Blus untuk Hidup

Saya tidak langsung pulang ketika teman teman saya usai makan malam sore ini. “Saya mau jalan jalan sebentar, nggak lama kok”. Kelip pemandangan kota membuat saya ingin menghabiskan waktu barang sejenak. Terlintas lirik Dear God milik Avenged Sevenfold di pikiran saya.

Sebenarnya bisingnya kendaraan tidak serta merta membantu saya rileks. Tapi mau bagaimana lagi, adanya cuma ini. Simpel saja. Tidak terasa saya sudah berjalan sepuluh menit –setelah berhenti beberapa kali meresapi cahaya kota yang tak kunjung pudar. Seorang ibu muda menghentikan saya. “Mbak, dibeli bajunya”. Saya berjongkok dan mengambil sebuah gamis bunga bunga merah muda yang sudah tidak terlalu bagus tapi masih layak pakai. “Maaf mengganggu mbak, mohon dibeli. Saya belum makan sama sekali.”. Putri kecilnya masih bermain main dengan tanah di dekatnya. Ia mengulurkan selembar kartu KTP –yang saya tau KTP itu adalah KTP keluaran lama, bukan e-KTP seperti dilegalkan oleh pemerintah. Saya menarik napas. Haruskah saya curiga? Jangan jangan ibu ini sebenarnya bukan orang yang tidak mampu yang ingin menipu. Pemerintah sendiri akan mendenda orang orang yang memberi uang pada peminta minta. Sempat terlintas pikiran seperti itu namun saya abaikan. Ibu itu adalah seorang penjual, bukan peminta minta. Dia tidak begitu saja meminta uang, tapi ia berusaha menjual apa yang ia punya. Well, kita akan lihat permainannya terlebih dahulu. Barangkali ibu muda ini memang benar benar membutuhkan.

Saya menemukan sepenggal kisah lagi malam itu. Tentang background ibu ini dan keluarganya yang terjerat pada sulitnya mencari makan. Klise memang membicarakan soal kemiskinan di sekitar kita. Jadi ingat teman teman yang hobi sekali ngobrolin kemiskinan dan menunjuk nunjuk orang korupsi dan menuntut mereka segera dilengserkan –dimana terkadang mereka suaranya tenggelam dalam bisingnya kendaraan di terik siang kota-disertai dengan bakar bakar ban, bikin macet jalan dan tidak ada yang mendengarkan selain beritanya dimuat di koran lokal. Pertanyaannya, apakah aksi sosial nyata mereka dalam menanggulangi kemiskinan sekonstan cara mereka berdemonstrasi memaksa wakil rakyat untuk turun?. Ah, sudahlah. Malas bicara soal itu. Kembali pada kenyataan yang saya hadapi di lapangan.

“Tetangga tetangga saya tidak ada yang peduli mbak. Saya mau pinjam sepuluh ribu untuk makan anak saya saja tidak boleh. Padahal malamnya dia beli motor baru”. Si ibu terlihat hampir menangis. Tetiba saya teringat perkataan guru SD saya bahwa Nabi melarang mengabaikan tetangga tetangga kita. Jika ada tetangga kelaparan dan kita tidak tahu karena tidak peduli, maka kita juga yang kena cipratan dosanya. Tapi ya memang tidak semua tetangga mau bantuin tetangga lain yang kesusahan. Ya memang kenyataan seperti itu. Manusia ada yang baik dan ada yang buruk.

Ia dan suaminya adalah pemulung yang memiliki tiga anak. Anak pertama sudah berusia tujuh belas tahun dimana pada kelas lima SD yang lalu, ia memutuskan keluar dari sekolah. Ia sakit hati dengan perlakukan temannya yang mengatakan bahwa ia sebaiknya pakai rok mini dan menjajakan diri seperti pelacur. Si gadis ini marah dan memukul temannya yang kurang ajar itu. Orang tua si anak tidak terima dan akhirnya urusan itu berbuntut panjang. Imbasnya si gadis tidak mau bersekolah lagi karena teman temannya menjauhinya. Lingkungan sosialnya seperti sudah memusuhinya dan ia pun sama sakit hatinya. Malas mau berinteraksi lagi dengan dunia sekolah. Takut terluka lagi.. dan lagi.

