Perkara Jodoh

Rezeki, jodoh dan mati adalah rahasiaNya. Kita hanya perlu berusaha dan berserah diri. Itu saja. Saya tidak banyak membicarakan soal jodoh, bukan karena tidak peduli. Tapi karena memang belum terlalu terpikirkan. Tapi gegara teman teman saya sudah membicarakan soal jodoh, mau tidak mau saya pun juga larut dalam pembicaraan tersebut.

Sebagian peduli, sebagian tidak. Perbedaan perspektif antara laki laki dan perempuan menjadi sangat mendasar ketika mendengar dari dua sudut pandang tersebut. Kata beberapa teman laki-laki, biasanya mereka akan memikirkan pekerjaan entah itu dimana, rate gaji berapa, bagaimana sistem di dalamnya. Beda dengan perempuan. Secara psikologis di umur umur seperti ini kami akan memikirkan tentang kapan sebaiknya memulai hidup rumah tangga, dengan siapa, bagaimana orang tua, pengasuhan anak dan pola hidup pasca menikah.

Sungguh berbeda, tapi cobalah perhatikan. Keduanya bersinggungan. Laki laki akan menjadi imam dalam keluarganya. Ia adalah tulang punggung yang harus siap nafkah lahir batin. Maka, ia berpikir bagaimana langkah selanjutnya paska pendidikan. Apakah ia akan bekerja atau S2. Kalau iya dimana, kalau tidak bagaimana. Pada akhirnya keluarganya membutuhkan ini itu untuk melanjutkan hidup. Ya.. karena kita tidak cukup hidup dengan cinta. Kemudian perempuan, haruslah mengurus seisi rumah beserta jiwa yang hadir di dalamnya. Maka, ia sudah harus memikirkan kapan ia harus bersanding dengan laki laki belahan jiwanya, bagaimana pola pengasuhan anaknya sampai bagaimana pandangan ke depan tentang cita cita bersama. Keduanya saling melengkapi satu sama lain untuk membangun sebuah mahligai yang penuh rahmat.

Konsep Yin-Yang, keseimbangan. Dimana ada hitam disana ada putih, gelap dengan terang, kesedihan kebahagiaan, jatuh bangun, dan sebagainya. Begitulah keluarga, selalu ada laki laki dan perempuan yang saling memback-up. Walaupun belum tentu juga mereka cocok secara pemikiran. Tapi, bukankah cinta itu saling menguatkan? Cinta itu bertoleransi, bukan? Cinta itu memaksa mereka berdua yang sebenarnya tidak saling klik menjadi tali yang bersimpul mati, saling bertaut dan tak terpisahkan. Seperti halnya wejangan dari seorang kyai: mencintai itu adalah urusan setelah sah, bukan sebelumnya. Sebelumnya, hanya ada kepalsuan dimana hanya ada rasa manis saja. Sedangkan hidup sehidup semati membutuhkan kesungguhan dan kesabaran karena harus saling memahami sifat sifat berbeda yang mungkin timbul. “Karena pahit dan manis dimulai setelah sah”. Disinilah yin dan yang saling melengkapi. Yin dan yang tidak boleh saling menggantikan. It is not a matter of subtitution but it is a complementary thing. Saling melengkapi dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Ya setiap orang memiliki pemikiran berbeda mengenai jodoh. Saya pernah berdiskusi dengan beberapa orang teman dari Korea mengenai konsep pernikahan mereka. Ada yang bilang bahwa mereka akan menikah di usia tiga puluhan ke atas, yakni ketika mereka sudah siap dan benar benar ingin menikah. Sedangkan orang Indonesia pasti beranggapan orang yang menikah di umur tiga puluhan lebih dianggap sebagai perawan tua (yang pasti kena hujatan adalah perempuan. Laki laki dianggap masih wajar menikah di umur tersebut). Seorang teman dari Malaysia sana malah backpakeran jauh untuk mengobati rasa patah hatinya akibat belum mendapat restu dari orang tuanya. Ada juga teman saya dari Perancis yang ingin menikah tapi tidak ingin memiliki anak karena mengurus anak itu merepotkan. Sebagian lainnya merasa belum perlu menikah jika belum merasa pasangannya cocok, padahal mereka telah tinggal bersama. Baiklah.. ada banyak cerita dari orang orang dari seluruh dunia.

Sebagian sudah memikirkan jodohnya siapa dan metodenya bagaimana. Entah itu dengan pacaran, taarufan hingga perjodohan. Sebagian lainnya masih asik sendiri dan belum memikirkan hal hal seperti itu. Sebagian lainnya menggalau pasca putus dari mantan, bingung memikirkan jodoh hingga tidak mau jatuh cinta lagi karena merasa terkhianati cinta. Seseorang sudah melamar calonnya, walaupun pada akhirnya mereka tak berjodoh karena orang tua si laki laki tak menyetujui. Kemudian ada yang baru lepas dari mantan yang pernah memberikan janji janji manis namun di tengah jalan pria ini tidak tepat janji. Ada juga yang khawatir dengan jodoh karena takut terlalu tua untuk menikah. Ada lagi yang tidak peduli dengan siapa nanti ia berjodoh hingga ia santai saja memikirkan soal pendamping hidup. Tidak terlalu terburu buru katanya. Ketika teman teman saya sibuk berbingung bingung ria dengan urusan jodoh, saya malah bodo amat. Saya malah lagi bingung nih mau main kemana lagi besok. Haha.

