Potongan Kue

Apakah engkau merasa sakit hati? Tanya si gadis kecil pada seorang wanita paruh baya. “Tentu saja tidak, Nak. Aku tak samasekali merasa sakit hati. Bahkan aku beruntung bahwa aku dikuatkan karenanya”. Ia menampik perasaan sakit hatinya. Tapi aku tahu bahwa nada dan perasaannya menyiratkan perasaan terluka. Dibedakan. Disingkirkan. Ditentang dan diabaikan untuk hal lain yang dianggap lebih penting. Sekental apapapun darah dibandingkan dengan air, tidak akan cukup untuk melunakkan perasaan tersisih karena dibedakan.

Dan.. sejak saat itu si gadis kecil menangkupkan tangannya ke depan dada. Membisikkan sepatah doa berisi harapan agar ia tak memotong kue terlalu kecil atau terlalu besar untuk seseorang. Ya, karena setiap potongan kue disana memiliki arti besar. Ada yang pernah berkat bahwa adil bukan berarti memberikan potongan yang sama pada orang orang di sekitar kita. terkadang ada potongan yang berbeda akan tetapi jika bisa sama, apakah itu tidak bisa?. Lagi lagi, darah itu lebih kental dibandingkan dengan air. Dan jika dibedakan maka masanya tak akan lagi sama. Perasaan terbuang, perasaan marah, kecil, kecewa dan tidak dianggap sebagai elemen penting. Tidak akan lagi terjadi.

Dengan kurang ajarnya si gadis kecil berkata pada Nyai tersebut. “Nyi, jangan engkau memberikan kue yang tidak sama besarnya pada kami. Berikan kami kue yang sama karena kami berasal dari darah yang sama, yakni darahmu.”. lanjutnya “Kami tak akan rela apabila engkau memotong kue untukku terlalu besar atau untuk saudaraku terlalu besar. Akan menjadi pertumpahan lagi apabila engkau tak belajar dari yang telah berlalu dan aku tak ingin itu. Maka, aku memohon kepada Sang Hyang Widhi agar memberimu kekuatan untuk memotong kue yang sama untuk kami. Dan jangan pernah engkau perlihatkan ketidakadilanmu karena kami hanya ingin hal adil saja. Jika tidak, maka akhirat akan mencatatnya, Nyi”

Nyai tersenyum hangat dan berkata “Tentu tidak, cah ayu. Tidak akan pernah. Kalian adalah harta termahal yang aku dan ayahmu miliki. Tidak akan pernah aku memotong kue yang tidak sama besarnya. Biarlah yang berlalu telah berlalu dan tidak perlu dirimu juga merasakannya. Biarlah itu menjadi kenangan yang akan menjadi pelajaran.”

Si gadis kecil tersenyum lega dan ia kembali terlelap dalam nina bobok lembutnya suara jangkrik di tenangnya malam. “Terimakasih, Nyi. Engkau adalah guru terbaik yang pernah ada. Surgaku ada di telapak kakimu dan hormat kami selamanya untukmu”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s