Makrab Seni #1

Wuhuuuu.. sudah saatnya menyambut adik adik baru. Di usia Unit Seni Rupa yang baru satu tahun ini, kami sudah harus mempersiapkan upacara welcoming party untuk adik adik sayang yang akan melanjutkan kepemimpinan kami selanjutnya.

Sebenarnya sejarahnya mengapa sampai ada makrab adalah karena kami butuh masa untuk pembentukan susunan kepengurusan di tahun 2014/2015. Salah satu yang dibutuhkan adalah pengesahan teman teman anggota baru USER UGM sebagai anggota resmi. Nah, untuk itu diperlukan pengenalan keUSERan pada adik adik baru tersebut. Maka, pengenalan tersebut disampaikan dalam forum tiga hari bernama makrab.

Sebagai orang yang mengusulkan adanya makrab, Kak Bagus menjadi ketua panitia makrab kali ini dan secara sembarangan menjadikan saya sebagai korban berikutnya bersama dengan Tian dan Cecep sebagai tim acara. Haha. Hanya dalam waktu dua minggu kami mengurus segala sesuatunya, membuat konsep, memilih tempat, membentuk panitia lengkap dan koordinasi sana sini. Semua hal harus dilaksanakan secara simultan untuk kelancaran.

Oleh karena kendala waktu yang sangat mepet, kami berusaha untuk memadatkan kegiatan menjadi tiga hari yang kemudian dipisah waktunya untuk mengakomodasi teman teman yang tidak bisa ikut karena ada kegiatan lain. Maka kegiatan pengenalan USER dilaksanakan selama dua minggu. Minggu pertama dilaksanakan pada hari sabtu sejak pukul 08.00 dan berakhir pukul 16.00 sedangkan minggu kedua berlangsung selama dua hari yakni pada akhir pekan di rumah Pak Hardy dengan konsep menginap. Semua kegiatan dikomposisikan dengan tujuan agar teman teman baru bisa mendapatkan pengalaman dan informasi yang berimbang dan mengenal UKM ini lebih mendalam. Pada hari pertama, materi dibuka oleh Mbak Fitria dan Mas Bondan yang mengenalkan USER dan sejarahnya. Kemudian ada Kak Khalid tentang… . kedua acara tersebut merupakan pengenalan USER UGM dari internal. Agar acara tidak membosankan sekaligus memberikan wawasan kesenirupaan di luar UGM, panitia memberikan kesempatan untuk mengenal UKM dari luar UGM yakni Ketjil Bergerak.

Di hari kedua, acara dikonsep dengan pengenalan manajemen seni oleh Mas Irham dan Pak Hardy yang memberikan materi kesenirupaan. Di sore hari, peserta diajak untuk membuat sket yang nantinya akan dipresentasikan di sesi malam presentasi. Acara ditutup dengan wedangan, sebuah acara kecil penghangat hubungan antara kakak angkatan dan adik angkatan. Acara yang full makan pikiran selama seharian penuh ditutup dengan sesi santai. Apa nggak asik tuh.

Kami bangun keesokan harinya, ibadah, kemudian makan pagi dan dimulailah outbond yang cukup seru hingga siang hari. Kami menyusuri jalan jalan di sepanjang Brosot. Ada beberapa pos yang harus dilewati sebelum bisa sampai ke pos terakhir untuk pelantikan. Dan akhirnya, teman teman baru USER UGM bisa resmi menjadi anggota USER UGM dengan dipakaikan slayer berwarna hitam.

