Tugas Akhir Bernama Harus Lulus

Tidak terasa sudah di penghujung waktu. Hampir lima tahun sudah berjalan menuju ke ujungnya. Semua sudut pandang, pahit manis terasa. Bagaimana rasanya patah hati setiap kali menghadap ke pembimbing dan berakhir bahwa beliau tidak pernah sampai bilang “oke, kamu segera ujian ya”. Revisi berkali kali yang menyita waktu, pikiran dan perasaan. Revisi yang selalu membunuh dan tetap menyisakan “Apa sih yang salah dari aku” dan semacam membawa ke perasaan galau yang hampir terus menerus menyiksa karena teman satu persatu menghilang entah kemana. Haha. kok jadi bawa bawa perasaan gini ya. Baiklah kita bahas satu persatu.

Rasanya menyelesaikan skripsi itu memang sebuah perjuangan. Orang mungkin akan bilang “Ih.. Cuma skripsi masa sih nggak selesai”. Ya, kenyataannya memang seperti itu. Sambil bercanda saya selalu bilang “Kalau skripsi itu gampang, udah dari dulu saya lulus”. Kemudian ketawa pahit. Hehe. Skripsi itu pasti selesainya, yang jadi masalah adalah bagaimana kita bertahan dengan kesabaran dan ujian yang ada. Beneran. Skripsi sih pasti jadi. Apalagi kalau diseriusin lahir batin. Yakinlah jadi. Pasti bisa dilalui. Tapi dimanakah kita bisa sabar menghadapi ujiannya seperti ide yang stuck,  dikecu informan, masalah pada hardware dan software pendukung tugas akhir, masalah dengan teman serta keluarga, ketidaksepahaman dengan dosen pembimbing dan semua hal yang membunuh lainnya. Kesemuanya itu makan ati. Sumpah. Ada di satu titik saya benar benar jenuh dengan skripsi saya dan tadinya saya yang semangat banget ngerjain dan berusaha tidak ingin mengeluh malah jadi terus-terusan down. Saya rasa semua orang yang pernah berkecimpung dengan skripsi pernah mengalami hal tersebut. Kebosanan. Solusi terbaiknya? mintalah saran dari orang-orang tentang bagaimana sebaiknya konten skripsi yang baik dan benar, berkonsultasi dengan fakultas lain, mencari referensi dan seabrek hal hal yang membawa kita pada upaya untuk segera selesai. Tapi dosen pembimbing belum sepaham dengan apa yang saya tulis.

Pada perasaan down itulah saya jadi mudah baper. Bawa bawa perasaan. “Apakah sekacau itu yang saya tulis sampai sampai belum juga disetujui.”. Mana orang tua sudah nanyai lagi. Tapi untungnya orang tua saya tidak terlalu mengejar ngejar saya dalam hal skripsi. Satu dua kali ya ditanyain lah. Tapi mereka tidak ingin membebani saya dengan tekanan tekanan orang tua ke anak. Mereka mendukung penuh dan menyemangati agar saya siap dan kuat menghadapi cobaan dalam mengerjakan. Aaaakkk .. terimakasih. Peyuuuukkkk..

Hal yang paling menyedihkan justru ketika kita merasa seperti berhenti di tengah tengah kerumunan orang yang mulai meninggalkan kita. itulah yang saya rasakan. Satu persatu teman teman di angkatan saya perlahan mulai menghilang. Ya.. satu demi satu. bahkan teman teman baik saya semuanya sudah pergi. Mereka telah selesai dan bersorak kemenangan kemudian menjauh untuk mengejar cahaya di depan yang sudah menunggu mereka. Entah mereka telah bekerja, mendapatkan beasiswa ataupun membuka lembaran baru dengan pernikahan. Psikologis saya seperti diserang. Saya merasa seperti semua orang masuk ke bahtera Nuh dan saya tidak diajak. Sedih.

Jadilah saya merasa seperti berkaca pada skripsi saya sendiri yang memang membahas defense mechanism (strategi pertahanan) terhadap stres. Dalam teori Coping Mechanism oleh Lazarus dan Folkman itulah saya belajar untuk memahami bahwa orang orang yang diterpa stres akan membuat pertahanan dalam dirinya baik dalam bentuk emosional maupun bentuk nyata untuk menghadapi stressor (faktor penyebab stres) itu sendiri. Dan rasa rasanya saya sudah menggunakan berbagai bentuk mekanisme pertahanan untuk menanggulangi tekanan yang menghantam selama masa pengerjaan tugas akhir ini.

