Keseimbangan

Jpeg

Yin-Yang. AD Putri (Pen on paper. 2016)

 

Bentara Budaya Yogyakarta!. Ya ampun.. tempat impian buat majang karya. Taraaa.. di tahun ini impian itu setidaknya sedikit demi sedikit terbayar. Di suatu petang, Fitri, CEO Dreamdelion Jogja menghubungi saya untuk ngobrol sedikit tentang pameran yang akan dilakukan di BBY. Kami, Unit Seni Rupa diajak untuk berpartisipasi di acara tersebut. Duh.. nggak nyangka banget bisa majang karya disana *ngiler*. Tentu saja kami tidak akan pernah mengatakan tidak untuk pameran di BBY. BBY yang berupa sebuah galeri dengan nama besarnya pasti sudah menerima ratusan proposal pameran dari seniman seniman besar. Kami masih keder dengan kondisi kami sendiri yang belum stabil. Maka pameran BBY masih jadi planning setidaknya untuk jangka panjang. Hmm.. mungkin 5-10 tahun ke depan, sekaligus reuni angkatan USER UGM biar ngumpul banyak dulu. Hehe.

Dalam waktu satu bulan, kami diberikan kesempatan untk mengonsep karya dan menuangkannya dalam media apapun yang menurut kami cocok untuk dijadikan lahan berkarya. Saya sebenarnya memasukkan tiga karya dalam pameran ini akan tetapi hanya satu yang bisa masuk ke venue karena keterbatasan tempat. Alhasil, saya harus merelakan dua karya lainnya harus duduk manis di kosan saya.

Karya pertama saya berjudul ‘si penenun’, dibuat dikertas dengan tinta kopi karena pada saat itu saya ngopi. Karya ini merupakan karya yang bercerita tentang penenun Moyudan yang multitasking. Ibu ibu penenun tersebut adalah superwoman yang menenun tanpa meninggalkan pekerjaan rumah tangganya. Tanggungjawab terbesar mereka adalah mengurus anak. Hebatnya, tanggungjawab ini tidak samasekali ditinggalkan, bahkan bisa bergerak bersamaan dengan rampungnya sehelai kendhit dari tangan lentur mereka. Menenun sambil momong anak. Begitu hebat.

Karya kedua berjudul Yin Yang. Saya terinsiprasi dengan konsep keseimbangan Tionghoa. Hitam-putih, terang-gelap, pria-wanita. Segala sesuatunya merupakan sistem keseimbangan untuk keberlangsungan kehidupan umat manusia di bumi ini. Jika hanya ada satu sistem, maka tidak akan seimbang. Konsep kedua ini merupakan gambaran dari keseimbangan dimana Tuhan menciptakan laki laki. Suatu hari laki laki merasa kesepian dan kemudian Tuhan menciptakan wanita dari tulang rusuknya. Begitu juga dengan perannya, Tuhan memberikan keadilan dengan memberikan pembagian peran yang berbeda antara laki laki dan perempuan. Meskipun berbeda, keduanya saling melengkapi. Dalam kehidupan rumah tangga, laki laki diberikan tanggungjawab sebagai kepala keluarga yang bertugas mencukupi kebutuhan rumah tangga. Perempuan bertanggungjawab untuk mengelola rumah tangga itu sendiri. Laki laki memang bekerja keras di luar rumah dengan berbagai macam profesi (rata rata penduduk Sejatidesa bermatapencaharian sebagai petani, buruh dan penambang pasir di sungai). Akan tetapi perempuan tidak tinggal diam. Meskipun di rumah dan mengasuh anak sebagai pekerjaan utama, mereka tidak lantas ongkang ongkang kaki. Mereka menggerakkan tangan dan kaki mereka untuk menghasilkan sehelai stagen demi berhelai uang yang mampu membantu keseimbangan perekonomian keluarga. Kehidupan yang keras membuat mereka bekerjasama saling menguatkan keluarga. Teknik pengerjaan karya kedua ini dengan membuat pointilis di setiap lekukannya. Komentar dari pengunjung “mbak.. selo bener bikin titik titiknya”. Saya cuma ketawa.”hyoii.. semacam itulah”. Wkwk.

Karya ketiga yang sayangnya gagal dimuat karena kurang tempat ini dibuat di sebuah linen yang berukuran satu meter. Saya tertarik dengan bentuk pintalan yang menghasilkan bermeter meter benang untuk membuat stagen. Bentuknya sangat sederhana, terbuat dari kayu. Bahkan, banyak warga yang memanfaatkan roda sepeda yang sudah tidak terpakai untuk menjadi alat pemintal. Kreatif. Pemanisnya, saya menuliskan sedikit sejarah tentang tenun stagen Sejatidesa ini di belakang alat pintal. Udah dipigura gede tapi sayang banget nggak bisa masuk pameran. Hiks.

Overall, saya cukup bersyukur bisa diberikan kesempatan berpameran di BBY. Sumpah, kesempatan pembelajaran luar biasa yang sangat sayang untuk dilewatkan. Apalagi saya adalah anak gahol pameran BBY. Wkwkw. Hmm.. BBY.. tunggu kami lima tahun lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s