Persahabatan

Sejauh mana persahabatan diuji? Bukan ketika masa bahagianya. Tapi ketika masalah muncul. Sebuah persahabatan normal memiliki masa naik turun. Bukan masa senang terus atau sedih yang terus menerus. Sebuah persahabatan layaknya semangkuk sup asam manis. Bukan sup yang terasa manis saja atau gurih saja. jika hanya ada satu rasa dalam cangkir tersebut maka kehampaan akan merasuk hingga tiap tetesnya. Ya, karena setiap saripatinya adalah campuran dari pahit manis kehidupan kita. seperti halnya pahit yang bersanding dengan manis, asin, asam, hambar dan berbagai rasa lainnya, perbedaan tersebut tak akan terasa tanpa adanya pembanding. Aneka rasa yang bermacam macam itu menghasilkan secangkir pengalaman tak terlupakan. Rasa yang sangat lezat.

Ibu saya mengajarkan bahwa jarak adalah sebuah hal yang absolut. Sesuatu yang harus kau berikan untuk apapun termasuk dalam sebuah pertemanan. Selalu jaga jarak aman karena bahkan dua mobil agar berjalan lancar haruslah memiliki jarak diantara keduanya. Jika mereka tidak samasekali berjarak maka akan terlalu berbahaya. Tabrakan yang tak terhindarkan mungkin saja terjadi. sama halnya jika dua orang berteman terlalu berjarak. Rasa tidak saling percaya sangat mungkin timbul.

Ketika kita diuji dalam kesederhanaan kita, pertanyaannya mampukah kita bertahan untuk saling memercayai satu sama lain? jika seorang bisa mengerti lainnya, maka harusnya akan lebih mudah untuk berkomunikasi dan mengerti isi hati satu sama lain. Tidak perlu kekayaan, keren atau latar belakang wah untuk membuat tali pertemanan yang solid. Kekayaan, apakah itu dibawa mati? Tentu tidak. Justru lebih keren jika bisa bertahan dengan apa yang kita punya walaupun dalam serba kekurangan. Keren, apakah tolak ukur dari keren mampu membuat kita bahagia?. Latar belakang yang kesannya ‘sangar’, bisakah membantu kita mendapatkan pengalaman yang mengayakan batin?. Bahkan yang sebenarnya menguatkan adalah datangnya ujian dariNya. Ya, ujian berupa masalah. Entah apapun itu. Masalah akan membawa kita kepada dua hal. Menguatkan ataupun melemahkan. Datangnya masalah justru akan menguatkan sebuah persahabatan karena kesederhanaan mereka yang saling menguatkan satu sama lain saling memback-up dan siap untuk berkorban satu sama lain.  Sudah seperti ikatan saudara, tak bisa dibedakan mana kentalnya darah dan kentalnya air. Sahabat sudah seperti saudara, partner in crime. Tapi, jika tak sevisi maka akan melemahkan. Rasa tak saling percaya akan menghancurkan dalam proses penyelesaian masalah. Hasilnya? Masalah yang semakin keruh karena terlalu banyak campur tangan orang yang harusnya membantu menjernihkan masalah. Semua diukur dengan emosi dan mereka lupa bahwa logika dan hati haruslah imbang. Jangan berpihak jika memang tidak perlu berpihak. Netral lebih baik agar tidak membunuh salah satunya.

Bukan kepalsuan yang dibutuhkan dalam ramuan persahabatan. Ramuan keaslian, itulah yang harus didapatkan. Tak peduli darimana, latar belakang seperti apa, karakter bagaimana, jika pertemanan dilandasi dengan ‘siap apa adanya’, pastilah akan terus terjaga. Seperti halnya kawan yang siap sehidup semati, mereka akan menerima kita apa adanya sama dengan kita yang siap dengan mereka apa adanya. Sudah, semudah itu saja.

Rasa percaya muncul ketika kita ikhlas. Sedangkan rasa tidak percaya datangnya dari prasangka. Sudah pernah dibunuh prasangka? Sangat menyakitkan. Apalagi jika datangnya dari kawan sendiri. di satu titik rasa rasanya ingin memaki karena menunjukkan bahwa mereka tidak menaruh kepercayaannya kepada kita, sahabatnya sendiri. tapi kemudian hal tersebut terkikis karena teringat lagi bahwa ‘ikhlas lebih melegakan’. Maka setidaknya saling belajarlah berkomunikasi dari hati ke hati agar tidak saling membunuh dengan prasangka. Agar tidak menyesal di kemudian hari karena sudah membunuh perasaan orang lain dengan prasangka.

Apalagi kadang dengan bodohnya kita menceritakan hal hal yang sama berkali kali. Ketika kita sadar sudah diingatkan, kita jadi malu sendiri. Kembali ke jarak tadi, berilah jarak pada apapun. Termasuk persahabatan karena bagai perumpamaan, matahari terbit sangat indah jika dilihat dengan jarak. Jika kita terbang terlalu dekat, kita akan meleleh, jatuh berkeping keeping seperti ikarus yang terbang terlalu dekat dengan matahari. Jangan rusak persahabatan. Maka berilah ruang memuang pada ruang persahabatan itu agar ia tetap awet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s