Ketoprak Ongkek #2

Kepulangan saya dari Bandung dengan hadiah sebesar tiga ratus dolar membuat saya berpikir ulang, apakah saya mampu menjalankan projek ini sendirian. Sendirian? Apa maksudnya sendirian?. Baiklah, akan saya jelaskan. Saya sendiri tinggal di kota Jogja, sedangkan Hijjaz, Titin dan Sugi terpisah ratusan kilometer jauhnya dari saya. Sangat tidak mungkin apabila kami sering sering bertemu, pasti akan makan biaya, waktu dan tenaga. Yang utama adalah biaya. Tiga ratus dolar tidak cukup untuk membiayai mereka semua pulang balik berkali kali dari kota mereka ke Jogja. Kasihan juga kalau harus sampai merogoh kocek pribadi karena mereka juga anak kos sama seperti saya, masih tergantung sama orang tua. Saya tidak ingin orang tua mereka jadi terbebani gara gara biaya. Jadi, logis saja. Akhirnya kami sepakat untuk menyerahkan proyek ini pada saya yang tinggal di Jogja. Tentu saja saya tidak sendiri. Komunitas saya menyuport penuh kegiatan ini. Titin, Hijjaz dan Sugi akan membantu publikasi dan datang di hari H kegiatan. Ya, kendala jarak dan waktu akhirnya terpecahkan.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah menghubungi ketua pemuda setempat dan menjadwalkan pertemuan dengan tetua Tegalgendu untuk menyampaikan maksud dan tujuan kami. Sebagai anak muda yang mencintai seni, kami ingin melihat wujud asli dari kesenian Ketoprak Ongkek. Untuk itu, diperlukan bimbingan dari para tetua untuk mewujudkan harapan kami. Sambutan mereka sungguh luar biasa. Mereka sangat senang dengan inisiatif dari anak muda untuk menghidupkan kembali kesenian yang telah lama mati ini. Pertemuan ditutup dengan bahagia. Hmm..

Di bulan bulan selanjutnya follow up kegiatan berjalan tidak begitu mudah. Wajar saja, saya juga memahami bahwa teman teman pemuda setempat juga telah memiliki acara yang sudah mereka susun di rancangan kegiatan tahunan mereka. Saya harus menghormati atas apa yang telah mereka buat. Tapi, memang pemuda dan tetua setempat telah mengusahakan kegiatan tersebut. Awalnya akan dilaksanakan di bulan Oktober sebagai perayaan hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober. Akan tetapi rencana ini batal karena ketiadaan sumber daya manusia. Para pemain tidak bisa mencocokkan waktu mereka untuk berlatih. Para pemuda juga masih sibuk dengan kegiatan masing masing.

Betapa tidak mudah bekerjasama dalam sebuah tim yang kita sendiri tidak mengenal satu sama lain. Pada pertengahan bulan November, kami mencoba untuk mengumpulkan kembali komitmen yang telah dibangun. Pak Joko, sang Maestro Ketoprak Ongkek sebenarnya sudah patah arang untuk melanjutkan kembali sisa sisa kesenian ini. Kami menemui beliau di suatu malam setelah kami pulang dari sebuah acara di Bantul. Saya dan teman teman terus terusan menyemangati sang maestro agar kesenian ini tak lagi mati. Usaha mati matian ini membuahkan hasil. Akhirnya di detik detik terakhir, kami mampu meyakinkan sang maestro untuk tetap menjalankan rencana waau sepahit apaun itu hasilnya. Kita tidak akan pernah tahu hasilnya tanpa kita mencoba bukan? Akhirnya beliau memanggil ketua RT dan RW setempat dan menjadwalkan pertemuan penting dengan seluruh lapisan masyakarat di minggu depannya. Saya, Helmi, Santika, Safura pulang dengan perasaan lega.