Si anak kedua masih kelas tiga mau naik ke kelas empat. Sayangnya si anak kecanduan game online dan ia akan merengek minta uang jajan lebih agar bisa memenuhi keinginannya tersebut. Jika tidak diberi? Ia akan menangis dengan kerasnya. Si ibu kebingungan karena ia tidak punya uang. Setiap hari, ia dan suaminya hanya mendapatkan kurang lebih tiga puluh ribu hingga lima puluh ribu rupiah yang tentunya habis hanya untuk kebutuhan makan lima orang dalam sehari.

Si anak kecil terakhirini bernama Nabila, kelas TK Besar. Ia berceloteh riang bahwa suatu saat ia akan menjadi dokter. Saya tersenyum mengamini. Semoga orang tuanya peduli bahwa Nabila tidak boleh putus sekolah seperti kakaknya. “Jaman sekarang sekolah bisa gratis bu. Tidak seperti saya dulu. Kalau Nabila rajin ke sekolah dan ibu mendukung penuh ia melanjutkan pendidikannya, saya pikir masalah biaya bukan masalah”. “Iya, mbak. Saya ingin lihat dia berkuliah”.

Tentang si anak tertua. Si anak tertua merasa tidak mau sekolah karena merasa kecewa dengan perlakuan teman temannya. Ya, dukungan sosial sangat penting untuk mempertahankan kita dalam sebuah lingkungan. Kalau tidak mendukung, memang akan jadi beban berat untuk kita melangkah. Tapi sayang sekali orang tuanya tidak berpikir luas soal pendidikannya. Jadi teringat ketika adik saya malas masuk sekolah. “Kalau kakakmu nanti jadi duta besar, adikmu jadi dokter, kamu jangan iri ya”. Dan adik saya pun jadi semangat lagi karena ayah saya sedikit ‘memotivasi dalam pemaksaan’. Kembali ke masalah si ibu muda ini, harusnya orang tuanya memotivasi si anak tertua ini untuk tetap bertahan dalam sekolahnya dan berusaha sekuat tenaga beradaptasi dengan lingkungannya. Nggak dapat temen? masih banyak temen lain yang sama baiknya kok. Koreksi diri, pikirkan solusi dan serahkan padaNya. Simpel. Toh, bukankah orang orang dikumpulkan berdasarkan niat?. Pertemanan itu hanya masalah bagaimana kita bisa membawa diri dan beradaptasi. Dua kemampuan itu yang akan butuh EQ yang tinggi yang akan menentukan berhasil tidaknya kita bertahan pada suatu lingkungan. Dukungan sosial akan membuat kita nyaman untuk beraktifitas –yah setidaknya untuk selesai menempuh pendidikan. Jika hanya bicara soal pragmatisnya, setidaknya si anak ini harusnya memiliki ijasah untuk menegaskan status sosialnya bahwa ia setidaknya pernah menempuh pendidikan. Ijasah memang hanya simbol. Tapi setidaknya akan bisa digunakan sebagai alat untuk menolongnya jika suatu saat ia ingin bekerja- menolongnya memutus tali kemiskinan yang menjerat keluarganya. Lebih dari itu, lewat pendidikan akan didapat banyak sekali peluang untuk belajar banyak hal. Bukankah Tuhan pernah berjanji akan meninggikan derajat orang orang yang belajar?.

