Secangkir Cinta di Gorontalo #7: Monga Ruwa

Monga Ruwa berasal dari dua kata’ monga berarti makan dan rua artinya arwah. Monga ruwa adalah upacara selamatan yang dilakukan untuk menghormati arwah leluhur. Seperti itulah intinya. Monga Ruwa hampir sama seperti Ruwahan di pulau Jawa.

IMG_1573

Snack pembuka Monga Ruwa berupa bubur ayam gurih dan air nira pahangga

Pada masyarakat Gorontalo, Monga Ruwa dilaksanakan pada bulan ramadhan sedangkan pada masyarakat jawa akan mengadakan ruwahan pada bulan ruwah, yakni pada tanggal lima belas sebelum ramadhan tiba. Masyarakat Gorontalo mempercayai doa akan lebih sampai di bulan yang penuh ijabah yakni bulan ramadhan sedangkan pada masyarakat Jawa, mereka meyakini pada tanggal itulah arwah diangkat dari kuburnya dan naik ke langit dan siksanya akan ditangguhkan selama ramadhan.

IMG_1864

Monga Ruwa

Prosesi keduanya pun cukup berbeda meskipun ada sebagian ritualnya yang hampir sama. Pada monga ruwa, warga akan mengundangi tetangga terdekat sejak sebelum berbuka puasa. Setelah waktunya berbuka, undangan akan diber sepiring bubur khas Gorontalo yang rasanya gurih, bersantan dengan irisan daging yang masih wangi dengan kayu manis di dalamnya. Kemudian setelah solat maghrib berjamaah, warga akan iut dalam prosesi doa oleh pemuka agama setempat sekitar dua puluh menit hingga tiga puluh menit. Prosesi tersebut diakhiri menaburkan kemenyan ke dalam dulang berisi bara api sebagai simbol perwujudan dengan leluhur. Kemudian dilengkapi dengan makan bersama samasebagai media perekat hubungan sosial. Makanan tersebut sangat beragam. Ada beberapa makanan berbahan daging, ayama ayaman berbagai cara masak entah itu ditumis, disop, dipedas, digoreng dan berbagai macam lainnya. Nasinya pun beragam. Ada nasi kuning, nasi merah, nasi putih. Kue kue an juga ditampilkan, belum lagi minumannya. Lengkap sudah. Setelah makan selesai, warga yang menyelenggarakan monga ruwa akan memberikan tip sekedarnya sesuai dengan kemampuan ekonomi warga tersebut sebagai bentuk sedekah untuk kelancaran rejeki dan perwujudan bakti kepada leluhur. Sedangkan pada ritual ruwahan, tetua adat akan memimpin jalannya bersih makam nenek moyak yang disebut reresik sebagai simbol mendekatkan diri kepada Tuhan serta pengingat bahwa dunia yang mereka tempati hanya sementara. Tetua memanjatkan doa doa dan sama seperti monga rua, prosesi diakhiri dengan makan bersama. Berbeda dengan monga ruwa, pada tradisi ruwahan tidak disertakan tip untuk masing masing warganya.

IMG_1586

Khusyuk dalam doa

Adanya tradisi monga ruwa dan ruwahan menunjukkan adanya percampuran antara Islam dengan budaya setempat. Islam masuk melalui jalan infiltrasi, akulturasi dan asimilasi dengan budaya setempat. Keduanya memiliki padanan kata yang mirip yang merujuk pada kata arwah. Namun, karena perbedaan budaya, ada beberapa perbedaan diantara keduanya.

Selama kami tinggal di Sukamakmur entah sudah berapa kali kami mengikuti prosesi ini. Katakanlah hampir setiap malam kami harus memenuhi undangan monga ruwa. Bahkan kadang ada dua undangan sekaligus di hari yang sama yang membuat kami harus membagi diri untuk datang di dua pesta tersebut. Sumpah, sampai bosen makan ayam dan ikan terus tiap malam. Haha. Tapi, lewat upacara adat ini saya mengenal bahwa Indonesia benar benar kaya dengan tradisi. Semua hal harus dirayakan bahkan kematian sekalipun. Sebenarnya kalau dipikir pikir tentunya keluarga tersebut menghabiskan uang sangat banyak untuk perayaan tersebut, terlebih makanan yang disajikan sangat beragam yang menyiratkan simbol simbol tertentu yang berhubungan dengan penghormatan terhadap nenek moyang. Apalagi harga bahan pokok disana sangat mahal. Hal tersebut bukan bentuk dari pemborosan akan tetapi seni penghargaan terhadap nenek moyang. Mereka juga mempercayai bahwa seseorang yang telah mati tidak begitu saja mati. Mereka mengharapkan doa dari anak cucunya sehingga tradisi seperti monga ruwa dan ruwahan hingga kini tetap lestari karena masih ada yang memeliharanya hingga saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s