Makan

Pernah denger ada anak meninggal karena tidak makan? Ya.. banyak berita seperti itu. baru baru ini malah saya sempat mendengar bahwa salah satu anak fakultas psikologi dari sebuah universitas ternama di Solo meninggal dunia karena tidak makan. Kata pengirim berita, bobotnya kurang lebih empat puluh kilogram dan ia meninggal karena pendarahan di lambung. Lhah.. ini gimana ceritanya? Berita yang ada masih simpang siur. Tapi terlepas dari pemberitaan apapun, saya menduga ada beberapa masalah. Yang pertama, faktor emang anaknya sulit makan. Kedua, masalah financial. Ketiga kesibukan. Mari kita analisis.

Faktor pertama, masalah sulit makan. Biasanya sih apalagi anak anak perempuan gampang gampang sulit makan. Pemilih lebih tepatnya. Ada yang nggak mau makan ini, maunya yang itu. Ada yang maunya makan ini kalau temennya itu. Ada yang maunya lauknya kalau nggak itu ya harus itu. Nah lho.. puyeng nggak tuh yang jadi ibu penjual nasinya. Haha. mumet we.. . emang rempong ngurusin anak tipe macam ini. Ini nggak mau, itu nggak mau. Apalagi anak anak yang sirik sama sayur. Duh.. tahu nggak sih dek tubuhmu merengek butuh asupan vitamin dari sayur. Kamunya sih nggak mau, tapi tubuhmu sebenernya butuh. Solusi ngadepin anak macam kayak gini: sik sik.. mau cara halus apa cara kurang halus?. Pilihannya ada dua. Hehe. Kalau cara halus, kita harus sabar. Entah gimana caranya makanan yang empat sehat itu dikamuflasekan menjadi suatu formula yang bisa bikin anak ini mau makan. Disini skill memasak atau food decoratingnya harus maju. Tapi kalau nggak mau rempong kayak gitu gimana dong?. Maka pakailah cara kurang halus. Kita harus ‘maksa’ dia buat mengonsumsi bahan bahan penting tersebut. Kasih pengertian bahwa dia ada dalam kondisi egois dengan tubuhnya sendiri. Siapa juga yang dia rempongin kalau sakit? Emangnya dia doing? Iya kalau orang tuanya ada disini. Kalau ternyata dia adalah anak kosan sama seperti kita? kan temen temennya juga yang rempong. Maka, pendekatan yang baik adalah solusi yang harus dijalankan.

Kedua masalah financial. Pernah kere? Pernah kan, pernah? Pasti semua orang pernah mengalami jaman susah. Pas nggak ada duit, ngutang ke orang orang, utang numpuk, belum ada kiriman, duit bayaran belum turun dan nggak ada makanan. syukur syukur nemu remahan tapi kalau beneran nggak ada makanan?. Maka inilah yang agak melas. Duh.. apa teman temannya nggak pada care ya?. Sebenarnya ada solusi paling praktis untuk mengatasi masalah ini. apa itu? silaturahmi. Pernah denger kan kalau Nabi SAW menyuruh kita bersilaturahmi karena silaturahmi memperpanjang umur dan memperbanyak rejeki. Manusia mahluk sosial kan? pasti nggak bisa hidup sendirian dan membutuhkan orang lain. Maka manusia butuh bersilaturahmi. Ambil contoh ketika kita main sama temen. Paling nggak pasti ada temen bawa makanan walaupun itu cuma sekedar cemilan nggak jelas atau air putih. Atau tiba tiba temen nawari “Put, mau ikut seminar nggak besok? Ada tiket nih buat kamu”. Dan karena keseloan, kita datang ke seminar kemudian tanpa dinyana ada makan siang mengenyangkan seharga restoran yang kita sendiri aja nggak mungkin makan di resto itu. Duh Gusti.. Engkau memang Maha Memberi. Pangerten bener. Alhamdulilah. Jangan pernah risau masalah rejeki. Tinggal minta sama Yang Punya Hidup, pasti kamu nggak akan kelaparan. Uang? Ah.. itu Cuma masalah jalan. Rejeki nggak akan ketuker kok. Sedikit apa banyak selalu syukuri dan selalu memberi meskipun kita dalam keadaan sempit. Toh Tuhan nggak tidur kok. Kita minta apa pasti dikasih apalagi kalau cuma urusan kenyang.

