Beratnya Memimpin

Pesta demokrasi, pesta pendidikan dua mei lalu. Saya masih tertegun dengan kerumunan banyak orang yang sedang berteriak teriak di terik siang panas yang membakar. Saya berjalan pelan diantara kumpulan adik adik angkatan yang sedang memperjuangkan haknya. Kami bertemu dengan teman teman lain, menyapa dan duduk kembali larut dalam euforia siang hari pendidikan.

Lima jam yang lalu saya penasaran karena mars suporteran layaknya pertandingan olahraga di gelanggang. Saya mengikuti kemana arah angin membawa suara suara itu. Hingga ke sebuah hall terbuka besar di kampus politik, suara suara itu semakin membahana meneriakkan tuntutan tuntutan yang diperjuangkan mereka yang ingin meraihnya. Saya berdiri tepekur sebentar kemudian berlalu karena saya punya kepentingan lain yang juga harus saya selesaikan.

“Ayo nonton cik”. Arma, Helmi dan Safura menghentikan lamunan siang saya dan mengajak untuk sejenak pergi ke bundaran besar di gedung pusat sana untuk melihat keramaian yang tak hanya ramai di kenyataan namun juga di kemayaan. Dengan malas, saya beranjak dan menemukan manusia manusia berjas yang hampir sewarna dengan karung goni berjalan berseliweran kesana kemari. Berita mengenai turunnya mereka yang menuntut sudah menjadi viral di dunia maya. Sangat sangat membahana mungkin hingga ke seluruh Indonesia.

Lalu lalang anak anak berjas krem menuju hijau kekuningan membanjir seperti koloni semut. Sekelompok anak duduk di bawah pohon dan sisanya mencari cari tempat yang tak membuat mereka harus menjerang diri di bawah terik dua Mei.

Satu menit dua menit, jam berganti, kerumunan bertambah riuhnya. Satu dua orang dengan pengeras suara mencoba utuk meniupkan bahan bakar semangatnya pada massa yang semakin panas. Kami semua menunggu hasil negosiasi sekelompok anak dengan ibu yang masih juga belum mau turun menemui kami.

Menit berganti, masa tak sabar lagi tapi masih mau menunggui ibu untuk mau bersedia menyapa anak anaknya. Pukul tiga mentari masih bersemangat untuk membakar kota ini. Begitu juga dengan si anak anak ini, masih juga bersemangat untuk menunggu datangnya ibu. Momen yang ditunggu datang juga. Ibu didampingi beberapa orang di belakangnya membelah kerumunan menuju tiang bendera yang berkibar hanya separuhnya. Diiringi teriakan masa, ibu tetap tegar mengurai tali, menarik bendera hingga sampai ke ujungnya, membuat bendera pusaka tegak lagi berdiri menjadi saksi riuhnya suasana siang itu.

Ibu berjalan membelah kerumunan menuju pilar pilar besar gedung kokoh saksi sejarah yang berdiri sejak kampus ini masih sangat balita. Dengan sabarnya beliau mencoba peruntungannya untuk mengambil hati masa yang sedari tadi menahan amarah. Anak anak terduduk ingin mendengarkan kepastian tuntutan mereka pada ibundanya. Satu kalimat dua kalimat meluncur hingga berkalimat kalimat selanjutnya. Diiringi sedikit riuh masa mengomentari paragraf yang ia dendangkan di sore terik itu. Belum ia menyelesaikan kalimatnya hingga ke titik terakhir, sekelompok anak laki laki dan perempuan berdiri memaki dan menunjuk muka tanda tak setuju dengan kata ibunda mereka. Si anak yang marah karena orang tuanya. Si anak yang marah karena menganggap ibundanya otoriter. Si anak yang kecewa karena si orang tua dianggap tak mendengarkan mereka.

Ibu mulai panas. Dalam gusarnya, ia masih mencoba menenangkan anak anaknya. Ia masih mencoba mengambil hati anak anaknya dengan mengajak bicara baik baik. Tapi ia juga manusia. Di satu titik, kemarahannya memuncak. Ia memperingatkan anak anaknya untuk berusaha sopan dan berbicara dengan cara yang sopan pula. Satu dua anak yang tidak terima berusaha meneriakkan provokasi bernama keotoriteran. Ia merasa si ibu terlalu otoriter. “otoriter.. otoriter..”. suara semakin membahana, hingga ke ujung jalan disana. Pengendara yang melintas mungkin akan berhenti sejenak untuk melihat apa yang terjadi di balik pagar sana.

Ibu marah, penat dan mungkin lelah. Ia berbalik badan dan menghilang dibalik kerumunan diiringi penjaganya. Masa masih marah. Mereka mengejarnya bak mengejar anak ayam yang lari ke pelataran. Ricuh, tak teratur dan penuh kemarahan. Di tangga, menanti para penjaga yang berjaga jaga tidak membolehkan masa naik. Masa yang marah tertahan di bawah. Sementara sebagian di antaranya telah sampai di atas mengejarnya bak semut yang berlari menuju sumber gula. Yang tak bisa naik, menunggu di bawah sambil menggumamkan mars sekolah mereka dan beberapa lagu pengibar semangat.

