Muara Tenang #2: Tangkiang dan Perut Kita

Indonesia itu negara agraris dimana lahanya merupakan sumber pangan bagi orang orang yang hidup di dalamnya. Jangankan tanahnya, lautnya pun juga lahan pangan. Sungguh negeri kaya raya. Makanya lagunya Koes Plus “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Ngomong omong soal agraria di Indonesia, tentunya tidak akan lepas dari padi padian sebagai sumber bahan pokok orang orang kita. Padi, makanan yang tak akan jemu dimakan oleh orang Indonesia. Bukan makan namanya kalau nggak pakai nasi. Mau sarapan seberat apapun kalau bukan nasi ya bukan. Haha. *curhat.

Perjalanan saya ke Muara Enim memberikan pengetahuan baru tentang kearifan lokal suku Semendo. Padi lokal disana tumbuh setinggi anak kecil. Ya, benar benar setinggi anak kecil usia lima enam tahunan, bahkan bisa lebih tinggi lagi. Sesuatu yang tidak saya lihat di Jawa. (norak? Ya. Anggap saja begitu). Kata orang setempat, padi yang saya lihat itu bernama padi Batang Gadis. Musim persemaiannya mencapai tiga setengah bulan. Belum lagi hingga menunggu masa panen selesai, butuh waktu kurang lebih enam bulan. Maka orang disini hanya panen sekali dua kali dalam setahun. Berbeda dengan di Jawa yang panennya bisa mencapai tiga kali masa panen maksimal. Karakter tanaman padi di Jawa pun bukan padi tinggi melainkan padi rendah yang paling maksimal tingginya hanya setengah betis.

Pada tahun 2013, Kadin Pertanian, Bapak Said Ali pernah mengujicoba padi pendek yang mampu menghasilkan jumlah panen yang lebih banyak dibandingkan dengan padi lokal. Panen raya dihelat dengan semarak bahkan mengundang Menteri Pertanian pada jamannya, Anton Apriyantono. Akan tetapi selepasnya warga kembali ke padi lokal. Alasannya mereka tidak sanggup untuk terus menerus melakukan penanaman. Kurang sumber daya. Begitulah.

Prosesi pemanenan dilakukan dengan memotong batang padi dan kemudian mengikatnya pada seutas tali talian dan menyimpannya di tangkiang (lumbung). Lumbung-lumbung itu adalah bangunan kecil yang berdiri di ladang mereka. Ada puluhan tangkiang tersebar di sawah sawah Muara Enim. Sangat banyak. Seusai panen pun tidak bisa langsung menggunakan padi yang sudah disimpan di tangkiang. Butuh waktu sekian lamanya sebelum bisa mengambil padi padian. Tujuannya agar padi bisa lebih berkah. Rejeki bisa mengendap. Begitulah.

IMG_9115

Tangkiang di Desa Tanjung Tiga, Semendo

Usai prosesi panen, diadakan selamatan yang mengundang seluruh warga desa. Doa doa dari pemuka adat setempat kemudian ditutup dengan makan makan bersama. Bukan hanya rasa syukur atas rejeki namun rasa syukur atas kebersamaan karena kekeluargaan bisa membuat mereka bertahan hidup selama ratusan tahun di tanah itu. Ya, karena mengerjakan sawah tidak bisa hanya sendirian. Butuh gotong royong.

Saya jadi ingat tentang seminar yang pernah saya ikuti di tahun 2015 lalu. Seorang CEO dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian, Javara, menginspirasi saya. Beliau bercerita tentang sebuah daerah di Jawa Barat yang masih memiliki lumbung padi yang bertahan kurang lebih enam ratus lima puluh tahun. Dan selama itu mereka tidak pernah mengalami kelaparan. Ada benih padi yang berusia tiga ratusan tahun masih tersimpan di salah satu lumbung desa. Sistem pertanian disana hanya panen maksimal dua kali dalam satu tahun. Panen tersebut disimpan di lumbung dan hanya diambil secukupnya saja. Satu rumah setidaknya memiliki empat atau lima lumbung padi, hingga saat ini.

Duh.. sayang sekali saya tidak ingat apa nama desa itu. Tapi mendengar ada sekumpulan orang yang nggak pernah merasakan kelaparan hingga ratusan tahun karena mereka menjaga adatnya, itu something emejing. Very very emejing. Bagaimana tidak. Jaman sekarang siapa sih yang masih peduli sama pertanian? Nggak banyak. Orang cuma kepikiran gimana caranya dapat duit dari apapun yang menghasilkan. Kalau bisa sebanyak banyaknya. Itu mindset jaman sekarang. Jadi ingat pembicaraan saya, Imron dan mendiang Gembel di bulan November 2015 ketika kami nonton konser di GSP. Kami malah menyepi di lapangan belakang sambil menontoni cahaya lampu konser dan mengobrol ngalor ngidul pertanian di negeri ini. Ah.. kami prihatin. Sangat.

