Santunan Sepuluh Juta Untuk si Fakir Pulsa

Pagi pagi ada nomor asing yang masuk. Saya pikir salah satu sepupu saya menelepon dengan nomor lain. Maka saya angkat telepon tersebut. Dengan suara kemresek, si penelepon menjelaskan bahwa ia adalah salah satu pegawai Indosat. Saya yang tidak percaya hanya berdehem dan pura pura sok paham. Ia mematikan telepon. Tak berapa lama kemudian, si penelepon muncul lagi. Kali ini ia mungkin agak marah gara gara saya menyarankan ia untuk mematikan teleponnya sementara. “Pak, suaranya nggak jelas nih”. Saya berkali kali berkata seperti itu. Padahal memang kenyataanya suaranya kurang jelas. “Mbak, saya jelaskan lagi, Mbak mendapatkan uang santunan sepuluh juta”. Whatttt??? Tekkkeee.. sepuluh juta.. banyak jugak. Tapi kok belakangnya nggak enak yak. Santunan meeen.. emangnya ada yang mati sampe disantunin segala. Dengan nada agak meremehkan saya bilang ” kok cuma sepuluh juta? Emang buat apa?”. Kali ini, ia malah memarahi saya “Yaudah kau tutup aja teleponnya. Tutup saja sana”. Saya yang menahan tawa “Oh, yaiyalah. Pasti”. Dengan satu tap pada tombol merah, saya sudahi pembicaraan bodoh saya pagi ini.

Analisis: ya kalik, Indosat segitu kerenya ngasih hadiah cuma sepuluh juta dengan mengandalkan nomor komersialnya. Indosat pasti punya nomor telepon kantor kan, nah kalau ada undian dan konsumen menang pasti mereka akan menghubungi dengan nomor telepon kantor. Nah, ini menghubunginya pakai nomor 0858xxx. Belum lagi suaranya kemresek –berisik-. Duh.. neleponnya dari atas gunung po? Haha. sampe sinyal aja rebutan. Miskin amat indosat sekarang. Sebagai pelanggan Indosat, saya cukup prihatin kalau Indosat sampai jatuh miskin. ehehehe

Kedua, dengan nada yang terburu, si penipu menjelaskan bahwa saya adalah salah seorang yang perlu disantuni. Nipunya nggak cerdas euy. Pasti sering bolos kelas bahasa Indonesia. Setahu saya kata ‘santunan’ adalah sebuah term yang secara semantik mengarah pada hal hal yang berhubungan dengan kesedihan. Lhah.. saya ngapain cobak? Iya sih emang sejujurnya saya fakir pulsa, tapi nggak perlu disantunin sampe sepuluh juta juga. haha. Saya nahan ketawa.

Ketiga, penipunya mutung karena saya kerjain. Oleh karena tidak tahan dengan suara miskin sinyal dari pembicaraan kami, saya menyarankan kepadanya untuk menjernihkan suara ponselnya. Saya pikir jika dia serius maka dia akan menelepon lai. Eh, beneran saya ditelepon lagi. Lucunya ketika dia menjelaskan lagi dan saya pura pura bego karena kaget akan diberi uang sepuluh juta, ia marah. “Sudah kau tutup telepon kau saja”. Nada marahnya, membuktikan bahwa ia jelas jelas mau menipu. Bukannya seorang Customer Service harus bersikap (sok) semanis mungkin pada pelanggannya bahkan dalam keadaan tertekan. Lhah.. ini mas mas penipu ini malah memarahi saya. Ya saya sebagai pelanggan yang harus diperlakukan (sok) kayak raja, jelas marah lah. Raja kok ditantangin. Siapa kamu? #ehh.

Telepon saya tutup dan saya kembali sibuk dengan dunia saya. Lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s