Tentang si anak nomer dua. Harusnya orang tuanya bisa sedikit lebih keras pada si anak nomer dua –apalagi ia adalah laki laki. Game online itu menghabiskan uang dan lingkungan juga berpengaruh. Orang tua harus tahu dengan siapa si anak berteman dan menghabiskan waktu di luar rumah dimana saja. Jadi kontrol orang tua akan membuatnya paham bahwa hidup cukup mubadzir nak jika kamu hanya berdiam diri di depan layar game padahal kamu masih punya hidup panjang untuk belajar. Ya, kamu adalah laki laki yang suatu saat dituntut pertanggungjawabannya sebagai individu, anak, suami, pemimpin. Jika kamu saja tidak bisa patuh dan tidak bisa belajar memahami tanggungjawabmu, maka bagaimana kamu akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan?. Akhirat tidak semudah itu nak.

Tentang si anak nomer tiga. Ia masih sangat hijau dan sepertinya akan jadi permata keluarga jika bisa diarahkan. Lagi lagi kembali pada si orang tua. Apakah orang tuanya cukup kuat mental untuk mengarahkan, maka akan terlihat hasilnya setidaknya dua puluh tahun ke depan. Mungkin, tantangannya adalah how to keep this girl’s flame. Bagaimana menjaga semangat si anak perempuan kecil ini agar mau konstan belajar dan menjadi pribadi yang tangguh. Saya jadi ingat cerita sepupu saya yang harus memadamkan mimpinya karena orang tuanya selalu merendahkan kemampuannya. Well, mungkin kemampuan IQ nya dianggap kurang. Nggak pinter pinter banget gitulah ditambah lagi dengan kurangnya kemampuan ekonomi orang tuanya. Sungguh saya sangat kecewa terhadap orang tuanya karena hanya soal biaya yang kurang, mereka tidak mau meninggikan hati anaknya soal sekolah. Saya kecewa karena orang tuanya tidak kreatif. Tidak kreatif karena hanya berpangku tangan saja seolah menyerahkan semua pada nasib. Padahal mereka pernah belajar bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib dan nasib itu adalah lembaran coretan pada kertas putih yang masih bisa dikoreksi kembali. Mereka tidak mendengar saran kanan kiri bahwa si anak bisa saja melanjutkan pendidikannya dengan banyak cara. Banyak sekali jalan menuju Roma. Tinggal mau berusaha atau tidak. Toh, tidak semua dengan mudahnya jatuh dari langit. Nah, sialnya, si anak juga termakan pandangan orang tuanya. Buat apa mbak, udah capek. *duh dek.. sedih saya. Kembali lagi ke topik si anak perempuan kecil ini. Semoga ia jadi anak kreatif yang tidak mudah berpangku tangan melihat nasibnya yang sedang di bawah. Kelak jika ia ingin melanjutkan pendidikannya tapi masih tak punya biaya, semoga ia tahu bahwa banyak jalan untuk mewujudkan keinginannya. Semoga ia akan jadi seorang yang mau bersusah payah untuk itu tanpa mau menyerah.

Menyelami sedikit background keluarganya membuat saya berpikir bahwa kebutuhan menjadi akar ia menebalkan muka menjadi peminta minta. Well.. bukan peminta minta juga. Ia menjual baju bajunya untuk sedikit makan. Lima potong baju yang entah dihargai berapa oleh yang merasa kasihan olehnya. Iya kalau ada orang yang mau beli bajunya, iya kalau bajunya ada yang laku, kalau semua laku maka barang apa yang besok akan ia jual lagi. Ia dan suaminya mungkin tahan tahan saja kalau tidak makan. Tapi bagaimana dengan anak anaknya? Tentu perut mereka tidak akan sanggup menahan perih gerusan dinding lambung.

Saya kembali menatap blus blus itu. Menarik napas dan melempar senyum pada si anak kecil itu. Bajunya yang kumal seharusnya bisa diganti dengan blus blus dalam kantong kresek hitam yang dibawa ibunya. Tapi mereka lebih butuh pangan daripada sandang. Terlepas dari tipu tipu yang menjadi modus kejahatan pengemis yang lagi ngehits, malam itu saya berpikir. Jika sekecil biji sawi pun ada balasanNya, maka semoga Tuhan memberikan keadilannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s