Susahnya Nggembel di Negeri Orang #5

Part V: Kuliner

Makanan, salah satu hal pokok dari tiga hal penting lainnya, sandang dan papan. Mau tinggal dimanapun, manusia selalu butuh makan. Gimana dengan negara yang belum pernah sama sekali dikungjungi? Buat saya ini hal menarik.

Ada banyak restoran korea di Jogja. Tapi sayangnya saya tidak pernah mengunjungi restoran restoran tersebut. saya hanya pergi ke beberapa restoran Jepang untuk merasakan ramen. Itupun sebenarnya saya nggak doyan dengan ramen. Rasanya kayak sebungkus indomie yang dimasak dengan tujuh gelas air. Rasanya hampir hambar nggak enak, jadinya dicampur dengan kecap ikan, minyak wijen dan kecap asin. Nggak doyan. Titik. Padahal katanya itu adalah salah satu resto terbaik di Jogja. Ogah. Tapi kemudian persepsi saya berubah karena suatu ketika saya ditraktir di sebuah resto. Ramennya asoy euy.. Ramen rasa seafood yang dimasak dengan taste yagn cukup catchy di lidah. Kebetulan saya juga mengenal pemilik resto ini yang telah tinggal selama kurang lebih 10 tahun karena bersuamikan seorang Jepang. Hal ini juga terjadi ketika saya mengunjungi Korea. Ketidaksukaan saya terhadap makanan Korea berubah ketika saya mengunjungi dan merasakan sendiri negeri ginseng ini.

Pertama kali menginjakkan kaki di Korea, saya mengonsumsi Pocari Sweat. Haha. ini mah rasanya nggak jauh beda kayak di Indonesia. tentunya ada standarisasi rasa Pocari di seluruh dunia. Beberapa jam kemudian, saya merasakan makan malam pertama di negeri ini. diantara semua makanan yang sayangnya tidak bisa kami konsumsi karena non halal, satu satunya yang saya dan Rosy Zahira bisa makan adalah nasi goreng kimchi. Hmm.. dulu saya nggak doyan kimchi. Rasanya aneh di lidah Indonesia saya. Kayak makanan fermentasi yang kalau mau makan kayak mau muntah. Tapi ide untuk menggabungkan nasi dengan kimchi tampaknya cukup sukses diterima di tubuh saya –selain karena tidak ada makanan lain yang bisa dimakan. Hehe.

Keesokan harinya, kami makan lagi. Kali ini, kami sarapan nasi segitiga yang berbalut nori yang dibungkus secara artistic. Tumis tuna menjadi filler dari snack ini. buat saya meskipun dari nasi, tetep aja saya menganggap bukan makan, ini mah snack pagi hari. Sekardus kecil susu yang imut imut menjadi teman santap pagi kami. saya suka cara membukanya. Artistic sekaligus ergonomis dan ecofriendly. Tinggal tarik, sobek minum. Nggak perlu pake sedotan. Cukup mengurangi sampah.

Siangnya, karena kami harus bertolak menuju Taean, kami berkemas. Makan siang di Taean, kami mendapatkan sepaket komplit makanan pembuka hingga desert. Disinilah saya makan kimchi untuk pertama kalinya. Sawi putih (slobor) yang difermentasi dengan cabai korea dan ikan asin. Rasanya? Hmm.. awalnya sih saya tetep aja ngerasa aneh. Tapi lama lama lidah saya mulai menerima dan menyukai. Rasanya nggak seancur ketika temen saya dulu pernah ngasih saya kimchi. Dulu sih, ada seorang teman menawarkan kimchi. Saya kemudian merasakan dan langsung nggak doyan. Iyuhh banget rasanya. Tapi ketika saya makan sendiri kimchi disini, rasanya bok.,. enak juga. nggak jelek jelek amat. Cuma, menurut saya nggak akan segampang itu diterima lidah orang Indonesia. kalau perbandingan dengan makanan Indonesia, kita punya acar. Tapi ini rasanya beda banget. Kalau acar, paling cuka yang bikin asam. Tapi kalau kimchi, proses fermentasilah yang membuat rasanya berubah jadi asam. Bukan cuka. Apalagi warnanya merah oren secetar fanta. Duh.. udah kayak darah. Gitu mas Fajri bilang. Ini kakak saya malah aneh aneh. Dia minta dibawain kimchi padahal dia belum tentu doyan. Haha.