Di pertemuan pertemuan selanjutnya, mulai terlihat seberapa jauh perkembangan tersebut. Warga mulai berdatangan dan berkomitmen penuh dalam menjalankan kegiatan kesenian ini. Hanya dalam waktu beberapa minggu, warga konsisten berlatih seni peran Ketoprak Ongkek. Tentu saja ada satu dua orang yang tidak datang. Akan tetapi semangat terus terjaga hingga akhir. Hal yang menggembirakan adalah turut sertanya pemuda dalam latihan seni peran ini. Tentunya tanpa adanya pemuda yang mau bergabung, Ketoprak Ongkek hanya akan menjadi cerita turun temurun saja. hal yang lebih mengejutkan adalah para pemain dari pementasan tersebut, separuhnya adalah pemain baru. Waaa.. berarti memang ada regenerasi dan pembaruan dalam melestarikan kesenian ini. Tadinya pemainnya adalah para senior Ketoprak Ongkek, akan tetapi formasi berganti dengan adanya pergantian pemain. Sungguh membuat tercengang. Haha.

Kendala yang dialami selama latihan adalah konsistensi pemain untuk datang. Ada satu dua orang yang tidak muncul dalam latihan, akan tetapi ternyata karena komitmen dari warga sudah cukup besar ditambah dengan sudah dekatnya tanggal pementasan, membuat semua berjalan lebih mudah dari yang diperkirakan. Para pemuda juga turut berkontribusi dengan membentuk panitia pementasan sehingga memudahkan koordinasi hingga pementasan. Selain itu ketiadaan alat musik menjadi salah satu keterbatasan. Dengan inisiatif warga, digunakanlah kotekan (alat musik bambu) sebagai pengiring ketoprakan. Seru sih. Masalah terpecahkan. Untuk kostum sendiri, syukurnya ada peninggalan kostum Ketoprak Ongkek yang bisa digunakan kembali.

Masalah justru datang dari tim saya sendiri. Saya mengharapkan Hijjaz, Titin dan Sugi untuk bisa datang. Akan tetapi kendala terbatasnya dana menjadi masalah yang sangat pelik. Hijjaz sendiri tidak bisa datang ke Jogja karena beliau ada urusan dengan visa (selamat kak, lolos LPDP. Semoga ilmunya barokah dan bermanfaat). Sugi tidak bisa datang karena jauhnya lokasi. Beliau bertempat tinggal di Riau dan di saat yang sama sedang menjalankan penelitian yang dilaksanakan sampai bulan Januari. Titin hampir tidak jadi berangkat karena hampir tidak mendapatkan tiket untuk berangkat. Bener bener perjuangan untuk menyisihkan uang dan mengelolanya sehingga setidaknya ada yang bisa datang ke Jogja dan melihat dengan sendiri bagaimana Ketoprak Ongkek dijalankan.

Cerita yang diangkat Ketoprak Ongkek kali ini adalah mengenai Babad Tanah Mataram. Pangeran keraton Mataram ini (saya lupa namanya. duh.. hiks..) marah karena Belanda berusaha mengadu domba utusan dari Keraton Jogja. Oleh karena rasa cinta tanah air Si Pangeran terhadap negaranya sangat besar, ia memilih untuk tidak terlena dengan iming iming kekuasaan yang ditawarkan oleh Belanda. Di akhir, ia dapat mengusir penjajah Belanda dari negerinya.

