Susahnya Nggembel di Negeri Orang #4

Part IV:  Conferenshock

Mobil SUV biru gelap membawa kami meninggalkan Incheon, menuju satu tempat nun di selatan Seoul. Kami bercakap cakap dengan dua laki laki Korea Selatan ini mulai dari hal remeh temeh tentang perjalanan hingga agak berat yang menyangkut urusan kami di Korea ini.

“Kalian sudah siap dengan file presentasi kalian kan?”. Kami berdua terhenyak. “Presentasi apa, oppa?”. “lhoh, kalian kan harus presentasi nanti hari senin siang”. Whattttt? Kami bahkan tidak tahu sama sekali jika ada presentasi. Kami terlalu berfokus pada urusan visa sehingga tidak ada bayangan tentang isi dari kegiatan kami selama di Korea Selatan. Lagipula jadwal yang dikirimkan oleh universitas disini cukup membingungkan karena tidak menjelaskan secara rinci mengenai apa apa yang harus kami persiapkan sejak dari Indonesia. Oleh karena mereka melihat kami masih sangat capai, mereka tidak menjelaskan lebih lanjut. “Oke, nanti saja kita bahas”.

Tiga hari kemudian, hari sabtu, kami menghabiskan weekend kami di daerah Taean, kampus penerbangan yang mencetak pilot berlisensi dan pramugari yang mengisi maskapai maskapai dunia. Kami diberi tahu bahwa pada hari minggu, file sudah harus siap dikirim ke email universitas. Saya dan Rosy shock. Kami bergegas membuat file untuk dipresentasikan lusa hari.

Tema musik menjadi pilihan kami untuk presentasi. Musik adalah hal universal yang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Lagipula semua orang suka musik. Indonesia dan Korea menjadi dua negara dengan perkembangan musik yang cukup signifikan. Korea Selatan dengan K-Pop fevernya menjalar hingga ke seluruh dunia namun tidak meninggalkan seni tradisionalnya. Persamaannya dengan Indonesia, meskipun nusantara sangat dipengaruhi oleh musik barat, bukan berarti musik tradisional tenggelam begitu saja.

Jpeg

Presentasi oleh delegasi Indonesia

Kami sepakat membahas dua hal dalam simposium ini. Pertama, membahas perpaduan musik antara Korea dengan Indonesia dan topic kedua tentang bagaimana persepsi anak muda di Indonesia tentang musik tradisional.

Bab pertama membahas mengenai Samulnori dari Korea yang bisa menghasilkan musik yang harmonik berpadu dengan Angklung dari Indonesia. Rosy menjelaskan dengan gamblang tentang perkembangan musik samulnori dengan angklung.

Bab kedua, saya menjelaskan bahwa sebagai anak muda, kita harus belajar budaya dalam negeri. Sejujurnya untuk diri saya sendiri, mempelajari budaya asing membuat diri saya sendiri mereasa asing. Merasa bahwa ada yang hilang karena saya tidak mengenal budaya negeri sendiri. Oleh karena itu saya jatuh cinta pada gamelan, instrument tradisional dari negeri saya sendiri. Komunitas anak muda bernama Prasasti (Pradangga Sastra Inggris) mengantarkan saya mengenal budaya saya sendiri. Musik tradisional yang benar benar saya mainkan dari hati-meskipun tempo kacau- yang benar benar saya mainkan bukan untuk mencari tenar. Tapi karena jatuh cinta.

Dulunya gamelan difungsikan sebagai musik pengiring upacara adat atau ritual dan alat penyebaran agama. Tapi sekarang paradigma tersebut bergeser jauh. Anak anak muda kreatif berusaha menjaga kelestarian budaya nenek moyang mereka dengan cara mereka sendiri. Gamelan yang tadinya bertempokan slow berubah menjadi irama beat yang bisa diterima oleh telinga anak muda. Anak anak muda juga tidak sembarangan dalam menjaga kelestarian nenek moyang ini. Mereka belajar klasik dan kontemporer dan memainkannya dalam acara apapun. Dengan bangga, menjaga apa yang nenek moyang mereka tinggalkan untuk mereka.

