. Di usianya yang sudah hampir sembilan puluhan, ia masih sering berjalan jalan keliling desa dan menengok nenek tiri. Dahulu ketika nenek kandung sakit, nenek tiri lah yang mengusahakan makan dan kebutuhan semua anak anaknya termasuk anak kandung. Hingga mereka semua bisa jadi orang. “Umak, tidakkah Umak dahulu merasa letih karena mengurus kami juga?” tanya salah satu anak dari nenek kandung kepada nenek tiri. “Tidak sama sekali. Ikhlas, itulah” begitu jawaban dari nenek tiri. Dan kerjakeras nenek tiri memang berbayar dengan cinta dari semua anak anak baik dari nenek kandung maupun nenek tiri. Masya Allah. Seluas samudra nenek tiri ini. Memang luar biasa pengorbanan nenek tiri. Saya menaruh hormat pada beliau.

Kasus kedua, nenek keluarga besar saya yang lain. Di masa mudanya, kakek keluarga besar saya memiliki istri lagi. Walaupun dimaki maki oleh buyut karena tidak setuju dengan calon dan cara nenek saya, tetap ia tak bergeming, yang ia inginkan hanya menikah lagi. Ah, entah apa yang dipikirkan oleh wanita yang berhasil menggoda salah satu kakek saya itu. Beliau berpaling dari nenek. Entah bagaimana perasaan nenek buyut saya yang dimadu suaminya. Hingga masa tuanya beliau tidak melakukan balas dendam atau makian atau apa pada suaminya yang telah dengan kurang ajarnya melangkahi keadilan tanpa ijin. Padahal setahu saya nenek adalah seorang mualaf. Bisa saja ia kecewa dengan hidup, tapi ia tak juga balas dendam dengan kembali ke agama lamanya. Ia malah tetap ke masjid, mengaji dan menjadi seorang muslim yang teguh pada agama dan keluarganya. Di masa senjanya saya sering melihatnya duduk tepekur di masjid, melantunkan banyak doa. Pulang, ia tidak enak tidur begitu saja. Beliau menyiapkan adonan gorengan yang sudah harus dititipkan pada tetangga tetangga satu desa. Ia dan anak perempuan ketiganya yang waktu itu masih gadis harus bangun pukul dua pagi dan mengolah dapur hingga mentari telah tinggi. Tugas tak berhenti. Dua anak beranak harus bersiap mengajar ke sekolah yang berjarak kurang lebih dua kilometer. Sungguh hidup adalah perjuangan.

Kurang kasih sayang ayah dan terkena dampak buruk bahtera pernikahan yang timpang. Mungkin itulah yang dirasakan oleh putra putri nenek saya itu dan berimbas pada kehidupan mereka. Anak pertama rumah tangganya juga sedikit berantakan. Anak kedua hidupnya terlunta lunta. Beliau pernah menangis karena ketika mengadu pada ayahnya tentang kuliah Widio, sepupu saya, beliau mendapatkan jawaban kurang mengenakkan “kalau nggak sanggup berhenti saja”. Padahal ia mengharapkan dikuatkan oleh seorang ayah. Ia pulang dengan hati tersayat. Anak ketiga baru benar benar menikah dengan orang yang baik di usia yang cukup matang –dimana resiko untuk memiliki anak sangat riskan-. Itupun setelah si anak ketiga harus merasakan pedihnya dikhianati laki laki bajingan mantan suami pertamanya. Anak ke empat, laki laki, tak bisa diharapkan untuk mandiri. Kerjanya hanya lontang lantung tak karuan dan sangat bergantung pada ibunya. Ia kecewa berat pada ayah yang tak pernah bisa jadi contoh. Hingga saat ini, om saya itu tak juga mau menikah. Takut pada pahitnya pernikahan.

