Batas Antara Hidup dan Mati

Berapa jarak hidup dan mati?. Dengan apa ia diukur? Satuan panjang, satuan berat? Satuan waktu?. Dengan apa ia bisa ditentukan?. Tidak ada. Tidak ada satupun mahluk yang tahu. Ia adalah sebuah relativitas yang datang tak diundang pulang tak dijemput. Sungguh misterius dan hanya Sang Pemilik Hidup yang tahu. Yang masih muda belum tentu akan berpulang belakangan. Yang senja pun juga tak juga bisa pergi kalau belum waktunya. Dan yang tersisa adalah harapan semata. Sampai dimana kita bisa memanfaatkan masa tinggal di bumi yang sungguh misterius lamanya.

Momen emosional terjadi beberapa kali. Pertama, lima belas tahun lalu. Saya masih sangat belia, masih SD kelas tiga ketika salah satu laki laki kesayangan ibu saya meninggal dunia. Kakek saya –yang sangat mirip dengan puyang pihak bapak- meninggal di usia enam puluh tiga tahun karena sakit prostat dan stroke yang telah menghantuinya selama puluhan tahun. Dengan masalah yang menghantam di tahun tahun akhir hayatnya, ibu saya mencoba untuk tegar mengikhlaskan. Hampir setiap jumat kami berkunjung ke rumah peristirahatan Akong –begitu saya dan adik adik saya memanggilnya- untuk mengirimkan salam. Dalam alunan tahlil dan yasin, saya melihat linangan air mata ibu selalu tak terbendung kala mengingat ayahandanya yang telah berpulang. Sedih melihat ibu saya menangis. Kenangan di makam setiap kamis sore itu membuat saya sadar bahwa jarak antara hidup dan mati dan berbanding dengan orang orang yang kita cintai. Makam, tempat terakhir untuk setiap penduduk bumi sebelum tiba masa ke akhirat. Dan disanalah saya merasa takut karena kita tidak samasekali mengetahui seberapa banyak amal yang sudah kita bawa. Yang kita tahu adalah kita samasekali buta tentang timbangan amal baik dan buruk kita. Semuanya rahasia ilahi.

Kedua, salah satu kerabat yang sangat dekat hampir meregang nyawa karena sakit parah. Sakit yang entah tidak diketahui apa yang menyerangnya selama beberapa bulan. Jauh dari rumah dan tidak tahu harus melakukan apa. Hanya doa yang bisa dilakukan. Hanya doa. Di setiap malam mengontak keluarganya, saya merasa miris karena saya begitu jauh dan tidak bisa memberikan bantuan apapun. Ada saat bertemu dengannya, seperti boneka hidup dengan gumaman dan kesakitan yang tak terlukiskan. Air mata mengalir sesenggukan karena ia ada diantara batas hidup dan mati. Butuh ketegaran untuk membuat semuanya tetap kuat. Saya menangis membayangkan ibu dan ayahnya sayu setiap waktu, badan kurus, memikirkan kesembuhan si adik ini. Tidak ada waktu tanpa memikirkan bagaimana kesembuhannya. Tidak ada cara yang tidak ditempuh untuk membuat semuanya kembali sehat sedia kala. Perekonomian sempat hampir runtuh. Putrinya yang tinggal dari jauh hanya bisa bersabar kala kiriman datang terlambat atau dalam jumlah yang sangat kecil. Yang keren adalah si putri ini bisa melakukan defense mechanismnya sendiri. Ia tahu bahwa rumahnya sedang bermasalah berat. Ia tidak mengeluhkan bahkan ia dengan tegaknya menghapus linangan air mata dan tersenyum kembali. “Bu, Pak, urus adik saja. Dia yang lebih butuh perhatian. Jangan pedulikan saya. Saya masih bisa bertahan dan berusaha.”. Si gadis ini berusaha melukis kembali senyuman orang tuanya dengan fokus mempertahankan hidupnya agar tidak ikut berantakan karena masalah ini. Ia masih tetap semangat belajar dan berusaha bertahan di tengah getir kota rantau. Kecenya, dia bertahan dengan caranya.

