Kode

Puuuuttt..putt…. itu kode kerassssssssss buat kamu.. iya..kamu.. Kamu tuh kok ya nggak paham paham sih. Begitu kata teman teman saya geregetan. Perlu tak bilangin ke dia po? Sini sini tak ketikin satu kalimat, kamu tinggal send. Hmmmh.. jadi deh. Lhah mana saya tau juga entah jika seseorang atau beberapa di sana ada perasaan kepada saya. Sumpah.. saya nggak nge-dong samasekali apa itu kode. Saya nggak pernah main main dengan perasaan sebelumnya. Bahkan jeleknya, semua saya anggap biasa biasa saja. Bahkan yang membaca dan menangkap kode kode itu malah sahabat-sahabat saya sendiri. Apa sebego itukah saya sampai sampai tidak mengenali bahwa seseorang atau beberapa disana ingin menyampaikan perasaan tersebut kepada saya. Duh kak.. maapin adek..

Apa itu kode? Bagaimana bentuknya? Seberapa kuat sih arti sebuah kode? Seberapa signifikankah kekuatan sebuah kode? Di jaman yang serba kekinian ini saya semakin tidak mengerti. Apa apa dianggap kode dan segala sesuatunya bisa dimungkinkan menjadi sebuah kode. Saya semakin gagal paham. Atau saya yang emang bego. Hmm.. baiklah.. gagal paham dan bego emang beda tipis. Ehehe.

Kode. Entah bagaimana atau dengan cara apa, saya tetap tidak paham bagaimana mekanismenya. Saya pernah punya pengalaman buruk mengenai kode mengkode. Jadi flashback beberapa tahun lalu dimana salah satu teman saya menganggap bahwa semua yang saya lakukan adalah kode dari saya untuknya. Isssh… apa memang segampang itu untuk menjudge bahwa seseorang mengkode satu dengan lainnya? apalagi di saat yang sama, statusnya adalah pacar sahabat saya sendiri. Waktu itu dia bilang bahwa beberapa lagu yang saya senandungkan adalah kode perasaan cinta saya padanya. Lalu, perasaan sedih saya juga dianggap sebagai kode dan hampir semua kebaikan saya dianggapnya curahan perasaan sayang saya. Lhaaaaaaaaah.. kalau gitu maenmu kurang jauh mas.. temenanmu kurang banyak.. saya mah dari dulu juga senang bersenandung. Murni karena seneng lagunya, bukan buat sok sokan curhat. Saya juga baik ke semua orang, nggak cuma ke kamu doing. duh.. saya makin gagal paham. Dan kisah persahabatan kami bertiga yang tadinya hangat dan ceria berakhir cukup sampai disana. Buat saya pelajarannya adalah ternyata kedua sahabat itu tidak mau mengenal saya dengan baik. Tidak mau mengenal saya luar dalam. Apa apa dianggap sebagai cinta. Fine. Saat itu memang keduanya baru dimabuk asmara, sedangkan saya dianggap sebagai orang ketiga. Padahal naksir aja nggak. Kabar baiknya, hubungan kami hingga saat ini masih terjaga dengan baik. Tapi saya tidak lagi berani untuk melangkah seperti dulu. Biarlah ada batasan yang jelas agar untuk kesekiankalinya saya tidak lagi menangisi persahabatan yang dirusak oleh perasaan.

Selepas itu, saya tidak mau lagi berhubungan dengan segala sesuatu yang disebut dengan kode. Trauma dengan persahabatan yang menghancurkan. Ya.. yang namanya temenan kamu memang harus siap bahagia dan siap terluka. Tapi saat itu adalah saat paling down saya. Sebuah hal yang menghancurkan (karena di sisi lain juga ada masalah yang sama beratnya). Plis. Kamu punya suara, mbok ya digunakan untuk berkomunikasi. Toh saya juga nggak tuli dan kamu nggak bisu. Saya bisa mendengarkan, dan saya bisa menjadi pendengar. Duduk bareng, ngobrol masalahnya apa, kita cari solusinya. Jika toh ternyata saya terlalu berlebihan, harusnya kamu sebagai teman bisa mengingatkan. Simple. Bukannya bingung dengan hal hal yang dianggap sebagai kode kemudian ternyata bukan.

Sekarang, kata ‘kode’ muncul lagi. Ya… saya lagi. Tapi keadaanya beda. Sekarang teman saya yang memberikan saya kode. Tapi sayangnya (kata temen saya yang lainnya) saya nggak peka. Saya juga nggak dong. Mana saya tahu kalau itu sebuah kode. Saya kan bukan tipe orang yang ngeh kalau dikode. Dibilangin langsung baru paham. Kadang saya ngerasa bingung harus bagaimana dalam menanggapi apa yang disebut kode tersebut. Nggak ngeh harus kayak apa atau gimana. Biasanya sih saya cuma lenggang kangkung. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Selama tidak ada yang terucap untuk menegaskan segala sesuatunya, ya berarti tidak perlu dipikirkan. Santai saja. enjoy saja. Toh juga tidak perlu menjauhi orang orang yang dianggap mengode kita. Biasa aja. Belum tentu juga kok dia ada perasaan ke kita. Bukan sebuah masalah besar. Lagi lagi, jangan berprasangka. Udah ge-er duluan, eh ternyata dia emang nggak ada perasaan. Kan kasihan. (kasihan kitanya maksudnya. Udah keburu ge-er duluan). Haha.

Well.. don’t throw a code. It might not work well since I am not S.O.S center. I was a stupid girl scout who never came to the Morse class, semaphore, and all the code class. What you can do is: talk. Simple. Terjemahan bebasnya: (Jangan ngode yak.. Saya dulu pas pramuka nggak pernah masuk kelas Morse, Semaphore dan kelas kode lainnya. Makanya bego. Nggak bisa nangkep arti kode. Haha. Tapi kalau nyimak dan dengerin, saya bisa. Maka, bicaralah. Semudah itu. )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s