Kembali ke cerita sebuah desa itu tadi, saya juga baru dengar cerita bahwa tumbuhan itu juga punya perasaan. Kok bisa?. Nah, ceritanya si Ibu CEO ini tadi diajak ke sawah. Tapi si pemilik sawah tanya duluan “Neng moodnya sedang bagus apa lagi buruk”. Nah lho.. ditanyain mood segala. Saya pun juga akan tertegun kalau ditanya seperti itu. Apa hubungannya mood sama sawah. Peduli apa. Gitu kan.. Lalu si bapak menjawab “kalau perasaan neng lagi buruk, nggak usah ikut. Kasihan tanaman tanaman saya. Mereka juga mahluk hidup. Mood itu menjalar”. Wiii… saya takjub. Teori mengenai perasaan yang menjalar memang saya tahu betul. Tapi bukankah itu antara kita dengan teman teman di lingkungan kita sendiri?. Dan cerita dari CEO Javara itu membuat saya berpikir lebih jauh. Iya ya, tanaman kan juga mahluk hidup. Satu dengan lainnya mempengaruhi. Apabila kita si manusia pun bisa mempengaruhi mood manusia lain, maka tanaman pun juga bisa karena mereka juga mahluk hidup. Subhanallah. Jadi, ini bukan hanya tentang bagaimana bisa menghasilkan. Tapi ini bagaimana hubungan kita dengan alam semesta. Bukan cuma soal muamalah kita dengan Tuhan dan manusia, namun juga dengan mahluk hidup di sekitar kita.

Cerita lainnya, tentang hubungan desa itu dengan alamnya. Panen yang hanya dua kali dalam satu tahun itu disyukuri penuh oleh warga di dalamnya. Tidak hanya lewat doa saja namun juga sikap. Kenapa kok hanya dua kali? Padahal kalau mau tiga kali sebenarnya bisa bisa saja. Mereka merasa tanah dan alam sekitar itu adalah mahluk hidup yang juga butuh hidup. Adanya panen dua kali memberikan kesempatan untuk alam bernafas. Semacam mengistirahatkan mereka karena memang setiap mahluk sudah diberi jatah masing masing. Tidak ada serangan tikus, hama apapun selama ratusan tahun. Tidak ada gagal panen. Ketika ditanyakan mengapa bisa tidak ada tikus?. Si pemilik sawah menjawab “hasil panen bulan Mei ke atas bukan milik manusia”. Jadi.. pelajarannya adalah, manusia bukan penguasa alam absolut. Manusia harusnya bisa menjadi rahmatan lil alamin. Penyeimbang alam karena diantara semua mahluk yang disinggahkan ke bumi, manusialah yang dianugerahi akal. Sangat masuk diakal apabila orang disana mengistirahatkan tanah dan tidak memaksakan alam untuk bekerja terus menerus untuk kebutuhan manusia semata. Ada hak hak mahluk lain yang harus dipenuhi. Dan.. wajar ketika den bagus tikus menyerang. Ya, karena bukan hak kita.

Melihat potensi pesawahan di Semendo membuat saya mulai mencermati kembali kearifan lokal tiap daerah. Kemudian cerita tentang CEO Javara yang mengunjungi sebuah lumbung desa di Jawa Barat dan sekali lagi, desa kakek saya Semendo. Ini tentang makanan. Kebutuhan pokok mahluk hidup.

Jawa dengan kearifannya sendiri –yang sudah sangat amat teramat sangat luntur sekali- sungguh memprihatinkan. Sekarang saya sudah tidak pernah menemukan tradisi baritan (wiwitan) –prosesi ritual doa sebelum musim tanam- dijalankan. Desa saya di Karang Tengah yang luas dengan sawah tidak lagi ada syukuran awal mula panen. Tidak seperti yang diceritakan ibu ketika beliau masih belia. Tidak ada lagi prosesi syukuran pasca panen. Tidak ada lagi lumbung lumbung desa. Itu kenapa saya berteriak norak ketika saya menemukan sebuah foto di laman Wikipedia milik Museum Tropen Belanda yang memperlihatkan foto lawas lumbung padi di desa saya. Ya, desa saya. Karangtengah, Tuntang, Kabupaten Semarang. Sekelompok orang jaman kuno –yang saya yakin salah satunya mungkin saja nenek moyang ibu saya- berfoto di depan lumbung padi yang saya yakin ada di desa nenek saya pihak ibu tersebut. Sumpah, gimana nggak norak. Itu adalah sejarah yang hilang. Sekarang? Jangan harap bisa menemukan lagi lumbung desa. Yang tersisa adalah gubuk gubuk pelepas lelah di tengah sawah. Semua serba cepat dan komersial. Padi hibrida ditanam, ditunggu masa panen, dipanen, dijual, dapat uang, tanam lagi, kena tikus-wereng, rusak, tanam lagi. Begitu sudah. Jangan harap menemukan gabah tua berumur puluhan bahkan ratusan tahun di desa saya.

macanan

 Prosesi syukuran panenan di Desa Karangtengah, Tuntang, Kab Semarang pada tahun 1910 (foto dimuat di Wikipedia Indonesia, Museum Tropen Belanda)

Ah.. janganlah tangkiang tangkiang itu hilang. Ia adalah penyambung hidup manusia. Sampai kapanpun kita tidak akan sanggup berpuasa makan nasi selamanya. Makan adalah kebutuhan yang tidak akan pernah jemu. Ya.. selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s