Saya berbalik dan pulang. Saya lelah dan haus. Satu detik lalu, saya ada disana. Ya, disana. Melihat sendiri bagaimana marahnya mereka, bagaimana mereka juga memikirkan nasib teman temannya, memikirkan nasib pendidikan ini. Memikirkan jalan keluarnya. Memikirkan segalanya. Ya, segalanya. Tapi mereka lupa, ada sopan santun yang harus dijaga. Bukan begitu caranya untuk bicara pada orang tua. Walau bagaimanapun mereka adalah orang tua yang harus didengarkan tutur katanya. Ya, ibu memang pada awalnya menolak dengan sangat untuk bertemu. Tapi pasti bukan hal yang mudah untuk menurunkan egonya untuk turun sebentar menghadapi anak anaknya yang marah, kepanasan, lapar dan haus (dan mungkin disetir emosinya). Lima menit saja, tentu bukan hal mudah. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengabaikan egonya, mengorbankan dirinya untuk siap dengan cacian dari masa. Mungkin ia juga sepertinya sadar bahwa mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan. Ia tetap melaju.

Ketika satu kalimat didengarkan dan kemudian ia belum selesai dan si anak memotong. Saya bisa merasakan betapa marahnya beliau. Menunjuk nunjuk dengan marah, seperti halnya mereka yang paling benar saja. Berkata kata kasar dengan nada tinggi. Bukankah Nabi melarang kita untuk berkata kasar dan bernada tinggi? Bukankah kita harusnya berkata lembut kepada mereka, tidak menyakiti perasaan mereka dan takdzim?. Ya, memang ada kesalahan yang ibu dan teman temannya lakukan. Tentu mereka bukan Muhammad yang tanpa cacat. Mereka manusia biasa dengan sekian kebaikan dan kebobrokan bersanding jadi satu. Memang statement dan kebijakan mereka terkadang bertolak belakang dengan apa yang kita harapkan. Tapi, mari kita lihat diri kita. Bukankah kita sebagai anak juga banyak salah? Apalah kita yang belum lama hidup di dunia dibandingkan mereka yang sudah mengenyam separuh hidup di dunia. Apalah kita yang belum merasakan pula pusingnya jadi mereka mengurus –jangankan tiga hal- pasti berhal hal yang mereka harus urus. Apakah mereka hanya diam saja? Tentu tidak. Mereka pasti juga melakukan hal hal untuk membereskan urusan urusan itu. yah, walaupun mungkin caranya berbeda dari apa yang kita harapkan. Toh, ini adalah masalah perbedaan sudut pandang. Tak akan bisa menemui jalan terang jika tidak duduk bersama dan ngobrol dengan baiknya. Ya, bukan ngobrol di bawah panas mentari yang bikin laper dan haus –dan bikin capek pengen bobok siang sehat. Tentunya bukan hanya ngobrol satu dua kali. Harus berkali kali agar kita sepaham dan menemukan sandaran untuk sudut pandang kita. Dan.. harus semua pihak mau duduk bersama. Percuma jika hanya satu yang mau duduk saja. Harus keduanya. Bukankah harus ada yang menjadi pendengar dan yang berbicara? Harus ada yang berbicara dan yang lain mendengarkan bukan?.

Tuhan, betapa berat jadi pemimpin. Mengayomi tentu bukan hal yang mudah. Saya tidak bisa membayangkan ibu menangis dalam malamnya, menangisi betapa beratnya memimpin lima puluh ribu lebih manusia yang mencoba mengais ilmu disini. Saya tidak bisa membayangkan apakah jika nanti saya diberi kesempatan untuk memimpin, apakah saya akan bisa ikhlas dan tegar. Jika saya harus berkonflik dengan anak anak saya, apakah saya bisa mengambil hati mereka dengan cara yang lembut? Apakah mereka akan juga mau menurut untuk duduk bersama tanpa anarki? Apakah mereka mau belajar jadi pendengar yang baik (ya, karena seorang pemimpin yang baik harus juga jadi pendengar yang baik)? Apakah kami akan bisa menemukan satu titik dimana kami bisa win-win solution? Apakah kebijakan yang saya buat akan menjadi tepat? Akankah saya menangis setiap malam karena beratnya beban saya? Akankah saya bisa mempertanggungjawabkan segalanya?. Saya takut peradilan di akhirat nanti membelenggu dan menghambat saya merasakan wangi surga. Damn.. begitu berat jadi seorang pemimpin. Dan pemimpin adalah yang akan ditanyai pertanggungjawabannya, kelak disana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s