Marah

Jika ada tiga kata sakti yang harus dipelihara betul: maaf, terimakasih dan tolong. Saya diajarkan untuk bilang tiga hal itu jika saya salah, jika saya sudah dibantu dan jika saya ingin meminta sesuatu. Di sebuah sore nun jauh di pedalaman Sulawesi, saya mengucapkan kata terimakasih karena salah seorang teman saya sudah membantu mengambilkan barang di meja. Ia bilang “nggak perlu bilang makasih.”. Saya bengong dan menimpali “lhoh.. ya harus dong..“. Di lain kesempatan, karena saya sudah ditolong, maka saya mengucapkan terimakasih. Dia kembali berkata “Kalau temen baik, nggak perlu dibilang makasih juga ia pasti ngerti. Ia nggak butuh makasih”. Saya tidak sependapat. Mau teman baik atau musuh, kalau saya merasa sudah bikin salah, saya akan meminta maaf. Jika ada yang bisa saya lakukan untuk menghapus dosa saya, semampu saya bisa, maka saya akan melakukan apapun untuk menghapusnya. Jika saya sudah ditolong, maka seringan ringannya saya akan bilang terimakasih dan jika ada yang bisa saya lakukan, maka saya akan berusaha untuk membalas terimakasih tersebut dengan perbuatan dan doa. Jika saya ingin meminta sesuatu maka saya akan mengawali kalimat saya dengan tolong. Bukan apa apa memang. Tapi saya menghargai sekecil apapun yang datang kepada saya. Bantuan sekecil apapun, mungkin remeh. Tapi jika diberikan dengan kalimat yang baik, akan lebih menghargai perasaan orang-orang tersebut. Mulailah untuk menghargai orang jika kamu ingin dihargai orang lain, begitu wejangan ibu saya.

Kali ini saya ingin membicarakan tentang marah. Marah berkorelasi dengan ketiga hal tersebut. Jika seseorang marah, bisa jadi ada kesalahan yang sedang kita buat. Maka kita harus mencari apa kesalahan kita dan berusaha meminta maaf dan memperbaikinya. Ketika orang marah, kita harus berterimakasih karena ia peduli pada kita. Mungkin marahnya mereka adalah salah satu cara mereka menyayangi kita. Cara mereka menjaga kita dari hal hal yang membahayakan. Saya sendiri lebih suka dimarahi daripada dinengke (didiamkan, dicuekkin). Jika kita membuat salah dan didiamkan, bisa jadi kita akan terus menerus membuat kesalahan. Tapi dimarahi? mungkin kita sedang berusaha untuk dihentikan dari kesalahan bodoh kita. Tolong? Mungkin ada yang bingung apa hubungannya marah dengan kata tolong. Untuk sebagian orang tertentu, mereka malah mencari-cari alasan untuk dimarahi. Oleh karena mereka merasa bahwa marah adalah salah satu bahasa sayang, mereka bersedia untuk dimarahi. “Besok lagi saya tolong diingatkan ya. Kamu marah nggak papa kok. Saya ngerti kamu sayang sama saya”. Ini temen saya pernah bilang kayak gitu.

Justru orang yang memarahi kita, mereka sedang butuh teman bicara. Apa yang harus dilakukan? Jadilah pendengar yang baik. Kadang bikin panas ati sih, tapi percayalah, mereka butuh seseorang untuk diajak bicara –dimarahi- lebih tepatnya. Dulu, saya tidak bisa menerima hal ini. Ketika Ibu saya marah, saya juga ikut marah –kadang membantah, tapi lebih sering dalam diam-. Kesal, mengapa saya harus kena getahnya. Tapi lama kelamaan, ketika saya sudah bisa memilah dan berpikir lebih jernih, saya tahu kadang saya harus mengalah. Orang yang marah sedang memendam bara. Bara akan mati jika disiram dengan air. Maka siramlah marah mereka dengan menjadi obat untuk hati mereka. Jadilah air yang merendam kemarahan mereka. Jadi seorang pendengar yang baik sudah cukup untuk meredakan panasanya hati. Disinilah mental diuji, bisakah kita menjadi peredam bara atau justru kita terkena bara itu dan ikut ikutan panas? Hmm.. sungguh butuh skill kesabaran tingkat dewa. Apalagi untuk saya. Saya masih belajar untuk menata emosi, belajar untuk menata hati dan menempatkan diri. Sulit. Sangat sulit. Tapi saya mau berusaha.