Ada juga rumput laut cokelat yang dipotong potong, direbus dan ditambahkan sedikit minyak sayur yang dihidangkan sebagai makanan pembuka. Rasanya apakah sama dengan nori? Tentu tidak. Jauh berbeda. Nori yang sering saya makan berwarna hijau kering sedangkan rumput laut cokelat ini rasanya seperti jel padat yang rasanya sedikit aneh kalau tidak terbiasa. Tapi overall, enak juga kok.

Selain kimchi, saya jatuh cinta dengan acar Korea. Mereka sangat suka mengasamkan mentimun dan lobak. Lobaklah yang menjadi favorit saya. Lobak dipotong persegi panjang atau berbentuk lingkaran dan diberi pewarna yang cantik. Biasanya sih kalau tidak warnanya pink ya kuning. Dua warna inilah yang saya temukan selama perjalanan saya seminggu di negeri ginseng. Rasanya? Ya sepet agak pahit ala lobak gitu, tapi karena sudah diolah sedemikian rupa, rasanya segar segar enak. Lebih enak dari lobak asli.

Saya sebenernya nggak terlalu doyan juga sama lobak. Dulu saya iseng beli lobak di pasar. dapatlah tiga buah lobak berukuran sedang. Ketika pulang dan saya mencoba untuk memasak, hasilnya? Uancur.. lobaknya pahit (saya nggak suka makanan pahit. Kecuali jamu. Sayur sayuran seperti pare, atau daun papaya yang pahitnya nggak ketulungan nggak akan pernah menjadi list menu favorit makanan saya). Kesalahan saya sih emang, waktu itu kebanyakan lobak. Jadi pahit banget deh. Haha. Acar lobak menjadi salah satu menu favorit kala makan di korea. Enak euy.

Salad korea. Entah apakah ini makanan asli korea atau ada pengaruh barat, saya juga jatuh cinta pada salad korea. Indonesia boleh berbangga dengan memiliki salad jawa alias lotek dan gado gado dengan bumbu kacang yang asik banget. Tapi Korea punya salad ala mereka sendiri. Kalau salad Jawa dibikin dengan memotong motong sayuran dan mencampurkannya dengan sambal kacang, salad korea dibuat dengan memotong motong kubis, kubis ungu, sedikit wortel dan mencampurkannya dengan sari jeruk atau minyak berwasabi. Rasanya? Sama sama asik kok. Sama ketika kita merasakan salad eropa yang bersaus mayones atau salad jawa yang berlapiskan bumbu kacang yang menggoda. Entah itu sari jeruk atau minyak berwasabi, dua duanya pas di lidah saya. Saya sampai nggak bisa untuk tidak nambah.

Budaya makan besar dan penggunaan sumpit. Rata rata porsi makanan korea terbilang cukup besar untuk saya. Porsi banyak ini karena orang korea biasa makan dengan keluarga mereka sehingga porsi makanan biasanya cukup banyak. Bahkan Hong Jun berkomentar bahwa makanan di Indonesia sangat sedikit. Terhitng lebih mini jika dibandingkan dengan makanan Korea. Yep.,. betul sekali Oppa. Perut kami kecil, makanya kami makan sedikit. Sama halnya dengan Tiongkok, orang orang Korea menggunakan sumpit sebagai alat bantu makan. Hampir di setiap makanan mereka, selalu terselip sumpit kayu sekali pakai. Tidak seperti di Indonesia, sumpit hanya digunakan untuk makan mi ayam saja. hehe. Saya jarang sekali menggunakan sumpit di Indonesia. sekalipun saya pergi ke warung mi ayam, saya lebih suka makan dengan menggunakan sendok dan garpu. Tidak lebih. Tapi di Korea, saya berusaha untuk menyesuaikan pola makan di negara ini. mulailah saya belajar terbiasa untuk menggunakan sumpit. Dan.. nggak begitu susah sih. Lama lama asik.

Jpeg

Mari makan

Hampir semua teman Korea saya tertawa heran karena saya membawa beberapa sumpit. Sumpit sumpit ini saya beli sebagai souvenir kunjungan saya ke Korea. Oleh karena di Indonesia tidak lazim menggunaan sumpit, sumpit stainless steel ini diharapkan menjadi souvenir manis yang mungkin bisa berguna untuk mereka entah itu mengambil makanan atau sebagai hiasan saja. Toh juga saya lebih suka menggunakan sumpit stainless daripada sumpit kayu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s