Hubungan dengan keluarga istri kedua suaminya pun tidak akrab. Berjarak malah. Ya, tentu saja. Pahitnya sikap ayah membuat mereka menemukan bahwa jarak adalah penawar perih yang tak kunjung sembuh. Memaafkan yang barangkali bisa terucap tentu tak akan dengan mudahnya diamalkan. Ngomong emang gampang. Tapi menjalani, itulah yang tidak semudah kita mengucapkan.

Ayah saya punya banyak gebetan di masa mudanya. “Pacarnya bapakmu cantik cantik” begitu ibu bilang. Tapi ketika menjatuhkan pilihan untuk ibu saya, beliau sudah bersumpah pada Tuhan bahwa ibu saya adalah wanita kedua di dunia yang paling ia cintai setelah ibunya (nenek saya). Maka, ia  juga mengikat sumpah pada Tuhan untuk tidak menyakiti perasaan ibu saya dengan memiliki istri dua walapun bisa saja dengan mudahnya ia menerima mantannya yang masih mengejar ngejar dia waktu itu. (Saya malah berteman dengan putra putri mantan fans ayah saya ketika saya SMP. Haha. Epik yak..)

Saya pun juga belajar dari pengalaman itu. Cinta ayah saya yang besar untuk ibuk dan anak anaknya membuat saya berjanji dalam hati bahwa saya pun akan seperti beliau: saya adalah satu satunya untuk imam saya dan anak saya nantinya. Itu adalah kondisi normal dimana semua orang bisa dengan idealisnya bilang bahwa kita akan jadi satu satunya yang paling setia sehidup semati. Tapi bagaimana jika kita dihadapkan pada kondisi yang cukup melenceng?. Bagaimana jika imam saya nantinya melakukan perselingkuhan dan tanpa ba bi bu menikah tanpa saya tahu. Menikah tanpa saya pahami bahwa ia bertemu seorang perempuan lain (yang mungkin lebih menarik) dan hubungan mereka sudah berlanjut hingga perempuan merawat si anak yang sudah cukup besar. Bagaimana jika imam saya nanti meminta ijin ke saya untuk menikah lagi dengan seorang yang sudah janda dan butuh bantuan?. Bagaimana jika imam saya nanti justru menceraikan saya dan lebih memilih perempuan lain? Semua hal berkecamuk dan benar benar harus dipikirkan karena menikah bukan hanya soal dengan siapa tapi juga kesiapan mental yang menguras hati. Hmm.. po ra modyaaar aku mas.. (duh.. apa aku nggak mati mas..)

Kasus dimana teman saya ini orang tuanya masih tetap mempertahankan hubungannya karena anak. Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika posisi saya menjadi teman saya. Apakah saya sanggup bertahan dengan pernikahan yang katakanlah berbagi hati. Apakah saya sanggup membagi separuh hidup saya dengan perempuan lain (yang besar kemungkinan akan saya cemburui karena akan membuat saya menangisi sepanjang hidup atas kehilangan saya atas sosok imam yang saya harapkan akan jadi satu satunya leader untuk saya dan anak anak). Apakah saya sanggup menerima kenyataan bahwa laki laki tidak bisa menjaga mata dan hatinya untuk satu orang perempuan saja. Apakah saya sanggup mempertahankan hubungan saya dengan suami saya demi anak anak? Namun jika saya memutuskan untuk berpisah, apakah saya sanggup untuk melihat anak anak saya tersakiti karena kehilangan sosok ayah di rumah? Walau bagaimanapun juga perceraian adalah satu sosok yang paling menyakitkan untuk dikenang. Ah, sungguh saya tidak sanggup. Sungguh sungguh berat dan tidak sanggup. Dan semoga saya adalah satu satunya pendamping (dan bukan satu dari yang lainnya) dalam hidup imam  (saya menjadi yang nomer dua, setelah ibunya. Ya, karena ibu adalah sosok perempuan pertama dan selamanya yang harus dihormati suami) keluarga saya nanti. Mudah mudahan Tuhan mengijabah permintaan sederhana ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s