Perlindungan

Seorang perempuan muda menggendong seorang putra kecil berusia delapan belas bulan mampir ke rumah kami. Wajahnya sayu dengan beban hidup yang harus ditanggung seorang single parent yang tidak menikah. Belum menikah paling tidak. Usianya baru dua puluh tahun. Putra kecilnya itu didapat dari kecelakaan karena terjerumus ke dalam pergaulan yang seharusnya ia jauhi. Salah langkah.

Saya mengenalnya sebagai teman satu kelas adik perempuan saya ketika masih di sekolah dasar. Ia dijauhi teman temannya karena dianggap jorok dan ‘kurang gaul’ menurut pandangan anak anak SD pada jaman itu. setiap hari ia kenyang bully-an. Bahkan almarhumah wali kelasnya pada saat itu juga sering membentak bentak dan mengata ngatai si anak bahwa ia bodoh dan seabreg sindiran dan kalimat kalimat merendahkan lainnya. ia tumbuh menjadi seorang anak yang pemalu, rendah diri, mudah menyerah, kurang mau melawan arus dan selalu nrima ing pandum. Ia sudah terlalu sering disakiti oleh dunianya, ia terlalu sering dikhianati orang orang disekitarnya. Di satu titik, bukan lagi perlawanan yang ia lakukan. Tapi penerimaan terhadap kerasnya kehidupan melalui lemahnya mental yang dibentuk oleh lingkungannya. Lingkungannya juga terlalu jahat. Ya tentu saja hidup setiap manusia sudah digariskan. Tapi tidak berarti si manusia itu akan menyerah jika kehidupan keras menghajarnya terlalu sering. Harusnya akan terbentuk sebuah defense mechanism yang mampu menjadi tameng untuk dirinya sendiri. (duh.. jadi kebawa skripsi). Miris memang.

Belum juga ia selesai di bangku kelas empat, ia keluar dari sekolah. Kabar burung mengatakan bahwa ia pindah ke sebuah pondok pesantren untuk belajar agama. Kabar itu bagaikan kabar yang hilang terbawa angin. semua orang tidak sedih ataupun senang. Semua orang kembali ke aktivitas mereka masing masing.

Sepuluh tahun kemudian, ia muncul di pintu rumah kami membawa seorang putra kecil dengan nama Ravi. Nama yang indah. Namun cerita di balik hidup si ibu anak ini yang tidak indah. Pasca beberapa tahun hidup di pondok, entah bagaimana ceritanya, ia keluar. Mungkin saja karena defense mechanism yang tidak membentuknya menjadi pribadi yang liat membuatnya salah jalur. Ia terbawa pergaulan hingga menyalahi aturan agama, suatu hal prinsipil yang harusnya sangat dipegang teguh olehnya hasil dari pendidikan pondok beberapa tahun. Selesai sudah. Ia hamil.

Tidak ada kata pernikahan tercapai hingga detik ini. alasannya, karena perbedaan keyakinan. Ayah si perempuan ini tidak menyetujui si anak menikah dengan laki laki yang berbeda agama. Si perempuan beragama muslim dan si laki laki beragama nasrani. Jadilah mereka hidup di dunia yang bukan satu rumah seperti seharusnya. Padahal hubungan si perempuan dengan keluarga si laki laki cukup baik. Sayang sekali, Ravi harus hidup tanpa ayahnya.

Sambil berlinangan air mata ia bercerita susah payah hidupnya. Ia Tinggal bersama keluarga yang broken, ayah si perempuan menikah lagi dengan wanita lain sedangkan ibu si perempuan telah meninggal sejak si perempuan masih kecil. Si ibu tiri ini berlaku kurang adil terhadap anak-anak tirinya. Rumor mengatakan bahwa si ibu tiri sangat pelit. Bahkan si perempuan berkata bahwa ia sungkan hanya sekedar makan di rumahnya sendiri. Semua karena ibu tirinya begitu menguasai rumah tersebut. Belum lagi adik si perempuan menderita down syndrome. Lengkap sudah.

Ada satu hal yang membuat saya terenyuh dengan cerita kemarin sore di rumah saya. Adik saya bercerita bahwa seorang entah siapa pernah menawar Ravi dengan harga di atas lima puluh juta. Dan si perempuan tidak sama sekali mengizinkan anaknya ditukar dengan lembaran lembaran yang sebenarnya ia sendiri masih membutuhkan uang tersebut untuk melanjutkan hidup. Ia sama sekali tidak memiliki uang pada saat itu. Rasa rasanya jika bisa ia mengambil selembar saja, tentunya bisa digunakan untuk membeli keperluan Ravi. Tapi, dengan sumpah seorang ibu, ia tolak mentah mentah keinginan si orang tersebut. Ia lebih rela hidup melarat daripada harus kehilangan buah hatinya. Ia tidak sama sekali mengizinkan Ravi diadopsi –dibeli- lebih tepatnya. Rasa sayangnya terlalu besar.

Yang saya pelajari dari si perempuan ini adalah pada akhirnya ia mengembangkan defense mechanismnya sendiri. Ia telah tumbuh menjadi sosok yang melindungi. Ia tidak lagi bisa dibully seperti ketika ia masih sekolah dasar. Mungkin pengalaman di masa kecilnya menempanya menjadi pribadi yang lebih berani. Ia merasakan sendiri bagaimana rasanya dicaci-maki bahkan oleh siapapun karena dianggap autis, gila, bodoh, tolol dan tidak menarik. Ia tidak ingin anaknya mengalaminya lagi. Sehingga ia benar benar melindungi Ravi dari kerasnya lingkungan. Bahkan ia pun juga sangat ingin Ravi mendapatkan pendidikan yang layak karena ia menyesal tidak menamatkan sekolah dasarnya. Ketika kecil, ia tidak dilindungi dan ia memberikan perlindungan kepada putranya. Sebuah defense mechanism yang abadi. Seorang ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s