Saya tidak pernah menyesal telah mengambil topik ini. Saya memahami betul bahwa inillah caraNya untuk mengajari saya bahwa saya harus mempelajari pertahanan diri lebih dalam agar tidak mudah tertekan. Tekanan dari lingkungan yang mengharapkan saya harus baik dalam segala hal temasuk nilai. Apalagi dari awal, saya bukanlah orang yang peduli dengan nilai. “Nilai bukanlah segalanya. Nilai bukan satu satunya faktor kesuksesan seseorang”. Nilai memang penting. Tapi bukanlah segalanya yang harus dikejar. IP cumlaude, IPK sempurna. Untuk apa semua itu harus dicapai mati matian. Analoginya buat saya “Ibarat sebuah pohon besar, mereka yang IPK nya terhitung ‘baik’ entah itu lebih dari tiga, tiga setengah lebih bahkan kalau perlu empat koma lebih itu udah kayak daun yang berguguran. Terlihat sama dan berserakan dimana mana. Lha terus apa yang membedakan kamu dengan yang lainnya.” Oh, come on.. sudah terlalu banyak. Jangan melulu bicara soal IPK dan nilai dan segala sesuatunya yang terlihat hitam di atas putih. Oke, memang penting. Tapi bukan segalanya. Dibawa santai bisa lho seharusnya. Selama ini saya tidak pernah berpikir bagaimana harus mendapatkan IPK lebih. Buat saya, saya harus berpikir keras bagaimana mengatur waktu biar akademis oke, belajar tetap sesuka hati saya tanpa paksaan dan main terus jalan. Kalau gitu kan asik. Hidup nggak ada beban. Apalagi yang harus digaris bawahi: belajar sesuka hati. Belajar santai, lewat cara apapun dan media apapun dan alokasi waktu untuk main tetap terjatah. Wiiih … apa nggak bahagia hidup saya.

Luruskan niat, itu yang lebih penting. Tuhan akan memberikan apa yang manusia niatkan bukan?. Saya tidak ingin hanya mendapatkan nilai bagus agar mendapatkan pekerjaan yang layak. No no.. Tuhan tidak tidur. Ia akan selalu memberi saya makan, memberi saya kesempatan untuk hidup. Jadi, untuk apa saya khawatir dengan pekerjaan. Pasti nanti di waktunya saya juga akan mendapatkan pekerjaan, entah apa itu.

Saya lebih peduli dengan akhirat saya karena saya selalu mempercayai tiga hal yang tidak akan terputus setelah kita mati: ilmu, amal dan doa. Tiga hal sakti yang diajarkan orang tua saya. Saya suka belajar dan saya mempercayai ilmu akan mengantarkan saya pada apapun yang saya inginkan. Saya ingin faedah ilmu dan fadhilahnya akan menerangi jalan saya ketika dunia sudah berakhir. Seperti kasus salah satu sepupu saya yang menghancurkan keinginan ibunya, saya tidak ingin seperti dia. Pada saat itu ia sudah hampir menyelesaikan kuliahnya, asdos di tangan dan kemudian ia berhenti dan bilang pada ibunya “saya ingin berjuang untuk akhiratnya”. Ia pun meninggalkan kuliahnya dan entah apa yang ia lakukan. Sepupu saya berpikir bahwa kuliahnya bukan hal penting dan ia harus mengabdi kepada agamanya. Mungkin ia lupa bahwa menuntut ilmu dan menghormati orang tua adalah sebuah jihad yang paling utama sebagai seorang anak. Ibunya hanya mengelus dada dengan perasaan berkeping keeping karena cita citanya sebagai ibu yang mengharapkan tidak kesampaian. Saya tidak ingin jadi seperti itu. Saya tidak ingin menghancurkan perasaan ibu saya sendiri. No. Rasanya dikecu itu taulah rasanya seperti apa.

Disela kegalauan, saya kadang merasa kesepian. Tapi rasa rasanya Tuhan masih sayang. Ia tidak mau meninggalkan saya sendirian. Datanglah teman teman lain yang juga masih berjuang seperti saya. Tidak banyak memang, tapi cukuplah untuk menjadi penguat dan penambah semangat. Rasa rasanya.. saya tidak sendirian. Kami memang tidak bisa membantu satu sama lain karena kami mengerjakan materi yang bertolak belakang. Tapi dengan kehadiran kami, hal itu memperingan perasaan. Kami berjuang bersama, sekaligus melakukan hal hal bodoh bersama. Saling back-up. Begitulah. Peyuuuuuuuukkkk..

Dan kemudian rasa rasanya masih kemarin saya jadi maba (mahasiswa baru), sekarang saya harus siap meninggalkan status saya. Terlepas dari cinta dan benci, perasaan jadi satu yang mewarnai kehidupan di sini. Sungguh ada rasa sedih dan haru untuk mengakhiri tugas saya sebagai calon wisudawan periode selanjutnya yang mudah mudahan bisa lulus di tahun ini. Semoga saya dan teman teman saya bisa lulus di waktu yang sama. Amin.

*ditulis sehari setelah pak dosen bilang “oke, revisi sekali dua kali, segera ajukan untuk ujian. ”. saya menutup pintu dan.. “Alhamdulilah.. akhirnya terjawab sudah doaku, Tuhan”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s