Muara Tenang #1

Tahun ini saya berkesempatan untuk nggembel lagi ke pulau seberang, Sumatera. Bersama adik perempuan saya, kami melintasi jarak ratusan kilometer ke arah barat –bukan untuk mencari kitab suci- tapi untuk nggembel. Haha. Swarnadwipa, sambutlah kami.

Dengan uang tipis pemberian ayah, kami berangkat dengan menggunakan bis Rosalia kearah Muara Enim. Pelayanannya  cukup baik. Bahkan ketika kami pulang dan tidak sengaja tertidur, kondekturnya diam diam menyelimuti kami. Co cwiiit.

Saya tidak tahu bagaimana bosannya jika adik saya tak turut serta dalam perjalanan ini. Ya, katakanlah sister traveler. Hehe. Sungguh menyenangkan perjalanan bersama saudara saya ini. Perjalanan dimulai sejak jumat sore pukul 4 sore. Tiga jam kemudian kami sampai di Kebumen dimana kami akan transit ke bis Rosalia lain sekaligus makan malam. Kami menukar kupon makan dengan sepiring nasi dan lauk pauk yang setidaknya cukup untuk mengganjal perut keroncongan. Dua jam di pondok makan itu, kami segera berangkat.

Pukul delapan pagi, kami sampai di Rangkasbitung untuk sarapan dan berganti bis lagi. Tidak sampai satu jam, kami bertolak menuju dermaga Merak. Saya terbangun dan tiba tiba disuruh naik ke kapal. Ini pertama kalinya kami melakukan perjalanan dengan kapal menembus Selat Sunda menuju Pulau Sumatera. Kapal yang cukup menyenangkan dan bagus. Dua jam kemudian, kami sampai di Lampung.

Pertama kali inilah kami menginjakkan kaki di Pulau Sumatera. Mulai dari Lampung, perjalanan teramat membosankan. Seolah olah jalannya teramat sangat panjang hingga terasa tak sampai sampai di tujuan. Kanan hutan sawit, kiri hutan lain. Kanan rumah warga, kiri hutan lagi. Begitu terus sepanjang perjalanan. Kota Bumi, Baturaja dan hingga tengah malam kami sampai di Muara Enim -kota tambang Batubara.

Oleh kerabat, kami dijemput di pool (orang setempat menyebutnya loket) Rosalia. Ada beberapa orang yang juga turun disini termasuk dua nenek gahol berusia tujuh puluhan yang melakukan perjalanan ke Kebumen untuk menghadiri pernikahan cucunya. War biasaa. Beliau berdua mengaku sudah sangat sering bepergian jauh kemanapun dengan moda transportasi apapun. Bahkan salah satu dari nenek itu biasa bepergian sendirian. Di usia senja mereka, keduanya masih menikmati hidup. Ah, jadi pengen nggembel sampai tua. Nanti kalau udah tua pengen jadi nenek gahol yang suka traveling juga. *ups.

Tinggal selama kurang lebih setengah hari di rumah kerabat kami, kami berangkat ke tujuan dengan menggunakan angkot (saya lebih familiar menyebutnya otto). Mobil bak terbuka yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang. Perjalanan yang saya pikir memakan waktu hanya tiga jam ternyata molor jadi lima jam. Saking jauhnya tempatnya, dengan hentakan hentakan mobil yang terkadang oleng ke kanan kiri, beberapa penumpang mabok darat. Muntahan disertai muka pucat bukan hal yang aneh. Bahkan adik saya mukanya juga sudah kepayahan. Heatstruck membuatnya juga hampir muntah.

Pukul sepuluh pagi kami berangkat dan baru pada pukul tiga sore lebih kami sampai di desa Muara Tenang –yang bahkan itu belumlah sampai ke desa tujuan kami, Tanjung Tiga. Kanan hutan kiri hutan. Berkelak kelok dan ada sinyal!. Haha. Telkom*sel kuat. Indo**sat sinyalnya habis sudah.