Saya belajar tentang kuatnya sebuah keluarga. Saya belajar bahwa dukungan keluarga sangat membantu dalam penyembuhan. Ada banyak orang yang gila atau mati di luar sana akibat sebuah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan. Mereka tak begitu beruntung karena lambatnya penanganan dan kurangnya dukungan (mental, fisik, finansial). Pelukan dari keluarga, terutama ayah ibu dan doa yang dipanjatkan ke Yang Kuasa mampu membawa kesembuhan. Satu satunya yang dipedulikan adalah kesembuhan, keselamatan si adik kecil. Saya membayangkan saya ada di posisi orang tuanya. Bagaimana saya harus berjuang sekian bulan –bahkan tahun- untuk bertahan dari segala mara bahaya. Kehilangan apapun untuk menyelamatkan nyawa putrinya. “anak adalah harta terbesar yang tidak akan pernah akan saya lepaskan”. Mengalirlah air mata di pipi. Jarak antara gila-mati saat itu pastilah sangat sangat dekat. Dan saya menangis terharu karena pada akhirnya bisa melewati segalanya.

Kini si gadis kecil itu telah sembuh total. Tentu ada banyak kenangan yang tersirat semasa sakitnya dulu. Ia tidak dendam. Tidak juga ingin menghancurkan orang yang telah menyakitinya. Hanya saja, semuanya berbekas dan ia sedang dalam tahap mengembalikan kesehatan psikologisnya.

Ketiga, ayah dari sahabat saya masa SD. Beliau meninggal dalam diam satu hari sebelum puasa, tak ada yang tahu ketika jantungnya berhenti berdetak. Di akhir hidupnya, tanpa ditemani istri dan anak, ia berpulang. Meninggalkan kesedihan pada anak terakhirnya yang masih begitu merindukan kasih sayang orang yang sudah dianggap ayah dan ibunya ini. Ya, ayah yang menjadi ayah dan ibu. Seorang ayah yang akan selalu jadi kenangan untuk saya karena beliau yang tak pernah terlihat sedih. Seorang yang selalu merasa bahagia walaupun sejujurnya ia amat kekurangan. Kekurangan cinta, kekurangan kasih sayang, kekurangan perhatian, kekurangan lainnya. Miris. Salah satu yang selalu menyemangati saya untuk terus menggapai cita cita tanpa kenal lelah. “bahagiakan orang tuamu, dek”.

Mata sembab sahabat saya membuat saya tidak berani bertanya. Di depannya saya hanya melempar senyum dan sedikit kelakar untuk menghindari ia terlalu bersedih. Dan pada akhirnya ia sendiri yang bercerita. Panjang dan sangat terasa bahwa bebannya semakin besar. Masalah yang menghantam keluarga kecil utuhnya waktu itu ikut juga terwariskan. Maka, jadilah ia sendirian menghadapi getir kerasnya hidup. Pahit karena ia sekarang sendirian tanpa backing dari orang tua. Ia sendiri. Ibunya telah lama, bertahun tahun bahkan berpuluh tahun betah tinggal di negeri asing tanpa mau peduli bahwa putrinya butuh cinta kasihnya. Dan ketika pada akhirnya ayahnya meninggal, tanpa ada perasaan empati ibunya tak juga sudi untuk merangkul putrinya. Meski kandung, putrinya itu bukan bagian hidupnya. Ia telah hidup dengan orang lain dan membangun mahligainya di negeri orang. Ia merasa bahagia disana.

Saya belajar lewat mata kepala bahwa tidak semua ibu kandung adalah ibu peri baik hati. Saya belajar arti sebuah keluarga. Bahwa ada keluarga adalah tempat berpulang yang paling indah sekaligus bisa jadi tempat yang paling membunuh.  Sebersit harap muncul dalam doa agar ia segera menemukan pendamping hidup dimana ia akan belajar untuk memulai hidup baru dengan menggunakan pembelajaran yang pernah ia dapatkan. Dan semoga keluarga barunya sakinah mawaddah warrohmah. Amin.

Keempat, sahabat yang tiba tiba pergi. Masih sangat teringat jelas tawa candanya ketika satu malam sebelum saya pergi ke tempat mbah, dia datang dan menyapa sambil mempersilakan saya dan Niam makan berkat yang ia bawa dari rumah. “Aku disuruh bapak pergi ke acara nyewu tetangga. Tadi dapat berkat dua.”. Dia tidak mau makan. Akhirnya dalam hitungan menit, satu berkat lahap oleh saya dan Niam.