Buat saya mengalir saja. Walaupun keponakan keponakan baru bermunculan. Saya sudah jadi budhe atau bulik buat mereka. Walaupun undangan undangan walimahan betebaran. Walaupun foto foto nikahan kawan semakin berseliweran. Saya masih belum mikir jauh, belum tergoda. Saya masih fokus sama masa depan (bukan masa depan pernikahan, hanya masa depan cita cita saja). Toh juga pasti saya menikah pada akhirnya walaupun entah dengan siapa. Yang terpenting adalah apakah saya sudah siap mental untuk tinggal bersama seseorang yang (mungkin) belum pernah kenal sebelumnya untuk menyempurnakan separuh agama. Ini bukan cuma urusan dunia, bahkan benar benar untuk urusan akhirat. Saya tidak menginginkan yang muluk muluk. Hanya butuh seorang lelaki tulen (baca: tulen. Lelaki beneran, 100 % laki laki) yang memiliki kriteria yang diharapkan orang tua saya. Mengapa orang tua? Ya, karena saya sendiri nggak punya kriteria aneh aneh. Saya nggak ngerti apa apa soal dunia laki laki. Jadi, saya hanya ikut apa yang bapak ibuk saya harapkan. Baiklah. Terserah deh. Lagipula, cinta pertama seorang anak perempuan justru pada ayahnya. Sehingga ketika si anak perempuan beranjak dewasa, ia akan mencari yang semirip mungkin dengan ayahnya (bukan secara fisik tapi secara perilaku dan mental). Dan.. saya pun tidak akan menerjang pagar yang telah di bataskan orang tua. Saya mungkin terkadang bandel, tapi tetaplah mereka dua orang yang tidak akan pernah saya sepelekan. Jadi, ada pagar pagar yang tidak mungkin saya terjang. Jika ayah dan ibu saya bilang tidak, maka saya pun tidak akan mengiyakan untuk calon saya. Kalau semisal sudah sampai waktunya tapi belum ada calon? Yaudah terserah maunya orang tua aja. Toh mereka tidak akan tinggal diam. Dijodohin? Yaudah.. manut aja.. entar tergantung pembicaraannya bagaimana. Yah.. walaupun hingga saat ini saya masih disuruh untuk menemukan pasangan saya sendiri. haha. “Udah gede, dek. Sana cari sendiri”. Wakakak.

Ada cerita lucu tentang pernikahan. Waktu itu saya dan ibu saya sedang berdiskusi tentang seperti apa saya paska kuliah. Setelah pembicaraan ngalor ngidul mengenai masa depan, beliau mengingatkan “Walaupun kamu nanti akan bekerja atau lanjut sekolah lagi, kamu juga harus ingat batasan umur untuk perempuan”. Hmm.. baiklah. Saya mengerti arah pembicaraan ibu Kemudian saya dengan sengaja menantang “Ibu ingin saya menikah di umur berapa, memangnya?”. Ibu saya menjawab “Dua tiga dua empat lah”. Saya bengong sejenak dan ketawa mati matian. “Buuuuukkkk…Sekarang umur saya juga udah segitu. Haha. Cuma calonnya aja belum ada”. Wakakak. *ketawa kecut masalah umur*. Lucu sumpah. Ibu saya ternyata masih menganggap saya berusia dua puluhan. Saya dianggap masih anak anak. Teman teman saya tertawa jahat ketika saya menceritakannya kepada mereka. Isssh….

Orang tua saya tidak memberi warning umur muda kepada saya untuk menikah. mereka bahkan tidak menyarankan saya untuk menikah cepat cepat. “Belajar dulu, main dulu yang jauh, kamu masih kecil masih muda. Nikmati kehidupanmu. Nikah itu perlu persiapan mental yang besar”. Jadilah saya pun seperti disetujui keinginannya. Apalagi saya termasuk yang cukup skeptis dengan pernikahan. “Nikah itu bukan sekedar hompimpa alaihum gambreng kemudian main, bisa nas, tit ataupun bar njuk besok main lagi”. No no.. bukan itu. Seperti yang saya sudah bilang kemarin, pernikahan adalah masalah agama. Dimana persiapan fisik dan mental akan menentukan segala sesuatunya ke depannya.

Saya menghargai teman teman yang menikah muda. Mungkin memang jodoh datang ketika mereka masih belia dan di saat yang sama mereka siap membangun mahligainya. Saya? Ngikut kata orang tua udah cukup lah. Orang tua bilang saya suruh main dulu ya saya gimana nggak bahagia. “tenang.. jodoh nggak kemana kok”. Begitu wejangan mereka. siappp pak.. buk..

Hmm.. jodoh ya.. ikhtiar saja dulu. Toh saya juga tidak menutup diri apalagi hati. Cuma emang belum waktunya aja sih menurut saya. Selo lah.. nggak perlu terburu buru. Doakan saja yang terbaik. Simple.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s