Presentasi kami ditutup dengan sesi pertanyaan, yang tidak tanggung tanggung berasal dari professor yang datang hari ini. pertanyaan pertama tentang bagaimana pandangan orang tua terhadap pergeseran makna musik saat ini dan bagaimana anak muda menyikapi pandangan orang tua tersebut. sejujurnya baik anak muda maupun orang tua bersikap saling pengertian. Kami sama sama saling bertoleransi terhadap apa yang kami jaga. Orang orang tua bahkan bangga karena anak anak muda memiliki inisiatif untuk melestarikan budaya-meskipun dengan  cara yang jauh berbeda dari cara orang tua mereka. sedangkan anak anak muda memiliki pandangan bahwa masa mereka yang berbeda dari orang tua mereka, sehingga memungkinkan untuk mengubah persepsi tentang hal yang dulunya dianggap terlalu konvensional menjadi sesuatu yang tetap terjaga, dengan rasa mereka-rasa yang sesuai dengan telinga anak muda.

Pertanyaan kedua tentang bagaimana K-Pop di Indonesia. Rosy menjawab bahwa K-Pop berkembang dengan sangat baik di nusantara. K-Pop bisa diterima di Indonesia dan efeknya menjalar hingga ke tempat tempat yang jauh. Ketika salah satu professor meminta kami untuk bernyanyi, Rosy menyanyikan satu lirik pendek. Kami disambut tepuk tangan dari seluruh penonton.

Hal yang membuat saya sedikit culture shock disini adalah adanya rehearsal untuk konferensi. Kami diberi kesempatan dua kali untuk melakukan gladi sebelum benar benar diuji di depan publik. Salah satu professor, Kim- beliau adalah supervisor untuk delegasi Indonesia, menyarankan kami untuk bicara lebih pelan sehingga bisa didengarkan kontennya dengan lebih jelas. Di latihan yang kedua, setelah makan siang, kami ternyata juga masih terlalu cepat untuk ukuran orang Korea. Sehingga lagi lagi kami harus menahan diri untuk bicara sangat pelan. Saya sendiri bahkan, harus benar benar berusaha menjaga tempo karena memang kebiasaan saya berbicara untuk ukuran percakapan orang barat yang memang dianggap terlalu cepat untuk ukuran orang timur. Untungnya di presentasi yang sebenarnya, kami bisa menjaga tempo pelan.

Sungguh, kami menutup hari dengan sesuatu yang outstanding. Delegasi Indonesia mampu membuat orang orang yang melihat terpukau karena kontribusi yang cukup total. “You did very very well. So natural. Seems like you have done it many many times”. Kalian sudah melakukannya dengan baik. Sangat alami, seperti sudah menjadi kebiasaan padahal baru pertama kali ini kalian presentasi topic itu,. kata seorang professor memuji kami. Komentar dari presenter lain dan professor lain, kami sangat mencengangkan. Memukau. Sungguh rasa haru mengalir dalam diri saya. Indonesia, kami melakukannya untukmu. Untuk negeri yang kami cintai. Kami bermasalah, datang terlambat, tidak tahu kalau ada sesi presentasi belum membuat paper, dipaksa untuk berpikir cepat dalam waktu semalam, tapi keluar dengan prestasi yang memukau hampir semua orang.

*untuk salah seorang sahabat saya, Dani, dulu kita pernah berjanji untuk bisa ikut konferensi bersama, mengharumkan nama Indonesia. Sungguh bukan hal yang mudah ketika saya mengingat janji kita. Tentu saja karena kamu sudah lulus duluan, hampir setengah tahun yang lalu. Hehe. Sekarang, janji setidaknya sudah tertunai, meskipun tanpamu. Terimakasih sudah membawa saya pada mimpi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bahwa Tuhan menjawab apa yang saya bisikkan di siang terik, dua tahun lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s