Kami masih bertemu di pagi hari untuk berfoto bersama. Foto ala ala resmi yang membuat kami terlihat sangat formal seperti CEO yang mau rapat. Masih sangat jelas teringat ia sedikit marah dan kecewa karena harus menunggui selama satu jam sahabatnya yang akhir akhir ini sering kecu. Masih sangat teringat, ia mengupload sebuah video pendek berdurasi beberapa detik yang captionnya sungguh mengharukan. Sesi foto diakhiri pada pukul 11 siang. Kami berpisah. Namun, saya masih sempat melihatnya mengayuh sepeda ibunya melewati rindangnya pepohonan sawo kecik di jalan ‘luar negeri’ di samping perpustakaan tempat kami biasa berjuang untuk TA yang menjemukan namun harus diselesaikan. Ia menuju ke utara, entah kemana. Ternyata perpisahan kami pada pukul 11 itulah menjadi perpisahan terakhir. Terakhir. Untuk selamanya. Ya, selamanya.

Pukul dua siang, saya bertolak dari Jogja menuju ke Muara Enim untuk menengok mbah dan puyang puyang disana. Dan satu minggu kemudian.. Santika menangis memanggil namanya. Saya yang bingung mencoba mengontaknya langsung lewat wasap. Tidak ada jawaban. Ah, mungkin dia sedang sibuk. Memang kebiasaannya tidak segera membalas. Dan baru paginya, Ratna panik mengontak saya untuk mengirimi salah satu kontak yang bisa dihubungi untuk bisa bersama ke Delanggu. Ada apa? Saya masih bingung. Nafas saya tercekat ketika saya membaca berita bahwa ia sudah tiada. Pergi. Untuk selamanya. Air mata tak terbendung, turun melewati pelupuk mata yang kelelahan karena perjalanan panjang. Siapapun.. tolong katakan bahwa saya sedang bermimpi. Bahwa semuanya bohong.

Saya mencoba mengontak beberapa orang. Beberapa tak bisa dihubungi, dan pada siapa yang bisa saya hubungi saya tidak bisa menahan air mata yang terlanjur mengalir. Mereka menguatkan saya bahwa memang sudah saatnya ia pergi. Dalam tiga hari perjalanan pulang, saya terus terbayang dan dalam kesedihan, saya tidak mampu menghilangkan kenangan kenangan yang terus membanjir. Ketika kenangan itu muncul, air mata saya sudah mengumpul di pelupuk bersiap untuk membanjiri kulit yang sudah terasa perih akibat perbedaan cuaca di Muara Enim dan di Muara Tenang.

Saya terpukul. Iya, saya akui itu. Saya tumbuh selama beberapa tahun bersamanya. Mengerjakan proyek bersama, bertukar ide pikiran, saling ejek, saling back up, saling bertaruh untuk sebuah hal yang tidak penting dan saling belajar satu sama lain. Sudah merasa seperti keluarga sendiri. Dia adalah salah satu yang tahu betul apik bosok saya. Kami pernah mengalami banyak masa. Sangat banyak. Dan ia pergi dengan tiba tiba. Saya dan beberapa teman masih menemuinya hari jumat dua minggu lalu. Ya, ketika ia bisa dengan santainya mengejek ini itu. Tertawa dengan lepasnya dan bercanda tentang sidang skripsinya yang dengan santainya ia berkelakar “aku pengennya nggak ada yang datang. Kamu nggak datang juga nggak masalah kok. Ujian tetep jalan”. Dasar.. sakpenake dewe. Sangat tiba tiba, di malam ia pulang ke rumah untuk mengabarkan bahwa ia telah dengan sukses menyelesaikan masa hampir lima tahun tugas belajar di sebuah perguruan tinggi paling hebat di negerinya dengan labu, lobak, balon dan peralatan aneh aneh sebagai bentuk cinta dari sahabat sahabatnya. Ia pulang untuk menceritakan kabar bahagia itu pada dua orang yang paling ia hormati; ayah ibunya. Harusnya itu adalah momen bahagianya, dimana euforia kelulusan –ya, tentunya revisi skripsi masih menunggu-. Ia sudah menanyakan mau magang di sektor pertanian. Ia sudah bercerita tentang mimpi mimpinya. Tapi rupanya, Tuhan ingin ia lebih bahagia apabila ia hidup lama di alam sana. Di tengah malam naas, ia terbaring di Rumah Sakit dengan kondisi yang tidak cukup baik untuk diceritakan. Dua jam kemudian polisi datang mengabari pada orang tuanya tentang kondisi putranya yang mengalami kecelakaan di jalan Yogya-Solo, hampir dekat dengan rumahnya. Pada hari jumat sore, satu hari pasca kecelakaan, ia dipanggil pulang. Iya, pulang ke rahmatullah. Air mata saya masih mengalir hingga beberapa hari setelah kematiannya. Saya bersedih. Ya, berkabung. Merasa kehilangan.