Pertunjukan Ketoprak Ongkek memiliki dua fungsi. Fungsi pertama, pertunjukan Ketoprak Ongkek menjadi sarana hiburan rakyat karena pada mulanya ketoprak merupakan bagian dari hiburan rakyat. Kedua, sebagai salah satu bentuk kesenian, Ketoprak Ongkek menjadi sarana penyerapan nilai nilai pada audiens. Warga akan diajak untuk berkomunikasi dan mendengarkan nilai nilai yang disampaikan para pemain. Secara tidak sadar, mereka akan pulang dengan membawa nilai nilai tersebut. Sehingga Ketoprak Ongkek yang ditampilkan di tahun 2015 ini memiliki visi menghidupkan kembali kebudayaan yang telah mati, meningkatkan kecintaan generasi muda pada budaya lokal, memberikan nilai nilai edukasi kebencanaan tanpa bermaksud menggurui. Meskipun tema yang diangkat merupakan sejarah Mataram, nilai kebencanaan tetap bisa dimasukkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas, khususnya Kota Gede. Kali ini yang diangkat adalah masalah banjir yang sedang nge-hits di Jogja. Percaya atau tidak, Jogja menjadi ancaman banjir karena konstruksi kota ini yang makin lama tidak mengindahkan ruang bagi tumbuhnya pepohonan. Tadinya pohon, jadi beton. Itulah gambaran Jogja saat ini. Maka, jika kalian melihat ada tagline “Jogja Ra Didol” yang berarti Jogja tidak dijual, hal tersebut adalah kritik terhadap penguasa karena semakin liarnya bangunan bangunan hotel dan perkantoran yang semakin menunjukkan Jogja sudah tumbuh tidak sehat. Salah satu dampak dari pembangunan yang tidak mengindahkan struktur lingkungan, membuat resapan air tanah berkurang dan air yang semakin meninggi hingga ke badan jalan ketika hujan deras melanda. Jogja kok bisa banjir. Hmmm.. itu yang nggak asik. Tidak hanya mengkritisi pemerintah, melalui Ketoprak Ongkek ini, masyarakat diingatkan untuk menjaga lingkungan agar tidak banjir. Toh, yang kena dampak langsung pasti masyarakat. Sehingga untuk bisa tetap terlindung dari banjir, warga harus menjaga lingkungan yakni dengan tidak membuang sampah seenaknya sendiri, apalagi di kali. Pesan yang disampaikan melalui adegan goro-goro ini dikemas melalui bentuk lawakan dua orang pemain Ketoprak Ongkek. Banyak warga tertawa karena keduanya sangat lucu. Justru ketika warga menganggap hal tersebut hanya lawakan, nilai nilai yang masuk akan lebih diingat.

Acara yang berlangsung sejak pukul 19.30 berakhir pada pukul 23.00. Antusias penonton sangat tinggi, dibuktikan dengan penuhnya tempat pertunjukan. Tempat pertunjukkan berada di Balai Desa Tegalgendu, meski tidak terlalu lapang, tapi penonton larut dalam euforia pertunjukkan. Pemainnya mampu menjiwai peran dengan sangat baik. Meskipun banyak diantara mereka adalah orang orang baru dalam bidang seni pertunjukan ini, akan tetapi semua bisa mengerti jalan ceritanya. Keren deh pokoknya. Penonton juga sangat mendukung acara ini. Panitianya keren juga. Terlepas dari banyaknya konflik yang ada, semua sukses mengesampingkan perbedaan dan menjadikan visi dan misi menjadi satu tujuan selaras. Sungguh bukan proses yang semudah membalikkan telapak tangan. Begitu banyak pelajaran yang bisa kami dapatkan melalui kegiatan ini terutama dalam jatuh bangun membangun kebudayaan yang mati suri jadi hidup kembali. Bagaimana kami harus menghadapi konflik internal maupun eksternal, mebangun kepercayaan diri, membangun keberanian dan komunikasi yang baik dengan semua pihak. Belajar bertoleransi dengan semua kepentingan dan merasakan bahwa kesabaran adalah jalan terbaik dalam bertoleransi itu sendiri.

Terimakasih yang sebesar besarnya kami ucapkan untuk YSEALI, Bandung BEYOND ASEAN yang telah memfasilitasi terselenggaranya kegiatan ini. Spesial teruntuk Pak Joko dan seluruh senior Tegalgendu serta Tegalgendu Youngsters juga Ketjil Bergerak yang telah mengajarkan kepada kami kesenian daerah yang sangat memukau. Spesial untuk Santika Anggrahini, Syakirun Niam, Helmi Zuhdi Mulia, Safura Herlusia, Anung Prabowo, Noer Achmad, Arma Setyawan, Aidah Rahmanita, Masgustian, Titin Anisa Syahrial, Hijjaz Sutriadi, Sugianto, Daya Anggara, Fitria Nur Shabrina, Mahendra, Safiera Dhea, Rizki Amirudin, Silvia Peggy, Dhania Citra dan semua yang telah membantu yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Tanpa kerjasama kalian semua, nggak akan bisa jalan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s