Tiga hari yang lalu saya dimarahi oleh ibu saya. Mengapa? Karena saya bersekongkol dengan adik perempuan saya. Ibu saya melarang adik saya untuk pergi keluar kota sedangkan saya dan ayah setuju ia pergi. Mengapa harus dilarang jika ia pergi untuk sebuah tujuan yang jelas? Saya kesal karena tidak sependapat. (Di sisi lain, saya marah marah pada adik perempuan saya karena ia tidak mengatur jadwalnya dengan baik sehingga semuanya terkesan tergesa gesa). Tapi, saya paham bahwa ibu tetaplah seorang ibu yang khawatir terhadap putra putrinya walaupun mereka sudah besar. Dalam runtunan ‘wejangan’ ibu saya tersayang, saya mendengarkan dengan baik walau kemudian telepon diputus dan saya bengong sendirian di depan ponsel. Saya menarik napas panjang, bersenandung lagunya Sheila .. Kau harus bisa, bisa, berlapang dada.. Kau tahu semua, ada hikmahnya”. Besoknya kami berbaikan kembali. Saya tahu, ibu saya paham bahwa saya sama kerasnya dengan beliau. Jadi tetap saja ia seperti berkaca pada dirinya sendiri. Akhirnya ibuk luluh, bahwa sudah saatnya beliau mempercayai bahwa putra putrinya harus belajar menghadapi hidup, entah bagaimana caranya. Sama seperti ketika beliau masih muda.

Pada suatu malam, salah seorang sahabat saya menginap di petakan kamar saya. Kami pulang agak larut dan ia terpaksa tidak bisa pulang. Kami merebah di atas lantai, melepas penat setelah seharian bepergian. Saya memulai diskusi penting yang ingin saya tanyakan sejak tempo hari. Mengapa ia tidak mengejar apa yang harusnya ia kejar. Saya hanya merasa dia tidak teteg (kurang teguh) untuk mengejar impiannya. Hal itu akan melemahkan semangat yang lainnya jika terus begitu. Saya sendiri tidak ingin terus galau dengan masa depan saya. Jika ada sebuah teori tentang bagaimana seseorang menghadapi sebuah masalah: loncat, hadapi dan hajar. Maka saya ada di tengah. Saya menghadapi masalahnya dan terus berusaha menghajar masalah walaupun rintangannya luar biasa besar. Tapi teman saya ini, ia loncat. Saya tidak melihat usaha maksimalnya padahal jika ia serius, akan lebih mudah untuk selesai daripada saya. Dia selesai duluan? Tidak masalah. Saya akan jadi salah satu yang berbahagia daripada terus menerus jengah mendengarnya mengeluhkan tugas akhirnya tak kunjung kelar. Well, apa yang bisa diharapkan dari terus menerus mengeluh tanpa menghajar diri kita dan mengurai masalah satu persatu. Kamu lebih beruntung dibandingkan saya. Jadi tunggu apa lagi, kamu cukup bodoh untuk membuang buang waktu padahal kamu bisa lebih baik. Sesi panjang itu, saya pikir dia akan tersinggung. Tapi nyatanya tidak. Ia justru tersenyum bahagia. “Aku tahu kamu marahin saya, tapi saya ngerasa nggak dimarahin. Saya kok malah seneng ya ada yang marahin saya. Kamu sudah seperti ibuk.”. Duh dek.. plis.. saya belum menikah. haha. Hmm.. baiklah.. semoga apa yang kita bicarakan membuatmu semangat.