Suka dukanya mengurus kegiatan makrab ini tentu sangat beragam. Saya merasakan bagaimana sulitnya berkoordinasi dengan teman teman apalagi yang ilang ilangan dan cukup intimidatif. Ada kalanya karena tekanan salah satu rekan kerja membuat saya mudah panas karena suasana yang tegang. Saya memiliki pendapat namun dibantah oleh rekan kerja tersebut. Beliau memiliki ide lain yang dipandang lebih baik menurutnya. Akan tetapi konsep yang telah kami buat bukan konsep instan yang dibikin serampangan. Prosesnya juga melalui mekanisme check and re-check dengan tim serta beberapa konsultan termasuk ketua acara. Jadi mana mungkin kami tidak memikirkan baik buruknya. Termasuk dengan mengundang UKM luar untuk masuk menjadi pembicara. Saya pikir tidak ada salahnya untuk memberikan wawasan bahwa diluar sana juga ada kelompok kelompok yang lebih hebat, jadi akan lebih baik jika sedari sekarang kita membuka mata dan terus menggal informasi darimanapun tidak hanya dari kalangan internal. Dunia dengan cepat berubah dan kita harus adaptif serta reaktif untuk menyikapinya. Perspektif dua sisi itulah yang ingin saya sampaikan kepada teman teman baru. Akan tetapi pendapat ini dibantah oleh rekan kerja ini. Beliau merasa tidak penting untuk mengundang UKM luar karena ini adalah acara internal. Perbedaan pendapat seperti ini yang tidak menemui jalan keluar. Saya masih ingat, saya masih sangat keras kepala untuk mempertahankan apa yang saya yakini konsep tersebut bukanlah konsep instan yang dibuat dalam satu jam. Ini adalah hasil pemikiran tim yang dipikirkan melalui mekanisme pertimbangan yang cukup urgent. Sedangkan beliau juga bersikukuh bahwa kita harus menguatkan internal terlebih dahulu. Belum lagi konsep acara ada banyak yang berubah. Saya sebenarnya cukup marah karena saya merasa beliau tidak menghargai kami sebagai orang yang diberi amanah untuk mengurus kegiatan. Kami sudah capek memikirkan harus seperti apa dan kemudian berubah di tengah jalan karena pendapat kami dianggap tidak relevan dengan keadaan sekarang, membuat kami, terutama saya cukup marah karena merasa tidak dihargai. Sempat seketika saya merajuk “njuk kenapa nggak dari kemarin dia yang mengajukan diri jadi acara”. Persoalan ini tak kunjung selesai dan akhirnya kami sepakat untuk membawa ke dalam forum besar dan dipertimbangkan melalui rapat dengar pendapat dari seluruh forum. Di forum besar tersebut akhirnya diputuskan konsep kami yang dipakai.

Di tengah tengah acara pun juga ada perubahan yang tanpa sepengetahuan kami tiba tiba ada tambahan properti yang sejak awal tidak dibicarakan. Kami sampai harus melakukan rapat mendadak untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Sikap seperti inilah yang kurang saya sukai karena tidak adanya komunikasi yang baik antar anggota. Solusinya hanya sikap lapang dada dan kemauan dari semua pihak untuk menyambung kembali komunikasi yang terputus. Selain itu mengalah juga memberikan kesempatan untuk lebih nrima dan ikhlas.  Fleksibilitas dan sikap konsisten menjadi tolok ukur penting. Sebuah konsep yang sudah jadi tentu harus dihargai karena siapapun yang membuat konsep tersebut tentu tidak membuatnya dalam sekali jadi. Ada banyak pertimbangan untuk menjadikannya sebuah formula yang tepat. Konsistensi juga membuat kita harus siap ditentang dan dpertanyakan kekonsistenan kita dalam membuat konsep. Akan tetapi, fleksibilitas dalam menerima semu masukan juga penting. Selama kita bisa mempertimbangkan baik buruknya, kenapa tidak. Kita harus bilang tidak apabila bertentangan dengan apa yang sudah disepakati, akan tetapi menyetujui juga menjadi hak masing masing individu dalam menyikapi sesuatu. So, be wise.

Akhir kata, makrab pertama ini sukses dan sangat amat sangat berkesan. Saya belajar sangat amat sangat banyak dari dua minggu yang sangat sibuk. Sungguh berkesan dan berpelajaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s