Ibu Hilang!

Mbak.. ibuk hilang.. ibuk turun barusan.. saya yang melamun terhentak karena adik saya berteriak. Kami sedikit bertengkar karena kecerobohan kami –dan ibu saya- di dalam bis TransJogja waktu itu -sembilan belas Mei lalu-.

Kami tidak bisa menghentikan bis karena SOP bis transjogja tidak memperbolehkan bis berhenti sembarangan. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk berhenti di halte depan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Jogja kemudian kembali berjalan ke halte tempat ibu saya tadi turun. Halte ketiga tidak ketemu, halte dua nihil dan halte pertama tak ada hasil. Kami memutuskan untuk membeli tiket dan lanjut naik bis. Dalam doa, kami berharap semoga kami bisa bertemu beliau di stasiun Jombor.

Perasaan kalut menguasai pikiran kami. Apakah ibu kami bawa uang (salah satu tas yang harusnya ibu bawa pulang malah terbawa kami), apakah ibu tahu jalur mana yang harus diambil untuk sampai ke Jombor, apakah ibu baik baik saja dan seabrek pikiran was was lainnya. Mana ibu saya tidak bawa ponsel. Duh.

Jadi.. ceritanya adalah.. saya, ibu dan adik saya pergi ke Pasar Beringharjo untuk berjalan jalan sebelum mengantar ibu saya stasiun. Pada awalnya kami ingin mengantarnya menuju stasiun Tugu, yang terdekat dengan Malioboro. Kemudian rencana tersebut berubah karena ibu saya ngotot ingin diantarkan ke terminal Jombor untuk menemani kami mencari tiket ke Muara Enim. Yasudah, sabda pandhita ratu. Apa yang ibu bilang bagaikan sabda ratu. Mau tidak mau harus dituruti. Usai keluar masuk Bering, kami bertiga menuju ke masjid dan halte transjogja. Ketika sudah mendapatkan bis yang akan mengantarkan kami ke Jombor terjadilah peristiwa kecer-nya ibu saya.

Di stasiun Jombor, kami sempat menunggu sebentar untuk mencari ibu kami barangkali beliau ada di bis belakang kami. Tapi hasilnya tidak ada satupun orang yang berciri ciri seperti ibu kami. Bahkan kami memutuskan untuk berkeliling Jombor, sudah seperti tawaf barangkali. Berharap ibu kami menunggu di salah satu sudut Jombor untuk menemani kami mencari tiket ke Muara Enim. Tapi.. tak ada. Hanya doa lagi dan lagi. Berharap semoga ia sudah naik bis yang mengantarkannya ke rumah. Positif thinkingnya, beliau dulu adalah anak main yang tahu betul jalan. Jadi.. tak akan tersesat.

Saya tidak berani menghubungi ayah saya atau adik laki laki saya di rumah. Bagaimana saya bisa membayangkan mereka juga akan kebingungan. Jadi, saya memutuskan untuk menunggu barang tiga atau empat jam sebelum benar benar menekan nomer ponsel ayah saya. Jika pukul setengah tiga sore ibu sudah sampai Jombor, maka estimasinya pada pukul setengah enam beliau sudah harus sampai di Salatiga. Dan saya baru akan menelepon rumah pada ba’da magrib untuk menanyakan apakah ibu sudah pulang.

Pukul enam, waktu maghrib saya masih bertemu Santika, Helmi, Niam di perpustakaan. Tetiba ponsel berdering, ternyata bapak saya menelepon. Namun rupanya bukan suara bapak. Suara perempuan yang saya kenal baik sebagai ibu!. Waaaaaaaa… rasaaaanyaaaaaaaa…. Tuhan.. beri hambamu ampunanmu.

Akhirnya kami lega ibu sudah kembali ke rumah dengan selamat. Sungguh hari yang luar biasa.

Rasa rasanya ketawa waktu ingat kejadian itu. Gimana nggak kalut setengah mati. Orang yang harusnya dijaga malah ilang. Saat itu ingatan saya menerawang ke masa ketika saya masih kecil. Adik perempuan saya masih berusia tiga tahun ketika ibu membawa kami ke pasar Blauran, di Salatiga. Saya digandeng dan adik digendong waktu itu. Hingga sampai ke los ikan, beliau menurunkan adik saya dan kami berjalan-jalan seenak udel sementara ibu menawar ikan. Saya terbengong bengong melihat ikan dan suasana pasar yang ramai. Sementara adik saya sudah dengan lincahnya berpindah pindah ke satu penjual ke penjual lain. Ngapain dia? Ya namanya anak kecil, mungkin ia penasaran dengan barang barang yang dijual disana. Adik saya itu tidak lepas dari pandangan saya. Dan.. lima menit kemudian ibu saya kebingungan mencari adik saya. Ia berlari diantara riuhnya pasar dan bertanya kesana kemari mencari seorang anak kecil mini berambut pendek berombak yang sedikit kekuningan. Situasi sangat kalut waktu itu. Hanya saya yang masih bengong karena bingung ngapain ibuk lari lari kesana kemari sedangkan saya masih melihat adik perempuan saya mainan bawang merah di ujung sana. Hingga kemudian ibu saya menemukan adik perempuan saya tersebut, beliau menangis dan mencium adik. Ibu benar benar kalut dan sangat khawatir adik perempuan saya kecer. Apalagi banyak berita mengenai penculikan dan pembunuhan. Jangan sampai anak anaknya mati nggak jelas. Itu berarti ia tidak bisa menjaga titipan Tuhan. Begitu.

Ketika ibu saya hilang di Malioboro, saya merasakan apa yang ibu saya rasakan berpuluh tahun lalu. Kalut. Sangat. Kehilangan orang yang disayangi akan menghancurkan perasaan kita sangat dalam. Saya tidak bisa membayangkan jika kejadian buruk menimpa adik saya ketika ia dulu di pasar. Saya mungkin akan menemukan ibu saya sudah jadi gila sekarang. Dan.. pelajarannya adalah.. jaga dan sayangi orang yang kita cintai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s