Ketoprak Ongkek #1

Saya cukup bingung karena duit lagi limit tapi ada undangan untuk menghadiri konferensi kebencanaan di Bandung. Tapi, memang Tuhan Maha Lapang. “selalu ada bantuan untuk hambanya yang membutuhkan”. Pada akhirnya saya bisa juga pergi ke Bandung untuk mengikuti konferensi tersebut.

Pergi pukul tujuh malam dari Lempuyangan, menempuh perjalanan tiga perempat malam saya lalui dengan tidur ayam-yang bikin tambah pegel dan tambahcapek- dan sesekali menghapus rasa bosan dengan mengobrol dengan orang yang duduk di sebelah saya dan terkadang saya membuka laptop dan membuka file file lama.

Sampai di Kiaracondong, ayam jago pun bahkan belum bangun. Pukul 3.35 saya terduduk di tempat duduk peron yang dingin dan kemudian saya menunggu hingga fajar, tanpa berani untuk tertidur. Salah salah, pencoleng akan mengembat barang barang saya yang saya peluk. Its a big no no.

Saya menghabiskan waktu untuk menunggu angkot beroperasi di kota kembang ini. Pukul tujuh pagi, saya berjalan menyetop angkot yang menuju arah Dipati Ukur. Taman di Bandung emang rapi banget sih kalau saya bisa kasih komen. Teduh pula. Kasihan jomblo jomblo karena saking so sweetnya cuaca disini. Haha

Konferensi saya lalui dengan tertidur di beberapa sesi karena saking capeknya. Ngantuk bok.. Baru pukul empat sore, saya dan teman teman dikumpulkan dan masuk ke dalam bis untuk segera berpindah ke wisma maple di Lembang.

Saya pikir hanya akan ada konferensi dan pemateri pemateri yang sama seperti saya biasa urusi di kepanitiaan. Hari kedua kami lalui dengan pemateri yang menjelaskan mengenai kebencaan, logistik kebencanaan dan piknik ke bukit batu untuk melihat Bandung dari atas. Pemandangannya caem sih. Saya bisa membayangkan jika saya harus mengejar sunrise disana, pasti pemandangannya merupakan perpaduan antara alam pegunungan yang hijau dengan kombinasi pekotaan. Atau katakan mengejar pemandangan malam, pasti berasa kayak Bukit Bintang di Gunung Kidul tapi versi lebih ramai cahayanya. Iyalah, ini soalnya bukitnya hampir deket kota, nggak kayak Bukit Bintang yang agak ke timur.

Tetiba, panitia mengumumkan bahwa kami harus berkelompok dan membuat satu proposal yang berhubungan dengan kebencanaan. Ceritanya sih, kita diharapkan untuk jadi penggerak masyarakat sadar bencana. Saya jadi teringat dengan kegiatan ekskursi tadi. Saya melihat sendiri Bandung yang luas sekaligus membahayakan. Kota yang adem ayem ini ternyata masuk ke dalam patahan lembang. Saya bisa membayangkan betapa mengerikannya dan seberapa besar kerusakannya apabila gempa terjadi. Korban sangat banyak baik benda maupun nyawa. Saya cukup shock sebenarnya dengan pengumuman bahwa proposal tersebut kalau menang harus menjalankan project yang ada.

Saya, Titin, Sugi dan Hijjaz mengangkat mengenai Jogja yang merupakan kota bencana. Diantara kami, hanya sayalah yang berpotensi luar biasa bencana. Jogja adalah laboratorium bencana. Gempa, gunung berapi, potensi tsunami, tanah longsor, banjir, lengkap sudah. Titin dan Hijjaz yang tinggal di Kota Bandung dan Bogor kebingungan untuk mencari masalah yang ada di kota mereka. Sugi, yang tinggal di sumatera akan merasa kesulitan apabila ia mengidentifikasi masalah di kotanya. Akhirnya Jogja dipilih menjadi objek pelaksanaan proposal kami.

Saya mengajukan double-deligth idea tentang kebencanaan dan budaya. Walau bagaimanapun untuk menyampaikan sesuatu ke masyarakat, diperlukan pendekatan secara budaya agar lebih mengena dan tidak menggurui. Masyarakat Jogja sudah terlalu pintar untuk diwejangi tentang kebencanaan. Salah salah, kami dianggap sok tahu dan sok pintar. Inilah yang kami hindari. Untuk itu, pengemasan menjadi harga mati agar bisa diterima dengan baik. Ide saya waktu itu adalah mengemas kebencanaan dalam bentuk kesenian rakyat. Unit Seni Rupa pernah terlibat proyek dengan teman teman dari Tegalgendu melalui mural yang digagas oleh Ketjil Bergerak. Sebagai follow up dari kegiatan tersebut, Unit Seni Rupa dan Tegalgendu Youngsters merasa perlu melestarikan kesenian rakyat Ketoprak Ongkek yang hampir punah karena tidak ada generasi penerusnya. Saya dan teman teman satu tim proposal berpikir bahwa akan lebih baik jika Ketoprak Ongkek menjadi media penyampai kebencanaan tersebut. Di satu sisi, penyampaian akan lebih mengena karena secara tidak langsung nilai nilai tentang kebencanaan akan diserap masyarakat melalui cara yang mengena ke hati yakni lewat kesenian yang menjadi hiburan rakyat. Di sisi lain, akan menyelamatkan kearifan lokal yang hampir punah. Kami melakukan satu hal untuk dua sisi sekaligus.

Presentasi ditutup dengan tepuk tangan meriah dari para peserta. Tibalah saat pengumuman, kami menjadi salah satu dari tiga pemenang grant award tiga ratus dolar. Hmm.. bakal jadi perjuangan banget nih, apalagi kami terpisah kota. Dua pemenang lainnya mungkin tidak membutuhkan dana yang besar. Tapi kami memiliki dua misi sekaligus. Tiga ratus dolar apakah nanti cukup untuk menjalankan projek kami, itu masih menjadi pertanyaan. Kami berpisah sekaligus membagikan kontak masing masing agar kami tetap terhubung. Bagaimana kelanjutannya? Semoga bisa berhasil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s