Saya bahagia. Banyak orang mengabarkan bahwa pemakamannya dihadiri sangat banyak koleganya. Bahkan semua timeline media sosial saya dipenuhi oleh pesan belasungkawa. Belum lagi banyak pesan masuk ke wasap memberikan saya penguatan atas kehilangan seorang sahabat. Dasar.. kau mati terkenal, mbel. Hmm.. mati dikenang. Saya berbahagia. Sangat bahagia. Ia pergi di hari jumat dengan tujuan yang baik –tujuan menegakkan agama- dan ia dilepas dengan cinta oleh teman teman dan keluarganya. Sungguh momen mengharukan. Apalagi hingga akhir hayatnya, mendiang tidak lepas dari dzikir dan sembahyang meskipun kondisinya sangat jauh dari memungkinkan. Ia hebat. Saya akui. Sial kau. Sangat sangat hebat. Hei kau.. pasti kau tersenyum dengan riangnya di alam sana.

Hingga berhari-hari, kenangan kenangan itu masih berseliweran dalam perasaan saya. Air mata mengalir merasa kesedihan mendalam. Ya, kesedihan tentang batas hidup dan mati yang amat tipis. Saya kehilangan salah satu teman yang religius tapi kayak gembel. Kayak gembel tapi rasa cinta pada Tuhannya amat besar. Religiusitasnya yang tidak diragukan tidak juga menjadikan dia sebagai seorang akhi di mata saya. Seorang gembel malah. Seorang yang upside down. Damn. Jadi ingat ketika ia mengenalkan teman mainnya sebagai gembel-gembel di depan orang tuanya. Kamu emang kurang ajar. Salah satu yang selalu membackup saya dalam waktu waktu berat. Selalu menitipkan wejangan dalam ejekannya yang super menyebalkan. Selalu tidak suka ketika saya murung. Selalu mau menunggui saya kembali ketika saya sedang bepergian. Dalam banyak diskusi yang tidak selalu berjalan dengan lancar, saya banyak belajar mengenai sudut pandang. Sangat banyak.

Saya masih menangis. Iya, menangis. Cengeng. Iya, sangat cengeng. Sangat sangat cengeng. Selain kesedihan karena ia pergi –tapi bukan itu yang membuat saya sedih luar biasa-. Ini tentang batas antara hidup dan mati yang lebih tipis daripada lembaran buku yang paling tipis sekalipun. Sungguh waktu adalah rahasia. Saya mengingat sebuah surat yang menyatakan “Demi Masa”. Ada banyak hal disana yang berhubungan dengan waktu. Ya, waktu. Dimana tidak ada yang absolut. Demi Masa, sesungguhnya manusia ada dalam kerugian. Gembel mah enak. Dia mungkin sedang santai santai di alam sana. Nerusin jadi atlet dolan mungkin disana, ditungguin oleh bidadari bidadari. Sedangkan saya disini ngeri sendiri dengan amal amal yang saya lakukan. Sudah cukupkah? Gilak.. saya hidup selama ini ngapain aja ya? Sudahkah saya serius memikirkan akhirat? Gimana kalau ternyata timbangan amal saya berat ke kiri? Gimana kalau amal saya nanti abis karena ada orang orang yang nggak rela dengan salah yang saya prbuat ke mereka. Bagaimana nanti saya di kubur? Siapa yang mau nengokin? Apakah akan ada yang masih mengingat saya dengan lantunan tahlil dan yasin nantinya? Bagaimana dengan siksa kubur atau saya akan ditidurkan pada permadani cantik selembut sutra hingga menanti hari pembalasan? Apakah saya akan berkumpul dengan orang orang yang saya sayang di surga nanti? Atau saya akan pergi ke neraka karena saya berdosa bergunung gunung yang butuh ratusan tahun di akhirat sana untuk menebusnya?. Ratusan pertanyaan berseliweran. Pahit. Air mata tak terbendung.

