Bullying

“Put, ngeteh yuk”. Ajakan ini membuat saya merasa bersalah karena saya baru bisa menepati janji beberapa minggu kemudian. Di sebuah sore di awal bulan Maret lalu. saya bertemu dengannya di kedai tempat saya biasa nongkrong dengan kawan kawan saya di Unit Seni Rupa. Wajahnya kuyu, lelah sehabis bekerja. Tapi ada yang lebih membuatnya lebih lelah. Ia bercerita tentang adiknya yang menjadi korban bullying.

Adik teman saya ini mendadak menjadi sangat terkenal karena profil BBMnya menyebar kemana mana. Tapi yang menjadi sangat berkasus adalah si anak masih bersekolah kelas satu SMA dan foto yang tersebar adalah foto telanjang. Shock!

Kalau dirunut, si anak ini tidak dekat dengan anggota keluarganya. Tidak dengan ayahnya, tidak dengan ibunya, tidak dengan kedua kakaknya. “Sama pacarnya kakakku sebenarnya agak dekat, tapi kurasa tidak dekat juga sih”. Nah.. lho.. gimana tuh..

Teman saya ini merasa bersalah karena sakit yang ia derita dulu. Ketika masih kecil, waktu orang tuanya dihabiskan hanya untuknya sehingga tidak sempat untuk memberikan perhatian pada adik perempuannya. Adik perempuannya sering sekali pulang malam. Tanpa disadari, ia berhubungan dengan seorang lelaki –yang entah itu siapa-, dimana si laki laki ini menyuruh adiknya bugil. Sialnya lagi, ketika ditrack pertemanannya, tidak ada satu orang teman pun yang dekat dengan adiknya. Adiknya tidak memiliki teman dekat. Semua orang menjauhi dia karena dianggap lamban dalam berpikir. Well.. dunia sungguh tidak adil. Begitu curhatan teman saya. Dengan sedih ia bilang bahwa seandainya ia memiliki kakak perempuan tentunya ia tidak akan seperti itu. “Kalau ada saudara perempuan, pasti ada yang bisa memahaminya karena perempuan bisa mendekati dari hati ke hati”.

Kadang ada hal yang membuat kita tidak bisa menerka nerka apa yang terjadi pada anak pendiam. Itulah mengapa saya mengajak adik adik saya untuk lebih aktif bicara. Tidak perlu terlalu cerewet, tapi jangan terlalu pendiam. Yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut hanyalah keluarga. Walau bagaimanapun, keluarganya adalah orang yang paling dekat dengan gadis itu. Jika selama ini ia adalah gadis pendiam yang tidak memiliki teman, maka saudara saudaranyalah yang harus menjadi teman yang baik untuknya. Gadis itu mungkin kesepian.

Saya jadi teringat ketika masih bersekolah SMP, ada satu anak yang menjadi public enemy. Sekolah saya waktu itu adalah sekolah elit, dimana pertemanan menjadi sangat terkotak kotak. Si anak ini sebenarnya biasa aja, anak baik baik tapi dari kalangan menengah bawah. Sebenarnya bukan masalah miskin atau kaya. Lebih bagaimana kita bisa menempatkan diri. Si anak ini dianggap tidak bisa menempatkan diri sehingga teman teman saya menjauhi. Suatu ketika, anak anak perempuan di kelas saya –karena kebetulan kami satu kelas- berbisik bisik cekikikan sambil menyindir nyindir karena melihat si anak memakai tanktop warna hijau tosca di balik baju putih OSIS. Penampilannya dianggap minus. Rambut panjangnya yang tergerai berwarna orange rusak di ujung. Semua yang ia kenakan sungguh kurang pantas untuk pergaulan. Begitu pendapat teman teman saya. Pada awalnya ia kepedean, tapi kemudian ia menunduk malu dan segera mengganti tanktopnya. Ia hampir tidak memiliki teman. Bahkan ketika harus berkelompok, ia sudah pasti hampir tidak diajak masuk kelompok karena dianggap tidak memiliki kecerdasan yang mumpuni. Sampai sampai waktu itu saya karena tidak masuk sekolah, tidak tahu kalau ada tugas. Saya celingukan kesana kemari mencari informasi dari teman teman say siapa kira kira yang belum mendapatkan kelompok. Tidak terlalu kaget juga jika si anak ini yang tersisa selain saya. Saya hanya geleng geleng kepala mengapa bisa dia tidak mendapatkan kelompok. Alangkah kasihan. Berkaca dari pengalaman saya di SMP, saya pikir untuk kasus ini, si adik teman saya harus beradaptasi. Be an adaptive, not a pasive.

Saya bukanlah anak populer ketika saya sekolah dulu, tapi saya selalu punya banyak teman. Saya merasakan euphoria keramaian dan saya juga bisa merasakan bagaimana rasanya terasing kesepian. Gadis itu hanya butuh teman yang bisa menjadi pelarian beban hidupnya. Berteman itu simple kok, jadilah dirimu, maka kamu akan menemukan orang orang sepertimu. Jika si anak ini sampai dijauhi teman temannya, maka yang ia harus lakukan adalah menemukan teman baru atau beradaptasi. Orang tuanya harus menemui guru di sekolahan agar si anak mendapat pencerahan dari berbagai pihak. Semua berawal dari keluarga. Teman saya harus membuat adiknya nyaman untuk ngobrol bersama dirinya. Tidak bisa orang lain, karena merekalah yang terdekat. Pihak sekolah alangkah baiknya mencari solusi untuk memberikan pemahaman terhadap siswanya terutama yang satu kelas agar tidak menjauhi si anak ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s