Ketiga masalah kesibukan. Jujur, saya sendiri pernah nggak makan nasi selama dua hari. Dua kali dua puluh empat jam. Iya, selama itu. Alhamdulilahnya saya nggak sakit, tapi habis itu saya merutuki diri sendiri. “Ih Put.. apa sampai segitunya kamu nggak inget kalau tubuhmu ini butuh gizi. Ini nggak dalam waktu bencana. Masa ngasih makan tubuh kamu aja nggak bisa. Sedih banget sih”. Saya marah pada diri sendiri karena tidak mengatur waktu dengan baik. Saat itu saya sibuk karena harus mengurusi acara belum lagi dihantam masalah yang bikin shock. Sumpah, nggak kepikiran buat nelen makanan berat kayak nasi. Dalam waktu dua hari itu saya hanya ingat bahwa saya hanya minum beberapa gelas air dan satu potong kecil roti saja. Nggak ada mood buat makan. Bawaanya kerja mulu, terlalu fokus sama kerjaan dan masalah sampe lupa nggak makan. Setelah keinget anak kebidanan yang punya penyakit magh kronis yang waktu itu harusnya diopname tapi nggak jadi bikin saya bergidik ngeri. Kalau diterus terusin, kesibukan bakal membantai kita. Kita akan membiarkan lambung ‘memakan’ dirinya sendiri karena nggak ada satupun yang bisa digerus disana. Kasihan cuy.. Pernah juga lupa nggak minum sehari semalaman dan baru inget ketika saya ke kamar mandi. Melihat urin yang kuningnya nggak kayak normal membuat saya merasa bahwa gaya hidup saya nggak beres dan saya harus mengubah kebiasaan kayak gitu. Jadilah saya mulai memaksa diri untuk minum lebih banyak dan lebih sering agar tidak kena penyakit ginjal seperti kerabat saya. Rumah Sakit? Oh please.. big no no.

Kembali ke masalah mbaknya yang meninggal karena kurang makan, entah yang mana yang jadi alasan, sebenarnya ada solusi jika memang dia mengalami ketiga hal itu. Solusi itu bernama puasa. Puasa itu punya fungsi mengcover ketiga hal tersebut. Puasa itu mengatur pola makan. Makan dua kali dalam satu hari dimana waktunya hampir selalu teratur. Puasa bisa mengurangi beban keuangan. Terus apa hubungannya sama sulit makan?. Ah, ini masalah ke diri kita aja. Mau mati cepet? Ya nggak usah makan. Mau ngerepotin orang lain? Ya nggak usah makan aja sekalian. Emang enak hidup ngerepotin orang mulu. Malu tauk.. jadi.. makan apapun yang bisa dimakan sekaligus menyehatkan.

Ada beberapa puasa yang bisa dilakukan. Lazimnya sih kalau hari non ramadhan gini ya antara puasa senin kamis atau puasa daud. Puasa senin kamis berarti puasa yang dilakukan tiap minggu di hari senin dan kamis. Kalau bisa konstan lebih baik. sedangkan puasa daud adalah puasa selang seling, sehari puasa sehari libur. Kalau bisa konstan keren banget nih. Puasa daud itu godaannya cuy.. banyak bener. Kekonstanan jadi tantangan disini. Kalau puasa senin kamis kan masih banyak liburnya. Katakanlah kalau seminggu puasa dua hari, liburnya lima hari. Tapi kalau daud? Empat hari puasa tiga hari libur. Katakanlah seperti itu. ujian iman, tapi kalau lolos.. hmmm.. masyaallah bener. Menurut pengalaman saya, saya sendiri sulit menjaga konstannya puasa. Puasa konstan bukan hal mudah. Dulu pernah nyoba semua tapi tidak semudah yang dibayangkan. Sulit bener. Duh.. godaannya ada aja. Tapi yang paling kerasa adalah ketika kita kedatangan tamu bulanan. Ketika haid akan datang, emosi jadi cepat berubah. Bawaannya pengen makan apa aja, puasanya jadi nggak konstan sekalipun itu puasa senin kamis. Habis haid sama, emosi juga masih agak males malesan gimana gitu. Nggak jadi lagi deh.. itu dia godaannya. Tinggal bisa menghadapi apa nggak. Haha. sulit. Sumpah. Tapi buat yang niat kayaknya sih oke oke aja.

Lucu lagi temen saya. “aku sekarang mau puasa jomblo”. Saya ketawa terpingkal pingkal. Dasar nggak jelas nih Si Arma . Ya kali. Apa itu puasa jomblo. Coba jelasin dek.. jelasin.. haha. Dia kemudian bilang bahwa Nabi pernah bersabda bahwa jika sanggup maka menikahlah, jika belum berpusalah. Itu mengapa kemudian teman saya ini mencanangkan bahwa ia bertekad berpuasa yang ia sebut puasanya sebagai puasa jomblo. Haha. dasar nggak jelas. Iya iya yang jomblo. Tapi niat teman saya ini patut diacungi jempol. Sungguh niat yang kuat jika dibarengi dengan realisasi. Hehe.

P.S: Saya juga jomblo. Apakah saya harus mencoba puasa juga?. Hmm..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s