Kedua, saya masih cengeng. Iya, cengeng. Saya mengingat orang tua gembel. Dua orang yang sangat kocak dan baik hati. Dan mereka pernah dengan baik hatinya memback up saya ketika saya pernah bermasalah. Kehilangan putra satu satunya pasti akan membuat hidup mereka serasa dipukul dengan hebatnya. Atiku ndledek. Saya tidak tega melihat mereka. Saya tidak sanggup merasakan pahitnya perasaan mereka. Gembel sangat sangat patuh pada orang tuanya, dan gembel juga seluruh hidup kedua orang tuanya. Ketika Tuhan mengambil putranya, apakah mereka siap. Air mata saya mau tumpah ketika ibunya bercerita pada saat masih SMP, ia mengayuh sepedanya sampai ngos ngosan dan pulang telat karena hanya ingin membelikan ibunya blus dan kerudung sebagai hadiah ulang tahun. Anak sekecil itu. Ah, kamu menyebalkan. Iya, perempuan satu satunya dalam hidupnya masih ibunya, hingga saat ini. Walaupun kami sempat berspekulasi bahwa ia mulai jatuh hati pada seseorang. Ah, mbel.. kangen ejek ejekan sama kamu.

Tapi lepas dari air mata yang masih sesekali menetes, saya melukis senyum dengan matahari dan langit cerah. Setiap orang punya keberuntungannya masing masing. Gembel mungkin beruntung karena Tuhan mengambilnya lebih cepat dan menghentikannya dari dosa dan maksiat dunia serta menggantikannya di tempat tunggu terbaik sebelum ke akhirat. Dia membuat orang orang iri. Tapi saya juga merasa diberi Tuhan sebuah kenikmatan yang tidak boleh dilalaikan. Nikmat umur panjang yang lebih lama daripada masa hidup gembel di dunia ini. Ia bisa saja berbahagia disana, tapi jangan lupa bahwa saya juga masih diberi kesempatan yang sangat besar untuk beramal soleh sebelum menyusulnya ke alam sana. Kesempatan yang sangat tidak boleh disia siakan. Kesempatan untuk berbuat baik, mengerjakan amal soleh dan menebar kasih sayang kepada orang lain. Bisa jadi amal amal itu juga akan mengantarkan saya ke surga. Maka, saya berdoa semoga saya masih bisa mengasuh anak cucu. Saya masih ingin lihat anak cucu tumbuh. Masih ingin merasakan bagaimana perjuangan ibu dan bapak saya dulu mengasuh saya dan adik adik saya yang tentunya menguras tenaga mereka berdua. Saya ingin ibu dan bapak memberikan pelukan dan ciuman pada anak cucu saya.  Saya masih ingin merasakan dinamika keluarga dan dinamika hidup yang akan bisa dilalui dengan kekuatan yang saling melengkapi dalam sebuah keluarga. Pasti sangat indah. Saya masih ingin anak cucu saya mengunjungi tempat peristirahatan terakhir saya kelak dengan lantunan tahlil yasin dan tidak akan membiarkan makam bagai tak terurus. Ya, karena urusan manusia tidak hanya terhenti ketika nafasnya terakhirnya berhembus. Urusannya adalah selamanya.

Well, mbel, terimakasih atas pelajaran pelajarannya selama ini. Maaf saya cengeng, tapi percayalah cicikmu akan segera riang kembali. Salahmu udah dimaafin semua kok. hehe. *kurang ajar banget yak saya. wkwk. Berbahagialah disana ya.. :).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s