Dalam sebuah perjalanan menuju kota lain, saya dimarahi oleh salah seorang teman. Dia bilang saya terlalu ‘rikuh’. Ia tidak suka karena saya tidak enak hati untuk merepotkan teman teman lainnya di acara yang telah berlalu. lhah.. mau gimana, daripada semua repot. Saya terdiam. Setidaknya dengarkan apa yang ingin ia ungkapkan. Toh, saya juga tetap punya porsi salah. Pulangnya “Makasih, sudah perhatian. Kamu sudah seperti kakak saya sendiri. saya janji tidak akan lagi seperti itu besok”. Pada kesempatan lain, giliran saya mencak mencak karena ia sendiri yang tidak enak hati. “Issshh.. kamu sendiri lho yang bilang nggak boleh pakewuh, kok sekarang malah kamunya yang nggak enak hati. Kayak sama siapa aja” saya melengos. Dia kemudian minta maaf.

Perbedaan antara laki laki dan perempuan ketika memarahi. Ada salah satu teman laki laki saya, dia kesal dengan saya. marah. Tapi ia tidak memaki maki, hanya menunjukkan kekesalan (yang saya tahu itu ditahan). Tentunya karena yang ia hadapi adalah perempuan, lawan jenisnya, mahluk yang lebih perasa dibandingkan dirinya. tapi mungkin jika ia menghadapi laki laki, makian akan terucap lebih banyak. Jika ia perempuan, maka bisa saja ia lebih lancar.

Hari saya dimulai ketika saya harus menghadapi lembaran lembaran Microsoft word sebanyak ratusan halaman di depan mata. Tiba tiba seseorang datang. Dengan gayanya seperti biasa, dia duduk dan menyapa saya. lima menit tanpa kata, saya menengok dan mulailah rentetan cerita keluar dari bibirnya. Dia sedang kesal, saya salah satu penyebab kekesalannya. Tidak ingin memperkeruh suasana, saya minta maaf. Baiklah.. walaupun kepala batu, saya masih punya hati. Saya tahu, di hari hari kemarin seringkali ia kesal ketika kami mendiskusikan sesuatu dan kami tidak sampai pada pemahaman yang sama. Biasanya ia akan memotong secara tajam atau terdiam karena omongan saya tidak bisa dibelokkan. Begitu katanya. Haha. sumpah, saya mau ketawa. Tapi ya memang begitu kenyataannya. Saya sedikit keras kepala tapi bukan berarti saya tidak bisa menerima pendapat orang lain. Terkadang, kita harus berpegang pada apa yang kita yakini. Kita berbeda karena sudut pandang kita dalam melihat masalah berbeda. Saya hanya tidak ingin ikut ikutan terombang ambing padahal saya punya apa yang bisa dijadikan pendapat. Perbedaan pendapat adalah warna warna indah pemanis hidup. Tidak salah kan berbeda pendapat?.. Ketika saya merasa ada yang salah, bukan berarti saya tidak bisa minta maaf. Jika ada yang bisa saya lakukan untuk membuat hati orang yang saya lukai bisa memaafkan saya, apapun itu selama saya mampu, akan saya lakukan. Sebelum pulang saya bilang “Makasih ya”. Dia berpura pura merajuk. Saya bilang “Tahu nggak makasih buat apa?. Dia penasaran. “Makasih udah marahin saya. Berarti kamu masih peduli” . saya berbalik dan pergi. Tapi saya tahu dia tersenyum.

Manusia nggak pernah marah? Nggak mungkin. Marah adalah salah satu bagian dari emosi. Jika ia memang manusia, ia akan dianugerahi dengan setumpuk aneka warna emosi dalam hidupnya. Marah adalah bagian dari berkahNya Marah tidak selalu berkorelasi dengan hal negatif. Kadang, memaknai sebuah kemarahan akan membawa kita pada poin poin penting pembelajaran dari kesalahan yang kita lakukan. Jadilah pengingat yang baik bagi orang lain. Menyampaikan kemarahan kita dengan bahasa yang baik, lebih baik daripada mencak mencak -didenger lebih enak-. Hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s