Saya terkagum kagum norak pada rumah rumah di daerah ini yang satu kampungnya mungkin hanya dihuni tidak sampai dua ratus KK. Cukup kecil untuk daerah nun jauh di pedalaman Sumatera Selatan yang masih terjaga adat istiadatnya. Rumah panggung ala ala Sumatera yang berbahan baku dari kayu hutan belantara Bukit Barisan berderet deret rapi. Sebuah rumah berbentuk persegi, dengan tangga untuk menuju bagian rumah utama yang berada di atas. Rumah disini berkisar tingginya sepuluh meter an. Rumah bagian atas digunakan untuk tempat tinggal utama –ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur dan dapur. Sedangkan ruang bagian bawah untuk toko atau kandang ternak atau kamar mandi atau ruang gudang atau disewakan untuk orang lain. Kearifan lokal ini masih benar benar dijaga hingga sekarang sehingga kalaupun ada gempa, rumah tidak akan ambruk karena strukturnya yang tahan goncangan.

Tidak semua orang memiliki anjing. Tapi anjing bukan hewan yang asing disini. Anjing tidak dibiarkan masuk rumah –mereka menunggu tuannya di lantai bawah. Fungsinya adalah untuk menjaga rumah dan ikut ke kebun. Kakek saya pun juga memiliki dua anjing berwarna krem dan coklat –yang sayangnya tidak ada namanya-. Kalau itu anjing saya pasti sudah saya namain kayak kucing saya di rumah. Haha.

Makan disini mengingatkan saya pada Gorontalo. Ketika waktu makan tiba, sebuah taplak akan digelar dan semua makanan diletakkan di atasnya. Nasi, sayur berpiring piring lauk pauk, kobokan dan piring. Semua orang makan di bawah, bukan di meja makan. Bedanya, kalau di Gorontalo itu merupakan prosesi Monga Rua, kalau di sini setiap harinya emang adatnya begitu. *dan orang disini apa emang seneng banget sama ikan yak? Kok rasa rasanya menunya ikan mulu. Haha. Anyway tinggal disini sebentar memberikan saya kesempatan untuk tahu cara masak makanan tersebut.

Yang lucu adalah belum dikatakan makan apabila belum makan nasi. Ya emang tipikal Indonesia gitu sih. Dimanapun. Hehe. Tapi bertahun tahun hidup sebagai anak rantau –anak kosan lebih tepatnya-. *tau sendiri lah gimana hidup anak kosan yang harus ekstra ngirit- membuat saya terbiasa makan secukupnya saja. Suatu ketika saya ikut makan juadah pulut, nasi ketan yang dimasak gurih dengan taburan teri di dalamnya. Saya yang sebenarnya kurang menyukai nasi ketan menjadi suka. Ya, walaupun nggak terlalu banyak mengambil juadah tersebut. Sedikit porsi saja kenyangnya luar biasa. Hingga menjelang pukul sepuluh saya tidak merasa perlu makan nasi lauk yang sebenarnya sudah disiapkan. Tiba tiba salah satu Pakcik bertanya “sudah sarapan. Pakai apa tadi?”. Saya menjawab “sudah. Juadah”. “Aaiihh.. mana makan itu. belumlah itu sarapan. Ayo sarapan dahulu.”. Saya terbengong bengong. Perut saya masih luar biasa kenyang dan makanan tadi pagi hanya dianggap snack saja. Saya tertawa. Ternyata memang ‘seberat’ apapun snacknya, kalau itu bukan nasi ya tidak akan dianggap makan. Hmm.. baiklah.

Hal yang menyenangkan dari tempat ini adalah saya selalu bisa minum kopi gunung terbaik khas Semendo yang cukup tersohor. Dalam gelas kaca, saya menghirup aroma kopi yang menyeruak sambil menanti mentari naik meyinari Bukit Barisan. Terkadang menunggu kabut turun menghadiahkan hujan pada hijaunya ladang di tepi hutan. Ah, sungguh hidup adalah anugerah.

Menjelang malam, kami bersembahyang berjamaah, mengaji sebentar kemudian berkumpul di ruang tamu yang difungsikan sekaligus sebagai ruang keluarga. Seluruh anak cucu tumpah ruah mengobrol bertukar cerita satu sama lain. Sungguh kehangatan pedesaan yang menyenangkan.

Tidak ada tempat tidur layaknya tempat tidur di rumah rumah biasa. Semua orang menggelar tikar dengan kasur di atasnya dan tidur seperti ikan pindang. Berjejer jejer dalam selimut tebal untuk menghalau dinginnya pegunungan.

Dan aktifitas pagi dimulai kembali ketika fajar hampir merekah. Menangkupkan berbaris doa dalam sunyinya subuh dan kemudian.. kopi lagi. Ah.. bagaimana saya tidak jatuh cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s